MAELSTROM CHRONICLE : THE BURNING MAZE
When the sun shines so bright, the darkness will fade…
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Percy Jackson and The Olympians, The Heroes of Olympus, The Trials of Apollo © Rick Riordan
.
.
Summary : Seorang putra matahari telah tiba di Manhattan, misinya adalah untuk menggantikan tugas ayahnya untuk menyelamatkan ketiga Oracle kuno yang masih berada dalam cengkraman Triumvirate Holdings. Kali ini, ia ditugaskan untuk mencari seorang Penutur teka-teki silang dalam sebuah labirin yang terbakar. Sanggupkah ia untuk menuntaskan misinya?
.
.
IX
Markas yang menyenangkan! Hanya ada batu, pasir, reruntuhan dan … batu.
.
.
Mereka mengatakan kalau kami berhasil keluar ke permukaan, tapi aku sama sekali tidak ingat.
Ketika aku bertanya kepada mereka, mereka mengatakan bahwa selepas kami tiba tepat di permukaan, aku langsung jatuh pingsan. Itu yang membuatku bingung. Sepertinya yang jatuh bangun adalah Sasuke, Grover dan Meg, tapi kenapa yang pingsan malah aku? Apakah melesatkan pedang menjadi anak panah itu menguras seluruh tenagaku?
Namun satu hal yang kuingat, aku malah bermimpi.
Di hadapanku, berdirilah seorang wanita anggun berkulit sewarna zaitun, berambut coklat kemerahan yang dikepang membentuk konde donat, dan bergaun tanpa lengan yang seringan serta sekelabu sayap ngengat. Parasnya seperti perempuan dua puluh tahunan, tetapi matanya menyerupai mutiara hitam—kilaunya yang tajam menusuk merupakan tempaan berabad-abad, tameng defensif yang menyembunyikan duka dan kekecewaan tak terhitung. Mata insan kekal yang telah menyaksikan peradaban hebat runtuh.
Kami berdiri bersama di panggung batu, di tepi ceruk mirip kolam renang dalam ruangan yang penuh berisi lava. Hawa panas berdenyar di udara. Abu memerihkan mataku.
Wanita itu mengangkat lengan seperti hendak memohon. Belenggu besi merah membara mengekang pergelangan tangannya. Rantai leleh menambatkannya ke panggung, tetapi logam panas sepertinya tidak membakarnya.
"Maafkan aku," kata wanita itu.
Entah bagaimana, aku tahu dia bukan berbicara kepadaku. Aku semata-mata menyaksikan adegan ini lewat mata orang lain. Dia menyampaikan kabar buruk tersebut, kabar yang meremukkan batin, kepada orang tersebut; entah kabar apa.
"Aku akan menyelamatkanmu jika bisa," lanjut wanita itu. "Aku akan menyelamatkan gadis itu. Tapi, aku tidak bisa. Beri tahu sang Pusaran bahwa dia harus datang. Hanya dia yang mampu membebaskanku, meskipun ini adalah sebuah …." Dia tersedak, seakan ada pecahan kaca yang tersangkut di kerongkongannya. "Tujuh huruf," ujarnya parau. "Berawalan J."
"Jebakan," pikirku. "Jawabannya jebakan!"
Sejenak aku merasa girang, seperti saat menonton kuis di televisi dan tahu jawabannya. "Kalau aku peserta kuis," kita niscaya berpikir, "Seluruh hadiah pasti kumenangi!" Kemudian, aku tersadar bahwa aku tidak suka kuis. Terutama jika jawabannya jebakan. Terutama jika jebakan itu adalah hadiah utama yang menantiku.
Citra sang wanita lebur menjadi kobaran api.
Aku mendapati diriku di tempat lain—teras beratap yang menghadap ke teluk bersimbah sinar rembulan. Di kejauhan, berselubung kabut, menjulanglah bentuk gelap Gunung Vesuvius yang sudah tak asing, tetapi sepertinya bukan Vesuvius yang pernah kudatangi tanpa sengaja.
Langit malam berwarna ungu pucat, sedangkan garis pantai hanya diterangi cahaya api, bulan dan bintang-bintang. Di bawah kakiku, lantai dari keping-keping emas dan perak berkilat-kilat membentuk mosaik, sebuah karya seni yang hanya terjangkau oleh sedikit orang Romawi. Aku menerka-nerka tempatku sekarang. Sepertinya aku berada di sebuah vila milik Kekaisaran Romawi entah di sebelah mana.
Dalam bayangan sebuah pilar, seorang pemuda ramping berdiri menghadap laut. Ekspresinya tidak kelihatan, tetapi posturnya menyiratkan ketidaksabaran. Dia menarik-narik jubah putihnya, bersedekap, dan mengetuk-ngetukkan kakinya yang bersandal ke lantai.
Lalu muncullah pria kedua, berderap di teras dengan baju zirah berkelotakan dan napas tersengal seorang petarung gempal. Wajahnya tersembunyi di balik tameng helm serdadu garda praetorian (darimana aku tahu, aku mempelajarinya di perpustakaan Rumah Besar. Lagipula itu ide dari Annabeth).
Dia berlutut di hadapan sang pemuda. "Sudah dilaksanakan, Princeps."
Princeps. Bahasa Latin untuk yang terdepan atau warga utama—eufimisme indah yang digunakan oleh para kaisar Romawi untuk pura-pura mengecilkan kekuasaan absolut mereka.
"Apa kali ini kau yakin?" tanya suara belia nan lirih. "Aku tidak menginginkan kejutan lagi."
Sang serdadu garda praetorian menggerung. "Sangat yakin, Princeps."
Pengawal itu mengulurkan lengan bawahnya yang besar dan berbulu. Lecet-lecet berdarah mengilap di bawah cahaya bulan, seakan ada kuku yang baru saja mencakar dagingnya habis-habisan.
"Apa yang kau gunakan?" Sang pemuda bertanya dengan nada penasaran.
"Bantalnya sendiri," kata sang pria besar, "Sepertinya paling mudah."
Pemuda itu tertawa. "Babi Tua itu layak mendapatkannya. Bertahun-tahun aku menunggunya mati, akhirnya kita mengumumkan bahwa dia berkalang tanah, dan dia malah berani-beraninya bangun lagi? Enak saja. Besok akan menjadi hari baru yang lebih baik bagi Romawi."
Dia melangkah ke tengah-tengah sorot rembulan sehingga tampaklah wajahnya—wajah yang entah mengapa membuatku resah dan muak.
Dia tampan, berwajah kurus bersiku-siku, sekalipun telinganya sedikit mencuat. Senyumnya miring. Matanya sehangat barakuda.
Aku bisa menebak kalau dia itu seperti seorang perundung di sekolah yang terlampau menawan sehingga tidak pernah tertangkap; otak di balik lelucon paling kejam, yang menyuruh orang lain mengerjakan aksi kotornya, dan masih memiliki reputasi sempurna di mata guru-guru.
Dialah orang yang kubilang memiliki tampang seorang psikopat sejati, menyiksa hewan liar sambil tertawa gembira sampai-sampai dia hampir menyakinkan kita bahwa dia hanya iseng. Dialah orang itu, si jahat yang seperti itu.
Dan, mala mini, dia mendapatkan nama anyar, yang bukan merupakan pertanda baik bagi masa depan Romawi.
Sang pengawal menundukkan kepala. "Hormat, Kaisar!"
.
~Maelstrom Chronicle : The Burning Maze~
.
Aku terbangun dari mimpi sambil menggigil.
"Pemilihan waktu yang bagus," kata Grover.
Aku duduk tegak. Kepalaku terasa berdenyut-denyut. Mulutku mengecap rasa debu strix.
Aku mengamati keadaan sekitarku. Aku sedang berbaring di tenda ala kadarnya dari terpal biru plastik yang menghadap gurun. Matahari tampak sedang terbenam. Di sebelahku, Meg tertidur sambil bergelung dan memegangi pergelangan tanganku. Gestur tersebut manis, tetapi masalahnya aku tahu Meg sempat menggunakan jarinya untuk apa tadi. (Petunjuk : berhubungan dengan lubang hidung.)
Di sebongkah batu dekat sana, Grover duduk sambil menyesap air dari pelplesnya sementara Sasuke tampak bersandar di bawahnya. Berdasarkan ekspresi mereka yang letih, kutebak mereka sibuk berjaga selama kami tidur.
"Aku pingsan?" terkaku.
Grover melemparkan pelples kepadaku. "Kukira aku sudah tidur nyenyak. Tapi kau sudah berjam-jam tidak sadarkan diri."
Aku minum, kemudian membersihkan kotoran mataku sambil berharap seandainya aku bisa semudah itu mengenyahkan mimpi dari kepalaku: wanita yang dirantai di ruangan berapi, jebakan untukku, kaisar baru yang menyunggingkan senyum indah pada wajah seorang sosiopat belia.
"Jangan dipikirkan," kataku dalam hati. "Mimpi belum tentu benar."
"Betul," aku menanggapi diri sendiri. "Yang sungguhan cuma yang jelek-jelek, misalkan mimpi barusan."
"Ada apa, Nar? Kayaknya ada sesuatu dalam pikiranmu," terka Sasuke.
Aku menggeleng. "Tidak ada apa-apa," balasku.
Aku memusatkan perhatian kepada Meg, yang sedang mengorok di keteduhan tenda. Perban baru telah membebat tungkainya. Dia mengenakan kaus bersih di atas terusannya yang robek-robek. Kucoba untuk melepaskan pergelangan dari cengkeramannya, tetapi dia malah berpegangan semakin erat.
"Dia baik-baik saja," Grover meyakinkanku. "Setidaknya secara fisik. Jatuh tertidur begitu kami membaringkanmu." Dia mengerutkan kening.
"Tapi dia sepertinya tidak senang berada di sini. Katanya dia tidak betah di sini. Ingin pergi. Aku takut dia bakal kembali ke dalam Labirin, tapi kami berhasil meyakinkan dia bahwa pertama-tama dia perlu istirahat. Aku memainkan musik supaya dia santai," jelasnya.
Aku menelaah lingkungan di sekeliling kami sambil menebak-nebak apa sebabnya Meg gelisah hebat.
Di bawah kami, terhamparlah bentang alam yang hanya sedikit lebih berterima ketimbang Mars. (Maksudku planet, bukan dewa. Kalau ia tahu bahwa aku membicarakannya, bisa-bisa aku disembelihnya). Pegunungan gersang merah kecokelatan mengelilingi lembah yang didominasi lapangan golf hijau tak wajar, padang tandus datar berdebu, dan kawasan perumahan berdinding stuko putih, beratap genting merah, serta berkolam renang biru. Pohon-pohon palem berjajar layu di pinggir jalan seolah kecapekan. Lapangan parkir dari aspal berdenyar di bawah hawa panas. Debu cokelat mengeruhkan udara, membuat seisi lembah mirip kaldu encer.
"Dimana kita?" tanyaku.
"Palm Springs," kata Sasuke. "Kita sudah sampai di Palm Springs."
Aku menelaah lebih detail. Kami berkemah di punggung bukit, aku bisa melihat kawasan alam liar terletak di belakang kami di sebelah barat, kawasan kota Palm Springs berada di kaki kami di sebelah timur. Jalan berkerikil mengitari kaki bukit, berkelok-kelok ke lingkungan hunian terdekat yang berjarak hampir delapan ratus meter, tetapi bisa kulihat bahwa dulunya, di puncak bukit tempat kami berada, berdirilah bangunan besar.
Setengah terkubur di lereng berbatu, menyembullah setengah lusin silinder bata kopong yang masing-masing bergaris tengah sekitar sembilan meter, seperti reruntuhan bekas lumbung gula.
Tinggi dan kondisi kerusakan bangunan bermacam-macam, tetapi puncaknya sejajar semua, alhasil aku menebak puing-puing itu dulunya adalah pilar-pilar penopang rumah panggung mahabesar. Berdasarkan sampah yang berserakan di lereng—pecahan kaca, papan gosong, serpihan bata gosong—aku memperkirakan rumah tersebut pastilah sudah terbakar bertahun-tahun silam.
Kemudian, aku tersadar satu hal: kami pasti memanjat keluar dari Labirin melalui salah satu silinder tersebut.
Aku menoleh kepada Grover dan Sasuke. "Strix-strix tadi mana?"
Grover menggeleng. "Kalaupun ada yang selamat, mereka tidak akan berani menantang sinar matahari, bahkan andaikan mereka sanggup melewati stroberi. Tumbuhan itu sudah memenuhi seisi lubang." Dia menunjuk lingkaran bata terjauh, yang pasti merupakan tempat kami keluar tadi. "Tidak aka nada lagi yang bisa keluar dari sana."
"Tapi …." Aku melambai ke puing-puing, "Tentunya bukan ini markasmu?"
Aku berharap dia bakal meralatku. Oh, bukan, markas kita adalah rumah bagus di sebelah sana, yang dilengkapi kolam renang taraf Olimpiade, tepat di sebelah lubang kelima belas!
Sialnya bukan Grover yang menjawab, melainkan Sasuke. "Sayangnya … itu benar, dobe. Ini tempatnya."
Grover malah kelihatan senang. "Tempat ini memiliki energi alami yang kuat. Sempurna sebagai suaka. Tidak bisakah kau rasakan daya hidupnya?"
Kupungut sebongkah bata hangus. "Daya hidup?"
"Nanti akan kau lihat sendiri." Grover melepas topi rajutnya dan menggaruk ke sela kedua tanduknya. "Mengingat situasi saat ini, semua dryad harus tetap dorman sampai matahari tenggelam. Hanya dengan cara itu mereka mampu bertahan hidup. Tapi, mereka akan segera bangun."
Mengingat situasi saat ini?
Aku melirik ke barat. Matahari baru saja terbenam di balik pegunungan. Langit diwarnai semburat pekat merah dan hitam.
"Memangnya ada apa?" tanyaku, tidak yakin menginginkan jawabannya.
Grover menerawang sedih. "Kau belum lihat berita? Kebakaran hutan terbesar dalam sejarah negara bagian California. Belum lagi kekeringan, gelombang panas, dan—"
"Aku baru saja tiba di negara ini kurang lebih seminggu yang lalu," kataku. "Mana mungkin aku bisa tahu berita tentang kebakaran ini secara langsung?"
"Dia benar, Grover," balas Sasuke.
Dia merona malu. "Maafkan aku … aku sebenarnya tidak bermaksud seperti itu. Tapi sebagai salah satu penanggung jawab alam liar yang baru aku tidak bisa diam melihat keadaan ini." Dia bergidik. "Ratusan dryad meninggal. Ribuan lainnya berhibernasi. Sudah parah andaikan itu semua hanyalah bencana alam normal, tapi—"
Meg memekik dalam tidurnya. Dia tiba-tiba terduduk tegak sambil berkedip-kedip kebingungan. Dari kepanikan di matanya, kutebak mimpinya malah lebih buruk daripada mimpiku.
"K-kita sungguh di sini?" tanyanya, matanya masih mengerjap kebingungan. "Aku tidak bermimpi?"
"Tidak apa-apa," ujarku. "Kau aman."
Meg menggeleng, bibirnya gemetar. "Tidak. Aku tidak aman di sini."
Dengan jari-jari kagok, Meg melepas kacamata, seakan bisa mengatasi situasi sekitar jika semuanya tampak lebih kabur. "Aku tidak boleh di sini. Tidak lagi."
"Lagi?" tanyaku.
Satu larik dari ramalan pengganti milik Apollo menyentil memoriku: Putri Demeter mesti temukan akar kunonya. "Maksudmu kau dulu tinggal di sini?" tanyaku.
Ia tidak menjawabku. Matanya menelaah puing-puing. Dia mengangkat bahu dengan ekspresi merana entah artinya aku tidak tahu atau aku tidak mau membicarakannya.
Sepertinya mustahil Meg pernah bertempat tinggal di gurun ini, Biar bagaimanapun secara logis, putri Demeter tidak akan pernah tinggal di wilayah setandus ini (wajar dong aku berpikiran seperti itu, dia adalah Dewi pertanian dan kesuburan. Mana mungkin ia tinggal di wilayah yang jarang sekali ada tanaman seperti ini?).
Grover menarik-narik janggut dengan mimik serius. "Anak Demeter … masuk akal juga."
Kutatap Grover dengan tatapan tidak percaya. "Di tempat ini? Anak Vulcan, barangkali … atau mungkin dewa-dewi lain yang berhubungan dengan gurun atau dataran tandus. Pasti ada 'kan? Hanya saja kalau Demeter, aku malah kurang yakin. Memang anak Demeter bisa menumbuhkan apa di sini? Batu?"
Grover tampak terluka. "Kau tidak mengerti. Begitu kau bertemu dengan semua—"
Meg merangkak dari bawah terpal. Dia berdiri sambil terhuyung-huyung. "Aku harus pergi."
"Tunggu dulu!" pinta Grover. "Kami butuh bantuanmu. Setidaknya, bicaralah kepada yang lain!"
Meg ragu-ragu. "Yang lain?"
Grover melambai ke utara. Aku tidak bisa melihat apa yang dia tunjuk sampai aku aku memperhatikan bahwa, setengah tersembunyi di belakang puing-puing bata, berderetlah enam bangunan kotak putih mirip … gudang? Bukan, Rumah kaca, ya pasti itu. Yang terdekat dengan puing-puing telah lama meleleh dan ambruk, tidak diragukan lagi merupaka korban kebakaran.
Dinding dan atap polikarbonat gubuk kedua telah runtuh seperti rumah-rumahan dari kartu. Namun, empat yang lain masih utuh. Pot tanah liat bertumpuk-tumpuk di luar. Pintu-pintu terbuka, Di dalam, tumbuhan hijau menempel ke dinding translusens—lmbaran daun palem seperti tangan raksasa yang hendak menerobos ke luar.
Menurutku, tidak mungkin ada yang bisa hidup di lahan tandus terik ini, terutama di dalam rumah kaca yang justru dimaksudkan untuk mempertahankan kehangatan. Aku jelas-jelas tidak mau lebih dekat lagi dengan kotak-kotak panas tersebut.
Grover tersenyum menyemangati. "Aku yakin mereka semua sudah bangun saat ini. Ayo, akan kuperkenalkan kepada kalian!"
.
~Maelstrom Chronicle : The Burning Maze~
.
Grover membimbing kami ke rumah kaca pertama, yang sewangi musim semi (padahal tempat sekitarnya sama sekali tidak mencerminkan musim semi).
Rumah kaca ternyata telah dikuasai tumbuhan. Kondisi yang menyeramkan, menurutku, sebab sebagian besar tumbuhan di situ adalah kaktus. Di samping ambang pintu, berdirilah kaktus nanas seukuran tong truk, cucuk-cucuk kuningnya sebesar tusuk kebab. Di pojok belakang menjulanglah Joshua tree nan agung, dahan-dahannya tampak tinggi semampai hingga menopang atap. Di dinding seberang, terbentanglah pir berduri mahabesar berdaun lusinan, masing-masing merekahkan buah ungu yang kelihatan enak, tetapi sayangnya memiliki cucuk yang cukup banyak. Meja-meja logam berderit keberatan tumbuhan sukulen lain—picklewood, spinystar, cholla, dan lusinan lain yang namanya tidak kuketahui (jangan heran darimana aku tahu, ibuku terkadang suka menanam tanaman seperti itu). Dikelilingi oleh banyak sekali duri dan bunga di tengah-tengah suhu yang panasnya minta ampun.
"Aku pulang!" Grover mengumumkan. "Dan aku mengajak teman!"
Sunyi senyap. Hanya itu yang menjawab seruan Grover.
Bahkan, pada saat senja, temperatur di dalah masih tinggi sekali dan udara demikian lembap sampai-sampai aku membayangkan bakal mati kepanasan kira-kira empat menit lagi. Yah … sekalipun aku putra Matahari, aku tidak memiliki kekebalan terhadap suhu ekstrim.
Akhirnya, muncullah dryad pertama, Gelembung klorofil menggembung dari sisi pir berduri dan meletus menjadi kabut hijau. Tetes-tetesnya memadat menjadi gadis kecil berkulit sehijau zaitun, berambut kuning bercucuk-cucuk, dan berdaun jumbai-jumbai yang seluruhnya terbuat dari duri kaktus. Pelototannya hampir setajam gaunnya. Untung bahwa dia memelototi Grover, bukan aku.
"Ke mana saja kau?" sergahnya.
"Ah." Grover berdeham. "Aku dipanggil. Panggilan magis. Nanti kuceritakan. Tapi, lihat ini. Aku mengajak Naruto dan Sasuke, putra Apollo dan Ares. Dan tak kalah penting, Meg, putri Demeter!"
Grover memamerkan Meg seakan dia adalah hadiah menakjubkan dalam kuis The Price Is Right (aku pernah sekali nonton kuis itu, untung di Jepang tidak ada).
"Hmm," gumam sang dryad. "Putri Demeter boleh juga, barangkali. Aku Pir Berduri. Disingkat Pir."
"Hai," kata Meg lemah.
Sang dryad memandangiku sambil menyipitkan mata. Melihat gaunnya yang berduri-duri, kuharap dia tidak suka main peluk. Tapi untungnya harapanku terkabul, karena ia hanya memandangku sekilas sebelum akhirnya ia memandang Sasuke dengan lekat-lekat.
"Kau tampak seperti seseorang yang kami selamatkan beberapa hari yang lalu," komennya.
"Tunggu," sergah Grover "Apa maksudmu, Pir?"
"Beberapa hari yang lalu, saat kau tiba-tiba pergi, kami menemukan sosok pemuda yang hampir mirip dengan dia (sambil menunjuk Sasuke) di kaki bukit. Badannya terasa panas sekali saat itu. Aku dan yang lainnya langsung membawanya ke Reservoir untuk menyembuhkannya," jelasnya.
"Lalu … bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Sasuke.
"Ia pergi bebarengan dengan Gleeson Hedge entah ke mana," balas Pir.
"Tunggu … Gleeson Hedge? Ia dan Mellie sudah sampai di sini?" tanya Grover.
Belum sempat Pir menjawab, gelembung klorofil meletus lagi di tumbuhan sukulen lain. Muncullah dryad kedua—wanita muda besar berdaster sisik-sisik. Rambutnya yang lebat terdiri dari segitiga-segitiga hijau tua. Wajah dan lengannya mengilap seperti baru diminyaki. (Paling tidak, kuharap itu minyak dan bukan keringat.)
"Oh!" serunya saat melihat penampilan kami yang babak belur. "Apa kalian terluka?"
Pir memutar-mutar bola matanya. "Al, sudahlah."
"Tapi mereka kelihatannya terluka!" Al tertatih-tatih ke depan. Dia memegang tanganku. Sentuhannya dingin dan lengket. "Biar kuobati luka-luka sayat ini, paling tidak. Grover, kenapa kau tidak menyembuhkan orang-orang malang ini?"
"Sudah kucoba!" protes sang satir. "Kerusakannya terlalu banyak!"
Itu bisa dijadikan semboyan hidupku, pikirku: Kerusakannya terlalu banyak.
Al mengelus luka-lukaku dengan ujung-ujung jemarinya, membekaskan lender seperti jejak siput. Sensasi itu tidak nyaman, tetapi sentuhannya memang meringankan nyeri.
"Kau Aloe Vera," kata Sasuke. "Kalau tidak salah, Apollo pernah membuat obat gosok penyembuh darimu."
"Hee … benarkah?" tanyaku.
Wanita itu mengangguk riang. "Itu benar. Senang ada yang tahu tentang kegunaanku, meski bukan keturunan Apollo," katanya.
"Sori, aku baru tahu bahwa aku keturunan Apollo selama beberapa hari. Jadi maklumin saja ya?" balasku.
"Tidak apa-apa," katanya.
Di belakang ruangan, muncullah dryad ketiga dari batang Joshua tree—dryad laki-laki, yang relatif jarang (katanya). Kulitnya secokelat kulit kayu pohon, rambutnya yang sehijau zaitun panjang berantakan, pakaiannya cokelat khaki usang. Dia menyerupai petualang yang baru pulang dari alam liar.
"Aku Joshua," katanya. "Selamat datang di Aeithales."
Tepat saat itu, Meg McCaffrey memutuskan untuk pingsan.
"Waduh," kataku.
Aku bisa saja memberitahunya bahwa semaput di hadapan cowok cakep tidaklah keren. Tapi karena aku orangnya baik, kutangkap Meg sebelum dia tersungkur ke kerikil.
"Aduh, gadis malang!" Aloe Vera lagi-lagi menatap Grover dengan kritis. "Dia kecapekan dan kepanasan! Tidakkah kau membiarkannya beristirahat?"
"Dia sudah tidur hampir separuh hari!"
"Wah, dia dehidrasi." Aloe menempelkan tangan ke dahi Meg. "Dia butuh air."
Pir mendengus. "Kita semua juga, 'kan?!"
"Bawa dia ke Reservoir," kata Al. "Sekarang Mellie semestinya sudah bangun. Aku akan menyusul sebentar lagi."
"Kalian belum menjawab pertanyaanku. Hedge dan Mellie sudah sampai di sini?" tanya Grover.
"Mereka tiba lagi tadi pagi," kata Joshua.
"Bagaimana dengan regu pencari?" desak Grover. "Ada kabar?"
Para dryad bertukar pandang resah.
"Kabarnya tidak bagus," kata Joshua. "Sejauh ini yang kembali baru satu regu, sedangkan—"
"Permisi," ujarku. "Aku tidak tahu kalian membicarakan apa, tapi Meg berat. Di mana aku harus menurunkannya?"
Grover terkesiap. "Benar. Maaf, akan kutunjukkan kepadamu." Sang satir memapah lengan kiri Meg, menopang separuh bobotnya. Kemudian, dia menghadap para dryad. "Teman-teman, bagaimana kalau kita semua bertemu di Reservoir untuk makan malam? Banyak yang harus kita bicarakan, termasuk pemuda yang kalian selamatkan itu."
Joshua mengangguk. "Akan kukabari yang lain. Satu lagi, Grover. Kau menjanjikan kami enchilada. Satu minggu yang lalu."
"Aku tahu," desah Grover. "Akan kubelikan."
Bersama-sama, kami membawa Meg ke luar rumah kaca sedangkan Sasuke mengekor di belakang kami.
Selagi kami menyeretnya menyeberangi lereng, kuajukan pertanyaan yang paling mendesak kepada Grover: "Dryad makan enchilada?"
Dia tampak tersinggung. "Tentu saja! Kau kira mereka cuma makan pupuk?"
"Yah … iya."
"Mengotak-ngotakkan berdasarkan stereotip," gerutunya.
Sasuke menyeringai kecil. "Dasar Usuratonkachi."
"Diam kau, teme," tukasku.
Tiba-tiba Sasuke berceletuk, "Apa aku berkhayal ataukah Meg pingsan karena dia mendengar nama tempat ini? Aeithales. Itu bahasa Yunani kuno untuk hijau abadi, kalau aku tidak salah ingat."
Nama tersebut sepertinya aneh untuk sebuah tempat di gurun. Namun, jika dipikir-pikir, tidak lebih aneh daripada dryad pemakan enchilada.
"Kami menemukan nama itu diukir di kosen lama," kata Grover. "Banyak yang tidak kami ketahui tentang puing-puing, tapi seperti yang kukatakan, situs ini mengandung banyak energi alami. Siapa pun yang tinggal di sini dan mendirikan rumah kaca … mereka tahu apa yang mereka lakukan."
Kuharap aku bisa berkata begitu tentang diriku sendiri."Bukankah para dryad lahir di rumah kaca sini? Tidakkah mereka tahu siapa yang menanam mereka?" tanyaku.
"Kebanyakan masih kecil sewaktu rumah terbakar," kata Grover. "Sebagian tumbuhan yang lebih tua mungkin lebih tahu, tapi mereka sudah dorman. Atau," ia mengangguk ke rumah kaca-rumah kaca yang hancur, "sudah berpulang."
Kami lantas mengheningkan cipta untuk mendiang tumbuhan sukulen.
Grover membawa kami ke silinder bata terbesar, Berdasarkan ukuran dan letaknya di pusat reruntuhan, kutebak silinder tersebut dulunya pilar penyangga sentral bangunan. Sejajar dengan tanah, lubang-lubang berbentuk segi empat membentuk keliling seperti jendela kastil abad pertengahan. Kami menyeret Meg melalui salah satu celah segi empat dan serta-merta mendapati bahwa kami berada di ruangan mirip sumur tempat kami bertarung melawan strix.
Langit tampak dari bagian atasnya yang terbuka. Titian spiral mengular ke bawah, tetapi untung jaraknya dengan dasar hanya enam meter. Di tengah-tengah lantai tanah, seperti lubang donat raksasa, terdapat kolam biru tua kemilau yang menyejukkan udara dan menjadikan ruangan itu nyaman. Di sekeliling kolam terhampar kantong-kantong tidur. Kaktus berbunga meruah dari ceruk-ceruk di dinding.
Reservoir bukanlah bangunan nan elok—lain dengan paviliun makan di Perkemahan Blasteran—tetapi aku seketika merasa lebih baik di dalamnya, lebih aman. Aku paham maksud Grover sekarang. Energi pelipur seolah beresonansi di tempat ini.
Kami berhasil membawa Meg ke dasar tanpa tersandung dan jatuh, yang menurutku adalah sebuah prestasi besar. Kami membaringkannya di salah satu kantong tidur, kemudian Grover mengedarkan pandang ke seisi ruangan.
"Mellie?" panggilnya. "Gleeson? Apa kalian di sini?"
Tidak ada gelembung klorofil yang meletus dari tumbuhan. Meg berputar menyamping dan menggumamkan sesuatu dalam tidur … tentang Persik. Lalu, di pinggir kolam, kepulan kabut tipis mulai terbentuk. Uap air berkumpul sehingga membentuk tubuh seorang wanita mungil bergaun keperakan. Rambutnya yang gelap melayang-layang di seputar tubuhnya, seolah dia sedang di bawah air, sedangkan telinganya agak lancip.
Pada buaian yang tersandang di bahunya, dia menggendong bayi berkaki belah dan bertanduk kambing kecil berusia kurang lebih tujuh bulanan yang sedang tidur. Pipi montok si bayi menempel ke tulang selangka ibunya. Mulutnya produktif mengeluarkan air liur yang tak habis-habis.
Hampir saja aku menjerit ketakutan karena penampakannya yang mirip sadako atau hantu-hantu di kalangan mitos Jepang sebelum akhirnya Sasuke membisikkan kepadaku kalau ia adalah sosok peri awan.
Sang peri awan tersenyum kepada Grover. Mata cokelatnya merah darah karena kurang tidur. Ia menempelkan jari ke bibirnya, mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin si bayi sampai terbangun. Aku tidak bisa menyalahkannya, terkadang bayi yang masih seusia itu masih sangat rewel.
"Mellie, kau sudah sampai di sini!" bisik Grover.
"Grover sayang." Dia memandangi sosok Meg yang sedang tidur, lalu menelengkan kepala ke arahku. "Apa kau … apa kau dia?" tanyanya sambil menunjuk ke arahku.
"Kalau maksudmu Apollo," kataku, "aku bukanlah dia, aku salah satu putranya."
"Begitu." Ia memandang dengan tatapan melas. "Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada ayahmu," balasnya.
"Tidak apa-apa," jawabku. "Terkadang aku juga merasa prihatin dengan nasibnya."
Ia mengangguk. Ketika ia menatap Sasuke, ia berkata, "Ah, Sasuke. Lama tidak bertemu."
"Kira-kira beberapa bulan lalu ya," balas Sasuke, "Saat Gaea menyerang Long Island."
"Itu benar." Peri awan itu menerawang jauh ke arah kolam. Matanya memantulkan bayangan dari kolam itu. "Saat aku menolong seorang pemuda yang terkapar di kaki bukit, aku jadi ingat dirimu yang diperintahkan oleh Clarisse untuk ikut menjagaku dalam perang tersebut. Meski tingkah lakunya tidak mirip sama sekali denganmu."
Sasuke bertanya kepada sang peri awan, "Kalau boleh tahu, siapakah nama pemuda itu?"
"Aku tidak tahu nama kecilnya, tapi ia mengatakan kalau ia menggunakan marga Uchiha."
Aku dan Sasuke sedikit terkesiap. "Sas, apa kau memiliki satu pemikiran denganku?" bisikku.
"Aku juga pikir begitu, ada kemungkinan kalau pemuda itu adalah kakakku, Uchiha Itachi," balas Sasuke.
Aku manggut-manggut. Uchiha Itachi adalah kakak Sasuke yang sudah lama tinggal di Amerika sebelum Sasuke sendiri. Bibi Mikoto pernah berkata kalau ia kuliah di daerah California, namun karena sebuah kejadian ia menghilang tanpa jejak. Paman Obito yang saat itu masih bertugas di daerah California pernah mengusut jejak hilangnya Itachi, tapi pencarian itu tidak membuahkan hasil.
Mellie kemudian bertanya, "Dan temanmu yang tidur ini? Bagaimana keadaannya?"
"Cuma lelah, sepertinya," kataku, walaupun aku memang bertanya-tanya apakah betul Meg hanya kecapekan. "Kata Aloe Vera, dia akan menyusul ke sini beberapa menit lagi untuk merawatnya."
Mellie kelihatan khawatir. "Baiklah, akan kupastikan Aloe tidak berlebihan melakukannya."
"Berlebihan?"
Grover batuk-batuk. "Mana Gleeson?"
Mellie menelaah ruangan, seolah baru sadar bahwa si Gleeson tidak hadir. "Entahlah … begitu kami tiba di sini, aku langsung dorman beberapa hari. Katanya, dia akan ke kota untuk membeli sejumlah perlengkapan berkemah. Jam berapa sekarang?"
"Matahari baru saja terbenam," kata Grover.
"Sekarang dia semestinya sudah kembali." Sosok Mellie berdenyar was-was, menjadi kabur sekali sampai-sampai aku takut si bayi bakal jatuh menembus tubuhnya.
"Gleeson suamimu?" tebakku. "Seorang satir?"
"Ya, Gleeson Hedge," kata Mellie.
"Ia yang membantu para pahlawan Argo II dalam misi mereka di negeri kuno," jelas Sasuke.
Aku manggut-manggut kembali. "Apa kau tahu dimana dia?" tanyaku.
"Kami melewati toko barang surplus tentara selagi kami berkendara ke sini, di bawah bukit. Dia menggemari toko barang surplus tentara." Mellie menoleh ke Grover. "Dia mungkin cuma lupa waktu karena keasyikan, tapi … apa kira-kira kau bisa mengeceknya?"
Pada saat itu, aku tersadar betapa letihnya Grover Underwood. Matanya malah lebih merah daripada Mellie. Pundaknya memerosot. Bumbung tiupnya yang terkalung ke leher menggelayut lemas. Lain dengan Meg, aku dan (mungkin) Sasuke, dia belum tidur sejak kemarin di Labirin. Dia sudah menggunakan teriakan Pan, mengantar kami dengan selamat, lalu menjaga kami seharian sambil menanti para dryad bangun. Sekarang dia diminta keluyuran lagi untuk mengecek Gleeson Hedge.
Meski begitu, dia masih tersenyum. "Tentu, Mellie."
Sang peri awan mengecup pipinya. "Kau Tetua Alam Liar terbaik sepanjang masa!"
Grover merona. "Awasi Meg McCaffrey sampai kami kembali, ya? Ayo, Sasuke … Naruto. Mari kita pergi belanja."
.
Bersambung
.
Hai semuanya, balik lagi sama saya FI. Antonio no Emperor. Beberapa karakter baru telah terkuak untuk fic ini, yaitu Mellie, Gleeson Hedge dan juga Itachi. Tapi apakah benar pemuda yang ditolong oleh para dryad itu adalah Itachi? Atau malah bukan?. Dan siapakah identitas sebenarnya diri 'Naruto' yang ada di dalam mimpi di depan wanita terbelenggu itu? Mari kita lihat di chapter berikutnya.
Mungkin itu saja dari saya, semoga chapter ini bisa menghibur para readers.
Akhir kata, sampai jumpa.
