"Hai, arigatou gozaimasu."
Miya Atsumu mendadak berdiri tegak dari pose bersandarnya ketika melihat seorang pria berjalan keluar dari ruang kepala sekolah. Pria itu tinggi tegap dengan rambut hitam tebal bergaya two-blocked. Setelan pakaiannya rapi tetapi tidak terlalu formal. Tangan besarnya mengusap rambut pirang semiran Atsumu dan tersenyum lembut kepadanya.
"Apa kata mereka, Isshin?!" Atsumu bertanya dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.
"Jangan panggil ayahmu begitu, dasar bocah durhaka!" senyuman lembut pria itu luntur. Belaian sayangnya berganti jitakan keras.
"Aduduh!" Atsumu menjauhkan kepalanya dan mengusap bekas jitakan pria yang merupakan ayahnya, Miya Isshiki. "Jangan pukul kepalaku, dong! Nanti kalau Achuumu jadi bodoh bagaimana!?"
"Baguslah kalau begitu. Aku tinggal memasukkanmu ke SLB. Di SLB kau tidak akan bertingkah aneh-aneh." Isshiki tertawa. "Shin-chan tidak akan diskors akademik, tapi dia tetap diskors dari ekskul. Dia boleh tetap latihan tapi keikutsertaannya dalam perlombaan akan ditangguhkan sampai masa hukumannya selesai. Kudengar dia cedera bahu, ya? Absensinya akan dihitung sebagai dispensasi sakit. Kupastikan Kita-baachan tidak mendengar kabar buruk ini."
"Hontou?"
Miya Isshiki mengangguk mantap. "Senang dengan hasilnya, hah?"
"Tentu saja!" Atsumu melompat memeluk ayahnya dan tertawa kecil. "Mau 'Tsumu cium juga?"
"Boleh." Isshiki terkekeh ketika putranya benar-benar memberikan ciuman di pipi. "Jangan harap uang jajanmu nambah karena kau bersikap imut, ya?"
Atsumu melepas pelukannya dari sang ayah dengan wajah memberengut. Menyadari bahwa putranya tidak sendirian, Isshiki melambai pada beberapa siswa yang tampak lebih tua dari putranya tersebut. Warna dasi mereka berbeda, pasti beberapa diantara mereka adalah kakak kelas putranya.
"Terima kasih atas bantuan Anda, Miya-sensei." Yaku membungkuk hormat.
"Iie, iie. Aku paling nggak tahan kalau lihat cewek manis memohon begitu." Isshiki tertawa pelan sambil merangkul Atsumu saat mereka mengantar Miya senior meninggalkan gedung sekolah. "Kupikir kau memintaku datang ke sekolah karena kau ketahuan menghamili salah seorang adik kelas imut, 'Tsumu."
"Mana mungkin gentleman sepertiku berbuat barbar begitu?" Atsumu mengeluh, melepaskan rangkulan ayahnya dengan wajah kusut. "Isshin pasti sudah menyalibku, lalu mengulitiku hidup-hidup kalau begitu, kan?"
"Tentu saja!" Isshiki tertawa terbahak-bahak. "Cuma sebatas itu aku bisa membantu kalian, bocah-bocah. Aku minta maaf tidak bisa meringankan hukuman Shin-chan."
"Terima kasih, Miya-sensei." Yaku dan beberapa anak lain yang merupakan pengurus mukre seperti Bokuto, Sugawara, Oikawa dan Sakusa membungkuk sopan.
"Sama-sama." Isshiki memberikan tos bersahabat pada Bokuto, kedipan nakal pada Sugawara dan memberikan secarik kartu nama pada Oikawa.
"Siapa tahu kau butuh 'bimbingan konseling', cantik." katanya sambil melempar kissbye pada Oikawa dan memasuki mobil. Atsumu melambai pada mobil ayahnya yang dengan anggun meluncur pergi dari halaman sekolah.
Lima pasang mata melempar pandangan menghakimi dengan begitu tega.
"Bapaknya Tsumu-tsumu kelihatan kayak Ryomen Sukuna-nya Jujutsu Kaisen, nggak sih?" gumam Bokuto tiba-tiba. "Tinggal disemir merah jambu gulali."
"Aku baru tahu kalau aura fuckboy-nya Miya ternyata bawaan genetik." gerutu Sakusa.
"Jangan bicara tidak sopan soal ayahku, dasar bulu babi keriting beracun!" Hardik Atsumu kesal.
"Kalau dari nada bicaranya, ayahmu sepertinya kenal Kita-san dan keluarganya." Yaku bersidekap.
"Ah, iya." Atsumu mengangguk. "Mendiang ibunya Kita-san dan ayahku bersahabat dekat, mereka satu sekolah dulunya. Almarhum berhutang banyak demi mengobati mendiang kakeknya yang kena kanker paru-paru. Singkat cerita, papanya Kita-san nggak sanggup bayar dan bunuh diri. Ibunya dituntut si penagih hutang dan ayahku turun tangan membela beliau tanpa dibayar."
"Oh, ayahnya Tsum-tsum pengacara?" Bokuto memberikan kesimpulan terlambat.
Atsumu mengangguk. "Kami pernah bertemu satu atau dua kali waktu kecil, tapi aku tidak ingat. Begitu masuk sekolah ini, lucunya Kita-san yang malah mengingatkanku."
"Jadi seperti saudara jauh tidak sedarah, ya?" Sugawara tersenyum. "Aku harus berterima kasih padamu karena sudah membantu Shinsuke-san, Atsumu."
"Aku nggak berbuat apa-apa, tapi asyik juga ya dipuji." Atsumu terkekeh.
"Tapi papanya Atsumu masih ganteng, ya." Oikawa mengantongi kartu nama yang diberikan kepadanya tadi. "Padahal kelihatan udah agak berumur. Dia suka gadis muda, nggak?"
"Aku nggak mau punya ibu tiri seperti Tooru-paisen! Nggak usah coba-coba!" sembur Atsumu.
"Setidaknya, Kita-san masih bisa latihan dengan kita." Yaku menghela nafas lega, mengabaikan adu mulut Atsumu dan Oikawa. "Suga, cobalah berbaikan dengan Kita-san."
Sugawara mengangguk kaku.
"Aku mau mengurus berkas perizinan latihan kita di luar. Oikawa, kau dan Bokuto hari ini membagikan seragam formal, ya."
"Roger!" Oikawa dan Bokuto memasang pose hormat.
"Sepertinya aku tidak perlu bilang apa tugasmu, mister accountant?" Yaku melirik jahil pada Sakusa yang hanya mendengus malas.
Kelima orang itu berpisah, kembali kelas masing-masing sementara Sakusa masih mengekori Yaku menuju kelas si ketua OSIS. Meski Sakusa adalah bendahara mukre, segala kegiatannya harus dipantau oleh wakil ketua. Bokuto bukan orang yang bisa dipercaya perihal mengelola uang dan berkas administrasi. Yaku mengumpat pelan ketika beberapa lembar amplop merah muda jatuh berserakan saat ia membuka lokernya yang berada diluar kelas. Sakusa berjongkok, memunguti amplop-amplop itu dan menyodorkannya pada Yaku.
"Buang saja. Aku nggak peduli." jawabnya dingin. Ia menarik buku panjang yang merupakan buku laporan keuangan ekskul mukre dan menuntut Sakusa ke ruang OSIS. "Ayo."
Sakusa berjalan mengikuti Yaku sambil membuka surat-surat tersebut. Dari Fukunaga Shohei kelas 2-1, dia bilang semenjak Yaku memanjangkan rambutnya dan memangkas poninya, ia terlihat jadi lebih manis dan Fukunaga semakin tidak nyenyak tidur karena terbayang paras manis si wakil ketua mukre. Bla bla bla bla lalu mengajak ketemuan di dekat lapangan baseball hari ini selepas sekolah. Dari Yamamoto Taketora kelas 2-3, bla bla bla bla katanya Yaku yang terlihat dingin dan garang itu terkesan seksi dan Yamamoto jadi punya sisi masokis karena Yaku. Lalu dari tanpa nama, yang menyatakan bahwa jumat lalu ia melihat Yaku yang mengenakkan seragam olahraga dengan celana digulung setengah betis membuatnya terpesona, Yaku dibilang terlihat badass. Terus, Sarukui dari kelas 3-3 mengaku bahwa ia baru saja memutuskan pacarnya karena tidak bisa menghilangkan perasaan doki-doki saat berpapasan dengan Yaku. Hanya saja, bla bla bla bla pokoknya kalau Yaku meredam emosinya yang meledak-ledak itu, ia akan menjadi cewek paling cantik seantero Karasuno katanya.
"Omi, dengar tidak apa yang baru saja kubilang?" Yaku bergumam. "Buang saja."
"Bunda benar-benar nggak mau membaca sedikitpun apa yang mereka utarakan?" Sakusa mengerenyit.
"Untuk apa? Perasaan seperti itu tidak penting buatku."
Tidak penting?
Meski sedikit, Sakusa dibuat tersinggung dengan ucapan itu. Oh, ayolah. Sakusa benci berinteraksi dengan orang-orang asing. Ia sangat benci saat ditertawakan para senpai karena membawa buku partitur dan bertanya dimana mereka menyimpan contrabass. Sakusa waktu kelas 1 sudah balik badan berniat meninggalkan ruang musik dan ekskul mukre SMA Karasuno ketika mendengar Yaku dengan tubuh kecilnya memainkan satu beat penuh suara beatbox dengan distorted voice yang nyaris menyerupai gesekan senar contrabass, ditambah lantunan suara tipis Kenma dalam menyanyikan lagu Royals-nya Lorde.
Kami nggak main contrabass pakai busur dan partitur. Bukankah kalau begini jadi lebih seru dan praktis?
Bukan Sakusa termakan ucapan Yaku, tapi Sakusa tidak ingat kapan ia tiba-tiba jadi belajar bernyanyi dan beatbox sekaligus. Bukan Sakusa takut ketika Yaku bilang kalau werewolf—begitu sebutan pemain beatbox di ekskul mukre ini, harus latihan ekstra keras kalau tidak mau dikeluarkan. Bukan Sakusa tidak merasa terbebani saat ia mengajukan diri jadi bendahara menggantikan Kuroo. Bajingan berponi ayam itu ketahuan mencatut uang kas mukre dan berdalih. Setelah diselidiki oleh Sugawara dan Iwaizumi, ternyata uangnya digunakan Kuroo untuk memanjakan pacar rahasianya. Iya, rahasia karena saat itu Yaku dan Kuroo masih bertatus resmi sebagai pasangan kekasih. Bukan Sakusa tidak merasa dadanya nyeri saat tahun lalu Yaku tidak lagi datang ke ekskul mukre dengan alasan menjalankan tugas barunya sebagai ketua OSIS, namun wajah sedihnya diam-diam mengintip ke jendela ruang musik.
Padahal Sakusa bukan siapa-siapa buat Yaku. Tapi sikap gadis mungil itu membuatnya terluka. Sakusa tahu seberapa sukanya Yaku berlatih vokal di ekskul mukre, namun keberadaan Kuroo membuatnya tidak nyaman meski cowok jangkung yang sering terlihat laid back itu sudah berusaha dengan baik minta maaf atau mencoba berdamai dengan Yaku dengan alasan profesionalisme. Yaku tidak resmi keluar, tetapi ia tidak pernah datang lagi. Kita masih di Hungaria saat itu, dan tidak ada yang bisa membujuk Yaku dengan alasan bahwa mereka 'mengerti Yaku masih patah hati. Yaku dan Kuroo padahal saling menyayangi satu sama lain'.
Omong kosong.
Bukan Sakusa tidak ingin memukul Kuroo karena ia takut Kuroo adalah senpai-nya. Bukan juga karena Sakusa mengharapkan Yaku akan kembali lagi suatu hari nanti, makanya ia berlatih beatbox lebih giat, tidak pernah absen latihan dan memutuskan bertahan di Werewolf Heartstring terlepas seberapa memuakkan interaksi antar sebagian besar anggotanya.
Bukan...
Sakusa bisa menyangkal semuanya sampai ia bosan, sampai ia muak. Sakusa hanya tidak suka kalau ia tidak menyelesaikan apa yang ia mulai.
Sakusa bertahan menjadi anggota Werewolf Heartstring semenjak ia belajar beatbox dari Yaku. Ia akan bertahan sampai ia lulus nanti.
Sakusa menyadari perasaannya pada si ketua OSIS di semester genapnya waktu kelas 1. Jatuh cinta bukan sesuatu yang punya aba-aba dalam memulai, tahu-tahu ia dibuat mabuk kepayang dengan sikap sok kuat tapi penuh perhatian dari gadis yang kerap dipanggil Bunda itu. Sakusa ingin mengakhiri aksi jatuh cinta sendiriannya, ingin tanpa sungkan menarik Yaku ke dalam pelukannya dan berkata 'semuanya baik-baik saja. Tidak masalah jika satu dua hal berjalan tidak sesuai dengan rencana. Kalau kau mau menangis, sembunyi saja di dadaku'.
Bagaimana caranya?
"Omi."
Sakusa menuruti ucapan Yaku, dan melempar surat-surat itu ke dalam tempat sampah. Ia mulai mencatat anggaran yang disiapkan Yaku untuk transportasi dan konsumsi anak-anak mukre selama latihan untuk Silver-Tokyo Festival nantinya, dan Sakusa bertugas menakar nominalnya.
"Bunda Yaku."
"Uhm?"
Sakusa bahkan tidak menoleh. Ia terus menulis dan memaku wajahnya ke catatan. "Nggak semua cowok brengsek, kok."
"Aku tahu." Yaku mendengus. "Sedang tidak ingin pusing karena masalah cinta. Lihat sendiri Kita-san dengan Sugawara. Dua-duanya adem dan mesra tahu-tahu putus."
"Kita-san padahal baik. Sugawara-san juga." Sakusa menghapus nominal anggaran konsumsi yang dirasa baginya terlalu besar. "Kalau mau dilihat kejelekannya, Kita-san sangat tertutup soal masalah pribadinya. Dan Sugawara-san clingy-nya nggak masuk akal."
"Keadaannya yang brengsek." Yaku tertawa pedih. "Kalau aku jadi Sugawara juga aku bakalan nangis ditinggal cowok sebaik itu."
"Oh, ya?"
"Uhm." Yaku tertawa pedih. "Kami-sama, sisain aku jodoh yang kayak Kita-san satuuuu, aja. Aku pasti mati bahagia."
Sakusa memilih bungkam. Keduanya tidak bicara cukup lama setelahnya.
"Aku mungkin nggak bisa sebaik atau selembut Kita-san." Sakusa mengeratkan kepalannya demi meredakan gemuruh jantungnya. "Tapi, aku janji tidak akan jadi brengsek. Atau membiarkan keadaan brengsek mengacaukan kita berdua."
Mata coklat Yaku terbelalak mendengar ucapan Sakusa. Tidak, tidak. Sakusa Kiyoomi bukan orang yang pintar melawak. Tatapan mata hitam itu dalam dan serius. Keduanya dijeda hening cukup lama. Yaku kehilangan kata-kata. Ia terus menerus menyangkal perasaan Sakusa karena takut jatuh cinta lagi. Ia takut suatu hari nanti Sakusa jenuh dengan sikapnya yang temperamental dan mencari gadis lain yang lebih manis dan lebih penurut, lalu meninggalkan Yaku sendirian dengan egonya yang tinggi dan harga dirinya yang konyol itu. Yaku sudah tahu sejak awal mengapa Sakusa yang begitu sinis dan sering menepis semua orang yang mendekatinya begitu patuh terus membayanginya, meladeni apapun perkataannya. Yaku pura-pura tidak peka dengan perasaan Sakusa dan pemuda bersurai ikal legam itu tahu pula bahwa Yaku hanya menyangkal dirinya sendiri, namun ia tetap bersabar menunggu.
Dan tentu saja, meski sabar itu seharusnya tiada batas, Sakusa juga manusia biasa. Menahan rasa sesak karena tidak bisa mengungkapkan cinta pada seseorang yang begitu disukainya pasti menyakitkan. Yaku pernah ada di fase yang sama, waktu ia begitu tergila-gila dengan Kuroo Tetsurou dan kharismanya yang maut itu.
"Bunda...boleh menolakku. Terserah." Sakusa memecah keheningan. "Tapi aku akan tetap menepati kata-kataku. Aku janji tidak akan jadi brengsek. Atau membiarkan keadaan brengsek mengacaukan kita berdua."
"Kalau nantinya aku yang ternyata brengsek, bagaimana?" Yaku terkekeh getir, berusaha menyembunyikan perasaan aneh yang bergumpal-gumpal di pangkal tenggorokannya.
"Kau boleh meninggalkan aku." Sakusa membalas. "Kalau memang itu keputusanmu nantinya, kuharap setidaknya kau mengucapkan selamat tinggal dengan pantas."
Yaku tidak membalas. Sakusa menyelesaikan tugasnya sebagai bendahara mukre dan menyodorkan laporannya pada Yaku. Ia berdiri dari kursinya, lalu membungkuk singkat sebelum berjalan meninggalkan ruang OSIS dan Yaku yang masih duduk bersidekap dengan raut wajah mengeras.
"... buktikan kalau kau memang bukan cowok brengsek, Kiyoomi... " bisik Yaku pada dirinya sendiri.
"Lagu angkatan?"
Kageyama mengangguk mendengar gumaman serempak teman-teman seangkatannya di Werewolf Heartstring. Dengan bantuan Hinata, ia bisa menyeret semua anak kelas 1 untuk diajak rapat darurat di ruang musik, sejam lebih awal dari pertemuan ekskul mereka.
"Uhm." Kageyama mengangguk.
"Kenapa nggak diberitahu di grup angkatan aja?" tanya Tsukishima.
"Aku punya banyak judul lagu, tapi senpai memberikan 1 syarat." Kageyama mengacungkan telunjuknya. "Harus lagu lama. Ada banyak old school song yang keren, tapi aku mau dengar langsung suara kalian tanpa voice record."
"Oh, oh! Aku tahu!" Hinata berdehem. "[How can you see into my eyes, like open dooor...]."
"Dame. Itu dianggap lagu baru. Masih tahun 2000-an." Kageyama menggeleng.
"Aku awam soal lagu jadul." Shibayama menghela nafas. "Yacchan gimana?"
"Lagu-lagunya band terkenal kayak The Beatles atau Queen gimana?" tanya Yacchi.
"Boleh." Sakunami menarik keluar ponselnya dan mengetik salah satu judul lagu yang terkenal dari band-band yang disebutkan namanya. "Yang gampang di aransemen ada Hey Jude, Yesterday, Bohemian Rhapsody—"
"Bohemian Rhapsody asyik, sih." Tsukishima memotong.
"Itu lagu apa?" tanya Lev polos.
"Itu lho, Lev! Yang di film Suicide Squad!" seru Koganegawa bersemangat. "[Is this the real life, is this just fantasy...]"
"Oh, aku tahu!" Lev membalas. "[MAMAAAAA...UUUUUUU...]."
"Sayangnya, itu lagunya anak kelas 2." Kageyama membalas cepat. "Anak kelas 3 lagunya The Sound of Silence."
"Kalau gitu, cari lagu jadul yang bisa dimainkan gitarnya Tsukishima atau beatbox-nya Lev gimana?" tanya Sakunami. "Biar kita lebih mudah."
"Nggak boleh ada alat musik." Kageyama menggeleng. "Murni acapella. Kurasa beatbox masih boleh"
"Kalau harus compose aransemen lagu sendiri susah, tahu." Tsukishima menggaruk kepalanya. "Waktu ujian mukre aku nggak ada aransemen. Sisanya di penampilan kuartet semuanya campur tangan kakak kelas."
"Sama-sama, jerapah berkacamata." Ujar Kageyama sarkas.
"Oh, iya. Terima kasih yang mulia baginda Raja atas sugesti lagu dan aransemennya yang sama saja dengan yang asli." Balas Tsukishima tak kalah sarkas.
"Kalau lagu aslinya udah bagus ngapain dirubah-rubah, sih?"
"Aku nggak kebayang ekspektasi apa yang diharapkan senpai saat kita punya lagu angkatan." Yachi mengeluh.
"Kita tanya aja sama mereka." Hinata berasumsi. "Minta mereka kasih tunjuk lagu angkatan mereka."
"Mana mau sih, mereka?" jawab Tsukishima.
"Pasti mereka mau. Lagu angkatan kan lagu angkatan mereka. Namanya juga lagu angkatan." gumam Kageyama.
Tsukishima memutar bola matanya mendengar kalimat berputar-putar Kageyama. Hinata sontak berdiri dan berlari seraya mengangkat kedua tangannya begitu melihat Kenma memasuki ruang musik dengan kepala tertunduk menatap layar ponsel. Beberapa anak kelas 3 dan 2 menyusul masuk.
"Kenmakenmakenmakenmakenmaaaa!" Hinata melompat-lompat girang, menawarkan toss dua tangan. "Kasih lihat lagu angkatan Kenma, dong!"
"Haah?" Kenma menoleh dengan alis bertaut. "Aku nggak nyanyi di lagu angkatan."
"Hah, gimana?" Hinata melongo.
"Nggak nyanyi. Aku beatbox." Jawab Kenma polos.
"Apakah ini semacam tantangan, Sunshine?!"
Hinata menoleh ketika Hoshiumi menghampirinya dengan tepukan keras di pundak untuknya. Gadis mungil berambut ginger itu membeku dengan pipi merona. Wajah si senpai countertenor kelas 2 persis berada di sisi pipinya.
"Kenma, kasih tunjuk jangan?" Hoshiumi menegakkan dagunya dengan senyum lebar.
"Heh." Kenma balas tersenyum sinis. "Nggak takut. Nggak tahu ya, apa kata anak-anak kelas 2-nya."
"Aku sih yes." Atsumu mengedip nakal. "Niro-boy yes nggak, nih?"
"Begitu doang masih perlu ditanyain?" Futakuchi membalas angkuh sambil pura-pura menggulung lengan bajunya. "Kali aja Shirabu minder nyanyi di depan anak kelas 1."
"Mana ada." Shirabu mendengus.
"Apa nih, kok kedengarannya seru?" Akaashi yang menjadi anak terakhir yang memasuki ruang musik terperangah.
"Anak kelas 1 mau dengar lagu angkatan kita." balas Hoshiumi.
"Hooo..." Akaashi bergumam. "Coba tanya Omi."
"Aku kalah." Sakusa mengangkat kedua tangannya pasrah. "Kalau aku menolak, dua bajingan ini pasti membaret mobilku sepulang latihan."
"Tuh tahu!" Atsumu dan Futakuchi tertawa lepas.
"Hey! Hey! Hey! Apa ini?! Apakah akan ada live action Pitch Perfect ditambah adegan jambak-jambakan!?" Bokuto tampak sangat antusias.
"Bro, nggak gitu." Kuroo berusaha menenangkan.
"Heee...nani nani? Tobio-chan dan gengnya nantang kelas 2 nyanyi lagu angkatan?" Oikawa menyahut. "Kelas 3-nya memang bisa diam aja?"
"Oikawa, kalau mau ikutan bilang aja." timpal Ushijima datar.
"Ushiwaka-chan nggak asyik banget diajak bercanda, teme." rutuk Oikawa. "Kita-san, bagaimana kalau kita beri pelajaran bocah-bocah tengil ini?"
"Perasaan kita cuma pengen tahu, kenapa kesannya kayak nantang berkelahi, ya?!" Lev berseru panik.
"Kasih tahu aja siapa yang perlu kutabok mulutnya." Tsukishima merenggangkan ruas-ruas jarinya.
"Kita mau nyanyi bukan mau berantem, kora!" omel Shibayama.
Kita yang awalnya diam di bangkunya perlahan berdiri. Ia berjalan ke undakan di bawah papan tulis dan berdiri tegak disana.
"Oi, anak kelas 3." katanya datar dan dingin. "Katanya mau kasih tunjuk lagu angkatan. Mana singing stance kalian?"
Kalimat itu sukses membuat anak-anak kelas 3 langsung melompat bangun dan bergegas berbaris mendekati Kita. Mereka membentuk barisan satu banjar dan memasang singing stance. Hinata dan anak-anak lain menoleh, penasaran bencampur takut mendengar bakal seperti apa lagu angkatan yang dimaksud.
[Ushijima, stereotype bass] (All, STB):
Hello darkness, my old friend
I've come to talk with you again
Because a vision softly creeping (huuuu uuuuh)
Left its seeds while I was sleeping (huuuu uuuuh)
And the vision (huuuu uuuuh) that was planted (huuuu uuuuh) in my brain
Still remains (huuu uuh huuu huuu uuhhh)
[Ushijima] (Sopran): Within the[( sound)]of silence
[All, STB]: tuu ruuu tuu ruuu tuu ruuu tuu ruuu tuuuuu
Hinata tercengang ketika Daichi dan Iwaizumi membungkuk, mulai memainkan beat-beat lembut dengan teknik beatbox sementara anak-anak kelas 3 yang lain menjadi backing vocal. Bokuto maju selangkah dan melantunkan bait lagunya dengan suara yang lembut dan ringan, namun tetap solid dan lantang.
[Bokuto] (STB-bar):
In restless dreams I walked alone (aah, haaa aah haa aah)
Narrow streets of cobblestone (aah, haaa aah haa aah)
'Neath the halo [(of a street lamp)]
(Sopran) [Bokuto]:
(haaa aah haa) I turned my collar to the [(cold and damp)]
(Sopran, Tenor) [Bokuto]:
(When my eyes) When my eyes were stabbed by the flash of a neon light (by the flash of a neon light)
That split the night (ooh, ooh hooo ooh ooh hooo)
And touched the sound of silence
[STBar]: tuu ruuu tuu ruuu tuu ruuu tuu ruuu tuuuuu
[Kita, B-bar] (Kuroo, Ushijima TB) {Sopran}:
And in the naked light I saw (naked light I saw) {ooh hoo ooh hoo}
Ten thousand people, maybe more {(maybe more, oooh hoo)}
(ooh, oh) People talking without speaking (without speaking, ooh)
People hearing without listening (without listening)
People writing...
[STBar]: songs that voices never share
[Kita] (sopran, tenor): And no one dared (ooh hoo ohh hoo ohh)
[Kita, down low to bass]: Disturb the sound of silence
[Sopran]: tuu ruuu tuu ruuu tuu ruuu tuu ruuu tuuuuu
[Kuroo, Tenor, echoing]: Of silence, of silence, of silence, of silence, of silence
[Oikawa] (STBar):
"Fools, " said I, "You do not know" (do not know, you do not know)
Silence, like a cancer, grows (ooh, it grows, ooh hoo ohh hoo ohh)
[Oikawa] (STBar):
Hear my words that I might teach you (hoo ohh hoo ohh)
[Oikawa] (Kuroo, Bokuto, Kita, Tenor){Yaku, Sugawara, Sopran}:
Take my arms that [{(I might reach you)}]
But my words (words) {words}
like silent raindrops fell
[({And echoed in the wells})]... of silence
[STBar]: tuu ruuu tuu ruuu tuu ruuu tuu ruuu ooh hoo oooh
[Kuroo, Tenor] (STBar):
And the people bowed and prayed (ooh hoo ooh hoo ooh)
(ooh hoo ooh hoo ooh) To the neon god they made (ooh hoo ooh hoo ooh)
[STBar]:
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming
And the sign said, "The words of the prophets are written on the subway walls
And tenement halls"
[STBar]:
And whispered in the sounds of silence
Semi yang mendengarkan nyanyian anak kelas 3 cuma bersandar melipat lengan di dada. Anak-anak kelas 1 terperangah kagum, memberikan tepuk tangan tulus saat Bokuto melambai dan membungku seperti baru saja mempertontonkan pertunjukan sirkus.
"Modulasi dan harmoninya solid." Kageyama mendengus. "Backing vocal-nya blending dengan dinamika yang tepat."
"Kau tidak mau membicarakan bagaiman Kita-san menyanyikan dua timbre bolak-balik bagiannya dan Ushijima-san yang tetap mempertahankan suara bass profoundo dengan tenaga sebesar itu meski menyanyi seorang diri?" Tsukishima menoleh.
"BOKUTO-SAN KEREN BANGET!" Hinata berseru girang. Manik coklat karamelnya berbinar-binar. "Naa, naa, Kageyama! Apakah suara asli countertenor itu seperti itu?"
"Bisa jadi." Kageyama menggedikkan bahu. "Tapi not yang dinyanyikan Bokuto-san pada bagiannya memang terbilang nada-nada flat yang cukup critical. Kalau tidak dinyanyikan dengan ringan dan lembut, bakalan kedengaran off-pitch."
"Anak kelas 2-nya diam aja?" Semi terkekeh mengompori. "Conductor junior kalian sudah mulai pintar komentar, nih."
Kenma mendadak berdiri dan menyibakkan poninya ke belakang menggunakan jari. Anak-anak kelas 2 mendekati tempat dimana Hoshiumi duduk, sementara si cowok mungil itu dengan angkuhnya duduk di meja dan mulai bernyanyi.
[SATB]:
Is this the real life? Is this just fantasy?
Caught in a landslide
No escape from reality
Open your eyes
Look up to the skies and see, uh uuh uuh...
[Hoshiumi] (SATB): I'm just a poor boy [poor boy], I need no sympathy
[SAT]:
Because I'm easy come, easy go
A little high, little low
[Hoshiumi] (SAT) {Sakusa, bass}
Anyway the [{(wind blows)}], doesn't really matter (to me),
to me
[SAT]: Pam pam pam pam pam pam pam, Pam pam pam pam pam pam pam pam
[Hoshiumi] (SAT)
Mama, (tum tumtum) just killed a man (tum tumtum)
Put a gun against his head (tum tumtum)
Pulled my trigger, now he's dead (tum tumtum tuum)
Mama, (tum tumtum) life had just begun (tum tumtum)
But now I've gone and thrown it all away (tum tumtum, tuu ruu ruu tuu ruu ruu ruu ruuu)
[Kenma start beatbox]
[Hoshiumi] (SAT):
Mama, ooh (anyway the wind blows)
(aaah) Didn't mean to make you cry (aah aaah aaah ahh)
If I'm not back again (I'm not back again) this time tomorrow
(oooh, carry on) Carry on, carry on (ooh, carry on), as if nothing really matters
[SAT]:
Pam pam pam pam pam pam pam, Pam pam pam pam pam pam pam pam
[Hoshiumi] (SAT):
(Tum turum tum tumtum tum) Too late, my time has come (Tum turum tum tumtum tum)
(Pam, uuuuh uuuh, oooh) Send shivers down my spine
Body's aching all the time (uuh uuh uuh, oooh)
[Sopran, Tenor] (alto)
Goodbye, everybody
I've got to go (ooh ooh ooh ooh ooooh)
[Hoshiumi] (SAT) {Sakusa, bass}:
Gonna leave you all behind to face the truth (face the truth, ooh)
Mama...uuuuh {anyway the wind blows}
(aah, aaah aaah, aah) I don't wanna die (ooh, oooh, oooh, ooh)
Sometimes I wish that I'd never been born at all
[Atsumu, beatbox mimicking guitar sound]:
Waraaaaw, waraaaaaw
Wararaw raraaaaw, wararararaw wararararaw warararararararaw
[Hoshiumi, Akaashi, alto](Atsumu) {Futakuchi, Shirabu, Sakusa}:
Ooh ooh ooh ooh ohh (warararararararaw, warararararararaw) {lalala, lalalalala}
(Wararaw Wararaw Wararaw) [{pam pam pam pam, pampampam, pam}]
[SATB]
pam pam pam pam pam pam pam pam
[Futakuchi]: I see a little silhouette of a man
[SATB]:
Scaramouche, Scaramouche, will you do the fandango?
Thunderbolt and lightning very very frightening me
[Shirabu](Futakuchi){sakusa, bass}:
Galileo (Galileo)
Galileo (Galileo)
[{(Galileo Figaro)}]
[Hoshiumi]: Magnifico, o-o-o-o-ooooh,
(Futakuchi) [SATB]:
(pam pam pam pam pam pam pam pam) I'm just a poor booy, nobody loves me
He just a poor boy from a poor family
Spare him his life from this monstrosity, tara rara rara ram
[Atsumu]: Easy come, easy go. Will you let me go
[Akaashi, Futakuchi, Sakusa, TAB] (Hoshiumi, Shirabu, Atsumu, ST):
Bismillah! No, we will not let you go. (Let him go!)
Bismillah! We will not let you go. (Let him go!)
Bismillah! We will not let you go. (Let me go!)
Will not let you go. (Let me go!)
Never let you go (Never, never, never, never let me go, oh oh oh oh)
[SATB] : No, no, no, no, no, no, no
[Sopran] (Hoshiumi): Oh, mama mia, mama mia (Mama mia, let me go.)
[SATB]: Beelzebub has a devil put aside for me, for me,
[Hoshiumi]: for me!
[Futakuchi join beatbox]
[SATB]: Hoo oooh oooh oooh oooh oooh, hoo oooh oooh oooh oooh oooh oooh oooh
[Atsumu] (SATB):
So you think you can stone me and spit in my eye? (Yeaaaaah!)
(oooh, oooh, oooh) So you think you can love me and leave me to die?
Oh, baby, (oooh, oooh, oooh) can't do this to me, baby,
(Just gotta get out, just gotta get right outta here).
[Sakusa, bass]: Hoo oooh oooh oooh oooh oooh
[SATB]: Hoo oooh oooh oooh oooh oooh
[Shirabu]: Ladada, ladada. Ladadada
[Akaashi]: Ladadada dadada dadada
[Futakuchi]: Lalalalala..
[Hoshiumi]: Lalalalala..
[Sopran, Alto] (Atsumu): Huuuu, uuuh, uuh...(wararaw, warararaw, wararaw)
[SATB]: Ooooh, ooh yeah, ooh yeah, oooh, hooo ooooh, uuuuh huuuu lalalaaa
[Hoshiumi] (SATB)
Nothing really matters (huuu)
Anyone can see (uuuuuh, huuuuu)
Nothing really matters
Nothing really matters (laaaaa, laaaaaa) to me.
[Sopran, Alto]
Tum tum, turum turum turum, turum turum turum
Tururum turum tum tum...
[Hoshiumi] (Sakusa, bass): Anyway the wind [(blows... )]
ev menganga lebar. Begitu pula dengan Yachi, Koganegawa, Hinata dan Shibayama. Kageyama mengerenyit bingung, ragu-ragu melirik Tsukishima yang kurang lebih memasang tampang yang sama. Dibandingkan lagu angkatan anak kelas 3 yang terdengar syahdu dan glorious, lagu angkatan yang dinyanyikan anak kelas 2 terasa begitu hidup. Kageyama menggenggam bagian samping kursi erat-erat saat mendengar Atsumu menyanyikan bagian So you think you can stone me and spit in my eye? Kageyama hampir lompat naik ke meja dan ingin ikutan bernyanyi. Selain lagu ini adalah lagu sejuta umat lintas generasi, pembawaan anak-anak kelas 2 membuat lagu ini terdengar begitu menyenangkan, membuat semua orang ingin bergabung.
"Padahal mereka nggak kelihatan kompak sama sekali." Tsukishima membetulkan posisi kacamatanya. "Begitu nyanyi, mereka seakan melebur jadi satu."
"Cara mereka memaksimalkan timbre suara masing-masing orang sangat menakutkan." Kageyama mereguk liur saking gugup dan bersemangat. "Ada efek berlapis-lapis yang amat merdu."
"Cara mereka membawa flow lagu ini juga keren." Tsukishima menoleh. "Kau tahu maksudku, kan? Penempatan beatbox, dinamika, rearansemen untuk backing vocal-nya."
Kageyama mengangguk kaku. "Aku punya feeling kalau lagu angkatan kita tidak lebih bombastis dari ini—"
"Mereka akan bikin drama yang amat, sangat menyebalkan." Tsukishima memotong.
"Jangan baca isi kepalaku, kusoshima." Desis Kageyama.
"Oh, ampuni hamba wahai baginda raja." Tsukishima memasang pose menangis palsu. "Jidatmu transparan, sih. Isi kepalamu terbaca dengan jelas."
Kageyama refleks memegangi dahinya. Tsukishima terpingkal-pingkal melihat reaksi polos tersebut. Menyadari ia termakan provokasi Tsukishima, Kageyama menggeram pelan.
"Ih, kalian dari tadi sahut-sahutan mulu. Aku sampai nggak diajak." Yachi menimpali guna mencairkan suasana tegang-tegang perang dingin Tsukishima dan Kageyama. "Sehati banget ya kalian, kalau soal musik."
"Idih. Sehati sama orang kayak begini..." Kageyama mengerenyit jijik. "Mending nggak punya hati sekalian."
"Oh baguslah kalau kau sadar diri." Tsukishima menukas manis. "Yang mulia raja tidak pantas dikasih hati juga, sih."
Yachi tertawa kaku, tidak tahu bagaimana menanggapi adu sarkas mereka berdua. Sakunami dan Koganegawa menepuk-nepuk pundak Yachi dan membalikkan badan cewek mungil itu menghadap mereka agar ia tidak perlu lagi bereaksi terhadap Kageyama atau Tsukishima.
"KENMA-SAN AKU PADAMUUUU!" Lev berteriak heboh sambil membentuk-bentuk tanda hati dengan tangannyaa.
"Anaknya Sterling benar-benar ngeri, ya." Semi tertawa. "Apa kau belajar lagu ini dari ibumu, Hoshiumi?"
"Oh, ini lagu pertama yang diajarkan ibuku ketika aku pertama kali terjun menekuni teknik vokal." Hoshiumi tertawa. "Ini lagu kesukaan ibuku, kesukaan ayahku juga. Katanya, lagu ini dimainkan juga di pernikahan mereka."
"Hardcore banget ibumu. Latihan paling dasarnya aja lagu beginian." Sakusa membalas pedas.
"Kau berharap apa, Omi-kun? Mamanya Korai vokalis rock-metal paling dipuja seantero negeri, sih." Atsumu membalas.
"Sudah, senang-senangnya?" Semi kemudian duduk di kursi pemain piano. "Mari kita mulai latihannya."
Sugawara membuka sebungkus permen rasa liqorice dan mengulumnya dengan enggan. Hari ini Semi memberikan latihan vokal yang cukup intens. Saking lelah berdiri, Lev memohon untuk latihan sambil duduk. Koganegawa dan Hinata berkali-kali dapat hukuman sikap tobat karena fals disana-sini, postur berdiri yang tidak rapi dan tidak fokus latihan. Futakuchi, Bokuto, Atsumu dan Kuroo juga tidak luput dari hukuman sikap tobat. Selepas latihan, Semi menjelaskan bagaimana mereka menjalani latihan di Silver-Tokyo Festival yang pertama di akhir pekan nanti. Seragam formal dan surat izin sudah diedarkan. Sampai ketemu akhir pekan nanti, begitu salam orang-orang.
"Shinsuke-san."
Kita menoleh begitu Sugawara memanggil namanya. Gadis itu mengejarnya, dan berdiri berhadapan dengannya.
"Aku—"
"—maaf." Kita menyela. "Aku sudah dengar dari Atsumu langsung. Maafkan aku sudah menyusahkan kalian semua."
Sugawara mengulum senyum. "Aku juga minta maaf, kalau aku terlalu menekanmu. Aku sayang padamu, Shinsuke. Aku cuma mau berguna buatmu juga."
"Tidak perlu." Kita menggeleng. "Kau mau mendampingiku saja sudah membuatku sangat tersanjung. Aku yang salah. Harusnya aku bisa menghadapimu dengan kepala dingin dan hati lapang. Aku hanya melampiaskan kekesalanku kepadamu, Sugawara."
"Kita nggak jadi putus, kan?" Mata Sugawara menggenang, berkaca-kaca.
"Jangan. Kemarin sampai rumah aku sesak juga memikirkan harus putus denganmu." Kita meraih tangan Sugawara dan menautkan kelingkingnya ke kelingking gadis itu. "Kita rujuk, yuk. Kalau ada waktu, baachan bilang mau ketemu pacarku."
"Shinsuke-san!"
Sugawara menarik Kita kedalam pelukannya. Pemuda bersurai keperakan itu memucat dan menepuk-nepuk pelan pinggang kekasihnya dengan panik.
"Suga... Suga... " bisiknya dengan suara tercekat. "Bahuku... oi... "
"Go—gomen... " Sugawara melepaskan pelukannya. Kita mendesah lega dan mengusap-usap pundaknya sendiri yang linu akibat pelukan sayang. Cedera pundaknya memang tidak terlalu serius. Tapi kalau bagian itu ditekan, masih memberikan rasa sakit tumpul yang sangat menganggu. "Antar aku pulang, ya?"
"Boleh."
Sugawara menautkan lengannya ke siku Kita yang satunya. Mereka berjalan bergandengan keluar gerbang, menuju trotoar jalan raya dan larut dalam kemesraan manis yang begitu sederhana. Pasangan lugu bersurai perak itu mungkin terlihat begitu menggemaskan di mata semua orang. Tapi dari balik kaca mobil Ushijima, pasangan itu malah justru terlihat memuakkan di mata Oikawa Tooru. Kenapa mobil Ushijima harus parkir di dekat pasangan itu? Kenapa pula pasangan itu harus berjalan lewat jarak pandang kaca depan mobil Ushijima? Semakin dilihat, Oikawa jadi semakin dengki.
"Hei, sudahlah. Jangan cemberut begitu." Ushijima yang duduk di jok pengemudi meraih sesuatu dari jok belakang dan memberikan hadiah kepada Oikawa. "Ini, kubawakan bunga untukmu."
"Oh, kupikir bunga ini untuk Shirabu." Oikawa menatap sinis. "Kau tahu aku tidak suka warna ungu. Kenapa kertas pembungkus buketnya warna ungu?"
Ushijima terdiam, lalu menyadari keteledorannya. "Oh, iya. Kalau kau tidak suka, aku akan cabut kertasnya. Kau masih mau menyimpan bunganya?"
Oikawa menerima bunga itu, cuma untuk melemparnya kembali ke jok belakang. "Ayo, belikan aku yang baru. Setelah itu kita jalan ke daerah Roppongi. Parfumku mau habis. Aku mau belanja."
"Baik."
Ushijima menyetir dengan patuh sesuai permintaan kemana Oikawa ingin pergi. Ia juga membelikan gadis cantik itu buket bunga baru—sebuket bunga lily putih dengan kertas pembungkus berwarna hijau mint, warna kesukaanya. Pemuda bongsor itu mengulurkan tangannya hendak menggandeng Oikawa, namun si gadis menepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku sebelum aku dengar password-nya." ketus Oikawa sambil membuang muka.
"Password?" Ushijima mengerenyit bingung. "Password apa? Kenapa perlu password untuk gandengan?"
Oikawa melotot kesal. Ushijima bukan laki-laki yang peka, dan butuh waktu untuknya mengingat bagaimana Oikawa menuntut untuk diperlakukan. Ushijima mendengus tipis sebelum ia sedikit membungkuk dan mengulurkan tangannya.
"Love, would you like to hold me?" gumamnya. Meski bahasa Inggrisnya terdengar kaku seperti mesin operator, Ushijima sungguh-sungguh mengatakan hal itu.
"Yes, babe."
Oikawa punya tangan yang kecil dan ramping. Telapak tangan Ushijima besarnya nyaris tiga kali lipat. Mereka bergandengan, berjalan memutari pusat perbelanjaan. Oikawa tampak sangat cantik kalau ia sedang tersenyum dan tertawa. Ia banyak berceloteh mengenai fiksi fantasi yang sedang ia gemari, dan akan terus mengoceh meski Ushijima sebetulnya tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Gadis bersurai coklat berombak itu tiba-tiba berhenti, menatap lingerie biru pupus yang dipajang menggunakan manekin.
"Ushiwaka-chan, apa aku akan terlihat seksi kalau pakai itu?" Tanya Oikawa sambil mengedip genit.
"Mana aku tahu." jawab Ushijima datar.
"Jawabanmu dingin sekali." Oikawa kembali cemberut. "Apa Shirabu yang malah ada di kepalamu mengenakkan lingerie itu?"
Ushijima hanya mengerjapkan matanya. Isi kepalanya kosong, hatinya berkelumit. Sulit sekali menghadapi pacar rahasia yang cemburu kepada pacar resmi. Tapi objeknya adalah Oikawa Tooru yang haus pengakuan dan pemujaan. Ushijima menghela nafas dan mencoba merangkai kelakar menjurus seperti yang sering diucapkan Kuroo. Bagaimana caranya, ya? Ushijima menatap manekin itu dan Oikawa bergantian, lalu menyunggingkan senyum tipis.
"Kalau gitu, beli aja. Terus coba kau kenakkan itu di kamarku. Biar aku sendiri yang menilai kau seksi atau tidak dengan pakaian itu, Oikawa."
Reaksinya diluar dugaan. Oikawa tertawa dengan pipi memerah. Ia berjanji akan melakukannya begitu Silver-Tokyo Festival berakhir, memberikan Ushijima fanservice privat terencana. Anggap saja hadiah apresiasi atas diterimanya Ushijima di Akademi Angkatan Udara, begitu tuturnya.
Ushijima tidak suka dihakimi. Silahkan katai dia bajingan pengkhianat atau apapun, sebab ia menjalani semua ini dengan sadar. Tapi ia pun tidak bisa memungkiri, punya pacar resmi dan pacar rahasia itu ternyata asyiknya bukan main!
-Playlist-
The Sound of Silence dan Bohemian Rhapsody cover dari Pentatonix. Coba dengerin sambil baca chapter ini biar sensasi halunya lebih nyata HAAHAHAHAHA!
bangsat (bacotan ngegas tapi santuy dari author):
Olaaaa! Akhirnya aku bisa apdet ditengah kesibukan kerja yang semakin menggila ini. Kita-suga emang crackpair paraaah tapi somehow aku sangat menikmati bikin cerita tentang mereka. Yang ngerasa omi-omi OOC banget disini kasih tahu aku, ya! Soalnya aku beranggapan walaupun Sakusa emang judes pedes kalo di anime-manganya, sebetulnya somehow dia bisa punya soft spot sama seseorang dan bakalan peduli habis-habisan sama orang yang dianggapnya spesial (kayak komori, misalkan?) Atau gambaranku soal Sakusa lebih kearah fanon nya daripada canonnya. Aku ingin bisa update kilat lagi, tapi apa daya isi kepala nggak bisa mentah-mentah diketik. Harus digodok sedemikian rupa dulu ih. Aku juga mau curhat, seneng mulai banyak lagi fanficnya HQID apalagi setelah seasons 4 cour 2-nya tayang. Aduh aku nungguin sunarin dan blocking saktinya ditambah special defense Kita-san! Animenya yang sekarang grafik dan motionnya kurang greget tapi yagimana namanya juga lagi corona yekannn. Udah release tiap minggu aja harusnya udah bersyukur.
Baiklah, khalayak. Sampai disni dulu bacotanku. YANG NANYAIN OSAMU BAKALAN DIKELUARIN APA NGGAK, JAWABANNYA IYA TENTU SAJA! TAPI KALAU NANTI ANGSTY BAPER JANGAN SALAHIN AUTHORNYA YA! SOALNYA AUTHOR MAU BIKIN OSAMU PUNYA KISAH CINTA YANG TIDAK MULUS HAHAHA! Siapa pair-nya? Silahkan ditebak, ya! Yang benar dapat one-shot gratis bikinan author~~~
See you in the next chapter!
