The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini

The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)

[Bab 9]

.

.

Malam yang panjang belum juga berakhir. Sebagaimana malam di mana kegelapan memberikan banyak ancaman, hingga sekarang pun James masih menyimpan beberapa ketakutan. Ini bukan takut akan bahaya, tetapi takut akan kehilangan.

Sembari berlari ke arah Norman, James mengingat berbagai peristiwa menyedihkan yang pernah ia alami.

Terlahir dari keluarga kaya raya, masa kecil James penuh dengan kebahagiaan. Ia memiliki orangtua yang sangat menyayanginya, juga seorang adik laki-laki yang menggemaskan. Namanya Peter. Sehari-hari, mereka berempat hidup damai. James dan adiknya, yang sering dipandang sebagai saudara cerdas, mendapatkan banyak teman di sekolah.

Namun, ketika James menginjak usia sembilan belas tahun, keadaan mulai berubah. Ia dan Peter diberitahu sang ayah tentang sejarah keluarga Ratri yang menjadi penjaga gerbang, demon yang berkeliaran di luar sana, juga kenyataan mengerikan yang sebenarnya sedang terjadi di dunia. Tugas turun-temurun yang terkutuk itu pada akhirnya menjadi topik yang tidak terelakkan.

James tidak terlalu kaget. Sebelumnya ia sudah mencurigai pekerjaan ayahnya yang begitu misterius. Rupanya, sang ayah memang sengaja memberitahu saat mental mereka sudah siap. Akan tetapi, adiknya begitu terguncang. James merasa Peter masih polos dan selalu memercayai kebohongan yang diciptakan ayah mereka.

Sebab itulah James membuat sebuah keputusan. Sebagai anak pertama, ialah yang akan meneruskan pekerjaan ayahnya. Sementara itu, biarkan saja Peter hidup seperti manusia biasa pada umumnya. James tidak akan rela jika adiknya sampai harus berhadapan dengan pekerjaan yang mempertaruhkan hidup-mati hampir setiap hari.

Sang ayah setuju, tetapi Peter menolak. Sang adik bersikeras untuk ikut menjadi pemburu demon, bersama-sama dengan James.

Hingga orangtua mereka meninggal saat melakukan perburuan (ibu mereka juga ikut serta), James tetap pada pendiriannya. Ia melarang Peter menjadi pemburu. Tetapi sungguh, adiknya begitu kepala batu.

Pada masa-masa ini, begitu banyak pertengkaran dan perselisihan yang terjadi. Ia menyebut larangannya sebagai alasan kasih sayang, sementara adiknya menganggap itu sebagai tindakan pecundang. James tidak tahu pasti apa sebenarnya yang mereka ributkan (sebab seringkali pertengkaran mereka merembet ke luar kendali), tetapi hubungannya dengan Peter menjadi renggang.

Akhirnya, sebelum keadaan semakin memanas, dengan berat hati, James mengizinkan adiknya menjadi pemburu demon.

Harus James akui, ketika melakukan perburuan bersama Peter, ia merasa tenang karena dapat mengawasi adiknya setiap saat. Mereka berdua juga terbukti cepat menyelesaikan banyak misi. Dengan seringnya mereka berkomunikasi, hubungannya dengan Peter kembali menjadi harmonis.

Menjaga wilayah perumahan penduduk dari ancaman demon bukanlah pekerjaan yang buruk. Malah, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, James merasa pekerjaan tersebut sangatlah mulia. Dan bukan hanya berburu demon, pekerjaan itu juga termasuk; menutupi jejak demon seandainya ada penduduk yang sempat melihat, bernegosiasi dengan beberapa orang untuk dijadikan mitra kerja berburu, serta mengurus perusahaan sebagai bisnis keluarga, yang nantinya, setengah persen dari laba perusahaan dapat dijadikan biaya operasional berburu.

James berusaha menipu diri sendiri bahwa ini adalah pekerjaan mulia, tapi sesungguhnya ia sangat membenci tugas ini.

Sampai suatu hari, ketika keduanya menjalani misi di tengah hujan deras, mereka berpencar untuk mempercepat perburuan. Mereka biasa melakukan pembagian tugas semacam ini jika hari sudah hampir pagi.

Sayangnya, di tempat di mana mereka berjanji untuk berkumpul, Peter belum juga datang. Bahkan sampai fajar tiba, adiknya tidak menampakkan diri. James yang cemas segera mencari ke dalam hutan.

Dan di sanalah James melihat sebuah tragedi yang niscaya tidak akan sanggup ia lupakan. Ia menemukan Peter, adiknya, terbujur kaku di pinggiran sungai, dengan dada yang terkoyak cakaran. James merasa tubuhnya roboh ke tanah. Ia sungguh tidak berdaya. Peristiwa yang paling ditakutinya, akhirnya menjadi kenyataan.

Seperti singa yang terluka, James berubah menjadi pribadi yang pendiam dan pemarah. Selama beberapa hari, ia mengurung diri di dalam mansion dan menangis seperti orang gila. Baru setelah ia melihat Peter dalam mimpinya dan mendapatkan pencerahan, ia pun bangkit.

James kemudian merekrut beberapa orang untuk dijadikan pengawal dan rekan berburu. Dan detik itulah James tersadar. Suatu saat nanti, bisa saja aku akan kehilangan mereka juga, pikirnya merana. Tetapi, inilah risiko yang harus dihadapinya. Maka, menemukan rekan yang gugur saat menjalankan misi bukan lagi kepedihan yang harus James tangisi berlarut-larut.

Kehidupan ini memang kejam. Sudah dari asalnya begitu. Namun, akankah kekejaman ini berlangsung selamanya?

James kira, dengan pekerjaannya, ia tidak akan pernah berani menikah. Ia tidak dapat membayangkan perempuan mana yang mau menikahinya jika keadannya seperti ini. Tetapi setelah mempertimbangkan banyak hal dan dirinya yang juga sangat kesepian, akhirnya ia pun menikah. Dengan berkeluarga, ia semakin mengerti, bahwa di balik keberadaan demon, ada kehidupan manusia yang harus ia jaga.

Namun, kehilangan harus James rasakan sekali lagi. Istrinya meninggal tidak lama setelah melahirkan putra pertama mereka.

Seandainya James membiarkan dirinya larut dalam depresi karena rasa kehilangan, tentulah dirinya yang sekarang sudah tidak ada. Rasa kehilangan yang bertubi-tubi itulah yang kini membuatnya tumbuh menjadi sosok seperti sekarang.

James tidak ingin Norman menjalani hidup semacam itu. Ia berusaha melindungi Norman dari kerasnya dunia pemburu. James bahkan membiarkan Norman melupakan Ayshe karena tidak ingin Norman trauma.

Meskipun, tentu saja, kutukan itu tetap mengikuti Norman.

James tidak dapat membayangkan seandainya sampai terjadi sesuatu kepada Norman. Sambil terus berlari, ia berdoa agar putranya sanggup bertahan.

.

.

.

Ray dan Emma mendengar auman keras demon dan mengikutinya, sampai akhirnya mereka menemukan makhluk besar nan buas itu terjerat dalam jebakan tali.

Itulah kali pertama Ray melihat wujud demon dengan sangat jelas. Berdiri di tempat, ia membeku ketakutan. Apalagi ketika demon tersebut mulai bergerak liar saat berusaha membebaskan diri dari jebakan. Aumannya begitu kencang seolah-olah dunia tertelan oleh suaranya.

"Norman!"

Mendengar teriakan Emma barusan, Ray tersadar dari rasa terkejutnya.

Ray melihat ke arah Emma menyorotkan senter. Terpisah oleh demon, ia juga melihat Norman di seberang mereka. Keadaan anak laki-laki itu tampak kacau. Dan yang terburuk, Ray merasa melihat darah di baju Norman.

Mereka berdua berusaha memanggil Norman, tetapi Norman tampaknya tidak mendengar suara mereka. Lalu, tiba-tiba saja Norman ambruk.

Emma memekik. Ia dan Ray bersitatap, lantas berlari kencang mengitari jebakan untuk mancapai Norman.

Sembari berlari, Ray mengamati dengan penuh kekaguman hasil kerja keras Norman, bahwa tali-tali yang dipasangnya begitu rumit hingga menyerupai jaring laba-laba. Tetapi pada saat yang bersamaan ia menyadari sesuatu yang mencemaskan.

Tali itu tentunya hanya tali biasa yang tidak akan bertahan lama menahan amukan demon. Ray mulai mendengar suara derak-derak tali yang hampir putus menahan beban, bahkan melihat tali-tali tambang itu mulai meregang longgar. Mereka tidak punya banyak waktu.

"Norman!"

Ray dan Emma menjeritkan nama itu bersamaan. Mereka segera memeriksa keadaan Norman. Betapa terkejutnya keduanya saat melihat bagaimana parahnya luka tersebut. Darah mengucur di mana-mana, terutama di bagian bahu dan paha. Darah tersebut membuat pakaian Norman penuh oleh warna merah di samping lumpur yang mengotori tubuhnya.

Pemandangan yang mengerikan.

Perut Ray terasa mual. Dengan tangan gemeter, hati-hati ia mengguncang tubuh Norman.

"Norman, bangunlah. Norman, bangunlah ..."

Akan tetapi, usaha Ray berbuah sia-sia. Norman tidak kunjung membuka mata. Wajah anak itu sepucat mayat dan napasnya sudah sangat lemah.

Ray melirik Emma, yang berjongkok di samping Norman dengan raut kekalutan yang tidak mampu disembunyikan. Anak perempuan itu membiarkan air matanya menderas. Bibirnya bergetar, membuncahkan isakan yang memilukan.

"Ray ... bagaimana ini? Bagaimana ka-kalau—"

Bahkan menanyakan hal tersebut terkesan sungguh menyiksa.

Ray menggigit bibir, kemudian ia segera mengambil tindakan. Ia merobek hampir setengah dari pakaiannya, lalu membebat luka-luka Norman sebisanya. Masih teraduk oleh rasa cemas dan takut, ia berusaha berkonsentrasi menyelesaikan tugas tersebut, mencoba meniru Mama dan Papa-nya yang pernah membebat kaki Ray yang terkilir setelah ia jatuh dari pohon.

Ah, seandainya mereka ada di sini sekarang ... mereka pasti akan lebih cekatan mengatasi masalah ini.

Meskipun tidak cengeng, mau tidak mau air mata Ray mulai menetes. Demi apapun, ia sangat takut jika Norman sampai mati.

Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!

Dengan mantra tersebut, tangan Ray bergerak lebih stabil. Ia menyelesaikan bebatan terakhir dan mengusap pipinya.

Tidak terlalu jauh di belakang mereka, sang demon meraung semakin keras. Suaranya mengguncangkan tanah.

Emma dan Ray terlonjak. Sekujur tubuh mereka gemetaran. Beberapa tali mulai melecut putus.

Sebentar lagi si demon akan lepas dan memangsa mereka lagi. Dengan banyaknya darah Norman, bahkan demon yang penciumannya buruk pun akan bisa melacak mereka dengan cepat.

Emma menatap si demon dengan nanar. Ray tahu apa yang ada di pikirannya. Anak perempuan itu pasti akan melakukan sesuatu yang gila.

"Ray, bawalah Norman pergi ke tempat yang aman. Biarkan aku yang mengatasi makhluk itu sebelum dia benar-benar lolos dari jebakan."

"Apa rencanamu?"

Emma tersenyum samar. "Improvisasi. Aku akan menggunakan ide gilamu yang sebelumnya. Tapi di sini aku akan memotong lidahnya agar makhluk itu tidak bisa membaui kita lagi."

Tentu saja Ray tidak setuju. "Kau gila, Em! Kau tidak punya senjata apapun, kan?"

"Tenang saja, aku akan memakai ini." Emma mengangkat pisau lipat, matanya berkilau berani. "Aku menemukannya di samping Norman tadi."

"Kalau rencanamu memang begitu, biar aku saja yang melakukannya. Kau yang seharusnya membawa Norman dan kabur dari sini."

"Aku tidak bermaksud sok atau apa, tapi saat ini keadaanku lebih baik daripada keadaanmu. Gerakanku lebih lincah dan cepat." Emma menyeringai. "Selain itu, jangan lupa kalau kau selalu kalah saat lomba lari atau lomba memanjat pohon denganku."

Ray terbeliak, lantas berdecak. "Astaga. Kau ini, Em."

Kalau saja keadaan mereka tidak setegang ini, Ray pasti akan menimpuk kepala Emma.

Di belakang, demon mengaum lagi. Ikatan-ikatannya semakin banyak yang terlepas.

Waktu mereka tidak banyak lagi.

"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja, Ray," ucap Emma penuh keyakinan. Sekalipun air matanya menetes, ia tetap tersenyum tegar. "Aku selalu punya rencana, Ray. Aku akan memanjat pohon dan meloncat ke atas kepala makhluk itu. Aku pasti bisa. Kau juga pasti bisa, Ray. Kita pasti bisa selamat dan membawa Norman pulang!"

Dalam hati Ray ingin sekali mengumpat, tetapi mereka benar-benar tidak memiliki pilihan lain. Ia pun akhirnya menurut.

Hanya sebentar, Ray memeluk Emma, lalu ia menggendong Norman di punggungnya. Mereka pun berpisah jalan; ia yang berlari menyelamatkan diri, sementara Emma bersiaga menyerang demon.

.

.

.

Bagai tupai, Emma mulai memanjat pohon. Sambil menggigit senter, ia berpegangan pada dahan yang persis berada di atas demon.

Saat ini, si demon benar-benar hampir terlepas, tinggal leher dan kedua lengannya saja yang terikat, bahkan ikatan di lengannya pun sudah mengendur.

Emma menatap cemas ke arah Ray dan Norman. Dari jarak pandangnya, ia hanya bisa melihat senter Ray yang bergoyang-goyang, tetapi ia tahu Ray sedang berlari pelan-pelan. Mungkin ia melakukannya sebab agak berat saat menggendong Norman dan berhati-hati karena tubuh Norman terluka.

Pohon tempat tali yang mengikat lengan si demon berkeretak, hampir patah. Emma memeluk dahan pohon erat-erat, berusaha tidak membayangkan kalau-kalau ranting gemuk dari pohon tersebut patah, lalu patahannya menjatuhinya saat ia sedang "menunggangi" si demon.

Setelah melalui detik-detik penuh pertimbangan, Emma melemparkan buntelan berupa tas ranselnya yang terbungkus baju Norman yang berdarah-darah, agar si demon terdistraksi oleh suara benda jatuh dan aroma darah. Sesuai dugaan, makhluk itu segera menunduk mencari-cari buntelan tersebut.

Emma meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa melakukan itu demi Norman dan Ray.

Demi apapun, mereka bertiga telah melalui banyak hal bersama-sama. Mereka tertawa untuk kebahagiaan yang sederhana. Mereka pernah menangis karena merasa kehilangan. Mereka sering bermain hingga lupa waktu. Mereka saling berbagi satu sama lain. Sejak awal bertemu, bahkan hingga sekarang, di tengah mara bahaya yang mendesak maut, mereka masih terus bersama.

Memejamkan mata, Emma menarik napas dalam-dalam. "Demi Norman dan Ray," bisiknya tanpa suara.

Jika ia tidak selamat malam ini, setidaknya kedua temannya bisa pulang dengan selamat.

Emma meloncat turun ke leher demon.

Terkejut oleh beban mendadak di lehernya, sang demon mengaum dan mulai mengamuk. Ia mengayun-ayunkan kepala ke sana ke mari, berusaha melepas sesuatu yang mengganggunya. Sedangkan Emma yang berada di atas si demon, berpegangan erat pada tali di leher makhluk itu. Ia oleng beberapa kali dan hampir jatuh, tetapi tekadnya kian membara. Ia berjanji tidak akan menyerah.

Susah payah, Emma menusuk bagian-bagian wajah si demon yang bisa dicapainya (meskipun ia tidak bisa mencapai bagian lidah karena gigi si demon terlalu runcing dan rapat). Dalam satu tusukan tajam di antara belasan tusukan, ia berhasil mencolok mata demon.

Makhluk itu pun meraung keras. Ia berhasil melepaskan diri seratus persen dari jebakan. Tubuhnya yang tinggi besar mengayun kencang, memberontak hebat, hingga akhirnya membuat Emma terlempar dan tercebur ke sungai.

Emma mencoba naik ke permukaan, napasnya memburu, geletar dingin mencubiti kulitnya. Ia terbeliak ngeri saat menyaksikan si demon yang tengah berlari ke arah Ray dan Norman.

Emma menjeritkan nama Ray.

.

.

.

Ray agak kesulitan ketika menggendong Norman. Ia berusaha berlari dengan tempo pelan. Kakinya terasa berat dan punggungnya pegal-pegal. Selain karena kelelahan, setiap kali ia bergerak, Norman merintih. Ray tidak tega jika harus bergerak lebih cepat.

"Raaaay! Awaaaas!"

Begitu Ray mendengar jeritan tersebut, ia cepat-cepat menengok ke belakang. Kengerian mencengkeram dadanya kuat-kuat. Ia melihat demon sudah melesat ke arahnya dengan mulut terbuka.

Tidak ada waktu untuk berlari. Ray terjatuh saking lemasnya. Ia membeku ketakutan sambil memeluk Norman. Namun, pada saat si demon hendak mengunyah mereka, sesuatu menembus kepala demon dari samping.

Darah segar muncrat.

Ray tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia menyaksikan si demon masih hidup, tetapi kepalanya berdarah-darah. Makhluk itu mengaum marah, lalu mengubah rute larinya.

Mengikuti ke arah si demon yang pergi, Ray mendongak. Ia mendapati tiga sosok yang dikenalinya; Barbara, Cislo, dan Vincent—tengah berada di atas pohon dengan waspada. Masing-masing dari mereka membawa senapan besar. Dan tepat ketika demon sudah memasuki area target, mereka menembak kepalanya bersamaan hingga kepala tersebut hancur berkeping-keping.

Tubuh demon jatuh dengan bunyi debam keras.

Lalu mati.

Ray menatapnya nanar, masih terlalu syok untuk memproses segalanya. Entah pada detik ke berapa, saat pikirannya bergelut berbagi antara imaji dan realita, ia merasakan seseorang berjalan di belakangnya.

Ray pun menoleh. Ia terperanjat mendapati James yang menatapnya dingin. Tanpa berkata-kata, lelaki itu mengambil Norman dari pelukan Ray, kemudian membaringkannya di tanah.

Dengan penerangan senter, James mulai memberi Norman pertolongan pertama. Tidak sekalipun beliau mengajak Ray bicara, seolah dirinya tidak memasuki penglihatan James. Sementara itu, Ray hanya mampu mengamati gerakan James yang mengobati Norman tanpa suara.

"Ray!"

Ray segera berbalik. Emma datang dalam gendongan Zazie. Pasti Zazie-lah yang sudah menarik Emma keluar dari sungai.

Di balik punggung Zazie, samar-samar Ray juga melihat Barbara, Cislo, dan Vincent, sedang menggeret tubuh masif demon. Ia tidak tahu bagaimana mereka akan menyembunyikan bangkai sebesar itu dan ia tidak ingin mengetahuinya.

Begitu jarak mereka sudah dekat, Zazie menurunkan Emma. Anak perempuan itu segera memeluk Ray erat-erat.

"Bagaimana dengan Norman?"

Tanpa Ray menjawab, kepala Emma berputar. Ia terkejut melihat Norman yang terbaring lemas. Di samping anak laki-laki itu, sudah ada ayahnya yang mengobatinya dengan wajah sedingin es.

Seperti Ray, Emma segera mengatupkan bibir.

Zazie bergerak mengobati luka-luka Emma dan Ray, yang sebagian besar hanya memar dan baret, tidak akan menimbulkan kecurigaan saat mereka pulang nanti. Barangkali orangtua mereka akan mengira mereka habis jatuh dari pohon.

Sepanjang pengobatan, Ray dan Emma terus terdiam. Suara jangkrik di malam musim panas terdengar berdengung, mengisi kubangan keheningan yang terasa mencekik. Kunang-kunang beterbangan di sekeliling mereka seperti butir-butir cahaya hijau.

Ray merasa ini sungguh malam yang aneh.

.

.

.

Rombongan itu tiba di mansion dengan terpisah. Ray, Emma, Zazie, serta Vincent; sampai terlebih dahulu, sedangkan sisanya kembali lebih lambat.

Setelah Zazie memberi Ray dan Emma pakaian ganti, barulah Vincent mengantar mereka pulang.

Sepanjang perjalanan, keduanya terdiam, menolak berpandangan, memilih menatap pepohonan yang berlalu dalam kegelapan. Tadi, mereka langsung digiring masuk mobil tanpa sempat berkata selamat tinggal kepada Norman (meskipun, tentu saja Norman masih tertidur dalam pelukan ayahnya).

Emma diantar lebih dahulu. Vincent bercakap-cakap sebentar dengan Dina, tunangan abang Emma sekaligus figur ibu Emma. Vincent memberikan alasan bohong tentang luka-luka Emma sekaligus minta maaf karena Emma pulang malam.

Emma berdiri di ambang pintu rumahnya, saling bertatapan dengan Ray yang masih di dalam mobil.

Saat mobil melaju, Ray berbisik, "Sampai jumpa, Emma."

"Sampai jumpa, Ray."

Mendengar jawaban Emma yang lesu, mendadak saja Ray khawatir. Rasanya seakan-akan ia tidak akan bertemu Emma lagi.

Perjalanan ke rumah sendiri semakin membuat Ray cemas. Saat mereka sudah sampai, Vincent memberikan cerita yang sama kepada Mama-nya. Isabella berterima kasih kepada Vincent karena sudah mengantar putranya pulang. Ray terpaksa mengucapkan terima kasih setelah Mama-nya memarahinya.

Ray mengawasi mobil Vincent yang menjauh dan menghilang dalam gelap bukit. Isabella kembali mengomelinya panjang-lebar karena sudah merepotkan keluarga orang, tetapi ia tidak begitu mendengarkan.

Ray menyadari bahwa bukan Emma yang tidak akan pernah ditemuinya lagi, melainkan Norman.

Mungkin, kisah pertemanan mereka benar-benar berhenti sampai di sini, seperti halnya kunang-kunang yang menghilang saat liburan musim panas yang hampir selesai.[]