Day 11
Bond
Knot
Chuuya selalu percaya bahwa jiwanya dan Dazai terikat. Bersambung dan saling membutuhkan. Seperti Dazai yang butuh Chuuya untuk menjamin hidupnya, demikian pula Chuuya yang butuh Dazai untuk menjamin matinya.
"Lalu kenapa kau tinggalkan aku disana? Sendirian, lemah, tanpa penjagaan?" Tangan menggenggam sisi-sisi celana, Chuuya menahan teriakannya, merintih. "Aku percaya padamu, Dazai."
"Maka itu salahmu, Chuuya."
Napas Chuuya tercekat di antara paru-paru dan tenggorokan. Air mata pun jatuh. Ia tidak lagi merasakan sakit ketika menggigit bibir karena seluruh perih kini milik sang hati.
"Kenapa kau tidak tinggalkan aku? Biarkan aku mati dibunuh diriku sendiri. Kau tidak perlu membiarkanku hidup hanya untuk mengingat pengkhianatanmu."
Dazai diam.
Matanya fokus pada tetes bening di pipi Chuuya tapi hatinya melayang entah kemana sisi dunia yang tidak ia kenal.
"Apa kau hanya menghentikanku untuk melihat air mata ini, Dazai?" Suara Chuuya yang sendu dan parau tidak dapat Dazai balas karena ia sendiri tidak paham. Sebagian hatinya ingin sekali melangkah dan menyeka tetesan itu, sementara sebagian lagi hanya diam dalam pikiran karena Chuuya harus tetap ada sebagai miliknya.
"Karena kau pionku."
Raut terkejut Chuuya hilang dalam hitungan detik diganti sebuah senyum menghardik. "Jadi aku hanya alat untukmu?"
"Aku bahkan tidak mengerti kenapa kau menganggapku manusia, Chuuya."
"Karena kau manusia, Dazai!" Teriaknya, "Aku juga! ...Walau aku dibuat dalam tabung kaca di dalam laboratorium, tapi aku manusia. Aku bukan alatmu— kau juga bukan alat."
Kalimat Chuuya seperti hal yang Dazai butuhkan namun disisi lain juga seperti hal yang sangat Dazai tidak butuhkan. Seakan meracuni semua kepercayaan hatinya dengan kenyataan manis. Dazai tidak suka Chuuya mencemari kesedihannya dengan noda yang ia bawa bersama harapan.
"Chuuya," Dazai melangkah maju. Berdiri di hadapan si mafia yang masih terisak kecewa. "Aku pikir hubungan ini hanya sebuah pembayaran, tapi kau memaksaku menerima bahwa ini hanya ego."
"Apa maksudmu?"
Tangan Dazai menangkup kedua pipi Chuuya. Membiarkan hangat raut tangis menjalar di tangan.
"Kita hanya egois, ingin memaksa yang lain bertahan walau kita sama-sama tidak memiliki alasan." Ibu jari Dazai mengusap kantung mata yang merah dan sembab. "Kau ingin bersamaku, sementara aku ternyata juga ingin bersamamu. Kita berjalan di satu jalur dengan arah berbeda dan semua membuat runyam, Chuuya."
Mata biru Chuuya menatap pada dasar hitam tak terbaca. Begitu indah dan menenangkan namun juga memberi sesak di dalam paru-paru karena ketakutan misterius.
"Kita ingin bersama, tetapi kau mau hidup sementara aku ingin mati. Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kau tidak mau hidup bersamaku?"
Dazai tersenyum kecil, "Andai kita hanya seorang penjual roti di dekat pelabuhan, aku akan memintamu terlebih dahulu."
"Lalu apa kau mau mati bersamaku?" Tangan Chuuya menarik sebuah pistol dari pinggulnya, membuka pengaman sebelum memberinya pada Dazai untuk digenggam. "Aku akan mengikutimu, Dazai."
"Kau benar-benar percaya padaku?" Dazai menodongkan moncong pistol tepat di dahi Chuuya. Menatap mata tulus yang berserah tanpa perlawanan, tanpa keraguan. "Bahkan setelah kutinggalkan?"
Chuuya berhenti menatap karena memilih menyandarkan pelukan di dada Dazai dan merengkuh. "Aku percaya."
"Aku mungkin akan membunuhmu, lalu pergi menjalani hidup."
"Aku juga suka melihatmu hidup, Dazai," Chuuya menutup mata. "Kematianku hanya akan membuatmu berat dalam memilih."
Kemudian suara tembakan terdengar. Dazai menarik pelatuknya, dengan yakin memuntahkan peluru ke dalam kepala Chuuya. Pemilik surai jingga itu mati, darah mengalir di kepalanya dan Dazai hanya jatuh terduduk sambil memeluk.
"Aku punya janji, Chuuya," Ia mengelus punggung yang tidak lagi bergetar. Mengecup puncal surai senja nan lembut yang selalu ia rindukan. "Aku berjanji untuk hidup dan menjadi orang baik." Dazai melepas pengaman pistol. "Tapi aku lelah. Aku ingin bebas."
Ia menembak lagi. Tepat di bagian kepala, meregang nyawa, jatuh dengan memeluk kasihnya.
Dia terikat dengan janji pada teman lama. Dia terikat dengan segala hal di dunia yang membutuhkannya. Keinginan menyelamatkan seorang anak tanpa harapan. Keinginan memberi harapan pada seorang anak tanpa penyelamat. Dazai sudah begitu banyak mengikat jiwanya dengan segala hal. Ia muak.
Dazai memutuskan untuk hanya menyisakan satu ikatan. Satu ikatan yang begitu tipis, tidak terlihat, namun selalu ada dan terasa. Ikatan dengan Chuuya yang dulu penuh semu kini nyata disimpul kematian.
Itu adalah pilihan Dazai.
Untuk bersama dengan seseorang yang mengerti dirinya. Untuk meninggalkan semua yang dia cinta demi orang yang mencintainya. Sebuah kebodohan yang dimakan rasa lelah nan putus asa karena terlalu banyak dilimpahkan mimpi serta harap. Kali ini, ia mengikat sendiri takdir hidup dan matinya.
Knot
END
