ROYALTY

by Gyoulight

.

.

.

.

A CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Drama (?)

RATING: T (?)

.

.

.

.


Chanyeol mematikan mesin mobilnya setelah sampai pada salah satu gedung tak cukup tinggi di salah satu sudut kota. Di depannya sudah berdiri keramaian yang menjijikkan. Lampu kelap-kelip dan juga permainan judi bahkan terlihat legal dari luar jendela. Semakin memuakkan ketika ia dan juga Sehun tanpa berpikir langsung bisa memesan penerbangan nomor satu untuk tiba di tempat ini.

Chanyeol tidak masalah soal uang yang ia habiskan untuk berkelana mendadak seperti sekarang. Ia pun bisa pura-pura tuli soal Junmyeon yang mengoceh di telpon karena ia dengan tega mengabaikan rapat yang ia jadwalkan sendiri. Karena jujur, Chanyeol masih belum cukup perduli dengan bisnis ayahnya yang luntang-lantung tidak jelas kemana arahnya. Ia digusur lelah, ingin menyerah, bahkan setelah semua yang Sehun kacaukan pada pencapaian yang susah payah dibuatnya. Setengah mati ia menahan keinginan untuk membunuh adiknya sendiri dengan revolver yang dibelinya itu.

Sedangkan Sehun sudah terlihat tidak berdaya di kursi penumpang, mengawang dengan bayangan schedule yang hancur tanpa bekas. Ponsel pria itu sengaja Chanyeol matikan, managernya yang tidak tahu diri sudah berani menelpon adiknya dengan gila. Kalau bukan karena Jongin, Chanyeol juga tidak akan sudi terbang ke daratan Macau yang terkenal dengan casinonya ini. Sudah cukup Jongin yang tinggal bertahun-tahun dengan kehidupan malamnya.

Tidak ada yang terpikirkan di kepala Chanyeol ketika ia turun di depan pintu yang di jaga oleh seorang pria besar dengan pakaian serba hitam. Sehun yang tidak bertenaga masih resah memasang kaca mata hitamnya. Sedikit memeriksa penampilan dengan kaca mobil, memastikan jika ia tidak akan dikenali. Siapa tahu kepopulerannya mengalir sampai daratan Tiongkok. Bisa-bisa citranya menjadi yang terburuk karena berdiri di depan salah satu gedung perjudian.

Si pria besar lalu menahan kedatangannya, menunjukkan potongan kertas berlogo segitiga dengan beberapa garis misterius. Yang kemudian di bawahnya bertuliskan VIP ONLY. Chanyeol pun berdecih, Sehun saja enggan mendekat untuk menghadapi.

"Bahasa apa yang digunakannya?" toleh Chanyeol tak minat pada adiknya. Ia sendiri yakin jika kemampuan tiga bahasanya masih berguna sampai saat yang dibutuhkan.

"Entahlah─Kanton? Chinese?" Sehun berujar asal. Adiknya itu beralih bersandar pada kap mobil hitam sewaannya yang belum diparkir dengan benar. Beberapa pegawai casino di sekitar pun masih diam, belum menerima instruksi yang berarti soal itu. Mau tak mau, Chanyeol langsung memasang wajah datar andalannya. Mengekspresikan kekesalannya yang tidak tahu diri, sementara Sehun mengambil ponsel diam-diam di dalam mobil. Mencari sesuatu yang semoga saja berguna.

"Aku ingin bertemu dengan Kai," ujar Chanyeol terpaksa mengenakan aksen Chinanya. Beruntung pria yang berdiri di hadapannya ini cukup paham dan langsung menekan earpiece yang tersambung di telinga. Menghubungi operator di dalam sana untuk segera menganalisa tiap daftar tamu tetapnya.

"Ini jadwal pesta mereka, kau tahu─seperti rapat pemegang saham," bisik Sehun di belakang punggungnya. Tangan pucatnya masih mengulas beberapa hasil pencariannya dalam mesin pencari. Sebuah artikel ternyata pernah menjelaskan beberapa hal tentang gedung yang sering Jongin kunjungi ini.

Namun Chanyeol menyernyit tak suka. Ia sendiri sudah jauh-jauh datang dari Seoul, menghabiskan biaya penerbangan tiga kali lipat banyaknya, lalu pulang begitu saja? Sayangnya tidak ada kata 'pulang dengan tangan kosong' di dalam kamus Chanyeol. Ia tentu harus mendapatkan apapun yang ia inginkan. "Apa pentingnya itu?"

"Intinya aku sudah bilang padamu tadi pagi." Sehun mengantongi ponselnya. Melipat lengannya di dada seperti seorang selebriti yang tidak tahu diri. "Di dalam sana ada banyak hal-hal yang tidak bisa kau tangani. Sekalinya mereka marah, kau tidak akan bisa lari─forever end."

Mendengar itu Chanyeol semakin kesal. Sudah berapa menit waktunya yang terbuang hanya karena mereka bukan pelanggan VIP? Ingin sekali ia masuk ke dalam sana lalu menghajar wajah Jongin sampai hilang bentuk. "Aku hanya berurusan dengan bajingan itu. Apa pentingnya para pria busuk di dalam sana?"

"Tubuhmu bisa masuk ke area perdagangan organ manusia kalau mencoba membuat masalah. Jongin bahkan bisa membuatmu dipukuli pria ini." Adik bodohnya itu kini menunjuk pria bertubuh besar di depan mereka─tanpa kecuali. Membuat pria menyeramkan itu sedikit mengambil ancang-ancang. Dan mungkin sebentar lagi Sehun menyesal karena nyaris membuat perkara di negeri orang.

"Aku tidak takut sekarang, sungguh," ujar Sehun membenarkan kaca mata hitamnya.

Pria bertubuh besar itu kemudian mengatakan sesuatu yang hanya bisa dimengerti Chanyeol. "Dia tidak berkenan bertemu dengan anda."

"Apa artinya itu?" tanya Sehun bodoh. Wajahnya yang masih sedikit biru itu bahkan sudah tidak pantas lagi disebut sebagai aktor top Korea.

Tapi sekali lagi, Chanyeol tidak perduli soal Sehun. Ia hanya ingin mencari Jongin, menyeretnya keluar dari sini atau yang lainnya. Yang jelas ia ingin segera pulang dan hidup dengan tenang setelah semua ini. "Bagaimana aku bisa masuk?"

"Bergabung," jawab si pria menyeramkan.

Sebuah ide baru saja terlintas di dalam kepala Chanyeol. Memastikan pistolnya masih bersarang di saku, ia berencana hendak memberanikan diri untuk menerobos masuk. Sisanya terserah, ia yakin masih bisa pulang dengan organ lengkap tanpa cacat. "Dimana aku harus melakukannya?"

Namun Sehun masih juga tidak bisa tenang. Ia masih tegang, semakin bertanya seperti orang bodoh saat pria besar itu memanggil temannya. "Apa yang mereka bicarakan?"

Tak lama, pria besar itu membisikkan sesuatu pada rekannya. Sampai pada mereka yang kemudian diajak masuk ke dalam tanpa basa-basi.

"Masuklah ke mobil kalau kau takut," ujar Chanyeol membuang tarikan yang Sehun buat di lengan bajunya. Dan lagi-lagi adiknya itu berubah masam. Sangat jauh dari dirinya yang menjengkelkan.

"Cih, kau pikir nyaliku sekecil itu?" Sehun lantas mendahuluinya masuk. Melangkah seperti bocah yang merajuk karena tidak dibelikan permen. Besar-besar langkahnya diayun ke dalam sana. Meninggalkannya sendirian di belakang.

Chanyeol menatap sekeliling. Memasuki lorong dengan cahaya terang benderang. Sangat jauh dari keramaian dan juga suara bising. Layanan mereka cukup baik sebagai usaha berkelas. Belum pernah ada pelayanan ketat dari usaha seperti ini di Seoul, bahkan untuk yang berketerangan legal.

Mereka kemudian dipersilahkan duduk di sofa. Bertemu dengan seorang wanita berseragam rapi. Highheelsnya cukup mencolok dengan warna merah. Segera beberapa pria berpakaian hitam keluar dan berjaga di depan pintu. Menunggu perintah yang lain.

"Ada beberapa hal─"

Belum si wanita itu habis menjelaskan Chanyeol buru-buru memotong dengan angkuhnya. "Dimana toiletnya?"

Sehun yang hanya melongo di kursi semakin kebingungan dengan senyum wanita cantik di depan mereka. Otaknya yang tidak sampai dengan bahasa asing itu kini menebak-nebak, apa yang tengah kakaknya katakan sementara seorang pengawal kembali masuk. Mendengarkan penjelasan dengan baik sampai rela mengantar Chanyeol kemanapun.

"Kemana kau akan pergi?" tanya Sehun menahan kakaknya. Maniknya meribut, minta ditemani karena tidak bisa berdiam sendirian disana.

"Aku punya rencana, jadi tunggu disini."

"Yang benar saja," Sehun ingin protes. Entah bagaimana adiknya itu bisa berubah menjadi bocah begini di hadapannya. Membuat Chanyeol sukses bernostalgia tentang masa kecil Sehun yang selalu dimenangkan olehnya.

"Hanya sebentar."

Dengan berat hati Sehun setuju. Ia kembali duduk dengan tenang. Menggenggam ponsel di sakunya erat-erat. Bersiap untuk keadaan terburuk. Ia mungkin harus menelpon polisi kalau sampai mereka menyerang.

Chanyeol memasuki pintu toilet dengan rencana yang matang. Hal yang pertama di carinya adalah tong sampah besi yang bersandar di sudut. Ia kemudian memanggil pengawal itu dengan alasan tisu toilet yang habis. Menunggu si pria berpakaian hitam itu lengah, ia kemudian mengeluarkan pistolnya. Membuat pria itu membeku di posisi.

"Dimana?" tanya Chanyeol terlalu santai. Sampai pria itu berhasil lepas, kemudian balik menyerangnya. Ia pun buru-buru mengayunkan kuat tong sampah besi ke arah kepala target.

Chanyeol mengantongi senjata apinya lalu tersenyum puas ketika pria itu terjatuh tak sadarkan diri ke atas lantai. Buru-buru ia keluar dari sana. Mencari letak alarm kebakaran yang ia temukan di dinding lorong tadi. Dengan cekatan ia merusak saklarnya, menimbulkan suara nyaring di setiap ruang.

Tak sampai satu menit semua orang kini berhambur keluar. Maka Chanyeol mengambil jalur staf, sambil memperkirakan lantai utama untuk menemukan keberadaan Jongin. Dan sesampainya ia pada lantai tiga, ia segera menggunakan lift. Mengambil nomor terakhir yang ada di dinding untuk ia capai dengan cepat.

Semua orang berkeliaran pergi, tidak ada satupun yang berminat menggunakan lift. Sebuah keberuntungan bagi Chanyeol karena hanya dirinya yang berjalan santai keluar dari sana. Menemukan pintu berukir di ujung yang sedikit terbuka.

"Sudah kuduga ini ulah kalian," ujar Jongin masih duduk santai di kursi bersama dua orang kepercayaannya. Sedangkan mejanya penuh, terisi oleh tumpukan uang, kartu dan botol-botol minuman. Bau rokok dan juga alkohol dengan cepat menguar, menyambut sesapan minuman Jongin pada gelas tingginya.

Chanyeol tersenyum remeh. Tiba-tiba saja merasa jenaka menemukan adiknya yang begitu menyedihkan dengan barang-barang kotor. Ini kali pertamanya ia menyaksikan Jongin menikmati malam gelap. Menghabiskan berbotol-botol minuman, memainkan permainan sampai pagi, kemudian pulang dengan tumpukan uang yang akan ia gunakan kembali esoknya. Dan Jongin mungkin memang selalu menang, pria itu selalu menang dalam hidupnya.

"Jadi begini keseharianmu?"

Tatapan Jongin menajam. Membuang gelasnya dengan bebas ke lantai. "Kau merusak kemenangan ketigaku," ujarnya marah.

Maka Chanyeol menarik salah satu kursi disana, mendudukinya tenang kemudian menatap setiap inci dari kemarahan Jongin yang meletup cepat. Chanyeol nyatanya sudah bosan dengan tingkah adik-adiknya, bukan karena perduli lalu ingin menghentikannya. Hanya muak saja, terlebih jika Jongin terlibat dengan persaingan mereka. "Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"

Jongin menyernyit. "Apa maksudmu?"

"Kau menyewa seseorang untuk mengganggunya?" selidik Chanyeol menahan geraman di wajah. Sementara Jongin dengan cepat memahami. Senyum remeh pria tan itu mengembang kemudian.

"Ah, maksudmu adik kita?"

Dengan emosi meluap, Chanyeol beranjak dari sana. Menghempas kursinya ke dinding dengan amarah memuncak. Masih misteri mengapa ia melakukan ini semua. Setelah insiden tabrak lari itu ia kerap menjadi semakin aneh, semakin tidak terkendali dalam mengontrol emosinya sendiri.

Sampai pada dirinya yang melenggang panjang, hendak memukul wajah Jongin dengan kepalan tangannya. Seseorang kini menahannya. Kedua pria yang masih berdiri di samping Jongin kompak menahan dengan setia. Amukan Chanyeol lalu melawan. Menghajar keduanya dengan tinju miliknya meski ia sendiri kewalahan.

Jongin yang menyaksikan pertarungan dua lawan satu itu lantas terkikik. Merasa terhibur, di sisi lain alkohol lebih dahulu menguasainya. Membuatnya melayang-layang senang, tanpa tahu jika Sehun sewaktu-waktu akan ikut menerobos masuk. "Bukankah seharusnya kau senang? Aku bisa menyingkirkan pesaing kalian."

Chanyeol lalu berhasil menumbangkan salah satu pengawal Jongin yang berbadan besar. Darah di sudut bibirnya mengantung, menyapa emosinya yang kian naik membumbung tinggi. Segera ia mendekat pada Jongin, merampas kerah kemejanya hingga adiknya itu menatap nyalang.

"Apa kau mencoba melindunginya sekarang?" tanya Jongin telak. Memandangnya jenaka dengan senyum licik. "Lihat dirimu, Chanyeol, kepada siapa sekarang kau berpihak?"

Chanyeol tidak menjawab. Ia berakhir dengan mengawang pada bayangan pertanyaan yang sama. Ia pun tidak paham mengapa ia melakukan ini. Sekali lagi, ia tidak punya jawaban pasti.

Terlalu sibuk tenggelam dalam lamunan, seseorang mulai bangkit dari lantai. Jongin tidak mencegah, membiarkan orang kepercayaannya bergerak untuk menyeret Chanyeol pergi dari sana. Namun belum puas Jongin menyaksikan pengawalnya bekerja, Sehun sudah masuk memukul kepala pria itu dengan botol minuman─hingga pecah.

"Kenapa kita tidak pulang saja?" tanya Sehun santai mengibas jemarinya yang terkena sisa percikan minuman. Tidak begitu perduli dengan pria yang dipukulnya kesakitan menekan darah yang mengalir di kepala.

Menyaksikan itu Chanyeol melepas Jongin dengan kasar. Ia benar-benar sudah kehilangan akal menyaksikan kegilaan adiknya yang tidak juga memunculkan sisi apapun ketika melakukan semua ini. Sehun bahkan tanpa rasa bersalah telah melayangkan botol itu sampai pecah di kepala seseorang. Dan Jongin berakhir tertawa di kursi, merasa terlalu sinting untuk diajak berkompromi.

"Aku terkadang muak dengan sikap kalian yang seperti anak kecil," ujar Jongin mengusap dahinya. "Apa pentingnya punya uang? Pria tua yang kaya itu bahkan tidak bisa mencegah ketika ibu─"

"Jongin!" Chanyeol menginterupsi. Sementara Sehun sudah menendang kursi. Faktanya bukan ia saja yang merasa tidak suka ketika persoalan mendiang ibunya diungkit. Mereka sama bencinya karena tidak mampu mencegah sosok itu pergi.

"Jangan bicara soal orang yang sudah pergi!" kecam Sehun geram sebelum beranjak pergi.

Kini tersisa hening di antara keduanya. Baik Jongin dan Chanyeol, sama-sama merasa jatuh mengingat semua itu. Tenggelam dalam keterpurukan, teringat dengan luka yang bertahun-tahun lamanya bersarang di badan. Mereka kembali bernostalgia dengan Sehun kecil yang sekali lagi hilang ketika ibu mereka pergi. Si bungsu selalu ceroboh dalam memutuskan kemana harus berlari. Butuh dua hari mencari, hingga Sehun kembali dengan kekacauan.

Dan Chanyeol tidak ingin semua cerita itu terulang. Ia bertekad untuk membawa Sehun pulang bersamanya. Tidak membiarkan adiknya tersesat, atau mungkin membuat kekacauan yang lain setelah ini.

"Bukan aku," cegat Jongin ketika sirine pemadam kebakaran bergema dari luar. Tatapan pria itu begitu berbeda kini. Terlihat jauh lebih serius dari sebelumnya.

"Aku memang mengirim seseorang untuk menyelidikinya. Tapi dengan membunuhnya, sama sekali bukan gayaku."

e)(o

Chanyeol sekali lagi mengusap wajah. Ia tahu ada yang kurang dari sisi perhatiannya. Fokusnya hilang, berlarian pergi dari bayangan Junmyeon yang telah berdiri di depan sana. Sekumpulan kertas yang hadir di mejanya bahkan terasa kosong. Hilang tulisannya entah kemana. Digantikan dengan ingatan acak yang tercetak abstrak disana.

Ada beberapa pertanyaan dan juga beberapa pertimbangan yang terngiang. Unjuk tangan diangkat, jawaban-jawaban Junmyeon sebagai perwakilannya lalu mendengung begitu saja. Memantul, lenyap, memantul, lalu lenyap kembali. Cukup gila pemikirannya jika ia membenarkan ia tengah terserang stress karena sebuah pekerjaan. Sebab nyatanya bukan. Ia yakin bukan itu penyebabnya.

Menatap pada ponselnya yang menyala terang, Chanyeol terbang pada pemikirannya sendiri. Mengawang pada screen yang menggambarkan Catalonia Square yang sempat ia potret dari jendela kamar hotel. Ia sekali lagi teringat dengan Baekhyun, sekaligus terngiang pertanyaan Jongin malam itu.

"Apa kau mencoba melindunginya sekarang?"

Tidak pernah ada jawaban. Ia kembali tidak dapat mencerna apapun. Meski banyak kata-kata yang tepat ia dengar, ia lebih dari pada tuli untuk meresapi. Ia tidak begitu mengerti mengapa Baekhyun tiba-tiba menjadi pusat orbitnya. Sampai bayangan bagaimana ia memeluk sosok itu penuh darah bahkan muncul dalam mimpi. Mengganggu tidur yang ia butuhkan dari tumpukan lelah urusan pekerjaan. Terlebih dengan hadirnya faktor lain yang kini bermunculan. Begitu kuat Jongin meyakinkannya bahwa tidak seharusnya ia lelah memikirkan hal yang tidak perlu. Namun Chanyeol merasa tidak lagi dapat menampungnya kali ini.

Jemari besarnya sekarang menyugar surai hitamnya yang pekat. Terlalu mudah terbaca dalam mendapati kegelisahan, Junmyeon mencoba mendekat. Sekertarisnya dengan baik hati menghampiri dirinya yang kehilangan fokus. Memberitahukan soal rapat yang benar-benar telah selesai. Dan bodohnya, ia belum juga sadar dengan sekitar.

"Ini sudah lewat satu bulan," ucap Junmyeon ingin menyadarkannya. Sekertarisnya itu rupanya tengah menyajikan sepiring kemanusiaan. Sedikit iba padanya yang banyak merenung tanpa mau bicara akhir-akhir ini. Dirinya yang tidak pernah absen kalah di meja rapat, kini mendadak diam. Siapa pula yang tidak merasa ganjil?

"dan kurasa kau butuh pelayaran tiga pekanmu ke New York."

Chanyeol terus berdiam, membiarkan ruang rapat mereka kian kosong menyisakan suara Junmnyeon yang menggema. Perasaannya kembali berkecamuk. Otaknya terus mengingat bagaimana pertama kali ia dan Baekhyun berjumpa, rasa makanan yang ia nikmati di Diez Buenos, suara debur ombak di La Baerceloneta, dan juga keramaian pintas jalan di La Rambla. Ia menyayangkan semua dari setiap jengkal tempat itu dilengkapi dengan tawa renyah Baekhyun yang khas. Lalu masa terkenang saat hujan, ketika ia membawa Baekhyun masuk ke dalam permainannya. Permainan bajingan yang nyatanya berakhir bahkan sebelum menempuh separuh jalan.

"Apa yang sebenarnya kau tinggalkan disana?"

Pertanyaan Junmyeon semakin membuat memorinya berputar cepat. Ia seakan ditempatkan pada satu tiang komedi putar. Dibiarkan tak bernyawa sementara banyak kejadian mengitari dirinya. Chanyeol menjadi merasa sesak penuh sesal. Perasaannya tentu diluputi rasa yang juga salah. Tanpa sadar ia membiarkan Baekhyun mengambil perhatiannya, membiarkan pemuda itu menguasai dunianya hingga ia kewalahan sendiri. Menjadikannya pria dungu yang bertanya kabar Baekhyun lewat angin malam.

"Dia mengambil sesuatu yang penting dariku," gumam Chanyeol tanpa sadar. Entah Junmyeon akan mendengarnya atau tidak. Jikalaupun tidak, ia tidak akan rugi karena tentu sekertarisnya selalu menuntut penjelasan soal ini-itu. Ia tidak mau repot-repot berbahasa.

"Eropa memang punya banyak pencuri." Junmyeon menarik dokumen dari mejanya. Dengan senang hati mengosongkan meja agungnya lalu menunggu sabar sampai ia tergerak untuk keluar. "Kenapa tidak menangkap mereka untuk mengambil kembali milikmu?"

Chanyeol bergeming untuk pertanyaan itu. Jika Junmyeon mengartikan kalimatnya dengan sangat rasional, bukankah ia harus percaya? Sementara sekertarisnya selalu menawarkan ide benar selama ini. "Jadi harus kukejar?"

"Kejar sampai dapat," ujar Junmyeon melangkah pergi. Mendahuluinya untuk ia bukakan pintu. "kau selalu mengatakan itu, bahkan ketika kehilangan desain Royalty."

Maka Chanyeol bangkit dari kursinya. Merasa sedikit yakin dengan kalimat Junmyeon yang hendak pergi. Pikirnya benar, ia harus menemukan sesuatu untuk kelegaan hatinya. Menuntaskan masalah adalah hal yang selalu ia putuskan. Apa bedanya dengan meluruskan pemasalahannya dengan Baekhyun? Jika nyatanya sama, dan ia tengah butuh kenapa tidak?

"Kunci─"

Junmyeon berubah berkedip lucu. Mata pria itu kini membulat seperti kelereng. Merasa sarannya telah salah ia ucapkan. Mengantisipasi jika bosnya akan kabur untuk yang kedua kalinya. Terlebih jatuh pada syarat jika ia berusaha mencegah. "Apa yang akan kau lakukan?"

"Mengejar pencuri."

e)(o

Baekhyun terbangun dalam tidurnya. Gelap dan remang sinar dari luar jendela mencegahnya terbawa arus mimpi. Di luar malam terus merangkak, meliukkan korden jendela yang disapu dingin. Setelah mengetahui tidak ada siapapun di dalam ruangannya, Baekhyun kini memilih beranjak dari tempat tidur. Menurunkan kakinya yang kaku. Menjulurkannya sampai mencapai lantai setelah menangkap tongkat di dinding.

Lorong rumah sakit pukul dua malam sedikit sepi ia jejaki. Namun tetap Baekhyun tembus, berjalan dengan salah satu tongkat untuk mencari sebuah lift. Ia hendak turun ke lantai enam dimana kantin beroperasi 24 jam. Beruntung ia tidak menemukan Wendy atau Kris yang berjaga setiap saat di kamarnya. Kalau sampai terjadi, ia tidak akan bisa keluar sedetik pun dari ruangan membosankan itu.

Menahan lapar yang mendera, Baekhyun mempercepat langkahnya. Ia menjadi sedikit sangsi karena semua lorong hanya terisi bayangannya. Baekhyun jadi resah sendiri, ia ingat beberapa cerita horror di apartemen. Tentang penampakan atau yang lainnya. Wendy juga penah bilang kalau rumah sakit adalah yang paling angker setelah pemakaman. Kacau sudah pikiran-pikiran Baekhyun yang kesulitan berjalan.

Keluar dari lift, pemuda dengan perban di kepala dan kakinya itu merasa lega dengan penerangan jelas di depan. Seluruh lantai enam menyala terang benderang. Dinding kaca kantin mulai nampak memanggil dari ujung. Namun yang Baekhyun rasakan kali ini adalah ia yang merasakan seseorang terus mengawasi punggungnya. Beberapa kali ia sempatkan menoleh ke belakang. Awas dengan ekor matanya, tapi semua hal terasa mencurigakan karena tidak menemukan siapapun disana.

Sampai pada ia yang memasuki pintu otomatis kantin rumah sakit, ia disambut dengan salah satu pegawai wanita. Dengan cepat ia menolak untuk dibantu. Ia lalu memesan sandwich dan coklat panas sebagai pengganjal perut. Pegawai wanita itu pun mengambilkan pesanannya dengan cepat.

Detik berikutnya, Baekhyun menimbang apakah ia harus makan di salah satu meja. Namun kembali ke ruangannya di atas sana akan sangat melelahkan. Bukankah setidaknya ia harus memastikan jika hanya ada dirinya di sepanjang perjalanan?

Baekhyun kembali diluputi resah, ia mungkin akan segera menemukan hantu jika lengah. Ia tentu takut soal itu, siapa pula yang tidak takut? Mengambil duduk, mata bulan sabitnya mengawasi lorong-lorong rumah sakit yang terang. Ia awas mengamati. Merasa yakin jika ada seseorang di ujung sana. Tengah mengawasinya atau menunggunya untuk sesuatu. Entah hanya perasaannya saja atau yang lain. Ini jadi terasa aneh bagi Baekhyun.

"Anda menunggu seseorang?" pegawai itu bertanya. Ramah sekali ketika membungkus pesanannya.

"Ah, tidak," geleng Baekhyun sedikit murah senyum. Ini pertama kalinya ia berada di kantin rumah sakit. Ia pun tidak tahu jika ia dilayani dengan baik.

"Tidak ada hantu disini." Wanita berseragam serba putih itu terkekeh pelan. Orang itu rupanya pintar membaca air wajahnya yang tidak tenang. "Jika kau mendengar beberapa cerita, tidak usah dipercaya. Kantin kami menjadi sepi karena itu."

Baekhyun ikut terkikik dibuatnya. Kedapatan menjadi penakut tentu menjadi hal yang tidak biasa. Sedikit memalukan, karena di usianya yang tidak lagi muda ia masih saja percaya pada hal-hal mustahil seperti hantu. "Mereka membicarakan sesuatu seperti itu di lorong."

"Kami disini setiap malam, tapi tidak pernah menemukan sesuatu," sambung si wanita sambil menyerahkan pesanannya. "Sebenarnya kau bisa menelpon untuk beberapa pesanan. Kondisimu akan mengkhawatirkan jika memaksa turun."

"Sungguh?"

Mendengarnya jatuh tidak percaya, kini sosok berambut panjang itu mengangguk. Meyakinkannya soal pelayanan Vall d'Hebron yang luar biasa. "Kau bahkan pasien VIP, tentu saja bisa."

Baekhyun sempat berterima kasih sebelum beranjak dari kursi. Ia meraih tongkatnya, bersiap dengan perjalanan menegangkan sekali lagi. Seketika ada pemikiran kecil di kepalanya, tentang ia yang mungkin harus menelfon Kris. Sendirian di tempat asing tentu menjadi hal yang buruk di malam hari. Bukan karena soal hal menakutkan seperti hantu atau semacamnya. Kali ini bukan hal itu, karena keresahannya beralih pada cemas yang berlebihan soal kondisinya. Bagaimana kalau ia terjatuh tapi tidak menemukan satu orang pun yang bisa menolongnya?

"Ya Tuhan, kau ternyata ada disini!"

Baru saja berbalik untuk hendak pergi, Baekhyun dikejutkan dengan sosok Kris yang menjulang. Pria tinggi itu masuk ke dalam kantin dengan wajah pucat pasi. Sosoknya lelah memperhatikan dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki tidak absen dari pengawasan. Takut ada anggota tubuh Baekhyun yang hilang, atau mungkin saja luka di tubuh si pemuda bertambah.

"Aku mencarimu kemana-mana." Kris mengeluh. Cemas lebih dari pada dirinya sendiri. Dan terkadang hal itu menjadi semakin aneh di kepala Baekhyun. Mungkinkah seseorang yang bukan darah keluarga bisa sebegini sibuk memikirkannya?

"Aku lapar." Baekhyun memberi alasan terlogis. Dan Kris memilih merebut kantong plastik yang dibawanya. Menunggu Baekhyun bergerak, lalu kembali awas dengan tiap langkah yang dibuat Baekhyun.

"Kau bisa menelponku. Kakimu itu tidak boleh dipaksa bergerak."

Baekhyun berubah mengerut. Ia kembali tidak suka dengan kecerewetan Kris yang seperti sekarang. Pria itu semakin menjadi orang asing yang aneh. Lebih tepatnya seperti memiliki tujuan terhadap dirinya. "Kenapa kau kembali?"

"Aku mengantar Wendy pulang," jawabnya. Pria itu lalu menggaruk keningnya. Ragu-ragu ia menyampaikan, "Ada yang ingin aku bicarakan."

Baekhyun lalu tertahan pada pintu. Mereka yang baru saja keluar dari kantin kini tertahan di lorong. Baekhyun sendiri sudah diluputi penasaran. Mungkin atas alasan itu Kris buru-buru datang kemari.

"Tidakkah kau ingin pindah?"

Mendengar itu Baekhyun dengan cepat diluputi bingung. Sedikit bertanya ia perihal pemikiran ajaib Kris. "Untuk apa?"

"Atau tinggallah di penginapanku." Belum-belum sosok itu sudah memberi pilihan. Lantas semuanya semakin aneh bagi Baekhyun. Karena baginya, Kris bukanlah pria aneh atau mudah takut seperti ini. Pria itu mungkin selalu mengkhawatirkannya, tapi belum pernah sampai memutuskan hal seperti pindah rumah untuknya.

"Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba─"

"Ada seseorang yang jahat padamu." Kris memberi alasan dengan jawaban awas. Ia memelankan suaranya, seperti tidak ingin ketahuan. Seolah hal ini rahasia antara ia dengan Kris, tapi lebih pada sebuah sesuatu yang harus dikhawatirkan. "Tolong jangan berpikir jika aku tengah mengendalikanmu. Aku bersumpah tidak melakukan hal semacam itu. Aku hanya merasa jika semua yang terjadi padamu akan menjadi lebih rumit."

Baekhyun tercengang. Pembicaraan panjang lebar Kris membuatnya semakin keras dalam hal berpikir. Ia bahkan sempat bertanya, apa sebenarnya yang tengah Kris lakukan selama ini?

"Itu hanya perasaanmu."

Kris mendadak mengawasi sekitar. Matanya jatuh pada kiri dan kanan, sebelum menatap manik Baekhyun yang redup. "Aku menemukan seseorang di depan pintumu hari ini."

Baekhyun menyernyit. Pemikirannya soal ia yang diawasi kembali berjatuhan di lantai. Entah ia harus berpikir ini sebuah kebetulan atau fakta yang cukup serius. Tapi untuk apa seseorang mengawasinya? Ia tidak melakukan apapun. Terlebih bukan seseorang yang berharga untuk dijadikan objek sandraan. Ia hanya Byun Baekhyun, harta saja ia tidak punya.

"Maksudmu─hantu?"

"Ini jauh lebih buruk dari hantu. Manusia lebih menyeramkan." Pria itu lalu menegaskan kalimatnya. Ia tentu selalu tidak ingin diremehkan. "Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi."

Yang mendengar lalu menggeleng. Lebih memilih melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan. Baekhyun juga merasa semakin lapar. Perutnya pun melilit ingin segera mengunyah tak sabar sandwich yang ia beli. "Kris, kau berlebihan. Mungkin dia hanya orang yang kebetulan lewat."

Dan sebelum Kris memberikan alasan tak logis lainnya, Baekhyun mencegah dengan sangat tidak perduli, "Aku akan baik-baik saja. Beberapa hari lagi aku sudah diperbolehkan pulang."

"Kalau begitu aku tidak akan bekerja. Aku akan menjagamu sampai kau bisa berjalan." Tapi bukan Kris namanya jika tidak berkepala batu. Pria itu tidak pernah mau mendengar. Terlalu bebal untuk sekedar membiarkannya menjadi mandiri. Padahal Baekhyun bukanlah siapa-siapa dalam hidupnya, namun entah mengapa Kris menjadi sangat mengurusinya sebegini repot.

"Oh, ayolah, Kris. Kau bahkan bukan ayahku."

Pada akhirnya pria itu menunjukkan wajah kesalnya. Lelah sekali berperang dengan perdebatan kecil mereka yang tidak kenal waktu. "Dan ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."

Baekhyun pun semakin menuang curiga. Kris menjadi terlalu asing semakin hari.

e)(o

Chanyeol kembali mendarat di bandara El Prat. Penerbangan malam membuatnya dirundung kantuk yang hebat. Bahkan menelpon taxi untuk dinaiki saja ia sempat dirundung kebingungan. Ia hendak memikirkan dimana ia akan tinggal sebelum malam. Satu-satunya tujuan yang terpikirkan adalah apartemen kecil Baekhyun. Sisanya akan ia pikirkan nanti. Ia bisa menginap di kantornya kalau tidak berminat dengan hotel. Selain mengecualikan kapalnya yang sudah berangkat, ia tentu punya banyak cara untuk memilih akomodasi.

Ia pun kini memutuskan untuk berangkat ke Gracia. Tidak perduli dengan kantuk yang meradang atau kemungkinan Baekhyun yang belum pulang dari rumah sakit, ia terus saja menuruti intuisinya. Dan Chanyeol menyesal tidak menyiapkan apapun semalam. Pakaian saja tidak ia bawa satu helai pun, selain lembaran euro yang berhasil ia tukar di bandara. Pikirnya dengan uang ia bisa praktis memiliki apapun nanti.

Perjalanan memakan waktu 30 menit sampai ia yang menjejak di depan gedung apartemen putih gading. Jalanan lenggang di belakang punggungnya dengan cepat mengingatkan bagaimana malam itu Baekhyun tergeletak disana. Terjebak dalam suasana malam mencekam, bersama suara hantaman kuat serta gonggongan anjing malam. Tangan Chanyeol mendadak dingin. Ponsel di sakunya tak kalah bergetar saat satu lagi taxi mendarat di hadapannya.

Sosok pemuda turun dari sana. Hanya seorang diri dengan langkah yang sedikit pincang. Mata mereka kemudian bertemu siang itu. Si pemuda lalu bergeming setelah tahu menemukan sosok yang asing di depan. Kepergian taxi yang ia tumpangi tidak menjadi objek yang bisa dihiraukan kemudian. Chanyeol pun tidak lagi peduli dengan keributan pada ponselnya.

Namun si pemuda beralih dari tatapan beku Chanyeol yang dipalu. Buru-buru sosok mungil itu menundukkan wajah, menyembunyikan senyum kecil tak kalah manis. Dan Chanyeol bersumpah rindu dengan senyum itu. Bahkan untuk helai rambut yang coklat tertiup angin, si pemuda jauh terasa semakin menguji untuk dirindukannya.

"Hi," sapa Chanyeol canggung. Tidak tahu harus mengatakan apa saat Baekhyun berada tepat di hadapannya. Sorotnya lalu menyelidiki kondisi si pemuda, setelan rumah sakit yang dibungkus jaket itu bahkan membuatnya ingin bertanya.

Baekhyun berkedip. Menegakkan kembali kepalanya, menangkap manik Chanyeol yang berkabut rindu─penuh pertanyaan. Rupanya sosok itu sudah lama ingin bicara, manik jernihnya tak terbaca pula kala ini. Namun yang dilakukan si pemuda adalah melewati Chanyeol sepi. Tidak mengatakan apapun selain bertanya satu hal.

"Mau masuk?"

Chanyeol lelah menahan diri untuk tidak merengkuh tubuh lemah itu ke dalam peluknya. Ia hanya bisa mengangguk, mengekori sosok itu dari belakang. Sekaligus mengawasi, sebab ia merasa ngilu sendiri pada langkah pincang Baekhyun yang semakin memelan.

"Aku hanya ingin mengambil sesuatu," ujarnya menekan tombol lift. Hendak naik ke lantai tiga dimana kediamannya bersembunyi. Chanyeol pun sudah ingat letaknya meski baru sekali berkunjung.

Diam-diam Chanyeol kembali menatap punggung Baekhyun yang lesu. Ia mati ingin bertanya. Bertaruh akan apapun soal Baekhyun yang mungkin saja kabur dari rumah sakit. Terlebih dengan bekas infus yang masih menempel di punggung tangannya. Semua kondisi itu bahkan sudah menjelaskan segala hal.

"Mau kabur denganku?" tanya Baekhyun ketika pintu lift berhasil terbuka. Mereka belum juga memutuskan keluar dari pintu. Masih berdiri dengan jarak, yang bahkan Chanyeol saja tidak paham mengapa komunikasi mereka menjadi merenggang tiba-tiba.

Chanyeol tidak kunjung mengerti tentang kekosongan lirikan Baekhyun padanya. Mata bulan sabit itu tampak mengguratkan kesedihan yang baru saja terbenam. Pun keterdiaman si pemuda mengundangnya membisu. Tidak dibiarkan bertanya perihal 'mengapa'.

"Baek─"

"Kau belum memberiku hadiah," jawab Baekhyun mencoba mengulas senyum. Senyum asing yang tidak akan bisa menular pada siapapun. Namun kalimat yang terucap membuat Chanyeol tertarik. Ia mungkin tidak akan terlambat ketika mengizikan Baekhyun menerima hadiahnya.

Tanpa mendapatkan kesempatan bicara, yang lagi-lagi Chanyeol tidak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan di kepalanya, Baekhyun melanjutkan. Memberinya permintaan yang tidak akan pernah mampu ia tolak.

"Ayo naik kapal denganku."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Gak nyangka bakalan sepanjang ini. Makasih banget karena udah mau nungguin. Makasih karena udah dukung ff ini. Semoga semua chap. bisa tuntas sebelum akhir tahun.