Cagalli siap beraktivitas. Pagi ini dia tidak bangun kesiangan sehingga masih bisa menyantap sarapan bersama ibu dan ayahnya. Tak banyak percakapan di antara tiga orang itu, hanya ada suara denting alat makan yang saling beradu untuk mengisi keheningan.

Raut muka Cagalli memang tak menunjukkan semangat seperti biasanya. Ia terlihat murung. Sambil menyantap makan paginya, gadis itu bahkan terlihat melamun. Mungkin kejadian semalam masih membekas dan membebani pikirannya.

Ulen dan Via sama-sama menyadari perubahan sikap anaknya. Pasangan itu saling bertukar isyarat untuk mengajak bicara sosok pasif di antara mereka. Via-lah yang sepertinya lebih bisa diandalkan untuk menghibur anak itu.

"Cagalli, mau tambah?" Sang ibu berbasa-basi sambil melirik makan pagi anaknya yang mulai habis. Cagalli tak menyahut. Pandangannya kosong mengarah pada mangkuk yang ia pegang.

"Cagalli!"

"Ah!" Gadis itu seperti kembali ke dunia nyata. Ia celingak celinguk, menemukan kedua orang tuanya menatap cemas.

"Mau tambah?" Via menegur lembut. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum lemah.

"Sudah selesai," Cagalli meletakkan mangkuknya lalu beralih menenggak segelas teh. Dengan tergesa ia pun meninggalkan meja makan.

"Cagalli!"

Teguran Ulen tak mampu menghentikan langkah gadis itu. Cagalli keburu menaiki tangga menuju ke kamarnya. Mungkin ia hendak mempersiapkan perlengkapan sekolahnya sekaligus menghindari percakapan dengan kedua orang tuanya. Mereka yakin Cagalli sedang tidak ingin membicarakan dulu masalah Kira serta panti asuhan Archangel. Ia masih ingin menenangkan pikirannya sehingga mampu membuat keputusan yang paling tepat.

"Sebenarnya apakah keputusan kita sudah tepat?" Via berujar setelah beberapa menit keduanya terjebak dalam keheningan. Ulen hanya menghela nafas. Ia menghabiskan makan paginya lalu beralih menenggak segelas teh.

"Cagalli terlihat sangat tertekan,"

"Tak ada pilihan lagi, Via. Hanya Cagalli yang bisa meyakinkan Kira untuk bergabung dengan keluarga ini," Sahut Ulen. Via menerawang dengan wajah murung. Beberapa saat kemudian, wanita itu beralih membereskan seluruh peralatan kotor bekas makan pagi mereka. Ia menuju ke bak cuci sementara suaminya bersiap-siap untuk ke klinik.


Via mengantar Ulen sampai ke pintu gerbang. Tepat setelah kepergian pria itu, Sosok Kira datang menjemput Cagalli dengan sepeda. Via pun menyambut kemunculan Kira dengan senyum ramahnya. Kira juga menyapa wanita itu.

"Sebentar bibi panggilkan Cagalli," Ujar Via sambil berlalu memasuki rumah. Kira hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia beralih menatap ke arah jendela kamar gadis itu yang masih tertutup tirai. Cagalli tak menunjukkan dirinya. Mungkinkah ia masih bersiap-siap? Atau jangan-jangan ia malah baru bangun tidur.

Semua dugaan Kira ternyata salah besar. Gadis itu menunjukkan diri di pintu rumah lebih cepat dari dugaannya. Kira tertegun memperhatikan Cagalli yang tengah mengeluarkan sepeda dari halaman tanpa bicara sepatah kata apapun. Biasanya gadis itu amat cerewet saat bertemu dengan Kira. Dari situ, mulai timbul kejanggalan dalam benak Kira mengenai perubahan sikap Cagalli. Namun, segera ditepisnya. Mungkin saja Kira yang terlalu sensitif.

"Pagi, Caga," Kira tersenyum. Sosok yang sudah keluar dari gerbang rumah dengan sepedanya itu hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum lemah.

Keduanya pun memacu sepeda mereka lebih pelan dari biasanya. Karena jam masuk sekolah masih lama, mereka bisa lebih santai di perjalanan. Semilir angin pagi membuai Kira. Ia masih amat mengantuk karena tidur larut malam. Ditambah lagi sejak tadi Cagalli tak mengajak bicara.

"Kau lebih pagi dari biasanya," Komentar Kira. Gadis itu masih memasang wajah serius. Bahkan ia tak tersenyum saat merespon ucapan dari sahabat dekatnya.

"Hanya perasaanmu saja,"

"Begitu-kah?" Kira menaikkan alisnya. Ia memandang gadis itu, namun Cagalli langsung menunduk.

"Kau kenapa? Sakit?" Kira langsung to the point. Ia tak tahan juga menghadapi sikap dingin Cagalli walau hanya sesaat. Gadis itu langsung gugup.

"T-tidak,"

"Lalu? Wajahmu lesu sekali,"

"I-itu…" Cagalli mengatup. "Kurang tidur,"

"Hah?" Kira tentu tak percaya dengan alasan Cagalli. "Kalau kurang tidur kenapa bisa bangun pagi?"

"Ya bisa. Aku tak bisa tidur!" Cagalli bersikeras. Kira hanya manggut-manggut. lebih karena mengalah.

"Aku juga kurang tidur," Ungkap Kira. Tak lama kemudian, pemuda itu menguap lebar. Cagalli melirik sosok di sampingnya. Kira memang terlihat sangat mengantuk. Ia tak berhenti menguap seraya menggosok matanya. Gelagat Kira membuat Cagalli tak bisa menahan senyumnya.

"Memang kau habis ngapain?" Tanya Cagalli. Kira terdiam sesaat.

"Baca buku,"

"Wah, memang ada ujian?" Tanya gadis itu. Dalam sekejap, ia sudah kembali menjadi Cagalli yang biasa.

"Tidak kok. Hanya iseng membaca saja," Jawab Kira santai. Cagalli memicingkan mata curiga. Walau Kira suka sekali membaca, tak biasanya ia sampai-sampai merelakan waktu tidurnya. Bagi Kira, tidur teratur adalah salah satu kunci menjaga kebugaran tubuhnya. Itulah yang ia dapatkan dari ensiklopedia. Ada banyak juga manfaat lain sampai-sampai Cagalli tak bisa mengingatnya sama sekali.

"Memang membaca apa? Ensiklopedia? Tumben sekali," Cagalli terlihat heran. Kira-kira ensiklopedia apa yang membuat seorang Kira Yamato merelakan waktu tidur berharganya?

"Bukan, Bukan ensiklopedia," Kira menghentikan ucapannya. Sejak tadi jawaban Kira tampak setengah-setengah. Cagalli semakin penasaran kira-kira buku apa yang pemuda itu baca?

"Lalu?"

"Buku cerita,"

Bola mata Cagalli membulat. Ia termenung beberapa detik untuk menelaah jawaban Kira. Rasanya sulit dipercaya. Ia tahu Kira tak pernah tertarik membaca buku fiksi.

"Cerita apa?"

"Judulnya The Little Prince. Tentang seorang pilot dan pangeran luar angkasa," Kira menjawab polos tanpa menyadari kalau Cagalli heran setengah mati. Biasanya ia mendengar Kira menjelaskan perihal pengetahuan yang ia baca dari ensiklopedia atau buku pelajaran. Kali ini rasanya sangat janggal mendengar Kira mengucapkan sesuatu di luar nalarnya.

"Bagus juga sih. Awalnya aku tak tertarik. Tapi setelah kucoba membaca beberapa halaman, aku keterusan sampai aku menghabiskan satu buku dalam semalam,"

"Memang kau beli dari mana?" Cagalli bersuara pelan karena masih kaget.

"Hadiah. Lacus kemarin mengunjungi Archangel,"

"Hah?" Seruan gadis itu terdengar lebih keras. Kira tersentak, menemukan bola mata Cagalli membelalak.

"Lacus temanmu yang kaya raya itu?"

'Ya,"

"Untuk apa dia ke sana?" Cagalli bertanya agak sinis. Kira tetap terlihat lugu menghadapi kegusaran gadis itu.

"Kunjungan. Dia membawa hadiah untuk anak-anak panti. Sepertinya, setelah kita bertemu di pusat perbelanjaan, dia langsung ke sana,"

Setelah Kira mengakhiri penjelasannya, Cagalli hanya bergeming. Dalam sekejap, air muka gadis itu berubah ketus. Entah kenapa, Lacus Clyne adalah nama yang sensitif baginya. Cagalli langsung merasakan panas pada kupingnya saat ia mendengarkan sekelumit kisah mengenai putri sempurna itu dari seorang Kira Yamato.

"Begitu…" Cagalli hanya menggumam. Kira memperhatikannya heran saat menemukan raut wajah Cagalli kembali serius.

"Kira, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," Ungkap Cagalli sebelum Kira sempat bertanya. Kedua alis Kira bertaut. Ia tak sabar menunggu apa yang hendak gadis itu sampaikan. Cagalli memang terlihat mengulur waktu seolah enggan membicarakannya.

"Apa?"

"Minggu kau tak usah ke rumah," Ucap Cagalli.

"Kenapa?" Wajah Kira campuran antara heran sekaligus kecewa.

Cagalli lagi-lagi tak langsung menjawab. Dari situ, Kira mulai curiga kalau gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

"Ada apa? Kau bertengkar dengan ayahmu? Atau karena masalah lain?" Kira mencecar. Cagalli langsung menggeleng cepat.

"Tidak! Ayahku ada urusan," Cagalli beralasan. Ia masih belum mau memberitahu alasan sebenarnya karena masih ragu sekaligus enggan Ia berharap, sahabatnya percaya begitu saja tanpa banyak tanya lagi.

"Baiklah," Kira menyanggupi tanpa mendesak gadis itu. Cagalli hanya mengangguk. Tak terasa keduanya hampir mencapai gerbang sekolah. Topik obrolan mereka kali ini cukup banyak karena memang keduanya mengayuh sepeda dengan santai.

"Lusa acara ulang tahun Archangel," Ungkap Kira dengan wajah cerah. "Tak sabar untuk memberikan ibu hadiah dari kita. Ia pasti sangat senang. Anak-anak lain juga "

Ucapan Kira kali ini terasa lebih mengena di hati Cagalli. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia kembali teringat pada penjelasan kedua orang tuanya mengenai bibi Caridad dan Archangel. Semuanya terasa begitu menyakitkan. Cagalli seperti tak mampu berbuat apa-apa, hanya menunggu kata-kata ayahnya menjadi kenyataan.


"Baru ku lihat kau memakai perhiasan, Caga," Komentar Milly saat sosok Cagalli duduk menghadapinya. Cagalli memang tak bermaksud memamerkan perhiasan barunya itu. Ia celingak-celinguk sesaat lalu sadar kalau ucapan Milly itu tertuju untuk gelang barunya.

"Ah… ini…" Cagalli memutar-mutar pergelangan tangannya. Pipi gadis itu agak bersemu. Melihat gelagat itu, Milly langsung bisa menebak siapa sosok yang memberikan perhiasan ini.

"Dari Kira ya?" Milly tersenyum lebar. Cagalli hanya mengangguk pelan sambil menunduk tersipu.

"Wah! Selamat ya sudah jadian dengan Kira!" Ungkap Milly keras-keras sambil meraih kedua tangan Cagalli. Gadis itu pun kaget. Seketika, mereka berdua menjadi pusat perhatian satu kelas.

"Ssstt… Milly! Jangan menyebar gosip yang tidak-tidak!" Desis Cagalli sambil membekap mulut gadis itu. "Ini hanya gelang persahabatan,"

"Hah!?" Si biang gosip itu tampak kecewa mendengar konfirmasi gadis itu. Padahal, ia sudah yakin kalau keduanya akan berakhir sebagai pasangan. Tetapi, entah kenapa hubungan mereka malah tidak berkembang. Sejak dulu, Kira dan Cagalli hanya bertahan sebagai teman.

"Ku pikir kalian akan jadian loh…" Milly menghela nafas kecewa sambil bertopang dagu. Cagalli memanyunkan bibir. Ia ikut bertopang dagu. Dua sahabat itu kini malah saling diam.

"Ayolah, Caga…. Kenapa kau tak mencoba mengungkapkan perasaanmu?" Keluh Milly saat mendapati respon pasif gadis itu. "Kau menyukai Kira bukan?"

"Kami hanya teman," Cagalli masih berusaha mengelak dengan alasan yang sama. Sosok di hadapannya mulai jengah mendengar kata-kata itu. Teman? Hei! Milly itu adalah gadis yang sangat peka untuk menebak perasaan seseorang. Ia sangat yakin kalau Cagalli menyimpan perasaan khusus kepada Kira. Hanya saja, Kira terlalu-kalau ia mau memakai istilah kasar-bodoh untuk menyadari perasaan itu.

"Ayolah, Caga! Kau tak perlu menyembunyikan perasaanmu lagi! Aku sudah tahu! Bahkan Tolle yang tak lebih peka dariku juga sudah tahu! Sampai kapan kau mau memungkirinya!" Ungkap Milly gemas. Cagalli hanya diam sambil menyembunyikan sebagian wajahnya di balik meja.

"Caga…"

"Aku...tak bisa, Milly,"

"Kau pasti bisa!" Milly semakin gregetan dengan sikap tak tegas Cagalli. Entah kenapa kalau masalah asmara, gadis itu menjadi sosok yang amat lembek.

"Milly, sudah tak mungkin…" Cagalli agak menggumam. Milly yang hilang kesabaran langsung mencengkram pundak gadis itu.

"Apanya yang tak mungkin? Kau dan Kira sudah akrab. Tak perlu pendekatan lagi! Kau hanya tinggal bilang saja perasaanmu itu!"

"Bukan masalah bilang atau tidaknya! Masalahnya..." Cagalli langsung mengerem ucapannya saat ia hampir saja menyinggung hal mengenai mereka yang akan menjadi saudara. Cagalli masih ingin merahasiakannya dari siapapun, termasuk teman wanita terdekatnya itu.

"Masalahnya?" Milly melotot sambil berkacak pinggang. Cagalli menghindari kontak mata.

"T-tidak…" Milly menaikkan sebelah alisnya, curiga. Ketara sekali kalau Cagalli tengah menyembunyikan sesuatu.

"Apa masalahnya?" Desak Milly sambil memicingkan matanya. Melihat sikap tegas itu, Cagalli malah semakin bungkam. Ia menggeleng cepat. Cengiran gadis itu menandakan kalau ia tak ingin membahasnya lebih lanjut. Itu adalah rahasia besar.

Bel masuk menjadi penyelamat Cagalli. Gadis itu mendesah lega akhirnya bisa lepas dari intimidasi seorang Milliaria Haww. Tapi, Cagalli tetap yakin kalau temannya itu akan tetap mendesaknya, atau paling tidak ia akan mencari tahu sendiri. Seorang Milly tak akan puas hanya dengan mendengar kata 'tidak', apalagi itu merupakan sebuah masalah yang membuat sahabatnya bersedih.


A/N: Makasih readers udah baca sampai chapter ini. Makasih juga buat komen2nya. Maaf ya akhir2 ini updatenya super lambat karena kesibukan. Tapi, jujur, komen2 dari kalian udh menjadi penyemangat nih untuk author melanjutkan cerita. Terima kasih sekali lagi, semoga kalian menikmati chapter demi chapter yang gaje ini, sambil menerka2 kira2 apakah Cagalli dan Kira di fanfic ini bakal Canon... Ahahaha! Let's see~