LOVE LIVE LONDON

...

..

.

CHANBAEK STORY

..

CAST

Byun Baekhyun / Brian

Park Chanyeol / Richard

..

.

.

Chanyeol sempat menegang ketika Baekhyun mengatakan dirinya tak seharusnya melakukan ini, dan semakin menjadi saat tipis itu untuk pertama kali menyebut nama aslinya. Chanyeol mulai takut jika Baekhyun marah karena perilakunya yang berusaha melewati batas. Tapi saat suara lembutnya berujar sesuatu yang lain, Chanyeol menghembuskan nafas lega. Dan, saat Baekhyun mengatakan jika ia tak ingin salah paham dan benar-benar jatuh padanya rasanya seperti diterbangkan ke langit tujuh. Wajah tampannya tak bisa lagi berekspresi saking senangnya.

..

Baekhyun mendorong pelan dada Chanyeol berusaha melepaskan diri, tapi pria itu semakin erat mendekapnya "Aku takkan berhenti, aku akan benar-benar membuatmu jatuh padaku Baek"

"A-apa maksudmu?" Chanyeol perlahan melonggarkan pelukan, tapi tak benar melepaskan. Baekhyun dengan ragu mendongakkan kepalanya membuat si jangkung mendapatkan akses untuk membingkai wajah rupawan yang sudah seperti kepiting rebus.

"Apa selama ini kau tak merasakannya?" Chanyeol menatap matanya lekat, mengantarkan sebuah gelanyar tak kasat mata yang perlahan memenuhi relung hati.

Baekhyun kembali mendorong dada bidang itu, kali ini sedikit kasar. Otaknya memerintahkan agar segera menjauh dari Chanyeol sebelum Ia semakin kehilangan kendali fungsi seluruh saraf tubuhnya. Badannya yang ramping terdorong beberapa langkah ke belakang saat benar-benar terlepas dari rengkuhan si pria Park. "Apa yang coba kau katakan?"

"Semua yang kulakukan padamu, semua itu bukan sebuah kesalah pahaman. Aku memang menyukaimu, aku mencintaimu Baekhyun" Lirih Chanyeol mengalun merdu dipendengarannya.

Baekhyun tergugu. Iris coklatnya bergetar membalas tatapan bulat Chanyeol. jantungnya semakin berdentum bak bom waktu yang siap meledak kapan saja. Otaknya seakan terpecah jadi dua bagian, tak bisa memikirkan sesuatu dengan benar.

"T-tapi kau normal chanyeol" lidah kelunya ia paksa untuk mengutarakan sebuah pertanyaan, Masih tak ingin percaya dengan semua kalimat yang Chanyeol ucapkan.

Sebuah kekehan keluar dari plum si telinga peri, Chanyeol menatapnya seakan dirinya sebuah lelucon yang patut ditertawakan "Kau benar, aku yakin masih normal sebelum bertemu denganmu. Dan kau adalah manusia kejam yang akan pergi meninggalkanku dengan bekas cacat yang mungkin takkan bisa kusembuhkan"

Baekhyun tak benar paham apa yang Chanyeol katakan, ia hanya menatap pemuda itu dengan alisnya yang menukik dan beberapa kerutan dahi. Chanyeol mebuatnya bingung setengah mati "Bukannya kau memiliki hubungan dengan Krystal?"

Sekali lagi Chanyeol terkekeh dan semakin menjadi kali ini "Jadi tebakanku benar?"

Baekhyun bergeming, kerutan didahinya bertambah. Ia semakin tak mengerti dengan apa yang pria didepannya pikirkan dan bicarakan.

"Kami tak memiliki hubungan apapun. Soal yang kemarin. Gadis itu hanya meminta tolong padaku untuk membantu membalaskan dendamnya pada seseorang. Jika kau penasaran" si manis Byun tersentak. Sedikit mengejutkan Chanyeol seakan berhasil membaca pemikiran yang mengusiknya.

"Lalu bagaimana denganmu?" Chanyeol kembali menatapnya dengan penuh pemujaan dan sedikit seringai sebagai sematan "Kau tak takut tunanganmu marah saat tahu kekasihnya mulai goyah?"

Baekhyun mengangkat wajahnya "Tunanganku?" sahutnya. Sekali lagi merasa bingung, Apa tunangan yang Chanyeol maksud, "Siapa?"

Chanyeol heran mendapati raut kebingungan si manis pujaan hati. Seharusnya Baekhyun menunjukkan wajah bersalah karena mencoba menghianati sang kekasih. Bukan malah menatapnya dengan kerutan didahi seperti sekarang ini. "Kekasihmu, Sehun tentu saja. Bukankah kalian akan bertunangan?"

"Sehun kekasihku?" Baekhyun bertanya sekali lagi, memastikan jika telinganya tak salah dengar.

Pertanyaannya seketika mendapat anggukan mantap dari Chanyeol.

Dan saat itu juga Chanyeol mendengar tawa renyah Baekhyun membumbung memenuhinya. "Astaga, Siapa yang mengatakan?" Baekhyun tak bisa menahan diri untuk tidak menertawakan Chanyeol, sejenak melupakan segala debar dan gugup yang ia rasakan. "Sehun tunanganku?" sekali lagi tawanya lepas "Aku tidak tau kau mendapat info darimana, tapi yang jelas Sehun itu adikku, pria itu adalah adik kandungku. Bukan kekasih apalagi tunangan"

Tak menunggu detik berganti untuk bola mata Chanyeol membesar. Rasa terkejut sekaligus kesal berlomba memenuhinya. Apa ini berarti ia telah di tipu? Jadi si sialan Sehun selama ini membohonginya? "Sehun adik kandungmu?"

Baekhyun mengiyakan pertanyaan Chanyeol dengan sebuah anggukan, masih berusaha menetralkan tawanya.

"Jadi selama ini si albino triplek itu membodohiku?" Chanyeol merutuk lirih, ia benar-benar kesal baru mengetahui sebuah kebohongan yang selama ini ia percayai sepenuh hati "SIAL!"

Malam semakin larut, Chanyeol memutuskan mengajak Baekhyun pulang setelah berhasil mendengarkan lonceng big ben berdentang tepat di jam 12 malam. Begitu sampai di depan pintu apartemen Chanyeol segera melepaskan belitan tangan boneka yang sedari tadi bertengger nyaman dipunggungnya. "Terimakasih sudah menepati janjimu dan mengikutiku berkeliling London" ujarnya sambil menyerahkan boneka beruang besar itu pada Baekhyun.

"Y-ya, aku juga berterimakasih, meskipun sedikit melelahkan tapi hari ini cukup menyenangkan" Baekhyun menerima boneka yang Chanyeol sodorkan dan saat matanya tak sengaja bertabrakan dengan si jangkung dengan cepat ia membuang pandangan. Jujur saja Baekhyun belum bisa menatap kepingan hitam itu, pipinya terus memerah tanpa sebab yang jelas. Sejak Chanyeol menyatakan perasaannya rasanya jadi aneh, canggung dan ada sesuatu menggelitik yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kalimat.

Baekhyun sedikit menggaruk tengkuknya, dengan ragu mengulurkan sebuah kotak yang tadi sempat ia dapatkan dari toko kue. "I-ini untukmu" ujarnya ragu. Chanyeol menarik alisnya keatas saat melihat kotak itu ditujukan untuknya "Apa ini?"

"Kau bilang beberapa hari lalu adalah ulang tahunmu, aku membeli ini. Meski terlambat, setidaknya kau harus tetap merayakannya" Baekhyun berkata dengan kepala yang masih tertunduk sepenuhnya. Nampak seperti seorang nerd yang tengah memberikan hadiah pada si primadona sekolah. Jujur saja Chanyeol ingin tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan. Kenapa Baekhyun yang awal ia kenal begitu dingin dan cuek bisa nampak se lucu dan sepolos ini? Meskipun sifat menyebalkannya kadang tiba-tiba muncul, tetap saja pria itu nampak begitu menarik.

"Mau merayakannya denganku?" Chanyeol menawarkan, Baekhyun refleks mendongakkan kepala mendengarnya. Dan matanya kembali bersibobrok dengan milik si tinggi, dengan cepat Baekhyun kembali menunduk.

"Kau tahu merayakannya sendiri membuatku merasa buruk dan kesepian." Perlahan pria Byun itu memberanikan diri mengangkat wajahnya, tapi belum begitu berani untuk benar-benar menatap wajah tampan si telinga peri.

"T-tapi "

"Ah, lagipula aku masih memiliki 6 jam untuk memilikimu" Kata memilikimu entah mengapa kini seperti memiliki artian berbeda saat Chanyeol mengatakannya. Membuat wajah dan telinga Baekhyun kembali terasa panas untuk kesekian kali.

Begitu memasuki apartemen Chanyeol hal pertama yang menarik perhatian Baekhyun adalah berbagai kertas yang berserakan dimeja depan sofa. Nampak berantakan dengan pulpen yang teronggok menyedihkan tanpa tahu kemana tutupnya. Disamping meja ada juga sebuah gitar yang disandarkan disofa. Chanyeol yang sadar kemana Baekhyun menatap segera melangkah untuk membersihkan kekacauan itu "Maaf sedikit berantakan"

Baekhyun mengikuti langkah Chanyeol, "Duduklah" ujar si tinggi memepersilahkan.

Baekhyun mengangguk sekali kemudian dengan penasaran mengambil beberapa kertas yang terserak dimeja.

"Kau menulis lagu?" tanyanya tanpa mengalihkan diri dari kertas ditangan. Chanyeol yang sibuk memunguti kertasnya terhenti untuk sekedar menatap Baekhyun. Si mungil terlihat duduk nyaman di sofa sambil memegang beberapa kertas yang telah Chanyeol isi dengan beberapa not dan lirik.

"Ya begitulah, tidak begitu bagus tapi aku mencoba" si jangkung ikut mendudukan diri disamping Baekhyun setelah selesai merapikan kertas-kertasnya. Beralih mengambil kotak kue yang tadi Baekhyun berikan.

"Bukankah kau berlaku terlalu manis padaku? Bahkan membelikan kue ulangtahun meski ulangtahunku sudah terlewat, ah manis sekali." Chanyeol dengan jail menggodanya, ia menyukai bagaimana Baekhyun terlihat berkali lipat lebih menggemaskan saat pipinya memerah dan menunduk untuk menutupinya.

Baekhyun berdeham mengenyahkan gugup karena kalimat yang Chanyeol utarakan "Jangan berlebihan, K-kue itu sengaja kubeli karena- aku hanya merasa kasihan karena- mungkin kau hanya makan kue saat ulang tahun" Baekhyun sedikit meringis dengan kalimat yang barusan ia katakan. Merutuki otaknya yang tak bisa memikirkan alasan lain yang lebih baik sebagai pembelaan.

Chanyeol hampir terbahak mendengar ucapan si mungil "Aku tak semenyedihkan itu. Oh, Kau bahkan membeli lilin" yang lebih kecil dengan ragu mengiyakan, "Kurang lengkap Ulang tahun tanpa meniup lilin"

Chanyeol mengangguk tanpa suara, dengan segera menancapkan lilin itu diatas kuenya. Kemudian merogoh saku celananya untuk mendapatkan korek disana.

"Kau merokok?" kalimat Baekhyun sontak menghentikan pergerakannya. Membuat Chanyeol menoleh dengan dramatis menghadap si manis disebelah. Memberikan cengiran bodoh yang membuatnya nampak begitu idiot "hehe kadang-kadang"

Baekhyun menggeleng samar "Itu tidak sehat, rokok akan merusak tubuhmu" ujarnya kemudian

"Aku tahu, hanya sesekali kulakukan. Jika kau tak suka aku akan berhenti"

"Itu hak mu, itu tubuhmu, kesehatan mu juga ada ditanganmu. Kenapa berhenti demi orang lain? Jika ingin berhenti, jangan lakukan dengan menjadikan orang lain sebagai alasan. Lakukan karena dirimu sendiri, agar kau tak kembali melakukan itu saat alasanmu berhenti pergi." ujar Baekhyun nampak tak acuh, rautnya juga menunjukkan jika ia tak peduli. Tapi Chanyeol paham pria itu mencoba menasehatinya, meskipun mengatakan secara tersirat.

"Hmm-emm aku mengerti " Chanyeol menganggukkan kepalanya yang sedikit tertunduk. Dan entah mengapa ia malah tersenyum tipis. Darahnya berdesir menyenangkan, sang pujaan hati sedang mengkhawatirkannya.

Mereka berdua saling tatap setelah lilin berhasil dinyalakan. Chanyeol menatap Baekhyun dengan binar yang seperti menantikan sesuatu. Sedangkan Baekhyun menatapnya dengan air muka kebingungan "Cepat buat permohonan dan tiup, lilinnya sudah meleleh" Chanyeol masih bergeming dengan tatapan yang sama.

Baekhyun mengernyit "Kau tak ingin membuatku melakukan hal kekanakan seperti menyanyikan lagu ulang tahun kan?"

Dan, pertanyaannya dibalas dengan anggukan cepat oleh Chanyeol.

"Astaga, Memangnya berapa umurmu?"

"Ini ulang tahunku ke 25" Jawabnya tanpa beban. Entah Chanyeol memang bodoh atau tak paham dengan sindiran yang Baekhyun dengungkan.

Pria berparas cantik itu menghela nafas kasar menahan kesal, bukan itu maksud pertanyaannya.

"Aku takkan meniup lilin sebelum kau bernyanyi untukku" Chanyeol kembali berujar ketika tak mendapati Baekhyun yang kunjung bernyanyi.

"Aku tidak mau"

"Enam jammu masih belum berlalu. Kau tak bisa menolak" Kalimat ancamannya kembali ia gunakan sebagai senjata. Chanyeol menyeringai penuh kemenangan saat si manis itu menghela nafas panjang. Tak lama lagi pasti telinga perinya akan mendengar suara Baekhyun menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.

"Kau serius ingin menjadi seorang musisi?" Baekhyun kembali bersuara setelah acara mari menyanyikan lagu ulang tahun untuk Chanyeol berakhir. Berusaha mencari topik untuk mengalihkan rasa malu dari kegiatan yang selesai ia lakukan. Si jangkung yang masih sibuk memotret kuenya menatapnya sekilas.

"Tentu saja" jawab Chanyeol singkat.

Baekhyun beralih mengambil gitar disamping meja, dengan penasaran memetik beberapa senarnya. Hingga terdengar beberapa nada sumbang yang mengalun darisana.

"Ingin berkenalan dengannya?" Baekhyun mengalihkan atensi, mendapati Chanyeol yang entah sejak kapan berdiri disampingnya.

"Namanya Bethoven" si jangkung mengambil alih gitarnya, ikut mendudukan diri disebelah si surai perak "Tapi aku biasa memanggilnya Toben"

Baekhyun terkikik mendengarnya "Kau bahkan memberinya nama?"

"Tentu saja dia begitu spesial untukku." Chanyeol mengedarkan maniknya menatap yang lebih sipit "Mau menyanyikan sebuah lagu bersamaku?" Baekhyun membalas pandangannya, mengamati Chanyeol yang bersiap dengan gitarnya. Pria itu mulai memetik senar, menggaungkan melodi sebagai intro secara acak.

Baekhyun terkekeh. Memangku dagunya mengamati permainan gitar si tinggi. Tak berapa lama sampai kekehannya berubah jadi sebuah senyuman manis "Daripada menyanyi bersama, aku lebih penasaran dengan lagu ciptaanmu"

Chanyeol tersenyum miring mendapati respon demikian "Ini sedikit memalukan" ujarnya sambil membenarkan posisi gitar "Jangan menertawakanku" peringatnya, meski setengah enggan tapi ia tetap memainkan gitarnya untuk sebuah lagu yang ia ciptakan.

'I made this song when I tought of you so listen'

Sebuah lagu mulai muncul dari permainan gitar Chanyeol dan suaranya yang merdu. Liriknya menyentak Baekhyun, membuatnya refleks mencari hazel si tinggi. Dan menyesalinya kemudian karena si jangkung juga tengah menatapnya lekat dengan senyumnya yang tampan.

'I hum lalalalala every day'

'Your pretty pictures keep filling up my album one by one, baby'

'When I open or close my eyes I always think of you, babe'

'There's nothing as beautiful as you anywhere'

Baekhyun masih setia mendengarkan. Tapi maniknya tak lagi menatap pahatan tampan itu. Dia terlalu pengecut untuk sekedar bertukar pandang, mencoba mengabaikan Chanyeol yang terus menatapnya.

'You are (I just want to tell you today)'

'You are (I want hold your hand)'

Chanyeol menikmati bagaimana rupa Baekhyun yang sedikit bersemu. Tak pernah sekalipun Chanyeol memimpikan hal macam ini, tapi kenyataanya ini memang bukan mimpi. Memetik gitar sambil menyanyikan lagu yang ia ciptakan sepenuh hati dihadapan seseorang yang menjadi alasan penulisannya. Sekali lagi Chanyeol menyampaikan isi hatinya untuk pria yang ia cintai hari ini.

'You are (Even when I pretend that's not it)'Actually I only think of you, You Are.

(Park Chanyeol - You Are)

Chanyeol mengakhiri musiknya, menurunkan si gitar kesayangan. Tangannya terulur mengusak surai Baekhyun yang tengah terpaku ditempatnya. Si manis kembali pada kenyataan, kemudian bertepuk tangan sebagai respon berakhirnya lagu yang pria jangkung itu nyanyikan. "Lagu yang bagus, kau cukup melankolis rupanya" sipitnya menatap Chanyeol dengan sedikit ragu.

Chanyeol membalas lekat iris bening yang seakan tanpa dosa. Mengamati bagaimana Baekhyun yang begitu terang dimatanya, sangat bersinar. Semua yang ada pada pria itu Nampak begitu sempurna, selalu berhasil membuat jantungnya bekerja dua kali lebih cepat. "Aku menciptakannya untukmu"

Baekhyun termangu selama beberapa detik, matanya mengerjab beberapa kali "B-benarkah?" tipis itu bergetar mengatakannya, bola matanya berusaha ia larikan kesana-kemari menghindari sorot pria yang menjadi lawan bicara.

Chanyeol mendekati mungil itu, dengan telaten menyelami paras rupawannya. Tangannya menyentuh wajah bak permen kapas yang menjadi kesukaan si pemilik, begitu lembut dan manis. Baekhyun menjauhkan wajahnya, tapi si tinggi semakin mendekat. Dan, Baekhyun tertegun saat Chanyeol tiba-tiba mencium bibirnya. Jantungnya seperti berhenti bekerja. Otaknya tak sempat mencerna, tubuhnya tak sempat menolak. Ia bak seorang dungu, hanya diam layaknya patung yang tak bernyawa.

Kecupan singkat, sesingkat hembusan nafas. Chanyeol kembali menjauhkan wajahnya. Dan, saat itu Baekhyun mendapatkan kembali nyawanya.

"C-chanyeol-" Tangannya berusaha menahan tubuh besar Chanyeol agar tak kembali mendekat. Baekhyun ingin mengatakan sesuatu tapi suaranya tertelan kembali saat pria itu mengujarkan kalimat yang semakin memperparah rona diwajahnya.

"Jadilah kekasihku Baek" Suara Chanyeol mendesau lirih ditelinga, begitu lembut seperti belaian angin di musim semi.

Untuk Baekhyun Chanyeol cukup menakjubkan, pria itu satu-satunya yang berhasil melelehkan lagi bongkahan es yang membekukan hatinya. Baekhyun tak menampik jika ia menyukai Chanyeol. Tapi hatinya sedikit meragu, ia butuh memastikan jika rasa di dadanya tidak salah untuk menetapkan tempat bernaung. Ia terlalu takut, kenangan masa lalunya terlalu buruk untuk kembali diulang.

"A-aku" tubuhnya bergetar, seluruh sendinya terasa begitu lemas, tak bisa digerakkan.

"Ssstt" Jari yang lebih besar dari miliknya menempel sempurna dibibir. Nafas pemuda itu menyapu habis sisian wajahnya. Menghantarkan sengatan listrik statis yang menjalari tubuhnya.

"Jangan katakan apapun, kau memiliki banyak waktu memikirkannya. Dan kupastikan saat itu tiba aku akan mendengar jawaban ya" Chanyeol kembali meraup bibir itu lembut. Kali ini bukan hanya kecupan, si tinggi memangutnya pelan. Menyesap bagaimana manis tipis itu begitu memabukkan, matanya mulai berkabut dengan jantung yang meronta seakan ingin keluar dari dadanya.

...

..

.

TBC

Part ini terinspirasi dari lagu yang Chanyeol buat di 2016 lalu. Lagi rajin, gaisss makanya update terus :'))