Disclaimer : All characters belong to Masashi Kishimoto

The Queen of Succubus

Chapter 12

Ino merasa begitu lemah. Ia bahkan tak sanggup mengangkat kelopak matanya. Bau lembab dan belerang yang tercium membuatnya sadar ia masih berada di dunia Iblis. Luka tikaman pedang yang ditinggalkan Gaara terasa sakit menggerogoti esensi kehidupan nya. Ino dengan brutal ingin mengingkari kenyataan, tapi dia tidak bisa. Dia berada disini lemah dan tak berdaya karena Gaara mengkhianatinya.

Manusia bilang jangan percaya pada iblis dan mereka benar. Mengapa dia pikir Gaara tak akan mengkhianatinya, padahal dia sendiri mampu dan pernah mengkhianati iblis angin itu? Iblis memang tak punya hati, tapi sepertinya ia mencintai Gaara. Dalam hati Succubus itu tertawa ironis, Mungkin terlalu lama di dunia mortal membuat dirinya bersikap bak mortal.

Suara langkah kaki membuat Ino bersikap waspada. Ia tak sanggup mengangkat kepalanya. Borgol hitam yang melingkar di pergelangan tangan nya memutus kontak Ino dengan sumber kekuatan nya.

Dengan pipi melekat di lantai Ino hanya mampu melihat sepasang kaki yang terbalut sepatu sisik Naga. Kaki itu menendang tubuhnya, membuat Ino terguling mengerang menghantam dinding batu yang menjadi kurungan nya.

"Lihat lah dirimu Ino, Menyedihkan. Ratu Succubus yang agung kini merangkak di tanah."

Ino mengumpulkan semua tenaga nya untuk berbicara pada Deidara. "Kau pengecut, Kalau berani lepaskan borgol ini dan kita bertempur."

Deidara kemudian berlutut menjambak rambut saudarinya. Mata birunya menatap Ino dengan menghina. "Kita sudah pernah bertarung dan kau kalah lalu melarikan diri. Siapa yang pengecut Ino? Kau bahkan meminta perlindungan kaum Vampire. Sekarang tak ada lagi yang bisa menyelamatkan mu. Bahkan Pazuzu yang tergila-gila padamu ikut tertawa bersama kami."

"Gaara memang menjualku, tapi ia tak akan merendahkan diri nya dengan bergabung denganmu."

"Kau tak percaya. Iblis paling angkuh pun membuang harga dirinya." Dengan menjentikkan jarinya Deidara menampilkan sosok Gaara yang tengah menikmati minuman ditemani para Harpy. Ia tampak bicara dengan akrab bersama anak buah kakak nya. "Dia tidak bodoh, Dia tahu kapan harus bergabung dengan pihak yang menang."

"Menang? Mengapa tak menyingkirkan ku sekarang." Ujar Ino dengan suara nya yang parau.

"Serahkan Amulet Lilith padaku!"

"Aku tak akan menyerahkannya." Ino memang sudah mempersiapkan diri untuk mati, tapi dalam kondisi begini ia bahkan tak bisa memutuskan kematiannya.

"Tetap lah keras kepala dan aku tak segan menyiksamu. Adik ku yang cantik."

Sedetik kemudian Ino menjerit merasakan kuku-kuku tajam Deidara mengoyak luka terbuka yang ditinggalkan Gaara. Partikel-partikel yang membangun tubuhnya berasa terbakar api abadi neraka.

"Aku bisa memberikan mu lebih dari ini." Ucap Sang Incubus dengan sadis.

Tubuh Ino dibanjiri darah berwarna ungu. Dia tak akan mati sebab Deidara tak menginginkan nya. Dia hanya ingin Ino menderita sejadi-jadinya.

Setelah puas mengoyak-ngoyak tubuh Ino, Deidara melemparkan tubuh saudarinya ke ruangan yang lain. Tiga arwah mortal menantinya.

"Obati dia seadanya, biarkan tangannya terbelenggu." Perintah Deidara pada arwah-arwah itu.

"Baik yang mulia."

Tubuh-tubuh tanpa rupa itu mulai menyeka dan membersihkan luka Ino. Dia tak bisa berkomunikasi dengan mereka sebab Arwah-arwah ini adalah sosok mortal yang membuat perjanjian dengan iblis. Mereka tinggal sosok hampa yang jiwa dan kepribadiannya telah tergerus dimakan Iblis. Menyisakan roh yang hanya bisa bekerja dan berkomunikasi dengan tuan nya.

Ino mengernyit menahan nyeri. Tak ada yang bisa dia lakukan selain mencoba bertahan. Ino mengkhawatirkan Sai dan teman-teman nya. Besar kemungkinan dunia manusia telah hancur. Sang Succubus meneteskan air mata.

.

.

Di atas sana pesta telah berlangsung, Setelah berdiskusi dengan saudara-saudara nya. Gaara memutuskan untuk merendahkan harga diri dan menawarkan persekutuan. Bila dia hendak menghancurkan Deidara ia harus memulainya dari dalam. Kemunculannya telah membawa riak baru di dunia Iblis. Sebagian besar dari mereka menemukan kembali sosok yang dirasa bisa mematahkan hegemoni Deidara, tapi Gaara memilih untuk menjadikan diri nya ajudan Incubus itu. Tentu saja tak semua orang senang dengan keputusan nya. Terutama Temari, tapi ia tak punya banyak pilihan. Gaara muak melihat wajah Incubus keparat itu dan bagaimana dia bahagia melihat Gaara menjilat kaki nya. Satu hal yang dia pelajari di dunia manusia adalah bersabar hingga kesempatan datang.

Beralasan masa pembuangan nya di dunia manusia membuatnya semakin lemah, Gaara ingin Deidara berpikir ia bukan musuhnya. Pertama dia sudah menyerahkan Ino dan sekarang dia menunjukkan itikad baiknya. Deidara cukup bodoh untuk percaya, tapi Sasori selalu curiga. Dari awal Gaara sudah curiga Sasori adalah otak dari semua ini sebab Dia dan Ino lebih dari tahu kalau Deidara tidak secerdas itu.

Tanpa repot-repot membersihkan dirinya. Deidara yang kini bergelar Raja Iblis melangkah dengan santai bergabung dengan keramaian pesta. Menangkap Ino tentunya wajib di rayakan.

"Maaf membuat kalian menunggu, Aku baru saja menemui tamu penting kita dan terima kasih pada pangeran Iblis angin yang bermurah hati membawanya ke mari."

"Tidak masalah, Dia sudah membawa masalah bagi kita berdua." Ujar Gaara tenang seakan dia tak peduli dengan nasib Ino.

"Senang Pazuzu akhirnya jadi sekutu ku." Deidara mengambil gelas dari meja dan meminum nya. Wajah Incubus itu semakin riang setelah menyiksa Ino, tapi ia sudah memutuskan untuk tak mempercayai Gaara. Jika ada seseorang yang bisa menggulingkan nya sekarang maka iblis itu adalah Gaara. Setelah kembali dengan kesombongan dan ancaman tiba-tiba saja Pazuzu mengunjunginya dan berniat bergabung dengannya. Gaara merencanakan sesuatu. Seperti pepatah bilang buat lah teman mu dekat dan musuhmu lebih dekat lagi, sebab dengan begitu dia akan lebih mudah mengawasi gerak-gerik Gaara.

"Aku masih tak paham mengapa kau memutuskan bergabung setelah menolakku?"

"Karena tak ada hal yang bisa aku lakukan di sini. Bila kau merasa bermurah hati, berikan aku pasukan dan biarkan aku menguasai dunia mortal. Aku lebih nyaman berada di sana."

Senyum jahat menghiasi bibir Deidara, "Menurutmu Pazuzu, mengapa kau merasa berhak mendapatkan hadiah itu?"

"Karena aku menangkap Ino untukmu."

"Tentu saja jasa-mu itu tak cukup untuk meyakinkanku. Semua mahluk di dunia iblis tahu kalian punya sejarah dan kau seharusnya marah aku menghancurkan bangsamu."

"Tidak, aku malah berterima kasih kau menghancurkan mereka yang telah membuangku. Kau pasti mengerti rasanya diremehkan. Apa yang harus aku lakukan untuk menunjukkan niatku mendukung kekuasaan mu?"

"Buat Ino memberikan Amulet Lilith padaku."

Gaara tetap berwajah datar mendengar permintaan Deidara, tapi genggamannya membuat gelas tembaga di tangannya penyok

"Aku akan melakukannya untukmu."

Konflik batin melanda Gaara saat melihat Ino terikat di dinding. Tangan dan kaki nya terbelenggu oleh besi hitam yang memutus kekuatan nya. Saat ini Succubus itu tak ubahnya seorang mortal. Deidara telah menyiksa Ino sedemikian rupa, tapi tetap memastikan Ino sadar. Gaara berpikir seberapa banyak rasa sakit yang wanita iblis ini telah rasakan.

"Ah, Kau datang mengunjungiku? Aku tak tahu kau bisa jadi begini rendah Pazuzu." Ujar Ino dengan mencemooh.

"Aku datang ke sini untuk menyelesaikan pekerjaan dari demon lord."

Succubus pirang itu mengernyit "Kau bahkan mengakui Deidara sebagai raja mu?"

"Aku seorang Iblis, perlu mematuhi aturan."

"Gaara, Mengapa kau melakukan ini? Kau nyaris mengorbankan nyawamu untukku dan sekarang kau menikamku. Aku tak ingin percaya kau melakukan ini tanpa alasan."

"Ino...Ino. kau selalu akan menjadi iblis berhati lemah. Apa kau berpikir aku memaafkanmu setelah semua hal yang terjadi padaku? Bagaimana rasa nya dikhianati oleh satu-satu nya orang yang kau percayai di dunia? Aku tak pernah menduga akan punya kesempatan untuk membalaskan dendam padamu. Sekarang kau sendirian, menderita dan semua hal yang ingin kau lindungi telah hancur menjadi debu."

"Apa maksudmu Gaara?"

"Dunia mortal telah hancur, begitu pula dengan teman-teman mu dan biar ku beritahu. Aku membunuh sendiri vampire bodoh yang selalu mengikutimu itu."

"Bohong, Kau berbohong. Kau tak mungkin mampu membunuh Sai di dunia mortal."

Gaara menyeringai, "Pasukan Deidara tentu membantu. Aku hanya mengirimkan pukulan terkahir. Apa yang ingin kau lindungi sekarang? Serahkan Amulet nya Ino."

Ino tak ingin menyerah. Meski semua yang ingin dia lindungi hancur, ia tak bisa membiarkan Deidara mengapai ambisinya.

"Bunuh aku sekarang. Aku mohon padamu."

"Deidara tak akan menyukainya dan aku tak ingin kau menghilang dengan mudah. Aku tak akan menyiksamu bila kau memberikan Amuletnya."

"Sama saja, Ketika Deidara mendapatkan apa yang dia mau. Dia akan membunuhku."

"Kau tak memberikanku pilihan." Gaara tak ingin melakukan ini, tapi dia harus mendapatkan kepercayaan Deidara meski harus menghancurkan Ino.

Dengan kekuatan nya Gaara berusaha menarik Amulet yang tersimpan dalam jantung Ino, kekuatan spiritual Succubus itu memberi perlawanan tapi Gaara dengan mudah melenggang. Dia tahu energi nya yang dia paksa masuk membuat Succubus itu menjerit kesakitan dan tak sedetik pun Gaara berkedip menyaksikan Ino tersiksa ditangan nya. Ia tak ingin menutup mata dari siksaan yang dia lakukan pada Ino, jeritan Succubus itu bergaung dalam benaknya dan akan terpatri selamanya, seperti halnya tawa dan tangis yang Ino tunjukan pada nya.

Sebenarnya Ino beruntung dia yang melakukan ini, bukan Deidara. Ino bisa mengalami hal yang lebih buruk dari ini. Dalam hati Gaara ingin memberitahu Ino untuk bertahan.

Pada akhirnya Amulet itu berhasil dia keluarkan, menyisakan tubuh Ino yang kehilangan kesadaran dan penuh luka. Terkadang Gaara berpikir mengapa harus mereka berdua, saling menyakiti meski tak menginginkannya. Dia berjalan mendekat. Mengelus pipi iblis yang tengah sekarat. Diam-diam dia membagi sedikit energinya pada Ino memastikan gadis itu tak akan mati.

"Bencilah aku, Ino. Kebencian akan memberikan alasan untuk membuatmu bertahan dan kembali padaku." Gaara meninggalkan penjara itu dengan berat hati. Satu hal yang pasti dalam benak Gaara. Dia harus menghancurkan Deidara secepatnya.

.

.

"Apa yang terjadi?" Tanya Naruto sembari mengendong tubuh Hinata yang lemas ke habisan tenaga. Pertempuran berlangsung sengit dan berat sebelah. Pasukan aliansi telah terdesak hingga membuat Itachi dan Kakashi turun ke medan pertempuran. Gelombang pasukan Iblis terus bermunculan menggempur garis depan. Hinata kehabisan tenaga karena terus menerus harus melakukan serangan penyucian. Korban dari kedua belah pihak berjatuhan dan ketika pasukan aliansi merasa kehabisan strategi mendadak para Iblis mundur.

"Aku juga tidak tahu." Jawab Kakashi. "Aku takut mereka akan datang dengan kekuatan yang lebih besar."

Itachi mau tak mau ikut khawatir. Prajurit tak akan mundur begitu saja dari perang yang sudah pasti mereka menangkan, terkecuali ada sesuatu terjadi di dunia Iblis. Sai sudah memberitahunya Ino kembali ke dunia iblis untuk menyelamatkan iblis bernama Gaara dan dia merasa tak tenang tidak mendapatkan informasi apa yang terjadi di tempat itu.

"Lord, Saya datang untuk melapor." Di tengah-tengah kerumunan bangsa ware-wolf, vampire dan para excorcist. Utakata sang mata-mata muncul dan berlutut di depan pimpinan kaum nya.

"Apa yang terjadi di dunia Iblis?" tanya Itachi pada sang mata-mata.

"Saya tidak tahu persis, Hanya saja adik Temari yang bernama Gaara mengunjungi markas kaum pemberontak dan memberitahu saya Deidara akan menarik pasukan nya dan Nona Ino telah meninggal."

"Itu tak mungkin!" Teriak Sai mengejutkan orang-orang di sekitarnya. "Ino tak mungkin tertangkap begitu saja. Pasti sebuah kebohongan." Vampire muda itu menolak untuk percaya Ino telah menghilang. Kesalahan nya telah membiarkan Ino lari dan menyelamatkan Gaara.

"Tidak sepenuhnya bohong karena Deidara baru saja menarik pasukannya. Utakata apa kau mendengar rumor yang lain? Apa Temari memberitahumu rencana mereka?"

"Di tengah perjalanan saya mendengar desas-desus Gaara menjadi anak buah Deidara dan meninta dijadikan raja di dunia mortal."

Sai mengeretakan gigi nya dengan kesal. Kecurigaannya pada Gaara bukan tanpa alasan. "Aku mengerti sekarang. Gaara menjual Ino pada Deidara untuk mendapatkan kekuasaan. Aku tak pernah mempercayai lelaki itu. Menyelamatkan nya hanya sebuah jebakan untuk membuat Ino kembali ke dunia Iblis."

"...tapi Ino bilang Gaara menyukainya." Bela Sakura yang kerap kali menanyai Ino soal masalah asmara sang Succubus.

"Sakura, Ino pasti tak pernah bercerita padamu kalau awalnya dia mengkhianati Gaara dan menyebabkan dia menjadi manusia. Gaara punya banyak alasan untuk membenci Ino dan aku telah berusaha untuk menyadarkan nya, tapi Ino tak mendengarkan ku. Ini semua salahku." Putus Sai kecewa pada dirinya sendiri. Seandainya dia lebih kuat dia pasti akan mampu mencegah Ino pergi.

"Kita masih tak tahu apa yang para Iblis sedang rencanakan. Gunakan waktu ini untuk beristirahat dan memulihkan diri. Kita wajib waspada. Mungkin mereka akan kembali."

"Baik."

Setelah semua kembali ke markas, Sai masih tampak termangu. Vampir itu bersandar di dinding salah satu menara penjaga. Dalam hati nya dia amat yakin Ino tidak mati, tapi bagaimana dia bisa memastikannya? Dia harus menemukan cara untuk bisa melintasi dimensi.

"Sai, Apa kau masih memikirkan Succubus itu?" tanya Utakata menyerahkan rokok yang menyala pada rekannya. Meski tak butuh, tapi kebiasaan manusia masih melekat pada sosok mereka.

"Aku ditugaskan untuk melindunginya dan aku gagal."

"Jangan menyalahkan dirimu. Kita Vampire memang lebih lemah dari penciptanya. Vampir hanya sedikit di atas mortal. Apa yang membuatmu berpikir bisa mencegah seorang Succubus?"

"Ino tak seperti iblis lain nya. Dia memiliki hati nurani."

"Itulah yang membuat Ino dijatuhkan dari takthanya. Menjadi Iblis kau harus licik dan kejam."

"Apa ada cara bagi kita untuk menembus dimensi?"

Utakata tertawa, "Tak ada hal seperti itu."

"tapi mengapa kau bisa?"

"Aku manusia yang terlahir dengan darah Iblis, orang-orang sudah melupakan Dantalion baik di dunia iblis mau pun di sini, tapi dialah iblis pertama yang jatuh cinta dengan manusia ketimbang sekedar memanfaatkan mereka."

"Jadi Iblis pun jatuh cinta?" tanya Sai.

"Ketika mereka mempelajari jalan manusia, mungkin saja tapi itu hanya anomali. Dantalion adalah leluhurku karena itu aku memiliki sedikit darah iblis dan bisa menggunakan portal."

"Kau pasti tahu sesuatu?"

"Meskipun aku tahu. Aku tak bisa memberitahu mu. Ngomong-ngomong tugas jaga mu sudah berakhir sekarang giliranku. Pergi dan istirahat lah."

.

.

Gaara benci harus berlutut di depan Deidara tapi dia tetap melakukannya.

"Aku berhasil mengekstraksi amulet ini dari Ino." Gaara menyerahkan benda berwarna emas itu.

Deidara tertawa senang. "Aku menyesal tidak menyaksikan apa yang kau lakukan pada nya. Apa kau sudah membunuhnya?"

Gaara menggeleng. "Kau tak memintaku untuk membunuhnya."

"Bagus, karena aku akan membunuh Ino sendiri. Ini akan jadi akhir yang memuaskan."

"Aku sarankan untuk tidak membunuhnya dulu." Ucap Gaara.

"Mengapa?"

"Meski kau memiliki Amuletnya kau tak tahu cara membuka segelnya."

"Kau pikir Ino tahu? Bila dia tahu dia pasti sudah menggunakan kekuatan Lilith."

"Entahlah, tapi dia pendeta terpilih dan dia tahu lebih banyak dari iblis lain nya."

"Aku rasa Gaara ada benarnya, Kita tak harus membunuh Ino sekarang." Ucap Sasori yang selalu setia berdiri di samping Deidara.

Gaara merasa lega, Dia punya waktu untuk membebaskan Ino.

"Baiklah, aku akan memastikan bersenang-senang dengan saudariku sebelum menyerap keberadaannya."

Gaara menahan diri untuk tidak menusuk Deidara di saat itu juga. Kedua bedebah ini lah yang menyulitkan hubungannya dan Ino

"Bagaimana dengan permintaanku? Aku sudah melakukan yang kau mau.

"Aku tak punya masalah menyerahkan dunia mortal padamu, tapi aku harus mendiskusikan soal pasukan pada Sasori."

"Ingat Deidara, Jangan coba-coba untuk mengelabuiku jika tak ingin kita kembali berseberangan." Gaara meninggalkan sang Incubus bersama penasihatnya.

"Bagaimana menurutmu Sasori?"

Iblis berwajah polos itu berpikir sejenak. "Aku tak akan pernah mempercayai Gaara."

"Tapi apa kau punya cara untuk menyingkirkan nya? Dulu kau bisa menggunakan Ino dan sekarang dia tak peduli lagi dengan wanita itu. Dia bahkan berhasil mengekstraksi amulet ini. Kita tak ingin Gaara menjadi musuh."

"Dia hanya minta pasukan kan?"

"Benar."

"Berikan saja batalion terlemah, Kita tak mengingkari janji dan juga tak memberikan dia banyak kekuatan."

"Ide yang bagus."

.

.

Gaara memastikan tak ada iblis yang mengikutinya. Dia terbang menuju tempat persembunyian saudaranya. Gaara sudah tahu Deidara tak akan memberikan kesepakatan yang menguntungkan, seratus ribu pasukan yang diserahkan padanya tak lebih dari kumpulan ibIis tak berguna, tapi banyak dari mereka berasal dari suku Iblis api. Tsunade ada di dunia mortal, mungkin saja mereka akan berbalik membantunya menggulingkan Deidara jika tahu pemimpin mereka tak lenyap. Yang dia harus lakukan adalah mengeliminasi partisan Deidara dari pasukannya dan dia akan membutuhkan vampire-vampire itu.

Pertemuan itu dilakukan dengan rahasia. Cahaya kehijauan dari lumut-lumut di dinding gua menjadi penerangan satu-satunya. Kankuro, Temari, Onoki duduk di meja.

"Aku tak setuju kau membawa iblis-iblis itu ke dunia mortal. Mereka sekutu kita."

"Tapi kita harus membereskan loyalist Deidara dan mereka bisa melakukannya. Kita butuh pasukan yang mau bertempur untuk kita dan kita tahu sebagian besar dari mereka bergabung karena tak punya pilihan. Jika mereka melihat ada harapan mereka akan membelot."

"Adikku, meski kehebatanmu melegenda apa kau tidak sadar kau juga terkenal karena kegilaan mu? Kau pikir mereka akan menjatuhkan Deidara dan menggantikannya dengan mu "

"Kankuro apa kau lupa, Aku iblis terkuat dan di dunia ini yang lemah tunduk pada yang kuat."

"lalu bagaimana kau akan bertempur di dunia mortal dengan tubuh manusiamu? Segelnya belum terpecahkan."

"Siapa bilang aku akan bertempur. Kesuksesan dari rencana ini berada ditangan mereka."

"Gaara, apa kau yakin mereka akan membantumu setelah apa yang kau lakukan pada Ino?"

"Oh, mereka harus membantuku atau mereka akan menemukan kehancurannya. Temari, lakukan persiapanmu. Aku pergi sebentar."

Dunia mortal tidak serta merta damai setelah para Iblis pergi. Manusia digemparkan dengan tersingkapnya fakta keberadaan makhluk supernatural adalah nyata. Itachi menyibukkan diri dengan mencoba menghapus semua video yang berkaitan dengan pertempuran Iblis dari internet. Sebisa mungkin ia ingin agar keberadaan mereka tak terekspos.

Sai mengawasi sebuah mobil hitam memasuki wilayah Mansion Uchiha. Begitu melihat siapa. Vampire berambut hitam itu langsung menyerang. Insting Gaara dengan cepat memberitahunya serangan datang dengan refleks iblis itu membuat pelindung.

"Kau berani menunjukkan wajahmu setelah apa yang kau lakukan pada Ino!" Sai kembali menyerang sang Iblis. Kemarahannya memuncak, sekarang Gaara di sini dia akan membunuhnya.

"Apa yang aku lakukan dengan Ino, tak ada urusannya denganmu." Gaara dengan susah payah menangkis pukulan Sai. Bertempur di dunia mortal sungguh merugikannya.

"Dia mempercayaimu dan kau membawanya pada musuhnya. Aku tak akan membiarkanmu hidup."

"Kalau kau membunuhku, maka tak akan ada kesempatan untuk menyelamatkannya."

"Maksudmu Ino masih hidup?" Sai menghentikan serangannya

"Dia tak akan mati semudah itu."

"Kau menyerahkan Ino pada Deidara, bagaimana aku mau mempercayaimu."

Gaara benar-benar kesal, dia tak ingin menjelaskan dirinya pada siapa pun, tapi vampire ini memblokade jalan nya.

"Apa kau pikir kau saja yang mencintai Ino? Aku harus melakukannya untuk mendapatkan peluang menang. Apa kau pikir mudah bagiku untuk mengkhianatinya? Apa kau pikir aku senang menyiksanya dan menjilat kaki Deidara? Asal kau tahu Dunia ini masih selamat hanya karena aku membawa Ino dan Deidara masih segan denganku."

"Aku masih tak paham dan aku tak peduli dengan alasanmu. Kami bisa melindungi Ino di sini." Sai kembali menyerang Gaara dengan membabi buta. Pria itu setengah mati menghindar dari peluru perak terlontar dari senjata sang vampire.

"Tidak kah kau bisa menyingkirkan perasaanmu sejenak untuk hal yang lebih besar?" Tanya Gaara menahan Tinju Sai. Amarah membuat gaya bertarung sang Vampire ceroboh, Dia membuat celah dan Gaara berhasil menjatuhkan Sai dengan menyarangkan pukulan ke tulang rusuknya.

"Dengar Vampire, Dinginkan kepalamu. Kau mengenal Ino beberapa bulan dan aku menghabiskan ratusan tahun bersamanya. Dia selalu kesulitan karena keparat yang sama. Saat ini aku tak peduli bila Ino membenci dan membunuhku nanti. Hal terpenting sekarang adalah melenyapkan malapetaka yang dibuat Deidara. Aku datang kemari bukan untuk bertarung denganmu, atau mempermasalahkan siapa yang lebih mencintainya. Aku datang untuk meminta bantuan. Agar kita bisa menyelamatkan Ino selagi masih ada kesempatan."

Sai meresapi kalimat Gaara. "Jadi kau hanya berpura-pura mengkhianatinya?"

"Tetap saja aku harus menyakitinya." Ekspresi Iblis itu tampak muram dia tak menginginkan satu hal buruk lagi terjadi pada Ino. "Aku ingin berbicara pada pemimpinmu."

Gaara dan Itachi berdiskusi, merancang jebakan untuk kaum Iblis. Mengisolasi mereka di suatu titik dan menghabisi prajurit yang tak mau mengikuti perintahnya. Kemudian Gaara akan bergabung dengan pasukan pemberontak yang dipimpin Temari dan menyerang Deidara. Gaara akan membunuh Incubus itu sendiri.

.

.

Ino merasa sudah tak sanggup lagi, Mengapa dia berusaha bertahan bila semua hal yang ingin dia lindungi lenyap. Mengapa ia terlahir dengan hati yang lemah, Mengapa juga harus dia yang terpilih menjadi ratu dan pendeta Lilith? Siapa yang mengarang takdir. Apa tuhan juga menuliskan nasib para Iblis? Kemarahan dan kebenciannya kian bertumpuk dan sepenuhnya tertuju pada Gaara. Jika dia tak membantu Deidara, mungkin mereka masih akan punya harapan.

"Kau sudah sadar, Saudariku?" tanya Deidara dengan nada manis yang beracun.

"Apa kau datang untuk mengakhiri eksistensiku? Yang kau inginkan sudah ada di tanganmu."

"tidak sepenuhnya, Sebagai penjaga kau pasti tahu cara mengaktifkan kekuatannya."

Ino tertawa meski tubuhnya sakit. "Apa yang membuatmu berpikir begitu? Malaikat yang menyegel Lilith di sana dan kuncinya tentu ada pada mereka. Sungguh kau mengejarku dan mengobarkan perang hanya untuk sebuah benda keramat yang tak ada gunanya."

Sebuah tamparan keras melayang di pipi Ino. "Bohong, Kau tak akan melindungi benda ini bila memang tak berguna."

"Kakak, Tugasku sebagai ratu adalah menjaga keberadaan benda itu. Sejauh ini apa ada seorang Iblis yang mampu memanfaatkan kekuatan lilith? Aku kira kau sudah menemukan cara untuk membuka segelnya, ternyata kekhawatiranku sia-sia." Ino kembali tertawa, ternyata tak seorang pun tahu cara membangkitkan Iblis leluhur mereka.

Deidara murka, "Kau selalu berpikir kau lebih baik dariku kan? Kita lahir dari darah yang sama tapi mengapa harus kau yang terpilih. Aku lebih kuat darimu."

"Dei, Meski kau sekarang menyebut dirimu Demon Lord kau masih merasa kalah dariku. Aku kasihan padamu. Apa kau juga berniat menyerang surga hanya untuk membuktikan kau lebih baik dariku?"

"Aku akan bahagia memotong lidahmu, tapi aku menahan diri. Karena sekarang kau sudah tak berguna aku akan mengeksekusimu di depan para iblis yang pernah memanggilmu sebagai ratu."

Ino lega Deidara pergi tanpa menyakitinya. Tubuhnya sudah hancur akibat Gaara dengan paksa mengambil Amulet Lilith. Ini kah akhir nya? Sebuah kegagalan demi kegagalan. Andai saja dia punya kekuatan saat ia lenyap nanti dia ingin membawa semuanya lenyap bersamanya. Termasuk musuh-musuhnya. Ino tersentak di ruang penjara yang tertutup rapat ia merasa sesuatu membelai rambutnya.

"Kebencianmu membangunkanku. Apa kau ingin membakar semuanya anakku? Aku bisa meminjamkan kekuatanku untuk itu. Hancurkan semua yang menyakitimu."

Ino bingung, dia mendengar suara wanita. Mungkin dia berhalusinasi. Tubuhnya telah terputus dari kekuatannya selama berminggu-minggu. Ia bahkan bisa mencium bau daging membusuk dari luka-luka ditubuhnya. Aroma kematian. Iblis dapat hidup selamanya tapi mereka bisa dibunuh. Ino tak ingin mati sendirian.