—9—
"Don't give up on me."
"Dia tidak mengizinkanmu masuk." Reo berkata. Shiki berambut hitam menatap prihatin Tetsuya. Berbeda dengan Chihiro yang mematuhi begitu saja perintah Seijuurou, Reo punya banyak pertimbangan. Dia tahu keberadaan Tetsuya bisa menyembuhkan sakit Seijuurou jika saja tuannya itu mengizinkan. Dan kesadaran itu membuatnya ingin sekali melanggar titah Seijuurou dan membiarkan Tetsuya masuk.
"Aku tahu." Tetsuya anggun berkata. "Setidaknya biarkan aku ada di depan pintu ini."
"Sudah tiga hari. Kau tidak bosan?"
"Tidak sama sekali."
Tidak tuannya sendiri, tidak pendampingnya. Keduanya sama-sama aneh dan sulit dipahami.
"Terserah."
Tetsuya membungkukkan badan. "Terima kasih."
Tetsuya duduk bersila dan menyandarkan punggungnya pada pintu geser. Ia tahu Seijuurou bisa mendengarnya dengan baik sekalipun di dalam sana pria itu tengah menahan sakit.
Sang naga dalam diri Seijuurou tentu ingin bertemu dengan sang mempelai dalam dirinya. Tetsuya senang, jujur saja. Karena mungkin saat ini, hanya sang naga yang bisa membobol pertahanan diri Seijuurou.
"Sei-kun…" Tetsuya bergumam seraya menatap langit-langit. "Aku tahu kau bisa mendengarku…"
Memejamkan mata, "Tak apa kalau kau tak mau bicara. Tapi tolong dengarkan aku."
.
.
"Dia sangat keras kepala." Chihiro jengkel. Malas rasanya mendengar cerita dan komentar sentimentil Tetsuya. Pemuda itu tidak membicarakan hal penting—setidaknya menurut Chihiro. Tetsuya hanya membicarakan mimpi-mimpinya, kisah masa kecilnya, dan betapa dia ingin mengenal Seijuurou lebih dekat.
Seijuurou tersenyum getir mendengar komentar Chihiro. Meringis, perban yang membalut punggungnya terlepas perlahan bersama dengan kulit yang terkelupas.
"Sebentar lagi festival. Matahari akan ada pada titik tertinggi."
"Aku tahu."—tenang.
"Apa boleh anda setenang itu?"
"Kau dan Reo adalah pemberian Dewa Bulan untukku. Aku bisa bilang apa kalau kalian memang diharuskan tertidur pada momen ini? Bukankah setiap tahun memang sudah begini?"
Mereka berdua sama-sama tahu. Tahun ini akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Aku akan bertahan, Chihiro." Seijuurou mengepalkan tangannya. "Seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku bisa melewati ini."
.
.
Takao selalu yang paling prihatin dan perhatian. Ia menyambut hangat Tetsuya di ruang makan dengan senyum kasihan yang tidak ditutup-tutupi. Himuro menyapa singkat sementara Nijimura hanya bergumam sebagai isyarat dia sadar Tetsuya sudah bergabung dengan mereka bertiga.
"Bagaimana hari ini?" Himuro melempar pertanyaannya ketika Tetsuya sudah membenahi posisi duduknya di kursi. "Dia mau bertemu denganmu?"
Gelengan. "Dia sangat keras kepala."
"Begitukah?"
Takao menyiapkan nampan khusus untuk dibawa kepada Seijuurou. Jeda sesaat, ia berpikir.
"Kuroko-kun."
"Ya?"
"Kalau kau mau. Kau boleh menggantikanku mengantar ini. Aku yang akan bertanggung jawab."
Semua terdiam. Di luar dugaan, Nijimura tidak melarang. Dia tetap diam menghabiskan jatah makanannya sendiri.
"Bolehkah?"
Takao tahu dia yang akan terkena hukuman. Tapi tak mengapa. "Tentu."
Disodorkannya nampan yang di atasnya berisi bermacam sajian dan juga sepoci kecil teh hijau. Takao menambahkan, "Tolong pastikan dia makan dengan benar. Aku khawatir sebab Seijuurou-sama tidak makan dengan benar akhir-akhir ini."
Tetsuya menganggukan kepala. Terlalu semangat sampai ia langsung kembali berdiri dari tempat duduknya. Diangkatnya perlahan nampan itu.
"Aku permisi dulu."
"Ya."
Tetsuya melangkah perlahan, takut menjatuhkan bahkan sedikit saja isi dari mangkuk sup di atas nampan. Beruntung jarak antara dapur kuil dengan sayap timur di mana gerbang menuju kuil bawah tanah berada tidak jauh.
"Permisi."
Reo yang memergokinya mengrenyitkan dahi. Sebelum diminta, Tetsuya lebih dahulu memberi penjelasan, "aku menggantikan Takao-san. Kuharap kau membiarkanku masuk."
"Biar aku saja yang membawakannya." Reo tidak mau ambil risiko.
"Tidak. Biar aku saja."
"Jangan bodoh. Kenapa kau keras kepala sekali sih?"
Sebelum pertengkaran kecil itu semakin membara, dari balik pintu geser, Chihiro menampakan diri. Wajah datar dan tatapannya dingin meremehkan.
"Kalian tahu? Keributan kalian mengganggu sekali."
"Maaf."
Menghela napas, Chihiro kini menatap Tetsuya. "Kau diperbolehkan masuk."
Mendengar itu, jantung Tetsuya berdegup kencang. Dia tidak salah dengar kan?
Chihiro membuka pintu geser lebih lebar untuk memperjelas maksudnya. Dagunya menunjuk ke dalam ruangan. "Masuklah."
Perlahan, seolah dia tengah menginjak lantai dari kaca rapuh yang siap runtuh kapan saja, Tetsuya memasuki ruangan.
Dulu, di tengah kepanikan dan kekacauan, ketika perhatiannya sepenuhnya hanya untuk Seijuurou, dia tidak memerhatikan ruangan ini benar-benar. Kini, setelah lebih tenang, dia mendapati ruangan gelap tempat Seijuurou berada membuatnya tenang.
Tidak ada neon terang benderang yang menyilaukan. Sebaliknya, cahaya dari lampu-lampu meja temaram yang tersebar di seluruh ruangan memberi kesan meneduhkan. Sebuah jendela unik di atas langit-langit dilapisi teralis yang membentuk formasi lingkaran sihir, mempertontonkan langit malam dan bulan yang terang benderang. Vas berisi rangkaian bunga musim panas terletak di sudut kanan, persis di depan kaligrafi kanji naga.
"Permisi."
Seijuurou tenang. Kalem menanggapi. "Silahkan."
Tetsuya menghampirinya yang tengah duduk di hadapan sebuah meja berkaki rendah. Bagian atas kimono hitamnya dilucuti, mempertontonkan perban yang berdarah.
Tetsuya tidak suka melihat itu.
"Selamat sore, Tetsuya."
Sore itu, sang naga dalam dirinya begitu tenang. Seijuurou cukup yakin ia bisa melalui momen bersama Tetsuya tanpa harus mengeluhkan sakit akibat kutukannya.
Tanpa bicara, Tetsuya memindahkan isi nampan ke atas permukaan meja.
"Kau pendiam hari ini. Kemana sikap bawelmu yang kau tunjukkan selama menungguku di depan pintu?"
Tangan Tetsuya berhenti bergerak sejenak. Ia membalas pintar, "kukira Sei-kun yang punya kepentingan denganku sehingga hari ini mengizinkanku masuk."
Tetsuya menelengkan kepala. Ditatapnya Seijuurou tanpa sediktpun menunjukan rasa takut. "Atau aku salah?"
Ini menarik.
"Tidak." Seijuurou menggeleng pelan seraya mengulum senyum tipis. "Kau benar. Aku mau bicara."
"Makanlah dulu sebelum bicara, Sei-kun. Aku sudah berjanji pada Takao-san akan memastikan kau makan dengan benar."
"Hmph…" Seijuurou berusaha menahan tawa yang nyaris lolos dari celah bibir. "Aku bukan orang sakit. Hanya terkutuk. Kazunari harus berhenti memperlakukanku seperti pesakitan."
"Sei-kun. Sebaiknya makan dulu. Baru bicara."
Seijuurou mengangkat dua tangannya. "Baik, Tetsuya-sama. Aku akan makan."
Tetsuya merasa diejek. Dia tidak suka.
"Kau sudah makan?" tanya Seijuurou sembari mengangkat sumpit.
"Sudah."
Perut Tetsuya mengkhianati sang tuan dengan berbunyi sepuluh detik setelah kebohongannya. Paras pemuda berambut biru muda memerah. Seijuurou membuang muka, berusaha untuk tidak memperlihatkan senyumnya.
Judes—"aku tahu kau sedang mentertawakanku, Sei-kun."
Atmosfer mencair setelahnya. Keduanya tidak tahu bagaimana rasa asing terhadap satu sama lain bisa menguap sedemikian cepat.
"Makanlah." Seijuurou menyodorkan telur goreng ke hadapan Tetsuya dengan sumpit. "Ada porsi yang cukup untuk kita berdua."
Dengan wajah bersemu pink, Tetsuya pada akhirnya mengigit lauk itu dan mengunyahnya pelan. Seijuurou berpura-pura tidak sadar akan adanya rona di wajah manis itu.
Suasana damai itu rusak setelah Seijuurou menyelsaikan suapan terakhirnya. Dengan ujung serbet, ia menyeka bibirnya lalu berkata, "aku ingin kau berhenti menyusahkan dirimu sendiri."
Tetsuya sudah menduga ini. Tidak mungkin Seijuurou mendadak berubah pikiran menerimanya.
"Apa yang kulakukan dengan hidupku bukan urusan Sei-kun. Ini pilihanku."
"Jangan kekanak-kanakkan, Tetsuya." Seijuurou menghela napas lalu menambahkan, "kau punya kehidupan yang baik. Keluarga, sahabat."
Tangan Seijuurou merangkak naik, telunjuknya menunjuk dada Tetsuya. Ia dapat merasakan detak jantung halus milik pasangan jiwanya itu. "Jangan mengorbankan apa-apa demi aku. Antara aku saja yang hancur atau kita hancur berdua. Kau tahu pilihan mana yang lebih pintar."
"Biar saja aku menjadi bodoh." Tetsuya kini emosi. Ekspresi kalem yang selalu menjadi ciri khasnya digantikan dengan rengutan.
"Tet… suya…?"
Seijuurou tidak menyangka Tetsuya akan mendadak berdiri dan menyingsingkan kerah kimononya sendiri. Kulit pucatnya terlihat begitu menggoda di bawah iluminasi lampu-lampu temaram.
"Aku sudah lihat. Bekas luka pada Nijimura-san dan Takao-san." Getir. "Aku tidak suka kau bergantung pada orang selain aku, Sei-kun. Kenapa mereka boleh membantumu tapi tidak denganku?"
Seijuurou tergugu.
"Kata Himuro-san, darahku bisa menyembuhkan Sei-kun lebih baik dari mereka. Tidak, bahkan keberadaanku saja sudah cukup menenangkanmu."
Tetsuya dengan sengaja melemparkan dirinya dalam rengkuhan Seijuurou yang sigap menangkapnya. "Biarkan aku membantumu. Jangan kira hanya kau yang merasakan sakit, Sei-kun."
Ketika harum tubuh Tetsuya memenuhi inderanya, Seijuurou tahu sang naga dalam dirinya terbangun. Ia mencari kekasihnya.
Pening. Pusing. Kepalanya terasa sakit. Rasa sakit timbul kembali. Bukan karena kutukan, kali ini berbeda.
"Sei-kun?"
Tetsuya tampak sakit hati ketika Seijuurou mendorongnya menjauh. Namun kekecewaan segera berganti menjadi kekhawatiran setelah melihat air muka Seijuurou berubah.
Dari dalam diri Tetsuya, seseorang berbisik, "dia membutuhkanmu. Sekarang."
"Jangan keras kepala."
Tetsuya menarik Seijuurou. Didekapnya pemuda berambut merah itu erat-erat hingga kini mereka bersentuhan langsung kulit ke kulit. Prihatin rasanya mendapati temperatur tubuh Seijuurou yang begitu dingin.
Ujung hidung mancung Seijuurou menyentuh leher Tetsuya. Ia dibuat mabuk karenanya.
"Tak apa." Nada bicara Tetsuya mantap. "Aku ada untukmu."
Seijuurou memejamkan mata. Ia sungguh, sungguh, sungguh ingin marah pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku."
Taring merobek kulit leher. Tetsuya berusaha menahan agar tidak menjerit. Kedua tangan Seijuurou kini justru memeluknya erat, seolah ia adalah preadator yang tidak ingin mangsanya kabur.
Sang naga dalam diri Seijuurou mereda amarahnya.
Ketika memejamkan mata, Tetsuya dapat melihat sang naga dan kekasihnya bertemu dan berbahagia. Senang rasanya.
"Jangan." Tetsuya menyisiri rambut Seijuurou. Masih dengan mata terpejam, senyum tipis terlukis di bibirnya. "Menangis, Sei-kun. Aku bahagia. Bisa berada di sisimu seperti sekarang ini."
Seijuurou menjawab dengan geraman. Pelukannya pada tubuh mungil Tetsuya mengerat. Lelehan hangat air matanya jatuh, membasahi kulit telanjang Tetsuya.
Ketika akhirnya mereka memisahkan diri, Tetsuya dapat melihat ketenangan di dua bola mata Seijuurou yang berkaca. Tanpa sadar, dia ikut menangis.
Dilekatkannya kening mereka berdua. Direngkuhnya pipi Seijuurou agar kekasihnya itu tidak melarikan diri dan mereka boleh tetap berpandangan dari mata ke mata.
"Ayo lalui ini bersama-sama, Sei-kun."
Testuya sangat keras kepala. Seijuurou harus menerima bahwa kali ini dia kalah. Telak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya.
"Ya, Tetsuya." Diraihnya tangan yang menangkup pipinya, dibubuhinya dengan kecupan lembut. "Kita akan melalui ini bersama-sama."
.
.
"Maafkan aku."
"Untuk apa?"
"Karena cintaku padamu berakhir menyakitimu."
"Cukup. Jangan diteruskan."
"?"
"Cinta menguatkanku. Aku akan bisa melalui semua ini karena ada dirimu di sisiku."
.
.
Festival musim panas akan berlangsung besok pagi. Nijimura tidak tahu apakah ini momen yang tepat untuk melakukan ritual suci mempersatukan Seijuurou dan Tetsuya.
Sejak awal, kutukan yang menimpa mereka adalah pemberian Dewi Matahari. Sudah menjadi bagian dari tradisi, bahwa pada momen seperti ini, di mana para shiki tertidur, wadah sang naga diharuskan bertahan. Pada momen ini lah, kutukan benar-benar ditegaskan sebagai kutuk.
"Kau mungkin tidak akan bertahan." Nijimura apatis. Ia memerhatikan ekspresi Tetsuya lewat cermin.
Pemuda ringkih yang awalnya ia kenal sebatas 'sahabat Shige' kini sudah bertransformasi menjadi sosok yang lain. Amat tenang dan dewasa.
"Aku yakin aku bisa," Tetsuya berujar yakin. "Aku pendamping, Sei-kun. Hanya aku yang mampu meredakan api dalam dirinya."
Ia tidak peduli, apakah dia akan menguap atau meleleh dan hilang demi Seijuurou. Asal bisa bersama, itu sudah cukup.
Takao yang membantunya mengikat obi meringis. Sampai kini, dia tidak habis pikir bagaimana bisa cinta membuat orang menjadi setengah gila. Mungkin kutukan sesungguhnya pada manusia bukanlah soal rasa sakit, melainkan kemampuan mencintai itu sendiri.
Bukankah kadang Takao juga merasa berada di bawah kutukan karena perasaannya pada Midorima?
"Apakah obinya cukup kuat, Kuroko-kun?"
"Cukup, Takao-san. Terima kasih."
Tetsuya berdiri dan menghampiri cermin tinggi di pojok ruangan. Sutra hitam yang membalut tubuhnya membuat kulit putihnya seolah bersinar lebih terang. Amat kontras. Aksentuasi kelopak sakura yang berguguran di bagian bawah fabrik lembut membuatnya tampak seperti baru saja hujan-hujanan di bawah badai bunga.
"Kau tampak cantik, Kuroko-kun." Takao berkomentar tanpa banyak berpikir. Ketika Tetsuya meliriknya, ia menambahkan dengan sedikit salah tingkah, "Maksudku tampan. Maaf, lidahku terselip."
"Tidak apa." Tetsuya hanya berharap Seijuurou juga menyukai penampilannya.
Ia berputar di depan cermin, memeriksa penampilannya lagi. Merasa dirinya kini layak bersanding di sisi Seijuurou, Tetsuya menghadap Nijimura lalu membungkuk sopan.
"Terima kasih untuk bajunya, Nijimura-san."
Nijimura menggaruk tengkuknya. Kaku merespon, "bukan masalah besar."
Tetsuya berjalan anggun menuju pintu. "Kalau begitu, aku mohon diri sekarang. Sei-kun pasti sudah menungguku."
.
.
Kuil Naga adalah kuil yang cantik. Setiap sudutnya terawat dengan baik. Usia tua dan sejarah ratusan tahun tidak serta merta membuat kuil buruk rupa.
Sesuai arahan Nijimura, Tetsuya berlalu melewati lorong gelap seorang diri. Tempat lilin logam di tangan terasa berat dan kimono panjangnya membuat Tetsuya sulit melangkah. Tapi ia tidak mau mengeluh.
Api lilin bergoyang tertiup angin berhembus di area halaman terbuka. Begitu mencapai area taman, kunang-kunang berterbangan, memberi cahaya lembutnya. Mereka seolah ingin memberitahu jalan pada Tetsuya.
Mata biru Tetsuya melebar ketika melihat sakura yang mekar di luar musimnya. Pohon bunga kebanggan bangsa Jepang itu kini bersemi di musim yang tidak semestinya. Seolah turut menyambut dan merayakan momen besarnya, bunga-bunga itu mekar dengan amat sempurna.
"Cantik…"
Menerima hal-hal tak lazim tampaknya akan menjadi bagian dari hidup Tetsuya.
Di dalam suatu mimpi, dia pernah mendapatkan cerita tentang pohon yang amat istimewa.
Dahulu, kelopak sakura teramat putih seperti salju pertama yang turun di musim dingin. Dan roh sakura merelakan dirinya berubah untuk menolong sang mantan Dewa Naga.
Alkisah, ketika kekasih sang naga meninggal untuk kali kedua—menyisakan rohnya yang mengembara dan akan bereinkarnasi berulang kali—roh sakura mengizinkan jasadnya disemayamkan di bawah akar-akarnya.
'Biar aku yang menjaga tubuh kekasihmu'—katanya. 'Dan biar kelopakku menjadi merah muda karena sentuhan darahnya. Biar itu menjadi obat bagi kutukmu, sampai kau kembali dipertemukan dengannya'.
Ingatan masa lalu itu membuat Tetsuya diserang rasa melankolis. Maka ia menyempatkan diri menghampiri sakura itu, memejamkan mata lalu memanjatkan doa yang penuh ucapan gratifikasi.
Malam kali ini terasa berbeda. Reo dan Chihiro yang biasa membuntuti Seijuurou tanpa kenal lelah ataupun berjaga di area kediaman tuan mereka tidak terlihat sama sekali. Tapi ini menguntungkan untuk Tetsuya.
Ia meniti tangga menurun menuju kuil bawah tanah; penjara bagi Seijuurou-nya.
"Sei…"
Keheningan. Ketenangan.
Kontradiksi dengan semua itu, debaran jantung Tetsuya justru kian dan kian menguat. Darah seolah naik ke wajah, enggan untuk tidak melukis pipinya dengan semu yang menurutnya memalukan.
Ia hanya bisa berharap Seijuurou tidak akan menyadarinya. Jikapun, Seijuurou melihat rona itu, dia hanya berharap Seijuurou tidak akan mengejeknya.
"Sei-kun…" Tetsuya memanggil di depan pintu
Tidak ada sahutan. Ia mengartikannya sebagai izin untuk masuk.
Pintu bergser perlahan. Pemandangan pertama yang menyambut Tetsuya adalah punggung Seijuurou yang terbungkus kimono hitam sama seperti yang ia kenakan. Lilin-lilin yang menyala memberi iluminasi yang unik. Atau mungkin Tetsuya saja yang terlalu perasa? Hanya dengan memandangi Seijuurou dari belakang, dia seolah bisa melihat rekam jejak kehidupan yang tidak mudah pemuda itu.
Tetsuya tidak berkata apa-apa lagi. Ditutupnya pintu geser rapat-rapat di belakang punggungnya. Dengan langkah yang nyaris tanpa suara, ia mendekat dan duduk di samping Seijuurou.
Sejenak, tidak ada yang membuka percakapan.
Tetsuya melirik ke samping. Seijuurou hari ini tampak sangat sehat. Ia mensyukuri itu. Setelah mendengar dari Nijimura bahwa setiap tahunnya, pada saat matahari mencapai titik balik tertinggi, kutukan akan bekerja dua kali lipat lebih menyakitkan, dia cemas luar biasa.
Seijuurou bergumam pelan. Entah sejak kapan tangan mungil Tetsuya sudah ada dalam genggamannya. Tetsuya memerhatikan bagaimana ujung jari Seijuurou mengusap punggung tangannya lembut, mencetak pola-pola acak tak bermakna.
Tapi ini cukup. Segala sesuatu—yang ia alami bersama Seijuurou—tidak harus selalu punya arti krusial. Keberadaan satu sama lain sudah cukup. Sesederhana itu.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Karena tidak bisa memberikanmu pernikahan yang luar biasa."
"Aku bukan perempuan. Yang seperti itu tidak penting bagiku."
Memang, Tetsuya sebelumnya tidak pernah membayangkan akan melalui momen sepenting ini sendirian. Bukan dengan jas putih cantik dan alunan musik, justru dengan kimono hitam dan di bawah temaram cahaya banyak lilin. Tidak dengan sake, namun darah.
"Mari… kita mulai."
Dua cangkir keci berbahan keramik diisi sake sampai setengah penuh oleh Seijuurou. Tetsuya dengan penuh kesiapan, menggores ujung jarinya, meneteskan darahnya pada cangkir milik Seijuurou.
Seijuurou mengulurkan tangannya. Matanya menatap lembut, kontras dengan perintah tegasnya. "Lakukan untukku juga."
Tetsuya mengangguk.
Darah merah mengalir dari ujung jari Seijuurou, bercampur dengan sake untukknya.
"Belum terlambat kalau kau mau mundur."
"Apa kau tidak bosan menyuruhku menyerah, Sei-kun?" Tetsuya membalas berani. "Jangan suruh aku menyerah jika itu soal dirimu."
Seijuurou tertawa kecil. "Istriku ternyata sangat keras kepala."
"Satu sama. Kau juga sama saja, Sei-kun."
"Baiklah, baik. Mari kita mulai saja."
Seijuurou menyodorkan cangkir tepat ke hadapan Tetsuya. Pemuda itu dengan tenang meminum isinya. Dapat dirasakannya pandangan mata Seijuurou ketika memerhatikannya begitu intens.
Ia melakukan hal yang sama pada Seijuurou kemudian.
Tidak ada banyak kata yang tertukar malam itu. Sungguh jauh berbeda dengan apa yang menurut Tetsuya identik dengan pernikahan pada umumnya.
Seijuurou meletakkan cangkir mereka berdua baik-baik di atas meja. Ia berlutut dan menarik Tetsuya mendekat. Kecupan dibubuhkan pada dahi Tetsuya. Ringan. Kecupan anak-anak—sungguh bukan sesuatu yang Tetsuya bayangkan akan ia terima di momen pernikahannya.
Tapi tak apa.
"Kita tak perlu terburu-buru." Seijuurou membawanya ke dalam pelukan. Tetsuya merasa dilingkupi harum yang menenangkan.
"Terima kasih. Karena sudah mau ada di sini bersamaku."
Tanpa sadar, mata biru langit kini berkaca-kaca. Erat, ia membalas pelukan pria yang kini menjadi suaminya. Mereka sama-sama tahu, pelukan itu menyampaikan satu kalimat dengan sempurna: 'Terima kasih juga. Karena sudah menerimaku'.
.
.
Malam itu berlalu dengan amat tenang. Tak ada rasa sakit. Tak ada penderitaan. Seolah-olah semua kutukan yang menyakitkan untuk Seijuurou hanyalah bagian mimpi semata.
Seijuurou memperhatikan Tetsuya yang terbaring di sisinya, dalam peluknya. Ketika ia membelai pipi halus itu, Tetsuya akan mengerang pelan. Lucu sekali rasanya melihat pemuda itu secara naluriah bergeser mendekat, memeluk pinggang Seijuurou lebih erat.
Apakah Seijuurou pantas menerima kehadiran malaikat kecil ini?
Itu pertanyaan besar, bahkan untuk dirinya sendiri.
Pundak Tetsuya didorong lembut, direntangkannya sedikit jarak di antara mereka. Ibu jari ringan menyentuh dagu, membuka sedikit celah antara bibir sewarna persik.
Memang, Seijuurou yang meminta agar mereka tidak perlu terburu-buru. Tapi sedikit sentuhan tidak akan menjadi perkara besar bukan?
.
.
"Kalau sakit, bilang saja."
"Aku baik-baik saja, Tetsuya."
Jika Ogiwara atau siapapun yang mengenalnya, melihat dirinya sekarang ini, mereka pasti tidak akan percaya. Bisa jadi Tetsuya akan dituduh sebagai 'bukan Tetsuya'. Topeng tanpa ekspresinya sukses dilucuti oleh Seijuurou.
"Jangan cemberut. Aku benar-benar baik-baik saja."
"Jangan cubit pipiku."
Tetsuya gemas. Dia sudah mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Sungguh. Cerita Nijimura (yang mungkin didramatisir) oleh Takao, mengenai betapa parahnya Seijuurou di tahun-tahun sebelumnya, membuatnya amat khawatir.
Tetsuya memeras lap basah setelah merendamnya beberapa detik dalam baskom kuningan berisi air es.
"Berbalik yang benar. Aku tidak bisa menyeka punggungmu dengan benar kalau begini caranya."
"Baik, baik."
Reo dan Chihiro tertidur lelap untuk seharian ini. Momen sempurna agar Tetsuya bisa bicara berdua saja dengan Seijuurou.
Mereka melakukan segalanya engan urutan yang sangat berantakan. Bertemu-jatuh cinta-menikah-saling mengenal. Walau tidak terlalu memedulikan prosedur yang dianggap wajar dalam suatu hubungan, Tetsuya merasa perlu mengenal pasangannya ini dengan lebih baik. Bukan sebagai reinkarnasi sang kekasih pada sang naga, tetapi sebagai seorang Kuroko Tetsuya terhadap seorang Akashi Seijuurou.
"Akh." Seijuurou meringis ketika lap basah menyeka bagian punggungnya yang paling sensitif. Kulit mengelupas, menerbitkan darah lagi. "Pelan-pelan sedikit, Tetsuya."
"Ma-maaf, Sei."
Fabrik putih ternoda pink ketika darah menyebar, meresap ke serat-seratnya. Miris melihatnya. Seijuurou tidak terlahir dengan luka ini. Ini diwariskan kepadanya bersamaan dengan wafatnya Akashi Masaomi.
Dan pada keturunan mereka berikutnya.
"Beritahu aku, Sei…"
"Hm?"
"Kenapa kau tidak mau menyentuhku?"
Tetsuya dapat merasakan tubuh Seijuurou mendadak kaku. Benar dugaannya, Seijuurou masih belum menyerah untuk menghindar dari semua ini.
Menarik napas, "kau tahu? Aku sudah siap."
Untuk segalanya. Kecuali kehilangan dirimu. Itu saja yang aku tidak bisa hadapi.
"Apa perlu kita bahas ini sekarang, Tetsuya?"
"Ya. Aku tidak ingin kau menghindar."
Alih-alih menjawab, Seijuurou membenahi kimononya. Jelas sekali ingin menghindar.
"Sei?" Mata Tetsuya menyipit tidak setuju. "Darahnya merembes ke kimono."
Tetsuya diabaikan.
"Aku mau ke pemandian. Terima kasih untuk bantuanmu."
Seijuurou berdiri, bersiap melangkah menuju pintu. Tidak terima, Tetsuya menarik ujung lengan Seijuurou. Pria yang kini telah menjadi suaminya itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas futon. Wajah Tetsuya menguasai jarak pandang Seijuurou.
"Sei-kun…"
Suara Tetsuya seperti terdengar akan menangis. Seijuurou menelan ludah. Di sudut pikiran, sang naga merecokinya untuk melepas semua kendali diri yang tidak berguna.
Memijat pelipis, Sejuurou memalingkan wajah. "Dengar. Aku tidak ingin menyakitimu."
Tubuh Tetsuya didorong. Yang bersangkutan bersikeras tidak mau menyingkir. Seijuurou dipaksa pasrah memangku pemuda keras kepala yang tidak sayang nyawa.
"Yang di dalam dirimu, mencintai yang ada di dalam diriku. Itu pasti." Seijuurou menatap Testuya serius. Ditangkupnya pipi empuk Tetsuya agar pemuda itu tak memalingkan wajah. "Tapi kau dan aku adalah kasus yang berbeda. Aku tidak mau merebut kehendakmu untuk jatuh cinta pada siapapun."
"Apa kau tidak menyukai aku, Sei-kun?"
"Bukan itu. Maksudku—"
Seijuurou dibungkam dengan pelukan erat.
"Aku mencintaimu, Sei-kun. Aku yakin itu." Salah satu kelebihan Kuroko Tetsuya adalah sikap jujur dan terang-terangan. Senjata tepat untuk menghadapi Seijuurou yang seringkali berpura-pura tenang dan kuat. "Bukan soal sang naga maupun kekasihnya. Ini kehendakku sendiri. Aku tahu kau hebat; kau kuat karena bisa menanggung semua sakit itu seorang diri sampai sekarang. Tapi kau bukan Tuhan. Jangan menebak-nebak aku."
"Aku…" Seijuurou berusaha mencari kata-kata yang tepat. Berdebat termasuk salah satu keahliannya. Ketenangan dan daya pikir, membuat Seijuurou termasuk lawan tangguh dalam adu argumen. Tapi Tetsuya tidak mencari perdebatan. Tetsuya jelas memancing keributan jika begini caranya; tentu agar Seijuurou lepas kendali. Dan tujuan Tetsuya hanya satu; memenangkan pertarungan ini.
"Kau ingin mengenal aku lebih baik, Tetsuya?"
"Ya."
.
.
Tetsuya memalingkan wajah ke arah lain ketika fabrik lembut kimono turun dari bahu Seijuurou. Kain hitam mahal bersulamkan benang perak teronggok di tepi kolam seolah tiada harganya.
Suara permukaan air terpecah terdengar ketika Seijuurou dengan santai membenamkan separuh tubuhnya.
"Mau mundur?"—dilemparkan dengan nada geli.
"Tidak."
Meski demikian, Tetsuya gemetar juga ketika ia harus melepas satu persatu atribut pakaiannya. Beruntung, Seijuurou tidak ngotot melirik ke balik punggungnya untuk memerhatikan Tetsuya.
Tetsuya nyaris menarik diri ketika merasakan dinginnya air menyentuh ujung jari. Tapi melihat kilasan senyum miring Seijuurou membuatnya memantapkan hati.
Bunyi kecipak terdengar keras ketika Tetsuya memutuskan untuk tidak setengah-setengah bertindak. Instingtif, ia mendekat pada Seijuurou. Pemuda berambut merah menyambutnya dalam pelukan.
"Dingin, Sei-kun."
"Sebentar lagi kau akan terbiasa."
Tetsuya duduk dengan memeluk lutut. Lengan Seijuurou memeluknya dari belakang. Sesekali iseng menyiramkan air dingin ke pundak sang istri.
Mendelik, "Sei-kun."
"Apa?"
"Jadi untuk apa kita di sini?"
"Kukira kau mau mengenalku? Ini bagian yang terpisahkan dari kehidupanku dua abad ini. Aku harus selalu disucikan."
Aneh rasanya. Bagaimana mungkin keberadaan yang terisolasi dari dunia macam Seijuurou bisa begitu kotor?
"Tetsuya?"
Impulsif mungkin adalah bagian kepribadian yang selama ini tertidur dalam diri Tetsuya. Karakter yang baru disadarinya setelah kini ia bersama Seijuurou. Bersama pria itu, Tetsuya menjadi dirinya yang berbeda.
Pelukan erat. Tetsuya berharap Seijuurou tidak menyadari pipinya yang memerah ketika mereka bersentuhan begitu dekat, kulit ke kulit. Andai mereka bisa terus seperti ini.
"Se-Sei!"
Tetsuya adalah yang pertama menarik diri ketika menyadari bahwa rajah naga di punggung Seijuurou meradang merah.
Darah yang semula Tetsuya kira sudah mengering kini mengelupas. Likuid merah kini menodai jernihnya air.
"Jangan berteriak di dekat telingaku, Tetsuya."
Buru-buru Tetsuya mendorong Seijuurou, membujuknya untuk keluar dari air. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan ketelanjangan mereka berdua. Dia hanya merasa khawatir; dan juga marah.
Ditamparnya pipi Seijuurou dengan dua tangan. Seijuurou terbelalak.
"Kenapa?" Kesal. Kesal. Kesal. Tetsuya benci sekali dengan situasi ini. Ia begitu emosi sampai merasakan dadanya amat sangat sesak dan matanya memanas. Ia memukul-mukul dada Seijuurou.
Seijuurou ingin menahan semua sakitnya sendiri? Baik. Biar Tetsuya tambah semua rasa sakit itu! Biar dia buat Seijuurou tidak bisa sok kuat lagi dan akhirnya meminta bantuannya.
"Apa aku sebegitunya tidak bisa dipercaya?" Racau Tetsuya.
"Bukan itu!" Intonasi Seijuurou meninggi. Bahkan ia sendiri kaget dengan perubahan emosinya.
"Biarkan aku menolongmu kali ini."
Check mate. Seijuurou tak bisa lagi mengelak dari pandangan memohon itu.
"Kumohon, Sei…"
.
.
Mungkin ini yang dideskripsikan banyak orang sebagai kecupan kupu-kupu dalam banyak novel romansa. Ringan dan menggeltik. Tetsuya memejamkan mata merasakan bibir Seijuurou meninggalkan bekas kecupan di dahi, rahang, dan pipinya.
Kecupan berikutnya mendarat di sudut bibir.
"Wajahmu memerah."
"Di sini tidak seterang itu. Jangan mengada-ngada."
"Jangan bohong. Aku tahu kok." Tangan meraba pipi, mencubit pelan. "Wajahmu terasa panas soalnya."
"Jangan mengejekku dan lakukan saja."
"Kau ini perawan, Tetsuya. Bersikaplah sesuai dengan fakta itu."
Seijuurou mendorongnya lembut. Tetsuya memalingkan wajah, membiarkan suaminya memberi jejak sesuka hati di leher jenjangnya.
"Bolehkah?"
"Lakukan saja. Sei-kun terlalu banyak bertanya."
Tertawa kecil, Seijuurou mengusap kulit leher sensitif dengan ujung telunjuk. Ia bergerak selembut mungkin. Menggigit sepelan yang ia bisa. Tetsuya melenguh.
Hangat darah mengalir, mencetak jejak di atas sarung bantal. Seijuurou berusaha meraup sebisanya agar tak ada yang tercecer.
Yang menguasai indera pendengaran Tetsuya hanya tiga hal. Bunyi napas yang beradu, detak jantung yang menggila, dan darah yang diteguk Seijuurou perlahan. Ketika mereka kembali berhadapan, mata ke mata, Tetsuya dapat melihat iris emas Seijuurou berkilat cantik. Seperti dalam mimpinya.
"Cantik…"—instingtif, ia berbisik.
Seijuurou menganggapnya sebagai lelucon. Demi apapun. Satu-satunya yang cantik di sini adalah istrinya ini.
Gemas, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup dalam bibir Tetsuya.
"Mmh…"
Tetsuya tidak tahu bahwa kontak fisik seintim ini bisa terasa amat nikmat. Rasanya seperti ada kejut menyenangkan yang menguasai tubuhnya, membuatnya bereaksi dengan amat spontan.
"Ciuman pertamaku rasanya tidak enak. Seperti darah." Tetsuya merengut. Menggosok bibirnya dengan punggung tangan.
Senyum. "Oh ya? Tapi yang barusan itu kedua."
Menganga. "Sei! Kau—ukh. Kapan kau?!"
"Sssh…"
Tetsuya menatap suaminya tidak percaya. Seijuurou pernah menciumnya—di bibir—dan dia tidak tahu. Sebagai tambahan, Seijuurou pun sepertinya tidak berniat memberitahunya kapan ia melakukannya. Ini lelucon besar yang sangat tidak lucu.
"Sei?!"
"Itu tidak penting."
"Penting untukk—Sei!"
Perhatian Tetsuya teralih ketika tangan Seijuurou mulai memeloroti kimononya. Kulit mereka berdua sama-sama begitu dingin dan terasa lembab—sisa-sisa air mandi sebelumnya. Tapi sentuhan dan semua kontak yang terjadi menyebarkan panas begitu cepat. Tetsuya pening karenanya.
Apa ini mimpi?
Apakah boleh segalanya berjalan semulus ini?
"Se-Sei!"
"Maaf."
Sepelan apapun Seijuurou melakukan pergerakan, Tetsuya terlanjur sensitif di bawah kuasanya. Gerak terkecil sekalipun membuatnya mengerang, menahan jerit, dan mendesah keras. Di bawah kesadaran yang kabur karena deraan nikmat, Tetsuya sesekali balas menggigit. Lupa akan adanya luka di tubuh Seijuurou dan kini mencakarinya gemas.
Seijuurou tidak keberatan.
Ketika ia jatuh rebah di sisi Tetsuya, diperhatikannya wajah cantik yang kini berpeluh itu tampak amat damai. Ia menarik Tetsuya dalam pelukan, mendekap erat.
"Semoga mimpi indah."
.
