"Ok, tenang Naruto kendalikan dirimu,ayo buka dalam hitungan 1..

"2...

"3...

"BRAAAAAKKKKK..."

"JANGAN BERGERAK!"

PEACEKEEPERFORCE by Leopard 2RI

.

.

.

Naruto membuka paksa pintu lemari besar itu dengan satu tangan- sementara tangannya yang satu lagi tetap setia menggenggam Pistol M9 miliknya. ia sudah membidikkan ujung laras Pistol itu ke dalam Lemari. sementara jari telunjuknya sudah di picu. siap ditembakkan sesuai keinginan pemilik jari tersebut.

Namun nihil, tak ada seorang bahkan hewan sekalipun yang ada di dalam lemari besar itu, tak sesuai perkiraan awal Naruto. padahal lemari itu tampak seperti bergerak sendiri seakan akan ada orang yang bersembunyi di dalamnya. Naruto menghembuskan nafasnya pelan. mungkin memang hanya perasaannya saja. tapi dimana Hinata? bukankah ada suara teriakan perempuan dari dalam Gereja tadi? ia yakin 100% bahwa suara teriakan yang tadi ia dengar berasal dari gadis berambut indigo itu.

"Brengsek, dimana Hinata!?"

Naruto kembali menyusuri ruang tengah, tempat dimana ia pertama kali menggeledah seisi Gereja untuk mencari tahu apa yang terjadi. sudah 2 kali ia menyusuri ruangan itu namun tidak ada hal atau sesuatu yang aneh disini. dan yang paling penting ia belum menemukan Hinata. satu satunya tempat yang tersisa untuk diselidiki adalah di lantai 2 Gereja. namun ia belum pernah kesana dan setahunya lantai 2 digunakan sebagai tempat tinggal bagi para Suster dan pelayan Gereja berjenis kelamin perempuan. bagi Naruto, tak etis rasanya bila ia menggeledah kamar dan ruangan kaum Hawa itu. seumur hidup ia belum pernah menggeledah kamar seorang gadis dan wanita selibat, tentu hal itu membuat Naruto sempat ragu.

"Peduli setan, nyawa Hinata lebih penting!" ucap Naruto memantapkan hatinya sendiri yang sempat bimbang.

Dengan pelan tapi pasti ia melangkahkan kakinya menyusuri tangga menuju lantai 2 Gereja tersebut. matanya selalu awas menelusuri setiap jengkal ruangan di Gereja itu dengan pistol yang selalu terbidik dan mengarah ke depan. walaupun terlihat berlebihan dan lebay namun Naruto tentu harus berpikir taktis, karena yang pertama- ia sendirian, dan bila ia memang terpaksa harus bertarung maka ia harus mencari posisi dan kesempatan menembak yang terbaik. apalagi ia hanya menggenggam sepucuk pistol kaliber 9mm dengan 15 butir amunisi di magazine nya sekarang. dan ia hanya membawa 5 magazine. tentu setiap tembakan akan sangat berharga baginya. sedangkan menurut prediksi Naruto, musuh yang akan ia hadapi minimal berjumlah minimal 4 sampai 10 orang dengan senapan otomatis AK-47 dan 1 senapan mesin ringan RPD juga granat dan ratusan sampai ribuan amunisi. lebih dari cukup untuk melawan seorang anggota Ranger AS yang hanya bersenjatakan pistol bukan?

Entah karena efek tegang atau karena tangga menuju lantai 2 pendek, tiba tiba Naruto sudah sampai di ujung lorong yang menghubungkan tangga dengan ruangan yang ada di lantai 2 tersebut.

"Jadi seperti ini lantai 2..."

Perhatian Naruto tertuju kepada lorong yang berisi beberapa kamar. perkiraannya ada mungkin 8-10 kamar yang letaknya berjejer saling berhadapan di lorong itu. karena ia tidak tahu di kamar yang mana Hinata berada maka mau tidak mau Naruto harus memeriksa isi kamar tersebut satu persatu. sebuah hal merepotkan yang harus ia lakukan.

Cih, lama lama ia terdengar seperti Shikamaru saja.

Kamar pertama yang Naruto periksa adalah kamar yang berada di samping kanan dekat tangga yang menghubungkan lantai pertama dan lantai kedua. ia memutar kenop pintu, memeriksa apakah pintu kamar tersebut dikunci. namun pintu terbuka, tidak dikunci rupanya.

"Bagus, tidak dikunci!"

Naruto langsung masuk ke dalam kamar tersebut dengan langkah sunyi senyap. pistolnya ia bidikkan ke arah yang ia curigai sebagi tempat persembunyian musuh. sudah 15 menit ia geledah seiisi kamar itu namun sekali lagi ia harus menerima kenyataan bahwa tidak ada musuh di ruangan itu.

"Hhhh.. tidak ada, mungkin di ruangan lain" ucap Naruto berusaha menghibur dirinya sendiri.

Naruto melanjutkan perjalanannya menyusuri lorong lantai 2. setiap kamar yang ia lewati tak lupa ia periksa. kalau dihitung hitung sudah ada 5 kamar yang ia periksa namun ia tetap tak menemukan Hinata maupun musuh.

"Kamar terakhir..."

Naruto menatap sebuah pintu kamar terakhir di lorong sekaligus menjadi kamar terakhir yang harus ia periksa di lantai 2. rasa tegang menyelimuti tubuh Naruto. karena kamar ini berbeda dari kamar yang tadi ia periksa. kamar ini terlihat lebih luas, pintu kamarnya juga sedikit terbuka, membuat siapa saja bisa mengintip isi kamar dari celah pintu yang terbuka itu. dan hal yang paling membuat Naruto tegang adalah plang kayu yang terpasang di pintu kamar tersebut tertulis...

'Hinata Hyuuga/Nona Hinata'

Tak salah lagi, ini kamar Hinata!

Dengan segera Naruto mengenggam kenop pintu kamar, mendorongnya perlahan tapi pasti. kepalanya ia julurkan ke dalam kamar. mengecek apakah ada seseorang di dalam kamar tersebut.

"Kosong"

Melihat situasi yang aman banginya membuat Naruto memutuskan untuk menerobos masuk ke dalam kamar Hinata. dengan perlahan dan tanpa suara ia menyusuri bagian dalam kamar tersebut. kamar berdinding lavender itu terlihat sangat rapi dibanding kamr lain, bahkan kamar Naruto di Seattle saja tidak serapi ini, maklum pemuda bujangan. Kushina sendiri pun sudah malas membersihkan kamar putra semata wayangnya itu.

"Rapinya kamar ini... Hinata pasti orang yang benar benar rajin" gumam Naruto pelan.

"Mungkin ibu pun akan terkejut dan iri kalau tahu ada kamar yang rapih dan bersihnya mengalahkan kerapihan kebersihan rumahnya sendiri" lanjut Naruto sambil berdecak kagum sambil terus melihat kerapihan sekeliling kamar.

Karena keasyikan melihat sekeliling kamar membuat Naruto tidak sadar bahwa ada untaian kabel yang tersambung dengan colokan listrik di depannya. karena letak sambungan kabel yang agak tinggi membuat kaki Naruto tersangkut di antara kabel saat tengah melangkah tersebut dan membuat ia...

'Bruuukkkk'

...terjerembab ke kasur

"Brengsek!" maki pemuda berambut kuning tersebut.

Dengan kesal ia menyingkirkan beberapa lembar baju yang ia timpa diatas kasur. perhatiannya tertuju kembali ke sekeliling kamar Hinata. kamar itu lumayan besar dengan kamar mandi di dalam. di dindingnya tertempel puluhan pigura. Naruto mendekati dinding untuk melihat foto foto di dalam Figura. ada belasan figura dengan foto foto di dalamnya yang tertempel disana. hampir semuanya terdapat Hinata disana.

"Hoho, lulusan Universitas rupanya" ucap Naruto melihat foto Hinata yang tengah mengenakan jaket almamater Perkuliahan sambil membawa buku buku yang kelihatannya cukup tebal. rambut Hinata masih cukup pendek tidak sepanjang sekarang. Hinata tidak sendirian ia bersama beberapa teman laki laki dan perempuannya dalam satu frame. tampak akrab sekali.

Pandangan Naruto beralih ke foto lain, foto itu adalah foto seorang anak kecil, yang Naruto tebak itu adalah foto sang pemilik kamar tempat ia berpijak saat ini. Hinata kecil dengan rambut pendek sebahu dengan poni dan bando hitam tampak mengenakan Yukata, ditangannya terdapat permen kapas besar yang ukurannya melebihi kepala Hinata sendiri- membuat Naruto terkekeh melihat ekspresi lucu Hinata kecil yang tampak kesulitan memegang permen kapas itu.

"Hehe" tanpa sadar Naruto tertawa kecil.

"Lucu ya?"

"Ya lu-" belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Naruto segera membalikkan badannya. Pistol yang dari tadi ia genggam ia arahkan ke depan dengan picu yang sudah ia tempel di jari telunjuk.

"Astaga Naruto-kun, ini aku, jangan arahkan pistolmu ke aku!" jerit Hinata ketika Naruto menodongkan pistol miliknya ke kepala Hinata.

Orang yang dicari cari akhirnya ketemu. Hinata, orang yang bertanya pada Naruto saat ia mengomentari foto Hinata kecil yang terpasang di dinding.

Naruto menurunkan pistolnya perlahan ke bawah. rasa kagetnya berangsur menurun saat ia menyadari Yang ia todong adalah Hinata, benar benar nyaris saja selongsong peluru dari pistolnya menancap di dahi gadis berambut Indigo itu.

"Kukira siapa" katanya pendek " kau mengagetkanku Hinata!"

"Habisnya, kau masuk ke kamar orang tidak permisi, mengetuk pun tidak!" ujar Hinata kesal.

Ya, siapa yang tidak kesal ketika orang asing masuk ke kamarmu tanpa permisi sambil membawa senjata, apalagi ia seorang laki laki dan kau seorang Perempuan. membayangkan bila yang masuk ke kamarnya bukan Naruto membuat Hinata sedikit bergidik ngeri.

"Aku sudah mengetuk, tapi tidak ada yang menjawab. aku sempat ingin pergi sebelum mendengar teriakanmu dari dalam Gereja"

"Teriakan?" tanya Hinata heran.

"Iya, mangkanya aku langsung masuk mencarimu. aku takut terjadi apa apa di dalam" jawab Naruto

"Oalah, hahahahahahahaha" tawa Hinata pecah tiba tiba setelah mendengar jawaban Naruto. gadis itu tertawa terpingkala pingkal sambil sesekali memegangi perutnya. meninggalkan Naruto dengan seribu pertanyaan di kepalanya, mencoba menerka nerka penyebab Hinata tertawa mendengar jawabannya.

"ahahahahaha- kau, kau- ahahahahahahaha"

"Oi, apa yang lucu? kau pikir yang kukatakan itu guyonan, HAH!?" hardik Naruto, sedikit tersinggung dengan tawa Hinata.

"Bu-bukan, ahahahahahaha" Hinata masih berusaha mengendalikan tawanya. " Itu bukan teriakanku Naruto, ahahahahaha"

Eh?

"Lalu, itu teriakan siapa?" tanya Naruto

"Aku nonton film"

"Nonton apa?"

"Nonton Film" dengan polosnya Hinata menjawab.

Naruto menghembuskan nafas berat, telapak tangannya secara otomatis mengusap dada, jengkel dan kesal setelah tahu teriakan tadi bukannya teriakan Hinata, melainkan berasal dari Film.

Motherfucker

"Kau tadi bilang apa Naruto-kun?"

"Tidak" balas Naruto datar. "Aku tidak bilang apa apa"

.

.

.

.

Naruto menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi dalam dalam. Pistol miliknya kembali ia sarungkan di sarung pistolnya. kini ia berada di Ruang tengah Gereja tempat yang juga berfungsi sebagai ruang tamu untuk pengunjung luar seperti dirinya. di depan Naruto terdapat Hinata yang tengah duduk bersebrangan. ia sedang menata snack dan Teh yang baru saja ia bawa dari Dapur untuk sang tamu.

"Diminum dulu Teh nya Naruto-kun"

"Iya" balas Naruto.

Naruto mengangkat cangkir berisi teh itu perlahan dan menempatkan ujung cangkir itu di bibirnya. bau harum khas daun Teh langsung menguar memasuki indra penciumannya. Naruto tidak tahu apakah teh ini Teh kemasan atau bukan tapi yang jelas wanginya harum sekali.

"Aahhhh!"

Walaupun sangat panas...

"Hihihihi, tiup dulu sebelum diminum, panas tau" tegur Hinata sedikit mengejek.

"Telat kau ngomongnya!" balas Naruto sewot, ia meniup Teh itu perlahan sebelum akhirnya meminumnnya. rasa Manis dari Teh tersebut langsung terasa begitu melewati lidah dan terasa hangat begitu masuk ke tenggorokan. Manisnya pas dan terasa sedikit pahit, mustahil rasanya ada Teh Instant seenak ini di Dunia.

"Menikmati banget sihh, emang seenak itu ya rasa Teh ku?"

"Biasa saja" ucap Naruto gengsi. ia tidak mau terlihat lemah di depan gadis asal Prefektur Kanagawa itu setelah berbagai kejadian memalukan yang ia alami tadi.

Hinata hanya tersenyum tipis, ia ikut mengambil cangkir teh miliknya dan menempatkan ujung cangkir itu di depan bibirnya, ia lalu meniup Teh nya secara perlahan dan anggun sambil memutar mutar cangkir miliknya itu searah jarum jam secara perlahan juga, terlihat sangat Anggun bak bangsawan Eropa jaman Abad Pertengahan.

Secara tidak sadar Naruto memperhatikan setiap langkah Hinata saat hendak meminum secangkir teh miliknya. Naruto seperti melihat seorang Gadis bangsawan yang tengah meminum Teh seharga ribuan dollar.

"Kenapa tidak mengajak Kiba-san?"

"Eh?" tanya Naruto bingung

Hinata menjauhkan mulut cangkir teh dari bibirnya. "Tumben Kiba-san tidak diajak, ketika pertama kali kau datang kesini Kiba-san datang bersamamu, ketika di desa Pichev Kiba-san juga bersamamu dan Pasukan PBB itu, kenapa sekarang tidak kau ajak?" ucapnya

"Dia sedang mengatur Pasukan di Markas" jawab Naruto pendek.

Hinata hanya menganggukkan kepala sebagai balasan atas jawaban Naruto.

Hening lagi...

"Dia itu siapamu?"

Naruto mengernyitkan dahinya setelah mendengar pertanyaan mendadak dari gadis berambut Indigo itu.

"Teman" balas Naruto, "Dia juga anak buahku"

Hinata kembali mengangguk.

Hening lagi...

Naruto menyesap Teh nya lagi. ekspresinya menunjukkan ekspresi kenikmatan walau samar. berusaha menikmati setetes demi setetes cairan Herbal berwarna kecoklatan itu.

"Apa kau dan dia ada hubungan khusus?"

UHUUUKKKK

Naruto menyemburkan sedikit cairan teh yang ia baru saja minum ke lantai. Shock, tentu saja shock! bagaimana bisa Hinata mengira ia dan Kiba punya hubungan yang awiwiououousleketep!? demi Yesus anak Allah sebenarnya bagaimana sih dirinya di mata perempuan beriris lavender itu?

"Kenapa kau tanya begitu!?"

"Habis kalian keliatan dekat sekali, dan kalian kan dari Amerika. negara kebebasan, jadii..."

"Dengar Hinata" ucap Naruto dengan nada sedikit tinggi. " Kiba itu temanku sekaligus anak buahku dan wakil komandan kompi yang ku pimpin, jadi wajar aku dan dia selalu bersama, paham?"

Hinata hanya mengangguk pelan dengan sedikit canggung.

Hening kembali...

Naruto menghela nafasnya, ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, sudah jam 11 siang. sore ini dia harus mengikuti rapat koordinasi komando bersama unit PBB AS dengan unit PBB Italia dan perwakilan Tentara Nasional Ukraina. sayang sekali bila waktu yang tinggal sebentar ini terbuang sia sia dalam keheningan.

Ia harus berbuat sesuatu...

"Ah, apakah kau mau pu-

"Hinata, kau mau ikut aku sebentar?"

Hinata sedikit terkejut melihat Naruto yang tiba tiba berdiri dari duduknya dan bertanya kepadanya. tangannya menggenggam kunci Humvee yang sedari tadi ia kantongi. seolah siap mengajak Hinata pergi.

"Ke-kemana..?"

"Well, keliling kota, aku ingin melihat lihat rupa kota Donestk dari dekat. kami Prajurit tidak diperbolehkan mengelilingi Kota secara berkelompok agar idak memancing isu negatif dari penduduk dan Milisi lokal" balas Naruto sembari menyelesaikan seruputan terakhir secangkir teh buatan Hinata.

"Aku ingin mengajakmu karena aku masih awam soal seluk beluk kota ini. toh aku butuh alibi agar bisa memasuki kota sebagai orang biasa, bukan prajurit. kau bisa ikut kan?"

"Tapi..."

Hinata tampak ragu

"...Tapi aku harus menjaga Gereja... bagaimana bila Pastor Vladimir, Suster Anna dan anak anak kembali saat aku tidak ada disini? mereka pasti akan khawatir. apalagi Suster Anna, dia pasti akan mencemaskanku"

Naruto tersenyum tipis, Hinata benar benar seorang gadis yang pengertian. dia masih memikirkan orang lain walau dia sendirian disini, di zona konflik yang bisa saja merenggut nyawa gadis itu kapan saja. namun bukan Naruto namanya kalau tidak pantang menyerah.

"Jadi kau tidak bisa ikut?" tanya Naruto

"Tidak, aku.."

"Apa kau bisa membayangkan apa yang bakal terjadi pada orang asing sepertiku di kota penuh milisi itu tanpa arah yang jelas?"

Hinata bergeming, matanya menatap Naruto dengan ekspresi khawatir dan binggung, mencoba mencerna pertanyaan yang Naruto tujukan padanya.

"A-aku tidak mengerti..."

"Bagaimana bila para Milisi itu mengetahui aku adalah prajurit AS?"

"..."

"Lalu para Milisi itu akan mengamuk bila tahu ada prajurit asing di wilayah mereka dan berusaha memburuku hidup atau mati"

"..."

"Masih untung jika aku bisa kabur, bagaimana bila aku tertangkap hidup hidup?"

Hinata masih diam walau sedikit tersentak ketika mendengar ucapan Naruto barusan.

"Setelah itu mereka akan memukuliku sampai mati, yah walaupun lebih baik aku dibunuh langsung saja sih agar tidak terlalu menderita"

Hinata masih bergeming walau mulai tidak nyaman.

"Tapi bagaimana jika mereka menyiksaku?"

Hinata mulai gelisah.

"Bagaimana bila mereka menguliti tubuhku?"

Hinata bergidik ngeri.

"Lalu kepalaku dipenggal dan dikirim ke Amerika, lalu setelah itu...

"Cukup...!" sambar Hinata

"Baik aku akan ikut menemanimu!" ucap Hinata, tidak kuat mendengar lanjutan perkataan Naruto.

Naruto tersenyum lebar, tidak salah memang ia berguru pada kakek Jiraiya sang penakluk 1000 wanita di Seattle. dengan begini ia bisa mengajak Hinata jalan jalan walau hanya sebentar, lumayanlah daripada tidak sama sekali.

"Baik kutunggu di mobil ya, Hinata!"

Naruto berlari ke arah pintu keluar Gereja menuju ke depan untuk menyiapkan Humvee. sementara itu Hinata hanya memandang Naruto. ia lalu mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan berat. hhhhhhhh semoga Hinata tidak salah mengambil keputusan untuk menemani pemuda beambut pirang itu.

"Naruto..." ucap Hinata dalam hati, namun ia segera mengenyahkan pikirannya itu dan segera bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian dan berdandan sedikit.

Seperti kencan saja...

Eh..?

Humvee yang dikendarai Naruto itu bergerak melalui jalan raya utama menuju kota Donestk dengan kecepatan sedang. Rantis buatan Amerika Serikat itu dengan lincah melewati kontur jalan raya yang mulai rusak dan berlubang karena ditembus peluru artileri. sesekali Rantis berwarna Hijau dengan kamuflase corak hutan pinus itu bergerak meliak liuk untuk menghindari lubang atau serpihan bangkai kendaraan yang tercecer di sepanjang jalan atau beberapa mobil yang tengah lalu lalang disana, saling berkejar kejaran menuju kota terbesar di Timur negara Ukraina tersebut.

Berbeda dengan kondisi di luar yang cukup ramai dengan mobil atau bangkai kendaraan yang tercecer di jalan, di dalam kabin mobil itu tampak hening walau ada 2 insan manusia berlawan jenis yang duduk bersebelahan di bangku paling depan. mereka hanya diam tidak saling berbicara semenjak mereka berangkat. hanya ada suara mesin humvee yang terdengar halus dari luar dan suara perseneling gigi yang Naruto pindahkan sesuai kecepatan kendaraan.

Naruto memegang kemudi dengan bosan, keheningan ini membuatnya bosan sekaligus tidak nyaman. ia melirik ke arah bangku penumpang di sebelahnya alias ke arah Hinata yang sedari tadi cuek saja padanya. ia terlihat sibuk membaca buku novel yang ia bawa dari Gereja. ia sudah membaca buku itu selama 1 jam sejak mereka berangkat dan baru menyelesaikan seperempat isi halaman buku itu. benar benar luar biasa.

"Hei Hinata..." sapa Naruto memecah kesunyian dalam kabin mobil.

"Hm..?" Hinata menengok ke arah Naruto. sembari tangannya melepas penutup kepala Hoodie ungu yang ia kenakan.

"Apa masih jauh?"

"Apanya?"

"Kota Donestk" jawab Naruto

"Bukankah kau dari tadi melihat Google Map disini? sudah lengkap tertera jarak dan pekiraan waktu sampai lho" balas Hinata sembari menunjuk layar digital di tengah Dashboard mobil yang menampilkan panduan GPS menuju kota Donestk.

Oh iya, bodohnya aku! kan dari tadi pakai GPS! kutuk Naruto dalam hati atas kebodohannya tadi

"Hahaha aku hanya sekedar memastikan apa arah jalan ini benar. bisa saja GPS ini salah kan?" Naruto berusaha berkelit.

"Benar kok, lanjut jalan sesuai Map saja" kata Hinata

"Oke"

Hening lagi...

"Kau kelihatannya sibuk sekali, sedang baca buku apasih? semenarik itukah?"

Nah kan, ada bahan obrolan lagi! sekarang soal buku. kalau buku pasti Naruto bisa men-

"Ini buku tentang kapabilitas Negara Teokrasi dalam mengelola sistem ekonomi Sosialisme, Naruto pernah baca?"

Lupakan, lupakan soal buku itu...

Naruto menghela napas, mungkin Hinata masih belum mood ngobrol dengannya.

Humvee yang mereka kendarai sudah hampir memasuki pos pemeriksaan Tentara Nasional Ukraina. pos ini harus mereka lalui untuk masuk ke dalam kota Donestk yang dikuasai milisi milisi pro Kemerdekaan. Pos itu nampak dijaga ketat oleh puluhan Prajurit bersenjata lengkap dan beberapa panser dengan senapan mesin di samping kiri dan kanan pos.

Naruto melepaskan sabuknya dan memposisikan mobilnya di barisan tengah pos pemeriksaan. pemeriksaan biasanya memakan waktu 2 – 3 menit per mobil atau kendaraaan. jadi ia bisa sedikit merenggangkan ototnya yang mulai kaku setelah mengemudi seharian.

"Naruto..."

"Eh, ya ada apa Hinata?" Naruto sedikit terkejut Hinata memanggilnya.

"Kenapa kau tidak lewati saja pos pemeriksaan itu?"

"Kita kan masih mengantri, toh masih ada 3 mobil di depan" jawabnya

"Bukan, ish, maksutku..." balas Hinata "Kau kan pasukan perdamaian PBB kenapa kau tidak langsung saja melewati Pos Pemeriksaan, tidak usah ikut diperiksa seperti mobil lain?"

"Kami pasukan perdamaian Hinata.." balas Naruto

"Memang kenapa kalau kalian pasukan perdamaian?" potong Hinata

Naruto menoleh pada Hinata sebelum akhirnya kembali melihat ke arah depan, rupanya tinggal 1 mobil yang mengantri.

"Kami pihak yang menetapkan peraturan untuk mendamaikan kedua belah pihak"

"Salah satunya ya pos ini, setiap mobil diperiksa agar memastikan tidak ada penyeludupan atau tindakan tindakan lain yang mengancam perdamaian antara kedua belah pihak" terang Naruto.

"Perdamaian?" tanya Hinata penuh penekanan

"Ya, perdamaian. tidak ada lagi perang saudara. semua akan kembali bergandeng tangan. tidak ada lagi pertumpahan darah" balas Naruto.

...

"Kau percaya mereka dapat berdamai Naruto?" tanya Hinata, kini ia menatap Naruto dengan tatapan yang.. hampir tidak dapat dijelaskan, banyak emosi yang terpatri di wajah Gadis itu.

"..."

"Kalau Tuhan berkehendak, aku yakin bisa. percaya saja pada kami" balas Naruto sembari tersenyum pada Hinata.

Hinata hanya menatap senyuman itu sesaat sebelum kembali tenggelam dalam novelnya.

Humvee yang mereka kendarai kini maju menuju gerbang pos untuk giliran diperiksa. Naruto membuka kaca Humvee sembari menunjukkan kartu tanda anggota Militernya.

"United States Army, Peacekeeping" ucap Naruto pada salah seorang Tentara yang bertugas memeriksa kendaraan itu. Tentara itu mengenakan Kevlar anti balistik dan Uniform dengan digital camo berwarna Coklat dan sebuah AK 74 tergantung menggunakan sling di bahunya

"Ok, let us to check your Vehicle sir" balas Tentara itu.

"Ok"

Beberapa Tentara lain mulai mengelilingi Humvee yang mereka kendarai untuk diperiksa. 2 Tentara beralatkan Metal Detector menyisir kolong Humvee untuk memastikan tidak ada peledak, 2 orang lain menggunakan senter mencari tempat tempat mencurigakan yang mungkin bisa dijadikan tempat untuk menyeludupkan sesuatu.

"Where are you from sir?"

"Excuse me?"

"Where are you from?" Rupanya Tentara yang berjaga itu bertanya pada dirinya.

"United States, why..?"

"No, i mean what a states are you from?" Tentara itu kembali bertanya padanya.

"Sorry, i cant answer your Question, is a privacy" tolak Naruto halus. dirinya merasa aneh dengan pertanyaan yang terkesan pribadi yang dilontarkan Tentara itu padanya.

"I just try to be humble sir"

"Thats not how to be humble soldier, you shouldn't know where i came from, don't do it again did you understand!?" tegur Naruto pada prajurit itu dengan nada sedikit tinggi.

Prajurit itu diam, tak ada lagi senyum di wajahnya. seolah terhina, ia sedikit menunjukkan wajah kesal pada Naruto.

"Чорт незнайомець"

"Permisi?"

Prajurit itu kembali tersenyum, tersenyum misterius.

"No sir, Welcome to Donestk, hope you enjoyed on vacation"

Naruto bergidik ngeri, ia segera tancap gas meninggalkan prajurit misterius itu.

"Kenapa kau tampak ketakutan Naruto?"

"Tidak..."

Naruto hanya menoleh sebentar ke arah Hinata.

"Tidak ada apa apa.."

"Kau mau makan?"

Naruto mengarahkan Humvee yang ia kendarai untuk menepi ke salah satu kompleks pertokoan dan restoran kecil di salah satu jalan kota Donestk. banyak sekali deretan Toko dan Restoran di gang itu. bau rempah rempah khas makanan yang entah Naruto tidak tahu namanya mengundang selera makan. Naruto tentu tidak egois, ia juga mengajak Hinata makan. sekalian makan siang juga sih.

"Di mana?"

"Restoran kecil itu kelihatan bagus, aku tidak tahu rasa makanannya tapi tidak ada salahnya mencoba kan?"

Optimistis sekali.

"Boleh" balas Hinata sambil tersenyum tipis. Hinata sebenarnya juga sedang lapar, waktu sarapannya tadi pagi tersita untuk membantu suster Anna mengemas keperluan anak anak untuk piknik, dan acara makan siangnya terlewat karena Naruto datang.

Lagiupula tawaran Naruto tidaklah buruk, walaupun sedang dilanda perang namun kota ini tetap menjadi pusat ritel dan pertokoan yang ramai, kuliner kota ini yang terkenal adalah babi panggang saus madunya yang lezat. Hinata pernah mencicipinya saat pastur Vladimir membawanya ke Gereja untuk acara makan bersama. namun acara itu sudah lama berlalu, Hinata hampir lupa rasanya.

Humvee mereka perlahan menepi ke salah satu tempat parkir yang terletak di pinggir trotoar depan restoran yang mereka tuju. cuaca yang sedang mendung tidak membuat kota menjadi sepi, banyak orang yang masuk ke toko toko dan Restoran untuk melindungi diri dari hujan yang akan turun. Naruto memarkirkan Humvee miliknya tepat di depan restoran.

"Silahkan tuan puteri.." ucap Naruto membuka kunci automatis pintu Humvee agar ia dan Hinata bisa keluar.

Hinata tersenyum kecil.

Mereka berdua beriringan masuk ke dalam restoran atau lebih tepatnya kedai itu. begitu masuk kedalam kedai wangi bumbu, rempah rempah, kaldu dan daging menusuk indera penciuman siapa saja yang berada di dalam restoran. Restoran itu sebenarnya restoran kecil dengan tidak lebih dari 8 meja atau bangku. restoran itu memiliki tema pan modern, didukung dengan wallpaper batu bata di seluruh dinding restoran, ditambah aksesoris seperti lampu gantung dan bendera hitam biru merah raksasa yang dipajang di dekat kasir, Hinata dan Naruto memilih meja yang berada di samping jendela agar sekaligus bisa menikmati pemandangan kota di siang hari yang mendung itu.

"Kau mau pesan apa Naruto? biar aku pesankan ke counternya"

Naruto menggeleng

"Biar aku saja yang pesankan, kau duduk disini saja Hinata. kau kan kutraktir, masa kau yang memesan"

"Tidak usah Naruto, aku saja. aku tahu menu yang enak disini!" balas Hinata menahan pergelangan tangan Naruto.

Untuk beberapa saat Naruto merasa dadanya berdegup kencang saat telapak tangan Hinata memegang pergelangan tangannya.

"Hinata... aku saja yang memesan. lagipula aku pernah makan masakan Ukraina di Kamp. aku sudah tau mana masakan Ukraina yang enak atau tidak!" ucapnya.

Ia tidak berbohong soal makanan Ukraina itu. memang 2 hari yang lalu seorang Sersan udara dari Angkatan Udara Ukraina dan anak buahnya yang sedang berkunjung ke kamp menawarkan akan memasakkan mereka sup ayam yang dia bilang merupakan sup ayam khas Ukraina. para penghuni kamp beserta staff masaknya pun senang ketika ada seseorang yang memasakkan makanan untuk mereka. dan rasanya pun tidak terlalu buruk. masih ada di level yang bisa dinikmati pada lidah Tentara bujangan seperti mereka.

"Baiklah kalau kau yang pesan"

Naruto menyeringai, pegangan Hinata pada pergelangan tangannya mengendur. ia bersiap keluar dari meja untuk memesan sebelum sebuah pertanyaan menghentikannya.

"Tapi... memangnya kau memang bisa bahasa Ukraina?"

Naruto menoleh pada Hinata, gadis itu sedang tersenyum tipis lebih tepatnya senyum menyindir padanya.

Senyum yang meruntuhkan harga diri dan kepintaran pemuda lulusan Akademi Militer West Point itu dalam sekejap di hadapan seorang gadis lugu dari Jepang.

.

.

.

.

"Enak ya?"

Naruto menyuap salah satu potongan daging sapi asap pesanannya dengan raut wajah tidak minat, mengacuhkan pertanyaan Hinata yang dilontarkan padanya. ia rasa keputusan untuk mengajak Hinata makan siang disini adalah keputusan yang salah. ia masih ingat betul bagaimana 2 menit yang lalu gadis bersurai indigo itu tertawa terbahak bahak saat melihat ia kesulitan memesan makanan karena ia tidak bisa berbahasa Ukraina.

Hinata memandang raut wajah itu dengan geli. mungkin ia suadah kelewatan menertawakan Naruto seperti itu. toh Hinata tau kalau Naruto hanya ingin membantu memesan makanan walaupun ia tahu ia tak mengerti bahasa mereka.

"Masih marah? aku minta maaf deh, aku tidak bermaksut mempermalukanmu" ucap Hinata sembari kembali menyuap sesendok kentang tumbuk ke mulutnya.

Naruto menghela napas, ia hanya tersenyum kecil.

"Aku tidak marah kok, siapa yang marah?"

Hinata menopang dagunya dengan tangan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Naruto.

"Yakin nih?"

"Nggak marah, Cuma malu"

Hinata tertawa geli mendengar jawaban kekanakan Naruto. sementara yang bersangkutan tetap fokus pada hidangannya walau tak sebegitu minat.

Hujan di luar semakin deras. suhu dingin di luar akibat hujan tersebut mulai masuk ke dalam restoran. sang pemilik beserta staff nya berinisiatif membakar beberapa kayu di perapian untuk menghangatkan suhu ruangan restoran. beberapa pengunjung tampak mengeratkan jaket maupun syal yang terpasang di tubuh mereka dan sesekali meminum minuman atau makanan yang mereka pesan.

Naruto menatap jam nya, sudah jam 2 siang. ia harus kembali ke markas jam 5 sore,

"Hinata-"

"Seperti di kampung halaman ya?"

Naruto menolehkan kepalanya kepada Hinata. gadis itu tampak memperhatikan hujan yang mengguyur kota Donestk melalui jendela kaca. tangannya merogoh sesuatu di kantung hoodie yang tengah ia kenakan dan mengeluarkannya. sebuah Smartphone Android, ia kemudian mengabadikan momen hujan di luar melalui Smartphone miliknya itu.

"Katanya tidak punya Handphone!?"

Naruto bertanya dengan nada menyindir.

Hinata tidak menjawab sindiran Naruto itu. ia masih sibuk dengan Smartphone miliknya sambil sesekali tersenyum sendiri.

Naruto menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. sudah waktunya ia dan Hinata pulang. hujan akan membuat jalan keluar kota menjadi terisolir. ia harus segera pergi sebelum para Tentara dan Milisi menutup akses kota.

"Hinata, ayo pulang!"

Hinata menoleh lalu mengangguk tanpa sepatah kata apapun, ia segera membereskan barang barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. tak lupa ia menyisipkan uang pada bill diatas meja. ia masih sibuk sendiri dengan Smartphone nya bahkan ketika berjalan menuju pintu keluar restoran.

"Hei lihat jalanmu Hinata!" tegur Naruto saat Hinata hampir menabrak pilar restoran karena bermain smartphone sampai tidak memperhatikan jalan.

"Iya maaf – maaf"

Hujan masih mengguyur ketika mereka berdua keluar dari Restoran. untungnya jarak antara Humvee dengan kanopi depan Restoran tempat mereka berdiri sekarang tidak terlalu jauh. namun tetap saja mereka akan basah kuyup karena hujan yang cukup deras.

"Ahhhh, hujannya masih deras..." desah Hinata. ia mengalihkan pandangan dari Smartphone miliknya ke arah langit.

"Kau bawa payung?" tanya Hinata pada Naruto.

Naruto menggeleng. namun ia segera melepas jaket Militer yang ia kenakan dan menyodorkan nya pada Hinata.

"Ini, pakai"

"Ti-tidak usah , jaketku waterproff kok" balas Hinata sambil menunjuk jaket yang ia kenakan.

Naruto tidak membalas, namun ia malah memakaikan jaket itu menutupi kepala Hinata dan mengajaknya untuk jalan sambil merangkul tubuh gadis itu erat agar air hujan tidak masuk melalui celah jaketnya.

"Ekh! Na-Naruto?"

Hinata tersentak, rona wajahnya memerah karena malu dan terkejut. Naruto hanya memasang wajah datar. setelah sampai Naruto langsung membukakan pintu Humvee untuk Hinata dan mempersilahkannya masuk. begitu Hinata sudah masuk ia pun masuk melalui samping pintu pengemudi.

"Terima kasih jaketnya, Naruto" ucap Hinata. ia mengembalikan Jaket yang Naruto kenakan padanya.

"Kenapa kau kembalikan sekarang?"

Eh?

"Inikan punyamu Naruto!" tanya Hinata bingung atas jawaban Naruto.

Naruto menyeringai

"Jaket itu basah, cuci sebelum kau kembalikan. hitung hitung sebagai ucapan terimakasih karena sudah kutraktir"

Jawaban Naruto segera dibalas dengan wajah dongkol Hinata. rupanya aksi 'heroik' Naruto tadi ada maunya.

"Jadi tidak ikhlas mentraktirku nih?"

"Ikhlas, tapi anggap saja mencuci jaketku itu ucapan terimakasihmu kan?" jelas Naruto.

"Iya, iya" balas Hinata pendek.

Naruto menampakkan senyum lima jarinya, ia mengencangkan sabuk pengaman dan menyalakan mesin Humveenya. bersiap meninggalkan kota dan mengantar Hinata pulang.

"Yosh! mari kita berangkat" pekik Naruto pelan seiring dengan Humvee yang mulai bergerak meninggalkan retoran.

Hinata tersenyum melihat tingkah Naruto yang lucu itu. digenggamnya jaket pinjaman Naruto dengan erat. tak masalah baginya untuk mencuci jaket Naruto sebagai ucapan terimakasih. toh ia terhibur dengan ajakan makan siang sekaligus jalan jalan dari Naruto yang membuat ia bisa sedikit menikmati hidup di tengah kondisi perang begini.

Dan bersamaan dengan suara hati Hinata itu Humvee yang mereka kendarai mulai bergerak menjauhi kota Donestk kembali menuju Gereja Santa Maria.

.

.

.

.

"Terima kasih sudah mengajakku jalan jalan dan mentraktirku makan siang hari ini!"

Naruto dan Hinata sudah tiba di Gereja Santa Maria. mereka tiba tepat pukul 3 sore, lebih cepat daripada ketika mereka awal berangkat tadi. berterimakasihlah pada skill mengemudi Naruto yang setara Vin Diesel, aktor film Fast and Furious.

"Sama sama" balas Naruto. ia membuka kunci pintu penumpang, mempersilahkan Hinata untuk keluar.

"Kapan kau mau mampir kesini lagi?"

Naruto diam sejenak. ia meletakkan dagunya di setir kemudi. memikirkan kapan ia bisa mampir ke Gereja untuk bertemu Hinata lagi. toh jaketnya masih ada di tangan Hinata. jadi ia mungkin bisa mampir lagi dalam waktu dekat.

"Mungkin minggu depan aku mampir lagi kesini, sekalian menagih ucapan terimakasih kan?" goda Naruto

Hinata tersenyum.

"Ya ya, jaketmu akan kucuci sampai bersih Tuan Muda..." balas Hinata.

Naruto melihat ke arah jam tangannya, sudah waktunya ia berangkat.

"Ok Hinata, aku pergi dulu" ucap Naruto seraya menyalakan mesin Humvee.

"Hati hati ya, Naruto"

Ah, kata kata itu terdengar lembut sekali di telinga Naruto.

Humvee yang dikendarai Naruto perlahan mulai berjalan meninggalkan Gereja. tak lupa Naruto melambaikan tangan yang kemudian dibalas oleh Hinata. Hinata pun hendak masuk ke dalam Gereja sebelum teriakan Naruto menghentikannya.

"HEI HINATA!" teriak Naruto, kepalanya menjulur ke luar jendela Humvee. "DI JAKET ITU ADA SEBUAH PESAN, TOLONG DIBACA!"

Setelah itu Humvee yang dikendarai Naruto melaju meninggalkan Gereja Santa Maria hingga tak terlihat lagi oleh mata Hinata.

Pesan?

Hinata menelusuri setiap bagian Jaket untuk menemukan pesan yang dimaksut Naruto. saat merogoh kantung bagian kiri Jaket, Hinata menemukan sebuah kertas sobekan kecil berwarna putih.

"Ini yang Pesan dimaksut Naruto?"

Hinata melihat isi kertas tersebut. ada beberapa tulisan. uniknya, tulisan itu ditulis menggunakan kanji Jepang.

"Michael Naruto, no telp ; 0xx xxx xxx" kata Hinata dalam hati ketika menerjemahkan tulisan di pesan itu.

Hinata menghela napas panjang sembari tersenyum geli, minta tukar nomor rupanya. hihihihi

"Baiklah tuan Michael, nomormu akan kusimpan" ucap Hinata pelan.

Ia lalu memasukkan kertas itu ke dalam saku hoodienya dan kemudian masuk ke dalam Gereja. meninggalkan pekarangan Gereja itu dalam keadaan tenang dan sunyi kembali.

.

.

.

.

"Kau terlambat!"

"Hanya 3 menit!"

"Tetap saja Mayor menghitungnya sebagai keterlambatan!"

Naruto menutup telinganya dengan earbud selama ia berjalan bersama Kiba yang membawa beberapa dokumen. sedari awal Naruto datang, pria bertato segitiga di pipinya itu tidak berhenti mengoceh tentang keterlambatan Naruto menghadiri rapat koordinasi pasukan PBB.

"Siapa yang akan kita temui?"

Kiba menoleh ke arah komandan kompinya itu.

"Letkol Harold dari Resimen Infantri ke 8 dan Letkol Arroso dari Battalion Gunung ke 4 Italia"

"Oh"

Mereka berdua memasuki ruang rapat JOIN OPERATION COMMAND ( JOC ) Amerika - Italia. disana ada beberapa bangku dan kursi layaknya ruang kelas SMU beserta proyektor berukuran 2 kali 4 meter. disana sudah ada beberapa perwira kompi dan perwira inteligen dari AS dan Italia, juga perwakilan dari staff komando Tentara Nasional Ukraina.

"Sudah kau bawa dokumen perlengkapan anak anak?" tanya Naruto pada Kiba

"Sudah, mulai dari arsenal, kesehatan sampai vagina Pacar mereka sudah kucatat"

Naruto terkekeh. namun tiba tiba Mayor Kakashi menghampirinya dengan raut wajah kurang bersahabat. ia dan Kiba pun mengatur posisi tegap di hadapan atasan mereka tersebut.

"Hei Jagoan, dari mana saja kau, kudengar kau berkelana sampai kota Donestk dengan arsenal tempur?"

Mayor Kakashi menghampiri Naruto dan membuat gimmick seolah olah memeriksa kerapian seragam Naruto. yang berarti sebuah sindiran atau teguran keras terhadap personil yang melanggar SOP.

Naruto diam sejenak

"Siap, hanya mampir saja pak!"

Kakashi menarik kerah baju Naruto dengan lembut namun intimidatif.

"Sekali lagi kau pergi ke Donestk tanpa melapor terlebih dahulu, akan kukembalikan kau ke Seattle dalam peti mayat, PAHAM!"

"Siap Mengerti!"

Kakashi melepas cengkramannya dari kerah baju Naruto. ia masih heran dengan isi kepala pemuda tolol di depannya ini. berani sekali dia menggunakan mobil dinas tempur pergi ke Area tidak bersahabat sendirian. apa dia sudah bosan hidup!"

Kiba hanya memandang Naruto datar.

"Besok kau dan Kiba akan menjalani misi besar Naruto"

Naruto terkejut mendengar ucapan Komandan Battalion nya itu. begitu juga Kiba. misi besar? misi besar apa?"

"Misi besar apa pak?"

Kakashi melipat tangannya.

"Kalian juga akan tahu nanti" ucapnya kemudian melengos pergi.

Naruto dan Kiba saling berpandangan satu sama lain. misi besar apa yang dimaksut Kakashi? namun pertanyaaan pertanyaan dalam kepala mereka teralihkan oleh instruksi siap sedia. pertanda Komandan atau Panglima Komando memasuki ruangan. serentak semua insan di ruangan itu berdiri tegak.

Pintu ruangan terbuka. nampak 2 orang berseragam kesatuan AD Italia dan Ranger AS diikuti bebrapa perwira tinggi dibelakang mereka seperti Mayor Kakashi memasuki ruangan. di tangan mereka masing masing memegang map penting. sontak suasana yang tadinya cukup ramai menjadi hening saat kedua orang itu masuk. menandakan keseriusan pertemuan ini, namun tak seorang pun bisa menebak sebenarnya apa yang terjadi.

"SIAP GERAK!"

.

.

.

.

TBC