Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)

Main Cast:

- Choi Siwon

- Cho Kyuhyun

Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC

Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc

Disclaimer: They belongs to God and themselves


PART VII

[ The Child Prodigy (1) ]


Jepang, Juni 20xx

Kamagasaki, salah satu distrik di Osaka yang terkenal sebagai 'Kota Kumuh'. Penduduknya yang mayoritas adalah sampah masyarakat, menjadikan distrik tersebut sebagai tempat yang enggan didatangi. Pemabuk dan penjudi dapat ditemukan dengan mudah disetiap sudut jalan. Jarang sekali ada yang menemukan kebahagiaan disana, anak - anak pun ditelantarkan, seperti dirinya saat ini. Bunyi kaca yang membentur dinding kembali terdengar, serpihan belingnya bahkan menelusup masuk ke bawah celah pintu. Ia hanya diam sembari duduk didalam kamarnya, buku yang ia baca, sudah mencapai halaman akhir. Namun, kedua orang tuanya masih sibuk berkelahi, adu mulut lebih tepatnya. Menutup buku dengan sampul lusuh tersebut, ia menyempatkan diri untuk mendengar pembicaraan kedua orangtuanya. Lagi - lagi, sang ibu meminjam uang, dan kali ini, pada salah satu keluarga yakuza yang terkenal keji.

"KAU GILA?! MEMINJAM UANG DARI KELUARGA ISAMU?! APA YANG KAU JANJIKAN UNTUK MEREKA?! APA JAMINAN MU?!"

"AKU BOSAN HIDUP SUSAH! DAN ANAK ITU! ANAK ITU HANYA MEMBERATKAN KITA! DIA LEBIH BERGUNA MENJADI JAMINAN!"

"JAGA KATA - KATA MU, DASAR JALANG!"

"HARUSNYA KAU BERKACA, BAJINGAN! MEMANGNYA SELAMA INI, UANG ALKOHOL DAN BERJUDI MU ITU DARI SIAPA?! AKU! AKU YANG MENCARI PINJAMAN UNTUK MU!"

Suara benturan kulit antar kulit terdengar, pekik kesakitan ibunya menggema. Ia hanya memandang datar pada langit - langit kamarnya. Atap rumah tersebut seakan dapat roboh kapan saja, menimpa tubuh kecilnya. Namun ia tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, karena mati terdengar lebih baik daripada harus tetap hidup dan menjadi beban. Ia melipat alas duduknya, sebelum berdiri dan meraih sebuah spidol bertinta hitam, menuliskan apapun yang ia ingat dari buku bacaannya tadi pada permukaan keras dinding kamarnya. Setelah puas dengan hasil kerjanya tadi, ia berjalan kearah pintu kamarnya, menempelkan telinga pada kayu yang sudah lapuk dimakan rayap tersebut, mencoba mencari kesempatan untuk menyelinap keluar rumah.

"WANITA BRENGSEK! AKU TIDAK AKAN MAU MENERIMA UANG ITU JIKA AKU TAHU JAMINANNYA ADALAH ANAKKU!"

"HAH! OMONG KOSONG! KAU JUGA PASTI MENUNGGU WAKTU YANG TEPAT UNTUK MENJUAL ANAK ITU!"

"KEPARAT! PERGI KAU DARI SINI! PERGI!"

"BAIK! AKU AKAN PERGI! TAPI, AKU AKAN KEMBALI MENJEMPUT ANAK ITU! DAN KAU TIDAK BERHAK MENGHALANGI KU!"

Pintu rumah dibanting dengan kasar, menghasilkan getaran pada dinding sekitarnya. Ia cukup mengerti apa yang di maksud oleh kedua orangtuanya. Sudah menjadi hal umum didaerah tempat tinggalnya, bagi para pasangan suami istri untuk memperjual belikan anak mereka, karena sesuap nasi terasa sangat mahal bagi penduduk disana. Ia membuka pintu perlahan, deritnya memekakkan telinga, namun sang ayah tidak bergeming dari tempatnya, memberikan dirinya kesempatan untuk menyelinap keluar. Kaki kecilnya menapak pada tanah berdebu, sepatu kebesaran yang menjadi alasnya, memperlihatkan lubang dibeberapa tempat. Tanah lapang kosong yang berada tak jauh dari rumahnya, adalah tempat yang ia tuju. Satu - satunya tempat dimana ia bisa bebas dari suasana sesak rumahnya. Bukan karena sempit, namun, akibat kedua orangtuanya yang bertengkar hampir setiap saat, membuat dirinya muak.

Kesendirian sudah menjadi hal lumrah untuknya. Ia tak begitu suka berbaur dengan teman seusianya. Mereka semua licik dan jahat, tak peduli jika salah satunya di korbankan sebagai umpan saat mencuri di toko makanan. Dirinya pernah berada diposisi tidak beruntung itu, hanya karena ingin mencoba ikut berbaur. Akhirnya, ia lebih suka seperti ini, menyendiri sembari mengamati kehidupan yang tak terlihat. Berjongkok didepan sebuah lubang berisi semut, ia memperhatikan serangga kecil itu bergantian masuk dan keluar, menyuplai makanan untuk kelompoknya. Hal tersebut memberikan stimulasi pemikiran dan menimbulkan sebuah pertanyaan di kepalanya. Mengapa manusia tidak bisa bekerja sama seperti semut? Mengapa mereka harus saling memakan satu sama lain untuk bertahan hidup? Menatap sendu barisan serangga pekerja itu, ia mulai melantunkan sebuah lagu yang selalu ia dengar saat mengamati gadis - gadis muda di lingkungannya bermain.

"Tooryanse tooryanse
(Biarkan aku lewat, biarkan aku lewat)

Koko wa doko no hosomichi ja?
(Di mana tujuan jalan sempit ini?)

Tenjin-sama no hosomichi ja
(Ini adalah jalan ke Kuil Suci Tenjin)

Chiito tooshite kudashanse
(Tolong biarkan kami lewat)

Goyou no nai mono toosha senu
(Orang tanpa alasan yang kuat tidak diizinkan lewat)"

Nyanyiannya menggema ditanah kosong tersebut. Samar - samar suara tangisan bayi ikut terdengar, namun hal tersebut sama sekali tidak mengganggunya. Ia dapat merasakan beberapa pasang mata mengintip, mencari tahu siapa yang melantunkan lagu tersebut, netra mereka menatap was - was dan ngeri. Tubuh kecilnya tertutupi tumpukan kayu usang, membuat suasana mencekam bagi yang melewati tanah lapang itu karena tidak melihat dirinya. Bibirnya tak berhenti walau bisik - bisik ketakutan dari beberapa anak yang menangkap sosoknya, berisi umpatan dan cacian dengan nada bergetar. Ia terus bernyanyi, bahkan sendirinya tak sadar bahwa irama yang digunakan terdengar sangat menyedihkan.

"Kono ko no nanatsu no oiwai ni
(Untuk merayakan ulangtahun ketujuh anak ini)

O fuda wo osame ni mairimasu
(Kami datang untuk membuat penawaran kami)

Iki wa yoi yoi kaeri wa kowai
(Masuk itu mudah, sangat mudah, tetapi kembali akan menakutkan)

Kowai nagara mo tooryanse tooryanse.
(Itu menakutkan, tapi biarkan aku lewat, biarkan aku lewat)"

Langkah kaki seseorang terdengar mendekat, telinganya cukup tajam untuk mendengar pergerakan tersebut. Tetapi, dirinya memilih tak peduli, melanjutkan lantunan yang ia mulai hingga sajak terakhir. Tidak banyak orang yang berani mendekatinya, karena mereka menganggap dirinya 'aneh'. Seorang bocah lelaki, namun berkulit terlampau pucat dengan mata bulat yang menatap datar dan surai hitam sepanjang bahu, bak boneka ichimatsu dengan ekspresi kaku. Bibirnya terkatup rapat saat sepasang lengan yang familiar, mengangkat tubuh kecilnya dengan mudah, mendekapnya dalam gendongan.

"Kyou, jangan sendirian disini, bagaimana kalau sesuatu terjadi pada mu? Apa yang sedang kau lakukan, hm?"

Ia mengerjap pelan, sebelum mendongak untuk menatap pemilik suara tersebut. Seorang wanita berusia akhir dua puluhan dengan surai hitam diikat tinggi dalam gulungan, tampak tersenyum lembut padanya. Kembali menunduk, ia bermain dengan ujung bajunya yang kumal dan lusuh, membiarkan wanita tersebut membawa ia pergi dari sana. Kepalanya menyandar pada bahu sempit itu. "Melihat semut, bibi Tatsumi sudah pulang?"

"Ya, bibi baru selesai bekerja dan tidak sengaja melihat mu disini", wanita itu memberikan tatapan teduh pada yang lebih muda. Tak sedikitpun menyinggung perihal kedua orangtua si kecil yang pastinya sibuk bertengkar. "Ayo, ke rumah bibi saja, temani bibi dan Maa-kun makan. Kau boleh membaca sepuasnya setelah perut mu terisi, karena kemarin bibi menemukan banyak buku lagi!"

Menemukan yang dimaksud oleh wanita tersebut adalah memunguti buku - buku yang dibuang begitu saja pada kotak sampah daur ulang kertas. Terkadang, ia pergi bersama wanita itu untuk mencari buku bekas, sekaligus menemani yang lebih tua bekerja. Mereka sampai pada sebuah rumah dari bebatuan dan papan, memasuki bangunan kecil tersebut setelah mengucap salam. Namun, tidak ada balasan dari penghuni lain disana, anak sang bibi pasti sedang 'bekerja'. Ia memilih untuk duduk sembari memperhatikan wanita tersebut memasak. Netranya tak lepas dari tiga ekor ikan seukuran telapak tangan kecilnya yang dipenuhi lumpur, pasti sang bibi memungut sisa jualan pedagang yang tertimbun jalanan becek pasar. Namun, dirinya tidak mempermasalahkan hal tersebut, dapat menelan makanan saja sudah suatu keberuntungan untuknya. Ia berdiri untuk membantu menyiapkan tiga buah mangkuk dan sumpit, menatanya diatas tikar bambu ruang tengah, dan mengangkat teko berisi air.

Nasi hangat sudah tersedia, walau satu porsi harus dibagi untuk bertiga, setidaknya mereka bisa makan ikan satu ekor untuk satu orang. Sang bibi mulai bercerita mengenai biota sungai dan beberapa jenisnya, selalu membuat ia terpukau karena wanita tersebut sangatlah cerdas. Pertanyaan mulai terlontar dari mulutnya, benaknya haus akan ilmu yang dimiliki sang bibi. Keduanya baru menghentikan sesi tanya jawab, saat anak lelaki dari wanita tersebut pulang. Ia menatap kaku bocah lelaki yang lebih tua empat tahun darinya itu, sebelum menyodorkan mangkuk nasi dan piring berisi ikan bakar. Anak itu tersenyum tipis menepuk kepalanya pelan, lalu memberikan kecupan di pipi sang bibi yang merupakan ibunya. Saat wanita itu beranjak kebagian belakang rumah, anak lelaki tadi menyelipkan tiga bungkus permen di telapaknya, menghargai usahanya membantu sang bibi menyiapkan makanan.

Keduanya memang tak sering berbicara, namun ia tahu bahwa Mahiro, atau yang terkadang ia panggil aniki, sedikit bersimpati padanya. Tak jarang mereka saling menatap dengan kekesalan dan kecemburuan yang pekat, tetapi disaat - saat seperti ini, yang lebih tua memilih untuk tidak memulai perang dingin mereka. Mahiro berdiri setelah menyelesaikan makan siangnya, berpamitan pada wanita tadi, sebelum kembali berlari keluar rumah untuk bermain. Sang bibi hanya tersenyum saat dirinya melontarkan tanya, mengapa wanita itu tidak melarang anaknya? Jawaban yang ia dapatkan, sedikit membuat dahinya berkerut. Karena dia percaya Mahiro akan belajar sesuatu dari pengalaman diluar rumah, itulah kalimat yang digunakan sang bibi. Terdengar aneh untuknya, namun di satu sisi, ia juga tidak tahu harus berkata apa. Jangan lupakan gurat sendu yang kentara diparas sang wanita, setitik rasa bersalah juga terlihat disana.

Saat ini, ia dan sang bibi sedang duduk diruang tengah rumah tersebut bersama setumpuk buku. Setelah menyelesaikan makan siang, mereka memang memilih untuk melihat beberapa buku yang wanita itu temukan kemarin. Sendirinya lebih memilih untuk membaca buku - buku rumit yang seharusnya dicerna oleh anak berusia tiga tahun diatasnya. Ia tak menghiraukan buku bersampul indah, berisi ragam cerita anak dan dongeng mengenai negeri antah berantah. Sesuatu yang mustahil untuk di impikan. Banyak anak seusianya yang menyukai cerita berisi roman picisan antar pangeran dan putri, berbeda dengan dirinya yang sama sekali tidak tertarik dengan hal tersebut. Fakta kehidupan sudah pahit terkecap di lidahnya, ia tidak akan pernah mengharapkan bertemu putri yang harus ia selamatkan, atau mungkin, pangeran yang akan menyelamatkannya. Kedua orangtuanya sudah cukup menjadi figur kegagalan dalam romantisme pernikahan, akibat kepuasan semalam dan keegoisan salah satu pihak. Sungguh menyedihkan.

"Nah, itulah alasan mengapa burung tetap bisa bernafas saat terbang di udara. Tidak seperti burung, kita tidak punya pundi - pundi udara", jemari wanita tersebut menunjuk beberapa gambar yang ada pada buku didepan mereka. Yang lebih tua sedang mencoba menjelaskan perihal anatomi hewan bersayap, dan cukup puas saat si kecil bersurai hitam itu mengangguk cepat pertanda mengerti. "Kyou anak yang pintar, apa cita - cita mu nanti kalau sudah besar?"

"Tidak tahu", cepat dan datar, jawaban itu terlontar begitu saja.

"Kyou, memiliki cita - cita dan bermimpi itu tidak salah. Justru itu akan membuat mu menjadi lebih semangat untuk terus berjuang"

"Tapi, aku benar - benar tidak tahu..."

Keheningan mengisi selama beberapa detik yang terasa panjang. Ia tidak tahu harus menjadi apa nantinya. Mendengar sang ibu ingin menjualnya saja, membuat ia mual untuk membayangkan masa depan. Kaki kecilnya seakan gatal ingin berlari menjauh, bersembunyi dari intensi jahat para orang dewasa yang siap memperdagangkannya. Tentu, dirinya memiliki rencana untuk kabur, namun kalimat yang ayahnya teriakkan pagi ini, seakan menjadi belenggu yang mengunci pergelangan kakinya. Pria itu masih memiliki hati dan menganggap dirinya sebagai anak. Tetapi, berjaga - jaga bukanlah suatu hal buruk, maka dari itu, ia sudah menyusun rapi sebuah rencana jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi.

"Kyou, bibi punya buku yang mungkin akan menyenangkan untuk kau baca", wanita tersebut memperlihatkan beberapa buku cerita bergambar padanya.

Ia menatap tanpa minat pada buku - buku tadi, sebelum menatap sang bibi. "Boleh aku minta peta saja? Apa bibi punya?"

"Kau tidak mau buku cerita?", gelengan pelan adalah jawaban mutlak dari yang lebih muda. "Baiklah, akan bibi carikan. Sepertinya, bibi menyimpan satu di kamar belakang"

Ia kembali membaca buku didepannya, sembari menunggu sang bibi untuk kembali. Satu hal yang membuat Mahiro cemburu padanya, yaitu antusiasmenya dalam mempelajari hal baru. Berbeda dengan anak - anak disana, ia lebih memilih untuk membaca buku dan meraba angka - angka sulit untuk dipecahkan. Ia juga beberapa kali belajar bahasa asing, yaitu bahasa Korea, dari ibunya. Walau wanita itu tidak memperdulikannya, terkadang saat mereka duduk dalam satu ruangan, sang ibu akan mengajaknya berbicara menggunakan bahasa tersebut sembari memberikan titian kata dalam kertas sebagai penjelasan. Memang tidak fasih, namun ia menangkap cukup banyak kosa kata dan aturan bahasa yang digunakan. Netranya menangkap figur sang bibi yang kembali, sebuah buku dan selembar peta berada di genggamannya.

"Bibi hanya punya ini", kedua objek tersebut segera berpindah tangan pada yang lebih muda. Buku tersebut merupakan panduan rute pariwisata, dan peta yang diberikan sesuai dengan permintaannya, peta negara mereka. "Kyou, apa kau yakin mengerti isinya? Tidak ingin mencoba membaca buku cerita saja?"

"Mmhm, tentu. Lagi pula, membaca buku cerita itu membosankan. Sesuatu seperti di buku cerita, tidak akan pernah terjadi di dunia nyata"

"Kyou..."

Ia tidak menghiraukan tatapan sendu wanita tersebut. Itu hanya akan membuatnya ikut bersedih. Tersenyum kecil, ia mendekap kedua objek tadi dengan erat, sebelum berdiri dari posisi duduknya. "Boleh aku minta buku dan peta ini, bibi?"

"Tentu saja, bawalah pulang. Ingat, jika kau butuh sesuatu, datanglah kesini"

"Terimakasih bibi Tatsumi. Kyou pergi dulu", menunduk dalam ia lalu berjalan keluar melewati pintu, berniat untuk segera kembali kerumahnya dan menelan segala informasi yang ada didalam buku serta peta dalam dekapannya. "Terimakasih untuk makanan dan bukunya, bibi", berucap sopan, ia pun menutup pintu rumah tersebut, sebelum berjalan memasuki gang sempit disamping bangunan rumah tadi.


###


Surya baru akan terbit dua jam lagi, namun hal tersebut tidak menghentikan langkah kecilnya untuk berkeliling. Saat - saat seperti ini adalah waktu yang paling ia sukai, karena ia bisa merasakan suasana tenang dan sunyi. Semua orang tertidur, tidak ada kegiatan tak berarti yang para orang dewasa lakukan, anak - anak seusianya pun masih terlelap nyenyak. Senyuman tampak diparasnya yang manis, bermain - main dengan ngengat yang terbang dibawah cahaya lampu jalan, dan berkejaran dengan kucing liar yang mengikutinya. Ia merasa sangat lepas dan bebas, seakan tidak ada satu hal pun yang harus dirinya khawatirkan. Namun, kebahagiaan kecilnya berakhir saat mendengar jerit kesakitan yang familiar. Suara itu milik ibunya, sudah seharian kemarin wanita itu tidak pulang ke rumah, bersama seluruh perhiasan yang wanita itu punya.

Tatapannya terfokus pada dua orang pria yang bersama sang ibu. Entah apa yang mereka bicarakan, namun hal tersebut berakhir dengan tubuh wanita tersebut yang ambruk kebawah dan menatap kosong kearahnya. Ia menangkap cipratan darah disekitar dahi wanita itu, kakinya gemetar, sedikit melangkah mendekat untuk mencoba memastikan perkiraannya. Netranya pun melebar, ketika melihat salah satu dari pria itu menyimpan kembali senjata api yang tadi diarahkan pada ibunya. Takut. Ia baru saja menyaksikan sang ibu dibunuh dengan mata kepalanya sendiri. Walau ia tidak begitu dekat dengan wanita tersebut, tetap saja ikatan darah berhasil memancing bulir - bulir bening lolos dari sudut matanya, tak sanggup menahan cairan tersebut pada kelopaknya. Ia menangis dalam diam, sebelum kedua kakinya ia paksa berlari sekuat tenaga, menjauhi lokasi tadi.

Perasaannya campur aduk, ia memasuki rumah dengan terburu, namun tetap berhati - hati, berusaha tidak nembangunkan sang ayah yang sedang tertidur. Mengintip melalui celah - celah pada badan pintu, netranya ia gunakan untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya. Ia mengambil langkah mundur, hanya bisa memandang nanar pada kayu lapuk tersebut, sebelum berjalan ke kamarnya. Ia butuh rencana pelarian serta sebuah tujuan pasti. Membuka peta serta buku yang diberikan oleh tetangganya kemarin, jemari kecilnya meraba setiap gambar dan tulisan, menghafal rute serta waktu tempuh tiap kota dari wilayahnya. Tidak ada gunanya jika ia menangis terlalu lama, dirinya harus segera keluar dari tempat ini, berlari sejauh mungkin. Tidak. Ia tidak akan mau menjadi 'barang' untuk membayar semua hutang yang kedua orangtuanya sebabkan. Terutama sang ibu. Ia tidak bodoh, wanita itu sangat suka memuaskan rasa haus akan kehidupan glamour tanpa sepengetahuan suaminya.

Beberapa kali ia tertidur dan terbangun karena suara berisik diluar kamarnya. Kegaduhan yang tercipta khas saat sang ayah sedang mabuk. Namun, tak sekalipun ia memiliki keinginan untuk melihat apa yang terjadi. Justru, ia lebih memilih untuk kembali menghafal peta dan rute perjalanan tadi, terkadang mencatatnya diatas dinding semen kamar. Rasa lapar sama sekali tidak mengganggunya, haus pun segera ia redakan dengan sebotol air yang berada dipojok ruangan kecil tersebut. Menarik beberapa kardus berisi buku dan baju, ia memanjat tumpukan kotak itu, lalu berjinjit untuk mencari ruang kosong diatas dinding tadi. Ia harus menulis semua informasi yang netranya tangkap, mencatatnya ulang agar lebih cepat memasuki ingatannya. Hari seakan berjalan dengan cepat, cahaya senja menelusup dari celah di atap kamarnya. Mengganti pakaian menggunakan yang lebih pas ditubuh kecilnya, ia segera memasukkan beberapa uang koin kedalam kantung celananya. Semua itu ia dapatkan dari celah lantai rumah.

Perlahan, ia membuka pintu kamar, berencana melihat keadaan sekitar. Namun, tubuh seseorang menghalangi pandangannya saat ia baru menyembulkan kepalanya keluar. Sial, itu ayahnya. "Otousan, aku-"

Lengannya dicengkram, tubuh kecilnya diseret menuju pintu keluar. Ia takut sang ayah mengetahui rencananya untuk melarikan diri. Karena, untuk pertama kalinya, pria itu melakukan hal kasar seperti ini padanya. Ia sudah terbiasa menerima tamparan ataupun makian dari sang ibu, namun, tidak untuk sang ayah. Pria itu lebih memilih untuk mengabaikannya dan menumpahkan segala amarah serta murka pada sang istri. Ia terdorong keluar, nyaris tersungkur jatuh jika tidak reflek berpegangan pada sisi pagar yang digunakan sebagai pembatas parit pembuangan.

"PERGI KAU DARI SINI!"

Ia tersentak kaget saat mendengar bentakan kasar tersebut ditujukan padanya. Matanya berkaca - kaca, pandangannya mulai mengabur. Panggil dirinya cengeng, tetapi, ia benar - benar tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari pria yang dirinya panggil 'ayah' itu. "Otousan- hikss... Kyou salah apa? Hikss hikss"

"Dengar, jika aku sampai melihat mu kembali kesini, aku tidak akan segan menjadikan mu sasaran pukul ku", bukannya menjawab pertanyaan sang anak, pria itu justru melemparkan botol sakenya. Beruntung, kaca tersebut pecah menghantam dinding dibelakang yang lebih muda, walau belingnya berserakan hingga mencapai kaki pucat itu yang menapak tanpa alas. "Dan saat itu terjadi, botol ini tidak akan meleset"

"Ta, tapi hikss... Otousan-"

"Pergi dari sini, bocah keparat!"

Netranya bergetar takut saat sang ayah mengacungkan botol kedua padanya, seakan siap untuk memberikan lemparan lagi. Mendapat impuls bahaya, kedua kakinya memilih untuk berlari menjauh, sekuat dan secepat yang ia bisa. Tak ia pedulikan rasa panas dari tanah yang ia pijak, sisa sengatan mentari seharian ini, bahkan nyeri pada telapaknya pun tak lantas membuatnya berhenti. Ia terus berlari hingga rumah yang selama ini ia tinggali sudah tak tampak lagi. Melewati beberapa pemabuk yang terkikik gila disudut - sudut jalan, ia menutup telinganya, berusaha menghalangi suara yang dapat memberikan mimpi buruk untuknya. Ia tak sekalipun berhenti walau nafasnya tersengal dan kawasan yang ia tinggali, sudah berada jauh dibelakang. Justru, kakinya semakin cepat berlari saat melihat kerumunan sibuk para pekerja berpakaian rapi.

Saat itulah ia tersadar, ia sudah berlari cukup jauh. Namun, belum cukup jauh untuk menghindari para yakuza yang menuntut hutang harta dari kedua orangtuanya. Telapak kakinya memerah karena digunakan untuk berlari tanpa diberi alas sebagai pelindung. Merintih pelan, ia berjalan menuju stasiun kereta yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini, hanya berjarak sepuluh menit dengan jalan kaki. Ia punya tujuan yang jelas, walau masih sedikit ragu, tetapi keputusannya sudah bulat. Tokyo, ia harus lari ke Tokyo. Kota itu cukup jauh dan padat penduduk, tak mungkin ia bisa ditemukan dengan mudah jika pergi kesana. Menyusup diantara kumpulan orang dewasa, ia bersyukur karena tidak ada satupun penjaga yang sadar. Ia menuju gerbong paling belakang, bersembunyi dibawah kursi panjang tempat penumpang duduk, dan menunggu hingga kereta tersebut sampai pada tujuan utamanya, ibukota Jepang dan merupakan pusat kegiatan negara tersebut, Tokyo.

Beberapa jam ke depan, ia habiskan dengan tidur, sangat bersyukur karena tidak ada satu orang pun yang menyadarinya disana. Hingga suara berisik dari pengeras suara, menyebutkan nama kota yang ia tuju. Seakan tidak terjadi apapun, ia kembali menyelinap diantara kerumunan, namun kali ini, cara yang ia gunakan gagal. Penumpang dari Osaka yang menuju Tokyo, tidaklah banyak, justru sebagian besarnya menuju kota - kota kecil yang masih berada dalam satu jalur. Kaki kecil itu kembali berlari, menghindari kejaran petugas stasiun yang memergokinya. Sial sekali ia pergi tanpa menggunakan sepatu kebesaran yang biasa dirinya pakai, karena beberapa kali, telapaknya menginjak kerikil bahkan serpihan tajam pada aspal dingin kota tersebut. Ia berbelok masuk kedalam sebuah gang sempit, bersembunyi dibalik tempat sampah besar, hanya demi menghindari para petugas stasiun tadi. Nafasnya memburu, ia gemetar karena merasakan dingin malam semakin menusuk akibat keringat yang membasahi bajunya.

Disanalah ia bertemu dengan para anak jalanan lainnya, saat mereka bersembunyi dari kejaran pemilik kedai makanan yang marah. Mereka merangkul pundaknya, membawa ia ke tempat yang lebih layak untuk beristirahat, kawasan kumuh dibawah kolong jembatan. Tidur beralas kardus dan langit sebagai atap, namun dingin malam tak lagi ia rasakan karena mereka tidur berdempetan, upaya untuk berbagi kehangatan. Kegiatan mereka tak jauh berbeda dari para anak terlantar di Kamagasaki, hanya saja, terkadang mereka lebih memilih mengais makanan dibelakang jajaran ruko restoran, dari pada harus mencuri. Ia menikmatinya, karena teman - teman barunya tidak meninggalkan ia sendirian setelah selesai mencuri. Dirinya sangat dimanjakan karena memang ia yang paling muda, bahkan mereka melarang ia pergi sendirian. Hal - hal menyenangkan ia dapatkan hanya dalam waktu singkat bersama mereka. Walaupun hal tersebut tidak bertahan lama.

Semuanya terenggut pada malam itu. Tepat dua minggu setelah kedatangannya ke Tokyo, seorang pria berwajah tegas dan bermata tajam menatap kearahnya dari ujung gang. Pria itu mengenakan pakaian rapi berwarna sedikit mencolok, senyuman miring tercetak dibibir tersebut. Ia menghentikan kegiatannya mengais sisa makanan dibelakang sebuah restoran cepat saji, merasa terusik dengan tatapan tadi. Netra coklatnya mengerjap pelan, memberikan tatapan kaku pada pria berusia akhir dua puluhan itu. Ia sengaja pergi sendirian karena tak ingin mengganggu teman - temannya beristirahat, mereka tidak cukup beruntung hari ini karena gagal mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Namun, entah mengapa ia memiliki firasat akan menyesali tindakannya ini.

Beberapa orang yang berdiri dibelakang pria tadi, berjalan kearahnya. Tiga orang berwajah keras tersebut, membungkamnya paksa dengan sebuah saputangan. Ia ingin berteriak dan melawan, namun tenaganya tak dapat menandingi ketiga orang tadi. Perlahan - lahan, kesadarannya seakan melayang, pandangannya tak fokus dan kepalanya terasa ringan. Gerakannya juga melemah, sebelum tungkainya benar - benar terkulai lemas, seakan kehilangan tenaga.

Lalu, semuanya gelap.


###


"Di, dimana...?"

Netranya terbuka perlahan sembari bibirnya meloloskan sebuah rintihan, ia memegangi kepalanya yang sakit, seakan - akan baru saja dipukuli oleh balok kayu. Tangannya meraba sekitar, mengernyit bingung saat merasakan bahan empuk yang menjadi alasnya. Ia terbaring diatas sebuah ranjang, tentu saja dirinya yakin akan hal itu. Suara beberapa orang yang sedang berbicara, menembus dari celah pintu yang terbuka, terdengar asing ditelinganya. Ingin berdiri memastikan, namun lehernya seakan terkunci ditempat, ada yang menahan pergerakannya dan ruangan tersebut dalam keadaan gelap, sama sekali tidak membantunya. Ia hanya bisa terduduk disudut ranjang, kedua kaki menapak pada lantai perlahan. Sedikit mengejutkan untuk nya, karena suara besi bertubrukan dengan keramik, terdengar cukup keras. Ia bisa merasakan beban disalah satu pergelangan kakinya. Kulitnya yang pucat, semakin memucat saat melihat siapa orang - orang yang berbicara diluar tadi. Ia kenal dengan salah satunya.

"Oh? Dia sudah bangun. Kalian benar - benar dapat barang bagus", tatapan dari seorang pemuda yang memakai kimono merah dengan aksen keemasan, tertuju padanya. Ya, ia yakin orang tersebut adalah laki - laki, walau berpenampilan seperti wanita. Fitur wajah dan intonasi suara tidak bisa membohonginya.

"Tentu saja, anak ini target utama kita. Ryuichi-sama akan membunuh kami kalau yang ini sampai lolos", menunduk dalam, dirinya tidak berani walau hanya bertemu pandang dengan pria tersebut, salah satu dari orang yang membuatnya tak sadarkan diri.

"Baiklah, baiklah, sepertinya dia anak yang pintar. Katakan pada Ryuichi-sama, beri aku satu tahun untuk melatihnya. Anak yang dibawa paksa seperti ini, akan lebih susah di didik. Tapi, aku akui, Ryuichi-sama selalu memiliki penilaian yang bagus. Lihat, jarang sekali ada yang punya mata boneka seperti itu. Manis sekali~"

"Jangan macam - macam, Yukiya. Kau tidak ingin sponsor paling berpengaruh ditempat ini murka, bukan?"

Ia sedikit mengangkat kepalanya karena suasana yang tiba - tiba hening. Pemuda bernama Yukiya tadi, menatap keras pada pria didepannya. Ia kembali menunduk saat pintu ruangan tersebut dibanting menutup. Sumpah serapah terdengar dari pemuda itu, lampu ruangan pun dinyalakan, memperlihatkan nuansa kamar tidur yang dipenuhi dengan ragam pernak - pernik bertema kucing. Lemari yang cukup besar, terletak merapat disepanjang sisi dinding bagian kanan, dan hanya ada satu ranjang besar disana, dilengkapi dengan kelambu disekelilingnya. Tentu ia sadar dengan warna merah muda yang sangat mendominasi ruangan itu. Secara keseluruhan, kamar tersebut sangat indah, namun akan lebih disenangi oleh kalangan anak perempuan. Ia tersentak kaget saat dagunya diangkat oleh yang lebih tua, netranya melebar, bergetar takut.

"Hei, nak. Siapa nama mu?", ia tidak menjawab, pandangannya tak dapat berfokus pada wajah berpoles riasan tersebut. Pemuda itu menghela nafas, lalu melepaskan dagunya. "Tidak masalah kalau kau tidak mau menjawabnya. Lagi pula, kau tidak memerlukan nama mu disini"

"Tidak... Perlu...?"

"Ya. Mulai hari ini, kau akan dilatih sebagai penghibur disini. Kau hanya perlu mengikuti apa yang instruktur jelaskan, dan jika kau melakukan pelanggaran, akan ada hukuman untuk membayarnya", pemuda itu terus berbicara sembari berjalan kearah lemari besar tadi. Membuka pintunya dan mengambil sebuah piyama bermotif kucing, lalu meletakkan pakaian tidur tersebut tepat disampingnya. "Sekarang, ini adalah kamar mu. Akan ada dua orang lainnya yang tinggal disini dan sekaligus ikut membantu membimbing mu. Kalian bertiga akan dikhususkan melayani Ryuichi Isamu-sama saat beliau berkunjung dan hanya akan melayani tamu lain yang direkomendasikan olehnya. Beliau adalah sponsor tempat ini, sekaligus menyokong dana untuk kebutuhan pribadi kalian bertiga"

Ia mengerjap pelan, menatap kosong lantai kamar tersebut. Sebuah rantai terpasang dipergelangan kaki kanannya, terhubung langsung dengan kaki ranjang. Kedua tangannya pun perlahan meraba bagian lehernya, sesuatu berbahan kulit melingkar disana, seperti sebuah kalung leher yang biasa digunakan oleh hewan peliharaan, lengkap dengan tali kekang yang diikat pada kepala ranjang. Tak heran jika dirinya kesulitan untuk berdiri tadi. Sebenarnya ia masih terguncang, semua informasi ini seakan memberikan hantaman kuat pada mentalnya. Melirik pada lemari yang pintunya dibiarkan terbuka, ia menilik sesaat pada model pakaian didalamnya. Ia mulai merasakan ketakutan yang mendalam. Apapun yang akan ia alami ditempat ini, pastilah tidak menyenangkan. Kedua tangannya meremat ujung pakaian lusuh yang dikenakannya, seakan memberi penolakan tersirat untuk memakai pakaian yang diberikan padanya.

"Pergilah mandi dan kenakan pakaian yang sudah tersedia. Aku tidak suka anak yang bersikap nakal, dalam artian, keras kepala dan tidak mau menurut pada ku", pemuda itu berjalan menuju pintu setelah melepas rantai yang mengikat pergelangan kakinya. "Oh, dan satu lagi... Lupakan nama yang kau punya, karena mulai saat ini, kau akan dipanggil dengan 'Koneko-chan', kau mengerti? Dan kau bisa memanggil ku 'Mama' selama berada disini"

Sungguh, ia tidak mengerti. Satu hal yang bisa ia simpulkan dari keadaan ini, pelariannya gagal, dan ia kembali ke titik awal. Kembali pada satu - satunya pilihan hidup yang tak bisa ia hindari. Tetapi, ia tidak menangis, lebih tepatnya, ia berusaha keras untuk menahan bulir bening itu agar tidak mengalir, membasahi pipinya. Ia baru sanggup mendongak saat mendengar suara langkah ringan memasuki kamar tersebut dan menuju kearahnya. Dua orang anak laki - laki, berdiri didepannya dengan senyuman ramah. Salah satunya, memiliki surai sewarna kayu mahogani, kulit putih, tubuh ramping yang tegap, dan bibir tipis merah muda. Seorang lainnya, memiliki surai sehitam arang, namun mendapat sentuhan warna lazuardi pada sepertiga bagian bawahnya, berwajah bulat dan bermata tajam bagaikan reptil pemangsa.

"Halo, aku Kuroneko, umur ku sepuluh tahun", anak bersurai mahogani tadi, menarik sebuah kursi dari meja rias diruangan tersebut, mendudukkan diri didepannya. "Karena lebih tua dari mu, panggil saja niisan. Kau anak baru yang Mama bilang? Kau masih sangat kecil... Umur mu masih tujuh tahun, 'kan?", ia memberikan anggukan kaku sebagai jawaban.

"Aku Mikeneko! Kami berdua seumuran. Tapi karena kedua orangtua ku berasal dari Qingdao di Cina, bagaimana kalau kau memanggil ku 'gege' saja? Oh! Mama bilang, panggilan mu Koneko-chan, ya?", ia kembali mengangguk saat anak lelaki berwajah bulat tadi mengambil tempat disampingnya untuk duduk. "Ingin cerita kenapa bisa sampai dibawa kesini?"

Awalnya, ia hanya diam dengan kepala tertunduk. Namun, melihat persistensi kedua orang didepannya, akhirnya ia menyerah dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menyimak dengan serius, beberapa kali memberikan usapan pada punggung dan kepalanya, untuk menenangkan dirinya yang mulai menangis. Ia merasa sangat terpuruk saat ini, setelah susah payah berlari, akhirnya harus tertangkap dan berakhir seperti ini. Dirinya hanyalah anak - anak, menghadapi kenyataan harus dijual oleh orangtuanya, membuat ia semakin terpukul. Entah sudah berapa lama ia menangis, ia bahkan tidak tahu, tidak ada jam diruangan ini. Kedua anak lelaki tadi, membantunya untuk berdiri dan membawanya ke kamar mandi. Rambutnya yang kusam dan kering dicuci menggunakan shampoo dengan aroma persik yang tercium manis, tubuhnya juga dibersihkan dan digosok menggunakan sabun beraroma serupa. Semua itu dilakukan oleh kedua anak tadi, ia hanya diam, tak melakukan apapun.

Setelah selesai, mereka menginstruksikan dirinya agar masuk kedalam bathtub berisi air hangat. Ia hanya menurut dan berendam didalamnya. Kedua anak yang lebih tua darinya itu, mengambil tempat untuk duduk disisi bathtub tersebut. Lalu, anak berjuluk Kuroneko tadi mulai menceritakan bagaimana dia bisa berada disana. Ekonomi keluarga, hal umum yang dialami semua orang. Namun, anak bersurai mahogani itu sendirilah yang bersedia menjual diri karena sang ibu yang menderita sakit parah. Walau semua berakhir menyedihkan karena sang ibu yang akhirnya tetap menutup usia, dan dia masih harus melunasi semua pinjaman pengobatan untuk rumah sakit. Berbeda dengan anak berjuluk Mikeneko tadi, yang berlari ke jalanan karena hampir dilecehkan oleh ayahnya sendiri, hingga dia menerima uluran tangan yang berjanji memberikan perlindungan padanya. Dia hanya menurut, karena mendapat perlakuan dan tempat yang lebih baik disana.

Mereka tidak mengatakan apapun saat ia bertanya mengenai perkataan sang 'Mama' tadi. Keduanya memilih bungkam sembari menatapnya dengan pandangan sendu bercampur sedih, mungkin akan merasa bersalah jika harus mengatakannya saat ini juga. Malam itu, ia tertidur dengan rasa gelisah menggantung dibelakang kepalanya. Namun, ia mencoba untuk tenang saat merasakan lengan kedua anak lelaki tadi, mendekapnya hangat dalam pelukan. Setidaknya, ia memiliki teman yang bernasib serupa, terjebak ditempat ini.

Setidaknya, ia tidak sendirian dalam menyelami kubangan penderitaan ditempat antah berantah ini.


The Child Prodigy : To Be Continued


A/N:

Ini chapter masa lalunya Kyu yaa, bakal ada 3 chapter nanti. Ah, aku tak bisa berkata - kata lagi. Mungkin, peringatan aja, kalau part depan bakal bikin mual yang gak suka bagian 'sensitif' nya.

Ini link untuk lagu Tooryanse tadi https - : - / - / - youtu - . - be -/ - VpdJkXfekOo

Tanda (-) nya dihilangin yaa. Jangan lupa didengerin, biar tau gimana kira² feel lagunya.

Oh iya, author baru baca beberapa review dari seri ff lain, kayaknya ada yang nanya twitter ya^^ ada kok akun twitter ku, tapi itu cuma tempat nge fangirl sama nge rant wkwkwk, ntar ilfeel lagi kalau mutualan xD

Akhir kata, tinggalkan review jika berkenan dan biar diriku pun kuat mengetik lanjutannya :")

.

Special Thanks to :

- gnf

- Chii

- Nunna

- gyu1315

- maynidit