Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
Mengandung unsur dewasa.
Lemon/lime bukan hal utama dalam fic ini, so jangan harap ada lemon/lime yang berlebihan,
Tidak di anjurkan untuk pembaca di bawah umur.
Jadilah pembaca yang bijak.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
~ Give me your blood ~
[ Chapter 10 : Perasaan yang kuat ]
.
.
.
Udaranya lebih dingin dari biasanya, menarik selimutku, tetap saja rasa dingin ini tidak menghilang. Membuka mataku. Rasa dingin ini berasal dari tubuh Sakura. Aku terus saja mendekapnya, sepertinya kami tertidur seperti ini sejak semalam. Bangun dari tempatku, menatap wajah dan tubuhnya. Semua luka yang berada di tubuhnya semalam telah menghilang. Tubuh vampire lebih cepat pulih dari pada tubuh manusia. Sakura masih tertidur nyenyak.
Aku sangat khawatir jika hal seperti semalam akan terjadi kembali. Apa aku melarangnya bekerja saja? Tapi Sakura pasti tidak akan mendengarkanku. Dia sangat senang bekerja, dia senang mengumpulkan uang untukku. Selalu mengatakan demi makanan enakku.
Semalam dia mengisap darahku cukup banyak, rasanya sedikit lemas. Aku masih menyimpan vitamin dan obat penambah darah darinya.
"Kau baik-baik saja?" Sakura tiba-tiba bangun.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu." Ucapku.
"Aku sudah sembuh." Ucapnya dan memperlihatkan lengannya sempat mengalami banyak luka.
Kembali berbaring dan memeluknya.
"Bagaimana aku harus menghilangkan rasa khawatir ini?" Ucapku. Aku tidak menemukan solusi yang tepat.
"Aku seorang vampire. Aku tidak akan mati dengan mudah, Sasuke." Ucapnya.
Walaupun ucapan itu yang terus di katakannya, aku sungguh tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya.
"Apa aku perlu menemanimu?" Tanyaku.
"Tidak. Jika kau bersamaku. Aku yang akan repot untuk kabur." Ucapnya.
Aku akan menjadi beban untuknya.
"Bergegaslah. Kau akan terlambat." Ucapnya.
Melonggarkan pelukan kami. menatap mata hijau zambrut yang terlihat indah itu. Aku tidak bosan untuk menatap wajah putih pucatnya. Tubuhnya bahkan begitu putih bak porselin.
"Beri aku kesempatan untuk hidup bersama seorang vampire." Ucapku
Sakura terkejut akan ucapanku.
"I-itu mustahil, Sasuke." Ucapnya.
"Apa yang mustahil? Sekarang ini kita sedang hidup bersama. Apa lagi masalahnya?"
"Aku tidak bisa." Ucapnya tanpa adanya alasan yang membuatku puas.
"Apa, apa kau pernah berada di situasi seperti ini?" Tanyaku.
Masih ada banyak hal yang belum aku ketahui dari Sakura.
Sakura terdiam. Dia tidak menjawabnya. Gadis ini semakin sulit untuk berbicara lebih jujur padaku. Setidaknya katakan sesuatu agar aku bisa tenang! Aku memikirkan cara yang berbeda.
"Beri aku satu kecupan setiap pertanyaanku benar." Ucapku. Sedikit konyol, tapi apa Sakura akan melakukannya?
Menatap gadis ini, tatapannya bahkan sulit terbaca. Dia masih menatapku dalam diam.
"Apa kau pernah berada di situasi seperti ini?" Aku mengulang kembali pertanyaanku.
Sakura bergerak, aku mendapat sebuah kecupan pada jidatku. Tandanya dia pernah berada di keadaan seperti ini, di mana ada manusia yang juga memiliki perasaan terhadapnya.
"Apa kalian bahagia?" Tanyaku.
Kembali sebuah kecupan di pipi kanan. Ini jelas-jelas membuatku sedikit risih.
"Lalu aku dan dia apa bedanya? Kenapa aku tidak bisa?"
"Ja-jaman sudah berubah, aku merasa sangat sulit sekarang." Ucap Sakura. Akhirnya Sakura berbicara.
"Jadi apa kau mencintaiku?" Tanyaku.
Sakura terdiam, dia bahkan menjawabnya cukup lama. Sedikit terkejut akan sebuah kecupan di bibirku.
Sungguh?
Apa dia juga mencintaiku?
Tapi kenapa dia tidak bisa mengatakannya?
Memeluknya erat.
"Terima kasih." Ucapku.
Akhirnya aku tahu dia memilki perasaan yang sama denganku.
"Aku akan berusaha, agar kesulitan itu segera menghilang." Ucapku.
Lagi-lagi tak ada jawaban, tapi pelukan Sakura mengerat.
"Sa-Sakura. Ka-kau akan mematahkan tulang punggungku." Panikku.
"Maaf!" Ucap Sakura, segera melonggarkan pelukannya.
Apa karena dia juga sangat senang?
Aku harap seperti itu.
.
.
[by:sasukefans_ama]
.
.
[ Normal Pov. ]
Pagi ini, Naruto dan Kiba sibuk menatap wajah Sasuke. Tatapannya kadang terkesan dingin, tapi hari ini dia sedikit berbeda, wajahnya berseri-seri.
"Apa Sasuke sedang salah makan?" Bisik Kiba pada Naruto.
"Apa mungkin dia bukan Sasuke?" Bisik Naruto pada Kiba.
"Apa kalian sengaja bisik-bisik dengan begitu keras?" Ucap Sasuke. Dia mendengar ucapan mereka berdua.
"Kau sangat aneh hari ini Sasuke." Ucap Naruto.
"Kalian yang aneh." Ucap Sasuke.
"Sepertinya ada yang sudah terjadi." Ucap Kiba, terlihat curiga.
"Di mana Neji?" Tanya Sasuke, mengalihkan pembicaraan kedua temannya yang tidak jelas ini.
"Neji hari ini ijin, ada urusan keluarga." Ucap Naruto.
"Uhm."
Tidak ada lagi pembahasan dari wajah aneh Sasuke. Kiba dan Naruto hanya curiga jika tatapan Sasuke sedikit berubah.
Setelah kegiatan sekolah berakhir.
Sasuke terburu-buru pulang. Ada hal yang sangat ingin di lakukannya.
"Sasuke. Bagaimana dengan belajar bersama?" Tanya Naruto.
"Nanti saja. Kita harus menunggu Neji." Ucap Sasuke dan kabur begitu saja.
Lagi-lagi kedua sahabatnya ini menatap bingung pada Sasuke.
Hari ini akan sedikit spesial untuknya.
"Sakura. Aku sudah pulang." Ucapnya.
"Selamat dat-hoaam….~ ang."
"Aku akan mengganti baju." Ucap Sasuke. Masuk ke dalam kamarnya dan sibuk mengganti pakaiannya.
Sementara Sakura. Membaringkan kepalanya di atas meja. Dia sungguh malas untuk keluar saat matahari hari masih ada. Pakaiannya pun sudah terlihat rapi.
"Kencan ya." Gumamnya.
Dia hanya ingin membuat Sasuke senang, walaupun harus mengorbankan tidur siangnya.
Tak lama kemudian. Sasuke telah selesai dan bergegas mengajaknya keluar. Sakura menatap malas akan matahari yang seakan menertawainya di atas.
"Aku benci siang hari. Aku benci padamu matahari!" Omelnya.
"Kau sudah berjanji akan pergi hari ini. Bukannya kau tidak ingin meninggalkan pekerjaanmu?" Ucap Sasuke. Lebih tepatnya tengah membujuk.
"I-ini demi dirimu." Gugup Sakura. Wajahnya sedikit merona.
"Pakai topi ini, setidaknya akan sedikit menghalangi panas matahari." Ucap Sasuke. Memakaikan topi pada Sakura.
Sakura hanya menghela napas.
Ini adalah kencan pertama mereka. Sasuke sangat ingin keluar di siang hari bersama Sakura. Gadis itu kadang mencari jalanan yang lebih teduh. Sasuke berencana mengajaknya ke sebuah bioskop di dalam mal. Hal itu akan lebih membuat Sakura tenang dan tidak perlu berhadapan dengan matahari langsung.
Selayaknya pasangan yang baru saja menjalin hubungan. Sasuke tak malu untuk sekedar mengandeng tangan pacarnya. Beberapa pasang mata wanita menatap ke arahnya, lalu mengarah pada gadis di sampingnya. Tidak ada yang bisa seenaknya mendekati pemuda itu. Sasuke seperti ingin memperlihatkan hubungan mereka secara terang-terangan.
Sakura menatap poster film yang akan di nonton mereka.
"Apa kau sengaja mengajakku menonton film vampire?" Tanya Sakura. Tatapannya terlihat sangat-sangat malas.
"Ini film bagus." Ucap Sasuke. Lebih tepatnya karena alurnya memiliki adegan action.
"Terserahlah." Pasrah Sakura.
Jam pemutaran untuk mereka sudah di buka. Mulai menempati kursi mereka. Sakura mulai menguap, menurutnya ini tepat yang cocok untuk tidur.
"Kau akan suka." Ucap Sasuke padanya.
"Uhm."
Sakura tidak berniat mengatakan akan menonton habis film ini. Lampu di dalam bioskop mulai di pandamkan, layar besar di hadapan mereka memperlihatkan awalan cerita yang cukup mengesankan, Sasuke fokus untuk menonton, kecuali gadis di sampingnya. Sakura tertidur pulas. Pemuda di sebelahnya menyadari tindakan gadisnya. Tidak ada niatnya untuk membangunkan Sakura. Membiarkan gadis itu tertidur, sedikit menarik kepalanya agar bersandar pada bahunya. AC di dalam cukup dingin, tapi Sasuke tidak peduli dan tetap menggenggam tangan Sakura yang juga memiliki suhu tubuh yang dingin.
Film berakhir.
"Apa kau akan terus tidur?" Bisik Sasuke.
Sakura terbangun akibat ucapan Sasuke. Wajah pemuda itu bahkan terlalu dekat dengan wajahnya.
"Seharusnya aku memberi ciuman seperti putri tidur." Goda Sasuke.
"Ja-jangan di sini!" Panik Sakura. Segera menjauhkan wajahnya dari Sasuke.
Kegiatan nonton cukup lama, Sasuke hanya ingin berjalan-jalan menghabiskan waktunya dengan Sakura sebelum gadis ini akan bekerja.
Tatapan Sasuke mengarah pada mesin game tinju. Melirik ke arah Sakura.
"Mau mencobanya?" Tanya Sasuke.
"Kau mau lihat kekuatanku?" Ucap Sakura. Mulai mengayungkan sedikit lengannya.
Sasuke mulai membeli beberapa koin, menunggu area sekitar menjadi sedikit sepi.
"Jangan sampai merusak mesinnya. Kita akan di penjarakan." Ucap Sasuke.
"Aku akan menggunakan 5% kekuatanku." Ucap Sakura.
Saat area mulai sepi. Sasuke bisa melihat gadis itu mengayungkan pukulannya dengan santai. Total pukulan yang tidak pernah di lihatnya. Bahkan saat Naruto dan Kiba mencoba memukul benda itu. Tiket yang berada di dalamnya keluar cukup banyak sesuai jumlah total pukulannya.
Hal ini sedikit menarik perhatian beberapa orang, Sakura sudah menghindar dan sedikit mendorong Sasuke lebih dekat ke arah mesin. Orang-orang jadi terfokus pada Sasuke yang mungkin saja memiliki kekuatan pemukul yang hebat.
Menukarkan semua tiket yang mereka dapat. Sasuke melihat boneka lucu yang mungkin bisa menjadi hadiah untuk Sakura. Walaupun nyatanya semua tiket itu karena pukulan Sakura.
"Yang itu!" Tunjuk Sakura. Dia menunjuk hadiah lain, paket kue yang terlihat enak.
"Kenapa memilih itu?" Ucap Sasuke, bingung.
"Untukmu."
"Aku benci makanan manis."
Sakura menatapnya dengan tatapan memohon.
"Ah, baiklah." Pasrah Sasuke. Ini hanya demi Sakura.
Jalan-jalan ini harus berakhir sebelum malam. Sakura akan bersiap ke tempat kerjanya.
Di pertengahan jalan. Langkah keduanya terhenti. Beberapa orang berjas putih menghalangi jalan keduanya. Sasuke bisa melihat lihat gelagat aneh dari Sakura. Gadis itu segera melepaskan genggaman tangan mereka dan mundur perlahan.
"A-aku tidak membuat kesalahan." Ucap Sakura.
.
.
TBC
.
.
updatee...~
di sini author membebaskan reader untuk membuat review suka-suka mereka. selama itu tidak menghina, menjatuhkan orang, mencari masalah, dan menggunakan bahasa kasar, jadi nggak apa- apa sih rajin-rajin review.
terima kasih untuk reader sekalian.
Sorry tak banyak menyampaikan apapun, semoga tetap terhibur saja hingga chapter sekarang. :)
.
SEE YOU NEXT CHAP!
