Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: Osamu x OC, berpotensi spoiler manga.

.

.

not another story about love
Ketigabelas: Di-
ship kakak

by Fei Mei

.


.

/'Kepada Rahasia,
Kaji?
'/

Osamu deg-degan parah. Satu sisi ia berharap dugaannya ini benar. Sisi lain, ia juga tidak ingin kalau Kaji adalah Rahasia. Entahlah, Osamu juga tidak mengerti. Padahal, jika keduanya adalah orang yang sama, itu menjawab perasaan Osamu yang beberapa bulan ini merasa bahwa Rahasia selalu ada di dekatnya saat di sekolah. Jelas saja dekat, karena Kaji si Rahasia ada bersamanya saat kegiatan klub, belum lagi mereka pulang bareng!

Dengan sabar Osamu menunggu. Hampir sepuluh menit dan masih belum ada respon. Entah maksudnya kebetulan saat ini Rahasia sedang tidak sempat membalas, atau mungkin balasannya terlalu panjang sehingga belum selesai mengetik, atau malah si Rahasia memang benar Kaji dan gadis itu sedang tidak tahu harus membalas apa.

Lalu denting notifikasinya terdengar. Osamu sangat berharap itu memang surel dari Rahasia.

Dan memang benar.

/'Dari Rahasia,
Halo Osamu
-san :)'/

Tunggu. Tunggu tunggu tunggu. Ini maksudnya apaan?!

Rahasia benaran Kaji? Atau bagaimana sih?

Osamu menggeleng. Dilihatnya jam pada layar ponsel, sudah jam sembilan malam. Seingatnya, rumah makan Kaji tutup jam setengah sepuluh. Aduh, ngebut pakai sepeda masih sempat, tidak, ya? Bodo' amat, deh.

Disambarnya jaket dan dicarinya kunci sepeda. Baru mau ambil kunci satu itu, Osamu menepuk dahi, baru ingat bahwa sepedanya masih diservis. Langsung dia mengobrak-abrik laci meja Atsumu.

'Biarin ah, pakai punya 'Tsumu dulu, mumpung orangnya enggak di sini!' pikir Osamu.

Keluar kamar, Osamu menyahut 'aku keluar sebentar!' entah maksudnya pada siapa. Dan sebelum terdengar balasannya, si Miya Bungsu membawa sepeda kakaknya keluar. Ia mengebut sebisanya, berharap bahwa sekalipun rumah makan Kaji sudah tidak terima tamu tapi ia masih boleh masuk.

Benar juga. Lampu rumah makan itu masih menyala begitu Osamu sampai. Masih ada dua sepeda terparkir disana, mungkin mereka hanya tunggu kedua tamu itu pulang untuk bisa benar-benar tutup. Segera Osamu memarkir sepedanya di deretan itu, lalu masuk ke dalam.

"Selamat malam! Maaf, kami sudah tidak terima tamu dan pesanan lagi!" sahut seorang karyawan.

"Ah, enggak, anu …" Osamu gugup seketika. "Saya mau cari Kaji." Lalu kepala Ayah Kaji, Ibu Kaji, dan Kakak Kaji menoleh padanya. Osamu salah tingkah. "M-maaf, saya Miya Osamu, dari SMA Inarizaki…"

Kakak Kaji langsung tersenyum lebar dan mengangguk. "Dari klub voli, kan?" Osamu mengangguk kaku. "Masuk aja, sini! Naik tangga, terus kamar dia pintunya paling deket teras!"

Masih dengan kaku, Osamu masuk dan melewati tempat yang ditunjuk Kakak Kaji. Ia mengangguk dan mengucapkan 'permisi' pelan pada orangtua Kaji. Osamu langsung menemukan tangga di balik dinding dapur, jadi ia naik disana. Tampaknya lantai dua bangunan itu memang baru berisi area rumah: ruang keluarga, kamar mandi, dan kamar tidur. Mungkin ruang tamu beserta ruang makan ada di bawah.

Ia melihat ada dua pintu dekat teras: satu sebelah kanan, satu sebelah kiri. Untungnya pintu sebelah kanan itu tergantung nama kecil gadis itu, jadi Osamu mengetuknya.

Tidak perlu menunggu lama, pintu itu dibuka dari dalam. Memang wajah Kaji. Gadis itu tampak terkejut melihatnya.

"'Samu—Osamu-san?" gumamnya

Osamu mengangguk. Ia berusaha menata perasaan hatinya saat ini. Seperti, bagaimana jika dia salah mengartikan balasan Rahasia tadi? Jika Kaji bukan gadis rahasianya, dia mau ngapain ke tempat ini?

Pakaian Kaji juga sama sekali tidak membantu. Mungkin karena hanya di kamar, Kaji mengenakan celana pendek, sehingga paha dan betis putihnya yang selama ini di sekolah ditutupi malah jadi terekspos jelas. Gadis itu tidak gemuk, tapi memang terutama paha dan betisnya cukup besar, jadinya karena dia agak pendek itu membuat orang menganggap Kaji gendut.

Aduh kacau, Osamu benar-benar harus menegaskan tujuannya kemari sekarang!

"S-Sori, aku ganggu malem-malem…" ucap Osamu akhirnya.

Kaji tersenyum kikuk. "Ada apa?"

"Mm, sebentar…"

Osamu meraih ponsel di sakunya, mengetik huruf 'A' dan dikirimnya ke nomor ponsel si Rahasia. Tepat setelah ia menekan tombol 'kirim', dering notifikasi bisa terdengar dari dalam kamar Kaji. Gadis itu tampaknya paham apa yang sedang Osamu lakukan, jadi ia tersenyum kecut sambil mengambil ponsel di meja. Ia kembali ke hadapan tamunya sambil memperlihatkan pesan yang baru saja Osamu kirim ke ponselnya.

Pemuda itu menelan ludah susah payah, karena memang di ponsel Kaji itulah, namanya disimpan sebagai 'Dia'.

Perlahan, Osamu bisa merasakan senyumnya mengembang. "Kaji, kamu … kamu rahasiaku?"

Gadis itu tersenyum kecil dan mengangkat bahu. Bukan menjawab dengan suara, ia mengetik sesuatu pada layar ponsel, lalu menunjukkannya pada Osamu.

/'Kepada Dia,
Menurutmu?
'/

Kaji menekan tombol 'kirim' di hadapan Osamu, dan ponsel pemuda itu bergetar. Buru-buru Osamu melihat layar gawainya sendiri, mendapati memang ia baru saja dapat pesan yang isinya sama dengan yang Kaji ketik, tapi di ponselnya ini atas nama 'Rahasia'.

Osamu tersenyum lebar dengan lega. Dengan erat ia memeluk Kaji, tak peduli betapa kagetnya gadis itu di dekapannya. Osamu tidak peduli, ia terus memeluk gadis itu dengan riang, toh Kaji juga tidak memberontak.

"'Samu—Osamu-san—"

"Enggak, sori, aku seneng banget," ujar Osamu yang masih memeluk gadis itu. "Aku seneng, ternyata sebenernya aku cuman suka sama satu cewek aja!"

"Ap—hah?" Kaji terdengar bingung.

Osamu pun melepas pelukannya, tapi ia tidak mau melepas tangan dari lengannya. "Aku pernah bilang bahwa aku tertarik pada dua cewek, kan? Ternyata … kalian adalah satu orang yang sama: kamu dan Rahasia."

Sedetik, dua detik, tiga detik, dan tampaknya Kaji baru paham maksudnya.

"Tunggu, jadi waktu itu, yang kamu maksud—"

"Iya, kamu dan Rahasia. Aku tertarik sama kalian." Lalu Osamu menghela lega. "Kalian orang yang sama, aku seneng banget!"

"Jadi … makanya tadi siang kamu tanya di pesan kalau aku suka kamu? Biar kamunya juga bisa milih?"

Osamu mengangguk. "Dan ternyata sebenernya aku gak perlu milih. Dari dulu aku udah punya gebetan dan sekarang baru sadar bahwa aku suka sama gebetanku."

Kaji menatapnya ragu. "Dari dulu?"

"Kaji …" Osamu menggenggam lembut tangan gadis itu. "Aku suka kamu, mungkin udah bertahun-tahun, tapi aku baru sadar sekarang. Aku selalu cari sosokmu dalam jarak pandangku, dari sejak SMP dan mungkin bahkan SD karena kita selalu satu sekolah. Waktu aku tahu kamu sering ke perpustakaan tiap akhir sepuluh menit jam istirahat siang, aku jadi sering kesana juga. Waktu kulihat kamu bakal makan di halaman belakang sekolah, aku makan disana juga, soalnya kamu yang menikmati makananmu tampak imut banget."

Pemuda itu bisa melihat wajah managernya merona mendengar pernyataannya. Tangannya tidak terasa dikoyakkan, jadi Osamu menggenggamnya dengan erat. Ia menunduk, agar bisa melihat wajah Kaji lebih dekat.

"Aku sering telepon untuk pesan makanan kesini tiap hari Minggu, karena aku tahu kalau biasanya kamulah yang menerima telepon di hari itu. Dan jika bukan harinya, aku masih tetap pesan, karena tahu ada kemungkinan bahwa kamulah yang mengantar ke rumahku karena dekat. Aku pengen ngeliat kamu. Aku pengen denger suaramu. Kaji, aku suka kamu."

Tangan Kaji begitu kaku. Wajahnya merah padam dan menolak bertatap muka dengan lawan bicaranya. Osamu tersenyum lembut, mengelus pelan tangan gadis itu dengan ibu jarinya.

"A-aku, aku gemuk—"

"—Enggak," potong Osamu. "Kamu gak pernah gemuk."

"Osamu-san—"

"Dan aku iri padamu, karena tiap hari bisa makan makanan yang enak buatan orangtua dan kakak laki-lakimu," gumam Osamu sambil tersenyum.

Mata Kaji agak terbelalak, mungkin karena tidak menyangka akan mendengar kalimat yang pernah Osamu ucapkan waktu mereka kecil. Tapi Kaji jadi terkekeh kecil, walau wajahnya masih bersemu merah.

Tangan kiri Osamu melepaskan diri dari tangan gadis itu. Kaji dibuatnya terkejut karena selanjut Osamu menyentuh lembut pipi managernya sambil tersenyum. "Mulai besok, gak usah bilang bahwa hadiah itu titipan lagi, ya?"

Kaji spontan tertawa mendengarnya. Dan tawa itu menular, karena Osamu jadi ikutan. Ketika tawa itu mulai reda, Osamu memutuskan untuk menembak si gadis. Daritadi itu ia hanya menyatakan perasaan, bukan nembak. Baru akan mengeluarkan suaranya, suara Kakak Kaji malah terdengar duluan.

.

.


.

.

"—Kalian kalau mau pacaran, gak usah di pintu gitu, kenapa?"

Kuputas bola mataku. Aku menoleh ke asal suara, melihat ke arah kakakku yang setengah menyengir sambil membawa minuman dengan nampan. Ia tampak senang karena berhasil 'menangkap' adegan adiknya dengan lawan jenis.

"Eh, seriusan, itu tamu kamu gak dipersilakan masuk, gitu? Kasian bener daritadi cuman di pintu," sahut kakak lagi dengan jahil.

Lalu ia menyuruh kami masuk kamarku dengan dagunya. Osamu dengan ragu menurut, apalagi karena Kakak ikut masuk juga. Kami bertiga duduk di lantai mengelilingi meja kecil di kamarku. Iya, kamarku punya semacam meja kopi, di kamar Kakak juga ada. Fungsinya adalah untuk menjamu teman-teman kami jika datang ke rumah, soalnya kami tidak punya ruang tamu dan hanya ada ruang keluarga yang dijadikan satu dengan ruang makan.

Kakak menaruh tampan di atas meja, menyodorkan minum pada Osamu. Iya, cuman Osamu, adiknya sendiri dibiarin kehausan.

"Jadi, daritadi asyik pegangan tangan di pintu, ngomongin apaan?" tanya Kakak iseng.

Kucubit pahanya. "Apaan, sih!" cicitku.

Dipukulnya pelan lenganku, tapi kemudian menoleh pada Osamu. "Tadi kamu bilang, namamu Osamu, kan?" Dengan kikuk pemuda itu mengangguk. "Udah tahu tentang rahasia adikku ini?"

Osamu mengernyit. Buru-buru kupukul keras lengan Kakak, tidak peduli bahwa ia meringis lagi.

"Aduuuh, dedek gemes tapi kasar banget!" cibir Kakak, kubalas dengan menjulurkan lidah. Kakak menoleh pada Osamu lagi. "Jangan mau sama dia, galak!"

"Iiiih kakak reseh! Aku sebel!" sahutku, langsung manyun dan membuang muka.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Osamu terkekeh. Ampun, ini malu-maluin banget, karena biasanya akulah yang terkekeh kalau melihat Kembar Miya berantem, tapi sekarang salah satu dari mereka malah menyaksikan aku sebel-sebelan dengan kakakku.

"Kalau rahasia tentang Kaji memberiku hadiah secara anonim, saya sudah tahu, beberapa menit yang lalu," tutur Osamu.

Hatiku menghangat, tapi mungkin rasanya wajahku jauh lebih hangat lagi gara-gara mengingat pelukan kami. Aku benar-benar tidak menyangka akan sentuhan lembutnya malam ini. Awalnya kupikir dia bakal kecewa karena penggemar rahasianya hanyalah seorang aku. Atau, minimal, ia akan bersikap biasa saja. Tetapi, melebihi itu semua, dia mendekapku erat.

"Oh, bagus, deh," kata Kakak. "Adikku ini, ya, walau memang sering sibuk bareng kami di pagi hari, masih aja sempet bikin bekal tambahan. Terus dia tuh, paling seneng kalau diminta pergi belanja ke supermarket pulang sekolah, kuduga biar bisa beli sesuatu buat kamu."

Aku makin memasang tampang ngambek. Tapi kurasakan tangan besar kakakku membelai kepalaku.

"Osamu, makasih udah jagain adikku sebisanya dari tukang bully, ya."

Langsung aku terbelalak dan menoleh pada Kakak. " … Kakak tahu?"

"Tahu, lah! Aku kakakmu, loh. Kamu tuh, rapih banget, mana pernah sembrono. Tahu-tahu pulang sekolah tasnya kebeset, lah. Atau bukumu hilang, lah. Atau tanganmu teriris, lah," tutur Kakak. "Kurasa Ayah dan Ibu juga tahu, cuman mereka nunggu kamu sendiri yang cerita aja, yang mana, gak bakal pernah."

Aku tersenyum kecut karena memang benar.

Lalu Kakak berdiri. "Kalian kalau masih mau ngobrol, ngobrol aja ya. Tapi jangan lama-lama, udah malem, besok masih sekolah." Ia membuka pintu kamarku, siap keluar, tapi menoleh pada kami lagi. "Oh iya, ini pesan dari Ayah: tutup pintu boleh, tapi jangan dikunci, siapa tahu Ayah mau ngecek."

Spontan kulempar bantal padanya.

.


.

Bersambung

.


.