Mereka bertemu di luar tembok desa yang menghadap arah negeri Tanah sesuai kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya. Tim Konoha datang lebih dulu. Bukan tanpa niat tersembunyi, hanya menunjukkan itikad baik kepada calon sekutu potensial. Lima menit setelah tiba, barulah tim Iwa terdiri dari dua orang muncul dari kejauhan. Naruto tetap memasang emosi datar melihat dua orang paling tidak disangka-sangka dipilih sebagai utusan Tsuchikage. Dua saudara kuno di dalam perutnya gemuruh begitu merasakan kedatangan saudara lain.

Pria paling besar memiliki baju besi berwarna merah yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, seperti prajurit masa lalu yang siap bertempur habis-habisan. Ada benda seperti tungku menggantung di belakang baju besi yang senada begitu juga topi caping yang menyembunyikan wajah pria itu. tapi meski begitu, Naruto bisa merasakan tatapan tajam yang melahirkan intimidasi yang cukup menggetarkan kedua rekan geninnya. Sosok lain tidak kalah menarik, perempuan muda seusia dengan Naruto mungkin, memiliki rambut hitam sebahu dengan wajah yang memancarkan kepercayaan diri yang kuat. Pakaiannya adalah tampilan umum ninja Iwa yang dipotong sesuai dengan ukuran anak-anak, kulitnya putih mulus seakan dia putri dari kastil. Tapi Naruto tahu di masa depan gadis itu akan menjadi ninja potensial, bahkan di beberapa dunia alternatif, anak perempuan itu bisa menyandingi kemasyhuran kakeknya.

Jinchūriki Gobi dan cucu kesayangan… inikah yang disebut kesederhanaan di mata Onoki.

Kakashi seperti yang diharapkan cukup tenang meski dua orang yang dipilih Tsuchikage sama sekali tidak terduga. Mengirim cucu kesayangannya mungkin bisa diartikan banyak hal, tapi mengirim seorang Jinchūriki yang terlebih namanya tercantum sebagai ninja yang harus diwaspadai bisa menimbulkan arti yang buruk. Ya… aku juga bisa dianggap jelek mengingat siapa guruku.

Naruto sadar dua ninja Iwa secara khusus menatapnya lebih intens. Bisa dimaklumi, pikir Naruto yang mungkin punya alasan berbeda satu sama lain. Mungkin si perempuan menyadari rambu pirangku dan Jinchūriki dewasa menyadari Kurama di dalam perutku. Apa dia juga menyadari Isobu? Meski bijuu kura-kura Cuma percikan cakra.

"Oh, aku sudah tidak lama bertemu Kokuo sedekat ini… Ne Naruto tidak bisa kamu menjangkaunya?"

"Bodoh, itu membuat Iwa-nin akan menaruh kecurigaan. Naruto sebaiknya kamu menekan cakra kura-kura itu."

Kau benar…

"Tidak bisakah kita membunuh mereka semua dan ambil Kokuo sekarang?"

Kurama merutuk betapa bodoh atau naif, saudara mudanya. Tapi si kura-kura tidak peduli karena di depannya ada sosok kakak lain yang sudah dirindukan. Naruto segera memutus mindscape dan menekan cakra Isobu. Setidaknya dia berusaha agar misi ini berakhir sukses, meski tidak keberatan jika ada perang baru antara Iwa dan Konoha.

"Aku Hatake Kakashi, ketua tim ini. Uzumaki Naruto, Inuzuka Shiba dan Odawara Yukino," kata Kakashi mengenalkan diri dengan nada paling ramah tapi tidak meninggalkan formalitas sama sekali.

"Han, ketua tim. Ini Kurotsuchi," perkenalan singkat dengan nada dingin dan terdengar bukan dari dia yang bicara.

"Apa kamu bisa menunjukkan gulungan yang sama, menandakan kalian tim yang diutus oleh Tsuchikage?" Kakashi mengeluarkan gulungan perjanjian dua negara dari pocket. Pria bernama Han mengambil sesuatu dari balik mantel dan sebuah gulungan yang sama seperti dipegang Kakashi kini ada di depan mata. Meski terlihat kedua tim santai, sebenarnya masing-masing sudah menyiapkan tindakan pencegahan jika salah satu berkhianat. Tim Konoha sudah membuat rencana cadangan, dimana skema terburuk adalah mereka kabur. Naruto mengawasi jika gadis bernama Kurotsuchi meski kelihatan tenang, matanya menatap bagai elang satu persatu ninja Konoha, khususnya Kakashi dan dirinya.

Gulungan itu berhasil bertukar tempat dan kedua Jounin kembali ke posisi mereka.

"Aku harap kedua desa kita bisa bekerja sama dengan pertukaran ini," kata Kakashi. "Hokage kami sangat terbuka lebar dengan segala diplomasi. Persekutuan antara Iwa dan Konoha akan menghasilkan ikatan solid yang kuat dan tentu saja, saling menguntungkan satu sama lain."

"Ya. Tsuchikage juga berpikir demikian. Dua desa ninja terkuat akan melahirkan banyak hal."

Lalu seakan aturan sudah dibuat sebelumnya. Masing-masing pergi meninggalkan titik pertemuan berbalik kembali menuju desa masing-masing. Tim Kakashi masih merasakan atmosfir penuh tekanan setelah beberapa saat. Begitu tiba di pusat desa, barulah keadaan kembali seperti semula.

"Itu saja?" Inuzuka Shiba. "Kupikir akan terjadi sesuatu."

"K-kalua terjadi pertempuran, perang lain akan timbul."

"Kalau itu aku sudah tahu Yukino."

Hatake tersenyum, "Nah setidaknya misi sederhana ini berakhir sederhana. Waktunya kita kembali ke Konoha."

.

"Han- sensei, menurut mu bocah berambut pirang dengan kumis itu ada hubungannya dengan Yellow flash?" tanya Kurotsuchi sambil melipat tangan di belakang kepala.

Han adalah laki-laki tenang yang tidak menyukai manusia. Dirinya adalah manusia, tapi dia adalah Jinchūriki, itu yang membuatnya berbeda. Awalnya dia pikir Roshi mengerti, tapi kera tua itu berpikir jika kita harus menjaga ikatan, sesuatu yang tidak masuk akal bagi Han. Di sampingnya cucu Onoki berkata tentang spekulasi jika bocah rambut pirang itu memiliki hubungan dengan yellow flash.

Han sendiri juga menaruh perhatian pada bocah itu.

Tidak salah lagi jika bocah pirang adalah Jinchūriki Kyuubi. Anak itu tampaknya belum mengontrol cakranya dengan baik sehingga perasaan bijuu yang gelap bisa dengan mudah dia rasakan. Tetapi ketika dia merasakan cakra lain yang juga bijuu. Dari ekornya itu Sanbi… meski kabur dan sebelum menghilang Han yakin dia sejenak merasakan keberadaan Sanbi dalam diri anak itu.

Apakah Konoha sudah lebih dulu menangkap Sanbi? Han tahu jika desa-desa sedang mencari berburu Sanbi seperti tikus, satu fakta lagi yang memberi alasan dia benci manusia. Tapi jika begitu, apakah desa itu tidak terlalu ceroboh menaruh dua bijuu dalam tubuh seorang anak-anak? Anak itu bernama Uzumaki Naruto... klan Uzumaki… Han cuma tahu sedikit informasi tentang klan yang dulu ditakuti sebagai master Fuinjutsu.

Tentu itu hanya firasat kecil karena cakra Sanbi yang begitu samar dan sangat tipis. Tapi kuda lumba-lumba dalam perutnya meronta, bahkan ketika dia berhadapan dengan Nibi dari Kumo, Gobi tidak pernah seheboh ini. Anak itu, ada sesuatu yang tidak aku suka darinya.

"Bagaimana Han sensei?"

Han dengan terampil menyembunyikan desahan napas. Dari sekian banyak manusia menjijikkan cucu Onoki masih bisa ditolerir. Itu bukan status gadis itu sebagai cucu kage, tapi sifat keras kepala dan kebodohan aneh yang sama sekali tidak memperdulikan status Han. Satu tingkat lebih baik tapi tidak menjadikan Han melihat gadis itu sesuatu yang penting.

"Meski mungkin dia ada hubungannya dengan Yellow flash, di cuma anak kecil. Kalaupun kamu ingin membuktikan sesuatu dengan anak itu, itu tidak akan merubah sejarah kalau Iwa dikalahkan telak oleh Yellow flash. Orang itu sudah mati membusuk."

Ada hal lain lagi yang membuat Han cukup betah dengan muridnya. Ketika sebagian ninja Iwa dan penduduk sipil, menaruh kebencian konyol akan masa lalu dan keras kepala menghadapi kenyataan, cucu Onoki cukup dewasa untuk berpikir netral. Memang masih ada beberapa ucapan dan tindakan yang terdorong emosi, tapi Kurotsuchi bisa bersikap yang diperlukan seorang ninja. Kontrol emosi.

Keduanya berjalan dalam pikiran masing-masing sebelum semenit kemudian Han merasakan cakra setingkat monster sedang menuju ke arah mereka. "Kurotsuchi mendekat!"

Gadis itu sudah banyak mendapat pelatihan lebih banyak dibanding anak seusianya dan tidak berpikir dua kali menuruti perintah senseinya. Han membentuk segel dengan cepat.

"Jouki Shouheki!"

Uap keluar dari tungku dan ketika semakin banyak yang keluar membentuk sebuah kubah solid. Kurotsuchi masih diliputi perasaan kaget, tapi suaranya tetap tegar. "Sensei,"

"Kita diserang."

"Ninja Konoha."

"Bukan, lebih buruk."

Sebuah gelombang air tekanan kuat menghajar kubah uap dengan ganas. Suara gesekan kedua jutsu tingkat tinggi menghasilkan ledakan yang tak terelakkan. Kurotsuchi harus melindungi kedua telinganya gara-gara itu. Han masih terus mempertahankan jutsunya sebelum cakra mengerikan itu lenyap barulah dia melepas perisai kubah.

Kedua sosok asing dengan juba hitam bercorak awan merah mendekat. Dua laki-laki dengan tinggi badan saling bertolak. Yang tinggi memiliki pedang yang di tengger di belakang punggung. Yang lain cukup muda, mungkin lima belas. Tapi nuansa dingin dan jahat keduanya bukan main-main.

"Itachi-san kurasa aku bisa mengurus mereka sendiri. Kali ini kamu bisa duduk saja seperti biasa." Ucap sosok pria lebih tinggi.

"Kau tadi nyaris membunuhnya Kisame. Leader tidak akan memberi kesempatan untuk kegagalan kali ini," jawab pria yang lebih muda dengan nada ketenangan paling dingin yang pernah Han rasakan.

Kurotsuchi langsung merengut ketika melihat lambang Konoha dari ninja berambut hitam. Sudah dia duga jika Konoha selalu bermain licik. Tapi keberadaan ninja Kiri di sebelahnya membuat gadis itu sedikit bertanya-tanya. Sebagai cucu Kage dia kadang menyelinap masuk ke kantor dan membaca dokumen kakeknya. Setahunya Konoha dan Kiri tidak punya hubungan politik. Bagaimana kedua ninja berbeda desa itu ada disini. Selain itu wajah berambut hitam tidak asing di matanya.

"Siapa kalian, Konoha tidak punya rekan Kiri… jadi kurasa kalian tidak ada hubungannya dengan tim yang tadi," tanya Han dengan tenang, mewaspadai segala tindakan dari musuh.

"Aku tidak tahu apa yang kamu maksudkan… tapi biarkan kami memperkenalkan diri, kami dari Akatsuki," jawab pria yang dipanggil Kisame oleh rekannya.

"Akatsuki? tidak pernah dengar."

"Sungguh? Sayang padahal Kage mu sering menjadi tamu kami. Well, itu tidak penting. Nah bagaimana kalau kamu ikut kami, Gobi? Kami janji tidak akan macam-macam dengan gadis kecil itu."

"Dan kenapa aku harus ikut dengan kalian?"

"Huh…. Aku memang tidak berbakat dialog seperti ini. Baiklah Gobi mari kita bermain-main sebentar oke?" ucap Kisame dengan nada geli yang membuat Han marah.

Kisame maju sambil melepaskan pedang di belakang punggungnya. Han meminta muridnya mundur di tempat lain dan menerjang maju. Kemampuan Han adalah Taijutsu yang diikuti kekuatan uap khusus miliknya, Kisame terlihat mengintimidasi tapi kecepatan Taijutsu Han merupakan sebuah tantangan. Kisame tahu kapan harus serius dan meski Gobi tidak semenarik buruannya Yonbi, pria baju besi merah ditakuti bukan tanpa alasan.

Kurotsuchi tahu dua ninja asing itu ada di tingkatan berbeda. Dia diajari untuk mengenali target dengan baik sebelum membuat keputusan. Menurut perintah sensei untuk berdiam diri adalah keputusan benar, tapi ada suara di dalam kepalanya bahwa kedua orang ini bisa mengalahkan Han sensei. Kurotsuchi tahu seberapa kuat seorang Jinchūriki, tapi pertempuran kali ini tidak demikian.

"Jika kamu macam-macam, aku tidak segan megambil tindakan."

Tanpa bisa dideteksi, tanpa suara dan begitu saja rekan pria berjubah ada di belakang. Dua pasang mata merah dengan corak aneh yang dingin dan tanpa belas kasih. Barulah kini Kurotsuchi ingat dengannya. Sebuah wajah di buku bingo. Sebuah wajah dengan detail yang mengatakan pemuda itu telah melakukan sebuah aksi paling tidak manusiawi. Membunuh klan…. Keluarganya sendiri….

Uchiha Itachi.

.

"Ada ledakan… kalian dengar itu?" tanya Shiba.

Tim Konoha baru menyelesaikan semua urusan Hotel dan segera meninggalkan desa dan kembali ke Konoha ketika indra pendengaran Shiba menangkap keganjilan dari arah duo Iwa kembali. Kakashi bisa mendengar suara yang dimaksud Shiba, meski tidak sekuat anak Inuzuka. Yukino menatap bengong, tapi tahu ada yang tidak beres ketika melihat wajah Shiba. Naruto sudah menatap kejauhan tepat saat Shiba mengatakan mendengar bunyi ledakan. Dia mengaktifkan sensorik dan merasakan dua cakra yang tidak dia ingin hadapi dalam waktu cepat sedang berurusan dengan duo Iwa.

"Itu berasal dari jalan yang dilalui Iwa…. Mungkinkah mereka dalam masalah?" tanya Naruto.

"Apa mereka berdua baik-baik saja," Yukino memandang khawatir.

"Apa urusannya dengan kita. Kalau mereka dalam masalah… itu urusan mereka sendiri," Shiba menutup sebelah mata dan kembali memeriksa perbekalan, tapi raut mukanya bicara sebaliknya.

Naruto sekilas melihat kedua rekannya lalu beranjak ke instruktur Jounin. Kakashi hanya diam, tapi bocah pirang tahu dia sedang berpikir.

"Iwa bisa menaruh kecurigaan jika tim mereka terkena masalah, meski bukan kita penyebab masalah itu. jika mereka mati… mungkin Iwa akan berpikir jika kitalah pelakunya. Bagaimana sensei?"

Kakashi setuju dengan pendapat Naruto. Meski mungkin terdengar bodoh, dia tahu sifat alami orang-orang Iwa. Mungkin Kage mereka berniat tulus untuk rekonsiliasi hubungan dengan Konoha, tapi apakah semua ninja disana sependapat dengan Onoki? Bahkan jika seandainya mayoritas ninja Iwa ingin berperang dengan Konoha, Kakashi tidak yakin Tsuchikage tidak menanggapinya dengan serius. Dalam ajaran ninja, apapun di luar misi bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan. Itu adalah aturan dasar dari hukum ninja. Sayangnya Kakashi dulu pernah menjadi sosok menjemukan dengan hukum itu lalu dua orang dari timnya di masa lalu mengajari Kakashi sesuatu yang lebih penting dari hukum dan kematian seorang gadis akhirnya benar-benar menyadari arti penting ninja sebenarnya. Obito…. Jika kamu jadi aku, apa yang harus kupilih?

"Sensei! Kamu tidak serius membantu Iwa bukan?" Shiba bertanya sedikit membentak. "Jujur saja Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Hokage mau menjalin hubungan dengan orang-orang itu. mereka jelas-jelas adalah musuh! Kamu lihat pria zirah merah itu? dia jelas-jelas tidak suka dengan kita.

Dengan manusia tepatnya, pikir Naruto yang tahu baik Jinchūriki Gobi. "Kita dalam misi Shiba, jaga emosimu."

"Aku tahu itu! tapi Naruto, mereka sudah membunuh banyak orang dari Inuzuka."

"Dan apakah itu akan berubah sekarang?" tanya Naruto. "Misi kita adalah menjamin gulungan berisi itikad baik Konoha dan Iwa tersampaikan. Artinya Kage masing-masing harus tahu itu. jadi memastikan gulungan itu selamat…. Kupikir itu bisa disebut bagian diri misi."

Shiba hendak membantah. Tapi tangan Kakashi menyentuh pundak remaja Inuzuka dan dengan wajah tersenyum, dia menenangkan muridnya. "Aku kehilangan dua orang rekanku dan semuanya disebabkan oleh Iwa. Aku tahu rasa bencimu, tapi ketahuilah, kebencian hanya akan membuat kehidupan jauh dari ketenangan. Kamu tidak perlu melupakan masa lalu, tapi buatlah itu menjadi acuan untuk memilih jalan yang lebih baik.

"Tim Kakashi! Aku nyatakan misi kita masih berlangsung dan pergi membantu tim Iwa."

Keempatnya bergerak dengan perasaan macam-macam. Tapi untuk Naruto… dia tidak peduli dengan hubungan desa. Di depan matanya ada bagian harta miliknya yang terancam, dan seperti seekor naga. Naruto benci orang yang mencuri harta bendanya.