The Deep Love that More Pain
Main cast :
Park Baekhyun 33 tahun
Park Chanyeol 33 tahun
Oh Jongin 31 tahun
Do kyungsoo 24 tahun
Sinopsis :
Hidup Bersama dengan orang yang kau cintai lebih dari 15 tahun pasti sangat membahagiakan, tapi bagaimana jika saat kau menyerahkan seluruh hidupmu untuk orang yang kau cintai dan kau mengetahui bahwa kekasihmu itu mengkhianatimu? Itu yang Baekhyun rasakan dikala tubuhnya lemah karena penyakit yang di derita dan kekasihnya yang berubah. Dan saat Baekhyun sudah menyerah dengan cintanya itu sesuatu yang sebenarnya terjadi terungkap.
Baekhyun membuka perlahan matanya, dia berusaha membiasakan cahaya masuk kedalam retina matanya, setelah dia terbiasa, baekhyun merasa tangannya hangat dia melihat sebuah genggaman sedang menggenggam tangannya erat.
"Channie" suara baekhyun lemah dia berusaha menggerakkan tangan kanannya menggapai kepala yang dia yakini chanyeol, dia mengelus rambut halus 'chanyeol' hatinya menghangat melihat 'chanyeol' menemaninya selama ia tidak sadarkan diri.
Merasa ada seseorang mengelus kepalanya namja yang tertidur itu bangun dan matanya membulat besar, ada kegembiraan dan khawatir pada tatapannya. "Baekhyun kau sudah bangun, apa kau merasakan sakit disuatu tempat, atau kau membutuhkan sesuatu?" rentetan kalimat mengalir begitu saja, baekhyun melihat namja itu dan dengan perlahan senyuman yang sebelumnya terkembang diwajahnya kini menghilang, seseorang yang dia yakini Chanyeol itu ternyata Jongin. Baekhyun kecewa dan sedih binar sendu terlihat di kedua mata baekhyun.
Jongin mengerti arti tatapan itu, hatinya sakit tapi siapa dirinya berhak merasa sakit hati. "Aku dimana"
"kau dirumaku" jongin masih menggenggam tangan baekhyun, ia takut jika ia melepaskan tangan itu maka baekhyun akan lari dari hadapannya.
"Bagaimana aku bisa berakhir disini"
"aku melihatmu tidak sadarkan diri didepan penthousemu" baekhyun mengangguk mengerti, dia ingat jika chanyeol telah mengusirnya dan bodohnya dia masih berfikir jika chanyeol akan menemaninya.
"Terimakasih Jongin,tapi bukankah kau sudah pulang, kenapa kau bisa kembali berada di penthouseku"
Jongin terdiam, dia memang sudah kembali pulang hanya saja selama di perjalanan dia hanya mengkhawatirkan baekhyun dan takut hal buruk terjadi padanya, jadi dengan langkah pasti ia kembali menuju penthouse baekhyun, semalaman dia berada di mobil melihat tempat baekhyun berada, hingga sinar matahari muncul yang menganggu tidurnya dia memantapkan hatinya untuk membawa pergi baekhyun dari sana. Dia tidak akan membiarkan baekhyun tinggal lebih lama dengan namja brengsek itu. jongin memikirkan cara agar baekhyun mau ikut dengannya hingga langkahnya berhenti saat melihat suara tangis dan melihat baekhyun memeluk lututnya.
Tidak mendapatkan jawaban dari jongin, baekhyun tidak memaksanya lagipula itu tidak terlalu penting, baekhyun melihat pergelangan tangannya dan melihat selang infus lalu dia melihat sekeliling ruangan dia melihat banyak alat medis yang berada melekat dengan tubuhnya. Baekhyun tersenyum simpul "Apa kau mengangkut semua peralatan ini dari rumah sakit" jongin tersadar dari pikirannya saat mendengar pertanyaan baekhyun.
"Hmm… aku hanya meminjamnya, lagi pula rumah sakit itu milik ayahku jadi tidak masalah" baekhyun menatap jongin, dia tidak pernah berfikir jika jongin sekaya itu. pantas saja dia selalu memiliki waktu senggang untuk merawatnya karena dia dapat dengan bebas melakukan apapun dirumah sakit ayahnya. Baekhyun ingin mengutuknya tapi menelan kembali kutukan itu.
"aku merasa baik-baik saja, jadi kau bisa melepaskan alat-alat ini dan mengembalikannya"
"Tidak… kau belum baik-baik saja, kau tahu kau baru saja melewati masa kritismu dan kau akan pergi sekarang? Aku tidak akan membiarkannya" genggaman Jongin mengerat, kali ini dia tidak akan membiarkan baekhyun pergi, biarlah dirinya bersikap egois kali ini.
"Tapi aku harus kem-"
"Kembali kemana baek…"
Baekhyun tersenyum sedih, benar dia akan kemana, satu-satunya yang dia miliki ialah chanyeol, sekarang chanyeol bahkan tidak ingin melihatnya lagi.
"Diam lah disini, aku akan merawatmu" baekhyun tidak memberikan persetujuan tidak juga menunjukkan penolakan, dia hanya diam. Jongin menganggap itu sebagai persetujuan bahkan jika baekhyun menolaknya juga jongin akan tetap menahan baekhyun disini memastikan pria mungil ini berada di jarak pandangnya.
"Jongin… bisakah kau melepaskan peralatan ini?" baekhyun meminta Jongin untuk melepaskan peralatan medis yang terhubung dengan tubuhnya, dia tidak membutuhkan alat-alat itu.
"Tidak baek… kau harus menggunakan ini"
"Lepaskan jongin… jika tidak aku akan pergi dari sini"
Jongin ragu, dia tidak ingin baekhyun pergi tapi demi tuhan bagaimana mungkin dia bisa melepaskan alat-alat itu, baekhyun membutuhkannya setidaknya alat itu dapat membantunya hidup sedikit lebih lama.
"aku tidak membutuhkan ini Jongin" baekhyun masih berusaha untuk membuat jongin melepaskan alat-alat ini. Dengan berat hati jongin menuruti keinginan baekhyun, dia melepaskan alat-alat yang melekat pada baekhyun bahkan infus juga dia lepas. "Terimakasih." Baekhyun berucap lembut.
"Kurasa kau lapar, aku akan membuatkanmu makanan, tunggulah disini" baekhyun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, setelah itu jongin menghilang dibalik pintu.
Saat ini chanyeol sedang berada di balkon dimana bunga Gardenia yang dirawat baekhyun mulai layu, daun-daunnya mulai berwarna kecoklatan. Chanyeol menatap tanaman itu, ingatannya kembali bagaimana pertama kali dia mengenal baekhyun, dia tersenyum kecut mengingat itu dia menendang tanaman itu, tidak puas dia bahkan menginjak tanaman itu. saat dia akan menginjak tanaman yang berbunga pergerakannya berhenti, dia berjongkok dan memperhatikan bunga putih bersih itu. "Kenapa kau sangat harum, menyakiti hidungku saja" setelah itu chanyeol pergi meninggalkan bunga itu, membiarkannya berdiri sedirian dengan tanaman lain yang sudah terinjak-injak.
"apa yang kau lakukan disini, seingatku aku tidak mengundangmu datang, jika tidak ada keperluan pergilah" sehun yang mendengar ucapan chanyeol ingin sekali melayangkan pukulan pada wajah tampannya.
"Diamlah, aku disini ingin memberikanmu sesuatu"
"Maaf mengatakan ini tapi aku sedang dalam suasana hati yang buruk jadi pergilah" chanyeol mengatakan itu dengan wajah datar, menatap sehun, dia saat ini sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun apalagi makhluk albino yang ada dihadapannya ini.
Tidak tahan dengan ucapan chanyeol sehun melemparnya dengan buku, saat ini mereka berdua berada di ruang baca baekhyun. hanya ruangan ini yang sangat menenangkan dan nyaman untuk digunakan.
"Sejak kapan"
"Huh… apa maksudmu" chanyeol bingung dengan perkataan sehun. "Berbicara dengan benar brengsek, jika tidak pergilah" untuk kesekian kalinya chanyeol menyuruh sehun untuk pergi, dia hanya ingin menenangkan dirinya, dengan kedatangan sehun hanya membuat suasana hatinya bertambah buruk.
Sehun tiba-tiba melemparkan amplop putih pada chanyeol, amplop itu jatuh tepat di pangkuan chanyeol, tidak ada niatan untuk mengambilnya, melihat itu sehun menatap jengah dan dengan isyarat mata sehun meminta chanyeol untuk mengambilnya jadi chanyeol mengambil amplop itu dan meremasanya, sehun hanya menghelas nafas panjang melihat kelakuan kurang ajar chanyeol jika dia tidak tahu apa yang terjadi pada chanyeol mungkin dia sudah menyeret chanyeol dan melemparnya dari atas balkon, dengan sabar sehun menatap chanyeol dan duduk didepannya "Bukalah chan"
Chanyeol membukanya, sorot mata chanyeol menjadi dingin melihat isi surat itu, chanyeol mengeluarkan sesuatu di kantung celananya, sebuah benda berwarna hitam, korek api elektrik dengan menggunakan fingerprint dia menyalakan korek api itu dan membakar surat yang baru saja dibacanya, chanyeol hanya melihat surat itu perlahan menjadi abu. "Lupakan saja… itu bukan urusanmu" chanyeol menatap sehun dingin "pergilah". Tapi sehun tidak mengindahkannya dia mendekat pada chanyeol "sejak kapan kau mengetahui ini chanyeol dan kenapa kau menyembunyikannya"
"apa kau tuli… aku menyuruhmu untuk pergi"
"Oke maafkan aku… tapi chan sebagai sahabatmu aku ingin mengatakan jika kau harus memberitahu baekhyun yang sebenarnya"
"Tutup mulutmu brengsek, tidak ada yang akan berubah bahkan jika kau mengatakannya kepada baekhyun" emosi chanyeol tersulut dia tanpa sadar melempar sehun dengan korek api, untung saja sehun memiliki refleks yang baik jadi dia dapat menghindari lemparan itu.
"ck… dasar pemarah" sehun mengehindikkan bahu dan berjalan keluar sebelum dia menutup pintu sehun berbalik "kau tahu chan… mungkin saja baekhyun juga sama sepertimu dan kau hanya salah paham" setelah itu sosok sehun benar-benar menghilang dari pandangan chanyeol.
Chanyeol duduk dikursi dimana biasanya baekhyun tempati, dia menghirup aroma yang sangat dia kenal, chanyeol memejamkan matanya memikirkan ucapan sehun "Baekhyun… kemana kau" chanyeol membuka matanya dan mulai berjalan mengelilingi ruangan itu, dia melihat-lihat buku yang berada disana hingga perhatiannya teralihkan pada sebuah buku dengan judul "Angel of Morning Star Club" chanyeol tahu, ini buku yang dia gunakan sebagai alasan agar baekhyun bersedia menjadi kekasihnya. Chanyeol membuka buku itu dia hanya membolak balikkan halaman tanpa ada niatan untuk membacanya hingga dia melihat bercak kemerahan pada sebuah halaman.
"Bercak apa ini?" chanyeol memperhatikan bercak kemerahan itu, dia mengelusnya bercak itu untuk mengenali tekstur dari bercak kemerahan itu.
"Darah?" chanyeol meletakkan buku itu dan mengambil buku lainnya, dan terdapat bercak darah yang sama pada salah satu halamannya, jantung chanyeol berdetak kencang tiba-tiba perkataan sehun terngiang dikepalanya "kau tahu chan… mungkin saja baekhyun juga sama sepertimu dan kau hanya salah paham" dan chanyeol mengambil buku yang lainnya memeriksa apakah ada bercak yang sama dan benar saja Sebagian buku terdapat bercak darah pada halamannya. "apa yang terjadi padamu baek.. kenapa terdapat bercak darah pada buku-buku ini"
Chanyeol panik, apakah baekhyun sakit selama ini? "Obat apa ini" benar baekhyun menyembunyikan obat dibalik rak buku, chanyeol langsung menuju rak itu dan menemukan obat-obat yang diletakkan dengan sangat baik. Chanyeol dengan tergesa-gesa mengambil obat itu dan membawanya ke klinik terdekat. Dia memiliki perasaan buruk mengenai obat itu.
"Katakan padaku obat apa ini" chanyeol tidak peduli jika dia menyerobot antrian, dia hanya ingin mengetahui obat apa ini.
"Tuan maaf bisakah anda antri terlebih dahulu"
"CEPAT KATAKAN SAJA OBAT APA INI" apoteker terkejut mendengar teriakan chanyeol dan beberapa pengunjung menatap chanyeol kesal tapi mereka tidak berani untuk menyela. Apotekernya menghela nafas dan mengambil obat yang chanyeol bawa dia memperhatikan obat tersebut.
"Ini obat Imatinib obat ini digunakan untuk menghambat pertumbuhan protein tirosin kinase dalam tubuh tuan"
"Jadi… ini obat untuk penyakit apa"
"Obat ini dikonsumsi untuk penderita Kanker Darah atau sering dikenal Leukimia tuan, biasanya ada beberapa obat lain untuk tambahan seperti - TUAN" apoteker kaget melihat chanyeol jatuh berlutut. Beberapa pengunjung juga kaget melihat namja asing yang datang marah-marah, mengerobot antrian mereka dan sekarang sedang berlutut.
"Tuan anda tidak apa-apa"
Chanyeol tidak mendengar apapun lagi, pikirannya menjadi blank, matanya berkaca-kaca, dia tidak menyangka jika selama ini baekhyun menahan sakitnya seorang diri, sendirian tanpa siapapun. chanyeol menangis menyesali semua perbuatannya kepada baekhyun, selama ini baekhyun-nya bertahan disampingnya walaupun rasa sakit menjalari tubuhnya dan dia dengan tega menuduhnya berselingkuh.
"Baekhyun… maafkan aku" pengunjung hanya melihat chanyeol menangis, mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihat chanyeol yang menangis seperti itu membuat beberapa pengunjung khawatir, beberapa mendekati chanyeol dan menanyakan keadaannya tapi tidak satupun pertanyaan yang dijawab oleh chanyeol. Pikirannya sedang kacau sekarang, perasaan menyesal mendominasi dirinya sehingga menimbulkan rasa sesak yang menyakitkan didadanya.
"Tuan anda tidak apa-apa?"
"Baekhyun… baekhyunku… maafkan aku" hanya nama baekhyun yang keluar di bibir chanyeol, nafasnya menjadi berat chanyeol memegang dadanya dan memukul-mukul dadanya dengan cukup kuat berharap rasa sakit yang dia rasakan dapat menghilang.
"Baekhyun" hingga akhirnya chanyeol tidak sadarkan diri.
"Apa yang kau lakukan baek" perhatian baekhyun teralihkan mendengar suara jongin, baekhyun meletakkan album foto yang berada di kamar jongin, dia tersenyum dan menunjukkan album itu "kau terlihat sangat imut saat masih kecil, lihat betapa manisnya dirimu Dr Kim" sudut bibir baekhyun sedikit naik dia tersenyum simpul melihat potret kecil Jongin, sabitnya melengkung keatas juga, seakan ikut tersenyum.
"berhenti berjalan-jalan dan kembalilah berbaring" telinga jongin memerah mendengar perkataan baekhyun, dia segera mengambil album fotonya dan menuntun baekhyun kembali ke ranjangnya.
"berhenti menyuruhku berbaring terus, itu sangat melelahkan aku bahkan merasa akan segera meninggal jika terus berbaring"
"jaga ucapanmu baek" jongin menghiraukan protes baekhyun dan tetap membawanya ke ranjang, dia membaringkan baekhyun dan menyelimutinya dengan lembut "istirahatlah baek, aku akan berada disisi mu" perlakuan dan senyum jongin menghangatkan hati baekhyun, dia sudah seminggu berada di rumah jongin, tidak sekalipun jongin melepaskan pengawasannya dari baekhyun, bahkan jika baekhyun ingin ke kamar mandi jongin akan selalu menunggunya didepan pintu namja itu terlalu takut jika ia meninggalkan baekhyun sebentar saja maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada baekhyun.
"kita akan pergi, kakakku memiliki rumah kosong di Damyang, ikutlah denganku baek" iris baekhyun bertemu dengan iris jongin kedua mata itu saling bertatapan lama, baekhyun tidak tahu mengapa jongin ingin membawanya pergi dari Seoul tapi melihat tatapan penuh harap dari jongin membuat baekhyun menganggukkan kepalanya. Selama ini jongin sudah merawatnya dengan sangat baik lagipula tidak akan ada seseorang yang akan mencarinya.
"Bagus, lingkungan disana sangat cocok untuk mu, banyak pohon tinggi disana bahkan kau bisa melihat berbagai macam bunga, aku akan menyiapkan segalanya dan kita akan pergi sore ini" jongin mengelus kepala baekhyun pelan, sebelum dia beranjak untuk berkemas, tangannya digenggam oleh baekhyun "Terimakasih jongin" senyum jongin terkembang, matanya berbinar senang dan dia hanya mengangguk membalas ucapan baekhyun. setelah itu jongin meninggalkan baekhyun sendiri dikamar, dia harus segera mengemas keperluannya dan baekhyun agar dapat segera pergi.
Sepeninggalan jongin baekhyun menatap langit-langit atap, dia termenung memikirkan sesuatu tubuhnya mulai membaik selama dalam perawatan jongin, rasa sakit yang biasa dia rasakan mulai berkurang. Baekhyun memejamkan matanya "apa kau baik-baik saja chanie" baekhyun sudah berusaha untuk tidak memikirkan chanyeol tapi waktu yang mereka habiskan bersama bukanlah sebentar dan perasaan dihatinya sudah melekatkan nama chanyeol sebagai pemiliknya.
Baekhyun membuka matanya dan mendudukkan dirinya, dia melihat cincin yang melekat di jari manisnya "bahkan setelah kehilangan berat badan, kenapa cincin ini masih melekat erat di jariku" baekhyun menatap cincin itu lama. Menghela nafas panjang, baekhyun mengabaikan perintah jongin yang menyuruhnya berbaring. Baekhyun turun dari ranjangnya dan berjalan keluar.
"Apa yang kau lakukan disini" baekhyun mengerutkan keningnya mendengan suara dingin jongin yang tidak pernah dia dengar, jongin seperti sedang berbicara dengan seseorang diluar, dengan hati-hati baekhyun menuruni tangga dan menuju tempat dimana jongin berada.
"Kembalikan baekhyun padaku" Langkah baekhyun berhenti, suara ini dia sangat mengenalnya itu suara chanyeol. Jantungnya berdebar kencang, ada yang berbeda dari suara chanyeol. Baekhyun kembali melangkah semakin mendekat.
"Setelah kau membuangnya, sekarang kau ingin meminta baekhyun kembali, Bermimpilah" jongin menatap sengit chanyeol, dia tahu jika chanyeol mencari baekhyun selama beberapa hari ini. Jongin bahkan mendapat peringatan dari kakaknya untuk memberikan baekhyun kembali tapi jongin mengabaikannya dan tetap tidak akan melepaskan baekhyun. karena kesal kakak jongin Kris Wu mendobrak rumah jongin dan melihat adiknya sedang terduduk memperhatikan seorang namja yang terbaring.
Hati Kris terasa diiris, dia selalu berfikir seberapa cantiknya namja yang disembunyikan adiknya hingga berani melawan perintahnya, dia berharap menemukan namja yang cantik dengan tubuh dipenuhi aroma kehidupan yang segar, dia tidak berharap menemukan seorang namja kurus, tanpa kesempatan untuk hidup. Kriss menyerah, matanya berkaca-kaca melihat bagaimana adiknya merawat dengan penuh kelembutan. Bagaimana mungkin adiknya bisa jatuh cinta dengan namja seperti itu, dengan berat hati kriss memberikan kunci rumah pribadi yang jarang dikunjunginya kepada jongin, membiarkan jongin menikmati waktu bersama baekhyun. biarlah dia rugi miliaran won karena kontraknya dengan perusahaan chanyeol batal.
"Aku mohon padamu, kembalikan baekhyunku"
"Pergilah, aku tidak akan membiarkanmu membawa baekhyun… kau hanya akan menyakitinya"
Tatapan mata chanyeol bertemu dengan iris terang baekhyun, "Baekhyun maafkan aku, aku salah kumohon kembalilah"
Baekhyun menggigit bibir bagian dalamnya, menahan perasaanya melihat chanyeol memohon kepadanya, melihat keadaan chanyeol baekhyun yakin chanyeol tidak dalam keadaan baik-baik saja, mata cekung, pipi tirus, rambut berantakan dan mata yang membengkak. Baekhyun ingin menangis melihatnya. Bagaimana mungkin chanyeol yang selalu terlihat tampan sekarang seperti ini.
Jongin yang menyadari keberadaan baekhyun wajahnya menjadi pucat, dia tahu jika baekhyun sangat mencintai chanyeol mau seperti apapun perbuatan chanyeol. jongin tidak ingin membiarkan chanyeol membawa baekhyun pergi. Dia tidak ingin benar-benar tidak ingin.
"Baekhyun maafkan aku" chanyeol masih memohon meminta baekhyun kembali padanya, dia sangat menyesal.
"Baekhyun kembalilah kedalam" jongin mencoba menghalangi pandangan baekhyun kepada chanyeol. tapi baekhyun mengabaikan jongin dan berjalan perlahan melewatinya. Langkah baekhyun terhenti saat jongin menarik tangannya pelan, jongin menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan memohon meminta baekhyun untuk tidak melangkah lebih jauh. baekhyun hanya tersenyum kepada jongin dan melepaskan tangannya.
Jongin lemas, dia ingin sekali menarik baekhyun menjauh dari sana. Tatapan baekhyun terkunci kepada chanyeol, baekhyun menatap chanyeol lama tanpa ada sepata kata pun yang keluar dari bibirnya. "Pulanglah chan"
Kepala jongin yang tertunduk langsung terangkat, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar, baekhyun meminta chanyeol untuk pulang, apakah dia salah dengar?.
Chanyeol yang mendengar itu langsung jatuh lemas, dia tahu jika perbuatannya sudah keterlaluan tapi dia berharap baekhyun akan memaafkannya.
"Chanyeol" suara lembut terdengar ditelinga baekhyun, disana disamping chanyeol ada kyungsoo sekretaris chanyeol. namja manis itu membantu chanyeol berdiri. Hati baekhyun sangat sakit melihat hal itu. bagaimana mungkin chanyeol memintanya kembali tapi dia membawa kyungsoo bersamanya.
Kyungsoo menatap baekhyun sendu, dia berdiri dan menghampiri baekhyun "Tidak bisakah kau kembali, chanyeol membutuhkanmu"
"Dia tidak membutuhkanku, dia telah membuangku" baekhyun menahan diri agar dirinya tidak mengeluarkan air mata. Dia tidak ingin terlihat lemah saat ini.
"Chanyeol menyesali perbuatannya, tidak bisakah kau berbaik hati memaafkannya? Dia sangat menderita kau tahu" suara kyungsoo meninggi dia kesal dengan baekhyun. bukankah baekhyun itu pemaaf, kenapa dia tidak bisa memafkan chanyeol.
Jongin berdiri didepan baekhyun, menghalangi kyunsoo untuk berbicara lebih banyak dia tidak ingin baekhyun semakin tersakiti "kau tidak mendengarnya, Pergilah dan bawa namja brengsek ini bersamamu"
Chanyeol berlutut, tidak bersuara apapun, air matanya mengalir deras. Baekhyun tidak memaafkannya.
Mata kyungsoo memerah marah "apa kau tidak ingin kembali baekhyun-si, bukankah kau mencintai chanyeol apa kau tidak akan menyesal meninggalkannya"
"DIAMLAH…" jongin berteriak marah pada kyungsoo. Jongin menatap kyungsoo sengit dan dia dengan pelan menarik tangan baekhyun untuk masuk kedalam. jongin membanting pintu dan menguncinya, menutup tirai-tirai jendela menghalangi akses baekhyun dapat melihat kedua namja diluar.
Pertahanan baekhyun jatuh, dia menangis menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar kencang. Hatinya sakit benar-benar sangat sakit. Dia mencintai chanyeol sangat mencintainya melihat chanyeol dalam keadaan menyedihkan seperti itu membuat hatinya sakit, tapi chanyeol sudah membuangnya, chanyeol tidak menginginkannya. Air mata jongin jatuh melihat keadaan baekhyun yang menangis sesegukan, tubuh rapuh baekhyun bergetar hebat dengan air mata yang mengalir deras, dengan perlahan jongin memeluk baekhyun dia menepuk pelan punggung baekhyun berusahan menenangkannya.
Diluar keadaan chanyeol tidak jauh berbeda dengan baekhyun, chanyeol menangis dalam diam dengan posisi yang masih berlutut.
"Baekhyun maafkan aku… kumohon kembalilah" hanya kalimat ini yang terus keluar dari bibirnya, kyungsoo berusaha untuk membawa chanyeol pergi tapi chanyeol tidak beranjak dari posisinya, kyungsoo khawatir dengan keadaan chanyeol dengan mata yang memerah menahan tangis dan amarah kyungsoo meraih batu yang berada di dekatnya dengan kekuatan penuh kyungsoo melemparkan batu itu pada pintu rumah yang tertutup "KAU TAHU BAEKHYUN… KAU AKAN MENYESAL MELAKUKAN INI"
Embun-embun es mulai berjatuhan dari langit, angin dingin berhembus seakan membawa tangis chanyeol dan baekhyun pergi, kedua insan ini menangis dalam diam menahan perasaan sedih, orang yang melihat tangis mereka berdua seakan bisa merasakan kepedihan yang dirasakan. Salju pertama turun, banyak orang menyambut salju pertama dengan suka cita tapi tidak dengan chanyeol dan baekhyun. hawa dingin yang mulai menyebar membuat tubuh chanyeol mendingin, air mata yang dikeluarkannya mengering. Kyungsoo memeluk chanyeol erat.
Jongin masih memeluk baekhyun erat, hawa dingin masuk dari cela-cela ventilasi jendela membuat tubuh baekhyun mendingin dengan perlahan mata baekhyun menutup. Begitupun chanyeol.
"BAEKHYUN"
"CHANYEOL"
to be continued…
