Naruto merangkak di atas tubuh Kaguya, memiringkan kepala lalu memberikan French kiss di bibir lembut tersebut. Lumatan bibir Naruto begitu gemulai, mengemut bibir ranum Kaguya lalu memasukan lidahnya di sela bibir yang terbuka.

"Huum..." Lidah Kaguya terlihat kaku saat Naruto melilit nya, menghasilkan tetesan saliva di sudut bibir Kaguya dan jatuh menuruni wajah. Naruto menghentikan ciumannya, sebelum menjilati saliva Kaguya.

Tubuh Kaguya berdesir sesaat, ketika ciuman Naruto menjalar di pangkal leher, ia bisa mendengar deru napas Naruto yang mulai sesak saat sang suami menggigit leher jenjang Kaguya.

"Kagu-chan, aroma tubuhmu, aku suka!" Naruto berbisik lirih, ia perlahan bangkit dan berlutut, menatap Kaguya yang tengah terbaring di bawahnya.

Ekspresi Kaguya sulit dijelaskan, namun perasaan nya saat ini campur aduk, ia senang dipuji oleh suaminya, tapi pujian itu memalukan bagi Kaguya.

Naruto tersenyum, sebelum meraba dua payudara Kaguya dengan telapak tangannya. Istrinya saat ini masih mengenakan gaun pesta, jadi Naruto tidak terlalu puas memijat daging kenyal tersebut.

"Bolehkah aku menikmati tubuhmu, Kagu-chan?"

"Ten-tu saja, Naruto-kun! Kau kan suamiku,"

"Kalau begitu, kemarilah, akan kubantu melepas gaunmu!" Kaguya pasrah saat tubuhnya ditarik oleh Naruto, suaminya itu membawanya turun dari ranjang. Posisi berdiri mereka tampak intim, dengan Naruto merengkuh tubuh Kaguya.

Sebab tinggi Kaguya hanya sebahu Naruto, ia mendongak saat menatap wajah tampan suaminya. Tatapan mereka kembali bertemu, ia seakan terbius oleh sapphire indah tersebut, sebelum melonjak untuk meraih bibir Naruto.

Naruto tak menyangka akan mendapat ciuman dari istrinya, Kaguya menciumnya singkat sebelum menjulurkan lidahnya, Naruto tanpa sadar menjilat lidah tersebut.

Awalnya mereka hanya saling jilat lidah masing-masing, namun hasrat kedua sejoli itu semakin terpancing berkat rasa liur pasangannya.

Naruto kemudian menurunkan resleting gaun Kaguya, membiarkan gaun putih itu jatuh menerpa lantai. "Cuap," Naruto sedikit penasaran dengan bentuk tubuh Kaguya, jadi ia langsung melepas ciumannya dan menatap setiap jengkal tubuh menggairahkan tersebut.

Kaguya merasa ingin sekali menutupi tubuhnya karena malu, tapi mencoba bertahan dan membiarkan Naruto memandangi tubuhnya.

Rambut perak panjang, menuruni punggung. Kulit putih sebening susu, payudara ukuran D-cup yang dilindungi bra cantik, lalu perut yang rata. Senyum binal Naruto tersungging, memang keindahan Kaguya masih kurang dari bidadarinya, Otome.

—Namun tubuh Kaguya dapat ia nikmati seutuhnya, berbeda dari Otome yang ia perlakukan dengan lembut.

Naruto menarik handuk yang terbelit di pinggangnya. Penis yang setengah berdiri itu muncul bergelantungan. Kaguya melirik penis itu sebentar sebelum mengalihkan kembali pandangannya, kembali tersipu malu.

Naruto terkekeh, ia tak menyangka Kaguya yang terkenal anggun itu sama sekali tak berpengalaman. "Terimakasih ya!" Naruto berbisik lembut sambil merangkul tubuh Kaguya, dengan lembut melepas kait bra Kaguya.

Kaguya menarik kembali tatapannya, bertemu pandang dengan sapphire yang menatapnya lembut. "Untuk apa?"

Naruto hanya tersenyum menggelengkan kepala, telapak tangannya kemudian mengelus perut rata Kaguya, "Sepertinya ini kamu suka jogging ya, tubuhmu lumayan membuatku birahi, Kagu-chan!"

"Be-begok!" Kaguya kembali ingin menoleh, menghindar tatapan dari Naruto, namun jemari lentik suaminya menahan dagu Kaguya sebelum kembali mengucap bibirnya.

Bersamaan dengan jemari Naruto yang mengelus perut Kaguya turun menyusup ke dalam celana dalam. Sambil berciuman, suaminya memijat payudaranya, sekaligus menggesek vaginanya.

Kaguya merasa kepalanya kosong, tapi ia mulai menikmati setiap sentuhan pria tersebut. Ia hanya mampu pasrah merenggut leher Naruto di saat tubuhnya mulai mati rasa, mengalungkan lengannya di leher suaminya agar mampu berdiri.

"Ngghh.." Ia mendesah. Setetes air mata jatuh di pelupuk mata, ia menangis bahagia.

—Karena telah memiliki Naruto seutuhnya.

"Kagu-chan, apa aku menyakitimu?" Meskipun hatinya tak cemas seperti saat melihat Otome menangis, Naruto tetap bertanya. Ia merasa perlakuannya berlebihan untuk seorang gadis seperti Kaguya, jadi ia menghentikan semua kegiatannya.

"Ti-tidak, aku hanya bahagia."

Senyum yang hangat nampaknya telah biasa Naruto berikan padanya, jadi Kaguya senang telah berhasil membuat Naruto luluh, ia merasa suaminya tulus mencintainya.

"Begitu. Kukira tindakanku berlebihan."

Kaguya menggeleng pelan, sambil tersenyum dan mulai meraih penis Naruto.

—Keras dan hangat. Begitulah yang dirasakan oleh genggaman Kaguya.

"Jika kau berhasil menaklukan penis ku ini, ku kasih kau hadiah, Kagu-chan!"

Kaguya memerah sekali lagi, tapi tak mencoba memalingkan wajahnya. "Benarkah?"

Sekali lagi Naruto terkekeh. Ia merasa hasrat seksualnya sedikit berbeda ketika bersama Kaguya, dan Naruto menyukai perbedaan itu.

Naruto kembali menarik tubuh Kaguya, duduk berdua di tepi ranjang. Sebelah tangannya melingkar di punggung Kaguya, kemudian meremas sebelah payudara Kaguya.

—Sedangkan istrinya mulai mengocok penis tegak Naruto, ia juga tak mau kalah lalu menyusupkan kembali jarinya ke celana dalam wanitanya, kemudian bermain di sekitar jurang basah tersebut.

"Ahn... ah, ah!" Sambil memejamkan mata Kaguya mendesah, ia juga terus mengocok penis Naruto yang bertambah panas di telapak tangannya.

Lenguhan Kaguya membuat ia tambah gemas, Naruto menyalurkan hasrat seksualnya di kulit seputih Kaguya; menciumi setiap jengkal kulit Kaguya, dimulai dari bahu terus ke leher kemudian telinga.

Rintihan kecil wanitanya itu membuat Naruto semakin terangsang. Merasa tak puas, ia kemudian mendorong tubuh Kaguya, merangkak di atas istrinya sebelum menyambar payudara Kaguya.

—Mengisapnya kuat. Penis Naruto yang panjang, bergesek di sekitar selangkangan Kaguya, kebetulan 'naga kecil' nya berhasil menyelip masuk ke dalam sempak Kaguya. Bergesek di bibir Vagina Kaguya yang telah licin.

Sedemikian rupa Naruto merangsang nya, hingga kepala Kaguya merasa kosong. "Enak sekali!" Ia tak tahu apa yang terjadi, namun semua panas tubuhnya serasa berkumpul di satu titik, selangkangannya.

—Kemudian tubuh Kaguya bergetar, sebelum sesuatu ingin keluar dari tubuhnya.

"Ooohh..." Tubuh Kaguya menegang sesaat, ia hanya mampu mendongak dan menggeliat di bawah kurungan tubuh Naruto.

—Cairan hangat pun menyembur, membasahi penis Naruto.

Naruto mengangkat alis, dan berhenti dari semua kegiatannya, lalu sedikit mengangkat tubuhnya. Penglihatannya jatuh di celana dalam Kaguya, terlihat tonjolan dari penis miliknya dari helai kain basah tersebut.

Sebelum menarik penisnya pelan, ia kagum saat melihat kejantanannya basah kuyup oleh lendir hangat. "Lihatlah kau mengotori-nya, Kagu-chan!"

Kaguya yang sedang menenangkan deru napasnya di bawah, membuka mata sayu, wajahnya memerah saat melihat penis basah Naruto.

—Ukurannya bertambah besar dari sebelumnya.

"Sepertinya, kita langsung ke hidangan utama!" Ujar Naruto. Ia sekali lagi mengubah posisi Kaguya, istrinya pasrah saat Naruto menunggingkan tubuh semok itu di hadapannya.

Dengan perlahan Naruto melucuti celana dalam Kaguya, terlihat lendir dan buih di bibir vagina Kaguya. Naruto meneguk ludah saat melihat pemandangan tersebut; warna merah muda, dengan klitoris menegang di atasnya.

Tangan kekar Naruto tanpa sadar membelai pantat Kaguya, meremasnya kuat dan memijit daging kenyal tersebut. Kaguya yang bertumpu di lengannya bergetar, pijatan Naruto sekali lagi mengosongkan pikirannya.

—Tetapi, sesaat kemudian darah Kaguya berdesir, berbeda dari sebelumnya, birahi Kaguya tumbuh setelah candu dengan sensasi orgasme pertamanya.

Naruto menempelkan kepala penisnya di bibir vagina Kaguya, memposisikan penisnya dengan pas lalu perlahan menusuknya.

"Uhk!" Bola mata Kaguya melebar, erangan-nya berubah menjadi jeritan saat penis keras Naruto terus mencoba masuk menembus pertahanannya. "Aahhh... be-sar sekali!"

Darah terciprat saat keperawanan Kaguya direnggut Naruto, benda panjang yang masuk ke dalam tubuhnya berkedut, dan terasa kian membesar.

Naruto merasa cairan hangat membungkus penisnya, dinding vagina istrinya juga ketat, memijit penis dari dalam. Ia ketagihan oleh sensasi tersebut, birahi nya yang memuncak, memacu dirinya untuk terus masuk lebih dalam, ingin mencapai G-spot Kaguya.

"Uuuhhh... ngghh, ahn!" Meskipun merasa sakit, tapi Kaguya cepat beradaptasi, ketika penis panjang itu menyentuh ujungnya Kaguya mulai merasa ke enakan.

—Vagina Kaguya memang tak sedalam daripada Otome, namun Naruto merasa milik Kaguya lebih panas ketimbang istri pertamanya.

Naruto mulai memacu penisnya, posisi doggy membuat gerakan Naruto lebih leluasa. Vagina ketat milik Kaguya cepat terbiasa dengan ukuran penisnya, Naruto merasa mulai kehilangan akal hanya dengan beberapa detik goyangan.

"Punyamu yang terbaik, Kagu-chan!" Naruto mendesis, pegangan tangannya mulai ia tukar. Menyusupkan dari belakang tangannya, dan menjangkau payudara Kaguya.

Ia meremas sambil terus menggenjot vagina istrinya dengan ritme teratur. Kaguya mendesah kuat, meracau tentang berapa luar biasanya kenikmatan yang ia rasakan.

Pikiran kedua sejoli itu semakin tenggelam dalam kenikmataj setelah beberapa menit bercinta. Suara peraduan kulit dan cipratan cairan juga ikut terdengar, di sela desahan lembut Kaguya.

"Ahh! ahh ohh uhh..." Tubuh Kaguya menegang, pertanda dirinya telah akan mendapatkan puncak kenikmatan. Naruto yang mengetahuinya juga ikut fokus pada bagian bawah, di tempat mereka menyatu.

—Dalam sentuhan hangat yang membuat penisnya meleleh.

Di ujung tusukan terakhir, Kaguya terlebih dahulu mengalami orgasme, ia memekik sekuat tenaga, menyerukan betapa nikmatnya penis Naruto. Kaki jenjang itu sampai naik mengunci paha Naruto, mendorong tubuh suaminya untuk lebih menggali lebih dalam.

"Kagu-chan!" Naruto berseru dengan serak. Penisnya meledak, menyemburkan banyak cairan panas lainnya masuk ke dalam rahim Kaguya. Tubuh wanitanya ambruk saat rasa panas itu membakar rahimnya, Kaguya menjerit hening menerima cairan panas Naruto.

—Bahkan setelah sekian menit berlalu tubuh Kaguya masih tegang di bawah tindihan Naruto.

Ia mencabut penisnya ketika merasa Kaguya telah kehilangan semua tenaganya, biar bagaimana pun ini pertama kalinya bagi istri ke-2 Naruto. Istrinya melenguh singkat saat penis keras itu meninggalkan sangkarnya, terlihat vagina Kaguya tampak melebar daripada sebelumnya.

Naruto menjatuhkan tubuhnya di sisi Kaguya, menatap langit-langit kamar. Penisnya masih berdiri teracung di sana, entah kenapa ia malah mengingat Otome pada saat ini.

—Jika itu kamu sayangku, kita akan menghabiskan malam yang panjang.

Naruto mengeluh singkat. Ia melihat Kaguya telah tertidur, keringat membasahi tubuhnya. Ia mengelus singkat pipi Kaguya, sebelum memperbaiki posisi tidur istrinya tersebut, kemudian menyelimuti nya.

—Sedangkan ia, memilih keluar kamar setelah memakai celana. Tanpa atasan ia keluar, mengejutkan para maid yang masih membereskan sisa-sisa pesta.

Naruto baru sadar telah menghabiskan waktu sejam lebih bersama Kaguya, para tamu undangan pun telah lama pergi dari kediaman Otsutsuki.

Para maid memerah malu saat melihat tubuh sixpack Naruto, namun sang pria tak peduli dan melenggang menuju taman belakang.

"Mengapa kau ada di sini bocah?" Ketika Naruto menyalakan rokoknya, sebuah suara menginterupsi, tanpa menoleh ia menghembuskan asap rokok yang baru saja ia bakar.

"Ia tertidur pulas setelah satu ronde..." Naruto berucap datar, dan menghasilkan kekehan dari orang yang baru bergabung bersamanya.

"Kau juga salah, seharusnya kau lebih menahan diri pada saat pertama kalinya." Hagoromo, pria tua itu tersenyum ke arah Naruto setelah berdiri sejajar dengan pria pirang itu.

"Oh, salahkan tubuhnya yang terlalu menggoda," Setitik tatapan lembut dapat Hagoromo temukan dalam sapphire dingin tersebut, ia tak bisa mendesah lega saat melihatnya.

"Syukurlah, aku lega jika kau ada keperdulian terhadap cucuku!"

"Meskipun saat ini aku belum mencintainya, aku juga tak membencinya," Naruto berujar, tapi nadanya tak sedingin sebelumnya. Hagoromo yakin bahwa Naruto sama sekali tak berbohong.

—Ia juga yakin, dimata Naruto cucunya tak hanya sebatas pemuas nafsu belaka.

"Besok aku akan membawa Kagu-chan menemui istriku, aku tak berharap ia akur. Tapi aku sangat ingin hati Kagu-chan bisa menerima bahwa ia bukanlah satu-satunya istriku!"

Nada tegas Naruto jelas bagi kakek tua itu. Pria itu seakan menegaskan, di hatinya, Naruto lebih mengutamakan istri pertamanya.

"Kalau begitu aku menyerahkan cucuku, padamu..."


Ya. ~dan kembali lagi bersama Author baru ini, meskipun baru dalam dunia menulis tapi aku yakin pengalamanku lebih dari kalian... ya karena aku telah berkeluarga sih, ya!

Saya tak tahu apakah lemonan tadi cukup asam untuk kalian, tapi saya harus akui saya sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak menyerang si'dia' yang lagi tidur di sebelahku. (Berusaha mati-matian cuk, nulisnya!)

Oh iya, kalian bisa menggunakan apl FFN jika kalian masih ingin terus membaca ceritaku. Bisa kalian Follow nih story agar mendapatkan e-mail dan link, yang bisa kalian gunakan jika terjadi error seperti sebelumnya.

Sekian dari saya, jangan lupa berikan komentar kalian untuk ch ini!