Previous
Luhan memeluk suaminya setelah meletakkan ponselnya diatas nakas, dengan nakal Luhan menggigit leher putih Sehun yang sudah menjadi kemerahan akibat ulahnya.
"ARGH..." Sehun terkejut karena Luhan menggigitnya secara tiba – tiba padahal dirinya tidak ada menggangu sang istri
"Gomawo sudah rela menungguku untuk selama ini" Luhan tidak bisa menahan rasa senangnya akibat memiliki suami yang sudah tampan namun sangat penyayang seperti Sehun
"Aduh.. Lu... Kalau mau terima kasih apa perlu sambil mengigit" Sehun mencibir istrinya yang menjadi agresif hanya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya
"Perlu dong.. karena kita akan melakukan..." Luhan mendekati suaminya dan berbisik tepat ditelinga sang suami "Sesuatu yang menyenangkan malam ini"
Luhan langsung menerjang suaminya dengan memberikan ciuman terdahsyat yang dia milik sedangkan sang suami yang diperlakukan secara kasar cukup terkejut namun senang jika Luhannya menjadi agresif seperti saat ini karena dirinya ingin Luhan yang memberikan tubuhnya dengan sama – sama bernafsu bukan hanya sepihak.
"AH..." Sehun mendesah karena tidak menyangka jika Luhannya bertambah nakal, ketika mereka berciuman dengan nikmatnya tangan sang istri turun dan meremas penisnya dengan kuat namun tidak sampai menyakiti miliknya
Mendengar desahan suaminya, dengan cepat Luhan melepaskan ciuman mereka dan fokus pada penis suaminya. Dengan satu gerakan Luhan berhasil membalikkan badan suaminya hingga sang suami membelakangi dirinya, dan dirinya hanya ingin memberikan sedikit pertunjukan yang memuaskan sang suami.
Dengan gesit Luhan meremas selangkangan sang suami dari arah belakang dengan tangan yang dimasukkan diantara paha Sehun yang ngangkang.
"OUH..." Sehun tidak menyangka jika dirinya terbakar birahi walaupun penisnya masih berada dalam sangkar
Tidak ingin kalah dari sang istri, Sehun langsung membalikkan situasi dengan dirinya sebagai penguasa yang akan memberikan kepuasaan sedangkan Luhan hanya tersenyum mesum saja untuk menikmati adegan selanjutnya. Pasangan suami istri yang umur pernikahannya baru seumur jagung bercinta hingga pagi menjemput mereka.
..
..
..
#Sukinanda - #I-Love-You
..
..
..
Main Cast : HunHan
Other Cast : Bermunculan sesuai dengan cerita
..
..
..
Setelah puas bercinta semalaman, pagi harinya bertolak belakang dengan keindahan malam yang dipenuhi dengan desahan namun pagi ini diawali dengan keributan kecil dirumah pasangan suami istri Sehun dan Luhan, dimana sang istri ngotot tetap ingin ikut kerja hari ini dengan alasan ingin serah terima ke Suho karena setidaknya dirinya sudah bekerja satu hari sehingga tahu tugas sebagai seketaris dari seorang Oh Sehun.
"Kau yakin ikut?" Sehun bertanya sekali lagi setelah sang istri masuk kedalam mobil, dirinya sangat tidak suka jika istrinya berdekatan dengan pria manapun termasuk Suho namun rasanya wajar jika dirinya cemburu
"Iya suamiku sayang, jangan aneh – aneh bertanya. Aku hanya ingin serah terima ke Suho bukan ingin memperkosanya" Luhan malas berdebat dengan suaminya mulai dari tadi bangun tidur hanya karena keinginannya untuk ikut kerja walaupun hanya serah terima
"Hei, mulutmu itu Lu" Sehun tidak suka apalagi istrinya berbicara tidak – tidak dan itu membuatnya semakin kesal sama sang istri
"Iya – iya, kenapa suamiku jadi bawel. Biasanya sangat dingin dan tidak bersahabat sajangnim"
"Jangan mengejekku" Sehun tidak suka sifatnya dijadikan bahan candaan, bukan tanpa alasan dirinya bersikap dingin pada orang lain karena itu salah satu sifat yang wajib dimiliki seorang atasan
"Iya – iya"
"Jadi nanti siang kita makan apa kalau kau ikut bekerja?" Sehun teringat jika istrinya selalu mengatakan tidak baik makan yang siap saji dan sebagainya, memang yang dikatakan istrinya sangat bagus tetapi terkadang sang istri melanggarnya juga jika sedang tidak sempat memasak
"Makan diluar saja, tetapi hanya sekali ini" see, Luhan memberikan izin namun dengan ultimatum tidak terbantahkan kalau ini terakhir kalinya mereka makan diluar yang siap saji
"Ya" Sehun menjawab sekilas sambil menjalankan mobilnya, dirinya sangat bosan berdebat dengan istrinya yang mengatakan tidak boleh makan diluar tetapi sang istri juga yang mengatakan nanti siang boleh makan diluar tetapi hanya kali ini saja seolah dirinya yang bersalah layaknya selingkuh dibelakang sang istri. Memang jika berdebat dengan wanita sang pria tidak akan bisa menang melawan wanita yang memiliki seribu alasan
Sesampainya dikantor, Luhan dan Sehun langsung pisah jalan karena lift yang akan mereka naiki berbeda. Walaupun Sehun sudah memaksa istrinya untuk menggunakan lift atasan karena tujuan mereka juga sama namun Luhan bersikera untuk menolak karena statusnya hari ini masih sebagai bawahan sang suami.
Luhan menunggu Suho yang masih belum juga sampai dikantor mereka, padahal Luhan sudah mengirim pesan pada Suho agar datang sebelum jam sembilan. Tidak berapa lama ponsel Luhan bergetar menandakan ada pesan masuk dan dengan cepat Luhan membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengirimnya pesan dipagi hari seperti ini.
Suho :
Lu aku sudah di Lobi
Luhan :
Naik lift kelantai dua belas Suho, nanti waktu ditanya bilang saja ingin bertemu dengan Luhan untuk interview
Suho:
Baiklah
Tidak berapa lama Suho sudah sampai dilantai dua belas dan langsung berhadapan dengan meja Luhan yang merupakan seketaris Sehun.
"Hai Lu" Suho menyapa Luhan ketika pintu lift sudah terbuka
"Hai Suho, ayo biar kubawa keruangan Sehun terlebih dahulu" Luhan membawa Suho untuk menghadap Sehun terlebih dahulu agar suaminya tahu bahwa sang seketaris barunya sudah bisa memulai kerjanya saat ini juga
TOK TOK TOK
"Masuk" seperti biasa Sehun sang atasan menjawab dengan datar dan nada dinginnya tidak pernah hilang jika sedang dikantor, sangat berbeda ketika dirumah yang menjadi super cerewet menurut sang istri
"Sajangnim, ini seketaris barumu" Luhan mengatakannya kemudian berbisik pada Suho untuk memberikan hormat
"Annyeong haseyo, joneun Suho imnida" Suho memberikan hormatnya pada sang atasan, dirinya sangat profesional untuk membedakan mana sahabatnya dikantor dengan sahabatnya diluar urusan kantor
"Hm, Lu tolong serah terima semua padanya" Sehun hanya mengangguk kemudian melanjutkan pekerjaannya tanpa menatap kearah Luhan dan Suho yang berdiri didepannya saat ini
"Baik sajangnim, kami permisi dulu" Luhan dan Suho keluar dari ruangan sang atasan dengan sikap asburd, bagi Luhan itu sangat mengesalkan karena suaminya sama sekali tidak menatap lawan bicaranya sedangkan bagi Suho itu wajar karena dirinya sudah banyak pengalaman jika hanya mempermasalahkan sikap bos barunya
Luhan mengajari semuanya mulai dari awal apa yang dia ketahui hingga kerjaan terakhir yang dikerjakannya, dirinya ingin terbaik karena yang menjadi seketaris adalah sahabatnya untuk suaminya juga.
"Kuharap kau bertahan dengan sikapnya yang menyebalkan" Luhan memberitahu Suho akan hal itu karena setiap hari akan diperlakukan seperti itu, maka dari itu Luhan memberitahunya terlebih dahulu sebelum Suho menyesal sudah bekerja disini
"Hahaha... Itu biasa saja Lu, aku sudah banyak menemukan orang seperti suamimu. Walaupun menyebalkan tetapi itu adalah hal wajar, jika seorang direktur bersikap baik dan ramah maka akan banyak yang menggangunya. Kau tidak lihat jika Sehun banyak diganggu wanita?"
"Hm, aku bahkan memukul pantat wanita itu karena dengan lancangnya menggoda suamiku secara langsung didepan mataku" Luhan menjawab dengan berapi – api karena kesal, namun masih bingung dengan maksud Suho sehingga memilih diam untuk mendengarkan lebih lanjut
"Hahaha... Dasar, jika sikap dinginnya saja bisa mengundang banyak orang untuk menggodanya bagaimana jika sikapnya lembut. Bukankah semakin banyak wanita liar yang akan mencoba merayunya untuk melakukan one night stand"
"Kau benar juga" Luhan bersyukur jika Sehun memiliki sikap dingin karena kalau tidak semakin banyak orang merayunya yang bersikap baik dan lemah lembut untuk semua orang
"Sudah, ayo lanjutkan" Suho meminta Luhan untuk mengajarinya beberapa yang masih belum dipahaminya agar Luhan cepat selesai, dirinya tidak ingin melihat Sehun yang merupakan atasannya saat ini melihatnya berduaan dengan istri atasannya
Setelah selesai mengajari Suho, Luhan yang merasa bosan langsung masuk kedalam ruangan Sehun tanpa mengetuk pintu karena detik itu juga statusnya sebagai seketaris sudah berakhir.
CLECK
Sehun melirik kearah pintu, dimana orang yang dengan penuh keberanian membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu namun ketika melihat sang pelaku maka amarah Sehun sudah menguap begitu saja entah kemana.
"Sudah selesai serah terimanya?" Sehun bertanya sambil mengajak Luhan untuk duduk dipangkuannya, namun dengan tegas Luhan menolak dan duduk didepan Sehun saja karena tidak ingin menggangu suaminya yang super sibuk
"Sudah Hun, mulai detik ini aku bebas dari statusku"
"Aku senang, kau bisa memasak yang enak untukku" Sehun tidak bisa berbohong jika masakan Luhan adalah yang terbaik untuknya selain masakan Eommanya sendiri
"Dasar, awas kalau kau gemuk. Tidak akan kuberi jatah padamu kalau kau jadi jelek karena gemuk" Luhan bukan tidak senang jika memasak banyak untuk suaminya, namun dirinya akan kesal jika Sehunnya yang sexy berubah menjadi Sehun yang bulat dan buntal
"Tidak akan sayang" Sehun merasa badannya tidak akan naik karena setiap minggu dirinya menghabsikan waktu selama dua jam untuk fitness menghilangkan lemak yang mungkin ada ditubuhnya
"Bagus, dan juga aku sudah memberikan perintah pada Suho untuk menjagamu mulai saat ini"
"Hei, kau kira aku anak kecil Lu" Sehun mencibir istrinya, kenapa dirinya perlu dijaga segala. Yang perlu dijaga itu istrinya bukan dirinya yang sibuk bekerja dan bekerja setiap harinya
"Bukan masalah anak kecil atau sudah tua Sehunku sayang, aku hanya ingin Suho menjagamu dari wanita gila atau lelaki gila yang siap kapan saja merayumu" Luhan terkekeh melihat Sehunnya merajuk seperti anak kecil, dan pemandangan ini sangat langkah mengingat Sehun selalu memasang wajah datar dan dinginnya pada orang lain termasuk bawahannya
"Ta-..."
"Hallo" Luhan mengangkat ponselnya yang bergetar dengan malas karena tidak mengetahui orang yang meneleponnya sedangkan sang suami yang melihatnya langsung terdiam karena melihat tingkah sang istri yang tidak sopan
"Luhan ya?" seseorang bertanya untuk memastikan sang pemilik nomor sesuai dengan dugaannya
"Ya dengan saya sendiri, ini dengan siapa?" Luhan mengerutkan dahinya karena sang penelepon mengetahui namanya, dan seingatnya dirinya tidak pernah mendengar suara dari penelpon yang mungkin teman lamanya atau sahabat – sahabat lamanya yang di China
"Aku Lee Hoya, apa kau lupa?" sang penelepon yang bernama Hoya membuat nada sedih karena dirinya dilupakan begitu saja oleh sahabatnya sejak senior high school
"Lee Hoya ya... Ah, tentu saja aku ingat padamu jelek" Luhan teringat setelah berpikir cukup lama karena hampir melupakan sahabatnya yang juga teman yang sering dibullynya
"Kau tidak pernah berubah ya" Hoya mencibir sikap sahabatnya yang dari dulu hingga saat ini selalu saja mengejeknya atau bahkan pernah membullynya secara terang – terangan didepan kelas
"Tentu saja, kalau aku berubah maka aku perlu ditanyai apakah aku keturunan sailor moon atau keturunan power rangers"
"Kau ini ada – ada saja"
"Ada apa meneleponku? Jangan bilang kau kangen padaku jelek" Luhan mencibir sahabatnya yang menjadi temannya semasa senior high school, seandainya jika dirinya berteman dengan Sehun maka dirinya akan bergabung dengan kelompok Sehun tetapi nasib berkata lain pada saat itu
"Tentu saja, aku ingin kita bertemu besok malam diluar" Hoya memang berniat mengajak Luhan bertemu besok malam dan kebetulan pula besok malam minggu sehingga mereka bisa bercerita mengenang masa senior high school mereka yang cukup kelam
"Nghh... Kalo masalah itu aku nanti kabari padamu, aku harus izin pada suamiku" Luhan ragu karena saat ini statusnya sudah sah sebagai istri maka dari itu mau bagaimanapun dirinya harus meminta izin terlebih dahulu pada sang suami
"Kau sudah menikah? Patah hatiku Lu kau buat" Hoya mendramatisir keadaan dengan gaya lebaynya karena pujaan hatinya sudah menikah dan itu tidak mengundang dirinya
"Jangan lebay lah, besok kukabari ok. Bye" Luhan mematikan sambungan telepon karena merasa hawa dikamar mereka sudah tidak enak dan terasa panas untuknya
Luhan melirik kearah sang suami yang sedang menatapnya dengan tajam, dirinya tahu dengan benar jika hawa yang tidak enak dan panas disebarkan oleh suami tampannya dan terasa seperti ingin mati saja.
"Sehun, besok aku ingin bertemu dengan Hoya sahabat lamaku" Luhan berusaha bersikap biasa saja walaupun dirinya sudah grogi dan ketakutan karena suaminya menatapnya seolah ingin membunuhnya saat ini juga lewat tatapan tajam tersebut
"Tidak" singkat padat dan jelas adalah jawaban yang diberikan Sehun pada istrinya yang tercinta
"Ayolah sayang" Luhan berusaha membujuk suaminya, jujur saja dirinya juga ingin bertemu dengan Hoya yang merupakan sahabat terbaiknya karena mau mendengarkan keluh kesahnya selama senior high school
"Tetap tidak" Sehun bersikeras tidak memberikan izin pada istrinya untuk menemui sahabat sang istri yang diketahuinya dengan baik bernama Lee Hoya
"Ish... Dasar suami nyebelin..." Luhan langsung membalikkan badannya dan tidur memunggungi sang suami karena terlalu kesal, jika sang suami cemburu maka tidak ada yang perlu dicemburukan jika itu menyangkut Hoya yang merupakan sahabatnya dan juga Sehun mengenai pria tersebut yang cukup lebay
Sehun terdiam dan memikirkan untuk memberikan izin pada sang istri pergi menemui sahabat lama mereka, tetapi disatu sisi dirinya tidak ingin Luhan berteman terlalu jauh dengan Hoya yang sedari dulu sudah diperhatikannya.
"Hah... Baiklah... Kau boleh pergi Lu..."
"Yey, Gomawo sayangku" Luhan bersorak senang dan langsung menghamburkan dirinya untuk memeluk sang suami yang memberikan izin padanya, mungkin lain kali suaminya bisa dibujuk dengan cara tersebut
"Tapi..." Sehun menggantung kalimatnya berharap Luhan tidak menolak penawaran yang diberikannya, karena dirinya ingin yang terbaik untuk sang istri
"Tapi?" Luhan bingung pada suaminya, sudah diberi izin tapi harus ada tapinya. Sangat menyebalkan bukan punya suami sejenis Sehun walaupun harus diakui ketampannya dan keseksiannya yang wow
"Tapi aku harus ikut karena aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian" keputusan yang terbaik menurutnya seperti itu karena tidak baik untuk membiarkan Luhan pergi berduaan dengan orang seperti Hoya
"YAK! Dasar suami posesif" Luhan mencibir karena setahunya Sehun tidak akrab dengan Hoya dengan begitu pula sebaliknya, justru jika Sehun ikut akan membuat Hoya semakin bingung dan tidak bisa banyak bicara seperti biasa
"Pilihan yang kuberikan hanya itu" Sehun membalikkan badannya untuk memilih tidur daripada ribut dengan istrinya hanya untuk membahas masalah yang tidak jelas
"Hahh.. Dasar suami nyebelin..." Luhan mengumpat karena memiliki suami yang sangat overprotective dan membuatnya sangat kesal saat ini juga
"Ingat, aku suami kamu dan sebaiknya jangan mengumpat pada suami sendiri dosa tahu" Sehun mengatakannya tanpa menatap wajah sang istri yang pastinya sudah sebelas dua belas kayak singa betina yang siap menyerang mangsanya
"Baiklah, aku memilih opsi yang kau berikan saja. Besok malam luangkan waktumu sajangnim: Luhan mengalah dan langsung tidur dengan memeluk suaminya dari belakang, mau bagaimanapun rasanya tidur sangat tidak nyaman bahkan tidak bisa tidur jika tidak memeluk suami tampannya tersebut
Sehun tersenyum senang dan membalikkan badannya hingga mereka berdua tidur sambil berpelukan, mungkin menurut Luhan cara yang dia berikan cukup aneh dan menjijikkan namun baginya itu yang terbaik untuk kebersamaan mereka semua.
~TBC~
