Sakura meletakkan tasnya di bagasi belakang mobil Ino dan masuk ke dalam setelahnya. Setelah perdebatan cukup lama antara Sai dan ketua jurusan, pada akhirnya mereka diperbolehkan untuk melakukan liburan angkatan bersama dengan mengundang dua dosen pembimbing, Kakashi dan seorang dosen lagi. Sakura tidak terlalu mengetahui siapa dia.
"Aku masih tidak terima kenapa harus ada dosen pembimbing nanti… maksudku, kita semua sudah besar." ujar Sakura sambil menyenderkan kepalanya di kursi Ino, memperhatikan Hinata yang tersenyum ke arahnya. "Benar, 'kan?"
"Hmm, aku tidak sepenuhnya tidak setuju. Hatake-sensei cukup menyenangkan untuk dipandang."
Sakura tersenyum masam dan menerima uluran segelas kopi dari Hinata.
"Tidak apa-apa, Sakura… setidaknya kita bisa fokus bersenang-senang dan dosen-dosen itu akan mengurus segalanya jika terjadi sesuatu." Ujar Hinata menenangkan. Ia kembali mengulurkan sekantung camilan ke arah Sakura dan kembali tersenyum.
"Yah… kurasa kau benar."
Kakashi sudah mengatakan padanya kalau ia akan datang malam nanti. Pria itu sempat menawarkan Sakura untuk berangkat bersamanya, tapi Sakura tahu kalau ia mengiyakan tawaran pria itu, besok ia akan digiring ke tiang gantungan oleh teman-temannya dengan Hinata dan Ino di barisan paling depan. Akhirnya Sakura menolak penawaran tersebut.
"Dua jam… apa tidurmu cukup, Ino?" tanya Sakura.
"Tidak, tapi ini kopi keduaku." Jawab Ino sekenanya. Ia sangat teramat fokus ketika sedang menyetir—terutama ketika nyawa orang lain berada ditangannya—dan Sakura mengangguk-angguk pelan. Ia menyandarkan tubuh pada bangku belakang dan menatap jalanan utama Shinjuku yang ramai.
Lantunan lagu terdengar memenuhi mobil tersebut. Sakura menyesap kopi dinginnya, menatap layar ponselnya yang berkedip beberapa kali.
From : Koharu
Kabari aku kalau kau sudah sampai.
Ugh, aku sudah mengatakan padanya berapa ratus kali tadi kalau aku pasti akan mengabarinya, pikir Sakura dalam hati. Meskipun ia sedikit kesal, mau tidak mau gadis itu kembali tersenyum saat membalas pesan pria itu.
To : Koharu
Aku mengerti… apa kau merindukanku?
Sakura memandangi ponselnya selama beberapa menit, lalu mengerucutkan bibir saat Kakashi membaca pesannya namun tidak membalasnya. Ia juga terlalu bodoh karena terlalu cepat membalas pesan pria itu, dan hanya dalam sepersekian detik, Demi Tuhan. Sakura meletakkan ponselnya ke dalam tas dan kembali mendekat ke arah Hinata.
"Berapa banyak baju yang kau bawa?"
"Uh? Enam pasang." Jawab Hinata. "Kau?"
"Tiga…" ujar Sakura, menggaruk kepalanya sendiri. "Aku hanya membawa satu baju tidur."
"Oh, jangan tanyakan aku. Aku membawa sepuluh pasang, karena kurasa tempatnya akan sangat cocok untuk dijadikan latar berfoto." Ino ikut bicara tiba-tiba sambil tertawa sendiri.
Tiga gadis itu melanjutkan percakapan mereka dengan riang sepanjang perjalanan. Dua jam kemudian, mobil tersebut berhenti dengan mulus di depan sebuah villa berukuran besar di daerah Yamanakako. Mereka keluar dan mendapat beberapa wajah familiar sedang duduk-duduk di halaman depan, tersenyum saat melihat mereka bertiga datang.
Kita adalah perempuan berkelas. Terlambat datang di acara seperti ini tentu saja diperlukan, ujar Ino saat di perjalanan tadi.
Ruang dalam dipenuhi oleh banyak sekali mahasiswa yang sedang duduk-duduk dan bermain kartu. Ino sibuk menyapa semua orang, sementara Sakura sukses ditarik Hinata untuk naik ke lantai atas. Mereka berhasil mendapatkan kamar di ujung lorong yang sepertinya memiliki jendela terbesar, dan merebahkan diri di atas kasur sesegera setelahnya.
"Ah… benar-benar menyenangkan. Aku senang sekali karena acaranya diadakan setelah ujian semester." Ujar Hinata, meletakkan inhaler-nya di atas nakas dan menoleh ke arah Sakura di sampingnya. "Kita harus liburan seperti ini lagi, ya, Sakura? Bertiga saja, bersama Ino. Ke Thailand sepertinya menyenangkan…"
"Tentu saja. Ide yang sangat bagus."
Mereka berdua menoleh ke arah Ino yang baru saja masuk dan gadis pirang itu tanpa babibu langsung merebahkan tubuhnya diantara mereka berdua. Ia memeluk Hinata dengan satu tangan, sementara Sakura di belakangnya juga ikut memeluknya.
Mereka terlihat seperti udang.
"Thailand bagus… tapi aku sangat ingin pergi ke Malaysia." Gumam Ino pelan, tiba-tiba.
"Baiklah, kita tur Asia terlebih dahulu, setelahnya kita akan pergi ke Swiss karena aku benar-benar ingin pergi ke sana." Timpal Sakura.
Ino tertidur tidak lama setelahnya. Sakura melepaskan pelukannya dan tersenyum kecil saat melihat Hinata juga tertidur. Ia melepaskan jaketnya dan menggantungnya di belakang pintu, berjalan ke arah jendela besar dan memandang teman-temannya di halaman bawah yang sekarang sedang mempersiapkan alat panggang.
"Hei, Sakura!"
Sakura menoleh ke bawah dan tersenyum ke arah seorang laki-laki berkaus putih tanpa lengan yang memanggilnya.
"Ada apa?"
"Kemarilah!"
Sakura tersenyum kecut. "Aku ingin tidur…"
"Oh, ayolah. Ajak Ino dan Hinata juga!"
Pada akhirnya gadis itu mengalah dan turun ke bawah. Ia tidak membangunkan Hinata dan Ino karena mereka berdua sepertinya lelah sekali—Hinata punya pekerjaan sampingan sementara Ino selalu menghabiskan malamnya dengan drama Korea—. Sakura berdiri di samping Shino, menerima uluran keranjang anyam besar dari laki-laki itu.
"Jadi…?"
"Temani aku membeli arang." Ujar Shino, mengacungkan sebuah kunci motor.
Sakura tersenyum dan mengiyakan permintaan temannya itu. Ia menerima uluran helm bermotif semangka—ugh, yang benar saja, ini pasti milik Temari atau Tenten—dan duduk di belakang Shino. Motor tersebut menggeram beberapa kali di tempat sebelum akhirnya Shino dan dirinya berjalan membelah jalan kecil akses masuk villa tersebut.
"Jadi…" Shino berkata sedikit kencang sambil melirik Sakura lewat spion. "Kenapa kau berpisah dengan Kiba?"
"Huh? Kenapa kau bisa tahu?"
"Ino."
Tentu saja, ia akan memberitahu siapapun yang ia kenal, ujar Sakura sambil tersenyum masam. Gadis itu balik menatap Shino dan tersenyum.
"Rahasia…"
Sakura ikut tertawa mendengar tawa pria itu. Shino adalah salah satu teman pertamanya saat ia pertama kali masuk kuliah. Mereka berdua mengerjakan proyek awal semester bersama, mendapat nilai bagus karena kepintaran luar biasa Shino, dan sayangnya memang jarang berkomunikasi setelah itu. Baru cxsaat ini mereka berbicara akrab seperti ini, ketika sudah berasa di semester akhir.
Mereka berhenti di sebuah supermarket tidak jauh dari sana beberapa saat kemudian. Sakura turun dan memberikan helmnya kepada Shino, masuk ke dalam dan mengikuti langkah pria itu yang bergerak menuju ujung lorong. Ia ikut berjongkok di sebelah Shino saat mendapati laki-laki itu tengah memperhatikan dua bungkus arang besar-besar.
"Aku tidak mengerti apa perbedaannya." Ujar Sakura sebelum diminta.
"Ya… yang ini lebih mahal tapi lebih awet." Shino mengangkat satu bungkusan berwarna hitam, lalu memandang bungkusan berwarna biru di sebelahnya. "Itu lebih murah tapi arangnya mudah sekali pecah. Jadi—"
"…seharusnya sudah tidak jauh dari sini, 'kan, Kakashi?"
"Ya. Hanya itu saja?"
Sakura dan Shino saling berlempar pandang ketika mengenali suara bersahutan tidak jauh dari mereka. Keduanya berjalan mengendap-endap dan mengintip di balik rak tinggi di depan mereka, mendapati Kakashi dan Iwa Kunoichi sedang berdiri bersandingan dengan minuman dingin di masing-masing tangan.
Sakura tersenyum jengkel. Kau bilang kau akan datang malam nanti, huh, Kakashi? Kenapa kau sudah disini padahal ini masih jam 3 sore? Apa kau berencana mengajak Kunoichi-sensei yang teramat cantik dan langsing itu jalan-jalan terlebih dahulu?
"Sakura!"
Bisikan lirih Shino mengagetkannya. Sakura baru menyadari bahwa dua orang dosen tersebut sudah berlalu dari minimarket—merekapun berjalan menuju kasir dan memandangi mobil hitam Kakashi yang berlalu dari sana.
"Apa mereka berpacaran?" tanya Shino bingung, menyerahkan bungkusan arangnya ke arah kasir. "Hatake-sensei belum menikah, 'kan?"
"Su—" Sakura menghentikan perkataannya sendiri dan tersenyum canggung. "Belum…"
"Ah, mereka cocok sekali. Kunoichi-sensei baru saja menjadi dosen tahun lalu, 'kan? Dia masih muda sekali…"
Sakura tidak memperhatikan perkataan Shino setelahnya. Ia hanya memandang ponselnya dan pesan terakhirnya pada Kakashi yang tidak dibalas pria itu, lalu menghela nafas setelahnya. Bodoh sekali kalau ia merasa aman-aman saja sekarang ini. Kakashi memang sudah berpisah dengan Mei, tapi bagaimana kabarnya dengan Hanare? Iwa Kunoichi? Atau lusinan mahasiswi lain yang berusaha menarik perhatian pria itu setiap harinya?
Ia tersentak pelan saat Shino menepuk punggungnya. Senyuman kecil terlihat di wajah pria itu.
"Ayo. Arangnya sudah dibeli."
"Ah, iya…"
Perjalanan pulang mereka berlangsung dalam hening. Shino kembali memperhatikan gadis berkepala semangka itu sambil mengernyit bingung. Ia merogoh kantung plastik di depannya dan memberikan sebuah bungkusan ke arah Sakura.
"Huh? Kapan kau membelinya?" tanya Sakura bingung, menerima es krim tersebut dari Shino.
"Saat kau melamun… entah kenapa."
Sakura tersenyum dan membuka bungkusan es krimnya. Ia memberikan pembungkus es krim itu kembali ke arah Shino—yang diletakkan pria itu di dalam plastik—dan menikmati rasa vanilla dingin menyapu mulutnya. Shino tersenyum melihat senyuman gadis di belakangnya.
"Sakura."
Sakura menoleh dan tersenyum ke arah Shino. "Uhm?"
"Apa kau tahu kalau dulu aku menyukaimu?"
Hanya tujuh menit yang dibutuhkan bagi mereka untuk kembali, namun waktu seakan berjalan tiga kali lebih lambat ketika kata-kata Shino sampai ke telinga gadis itu. Sakura memandang Shino yang memandang lurus ke depan, tampak tidak terlalu serius menanggapi perkataannya sendiri.
"Aku… tidak tahu…" gumam Sakura, tersenyum bersalah ke arah Shino. "Maafkan aku, Shino. Ugh, aku bahkan meminta bantuanmu untuk memilihkan kado ulang tahun untu Sasuke…"
"Hei, tidak ada masalah, Sakura. Aku hanya penasaran saja."
Motor mereka memasuki halaman depan villa tersebut dan berhenti dengan tenang di depan beberapa orang yang sedang mempersiapkan daging dan sayuran. Sakura menangkap sosok Kakashi sedang berbicara dengan segerombolan murid di dekat ayunan, sementara Iwa sedang berdiri tidak jauh darinya, tampak cantik dengan rok panjang dan blus putihnya. Sakura mendengus dan mengikut Shino ke arah para laki-laki yang sedang mempersiapkan alat bakar.
Sakura melirik Kakashi sekali lagi sebelum akhirnya masuk ke dalam bangunan. Ia naik ke lantai dua, mendapati dua temannya masih tertidur, dan membaringkan tubuhnya di sebelah Ino yang sekarang tengah mendengkur halus.
Ponselnya bergetar. Sakura menoleh sekilas dan membaca nama Koharu dilayar.
"Ya." Ujar Sakura lirih, tidak mau membangunkan teman-temannya.
"Kau ada dimana?" tanya Kakashi.
"Kamar…"
"Aku sudah sampai."
"Aku tahu. Kau datang bersama Kunoichi-sensei, 'kan?"
"Ya. Ternyata acara yang ingin didatanginya dibatalkan, jadi aku bisa datang lebih awal." Jelas Kakashi. Entah dimana ia sekarang sampai-sampai ia bisa berbicara seperti itu. "Apa kau mau pergi bersamaku? Entahlah… jalan-jalan sebentar."
Sakura memejamkan matanya. Bagaimana caranya ia bisa pergi bersama Kakashi ketika mereka berdua dikerumuni tiga lusin mahasiswa seperti ini?
"Kurasa tidak." Jawab Sakura. "Aku ingin tidur sebentar."
"Baiklah kalau begitu."
Sambungan telepon terputus dan Sakura menghela nafasnya. Ketika menyadari kalau ia memiliki satu pria nyaris sempurna yang harus ia jaga setiap saat dan juga satu laki-laki yang perasaannya bahkan tidak ia sadari, entah kenapa energinya seakan terkuras saat itu juga. Ino bergerak dan membuka matanya saat mendapati Sakura sedang memandang langit-langit, memandang gadis itu bingung.
"Kau kenapa?" tanya Ino, suaranya serak.
"Tidak apa-apa… hanya bingung…"
"Kemarilah."
Ino mengulurkan tangannya dan memeluk temannya itu. Hanya beberapa saat setelahnya, Sakura sukses tertidur dan melupakan masalahnya sejenak.
.
.
"Senyum manis seperti pasta kacang merah… seindah matahari berwarnaaaa?"
"JINGGAAAAAA!"
Seluruh orang tertawa disekeliling api unggun. Tak terkecuali Sakura, Ino dan Hinata. Tiga gadis itu mendapat uluran jagung bakar dari Temari dan melahapnya dengan bersemangat. Sai masih sibuk menggoda Iwa dengan gitar di tangannya sementara anak-anak lain memperhatikannya dengan tatapan geli.
Tahun lalu mereka juga mengadakan acara menginap bersama seperti ini, tapi kali ini jauh lebih menyenangkan karena mereka semua sudah jauh lebih mengenal dan berada di tahun terakhir perkuliahan. Sakura menepuk-nepuk pundak Hinata yang menyandar di bahunya dan memperhatikan api unggun dengan tatapan kosong.
"Teh lemon?"
Sakura menoleh dan tersenyum ke arah Shino yang duduk di sebelahnya. "Terima kasih."
"Aku senang karena kau tidak jadi canggung padaku." Ujar Shino sedikit berbisik karena suara Sai begitu menggelegar, terdengar memenuhi seantero kota Yamanakako. "Pasti kau akan menjauhiku kalau aku memintamu jadi pacarku tadi, 'kan?"
"Uh, Shino, kalau saja Hinata tidak sedang bersandar padaku, aku sudah membekap mulutmu yang seenaknya saja itu."
Mereka berdua saling melempar pandang dan tertawa. Bagaimanapun juga, Sakura benar-benar bersyukur karena laki-laki itu tidak memintanya untuk berpacaran. Ia akan sangat sedih kehilangan satu teman menyenangkan seperti Shino.
Sakura mengedarkan pandangan ketika merasa sedang diperhatikan. Tepat di seberangnya, disebelah Iwa yang sedang tertawa-tawa mendengar nyanyian Sai, Kakashi memperhatikannya dengan kedua matanya yang berkilat, memantulkan cahaya api unggun. Gadis itu menelan ludah sendiri. Kenapa dia terlihat menyeramkan?
Apa? Tanya Sakura tanpa suara ke arah pria itu.
Kakashi mendengus dan mengalihkan pandangan. Sakura memandangnya bingung dan kembali menanggapi Shino di sebelahnya.
"Bagaimana kalau kita bermain game?" tanya Ino sambil mengayunkan botol jusnya yang setengah kosong. Ia tidak mungkin mabuk setelah meminum jus, kan? "Aku akan melempar bola ini, dan yang menangkapnya harus melemparnya lagi secara acak! Lalu… katakan kau menyukainya atau tidak!"
Sorakan riuh rendah terdengar dari orang-orang disekitar mereka. Ino memang gadis yang akan kau temui di setiap pesta—kampus, kantor, bahkan acara keluarga—dan ia tidak akan pernah kehabisan cara untuk membuat acara yang ia datangi menjadi menyenangkan. Ino menerima bola dari Neji dan menggenggamnya dengan kedua tangan.
"Dei!"
Laki-laki berambut pirang yang duduk tepat di sebelah Hinata menerimanya dengan kaget.
"Tutup matamu dan lempar bolanya!" ujar Ino sambil tertawa.
Bola tersebut melambung tinggi, melewati api yang memang tidak terlalu besar, dan mendarat mulus di depan kedua kaki Temari yang tertekuk.
"Kalau aku yang mendapat bolanya nanti, aku akan langsung memberikannya padamu." Bisik Shino pelan.
"Ugh, berhenti menggodaku atau kau sendiri yang akan kulempar ke api unggun!" balas Sakura sedikit kesal.
"T-temari…" ujar Dei pelan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menatap Temari dengan senyuman tidak enak. "Maafkan aku, tapi aku tidak begitu menyukaimu… kau tidak memberikan jawaban ujian kemarin."
Semua orang tertawa, tidak terkecuali Kakashi dan Iwa.
Bola tersebut melambung beberapa kali sampai akhirnya sampai ke tangan Kakashi. Tenten terlihat sekali sengaja melemparnya, namun wajah gadis itu memerah seutuhnya karena Kakashi sekarang memegang bola pemberiannya dengan sebuah senyuman tipis.
"S…" Tenten seperti tergagap. "Sensei…"
Tenten berjalan setengah sadar ke arah Kakashi. Gadis itu berlutut di depannya, menyejajarkan kepala mereka, dan menempelkan bibirnya ke bibir pria itu.
APA?!
Sakura memandang Tenten dan Kakashi dengan tatapan tidak percaya. Bukan hanya Sakura, namun semua orang disana terdiam dan memandang mereka dengan kedua mata terbuka lebar.
Setelah beberapa detik—yang terasa seperti beberapa jam—, Tenten menjauhkan dirinya sendiri dan tersenyum.
Ya. Tersenyum.
Perempuan jalang tidak tahu diri… geram Sakura dalam hati. Baru saja gadis itu ingin bangkit dan mengajak Tenten bertempur satu lawan satu, Iwa sudah terlebih dahulu bertepuk tangan dan mencairkan suasana.
"Bagus sekali, Tenten… siapa yang tidak menyukai Hatake-sensei?"
Seluruh orang tertawa canggung dan ikut bertepuk tangan, entah untuk apa. Tayuya sukses menarik gadis itu untuk duduk kembali ke tempatnya, mengalungkan lengannya secara protektif pada lengan Tenten untuk mencegah gadis itu melakukan tindakan bodoh lainnya.
"Alkohol," bisik Kakashi ke arah Iwa, disambut anggukan wanita tersebut.
"Ha… haha! Tenten menjadi sangat jujur malam ini. Mari kita lanjutkan dengan barbeque di halaman samping!" ujar Ino senang sambil melambai ke arah teman-temannya.
Ino sedikit berlari ke arah Sakura dan Hinata yang berada di salah satu sisi api unggun. Ia jatuh terduduk begitu saja, disambut oleh tawa geli dari Shino dan Hinata dan tawa canggung dari Sakura.
"Ino… lain kali jangan mengajukan permainan berbahaya seperti tadi…" ujar Shino geli.
"Lain kali apanya? Aku yakin Tenten akan menggantung dirinya sendiri ketika Tayuya memberitahu apa yang dilakukannya malam ini." Ino berujar lemas sambil membetulkan ikatan rambutnya. "Ugh, aku saja yang melihatnya malu setengah mati. Untung saja Hatake dan Kunoichi-sensei tidak marah…"
Hinata mengusap kepala Ino sambil terkikik geli. "Lebih baik kita ikut barbeque saja."
Mereka berempat berjalan ke halaman samping dan menatap alat panggang yang dikerumuni banyak orang. Sakura menangkap pandangan Kakashi dan mengalihkan pandangan cepat-cepat. Ia mendekatkan diri ke arah Shino—sedikit ingin memberikan pembalasan karena pria itu membuatnya cemburu dengan dua orang perempuan sekaligus—dan berjalan ke sisi lain alat panggang.
"Sakura," panggil Shino. "Piringmu."
Sakura mengulurkan piringnya dan membiarkan pria itu melatkkan sepotong daging berukuran sedang ke arah piringnya. Sai dan Ino memang sudah memaksa mereka untuk menabung sejak acara tersebut direncanakan sehingga mereka bisa membeli banyak daging seperti ini. Sakura tersenyum singkat, berjalan beringan bersama Shino menuju salah satu meja yang berada tidak jauh dari situ.
Hinata menyusul setelahnya. Ia meletakkan dua piring dan tersenyum ke arah Sakura.
"Siapa yang butuh panitia pelaksana ketika kau punya orang seperti Ino?" tanya Hinata sambil terkekeh, mengerling ke arah Ino yang memarahi Neji karena lupa membawa beberapa perlatan yang dibutuhkan.
"Serius, aku bingung sekali dari tadi," ujar Shino sedikit berbisik, membuat dua gadis di depannya bergerak mendekat. "Ada apa dengan Hatake-sensei? Kenapa sedari tadi ia melihat ke arah sini terus?"
"Huh? Yang benar?"
Mereka bertiga melirik Kakashi yang sekarang sedang berbicara dengan Iwa. Sakura mendengus, memutuskan untuk melahap dagingnya.
"Mungkin dia ingin memberikan kita nilai jelek."
"Ah, tidak mungkin! Nilai, 'kan, sudah diserahkan ke dosen pembimbing kita sejak seminggu yang lalu." Ujar Hinata sambil menggeleng. "Mungkin dia ingin berbicara denganmu, Shino. Atau kau, Sakura."
Sakura menghela nafasnya. Bayangan Tenten yang mencium Kakashi muncul lagi di kepalanya.
"SHINO!"
Shino menoleh kaget. "Apa?"
"Arang yang kau beli kurang! Dan juga, bagaimana caranya kau memperbaiki ini?!"
Shino meletakkan garpunya dan setengah berlari menuju Ino. Ia memperhatikan penutup alat panggang yang terlihat macet.
"Aku akan mengambil obeng… dan untuk arangnya, minta saja Sakura dan Hinata membelinya. Sakura tahu tempatnya." Ujar Shino sambil berlalu ke arah bangunan, mengambil peralatan yang dibutuhkannya.
Ino berjalan cepat-cepat ke arah Sakura dan Hinata yang sedang berbicara. Gadis itu duduk di sebelah Hinata, membuka mulutnya ketika Sakura mengulurkan sepotong daging ke arahnya.
"Mmm… terima kasih." Ujar Ino. "Sakura, aku membutuhkan sebungkus arang lagi… tidak, Temari yang membutuhkannya. Bisakah kau membelinya lagi untukku?"
"Tentu saja." Jawab Sakura sambil menggigit potongan daging terakhirnya. "Ayo, Hinata."
Mereka berdua berjalan menuju halaman depan dan menghampiri motor Shino yang terparkir tepat di bawah salah satu pohon. Sakura memasukkan kunci kontak dan memutarnya, menunggu Hinata untuk naik, namun ia tertegun saat melirik temannya itu yang terpaku dan tidak bergerak.
"Ada ap—oh."
Sakura tersentak pelan saat melihat sosok Kakashi yang muncul dari kegelapan. Pantas saja Hinata tidak bergerak.
"Bolehkah aku ikut? Aku ingin membeli sesuatu." Ujar Kakashi sambil tersenyum.
"Boleh, sensei—"
"Maaf, sensei, tempat duduknya hanya untuk doa orang." Tukas Sakura, memberikan senyuman lebar ke arah Kakashi. "Apa yang ingin sensei beli? Aku yakin aku dan Hinata bisa membelikannya, jadi sensei tidak perlu repot-repot pergi."
Kakashi tidak menanggapi Sakura. Sebaliknya, pria itu malah menatap Hinata yang berdiri di depannya.
"Kurasa Yamanaka membutuhkanmu, Hyuuga." Kata Kakashi lembut. "Lebih baik kau menemuinya."
"Hinata—"
"Baik, sensei."
Hinata berlalu setelah memberikan tatapan tidak enaknya pada Sakura. Melihat begitu mudahnya Kakashi mengontrol Hinata seperti seorang ahli hipnotis, Sakura mendengus kesal. Ia menopang dagunya dengan satu tangan dan memandang Kakashi dengan tatapan tidak suka.
"Apa yang kau mau?" tanya Sakura.
"Aku ingin membeli sesuatu." Ujar Kakashi pelan. Ia meminta Sakura untuk mundur ke kursi penumpang dengan gerakan mata, yang pada akhirnya dituruti gadis itu dengan helaan pasrah. Kakashi naik ke atas motor dan melajukan motor itu keluar dari area villa.
Jalanan sudah teramat sangat lengang meskipun waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam. Hanya ada satu motor lain di depan mereka. Mungkin karena daerah ini berada di lingkar terluar kota Yamanakako ditambah dengan penerangan yang sangat minim, orang-orang menjadi malas untuk keluar dari rumah ketika sudah malam hari.
"Jadi…"
"Iya, aku tahu. Aku tidak apa-apa." Gumam Sakura pelan.
Kakashi tersenyum singkat. Ia menggenggam tangan ramping yang melingkar di pinggangnya perlahan-lahan. Sakura meletakkan kepalanya yang tidak berhelm di pundak pria itu, merasakan panas punggung Kakashi mendominasi tubuhnya sekarang.
"Tapi tetap saja aku tidak suka…"
"Kau menjadi sangat manis saat cemburu seperti ini." ujar Kakashi. "Jangan kira aku tidak menangkap pandangan tidak sukamu pada Iwa."
"Apa yang kau harapkan? Aku harus senang saja, begitu, melihatmu dan Kunoichi-sensei yang lebih cocok menjadi model dibandingkan dosen itu?" tanya Sakura. "Tentu saja aku cemburu. Tapi aku sadar, aku harus profesional disini, 'kan? Ketika di apartment, kau memang milikku, tapi ketika di kampus…"
Sakura menghela nafasnya, sedikit tidak rela berkata seperti itu.
"…kau milik semua orang."
Kakashi tidak menanggapi. Mereka sampai di minimarket beberapa saat kemudian dan turun dalam diam. Sakura segera saja turun dan berjalan menuju rak yang berada di ujung ruangan—tempatnya dan Shino tadi menemukan bungkusan arang tersebut—. Ia memandang Kakashi yang berdiri di belakangnya, memberikan bungkusan tersebut saat Kakashi mengulurkan tangannya.
"Ini saja?" tanya Kakashi.
"Ya… kurasa." Gumam Sakura. Ia melirik Kakashi dan tersenyum kecut. "Kau membelikan Kunoichi-sensei minuman tadi siang, 'kan?"
Kakashi tertawa kecil. "Aku memang mengira aku melihatmu. Manis sekali."
Sakura mau tidak mau tersenyum saat Kakashi mengacak rambutnya dan menggandengnya menuju kasir. Kasir yang sama kembali tersenyum ke arah mereka dengan bingung—karena tadi siang mereka datang dengan pasangan yang berbeda—dan menerima uluran arang tersebut dari tangan Kakashi.
"Karena tadi siang aku mentraktir Iwa minuman, bagaimana kalau aku mentraktirmu juga?"
"Mmm… baiklah." Ujar Sakura pelan, lalu melirik kasir di depannya. "Maaf, aku ingin menambah beberapa barang."
Beberapa menit kemudian gadis itu kembali dengan sekeranjang penuh camilan dan minuman. Ia mengeluarkan biskuit, krakers, cokelat, jeli, susu, soda, dan banyak jenis kudapan lainnya dari dalam keranjang tanpa memperhatikan kedua mata Kakashi yang melebar. Setelah cokelat terakhir dalam keranjang ia keluarkan, Sakura tersenyum sekilas ke arah Kakashi.
"Tentu saja aku harus diperlakukan berbeda dari Kunoichi-sensei, 'kan?"
"Tentu… saja." Ujar Kakashi. Senyuman pria itu terkembang, memberikan beberapa lembar uang ke arah kasir tersebut. "Kau berbeda dari siapapun."
Mereka keluar dari minimarket tersebut dengan dua kantung plastik besar dan satu kantung plastik kecil berisi arang—juga senyuman lebar dari kasir tersebut. Sakura duduk di belakang Kakashi dan mennyandarkan kepalanya pada kepala pria itu.
"Hei," panggil Kakashi. "Jangan tidur."
"Tidak…"
Motor tersebut berhenti di halaman depan villa beberapa menit kemudian. Kakashi menurunkan kantung-kantung belanjaan Sakura dan meletakkannya di dekat pilar, duduk di sana dan menepuk tempat disebelahnya.
"Orang lain bisa lihat…"
"Sebentar saja."
Sakura menurut dan duduk di sebelah pria itu. Ia menerima jaket hitam Kakashi dan memeluk dirinya sendiri, memandangi bintang malam tersebut yang entah kenapa mirip sekali dengan bintang di halaman belakang rumah Bibi Karura.
"Ayah…mu, meneleponku sebulan yang lalu." Ujar Kakashi pelan, membuka pembicaraan. "Dia memintaku untuk mengurus kantor cabang di Sapporo."
Sakura mengangkat kepalanya. "Hah?"
"Ya." Kakashi mengangguk. "Dan aku mengiyakannya."
"Tapi kau selalu menolak permintaan ayahmu…"
"Aku tidak bisa menolak permintaan ayahmu."
Sakura seakan teringat bahwa ayahnya-lah sekarang yang memegang perusahaan keluarga Kakashi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seseorang yang bukan Hatake menempati posisi tertinggi hirarki perusahaan tersebut. Sakura menatap Kakashi bingung, lalu raut sedih muncul di wajahnya.
"Berarti kau akan pergi?"
"Ya…"
Kakashi memutar tubuhnya sedikit, memandang gadis itu lewat sinar lampu yang remang-remang.
"Aku akan membenahi masalah disana, sementara kau juga harus mempersiapkan kelulusan, 'kan?" ujar Kakashi lembut. "Aku sudah memberikan surat pengunduran diriku ke rektorat sebulan yang lalu dan… diterima. Setelah kau lulus nanti, ayo menikah lagi dengan benar."
"Aku tidak mengerti, Kakashi. Kita memliki banyak waktu bersama… kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?"
Kakashi terdiam. Matanya yang tegas menghindari tatapan dari sepasang mata hijau di depannya.
"Kakashi?"
"Kurasa aku berusaha untuk melupakannya." Gumam Kakashi, masih tidak memandang gadis itu. "Kalau sebentar lagi aku harus meninggalkanmu."
.
.
