Annyeong annyeong~
Enjoy!
Sorry for typo-
The 2nd Meeting
Chapter 13
.
.
"Jika kau di sini, apa pertunanganmu batal, hyung?" tanya Sehun saat kesunyian hampir menelan mereka.
Jongin meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, "aaagggghh!" Lalu ia menoleh pada Sehun. "Ani…"
"Michoseo?!" seru Sehun.
"Ani…" jawab Jongin. Sehun hanya bisa mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti dengan sahabatnya itu. "…aku memang ingin membatalkannya, tapi tidak tahu caranya." Ada jeda di kalimatnya, "Sehun-ah, apa ini perasaanmu dulu saat dipaksa menikah hingga kau menjalin hubungan dengan Luhan?"
"Ani," jawab Sehun. "Dulu aku menghindari pernikahan karena berpikir itu merepotkan. Luhan, dia hanya kebetulan saja muncul dan memberiku ide."
"Tapi itu dulu, kan?"
"Hm… itu dulu. Sekarang–"
"–sekarang kau bahkan melamarnya, tapi ditolak!" Celetuk Jongin lalu ia terbahak.
"Sial kau…" geram Sehun.
"Aku akan mengatasinya, jangan khawatir." Ucap Jongin dengan suaranya yang terdengar tenang. Meski begitu suasana hatinya benar-benar tidak tenang.
"Siapa yang khawatir." Balas Sehun.
Jongin menyandarkan kepalanya dengan nyaman lalu memejamkan matanya. Ia kembali memikirkan kejadian saat ia baru saja kembali dari Hawaii. Malam hari sepulangnya dari liburan, ayahnya memberitahu jika teman lamanya akan berkunjung. Siapa sangka, ternyata teman ayahnya itu membawa seorang wanita muda seusianya. Bukan sembarang wanita, melainkan calon tunangannya.
Acara pertunangan yang digelar secara tertutup itu akan dilangsungkan 1 bulan dari sekarang. Itulah kenapa Jongin merasa tidak tenang karena memikirkan bagaimana harus membatalkannya. Jika saja ia tidak mulai jatuh cinta pada wanita galak yang ditemuinya di Hawaii, mungkin ia akan menerima pertunangan itu dengan mudah.
"Ya, maknae-ya. Beritahu kalau sudah sampai rumahku…" ucap Jongin lalu mulai mencoba untuk tidur.
Sehun menggerutu, ia merasa telah dimanfaatkan. "Kau pikir aku supirmu!"
.
.
[Rumah Chanyeol]
Dering ponsel memecah keheningan di rumah besar itu. Sejak tadi, pemiliknya masih bergelung nyaman dibawah selimut. Si pria bergerak, ia mulai membuka matanya dengan kesulitan. Samar-samar ia melihat kekasihnya masih tidur di sebelahnya.
"Sayang… ponselmu." Ucap Chanyeol dengan suara serak. Ia menggoyangkan tubuh kekasihnya. Namun, yang terdengar hanyalah gumaman kecil dari wanitanya lalu tidak ada tanggapan lagi. Dering ponsel itu berhenti, hal itu membuat Chanyeol bernapas lega lalu kembali tidur. Tak lama, ponsel itu kembali berbunyi.
"Astaga…" keluhnya. Ia segera bangun lalu tangannya yang panjang melewati kekasihnya yang masih terlelap, ponsel itu berhasil ia raih. "Yeoboseyeo…" jawabnya.
"Baekki!– eh? Chanyeol-ssi?"
"Hm, kau pikir siapa lagi? Waeyeo Luhan-ssi?"
"Apa Baeki masih tidur?"
"Hm,"
"Bilang padanya, jangan terlalu pagi ke butik. Siang saja karena akan ada pembenahan. Baekki tidak suka dengan kekacauan."
"Araseoyo akan aku sampaikan."
"Gamsahamnida,"
"Ne…"
Chanyeol kembali ke tempatnya, ia melirik jam di dinding. Masih pukul 8 pagi, untung saja Luhan memberitahu kalau Baekhyun harus datang siang. Ia tidak tega membangunkan kekasihnya yang masih terlelap itu.
"Siapa Chan?" tanya Baekhyun.
"Eh? Kau sudah bangun? Tadi, Luhan-ssi. Dia bilang kau bisa datang siang."
Baekhyun membuka matanya, "benarkah?"
"Hm, gwaenchanha kau bisa tidur lagi." Chanyeol memberitahu.
Bukannya kembali tidur, Baekhyun malah bangun dan mulai meregangkan tubuhnya. Ia menggeleng, "aku lapar… memangnya kau tidak lapar?"
Chanyeol menyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Lapar…"
Setelah mengenakan kemeja Chanyeol–karena bajunya sudah tidak layak pakai lagi, Baekhyun keluar kamar untuk membuat sarapan. Tak lupa ia membawa serta ponselnya untuk melihat resep.
Saat sedang asyik mengolah sarapannya, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di tubuhnya. Tentu saja Baekhyun tahu siapa pelakunya, lagi-lagi Chanyeol membuatnya jantungan. "Kau hampir membuatku memasukkan banyak garam, Chan!"
"Mian…" cengir Chanyeol, "…hmm, baunya enak."
Baekhyun menolehkan kepala ke belakang, "tentu saja!"
Chanyeol mencuri morning kiss-nya dari bibir Baekhyun. "Aku harus menghubungi seseorang." Lalu pria itu melenggang begitu saja dan mulai sibuk berbicara dengan orang lain. Baekhyun hanya tersenyum dengan wajah yang tersipu. Memang kekasihnya itu senang sekali membuat jantungnya tidak sehat.
Tinggal menunggu sayurnya matang, Baekhyun menutup pancinya lalu mengambil ponselnya yang sbelumnya ia dengar ada pesan masuk. Dahinya berkerut saat melihat nomor asing yang menghubunginya.
(No Name): Annyeonghaseyo Baekhyun-ssi, ingat aku?
Nomor asing tanpa foto profil, memangnya Baekhyun peramal! Wanita itu menimbang-nimbang. 'Apa dia?' tanya Baekhyun dalam hati.
(Baekhyun) Nuguseyo?
Akhirnya itulah balasan yang Baekhyun ketikkan.
(No Name) Aku Kim Tae Hyung :(
"Sudah kuduga…" gumam Baekhyun. Sebuah pesan masuk lagi–
(No Name) Apa kita bisa bertemu? Bagaimanapun kau pernah menyelamatkanku, aku hanya ingin berterimakasih.
Baekhyun menimbang sesuatu, ia menoleh pada Chanyeol yang kini duduk di sofa sambil mengangkat kakinya. Pria itu masih sibuk berceloteh ria.
(Baekyun) Gwaenchanhayo, Taehyung-ssi… aku senang bisa membantu
(No Name) Selama ini aku sudah mencarimu. Apa tidak bisa? Aku benar-benar ingin berterima kasih dengan benar. Ayolah :(
Wanita itu menghela napasnya, saat ingin mengetikkan permohonan maaf, tiba-tiba Taehyung menghubunginya. Langsung saja ia me-reject-nya karena kini Chanyeol mendekat padanya. Setelah itu ia dengan cepat mengetikkan balasan dan menyimpan ponselnya. Bukannya ia ingin menyembunyikan hal ini, tapi ia tidak mau paginya harus dihabiskan dengan mendesah akibat kecemburuan kekasihnya.
"Ada apa, Baek?" tanya Chanyeol, pria itu sepertinya melihat kepanikkan kekasihnya.
"Ah, ini… bisa bantu aku? Ini sudah matang." ucapnya sambil mematikan kompor. Ia menyerahkan panci itu pada Chanyeol. Setelah itu keduanya mulai memakan sarapan mereka.
.
.
Hari ini, Minggu, merupakan hari dan minggu jadwal Kyungsoo untuk mendatangi panti asuhan. Setiap minggunya, sekolah Kyungsoo selalu rajin untuk berkunjung ke panti asuhan yang memang dikelola oleh yayasan. Setiap minggunya, jadwal guru yang akan datang pun selalu berubah.
Dering ponsel membuat konsentrasi seorang wanita terbagi. Kyugsoo yang masih membenahi penampilannya itu segera mengambil ponselnya. "Kau sudah di bawah? Baiklah." Setelah memastikan dirinya sekali lagi, Kyungsoo mengambil tasnya lalu bergegas keluar kamar.
Di luar apartemennya, seorang pria sudah menunggunya. "Joonmyun-ssi?" panggil Kyungsoo.
Rekan sesama gurunya itu menoleh, pria itu terlihat terdiam beberapa saat sambil memandangi Kyungsoo. Mungkin ia terpana dengan kecantikan wanita di hadapannya.
"Joonmyun-ssi?" panggil Kyungso lagi.
Pria itu tersentak, "ah- mianhaeyo, kau terlihat berbeda."
Kyungsoo memerhatikan penampilannya dari kaca mobil yang memantulkan bayangannya. "Apa ada yang aneh?"
Joonmyun menggeleng, "a-aniyo. Kau terlihat cantik."
Kyungsoo mengerjapkan matanya, sepertinya ia sudah memancing hal yang tidak seharusnya. "Apa kita ke sana dengan mobil ini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Ne, aku meminjamnya dari temanku. Agar lebih mudah dan barang-barang yang harus diberikan juga sudah di bagasi." Jelas Joonmyun.
Kyungsoo merasa bersalah, seharusnya ia juga membantu untuk itu. "Kenapa kau tidak memberitahuku, Joonmyun-ssi. Aku jadi merasa tak enak."
Joonmyun tersenyum, "aniyeyo… gwaenchanhayo, para guru pria membantuku. Ayo kita berangkat sekarang sebelum siang." Ajaknya. Kyungsoo mengangguk, lalu mengikuti Joonmyun masuk ke mobil.
..
Kini keduanya sudah sampai di panti asuhan. Baru saja mereka keluar dari mobil, anak-anak panti langsung menyerbu mereka.
"Seonsaengnimmm!" seru mereka serempak. Kyungsoo dan Joonmyun yang masih di samping pintu mobil lantas memeluki mereka. Anak-anak perempuan berkumpul di sekeliling Kyungsoo sedangkan anak laki-laki berkumpul pada Joonmyun. Keduanya pun mengajak anak-anak untuk berkumpul bersama.
"Halo semuanya! Apa kalian sudah siap-siap? Kenapa cepat sekali sudah berlari kemari?" tanya Kyungsoo
"Kami merindukan Do seonsaengnim!" pekik anak perempuan.
"Seonsaengnim juga merindukan kalian. Kkajja masuk, kita akan belajar dan bermain bersama nanti."
"YEEAAYYY! Kita bisa bermain dan belajar bersama Kim seonsaengnim dan Do seonsaengnim lagi!"
Kyungsoo tersenyum, ia bersyukur bisa kembali kemari lagi. Sudah hampir tiga bulan ia tidak kemari karena belum mendapat giliran. Ia melihat Joonmyun sudah diikuti anak laki-laki menuju bagasi. Sepertinya mereka akan mengangkat barang.
"Kalian, kembali dulu ke dalam ya. Seonsaengnim mau bantu Kim seonsaengnim dulu."
Anak-anak itu mengangguk, salah satunya berkata, "kami juga mau bantu bunda menyiapkan makanan dulu." Kemudian mereka serempak berlari ke dalam.
"Pelan-pelan!" seru Kyungsoo mengingatkan, lalu ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah anak-anaknya yang tak berubah.
Kyungsoo mendekat ke belakang mobil, "apa yang harus aku bawa?" tawarnya.
"Oh, semua barang sudah dibawa anak-anak. Hanya tersisa ini, aku bisa mengatasinya." Jawab Joonmyun.
"Kalau begitu biarkan aku membawa kantung plastiknya. Memangnya kau bisa membawa kotak dengan kantung plastik?"
"Kau yakin, Kyungsoo-ssi? Plastiknya berat–"
Kyungsoo mengambil alih plastik besar tersebut, "hanya ini tidak masalah," ucap Kyungsoo sambil tersenyum. "Biar aku tutup mobilnya, duluan saja."
"Gwaencahanhayo, lebih baik kita bersama."
Kyungsoo mengangguk, "baiklah." Lalu menutup pintu belakang mobil.
Kegiatan mereka di panti asuhan adalah memberikan barang-barang yang dibutuhkan anak-anak seperti seragam, buku tulis, buku pelajaran, alat tulis, serta kebutuhan sekolah lainnya. Tidak hanya itu, sembako juga mereka berikan. Setelah itu, mereka akan belajar bersama, karena basic mereka adalah pengajar. Belajar selama 2 jam, saat istirahat, mereka akan makan bersama. Kemudian barulah bermain bersama.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kyungsoo dan Joonmyun beristirahat di bawah pohon menyaksikan anak-anak yang masih semangat bermain di halaman. Meski sedang istirahat, Kyungsoo masih berteriak menyemangati anak-anak dan sesekali tertawa ketika melihat tingkah mereka yang lucu. Selama itu pula, Joonmyun tak bisa mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo. Ia begitu terpana dengan wanita di sebelahnya.
Tanpa sengaja Kyungsoo memergoki pria itu sedang memerhatikannya. "Waeyo, Joonmyun-ssi?" tanyanya.
Joonmyun lagi-lagi tersentak, "aniyo… kau terlihat bahagia. Apa kau begitu menyukai mereka?" tanyanya. Ya, ini baru kali pertama mereka mendapat jadwal bersama.
Kyungsoo mengangguk, "mereka terlihat begitu lepas. Aku senang, meski tidak lagi memiliki keluarga mereka masih bisa bersenang-senang. Setiap melihat mereka, rasanya beban dunia menghilang. Namun ketika melihat mereka beranjak dewasa, rasanya sayang sekali, aku tidak mau mereka kenal dengan kerasnya dunia."
Joonmyun tersenyum, "mereka pasti lebih kuat dari orang kebanyakan karena mereka sudah merasakan kehilangan disaat kecil."
Kyungsoo menoleh pada Joonmyun, pria itu tersenyum hangat. "…aku yakin mereka akan tumbuh menjadi anak-anak hebat."
Kyungsoo tersenyum, "aku harap begitu."
"Samchoonn!"
"Semuanya! Samchoonn sudah datang!"
Seruan suara anak-anak membuat Kyungsoo dan Joonmyun menoleh ke sumber suara.
"Jongin samchoonn!"
Kyungsoo segera menajamkan pandangannya ke pria tinggi yang sedang dikerumuni anak-anak. 'Jongin?' gumamnya, 'berapa orang yang memiliki nama itu?'
"Siapa itu?" tanya Joonmyun. "Apa ada orang lain yang mengunjungi panti selain orang yayasan?" tanyanya.
Kyungsoo hanya mendengarnya, tapi tidak terlalu fokus. Ia berusaha mencari sosok yang dipanggil samchon itu. Matanya benar-benar membulat sempurna saat pria yang baru datang itu benar-benar orang yang ia tahu. "Kim Jongin-ssi?" gumamnya pelan.
Joonmyun menoleh pada Kyungsoo, "kau mengenalnya, Kyungsoo-ssi?"
Kyungsoo mengangguk, "hm, hanya kenalan." Jawabnya.
Anak-anak menunjuk pada Kyungsoo dan Joonmyun. Sepertinya mereka memberitahu bahwa guru sekolah dari yayasan datang. Kerumunan itu pun bubar, pria yang baru datang itu mendekat ke bawah pohon.
"Kyungsoo-ssi, kau di sini? Kebetulan sekali." Sapa Jongin.
"Jongin-ssi, annyeonghaseyo. Ada keperluan apa kemari?" tanya Kyungsoo.
Jongin tersenyum dengan menjengkelkan, "sepertinya kau mulai ingin tahu urusanku ya, Nona?"
Kyungsoo sedang tidak ingin berdebat, tapi pria itu malah bersikap menyebalkan, terlebih di depan rekan gurunya. "Maaf sudah ikut campur, Jongin-ssi. Kami harus pamit, permisi. Kkajja, Joonmyun-ssi." Ucapnya lalu memberi kode agar Joonmyun ikut dengannya.
"Permisi…" pamit Joonmyun dengan senyuman yang begitu dipaksakan. Ia menoleh pada Jongin sebelum kembali mengikuti Kyungsoo.
Jongin menghela napas lega, "aku selamat, yah meskipun harus mendengar ucapan dinginnya itu…" gumamnya lalu berbalik, menatap punggung wanita yang menjauh itu. Ia sendiri terkejut bisa bertemu Kyungsoo di sini. Ia tidak memikirkan kemungkinan ini. Ia tidak bisa membuat alasan, untungnya ia berhasil mengalihkan pembicaraan. "Tapi guru laki-laki itu…" Jongin berpikir, "…Joonmyun? Jangan-jangan…" akhirnya Jongin mengingat nama pria yang sempat mengganggu Kyungsoo sewatu liburan. "Sial, kenapa mereka bisa bersama?"
Tak lama, ia melihat dua guru itu kembali bersama anak-anak yang mulai berlari menujunya. "Samchon! Samchon! Ayo bermain bersama seonsaengnim juga!" Ajak salah satu dari mereka. Jongin memerhatikan kedua guru itu, sepertinya mereka sudah luluh dengan kelucuan anak-anak ini. Jongin tersenyum sambil mengacak rambut anak itu, "kkajja, apa yang kita mainkan?"
"Bola! Tim seonsaengnim harus melawan tim samchon!"
"Iya! Do seonsaengnim akan menjadi wasitnya!" seru yang lain.
Jongin menatap Joonmuyun sekilas, sepertinya ia harus menunjukkan kehebatannya. "Kalau begitu ayo kita mulai!"
Prriiiiittt!
Permainan dimulai, kedua tim masih terlihat aman untuk saat ini. Bola berada di tim Joonmyun yang membuat Jongin dan timnya mencoba merebut bola. Suara tawa anak-anak dan sorakan anak perempuan memenuhi halaman. Bola berhasil di rebut, kini benda bulat itu digiring ke arah berlawanan. Tendangan mulus dioper dari Jongin ke seorang anak.
"Samchon! Jihoon bukan tim kita!" seru seorang anak dari tim Jongin.
Jongin terkejut, "ah! Benarkah? Baiklah aku akan mengejarnya." Anak-anak tertawa melihat tingkah konyol paman mereka itu.
Joonmyun tersenyum miring pada Jongin, "kau bodah?" ejeknya lalu berlari untuk menolong timnya.
Jongin yang tidak mau kalah pun mulai mengincar bola. "Euunwoo-ya, berikan pada paman!" serunya saat salah satu timnya berhasil merebut bola. Bola sampai di kaki Jongin, ia ganti tersenyum mengejek pada Joonmyun.
"Samchon! Kemari!" seru seorang anak.
Jongin hendak menendang, namun ia mengurungkannya. "Eits! Kau mau menipu samchon ya? Tidak akan lagi."
"Samchon! Shoot!" teriak yang lainnya heboh.
"Ini dia–" bola melesat cepat. Bukannya memasuki gawang, namun bola itu melenceng dan mengenai Kyungsoo yang berdiri di sisi lapangan.
BUGH!
"Seonsaengnim!" teriak anak perempuan. Kyungsoo dengan cepat menoleh pada mereka, "gwaenchanha, ini tidak sakit." Ucapnya menenangkan anak-anak.
Joonmyun segera melesat ke tempat Kyungsoo. "Kyungsoo-sii, gwaenchanhayo?" Pria itu refleks memegang tangan Kyungsoo untuk memeriksanya.
Kyungsoo mengangguk sambil menarik tangannya canggung. "Gwaenchanhayo, ini bahkan tidak meninggalkan bekas." Tunjuknya pada lengannya yang terlihat baik-baik saja. Ia menyimpan cepat tangannya, khawatir ruam merah akan muncul.
"Gwaenchanhayo?" tanya Jongin yang baru sampai, "mianhaeyo."
"Gwaenchanhayo, Jongin-ssi."
"Anak-anak, kalau begitu ayo kita sudahi saja. Kita buat es, eotte?" tawar Joonmyun.
"Mau!"
"Kalau begitu, bantu seonsaengnim menyiapkan bahannya."
"Nee!" jawab mereka serempak. Lalu mereka mulai berpencar.
Kyungsoo dan Jongin masih di tempatnya, mereka saling menatap satu sama lain. Tapi tidak bertahan lama untuk Kyungsoo, wanita itu terlihat salah tingkah dengan mengalihkan pandangannya. Jongin mendekat lalu meraih tangan Kyungsoo dan membawanya pergi.
"Ya!" seru Kyungsoo, "mau ke mana?"
"Diam sebentar, jangan protes." Ucap Jongin. Keduanya menuju mobil Jongin. Pria itu mengeluarkan kotak P3K dengan satu tangannya. Lalu membawa Kyungsoo ke belakang panti.
Joonmyun yang sedang menggiring anak-anak untuk masuk, menoleh ke belakang. Ia melihat kedua orang itu pergi dengan tangan beratautan. Tatapan tidak sukanya terlihat jelas.
Jongin dan Kyungsoo kini sampai di belakang panti, agak jauh, di sana terdapat sebuah danau yang masih milik panti. "Kemarikan tanganmu." Perintah Jongin saat keduanya sudah duduk bersebelahan di bawah pohon yang menghadap ke danau.
Kyungsoo mencoba menyembunyikan tangannya yang sebenarnya mulai terasa panas. Dan perih. "Gwaen-gwaenchanhayo ini–" tangannya terlebih dahulu ditarik oleh Jongin.
Jongin meringis melihat betapa merahnya tangan putih Kyungsoo. "Pasti sakit, kenapa kau sembunyikan."
Kyungsoo menarik tangannya, "ini bukan apa-apa, tidak perlu–"
Jongin menatap tegas pada Kyungsoo, "aku yang membuat tanganmu seperti itu. Kemarikan," perintahnya lagi.
Kyungsoo akhirnya kembali mengeluarkan tangannya dan membiarkan pria itu mengolesi salep di tangannya. Rasa dingin mulai menutupi panas di tangannya. Tangan pria itu menyetuh permukaan kulitnya dengan lembut dan hati-hati. Entah kenapa emosinya yang selalu meledak di dekat pria ini, kini tidak ada lagi. Hanya tersisa kedamaian seperti angin yang bertiup lembut membawa aroma danau yang menyegarkan.
"Selesai," ucap Jongin lalu mengembalikan obatnya ke kotak.
Kyungsoo tersentak, ia segera menarik tangannya. "Go-gompda."
"Kau berterima kasih padaku?" tanya Jongin. Kyungsoo hanya mengangguk. Pria itu tersenyum, "kalau begitu…" dengan tiba-tiba ia merebahkan kepalanya di paha Kyungsoo, lalu menutup matanya. "…biarkan aku istirahat. Kepalaku terasa ingin meledak."
Kyungsoo membeku di tempatnya. Kata-kata umpatan yang sudah ia siapkan tidak jadi meluncur karena melihat kekesalan di wajah si pria.
"Aku pikir kau ikhlas, ternyata tidak." Komentar Kyungsoo.
"Bukannya kau yang mengajarkanku jadi seperti ini?" Balas Jongin tanpa membuka matanya.
Kyungsoo hanya mencibirnya. "Waeyo? Kau lemah sekali, lelah hanya karena bermain bola?"
Jongin membuka matanya, sorot matanya langsung menuju mata Kyungsoo. "Apa kau tahu?" Pria itu meraih tangan Kyungsoo dan membawanya ke dadanya. "Dia seperti akan meledak." Kyungsoo terkejut, ia merasakan debaran jantung pria itu tidak normal. Apa-apaan maksudnya? Pikir Kyungsoo, meski ia sudah bisa menerka maksudnya. Ia hanya tidak mau mengakuinya. "Lalu, kepalaku juga ingin meledak rasanya saat pria itu memegang tanganmu." Jongin menelusupkan jarinya ke jari-jari tirus Kyungsoo dan menggenggamnya. "Kalian berkencan?" tanya Jongin.
Tatapan dan suaranya, Kyungsoo bisa tahu bahwa pria itu sedang serius. Tidak ada aura bercanda ataupun menggoda seperti biasanya. Kyungsoo menggeleng, "a-aniyo."
Wajah Jongin terlihat lebih cerah, "benarkah? Kalau begitu bagus." Pria itu kembali memejamkan matanya masih sambil menggenggam tangan Kyungsoo. "Akan lebih bagus jika kau bisa mengusap kepalaku."
Kyungsoo menarik tangannya dengan cepat, "ja-jangan berlebihan, Kim Jongin-ssi!"
Jongin terkekeh lalu kembali menutup matanya. Ia menyedekapkan tangannya ke dada lalu mencoba untuk tidur. Kapan lagi ia memiliki kesempatan seperti ini. Sepertinya Kyungsoo juga tidak ada tanda-tanda akan protes dalam waktu dekat.
Hembusan angin bagai merestui keduanya. Belaian lembut angin membuat suasana begitu tentram dan nyaman. Keduanya pun hanya bisa sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tak jauh dari sana, Joonmyun berdiri di balik pohon dengan tangan terkepal erat. Awalnya ia mencari Kyungsoo karena anak-anak panti menanyakannya, tapi yang ia dapat adalah pasangan yang sedang beromantis ria. Meski begitu, Joonmyun tahu bahwa kedua orang itu tidak ada hubungan.
"Kyungsoo-ssi!" panggil Joonmyun masih tidak menampakkan dirinya.
Dua orang yang sedang menikmati alam itu lantas kelabakan. Jongin segera duduk dan Kyungsoo membenarkan posisi duduknya.
"Kyungsoo-ssi– ah ternyata kalian di sini." Joonmyun mendekat pada keduanya. Ayo, anak-anak sudah menunggu." Ajaknya.
"Butuh bantuan?" Tanya Joonmyun menyodorkan tangannya, tanpa disangka, Jongin juga menyodorkan tangannya tanpa bicara. Kedua mata pria itu saling bertemu dan seakan ingin saling membunuh.
Kyungsoo tidak menyambut keduanya. Ia berdiri sendiri lalu membersihkan celananya. "Kkajja…" ajaknya pada Joonmyun. Ia sempat menoleh pada Jongin dengan canggung. Jongin hanya bisa tersenyum lalu berjalan mengikuti keduanya dengan jarak cukup jauh.
.
.
Setelah acara panti selesai, ketiganya pamit pulang. Awalnya, Jongin meminta agar Kyungsoo pulang diantar olehnya, tapi wanita itu menolaknya. Kyungsoo memilih pulang diantar Joonmyun dengan alasan ia pergi dengan tugas sekolah.
"Kyungsoo-ssi, kau kenal pria itu di mana?" tanya Joonmyun.
Kyungsoo bergumam sebentar, "hanya kenalan biasa, tidak spesifik."
"Maksudmu? Kalian bertemu tidak sengaja?"
Kyungso mengangguk, "yah… bisa dibilang begitu."
"Maaf untuk mengatakan ini, tapi ia tidak terlihat seperti pria baik-baik." Celetuk Joonmyun.
Kyungsoo terdiam, dahinya sedikit mengerut. Jongin bukan pria baik-baik? Ia memang sering mengatakan hal seperti itu, tapi entah mengapa rasanya ia sedikit jengkel mendengarnya dari orang lain. Lagipula, Joonmyun baru bertemu sekali dan sudah bisa menilainya begitu? "Geurae?" hanya itu respon Kyungsoo.
"Hm, meski baru bertemu dengannya, aku bisa tahu pria seperti apa dia. Mungkin sedikit narsis, tapi aku bisa membaca tingkahnya." Jelas Joonmyun.
"Ah, lalu memangnya kau pria yang seperti apa, Joonmyun-ssi?" tanya Kyungsoo, suaranya tedengar sangat dingin. Entahlah, ia tak bisa mengendalikannya.
"A-aku?" Pria itu tertawa, ia menoleh pada Kyungsoo sekilas. "…aku hanya bisa menilai orang lain. Aku tidak bisa menilai diriku sendiri, kan?"
Kyungsoo mendengus, hampir tidak terdengar oleh Joonmyun. "Lucu sekali."
"Ne?"
"Aniyo. Semudah itu kau menilai orang lain yang baru kau temui, tapi tidak sadar dengan sikapmu sendiri yang sudah pasti kau sangat kenal."
"Kyungsoo-ssi, bukan begitu maksudku–"
"–ah, ne… itu juga bukan maksudku. Mianhaeyo, itu sesuatu yang lain." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum. "Joonmyun-ssi, apa bisa menurunkan aku di supermarket di sana? Aku harus membeli bahan makanan."
"Ah, ne… perlu aku temani?" tawar Joonmyun.
"Gwaenchanhayo, aku akan berbelanja bersama teman-temanku." Tolak Kyungsoo.
Setelah turun dari mobil dan menunggu pria yang mengantarnya itu pergi menjauh, Kyungsoo memberhentikan taksi yang lewat. 'Aku bisa kelepasan jika terus bersamanya. Lagipula… kenapa aku merasa sekesal ini…?' gumamnya. Kyungsoo menghela napasnya perlahan dan memandang ke luar jendela.
.
.
Baekhyun menatap bangunan mewah di hadapannya. Restoran bintang lima yang sangat terkenal di kalangan atas itu terlihat sangat mencekam baginya. 'Kenapa harus di tempat seperti ini…' pikirnya. Kakinya melangkah dengan ragu-ragu lalu seorang pegawai restoran membukakan pintu, "Selamat datang…" dua pegawai lainnya membungkuk. "Maaf Nona, reservasi atas nama siapa?"
"Kim Taehyung." Jawab Baekhyun.
"Ah, ne. Mari ikut saya…" ucap pegawai tersebut.
Siang ini Baekhyun pergi menemui Taehyung, pria yang tidak sengaja pernah ia tolong di masa lalu. Pagi tadi, Baekhyun tanpa sadar menyetujui permintaan pria itu. Sepertinya ia hanya perlu menemui Taehyung sekali dan setelah itu ia tidak akan bertemu dengannya lagi.
Pegawai itu membawa Baekhyun ke salah satu meja yang terpisah dengan meja lainnya. Meja itu terletak di dekat jendela kaca besar yang mengarah ke pusat kota dan letaknya agak lebih di atas. Rasanya ia telah menjadi pusat perhatian saat ini. 'Sial sekali, kenapa tempatnya harus mencolok seperti ini.' gumam Baekhyun.
Taehyung sudah di sana, pria itu tersenyum sumringah melihat kedatangan Baekhyun. "Kau sudah datang?" Pria itu segera berdiri dan menarikkan kursi untuk Baekhyun.
"Terima kasih." Ucap Baekhyun.
Taehyung tersenyum lalu kembali ke kursinya. "Kita pesan sekarang?"
Bekhyun tersenyum tipis, "boleh."
Taehyung mengangkat tangannya, tanpa berkata, seorang pelayan tak lama menghampiri mereka. Setelah memesan keduanya terjebak dalam keheningan dalam beberapa menit.
"Baekhyun-ssi, terima kasih sudah memenuhi permintaanku."
"Ne, gwaenchanhayo. Seharusnya kau tidak perlu serepot ini."
Taehyung menggeleng, "tidak, tidak. Aku tidak merasa direpotkan, bagaimanapun kau menyelamatkanku dahulu. Aku hanya ingin berterima kasih dengan benar."
Baekhyun hanya tersenyum tipis, sebenarnya ia merasa tidak nyaman. Entah kenapa hatinya terus merasa gelisah. Apa karena ia menjadi pusat perhatian?
"Baekhyun-ssi?" Taehyung menyentuh tangan Baekhyun dan membuat wanita itu tersentak lalu refleks menarik tangannya.
"N-ne? Maaf, ada apa?"
"Waeyo? Kau terlihat tidak nyaman? Apa kita perlu pindah tempat?"
Baekhyun menggeleng, "gwaenchanhayo, tadi aku sedikit memikirkan butik, tapi tidak masalah."
"Wah! Kau punya butik, Baekhyun-ssi?" tanya Taehyung kagum.
"Ne. Aku mengelolanya bersama temanku…"
Begitulah keduanya mulai larut dalam perbincangan. Kebanyakan Taehyung yang bertanya dan Baekhyun hanya menjawab sekenanya. Bahkan sampai makanan mereka datang dan mulai makan, keduanya masih asik berbincang. Di tengah makan siang mereka, Taehyung memanggil pelayan dan memintanya untuk mneyuguhkan wine. "Apa kau tidak masalah dengan wine, Baekhyun-ssi?"
Baekhyun mengangguk, "ne, gwaenchanhayo."
Saat wine mereka datang, pelayan menuangkannya ke gelas. Namun, saat menuangkan ke gelas Baekhyun, wine itu tumpah dan tidak sengaja mengenai pakaian Baekhyun.
"Baekhyun-ssi, gwaenchanhayo?" tanya Taehyung panik.
"Ma-maafkan saya Nona." Pelayan itu membungkuk berkali-kali.
"Gwae-gwaenchanhayo," ucap Baekhyun dengan senyumannya. Dalam hati ia menggerutu karena pakaiannya benar-benar kotor. Ia harus menggantinya, tapi tidak membawa pakaian ganti.
"Kami ada pakaian ganti, apa Nona mau menggantinya?" tanya pelayan tersebut.
Baekhyun menggeleng, "sepertinya tidak perlu, aku akan membersihkannya–"
"–Baekhyun-ssi, sebaiknya kau ganti saja. Bukankah tidak nyaman memakai pakaian basah dan bernoda begitu?" Taehyung angkat bicara.
Baekhyun menatap Taehyung agak ragu, "ba-baiklah, aku akan ganti sebentar." Putusnya.
Beberapa menit kemudian Baekhyun kembali dengan pakaian yang lebih baik, tidak, bahkan lebih dari baik hingga membuat Baekhyun risih karena semua mata memandang padanya. 'Inilah kenapa seharusnya aku tidak mengganti pakaianku…' gumamnya dalam hati. Pakaian Baekhyun kini sudah berubah menjadi dress hitam setengah paha yang cukup mewah. 'Benar-benar berlebihan!'
"Wow, Baekhyun-ssi… kau terlihat cantik. Aniyo, mengenakan apapun kau memang sangat cantik." Komentar Taehyung.
Baekhyun tersenyum canggung, "entah kenapa mereka memiliki baju ini–"
"–pilihanku memang tidak salah, bukan?" Ucapan Taehyung membuat Baekhyun terkejut. Ia menatap pria itu meminta penjelasan. "Aku hanya meminta pelayan untuk membelikan pakaian itu."
"Ah, itulah kenapa mereka cukup lama tadi."
"Kau suka?" tanya Taehyung.
'Suka? Apa maksudnya?' gumam Baekhyun. "Lain kali jangan seperti ini, Taehyung-ssi."
Taehyung bertopang dagu sambil menatap Baekhyun lembut, "aku hanya suka memanjakan wanita yang aku anggap spesial…"
"Kim Taehyung!" Suara seorang pria menginterupsi keheningan aneh diantara keduanya. Pria yang menyapa itu terlihat terkejut, "kau– astaga! Kapan kau kembali?" pria asing itu mendekat dan Taehyung berdiri.
"Kim Seokjin! Sudah lama tidak bertemu!" Keduanya terlihat saling bersalaman.
"Wow, kau bersama… nugu? Kekasihmu? Atau… tunanganmu?" tanya pria bernama Seokjin itu sambil menatap Baekhyun.
Taehyung berdiri di samping Baekhyun, "wae? Kami terlihat serasi?"
Seokjin terlihat memincingkan matanya, "hmm… wanitamu terlalu sempurna. Seperti pilihanmu."
Taehyung merangkulkan tangan lancangnya pada bahu Baekhyun, "terima kasih kalau begitu."
'Apa-apaan ini?!' geram Baekhyun.
"Kalau begitu aku harus pergi, sampai jumpa…" Seokjin pun meninggalkan keduanya.
"Kim Taehyung-ssi. Apa-apaan itu?" tanya Baekhyun sambil menatap pria yang barus aja kembali ke kursinya itu dengan marah.
"Mianhaeyo, apa kau terlalu lancang? Aku bisa bercanda dengannya, jangan khawatir. Tapi, aku akan senang jika benar kau adalah wanitaku."
Cukup! Baekhyun sudah cukup menjaga sopan santunnya, kan? Baekhyun bangkit dari kursinya, "maaf, sepertinya Anda sudah lupa jika saya sudah memiliki kekasih. Untuk pakaian ini, aku akan membayarnya jadi tolong kirimkan rekening Anda. Permisi." Kaki Baekhyun hendak melangkah, namun tangannya tertahan.
"Baekhyun-ssi, aku serius. Aku memang menyukaimu, bahkan sejak pertama kali kita bertemu, saat kau menyelamatkanku." Ucap Taehyung.
Baekhyun menoleh pada pria itu, "maaf tapi aku tidak bisa."
"Apa kau benar-benar serius pada Chanyeol?"
"Apa aku perlu menjawabnya untumu?" Baekhyun menghempas tangan Taehyung dan melangkah pergi. Namun, lagi-lagi pria lancang itu terus-terusan melakukan hal yang semakin kurang ajar. Taehyung merangkulkan tangannya melingkar di bahu Baekhyun, memeluk wanita itu dari belakang.
"Mari kita buktikan sifat asli kekasihmu tercinta…" Bisikan Taehyung membuat Baekhyun terkejut. Tak lama dari itu, suara yang sangat ia kenal terdengar.
"Baekhyun-ah…"
Baekhyun menoleh dan menemukan kekasihnya berdiri tak jauh di sana. "Cha-Chan…yeol–"
.
.
to be continued-
.
.
Hai haii!
Jadi, inilah chapter 13 ^^ gimana-gimana chapter kali ini?
..
Balasan review
#xxizy: mereka kan memang suka begitu xD semangat selalu!
#chan22: nahlo, gimana kira" reaksi chanyeol kalo yg begini kkkk
#nanima999: kira" kalo yg begini chanyeol minta apa? eh-/plak! hahaha
..
Okei, sekian. Sampai jumpa Kamis depan! ^^ Tunggu kelanjutannya, jangn lupa reviewnya...
Gamsahamnida
*loveforHUNHAN yeayy!
