Disclaimer : Semua karakter punya Masashi Kishimoto-sensei, saya cuma punya plotnya.

Warning : OOC, bahasa tidak baku, mengandung umpatan kasar, setting AU, typo, dan sebagainya

.

.

.

.

.

daifukuwmochi presents:

Trapped with the Ex : Bad Luck or Good Luck?

Chapter 11 : Pendamping Wisuda

A Sasusaku Fanfiction

.

.

.

.

.

Masa-masa KKN berakhir. Seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah KKN periode ini mengikuti upacara penarikan dan bersiap pulang menuju Konoha, tak terkecuali anggota kelompok KKN Desa Oto yang sedang berpamitan dengan perangkat desa serta warga sekitar.

"Hati-hati, ya. Jangan sungkan main-main kesini lagi," ujar Pak Kakashi.

"Betul. Sering-sering kesini ya. Terima kasih karena sudah membantu desa beberapa minggu terakhir ini," Pak Orochimaru menimpali.

"Jangan lupa makan ya, Mbak Sakura. Nanti pingsan lagi," ledek Suigetsu yang langsung memperoleh pelototan maut dari Sakura.

Setibanya di Konoha, Sakura mengikuti alur seperti mahasiswa pada umumnya yaitu mengambil PKL—Praktik Pengalaman Lapangan—dan skripsi. Ia bertekad agar dapat lulus secepat mungkin. Setelah melalui berbagai lika-liku skripsi mulai dari sulitnya memperoleh izin penelitian, dosen yang selalu sibuk dan sulit dihubungi hingga harus mengetik ulang beberapa bab—karena laptopnya yang tiba-tiba mati tanpa alasan yang diketahui—akhirnya ia berhasil menaklukkan sidang skripsi yang horornya melebihi film pengabdi hantu itu dengan memperoleh nilai sempurna.

Tiba juga hari membahagiakan itu, yaitu hari saat Sakura diwisuda. Ia yang sudah bersiap diri sejak pukul tiga dinihari agar tampak sempurna pada hari spesialnya berangkat menuju auditorium kampus dengan diantar keluarganya. Seusai mengikuti upacara wisuda, tiba saat kawan-kawannya datang menemuinya untuk memberikan ucapan selamat. Ino, sahabat baiknya sejak kecil yang sudah menunggu sedari tadi kini berlari memeluk Sakura.

"Congrats, ya. Doain aku biar cepet nyusul juga," ucap Ino sembari mengalungkan selempang bertuliskan nama dan gelar baru Sakura.

"Makasih ya, No. Kudoakan semoga sidangmu besok sukses."

Kawan-kawannya yang lain datang silih berganti. Mulai dari teman se-rombel*, teman UKM, teman kos, hingga teman hidupnya selama empat puluh lima hari saat KKN dulu—kecuali Sasuke, katanya dia sedang sibuk. Saat kawan-kawannya—kecuali Ino—sudah puas memberi ucapan selamat serta berfoto dengannya dan meninggalkan mereka, tiba-tiba datanglah seorang tamu tak diundang. Lelaki berambut hitam dengan model seperti pantat ayam.

"Selamat, ya." Lelaki itu mengulurkan sebuah buket bunga mawar merah muda.

Sakura menerima buket itu, "Makasih ya. Katanya sibuk?"

"Sibuk memilih bunga yang cocok untukmu."

"Apaan sih."

Ino menghampiri mereka. "Ayo kufotoin. Masa udah ketemu tapi nggak foto." Gadis pirang itu mengarahkan kamera pada keduanya. "Yak! Satu ... dua ... tiga .... Say cheese!"

.

.

.

.

.

Satu tahun berlalu. Sakura yang kini menempuh pendidikan profesi tengah sibuk meneliti tumpukan kertas di sebuah kios fotokopi.

"Udah ini aja. Jadinya berapa, Mas?"

"Dua ratus ryō, Mbak."

Gadis merah muda itu mengulungkan sejumlah uang, lalu keluar dari kios bermaksud kembali menuju kosnya.

"Duh, panas banget," keluh gadis itu sambil menutupi kepalanya dengan tas yang dibawanya. Belum panas banget sih sebenarnya, masih panas dunia ini.

Sebuah motor berhenti mendadak tepat di hadapannya. Gadis itu membuka mulut bermaksud mengomeli pengendara yang dengan seenak udel berhenti tiba-tiba itu. Untung dia nggak nabrak motor itu tadi! Coba kalau sampai nabrak kan nggak lucu, masa pejalan kaki nabrak motor. Bisa-bisa diketawain monyet. Tapi omelannya tak tersampaikan saat melihat sosok pengendara.

"Sasuke?"

Yang dipanggil hanya bersikap cool dan tersenyum tipis. Sok keren banget, ih.

"Ngapain disini?" tanya gadis itu.

"Cuma lewat. Udah makan?"

"Udah. Tapi pengen beli es, panas banget soalnya."

"Ya udah, ayo kuantar," ajak lelaki itu.

Keduanya menuju kios yang menjual jus buah segar dan memesan dua cup, jus strawberry untuk Sakura dan jus tomat untuk Sasuke. Kemudian mereka menuju taman yang ada di daerah itu untuk meminumnya.

"Jadi ... " Sakura meminum beberapa teguk jus strawberry-nya " ... gimana skripsimu?" tanyanya membuka pembicaraan.

Lelaki itu terdiam sejenak sebelum berkata, "Hn, begitulah."

"Begitu gimana? Lagi ngurus izin penelitian? Apa udah ambil data?"

"Aku udah sidang minggu lalu."

Sakura menolehkan kepalanya, menatap Sasuke. "Kau sidang tanpa mengundangku?"

"Memangnya kau siapa?" lelaki itu bertanya balik.

Gadis itu tergagap, "Y-yah, kan kita teman. Masa sidang tapi nggak kasih kabar teman?"

"Memangnya harus, ya?"

Sakura memilih tak menanggapi pertanyaan sok polos itu.

"Aku nggak kasih kabar siapapun. Cuma Naruto, itu saja karena dia membantuku membawa perlengkapan sidang," ujar Sasuke akhirnya.

"Lagipula cuma sidang, kan. Nggak penting-penting amat. Kalau wisuda, baru penting," lanjutnya.

"Oke, jadi apa kau akan mengundangku untuk datang ke wisudamu, Tuan Uchiha?" tanya Sakura.

"Tidak juga."

Sakura menatap lelaki itu jengkel. Ya nggak apa-apa sih kalau nggak diundang. Malah nggak usah keluar duit buat beli kado, kan.

"Tau alasannya?" tanya lelaki itu. Sakura menggeleng tak peduli.

"Karena kau akan menjadi pendamping wisudaku nanti."

Bagai tersambar petir, Sakura berteriak, "Apa?!"

Lelaki itu tersenyum geli melihat reaksi gadis di sampingnya.

"Kalau aku menolak?"

"Uchiha tidak menerima penolakan."

Sakura mencibir, "Apa-apaan Uchiha itu. Egois. Pemaksa sekali."

"Jangan ejek nama itu. Nantinya kau kan menjadi Uchiha juga."

Dua kali tersambar petir. "Apaan sih kau ini? Memangnya aku mau menikah denganmu?"

Sasuke menatap gadis itu. "Hm ... jadi, kau sudah menemukan lelaki yang kau cintai, ya?"

"Bukan urusanmu."

"Oh, belum ya."

"Memangnya kenapa? Kepo sekali."

"Ya kalau sudah, berarti aku harus menyingkirkan lelaki itu," jawab Sasuke enteng.

Sakura menyipit. "Posesif."

Sasuke tak menanggapinya. Ia berkata, "Kembalilah padaku."

Sakura tak menjawab. Sasuke menghela nafas. Oke, sudah cukup main-mainnya. Ia menggenggam kedua tangan gadis merah muda itu dan menatap wajahnya lekat-lekat. "Haruno Sakura, kembalilah padaku."

Tanpa menunggu jawaban dari si gadis, Sasuke menipiskan jarak antara keduanya hingga masing-masing dapat mencium aroma tubuh satu sama lain. Ia mengecup bibir berpoles liptint merah ceri itu lembut. Beberapa detik kemudian dilepasnya tautan mereka dan berbisik, "Kumohon."

Sakura, yang masih belum tersadar dari keterkejutannya mengerjap. Beberapa saat kemudian ia menjawab, "O-oke. Ayo kita mulai lagi dari awal."

.

.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

.

*rombel = rombongan belajar


Masih ada satu chapter lagi nih.