"Hyuuga Hinata, baru saja masuk kelas?" mata biru di belakang kelas langsung menoleh ke arah pintu begitu juga dengan semua mata yang berada di dalam kelas.

"Gomen ne, Sensei." Dia membungkuk hormat dan kemudian tersenyum kikuk berjalan menuju bangkunya. Bersalah? Menyesal? Jangan harap, ia tak perduli sama sekali pada tatapan tajam gurunya dan jelas sekali, gurunya juga tak akan berani mengoceh.

"Hyuuga Hinata, senang sekali tampaknya?" dia Naruto, entah mengapa tak bisa merasa tenang pada wajah Hinata yang tampak lebih berseri, pastinya karena bahagia.

Hinata menoleh ke arah Naruto yang duduk bersebelahan dengannya tapi yang dia lakukan hanyalah tersenyum, senyuman itu mengatakan betapa bahagia dirinya.

"Sudah baikan dengan temanmu, huh?" Naruto menopang samping kepala dengan tangannya di atas meja dan Hinata melakukan hal yang sama. Mereka berdua berfokus pada lawan bicara masing-masing tanpa menghiraukan guru yang sudah kembali mengajar.

"Yes, I did." Jawabnya bangga.

"Tapi perasaanku sedikit tak enak. Apa yang kau katakan padanya?" ucap dan tanya Naruto ingin tahu. Entah mengapa ia merasa seperti Hinata mengatakan sesuatu yang tak seharusnya dia katakan.

"Kepo?" Hinata mengejek. "Orang dewasa tak ada yang kepo." Katanya mencoba membungkam Naruto.

"Aku bukannya kepo, aku hanya tak mau kau memalukanku." Hinata tercengir mendengar jawaban Naruto.

"Kau mau tahu?" Naruto tak merespon.

"Kau tak merespon, berarti tidak."

"Hyuuga!" marga itu meluncur keluar dari bibir Naruto tanpa aba-aba

"Kalian berdua!" tersentak, Naruto dan Hinata menoleh ke arah guru yang menatap kesal, terganggu akan obrolan asyik mereka.

"Berdiri di luar jika ingin melanjutkan pembicaraan kalian."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

WILD KIDDO

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

WILD KIDDO by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 11

.

.

.

"Apa perlu aku panggil Nyonya Uzumaki, hah?" Hinata berdigik ngeri membayangkan marganya berubah apalagi menjadi Uzumaki.

"Hei, Uzumaki-san, tolong simpan marga itu untuk dirimu sendiri. Aku Hyuuga Hinata." Jawabnya sinis. "Apa itu Uzumaki, aku bahkan tak pernah tahu marga itu ada." ejeknya menghadirkan tatapan tajam dari mata biru Naruto.

"Apa yang bisa kau banggakan dari Hyuuga, Hah?" perut Hinata tergelitik mendengar pertanyaan bodoh Naruto. Apakah dia dalam keadaan sadar menanyakan hal itu?

"Aku ini bangsawan. Hyuuga berada jauh, terlampau atas daripada Uzumakimu. Bahkan sekolah ini, tanah ini sampai parkiran dan gedung berderet ke persimpangan sana adalah milik kakekku. Ayah dan ibuku punya dua mansion yang berbeda dan aku bahkan punya satu rumah dan satu apartemen. Aku punya kapal pesiar atas namaku dan lapangan mansion kami seluas lapangan golf. Apa yang bisa aku banggakan, Hah?!" suara Hinata meninggi setelah memamerkan seperempat kekayaan yang keluarganya punya.

Naruto terdiam tak tahu ingin menjawab apa. Dalam hati ia mengumpat, memang sial ia lupa dengan siapa ia berbicara, kalau saja ia menjawab jelas sekali ia akan kalah telak.

"Ak

"Apa hah?!" Hinata menyela tanpa membiarkan Naruto menyelesaikan satu katapun.

"Sebaiknya kalian berdiri di lapangan kalau masih ingin bergaduh!" tak bisa lagi menahan rasa kesal karena suara Hinata, sang guru menghampiri dengan menunjuk ke arah lapangan.

"Apa? Kau mau cakap apa hah?!" Hinata memekik di kala mengekori Naruto yang pergi meninggalkan sang guru yang hanya bisa menggeleng kepala.

.

.

.

"Aku tak mau mendengar ocehan hartamu." Geram, Naruto membekap bibir Hinata dengan telapak tangan tapi Hinata menepis tangannya dengan cepat.

"Katakan sekali lagi apa yang bisa aku banggakan dari Hyuuga!" tantangnya masih saja tak terima direndahkan oleh Naruto.

"Bangsawan hanya berteman dengan bangsawan. Kelasmu turun ketika kau berteman dengan Toneri, apa yang kau banggakan?" mata Hinata melebar. Emosinya terpancing pada ucapan Naruto.

"Berani sekali kau menghina temanku!" Hadiah bogem mendarat mulut di lengan Naruto.

"Aaar!" Naruto mengeram. "Katakan padaku apa yang kau katakan padanya?!" akhirnya, setelah semua sampah yang keluar dari bibir Hinata, ia bisa mengulang pertanyaan yang sangat ia nantikan jawabannya.

"Aku bilang aku sangat-sangat sangat super duper paling menyayanginya, puas kau, hah?!" Hinata keceplosan dengan sedikit mendramatiskan kata-katanya.

"Sudah kuduga." Raut wajah Naruto berubah menjadi masam. Ia memutar bola mata tanpa sadar. "Padahal sudah kuingatkan untuk jangan macam-macam." Tapi dugaannya benar, akhirnya Hinata mengakui apa yang dia katakan pada Toneri.

"Lah? Mengapa wajahmu jadi menyebalkan?" Naruto bahkan menghela nafas panjang dan sedikit membuang wajah. "Suka-suka aku dong mau katakan apa. Lagipula aku memang sangat sayang padanya." Mengapa dia bersikap seperti itu karena Hinata berkata jujur?

"Kau harus perhatikan sikapmu, kita sudah akan bertunangan, apa yang akan dikatakan orang-orang lebih parah media jika mereka tahu kau bersikap seperti itu pada Toneri?" ucapan Naruto seperti ancaman di telinga Hinata tapi dia Hinata.

"Siapa? Media mana? Siapa yang berani menggosipku, panggil ke sini." Tantang Hinata membusungkan dada.

"Nye nye nyee" ejek Naruto mencubit kesal ke dua pipi gembul Hinata, antara gemes dan kesal pada sikap sok kerasnya.

"Aaaa! Lepaskan." Hinata menghela kasar nafasnya ketika ia berhasil meloloskan pipinya dari tangan Naruto. Dengan sekali hentakan kaki, ia kembali pada posisi berdiri menghadap tiang bendera tepat di sebelah Naruto. Syukur langit tengah mendung jadi ia tak kepanasan di tengah lapangan ini, tapi kalau misal matahari bersinar sangat terang pun ia tak akan mau dengan bodoh menuruti ucapan guru tadi.

Untuk beberapa menit tak ada suara, mereka sama-sama terdiam untuk menormalkan nafas masing-masing.

"Aku akan cemburu kalau kau bilang kau menyayangi lelaki lain." Hinata menoleh dan Naruto juga melakukan hal yang sama mempertemukan kedua mata mereka. Tak ada suara sama sekali, mereka membiarkan mata masing-masing puas saling menatap.

"Kamu siapa~? Kamu siapa~?" kurang dari waktu satu detik, dahi Naruto berkerut. Bolehkah ia menendang Hinata detik ini juga?

Ia mencoba bersabar pada ejekan Hinata. Matanya ia pejamkan tapi Hinata benar-benar menguji sisa kesabarannya.

"Kamu siapa~? Saya tak tahu~~" Hinata menggerakan kedua tangannya ke samping seperti menirukan tarian santai paling khas di Hawaii.

"Sial, Hinataaaaaaa!"

"Kyaaaaaahhhhhhh!"

.

.

.

Alisnya berkerut hebat, tangannya yang tengah menulis melalui spidol berhenti. Dua suara tadi sangat kuat hingga nyaring di dalam kelasnya, membuat para murid kehilangan fokus masing-masing.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ayaaaaaaaahhh! Emuacchh!" kecupan penuh kebahagiaan, gadis itu hadiahkan untuk sang ayah yang baru saja menampakkan diri dengan dua buket bunga di tangan.

"Selamat atas kelulusanmu, Putriku." Ucapnya bangga dan pastinya bahagia. Hinata menerima sodoran bunga indah tadi dan ia membalas tersenyum bahagia.

"Selamat juga untukmu, Naruto." Lebih bangga lagi, ia juga memberikan hadiah pelukan untuk lelaki di samping Hinata sebelum menyodorkan bunga untuknya. Daripada kelulusan, ia lebih bangga dan bahagia pada Naruto yang sangat tak bisa dipercaya bisa bertahan dengan status bertunangan dengan putrinya. Acara kelulusan di adakan setengah tahun setelah Hinata dan Naruto lulus yang artinya hampir dua tahun telah berlalu, Hinata dan Naruto bertunangan satu tahun yang lalu setelah mereka naik ke kelas 12.

Semua tingkatan tahun ini tampak sangat bahagia dan juga lega, ruangan besar ini dipenuhi oleh manusia yang tengah berbahagia dan berbangga. Mereka berfoto bersama dan saling mengobrol.

"Bagaimana kalau kita berfoto bersama?"

"Kakeeeeekkkk!" mata bulan itu menatap terkejut pada siapa yang berjalan dengan angkuh, membelah keramaian di depannya tanpa perintah.

"Kakek datang!"

.

.

.

.

.

"Serius? Dan kau mau?"

"Iya, aku rasa tak ada salahnya." Lelaki itu tersenyum sebelum menjawab respon terkejut perempuan yang terduduk manis di depannya.

"Aku ingin kau menjadi sekretaris pribadiku, bagaimana?" gadis itu, Hinata sedikit tersentak. Naruto berpindah duduk ke sampingnya di atas sofa empuk dan membelai singkat pucuk kepalanya.

"Tak bisa, Aku ini Hyuuga. Pekerjaan itu bukan untukku." Hinata melipat kedua tangan di atas dada sebelum membanting punggung ke sandaran sofa, kembali menonton tayangan di TV besar yang melekat di dinding.

Naruto berbalik menghadap ke arah Hinata, lehernya ia topang menggunakan satu tangan. "Kau akan segera menjadi Uzumaki?" pujuk Naruto memainkan surai panjang Hinata. "Lagipula bukankah bagus, nol kemungkinan aku akan berselingkuh?" langsung saja tatapan mengerikan Hinata beri.

"Kita bahkan belum menikah tapi kau sudah berpikiran untuk selingkuh?"

"Aku bercanda, ish" jentikan di dahi Hinata sebagai hukuman karena jawabannya yang tak menyenangkan.

"Yasudah kalau tak mau, aku takkan memaksa."

"Ahh!" tersentak, Hinata menahan tangan Naruto sebelum dia sempat beranjak.

"Aku mau tapi aku punya syarat." Katanya cepat membuat Naruto kembali memperbaiki posisi duduk dan menatapnya.

"Apa itu?" tanyanya membuat senyuman hadir di bibir Hinata.

"Apa kau ingat beberapa hari lalu aku bilang aku ingin pergi jalan-jalan bersama kawan?"

"Tidak tidak. Tak boleh. Aku tak setuju." Alis Hinata berkerut, wajahnya memelas berharap Naruto mengubah pikirannya. "Kau tak boleh pergi."

"Ayolah plisss." Bujuknya memohon. "Aku tak pergi berdua dengannya, kami ikut tour dan isinya lebih dari sepuluh orang." Lanjutnya masih dengan wajah memohon.

"Hanya kali ini saja, sebelum kita menikah aku ingin jalan-jalan dengan temanku, ne?" Naruto tak menjawab. Ia mau dengan mudah membiarkan Hinata pergi tapi masalahnya dia akan pergi dengan teman lelaki. Siapa yang bisa mengizinkannya? Bahkan jika ramai sekalipun, Naruto tetap keberatan.

"Plisss" bibir bebek, Hinata pamerkan. Tangannya menyatu di depan dada mengatakan betapa besar keinginannya untuk pergi.

"Kau janji akan bersikap baik?" Naruto benar-benar sangat keberatan tapi Hinata tampaknya sangat ingin ikut tour jalan-jalan itu.

"Aku janji!" Dengan cepat Hinata mengangguk.

.

.

.

.

.

Padahal hanya dua hari tapi rasanya sudah lama sekali. Naruto menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi hitam. Matanya melirik ke arah ponsel di atas meja di sebelah keyboard.

"Hinata sama sekali tak menelepon." Gumannya entah dengan nada apa. Dia pasti sangat bersenang-senang dan hal itu membuat Naruto tak tenang. Ditambah ia harus berfokus pada kerjaan yang baru saja ia mulai dua hari lalu menjadi CEO di salah satu cabang baru Uzumaki Corp.

Jam dinding menunjuk pukul 12.11 di saat Naruto melirik.

"Mungkinkah Hinata sudah pulang ke rumah?" jam makan siang telah tiba, daripada merasa lapar, ia lebih ingin tahu keberadaan gadis itu.

.

.

.

.

.

"Ahahahaha aaaku benar-benar sangat bahagia!" suara nyaring itu terdengar dari balik pintu. Naruto merasa senang ketika mendengar suara yang ia rindukan itu tapi dengan siapa dia berbicara?

Pintu rumah ia dorong dan ia melihat Hinata duduk di sofa dengan seorang lelaki-Toneri duduk di depannya.

"Naruto!" panggil Hinata lengkap dengan senyuman tapi yang Naruto lakukan adalah melirik Toneri.

"Bagaimana jalan-jalannya?" basa-basi Naruto di kala ia mengambil duduk di samping Hinata.

"Menyenangkan!" jawab Hinata, masih dengan semangat luar biasa. "Aku melihat hiuuu banyak sekali dari dalam sangkar!"

"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" sapa sang tamu sopan. Meski mereka berada di kota yang sama tapi beberapa bulan ini rasanya tak pernah sekalipun bertemu meski Toneri masih cukup sering kontak dengan Hinata.

"Aku baik sebelum dua hari lalu." Toneri terkekeh kecil, ia paham maksud Naruto.

"Maafkan aku, Hinata bilang kau sangat sibuk, jadi dia mengajakku."

"Itu bohong, Hinata bisa pergi kapanpun, kemanapun dia mau. Dia sengaja ingin pergi denganmu." Naruto yakin Toneri tahu itu. Bibir manyun Hinata menjadi pembenaran apa yang Naruto katakan.

"Aku'kan sudah bilang aku ingin pergi dengannya." Ucap Hinata mengingatkan bahwa ia berkata jujur sebelum pergi.

"Kalau begitu aku akan pergi. Bye-bye Hinata." Hinata melambaikan tangannya penuh dengan semangat. Matanya baru lepas dari Toneri di kala punggungnya menghilang di balik pintu.

"Wuahhh aku sangat senang sekali, kau tahu?" Hinata langsung saja membicarakan apa yang membuatnya bahagia tanpa menunggu Naruto berkata apapun. Ia duduk melipat kaki menghadap Naruto, tangannya ia gunakan untuk memainkan lengan Naruto.

"Orang-orang yang ikut sangat ramah. Mereka mengambil banyak fotoku dan aku sangat cantik."

"Begitu?" Naruto tersenyum tipis. Senyuman dan semangat Hinata menghilangkan rasa khawatirnya selama dua hari ini.

"Iya! Kami naik kapal besar ke tengah lautan dan bisa melihat hiu secara langsung. Itu sangat mengerikan tapi aku bisa menyentuh hiu!" Naruto tersenyum semakin lebar. Lihatlah mata berbinar Hinata. Dia tersenyum sangat bahagia seolah bibirnya akan terkoyak tapi tampaknya dia akan terus tersenyum mengingat pengalamannya karena ingin Naruto mendengar semuanya!

"Apa kau makan dengan baik?" tanya Naruto ingin tahu. Tangannya terangkat untuk menyelipkan helaian rambut Hinata yang sedikit menutup wajah cantiknya.

"Yah! Koki hotel memasak kodok tapi tak ada yang berani mencobanya hahaha."

"Dia sangat kecewa sekali tapi wajahnya lucu!" Naruto ikut tertawa mendengar cerita Hinata. Kalau saja ia tahu Hinata akan sebahagia ini, ia tak akan ragu biarkan Hinata pergi.

"Aku jadi iri tak bisa pergi."

.

.

.

To be continue

Halo guys

Harusnya tafi sih ga up Cuma author pen bilang aja ada deadline lomba cerpen jadi author ingin fokus disana dlu biar hasilnya bagus.

Tapi author bakal lanjutin ini secepatnya!

Doakan author beruntung hehe dann semoga bisa dibaca cerita hari ini.

I lope you

Bye byee