.
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Gender Bender
.
Kejujuran dan kepercayaan adalah dasar pondasi dari sebuah hubungan yang sehat - Shiori Avaron
.
.
16TH November XXXX
Naruto tersenyum dan begitu menikmati memandang Uchiha Sasuke yang melahap bekal makan siang buatannya dengan lahap. Bekal makan siang buatannya hanya terdiri dari sebuah pasta dengan saos lasagna serta makanan penutup berupa red velvet cake yang dibuatnya pagi tadi. Hanya dalam waktu sepuluh menit, kotak bekal tersebut bersih tanpa menyisakan apapun.
"Kau lapar sekali, hm?" tanya Naruto sambil membereskan kotak bekalnya pada susunan semula sementara Sasuke meneguk air putih.
"Hn," seru Sasuke meletakkan gelas air putihnya. "Aku tidak bisa makan dengan nikmat beberapa hari ini." Naruto menunduk karena dia tahu, dialah penyebab Sasuke tidak bisa makan dengan nikmat.
Genggaman tangan hangat yang selama ini dia rindukan kembali terasa, Naruto mengangkat wajahnya dan menemukan wajah dingin Sasuke dengan tatapan mata yang melembut padanya. Ya Tuhan ... betapa Naruto merindukan tatapan mata Uchiha tengah dan wajah dinginnya yang menyebalkan ini.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyalahkanmu." Naruto tersenyum dan membalas genggaman tangan Sasuke.
"Aku tahu," jawab Naruto sambil mengarahkan genggaman tangan Sasuke pada pipinya. "Aku yang salah. Seharusnya aku tidak menghindarimu, Sasuke. Aku..."
Naruto berhenti sejenak dan menatap Sasuke yang tidak berhenti menatapnya dengan tatapan mata yang lembut itu. Tatapan mata penuh pemujaan – bolehkan Naruto menyebutnya seperti itu?
"Banyak hal yang harus kita bicarakan dan kantorku bukan tempat yang tepat untuk membicarakannya." Sasuke menarik tangannya dari pipi Naruto, bangkit dari kursi yang didudukinya dan menjulurkan tangannya pada Naruto. "Are you coming with me?" lanjutnya.
"Okay." Naruto menjawab uluran tangan Sasuke. Lagi...genggaman hangat tangan Sasuke kembali dirasakannya. Namun tidak hanya tangan karena kini tubuhnya berada dalam dekapan hangat Uchiha Sasuke. Sekarang Naruto tahu...inilah yang diinginkannya, berada dalam dekapan hangat Uchiha Sasuke, prianya, rumahnya dan masa depannya.
.
.
Naruto tidak banyak bicara dan hanya diam memperhatikan Sasuke yang sedang mengemudi dengan tangannya yang bebas, menggenggam tangannya erat. Naruto sering kali membaca adegan ini di novel-novel dan tidak pernah menyangka bahwa dia akan mengalaminya sendiri. Wajah Sasuke yang dingin namun genggaman tangannya yang hangat, Naruto merekam semuanya dengan jelas dalam ingatannya yang tidak akan pernah dia lupakan. Perasaan ini...perasaan yang dirasakannya pada Sasuke lebih dalam dibanding dengan apa yang pernah dia rasakan pada Gaara. Waktu ternyata tidak berpengaruh terhadap apa yang kau rasakan pada seseorang, karena seharusnya apa yang dirasakan Naruto pada Gaara lebih dalam dibandingkan dengan apa yang dirasakannya pada Sasuke, menghitung waktu yang lebih lama dia habiskan bersama dengan Gaara dibanding dengan Sasuke.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa Uchiha Sasuke yang terkenal tangan besi bisa menjadi sangat romantis dan bertangan hangat."
"Hn."
Naruto tertawa geli dengan jawaban Sasuke yang menyebalkan. Entah kenapa Sasuke selalu menjawab dengan trademark menyebalkan tersebut. Jika beberapa waktu lalu, Naruto tidak akan tertawa geli dengan jawaban trademark Sasuke ini. Dia tentu akan menjerit kesal, mengumpat bahkan mencerca Uchiha tengah di depannya ini dengan berbagai macam ucapan yang balik menyebalkan – yang tentu saja tidak mempan untuk membuat Uchiha Sasuke kesal padanya, karena nyatanya Uchiha Sasuke akan semakin membuatnya kesal dengan kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir sexynya itu.
"Seharusnya aku mencubit bibirmu itu setiap kata 'hn' keluar."
Sasuke tersenyum kecil mendengar gerutuan Naruto. "Aku lebih suka jika kau menciumku dengan bibir merahmu itu." Naruto menggerutu dan menatap Sasuke dengan mata yang sengaja disipitkan mengintimidasi yang justru semakin membuat Naruto terlihat menggemaskan dimata Sasuke.
"Dasar mesum!" Naruto menggerutu dan menolak menatap Sasuke namun pipinya memerah dan Sasuke semakin melebarkan senyumannya.
"Tapi kau mencintai Tuan Mesum ini."
"Ya..ya..ya..terserah."
Lima belas menit mereka berkendara, mobil Sasuke melaju pelan menuju sebuah gedung apartemen yang berada di selatan Tokyo. Sasuke melajukan mobilnya menuju sebuah pintu berwarna hitam – seperti pintu garasi namun lebih besar. Begitu berhenti di depan pintu berwarna hitam tersebut Sasuke menekan tombol di sebuah remote kecil dan mengarahkannya pada pintu berwarna hitam tersebut yang perlahan tertarik ke atas.
"And ... what is this place?" tanya Naruto dengan pandangan menyelidik pada Sasuke.
Naruto mengira mereka akan membicarakan 'apapun itu' di rumahnya dan tidak menyangka Sasuke akan membawanya ke – atau boleh Naruto sebut apartemen Sasuke. Itachi pernah cerita kalau Sasuke tidak tinggal dengan keluarga inti semenjak dia menginjak bangku senior high school dan tidak pernah membawa siapapun masuk ke dalam apartemennya, termasuk keluarga intinya. Hanya Ayame – pelayan setia keluarga Uchiha yang telah menjadi pengasuh seluruh anak inti keluarga Uchiha yang sering ke apartemen Sasuke untuk membersihkan apartemennya beserta beberapa pelayan yang memang sengaja Sasuke pilih.
"Home sweet home."
Bukannya tersenyum tapi mencibir yang dilakukan oleh Naruto karena apa yang dikatakan oleh Sasuke berbanding terbalik dengan ekspresi yang ditampilkannya. Seharusnya ada senyum atau raut lega – bahagia, namun hanya wajah dingin tanpa ekspresi yang tampak walaupun matanya menunjukkan sorot bahagia.
Apa yang lagi yang bisa diharapkan dari si wajah stoic ini kan.
Tampaknya Naruto harus mencoret apartemen untuk Sasuke karena gedung ini sepenuhnya milik Uchiha Sasuke. Penthouse Uchiha Sasuke. Lantai dasar berisi kendaraan-kendaraan pribadi milik Uchiha tengah berupa beberapa mobil yang malas sekali Naruto untuk menghitungnya – dan semuanya mobil dengan edisi terbatas. Begitu juga dengan tiga buah moge yang berada di sisi paling kanan lantai dasar ini. Di sebelah lift yang Naruto yakini sebagai pintu keluar dan masuk Penthouse Sasuke, ada sebuah ruangan kecil berisi dua orang berseragam hitam-hitam khas security yang memberi hormat saat melihat Sasuke turun.
"Naruto Uzumaki, mereka tim keamanaan disini," Sasuke menunjuk pada dua orang berbadan hitam berseragam hitam-hitam yang tadi dilihat oleh Naruto. "Tidak perlu memeriksanya setiap kali dia kesini."
"Wow! Tidak perlu memeriksanya setiap kali dia kesini." Naruto mengikuti perkataan Sasuke saat tubuhnya ditarik memasuki lift menuju penthouse Sasuke. "Kau mengatakannya seakan-akan aku akan sering kali kesini." lanjutnya.
Sasuke nampak tidak memperdulikan ucapannya dan malah menarik Naruto untuk semakin merapat padanya. Naruto tersenyum dan menatap Sasuke yang balas menatapnya dengan sorot mata lembut. Pintu lift terbuka dan pemandangan pertama yang disuguhkan adalah dua pintu besar berwarna hitam yang terlihat begitu gagah, kuat dan misterius secara bersamaan.
Sasuke membuka pintu hitam tersebut dan ruangan bernuansa hitam, abu-abu dan putih langsung menyambut Naruto. Secara keseluruhan penthouse Sasuke mencerminkan seorang Uchiha pada umumnya. Elegan dan penuh kuasa akan apapun karena semua hal rasanya tunduk pada pesona Uchiha. Sofa berbentuk L yang menghadap pada perapian yang menyatu dengan sebuah ruang keluarga dengan sofa melingkar persegi menghadap pada televisi hitam besar di dinding. Kedua ruangan yang berbeda fungsi ini hanya dipisahkan sebuah grand piano berwarna putih di tengah-tengah ruangan, yang terlihat begitu kontras dengan kedua sofa berbentuk L dan melingkar yang sama-sama berwarna hitam. Di ujung kiri sebuah meja makan persegi dengan empat kursi berwarna lagi dan lagi hitam yang menyatu dengan meja pantry dapur dan sebuah dapur minimalis dengan peralatan modern.
Sasuke menuju ke dapur dan Naruto mengikuti. Naruto duduk di kursi pantry dan menatap Sasuke yang langsung membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral, meneguknya.
"Lebih baik kita membersihkan diri dulu, baru kita bicara."
"Kau saja yang membersihkan diri dulu. Aku nanti saja." jawab Naruto yang kini berdiri berdiri di depan Sasuke.
Naruto menarik nafas panjang, memberanikan diri dan membuka ikatan dasi Sasuke. Sasuke tentu saja terkejut melihat keberanian Naruto ini. Sasuke menatap intens perbuatan Naruto yang sedang membuka ikatan dasi dan membuka satu kancing teratas Sasuke masih dengan mata lembut dan wajah yang semakin cantik rupawan di mata Sasuke.
"Cepat sana mandi, kau bau." Naruto mendorong tubuh Sasuke menjauh dari dapur sementara Sasuke masih terpaku. "Cepat sana!"
Sasuke menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil sebelum beranjak menuju tangga yang membawanya ke lantai dua. Naruto kini menatap dapur di depannya dan bergerak membuka lemari es melihat isi dalam kulkas yang tergolong penuh dan lengkap untuk kediaman seorang laki-laki. Naruto yakin Sasuke tidak akan keberatan jika dia sedikit membuat hidangan untuk menemani mereka mengobrol nantinya. Seberat apapun hal yang nanti akan mereka bicarakan, sebuah kudapan akan membantu menghilangkan ketegangan yang terjadi kan?
Naruto membuka lemari penyimpanan di samping lemari es dan menemukan toples berisi bahan-bahan untuk membuat kue. Naruo mengambil salah satu toples berisi tepung terigu dan membuka lemari es untuk mengambil keju, strawberry dan cokelat batang. Naruto yakin Sasuke pasti menyuruh salah satu pelayan di kediaman Uchiha untuk memasak di kediamannya, melihat begitu lengkapnya dapur miliknya.
.
.
Bau kue yang sedang dipanggang membuat Sasuke yang baru saja memakai sebuah kaos longgar berwarna putih dan celana piama berwarna hitam tersenyum. Sasuke segera menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Punggung Naruto yang sedang membungkuk di depan oven membuat senyuman Sasuke semakin lebar. Sasuke memilih berjalan tanpa suara dan duduk di kursi pantry sambil menatap Naruto yang tengah sibuk dengan kuenya. Sasuke sangat berharap setiap dia pulang dari kantor, pemandangan inilah yang menghiasi penthousenya. Naruto yang tengah menyiapkan kudapan ataupun makan malam, menyambutnya dengan senyuman, memeluknya dan menciumnya. Pasti penat yang dirasakannya setelah sibuk seharian di kantor pasti hilang.
"Apa yang kau pikirkan, Sasuke?" tanya Naruto membuyarkan lamunannya. Sasuke hanya mengangkat bahunya acuh dan berjalan mendekat pada Naruto.
Gerakan tangan Sasuke seringan bulu saat membelai pipinya dan Naruto tidak lagi merasakan sengatan listrik menakutkan seperti yang selama ini dirasakannya dari gerakan tidak terduga lawan jenis. Naruto justru merasakan pipinya memanas dan menatap Sasuke yang malah tersenyum jahil.
"Pipimu penuh tepung, Baka Dobe!" yang tentu saja langsung membuat Naruto mencibir.
Naruto meletakkan brownies cokelat dengan strawberry dan keju sebagai topingnya di atas meja pantry, memotongnya kecil-kecil dan meletakkannya pada dua buah piring kue. Satu untuk Sasuke dan satu untuknya sendiri.
"Brownies dengan rasa yang tidak terlalu manis untuk tuan pembenci gula," Naruto mengarahkan satu piring kecil dengan potongan brownies di atasnya untuk Sasuke. "...dan secangkir cokelat hangat yang lagi-lagi tidak terlalu manis."
"Arigatou." Sasuke tersenyum dan menarik Naruto dalam pelukannya. Sasuke melepaskan pelukannya dan mencoba brownies yang sudah disiapkan Naruto untuknya. Naruto menatapnya dengan penuh antipati. Sasuke mengunyah browniesnya dengan wajah yang masih datar tanpa menunjukkan reaksi tentang rasa browniesnya sengaja mengabaikan Naruto yang menunggu reaksinya.
"Bagaimana?" tanya Naruto penuh harap.
"Kau belum mencicipinya?" Sasuke bertanya balik yang membuat Naruto mengernyit kesal.
"Katakan saja bagaimana rasanya," Naruto menggerutu yang dibalas dengan senyuman kecil Sasuke yang kembali memakan brownies yang telah disiapkan Naruto. "And...you like it?"
Sasuke menggeleng dan Naruto mengernyit tidak setuju karena Sasuke jelas-jelas menghabiskan browniesnya.
"Rasanya kurang pas," seru Sasuke menatap Naruto yang menatapnya dengan mulut mengerucut kesal.
Sasuke menarik pinggang Naruto mendekat dan mengecup bibirnya lembut. Kecupan yang tidak Naruto sangka segera berubah menjadi lumatan lembut yang membuatnya tidak bisa lagi mengelak. Pelukan Sasuke pada pinggang Naruto semakin erat seakan-akan tidak membiarkan Naruto lepas lagi darinya.
"Jangan lagi menghindariku, Dobe."
Naruto tersenyum di tengah nafasnya yang terengah akibat ciuman Sasuke. Perlahan Naruto mengangguk dan memeluk Sasuke erat. Naruto mengalungkan kedua lengannya pada leher Sasuke yang dibalas dengan pelukan erat di pinggangnya oleh kedua lengan Sasuke.
"Aku tidak perduli apa yang telah terjadi dulu. Hal itu tidak akan pernah merubah apa yang sudah terjadi pada kita sekarang."
"Are you sure?" bisik Naruto lembut. "Meskipun aku..."
"Aku tidak perduli apapun itu." Sasuke menjawab tegas berusaha menenangkan Naruto yang mulai gemetaran dalam pelukannya. "Perasaanku padamu tidak akan pernah berubah, Naru. Tidak akan."
Sasuke bisa mendengar suara isak tangis Naruto. Sasuke menepuk punggung Naruto lembut menenangkannya. "Hari ini kau berniat menceritakannya padaku bukan, apa yang terjadi dulu?" dan anggukan bersamaan dengan isak tangis terasa di lekukan lehernya. "Arigatou, Naru. Aku sangat bahagia kau mau berbagi denganku, tapi aku tidak akan membiarkanmu menangis ketakutan penuh gemetaran saat menceritakannya padaku saat ini."
Naruto melepaskan rangkulan lengannya pada leher Sasuke dan menatap pria yang tidak henti – hentinya membuatnya jatuh dan jatuh lagi. Naruto menatap kedua mata Sasuke mencari kebenaran dalam setiap rangkaian kata yang tadi diucapkannya.
"Aku ingin memulai hubungan kita dengan kejujuran Sasuke dan aku tidak ingin memulai hubungan tanpa ada lagi rasa ketakutan karena bayang-bayang yang telah lalu."
Sasuke terdiam sebentar dan menarik Naruto untuk mengikuti menuju balkon teras dan menarik Naruto untuk duduk di pangkuannya, di sofa yang berada di balkon teras tersebut sambil menikmati pemandangan yang tersaji dibalik pethouse Sasuke. Naruto tidak menolak justru semakin bergelung memeluk Sasuke.
"Aku tidak pernah membiarkan Gaara memelukku seperti kau memelukku. Aku tidak pernah membiarkan Gaara menciumku seperti kau menciumku, Sasuke."
Sasuke terdiam tidak menjawab karena dia tahu, Naruto belum selesai menceritakan ketakutannya. Secara garis besar Sasuke bisa menebak ketakutan Naruto akan sentuhan oleh lawan jenis diakibatkan trauma yang terjadi di masa lalu tapi Sasuke tidak berani membayangkan trauma seperti apa yang sudah Naruto lewati, yang justru membuatnya geram penuh amarah.
"Hanya kau...yang membuatku tidak takut lagi dan aku tidak tahu kenapa. Awalnya mungkin aku takut karena kau..." Naruto menengadah dan menatap wajah Sasuke yang menatapnya. "Sekelebat kau begitu mirip dengan 'orang itu'."
Sasuke memejamkan matanya menahan amarah karena dia jelas tahu trauma seperti apa yang sudah Naruto lewati selama ini. "Siapa dia?" tanya Sasuke balik dengan nada dingin membunuh penuh ancaman yang membuat siapapun yang mendengarnya pasti berlari ketakutan. Naruto kembali menangis dan memeluk leher Sasuke erat yang dibalas dengan sama eratnya oleh Sasuke. "Apa dia – "
Naruto seakan-akan terkoneksi dengan apa yang dipikirkan oleh Sasuke. Hanya anggukan dan isak tangis yang kembali menjadi jawaban pertanyaan Sasuke. "Aku benci 'orang itu'! Dia...dia..."
Sasuke tidak menjawab namun menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Naruto dan menenangkannya. "Sst...ada aku Naruto. Tenanglah."
