Dance of Love

Karya : Miyuki Kobayashi

Re-Write : JAS

.

.

.

.

.

Selamat Membaca Semoga Suka

.

.

.

.

.

Dance Of Love

Disclaimer : Miyuki Kobayashi, Pt Elex Media Komputindo.

Rate : T (For Teen)

Genre : Romance, Friend Ship, Family

Warning : Typo's

.

Bab 9 : Berbaikan

Di dekat vila ada Hotel Manpei yang terasnya dijadikan kafe. Dulu, kalau sedang berada di Karuizawa, kami sering ke kafe itu untuk minum teh. Mama mengajakku dan Tatsuya bicara di sana.

Mama minum teh hitam dan makan kue tar. Dia masih terkejut dengan kejadian tadi. Aku dan Tatsuya duduk di hadapannya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

"Begitu, ya? Jadi ada empat orang yang menginap di vila? Kalian mandi karena tadi terjatuh di danau?"

"Ya, sungguh, Ma! Jangan salah paham!"

"Benar!" Tatsuya menambahkan.

"Baiklah!" kata Mama.

"Mama bisa tanya Ai dan Tomoya. Tidak terjadi apa-apa. Mama nggak usah khawatir."

"Baiklah, Mama percaya, Mebae." Mama menarik napas lega. "Pagi tadi, waktu mencari kamu, Mama cuma menemukan suratmu. Mama benar-benar kaget!"

Mama menghabiskan kue tarnya, lalu memesan apple pie tambahan.

"Papa ada di kantor semalaman, jadi dia nggak tahu kalau Mebae tidak ada. Papa pastis yok kalau tahu hal ini. Mama mengerti alasanmu meninggalkan rumah. Kali ini Mama maafkan kamu!"

Tapi, bertentangan dengan kata-katanya yang penuh pengertian, Mama tampak sangat kecewa. Dia terus memakan apple pie dengan mata agak menerawang. Jauh di lubuk hatinya Mama pasti tidak bisa menerima tindakanku.

Mama membesarkanku seperti putri pingitan. Pasti tidak pernah terbayang olehnya bahwa aku akan kabur dengan seorang cowok. Aku jadi kasihan padanya. Maafkan aku, Ma! Aku memang salah.

"Ngomong-ngomong, sejak kapan kalian pacaran?" Mama memandang wajah Tatsuya dengan saksama.

"Kami tidak pacaran!" sangkalku cepat. Aku tidak ingin menyusahkan Tatsuya.

"Cuma teman."

"Cuma teman?" tanya Mama sangsi.

"Tatsuya itu kakaknya Tomoya, pacar Ai. Dia sudah kelas 3 SMU, makanya aku lalu memintanya untuk mendampingi kami."

Tatsuya hanya diam mendengar perkataanku.

"Begitu…" Mama memandang Tatsuya sekilas. "Hmmm, kamu sekolah di mana?"

"SMU K, kelas 3."

"Oh, anak orang kaya, dong! Lalu, tahun depan kamu akan melanjutkan ke perguruan tinggi?"

"Ya."

"Tinggal di mana?"

"Todoraki."

"Dekat dengan rumah, ya! Apa pekerjaan orang tuamu?"

"Ayah bekerja di Bank T."

"Oh, kelas atas…"

"Tunggu, Ma! Hentikan! Mama nggak bisa menilai orang hanya dari kedudukannya," kataku tak senang.

"Kedudukan itu penting, lho. Itu satu penilaian tersendiri!"

"Tapi kedudukan kan nggak bisa dijadikan jaminan. Contohnya Papa. Walaupun kedudukan Papa tinggi, tapi tetap saja jatuh." Mendengar perkataanku, Mama terdiam.

"Aku tidak mau pindah ke Tohoku dan juga tidak mau pindah sekolah!" Aku merengek.

"Mebae…"

"Teman-temanku di sini semua. Di sana aku nggak punya teman."

Mama termenung sejenak, lalu dengan perlahan berkata, "Mebae, kamu boleh tinggal di Tokyo dan tetap bersekolah di sekolahmu sayang."

"Apa?"

"Mama sudah berunding dengan Nenek. Nenek mendukung perceraian Mama. Mama tidak mungkin tinggal di peternakan jika kamu tinggal di sini sendirian."

"Cerai? Lalu bagaimana dengan Papa?"

"Pergi ke peternakan!"

"Mama memutuskan semua ini tanpa berunding dulu denganku!"

"Kita bisa menyewa apartemen kecil di kota. Mebae, kamu tinggal sama Mama, ya!"

"Tidak, aku nggak mau Papa dan Mama bercerai. Kalau begitu lebih baik kita bertiga pindah ke peternakan di Tohoku," kataku dengan wajah pucat.

Deg! Deg! Deg! Jantungku berdebar kencang. Apa yang harus kulakukan? "Aku ngggak mau…" kataku sambil mengigit bibir. Air mataku bercucuran.

"Mebae…"

Mama terkejut. Namun, Tatsuya tetap bersikap tenang dan bertanya, "Maaf, bukankah Anda menikah atas dasar cinta?"

"Eh?" Mama terkejut lalu menengadah.

"Atau karena Papa Mabe kaya?"

Aku terkejut mendengar pernyataan Tatsuya.

"Tentu saja tidak seperti itu!" Mama membantah dengan tegas.

"Lalu, kenapa Anda memutuskan untuk bercerai? Apakah sudah tidak lagi ada rasa cinta?"

"Papa Mebae hanya satu, tidak bisa diganti oleh siapa pun! Malang sekali nasibnya!"

Alis Mama bergerak-gerak.

"Diam! Semua ini tidak ada hubungannya denganmu!"

Mama mengatakannya sambil menahan emosi. Mama marah. Aku terkejut. Kocolek lutut Tatsuya di bawah menja. Tapi cowok itu malah menggenggam tanganku erat-erat.

"Papa Mebae sudah bekerja keras demi keluarga. Sekarang tiba-tiba dia dipecat karena perusahaannya bangkrut. Tidakkah Anda berppikir, betapa syoknya dia menghadapi kenyataan ini. Lalu kenapa Anda malah menambah penderitaannya dengan bercerai dan membuangnya begitu saja?"

"Hei, tahu apa kamu?! Jangan sok tahu!" bentak Mama sambil menahan tangis.

"Saya memahami semua itu. Tapi saya tidak tahu harus berbuat apa!"

"Mama…" kataku pelan.

Dengan tenang Tatsuya berkata, "Maaf saya sudah tidak sopan. Tapi, saya rasa kata-kata saya benar."

Tiba-tiba… ciiit! Di depan hotel terdengar suara mobil yang direm mendadak. Aku mengintip dari balik jendela.

"Papa!"

"Mama! Mebae!"

Papa segera masuk ke kafe teras dengan napas terengah-engah.

"Tadi Papa pergi ke vila tapi tidak ada siapa-siapa. LaluPapa coba mencari ke sini."

Papa terkejut melihat kami, "Ada apa? Kenapa kalian menangis?" Dia lalu duduk di sebelah Mama dan merangkulnya.

"Mama, selama ini Papa telah menyusahkan Mama," kata Papa dengan tenang. "Meskipun selama ini Papa sibuk bekerja, tapi Mama dan Mebae tetap nomor satu buat Papa. Mulai sekarang Papa ingin menghabiskan waktu bersama kalian. Karena itu, Papa memilih pekerjaan yang mempunyai banyak waktu luang."

"Papa…"

"Papa ingin bersama kalian sesering mungkin. Makanya Papa memillih jadi peternah."

Perlahan Mama menengadah.

Author Note : Setahu saya sih mengadah ya, entah kenapa jadi menengadah.

"Papa pikir kalian akan setuju. Tetapi, ternyata Papa salah."

Papa tertawa. Waktu kecil, saat sedang bermain bersamaku, Papa sering tertawa seperti ini.

"Baiklah! Mebae dan Mama tinggal di sini, saja! Papa akan bekerja di sana. Kalau sudah berhasil, Papa akan panggil kalian."

"Tidak, Pa! Aku ikut!" Aku teringat kata-kata Tatsuya. Saat ini Papa pasti sedang menderita. Hal itu benar-benar menghujam dadaku.

"Mebae!"

Papa, Mama, dan Tatsuya memandangu.

"Papa sangat baik. Apa pun yang terjadi aku akan ikut Papa."

Mata Papa berkaca-kaca mendengar perkataanku. Seumur hidup baru kali ini aku melihat Papa menangis.

"Papa, jangan menangis!"

Papa menghapus air matanya dengan tangan. "Papa Bahagia mendengar kata-kata Mebae."

"Papa…"

Melihat air mata Papa, aki jadi ikutan menangis. Dan di bawah meja, Tatsuya masih menggenggam tanganku erat-erat, seolah-olaj memberi kekuatan. Tangannya hangat dan besar.

Ketika aku menengadah, Tatsuya memandang dan mengangguk dengan lembut. Walaupun hanya diam, tapi matanya mengatakan banyak hal. Sambil menatapnya, air mataku terus menetes.

.

.

.

.

.

Bersambung