Querencia Chapter 12: Number One

Soonhoon slice of life fanfiction

Starring: Kwon Soonyoung; Lee Jihooon; Jeon Wonwoo; Wen Junhui; Mina

PG-15

!note! Di sini Mina yang dimaksud tuh bukan Mina Twice atau Mina gugudan ya, kalau kalian tau
Arisa Uotani dari manga 'Fruit Basket', well karakter dan visualisasi aku ambil dari doi.

.

.

.


Happy Reading


Jadi cakep itu impian semua orang. Jadi pintar itu impian semua orang. Jadi tajir juga impian semua orang. Jadi cakep, pintar, dan tajir? wow, makhluk mana yang tidak mau menjadi seperti itu?

Hari ini, mari kita kembali ke masa ketika Soonyoung dan Jihoon masih berteman biasa di sma kelas tiga. Mereka masih dalam tahap pdkt tingkat awal dan ini bertepatan dengan countdown ujian tengah semester ganjil yang akan dilaksanakan tiga hari lagi.

"Wow apa kalian sudah dengar omongan Hwang ssaem tadi? katanya, mulai tengah semester ini, ranking akumulasi nilai ujian bakal diumumkan di mading."

Jihoon sedang asyik merapal rumus integral matematika ketika Junhui datang membawa kabar burung kepada perkumpulan mereka

Ohya, Jihoon punya circle perkumpulan sendiri saat sma. Jihoon bukan kutu buku2 amat ko. Dia masih punya circle perkumpulan yang cukup setia untuk dijadikan teman. Isinya hanya empat orang yakni ia, Wonwoo, Junhui, dan Mina. Mereka semua tidak pernah sekelas sehingga memutuskan kalau kelasnya Wonwoo akan jadi basecamp setiap istirahat.

"Kalo gitu nama Jihoon otw nomor satu dong ya."

Jihoon dengan refleks menempeleng Wonwoo, "Sembarangan."

"Tidak usah merendah untuk meroket gitu, Ji. kalau kamu beneran nomor satu kita semua udah gak heran lagi kau tahu?"

Well, Jihoon tidak tahu dan memang tidak peduli. Sebaliknya, Jihoon malah cukup kesal dengan sistem baru yang dilakukan sekolah ini. Alasan Jihoon masuk ke sekolah ini, selain karena choi seungcheol sialan itu, adalah karena sekolah ini menerapkan status horizontal alias tidak ada sistem ranking di sekolah. Tetapi itu dulu. Entah kenapa sejak awal semester kemarin, sekolah sialan ini tiba-tiba menerapkan sistem kelas favorit yang menjadi ciri status stratifikasi vertikal. Dan sekarang, mereka akan menerapkan sistem ranking akumulasi nilai? cih, Jihoon akhirnya benar-benar menyesal bersekolah di tempat ini.

"Kalau begitu, ujian besok aku tidak usah belajar saja. Aku tidak mau ngeliat namaku di atas papan nama ranking itu."

Jihoon kadang suka berbicara sembarangan dan itu sifat yang paling dibenci satu-satunya wanita dalam circle yakni Mina

"Kalau kamu sampai kaya gitu rumah kau aku bakar ya Ji."

"Kamu ini kenapa suci banget ya Jihoon? sombong sedikit lah sekali-kali."

Jihoon hanya bisa tertawa mendengarnya-tenang saja, Jihoon tidak pernah memakan hati omongan teman-temannya. Ia cukup peka untuk sadar kalau ucapan-ucapan itu hanya bualan untuk mencairkan suasana.

"Btw kulihat-kulihat, kamu makin dekat sama si anak tajir itu ya?" Junhui tidak tahan itu tidak membicarakan topik ini sebab kemarin ia menangkap basah Jihoon sedang pulang bersama orang yang ia sekarang ia ingin bicarakan

"Jihoon, kamu serius? Anak kaya dia kayaknya bakal setipe sama Seungcheol. Cepat jauhi kalau kamu tidak mau jatuh ke lubang yang sama."

Jihoon memang baru putus dengan Choi Seungcheol beberapa minggu lalu. Rasa sakitnya tentu masih terasa tapi Jihoon sukses menerapkan prinsip life must goes on.

"Udahlah aku mau belajar, aku juga tidak punya rencana pacaran lagi. Pacaran itu bikin capek aja kerjaan nya."

Mendengarnya, Mina tersenyum bersinar seakan Jihoon baru saja merapalkan mantra "Nah gitu dong, ajarin aku ya aku masih belum mengerti integral.."

"Jangan ngomong gitu, Mina. Kamu secara tidak langsung menyinggung perasaan Junhui yang beneran tidak ngerti apa-apa."

Omongan Jihoon barusan sukses membuat Junhui ngambek satu malam

Akhirnya ujian tengah semester selama lima hari suntuk ini selesai juga. Hari terakhir ini diisi dengan matematika dan fisika sehingga kalian taulah bagaimana perasaan semua siswa ketika ini semua akhirnya selesai. Jihoon akhirnya bisa mengibarkan bendera merah dan siap melakukan hobi-hobi baru yang belum sempat ia coba-mengumpulkan prangko ada di list pertama.

Jihoon harus segera pulang pukul empat kalau saja Sosok pria berambut coklat tidak datang menghalangi kusinya.

"Jihoon, gimana ujiannya?"

Jihoon mendesah capek, duh harus banget sekarang ya?

"Lancar saja, Kwon. Aku permisi ya, mau cepat-cepat pulang."

Soonyoung langsung menahan lengan Jihoon yang berusaha kabur, "Eh, tunggu dulu. Kamu mau cepat-cepat pulang biar bisa ke kantor pos pusat kan? kamu mau beli perangko kan?"

Bagaimana Soonyoung bisa tahu?

"Akhir-akhir aku lihat kamu sering baca buku tentang filateli. Jadi aku rasa kamu mau ganti hobi mengumpulkan perangko. Aku benar, kan?"

Jihoon benci karena semua ucapan Soonyoung barusan itu benar

"Kakek ku dulu juga senang filateli, Ji. Dia bilang kantor pos pusat koleksinya kurang lengkap. Aku tau tempat yang kamu butuhkan. Pergi sama aku ya?"

Jihoon tidak pernah lelah berpikir akan mengapa laki-laki yang ada di hadapan nya ini keras kepala dan ingin tahu sekali. Kwon Soonyoung si anak tajir ini seharusnya menghabiskan waktu bersama rekan konglomeratnya sambil menghamburkan uang, tapi kenapa dia malah ada di sini dan berurusan dengan laki-laki pecandu buku kaya Jihoon?

"Terima kasih Soonyoung atas tawarannya tapi aku tidak pergi sendiri. Aku pergi bersama Junhui, oke? sampai jumpa."

Jihoon nyaris saja meledak ketika Soonyoung untuk kedua kalinya menahan lengannya, "Kamu sama Junhui itu dekat ya? Apa aku boleh tau kalian sedekat apa?"

Dasar orang kaya, seenaknya bertingkah. Apa hak dia bertanya soal kehidupan dan privasi ku?

Jihoon sudah tidak tahan rasanya. Ia kemudian melepas paksa genggaman Soonyoung dengan tatapan yang cukup seram untuk ukuran manusia kaya dia "Kwon Soonyoung, apa bisa kamu berhenti cari tau soal hidupku? kamu tidak punya kehidupan lain ya selain mengikutiku? Junhui itu teman baik ku sejak masuk sma dan aku jauh lebih percaya pergi dengannya daripada kamu. Sekarang, tolong jangan halangi aku lagi. Aku pergi."

Jihoon pergi meninggalkan Soonyoung di dalam kelas dengan beribu penyesalan-kenapa akhirnya dia tetap menceritakan hubungan nya dengan Junhui? bukankah itu sama saja dia sudi menceritakan kwon Soonyoung tentang kehidupannya?

Jihoon bodoh dan dia sadar akan hal itu.

Seminggu semenjak ujian tengah semester berlalu dan koleksi perangko Jihoon sudah hampir mencapai angka tiga puluh. Ini semua terkumpul thanks to Wen Junhui yang rela menjadi ajudan dan menemaninya memilih-milih perangko. Tapi itu tentu saja tidak gratis. Jihoon sudah menjanjikan tutoring gratis untuk persiapan kelas remedial karena Junhui sudah pasrah dan yakin akan dapat banyak remedial sehingga ia tidak mau gagal dua kali.

"DI MANA LEE JIHOON?"

Jihoon menghela nafasnya panjang karena ia sudah sangat familiar dengan suara tersebut

"Jihoon astaga astaga astaga kamu harus segera ikut aku."

Mina kelabakan di depan Jihoon seakan-akan ada serangan teroris mendekat. Jihoon tidak tahu ada ajang pencarian bakat apalagi tapi ia pasrah saja ketika tangan nya ditarik Mina keluar kelas. Ia masih memegang buku tentang filateli di tangan kiri nya btw.

Jihoon ditarik pergi jauh. Ia pikir ia akan dibawa ke depan panggung auditorium sekolah namun ternyata Mina membawa ke depan mading yang ada di samping tangga.

"Ji, lihat itu lihat itu ya ampun posisi kamu nyeremin banget."

Jihoon kemudian menatap kertas yang ditempel di mading yang memang sedang dikerumuni banyak siswa sekolah. Jihoon melihat terlebih dahulu judul pengumuman tersebut dan setelahnya mengesah panjang setelah melihat posisinya

Peringkat Akumulasi Ujian Tengah Semester - Kelas 3

Lee Jihoon - XII C - Total nilai: 1488

Kwon Soonyoung - XII C - Total nilai: 1487

Jeon Wonwoo - XII D - Total nilai: 1474

Jihoon hanya tidak habis pikir dengan Jeon Wonwoo karena lelaki itu ternyata sudah berubah menjadi lebih rajin dan pintar. Tidak sia-sia Jihoon menghabiskan waktu paling sering bersama Wonwoo untuk belajar bersama demi titel dokter spesialis di masa depan.

"Astaga teman ku cerdas semua aku bangga banget astaga meskipun aku cuma peringkat 40 aku tetap senang astaga astaga sepertinya aku mau nangis."

Jihoon menarik Mina keluar dari kerumunan karena ternyata Mina nangis beneran. Jihoon tidak sadar kalau banyak mata sedang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.

"Wajar sih orang anak itu kerjaannya hanya membaca buku."

"Tiga besar ranking tidak ada yang berasal dari kelas favorit hahaha gila banget."

"Iyasih pintar tapi kalau tidak punya kehidupan kaya mereka apa rasanya?"

Wonwoo kemudian menyusul duduk di samping mereka dan membantu Mina berhenti menangis. Sebenarnya Wonwoo juga ingin menangis sebab ia tidak menyangka akan mendapat peringkat tiga sekaligus terkejut karena peringkat Junhui ada di posisi 145 yang berarti teman nya yang satu itu benar-benar tidak mengerti apa-apa.

"Kalau gini caranya aku tidak akan menyesal ninggalin kalian ke Jepang karena aku tau kalian berdua pasti bakalan sukses."

Jika kalian bertanya-tanya mengapa Mina dan Junhui tidak pernah ada di cerita-cerita sebelumnya, well ini karena setelah lulus mereka berdua pulang ke kampung halaman mereka. Mina kembali ke Jepang sementara Junhui ke China. Mereka pergi ke Korea hanya dua kali setahun.

Jihoon hanya bisa tersenyum. Mina memang wanita super yang berbeda. Ia adalah wanita supportive serta periang. Tidak heran Jihoon merasa nyaman sekali dengannya despite the fact bahwa dia adalah lawan jenisnya.

Lagipula Jihoon itukan belok, jadi gak masalah lah.

Jadwal Jihoon hari ini sehabis pulang sekolah adalah pergi ke rumah Wen Junhui untuk menepati janjinya. Jihoon sudah mendengar mengenai peringkat Junhui dan ia sejujurnya sedikit terkejut sebab meskipun peringkatnya menyedihkan, akumulasi nya tidak sejelek yang dibayangkan. Wen Junhui mendapat nilai yang cukup bagus di mata pelajaran yang berhubungan dengan bahasa, seni, dan olahraga. hanya saja memang itu tidak berlaku untuk mata pelajaran yang membutuhkan perhitungan. nilainya bahkan tidak mencapai angka empat untuk semua mata pelajaran itu.

"Jihoon, bisa bicara sebentar?"

Langkah Jihoon terhenti ketika Kwon Soonyoung si pria tajir tiba-tiba menghalangi langkahnya di depan gerbang sekolah.

"Aku sibuk, kwon. Lain kali saj-"

"Aku mohon Jihoon, sebentar saja." Soonyoung nekat menggenggam kedua tangan Jihoon setelah lelaki manis itu tetap melanjutkan langkah kakinya

Ah baiklah, apa salahnya memberikan sedikit kebaikan kepada seseorang yang sudah menunggu lama? Jihoon tahu Soonyoung sudah menunggu di sini cukup lama karena tadi ia sempat melihat Soonyoung segera kabur dari kelas begitu bel pulang berbunyi. Itu terjadi hampir sejam lalu yang berarti Soonyoung juga sudah menunggunya selama itu.

"Baiklah Kwon, kamu mau ngomong apa?"

Soonyoung tersenyum manis begitu mendengar jawaban Jihoon. Senyuman itu sangat manis sampai-sampai Jihoon tidak tahan melihatnya lama-lama. Jihoon menatap ke sembarang arah sampai tidak sadar Soonyoung membawanya ke tempat sepi. Ketika sadar tau-tau Jihoon sudah dibawa ke halaman kosong samping sekolah.

"Jihoon, selamat ya. Kamu peringkat satu sekolah. Aku enggak nyangka nama kita bakal atas bawahan. Aku senang banget karena nama kamu ada di atas aku. "

ucapan Soonyoung menyadarkan Jihoon kalau ternyata Kwon Soonyoung yang dimaksud di pengumuman itu adalah Kwon Soonyoung teman sekelasnya yang tampan nan tajir. Eh tampannya lupakan.

"Itu cuma peringkat bodoh, Soonyoung."

"Iya aku tau Jihoon, lagipula bukan itu yang aku maksud."

Soonyoung meraup pelan rambutnya tanda frustasi. Ia tidak menyangka akan sesulit ini berbicara dengan orang yang ia suka.

"Jihoon, aku cuma mau bilang kalau aku tidak seperti yang kamu bayangin. Aku tidak mau kamu menilaiku sebagai cowok yang cuma modal tampang dan uang. Aku ingin dianggap sebagai cowok yang punya kemampuan sama kaya kamu. Aku belajar lebih keras semester ini supaya aku bisa dapat pengakuan dari kamu."

Soonyoung kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya, "Ini, aku ingin kasih kamu ini. Itu koleksi perangko kakek ku. Beliau sudah tidak mengoleksi dan aku sudah dapat izin untuk memberikan nya padamu."

Jihoon tidak tahu situasi apa yang sedang dihadapi sekarang. Kwon Soonyoung butuh pengakuan darinya?

Jihoon terdiam sebentar, ia membuka kotak yang diberikan Soonyoung kemudian setelahnya ia menatap kembali Soonyoung yang terlihat sedikit kelabakan takut-takut omongan nya menyinggung perasaan

"Kwon, sejujurnya aku tidak mengerti kenapa kamu harus bersusah payah mendapatkan pengakuan dariku. Mau kamu pintar atau tidak, aku tidak peduli. Kamu tidak perlu melakukan sampai sejauh itu hanya demi mendapatkan pengakuan dari cowok aneh kaya aku."

Jihoon kemudian membawa salah satu tangan Soonyoung untuk digenggam, "Terima kasih, ya? bilang terima kasih juga sama kakek mu. Aku hargai semua usahamu."

Jihoon tersenyum melihat wajah Soonyoung yang mulai terlihat pasrah

"Untuk sekarang, aku tidak bisa memberi lebih dari ini. Tapi, itu bukan berarti selama nya. Bisa saja tahun depan berubah. Jangan nyerah, ya? aku pergi."

Jihoon kemudian pergi meninggalkan Soonyoung dengan motivasi yang sukses membakar ambisinya untuk terus mengejar Jihoon.

Dan siapa sangka ambisinya itu tercapai jauh lebih cepat dari perkiraan Jihoon?

Jika Jihoon harus memilih mata pelajaran apa yang paling membuat ia susah, mungkin Jihoon akan memilih matematika sebagai jawabannya. Bukan karena Jihoon tidak bisa menghitung atau apa, hanya saja Jihoon suka jadi pusing sendiri sebab sekarang ada orang di sisinya yang punya hobi menganalisis rumus matematika alias Jihoon bosen dengerin ocehan nya. Setiap kali mengerjakan soal, orang ini selalu membuat kuis trivia dadakan yang hadiahnya ciuman di kening. Kalau Jihoon bisa menjawab, orang itu jadi ketagihan buat soal tambahan sementara sebaliknya kalau Jihoon tidak bisa menjawab, orang itu akan tertawa terbahak-bahak dan mengoceh jawaban yang benar.

"Jihoon, kamu tau gak kenapa matriks identitas disebut matriks identitas?"

Hari ini sudah terhitung tiga kali orang ini membuat soal cerdas cermat dadakan

Jihoon capek. Padahal dia sedang ingin menghabiskan waktu sama orang ini tanpa perlu mikirin pelajaran eh tapi ini orang malah datang membawa beban yang Jihoon hindar

"Soonyoung, sekali lagi kamu ngomongin pelajaran, kita putus ya." Jihoon memukul kepala Soonyoung dengan buku fisika sebagai tambahan nya

Soonyoung nya langsung ciut

"Nah gitu ya? setengah jam kedepan dilarang ngomongin pelajaran. Aku mau istirahat dan ngomongin soal kita aja."

Soonyoung tersenyum namun ia belum sempat bereaksi sebab Mina tiba-tiba saja mendobrak pintu kelas dengan ekspresi wajah kelabakan khas wanita jepang di manga

"Jihoon omegat omegat kalian berdua harus liat mading sekarang!"

Soonyoung menyela gak terima, "eh apa sih ganggu orang lagi pacaran aja."

"Bukan begitu bodoh, sana lihat peringkat kelas kalian."

Soonyoung langsung tertarik dong dengan omongan Mina barusan. Semester ganjil memang sudah selesai dan hari ini mereka di sekolah hanya untuk menunggu pengumuman kelas tambahan menuju tes universitas semester depan. Semua ujian akhir semester sudah selesai sejak dua minggu lalu dan Soonyoung sejujurnya kaget karena pengumuman peringkat ternyata diumumkan secepat ini.

Oleh karenanya Soonyoung kemudian menarik tangan Jihoon menuju mading sekolah. Begitu mereka sampai, sudah banyak mata menunggu di sana dan entah mengapa mereka langsung bertepuk tangan meriah ketika Soonyoung dan Jihoon tiba di tempat kejadian perkara

Peringkat Akumulasi Nilai Ujian Akhir Semester Ganjil - Kelas 3

Lee Jihoon & Kwon Soonyoung - XII C - Total Nilai: 1490

Jeon Wonwoo - XII D - Total Nilai: 1479

Hong Jisoo - XII A - Total Nilai: 1465

"Mimpi apa Lee Jihoon bisa berpacaran sama cowok kaya Soonyoung?"

"Itu nanti anak mereka bakal jadi penerus einstein mungkin."

"Mereka selalu kerja sama saat ujian atau bagaimana?"

.

.

.

.

.

.

.

To be continued.


Aku mau ngelurusin sesuatu nih, sebelumnya mungkin ada beberapa dari kalian yang agak skeptis baca cerita ini terutama di part Jihoon dengan karirnya sebagai dokter. Aku mau minta maaf kalau cerita yang kutulis tidak mencerminkan perjuangan jadi dokter yang asli. Aku tau untuk jadi dokter spesialis yang asli tuh ribet banget harus ambil studi profesi dan spesialis, aku tau dokter bakal harus magang dulu selama beberapa tahun dll. Di cerita ini, Jihoon kubuat GAMPANG bgt jadi dokter karena well aku gamau ambil pusing di background iitu karena aku cuma mau ambil titel dokternya aja.. maaf kalau justru itu menjadi nilai minus cerita ini. Nasi udah jadi bubur jadi gabisa diapain2 lagi.. intinya makasih buat kalian yang masih mau baca meskipun ada hal2 sedikit tidak masuk akal dengan realita di cerita ini, thank youuuuuuuuu^^.

SCENE MATURE NEXT CHAPTER YA, itukan yang kalian mau?