Dag
Dig
Dug
Sepertinya jantung Hinata akan meledak.
Dia mendorong Naruto hingga membuatnya termundur dua langkah dan melayangkan satu tamparan untuk pipi kanannya.
Naruto syok dibuat tamparan keras itu.
"Kau menamparku?" mengapa Hinata menamparnya? Apakah itu adalah pertanyaan? Sungguhkah dia tak sadar soal apa yang telah dia lakukan?!
"Kau menciumku!" pekik Hinata syok mencoba mengontrol wajahnya yang terasa panas sekali.
"Kau menamparku!" seperti tak mendengar kata Hinata. Fokus Naruto sekarang hanya tertuju pada Hinata yang menamparnya. Hinata yang berani menamparnya!
"Kau menciumku!" jari telunjuk Hinata terangkat, menunjuk hidung Naruto dalam jarak 2cm. Ia tak paham perasaannya sekarang tapi ia merasa gugup dikala ia menatap lantang mata biru Naruto.
"Kau menamparku!"
"KAU MENCIUMKU!"
"KAU MENAMPARKU!"
.
.
.
Wajah itu tak berhenti memerah ketika ia menyembunyikannya ke balik bantal dan kemudian mengangkatnya lagi untuk mengambil oksigen.
"Mengapa dia menciumku?" kejadian itu sudah berlalu tiga hari tapi tak bisa ia lupakan ditambah tak berbicara dengan lelaki itu selama tiga hari ini.
"Mengapa mengingatnya menghadirkan perasaan aneh ini?" Hinata tak paham. Perutnya seperti ada kupu-kupu, jantungnya berdebar dan wajahnya memerah tapi pikirannya tak mau mencoba menjawab pertanyaannya sendiri. Pertanyaan terus mengulang di bibirnya tapi belum ada jawabannya. Yang ia dapatkan hanyalah rasa malu dan wajah merona.
"Mengapa...!" Hinata menggigit bibir bawahnya karena bingung. Tak pernah ia rasakan perasaan aneh dan membingungkan ini.
.
.
.
"Kenapa aku menciumnya?" jam menunjuk pukul 20.31 bahkan makan malam tadi gadis itu kabur dengan makan malamnya ke dalam kamar. Mereka tak berbicara sama sekali tepatnya gadis itu menghindarinya.
Tapi Naruto sendiri juga tak berminat membuka topik kepada gadis itu karena apa yang masih mengganggu jiwanya adalah gadis itu berani menamparnya. Dia satu-satunya orang yang dengan lantang menamparnya tapi dia juga "Membuatku ragu." Iya, dirinya ragu. Harusnya ia lenyapkan manusia itu detik itu juga tapi ia terus meragu karena otaknya dipenuhi oleh wajah Hinata. Ia merasakan perasaan aneh ini dan tak merasa bisa melakukan apapun pada Hinata. Ia benar-benar tak mengerti kenapa.
"Mengapa aku menciumnya?" Naruto tak paham. Ia mengetuk jari tangannya ke atas lemari kecil di samping kasur tempatnya duduk.
"Mengapa juga aku tak boleh menciumnya?"
Tok
Tok
Tok
Suara keras itu bukan dari pintu Naruto tapi pintu rumah. Siapa mengetuk pintu begitu keras sampai terdengar dari ruangan ini? Tapi sang pemilik kamar mengabaikannya.
Ia masih sibuk tenggelam pada pikirannya.
"Mengapa tak boleh?"
.
.
TOK
TOK
TOK
Dua kali mendengar suara ketukan yang cukup kasar membuat Hinata keluar dari dalam kamar setelah mengintip dari sela-sela pintu dan memastikan tak ada Naruto yang tertangkap oleh matanya.
.
.
TOK
TOK
TOK
"HINATA! Ada tamu." Pekik Naruto mulai merasa terganggu pada suara gedoran. Tapi mengapa butuh waktu lama untuk Hinata membuka pintu? Dia tak selambat itu? Apa jangan-jangan!
Naruto menggeleng cepat. Lagi-lagi ia berpikir berlebihan tapi ia beranjak dari dalam kamarnya.
.
.
Blusssshh!
Detik itu juga ketika pintu yang ingin ia lewati terbuka, Hinata mematung.
Alis Naruto berkerut. Ia tak bodoh dan ia punya mata. Apa yang ada di depannya adalah manusia bukan patung. Mengapa dia bersikap seperti itu?
"Apa?" merasa kesal, Naruto mengalungkan satu lengannya ke leher Hinata dan menyeretnya ke depan pintu. Ia tak suka Hinata menghindarinya dan ia juga tak tahan mendiamkan Hinata. "Dasar menyebalkan." Jika saja bisa, akan ia sentil ginjal kecil Hinata untuk meredakan kekesalan.
"Aaa sakit bodoh!" Hinata kesusahan melepaskan tangan Naruto di lehernya hingga ketika pintu rumah di buka. Tenaga Naruto melemah.
Hinata menyingkirkan tangan itu sebelum menatap ke apa yang Naruto tatap.
"Uzumaki-sama!"
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
CREATURE
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Creature by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 11
.
.
Apa yang terjadi dan siapa dia? Dia berlutut setelah memanggil Naruto.
"Toneri-sama meminta saya membawa anda pulang."
"Pulang?" tanpa sadar Hinata menatap ke arah Naruto. Pulang? Maksudnya Naruto akan pulang? Sekarang? Sungguh?
"Apa dia sudah membereskan kesibukannya?" tanya Naruto memastikan.
"Iya dan Toneri-sama akan segera ke sini, jadi sebelum itu dia meminta saya mengantar anda pulang."
"Kesini? Untuk apa?" Naruto sedikit terkejut tapi berhasil ia sembunyikan.
Naruto melihat jelas wajah terkejut orang yang mengajaknya bicara. Dia menunduk untuk menyembunyikan ekspresi wajah yang seolah mengutuk diri sendiri karena keceplosan.
"..." tak ada jawaban.
"Aku tak mau pulang. Dia harus menjemputku sendiri."
Blaaamm
Pintu terhempas kasar setelah Naruto menarik Hinata menjauh.
"Tapi Uzumaki-sama! Toneri-sama"
"Tak mau tahu. Dia harus menjemputku sendiri, aku akan menunggunya datang." Aneh.
Aneh sekali.
Naruto melepaskan tangan Hinata setelah membawanya menjauh dari pintu rumah, membuat Hinata menatapnya bingung.
"Apa ada sesuatu?" Hinata tak paham ketika ia melihat wajah bingung Naruto. Seperti yang ia dengar, sang kakak akan datang tapi mengapa malah menyuruh orang lain untuk menjemput Naruto pulang?
Mata Naruto memicing dikala ia mengamati Hinata cukup lama. "Tentu saja ada." Jawab Naruto curiga.
"Mengapa dia akan datang setelah aku pergi? Untuk apa?" jelas sekali ada suatu hal yang tak ia ketahui. Sangat jelas-jelas sekali ada sesuatu yang dirahasiakan darinya tapi apa itu? Naruto tak punya tebakan. Datang untuk Hinata? Tak mungkin sekali, dia bahkan tak kenal Hinata. Lalu untuk apa dia ingin datang setelah dirinya tak ada? Membunuh Hinata? Lebih tak mungkin lagi! Dia bukan pembunuh! Jadi apa alasannya?
"Ayo kita pergi." Naruto tak suka. Ia tak suka menerka apa yang tak ia ketahui tapi entah mengapa ia tak merasa ingin tahu.
"Pergi?" mengapa tiba-tiba mengajak pergi? Bukankah dia ingin menunggu kakaknya datang?
"Kakak menyebalkan. Aku harus membuat dia kesusahan menemukanku." Begitulah rencananya. Naruto mengambil tangan Hinata ingin membawanya pergi tapi belum tiga langkah maju, ia melangkah mundur.
Braacckkkk
Hinata menahan rasa kagetnya ketika dua orang berbadan besar dan lelaki tadi muncul dari pintu rumahnya yang runtuh, tepatnya diruntuhkan dan bukan hanya pintu tapi juga sebagian dinding di dekat pintu itu. Yah itu bukan hal baru lagi. Apakah ada yang lebih mengagetkan?
"Maaf Uzumaki-sama, tapi Toneri-sama memerintahkan kami untuk membawa anda pulang sekarang juga."
"..." meski wajah Naruto datar tapi dalam dirinya ia merasa kesulitan. Dua lelaki berbadan besar di depan pintu itu adalah pengawal pribadi sang kakak yang tak bisa diragukan lagi kemampuannya. Bahkan kalaupun itu Naruto akan sangat kesulitan melawan mereka berdua.
Tapi membuat kakaknya kesal pasti sangat menyenangkan.
Senyuman penuh rencana hadir menghiasi bibir Naruto.
"Mau kabur?"
"Hah?" Hinata bahkan tak mendengar apa yang Naruto katakan tapi Naruto menariknya pergi lari sekuat tenaga menuju belakang rumah.
Braccckk
"Kyaaahh aku jatuh!" dinding rumahnya bolong atas kelakukan Naruto. Ini gila! Hinata tak pernah membayangkan ia akan mengalami hal seperti ini! Mengapa ia harus lari? Ia tak berbuat salah! Apalagi lari dari dua lelaki berbadan besar. Itu sangat mengerikan!
Ia bahkan beberapa kali hampir terjatuh karena Naruto menariknya dan berlari dengan sangat kencang tapi karena Naruto juga ia tak terjatuh.
"Hati-hati!" Hinata terpekik karena terkejut. Naruto berlari dengan cepat sekali setelah entah sejak kapan dan bagaimana menggendongnya ala bridel sytle di kedua tangan. Dengan tenaga seperti itu, dia benar-benar bukan manusia!
"Hinata, apa kau punya tujuan?" Hinata melirik ke belakang dan ia melihat tiga orang tadi masih mengejar. Naruto berlari memasuki daerah hutan.
"Tidak tapi mengapa kita lari?" mengapa juga Naruto terlihat sangat menikmatinya? Dia bahkan tersenyum. Lari tanpa tahu apa itu lelah.
"Karena ini menyenangkan." Bahkan lebih menyenangkan dari bisasanya karena ada Hinata di sini. Ia benar-benar merasa senang.
Tapi
"Kyaaaaaaahh!" badan Hinata tertarik ketika badan Naruto terhempas ke arah yang berlawanan darinya dan berakhir berguling di tanah dengan alas rumput hijau yang rapi.
Deg!
Hinata menoleh ketika ia merasakan ada tangan yang menangkap pergelangan tangannya dan saat itu juga laju tubuhnya terhenti.
Lelaki itu terlihat murka. Wajah putih dengan mata biru muda. Matanya menatap marah Naruto yang sekarang terduduk di tanah dan juga menatapnya dari jarak lumayan jauh.
.
.
"Cih!" Naruto berdecih. Ia tak merasakan kehadiran orang itu. Jika saja ia tahu, ia akan menendangnya. Lihatlah wajah marahnya. Mengapa dia marah? Jelas dia tahu Naruto hanya bercanda, tidakkah dia berlebihan dengan melayangkan Naruto?
Mata Hinata terbelak ketika ia menatap kakinya yang berjarak satu jengkal dari tanah. Selain itu ia juga tak merasa bisa bergerak. Tangan yang mencengkeram pelan pergelangan tangannya di samping telinga seolah membuatnya mematung.
Apakah ia baru saja melayang?
Dirinya dan Lelaki bersurai perak ini melayang mendekati Naruto dan ketika dalam jarak satu meter, kakinya menyentuh tanah. Apakah hal itu nyata? Sungguhkah hal itu terjadi? Hinata benar-benar sangat syok sampai tak tahu harus bersikap seperti apa.
"Apa kau tahu bahayanya sikapmu, Uzumaki Naruto?" apakah Naruto tampak perduli? Wajahnya acuh tak perduli pada wajah murka dan mata mengkilat sang kakak. Apa yang berbahaya? Semua aman terkendali sebelum dia tiba-tiba muncul dan melayangkan dirinya. Kali ini dia keterlaluan padahal dia tak pernah sekasar itu sebelumnya.
"Kau membuatku melayang dan berguling di tanah. Nii-san yang berbahaya." Jawab Naruto acuh.
"Kau sengaja lari dari pengawalku di saat aku memintamu untuk kembali dan kau membawa Hinata. Dia bisa saja terluka karenamu."
Apa ini?!
Tak hanya Hinata yang menatap kaget dan bingung tapi juga Naruto. Mengapa dia malah memikirkan Hinata bukannya Naruto? Apakah dia amnesia seperti kaumnya yang ia temui kemarin yang salah menganggap Hinata adalah adik kakaknya?
"Nii-san"
"Bawa adikku pulang sekarang juga." Sepertinya dia tak ingin Naruto mengacau lebih jauh lagi.
"Ha'i!" belum sempat menangkap pergerakan dua lelaki berbadan besar tadi tapi mereka sudah di dekat Naruto dengan mengunci kedua lengannya.
"Hei Nii-san! Lepaskan aku." Naruto tampak marah dan juga tak senang. Sekarang Ia ingin jawaban dari hal yang membuatnya bingung. Mengapa dia mengkhawatirkan Hinata lebih darinya dan mengapa dia bahkan tak melepaskan tangan Hinata sedari tadi. Mengapa juga dia memaksanya pulang dan seperti ingin berbicara berdua dengan Hinata? Apa yang sebenarnya dia rencanakan atau sembunyikan?
"Nii-san!" tangan Hinata terlepas ketika Naruto menghilang darinya dan dengan cepat ia mengambil beberapa langkah mundur, menatap takut lelaki di depannya.
"Maafkan aku, adikku benar-benar keterlaluan." Selain mengacaukan rencananya, dia juga hampir membahayakan Hinata. Naruto benar-benar keterlaluan.
"Uhm apakah kita saling mengenal?" akhirnya Hinata mengeluarkan apa yang ada di kepalanya. Ia penasaran mengapa lelaki ini bersikap seolah sangat khawatir, marah dan juga mengenalnya. Tapi yang jelas ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.
"Kau pasti tak mengenalku tapi aku mengenalmu." Mengenal Hinata? Bagaimana bisa? Mereka bahkan bukan dari kaum yang sama.
"Siapa kau?" tanya Hinata lagi.
"Aku?" mengapa raut wajahnya seperti itu? Hinata tak bisa membaca raut wajahnya.
"Aku kakaknya, Naruto adikku. Kurasa kau mendengarnya memanggilku Nii-san tadi haha." Kekehan kecil itu merubah raut wajah Hinata.
"..." Apakah Hinata salah memberi pertanyaan atau lelaki ini tengah bercanda?
"Maksudku apakah kau di sini sekarang untuk menemuiku?" senyuman hadir. Dia tersenyum lembut.
Tapi mengapa dia tersenyum?
Dia menyodorkan telapak tangan kanannya ke arah Hinata.
"Aku datang untukmu, Hinata."
.
.
.
To be continue
Ok bye
