Author's note: Penulis semakin ingin menamatkan fanfic ini. Tak suka berlama-lama. Jadi, di chapter ini akan terungkap rencana sederhana Ymir demi bisa membuat si bekicot pengecut itu cepat kembali dari hutan belantara. Karena untuk apa membuat rencana yang sulit-sulit bak sinetron jutaan episode? Well, sekedar informasi, Penulis justru tak suka dengan sinetron cinta. Baik dari dalam negeri atau luar negeri. Para gadis sibuk ber-KYAAAA!-ria sambil melototi TV, Penulis justru sibuk mengetik, meneliti, plus menggambar. Ahahaha! Iya, Penulis punya sedikit bakat di bidang seni. Cover image fanfic ini 'kan juga Penulis yang menggambar. Hanya menggambar di kertas lalu difoto, sih. Tak begitu spesial.

Tentu saja Penulis tak bosan-bosannya mengucapkan terima kasih pada semua pembaca. Baik yang tipikal numpang lewat, tipikal suka flame langsung lewat PM (Penulis ada dapat yang satu ini, nih. Katanya fanfic kita ini norak. Apa benar, ya?), tipikal arwah penasaran alias cuma baca tanpa berkomentar, atau tipikal pembuat harta karun alias pembaca yang meninggalkan 'jejak'. Khususnya untuk Cherrylate, Tie, Callysta, Scarletticia, Latte, durrendurrendoi1993, Chamoarl, honneypoems, AbielFiscoJ, Kaburi kun, dan Guest tanpa nama, trims untuk kalian semua. Penulis sangat terharu atas sanjungan, kiriman semangat serta ungkapan tak sabar untuk chapter selanjutnya.

Tapi tampaknya Penulis dan para pembaca punya satu pemikiran yang sama. Selama fanfic ini berjalan, kita semakin suka dengan Ymir dan Hitch. Gyahahaha! Penulis juga suka keusilan mereka! Soalnya kalau tak ada mereka, tak ada bumbu humor dan keisengan serta kemesuman atas kesalahpahaman di hubungan AruAni.

Oh ya, untuk para Guest, kalau bisa, tolong sertai nama pena kalian juga. Jadi Penulis bisa umumkan nama pembaca yang meninggalkan komentar di fanfic ini.

Sekian.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

BENANG TAK TERLIHAT

Halaman Sebelas: Ketika Para Setan Menjadi Pakar Cinta

By Josephine Rose99

.

.

.

.

.

BENANG TAK TERLIHAT

HALAMAN SEBELAS

KETIKA PARA SETAN MENJADI PAKAR CINTA

By Josephine Rose99

.

.

.

Pertama kalinya meminum jus dan bukannya alkohol di bar memang terasa sedikit berbeda dari Armin. Kerongkongannya terasa aneh, namun dadanya menghangat. Bukan efek jusnya, melainkan bahagia karena berpikir Annie pasti bangga padanya yang tetap memegang janji. Mereka berdua kembali ke hotel setelah sejam kemudian. Interogasi serta godaan Historia tentang hubungan mereka membuat Armin benar-benar tak sanggup melihat wajah Historia lagi. Kalau dia katakan wajahnya memerah karena efek mabuk itu tak mungkin. Armin sudah mengucapkan selamat tinggal pada minuman itu.

Mengingat kamar Historia berada di dua lantai di bawah kamar Armin, mereka pun berpisah di lift. Mengucapkan selamat malam satu sama lain sebelum bertemu lagi di esok paginya. Ya, itu karena besok adalah waktu dimana Armin beserta seluruh tim survey berangkat menuju desa dimana proyek itu dilaksanakan. Untuk itu ilmuwan muda kita ini tak mau membuang waktu. Setelah masuk ke kamarnya, dia melepas sepatu serta kaus kakinya. Kemudian membuka jaketnya dan menggantungkannya di lemari pakaian. Armin langsung merebahkan diri di ranjang lalu meraih ponsel dari saku celana. Mencari-cari nama sang calon istri dari sekian nama di daftar kontak.

Sambil bersenandung tak sabar, Armin tersenyum sendiri tatkala menemukan kontak Annie. Segera dia menekan tombol icon panggilan video. Selagi menunggu Annie mengangkat panggilannya, Armin buru-buru merapikan rambutnya yang acak-acakan, sampai pakaiannya segala. Ingin terlihat rapi di depan sang pujaan hati. Katakan saja begitu.

Tapi sayang sekali, para pembaca. Harapan indah Armin harus pupus malam ini berkat satu fenomena langka terjadi di hadapannya begitu panggilan video diangkat.

"Hai, Annie—eh?"

"Hai, sayaaaang~!"

Armin melongo.

Oop, jangan salahkan dia. Armin sudah menunggu lama untuk panggilan video berharga ini. Demi bisa melihat wajah Annie yang bersinar terang di matanya. Tapi kenapa yang muncul malah wajah Mammoth purba yang sekarang membuat-buat suaranya terdengar cukup seksi—bukan bagi Armin—sampai-sampai ingin muntah?

Bibir Armin berkedut. Tak percaya akan penampakan makhluk gaib di ponselnya. Bukan wajah dedemit ini yang ingin dia lihat! Armin ingin wajah Annie! "Hei... ini memang aku yang buta atau Annie mengoperasi plastik dirinya menjadi Ymir?"

"Ya ampuuun~, dalam sehari saja kau sudah melupakanku, Suamikuuu~?" jawab Ymir masih saja bersuara menjijikkan. Dan bicara soal menjijikkan, Armin yakin mendengar suara cekikikan dari balik telepon.

Ah, dia hapal suara itu. Itu suara Hitch.

Memang duo setan. Tak henti-hentinya mengusil.

"...Dimana, Annie?"

"Sayangku, teganya kau tak mengenali diriku!"

"Dengar. Annie adalah gadis berambut pirang yang sering mengikat gulung rambutnya. Kulitnya putih pucat mulus. Punya tatapan mata yang dingin tapi selalu menatapku lembut. Itu tidak dimiliki oleh seorang wanita jangkung berambut hitam belah tengah, berjerawat dan menatapku secara menyebalkan!" oke, kalimat-kalimat pengungkap ciri khas dari dua orang gadis berhasil membuat bungkamnya mulut Ymir yang masih ingin berakting.

Terdengar decakan kesal dari seberang. Sekarang gantian Ymir yang menatap Armin sinis, "Kau memang tidak bisa diajak bercanda, ya? Dia ada di kamarnya."

"Lalu kenapa ponselnya ada padamu?"

"Who knows? Mungkin karena pesan dari seorang ilmuwan bodoh yang tak bisa membaca suasana hati wanita. I don't know."

"Hah?"

"Berikan padaku, Ymir!" kali ini Hitch yang mengambil alih. Armin dapat melihat tangannya yang sedang merebut ponsel Annie dari tangan Ymir.

"Eeeeehh?"

Menghiraukan protes Ymir, Hitch langsung menyapa calon suami teman dekatnya, "Yo, Armin. Maaf kami tidak bisa ikut mengantarmu ke bandara tadi pagi. Kami sibuk mengangkat barang ke rumahmu yang luar biasa besar ini."

Baiklah, setidaknya ini jauh lebih baik. Hitch masih sedikit lebih normal dibandingkan perempuan sialan yang seenaknya mengimitasi Annie, "I-itu bukan masalah bagiku. Tak apa-apa. Jadi, kenapa ponselnya ada pada kalian?"

Helaan napas panjang dari Hitch, "Ymir 'kan sudah mengatakan alasannya padamu, dasar bodoh. Masa' otakmu yang jenius itu tak mengerti juga?"

Kedua mata Armin menyipit. Tak begitu memahami petunjuk yang diberikan Ymir sebelumnya. Selain itu, apakah masalahnya begitu besar sampai ponsel Annie bisa pada dua kadal laut itu? "Tunggu, aku tak mengerti maksudmu. Kau ingin bilang Annie marah pada pesan yang kukirim?"

"Jenius," jawab Hitch menjentikkan jarinya.

"Kenapa? Aku hanya mengatakan padanya kalau aku akan pulang terlambat. Kenapa dia marah karena itu?"

"Kau ini benar-benar bodoh, ya? Dalam pesanmu, kau bilang kau akan pergi bersama Historia, 'kan?" tanpa aba-aba, kedua mata Armin otomatis membulat sempurna. Sekarang dia tahu apa maksud dari kedua teman Annie ini begitu nama yang sangat sensitif bagi sang calon istri disebut. Tentu saja respon raut wajah Armin dapat terlihat jelas oleh mereka. Maka Hitch pun berceletuk, "Melihat dari ekspresimu, sepertinya kau sudah mengerti."

"Ta-tapi, cemburu itu bukan sifat khas Annie! Tak mungkin! Lagipula Historia teman sekelas kami dulu!" luar biasa bolot ternyata anda, Profesor Arlert.

Apanya yang tak mungkin? Oke, sebenarnya kalau bicara soal 'tak mungkin', Annie bisa jatuh cinta padanya pun juga termasuk kategori impossible. Gadis angkuh dan cuek sepertinya menaruh hati pada Armin yang notabene pecundang, penakut, dan lemah. Singkatnya, apa yang tak mungkin jadi mungkin ketika seseorang dilanda badai cinta.

"Kau dengar itu, babe?" Hitch menoleh pada Ymir yang disampingnya sembari memasang raut muka yang wajar dipasang orang umum saat melihat wajah koruptor. Ingin ditimpuk batu aja begitu, lho.

Ymir mengangguk kecil, "Sangat jelas, babe. Ternyata ilmuwan itu lebih bodoh daripada yang kukira."

"...Ja-jadi... Annie memang cemburu? Dia salah paham padaku karena aku pergi keluar hotel bersama Historia?" tanya Armin masih tak percaya. Dan demi menyadarkan kebolotan ilmuwan tersebut, Hitch dan Ymir mengangguk cepat walau raut wajah mereka sungguh datar. Ya, tentu mereka tak dapat disalahkan. Sebagai teman, wajar mereka kesal pada Armin yang begitu bodohnya membawa nama Historia di saat-saat Annie sedang menunggu telepon darinya.

Mampus sudah. Armin memegangi kepalanya, frustasi. Ketakutan menyelubungi dirinya ketika membayangkan seperti apakah seekor singa betina mengamuk. Beruntung dia ada di negara antah berantah. Kalau tidak, pasti Annie sudah membantingnya bolak-balik. Gawat, kalau begini sih dia takkan bisa pulang lebih cepat.

Tangan kanannya mengacak-acak rambutnya. Linglung tak kunjung mendapat solusi. Ilmuwan jenius ini benar-benar tak tahu harus berbuat apa, "Aaaaahh! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan!? Kalian ada solusi?"

"Mati saja sana!" solusi Hitch yang tak bisa disebut solusi.

"Selanjutnya!"

"Bersujud memohon ampun sambil telanjang!" solusi Ymir yang lebih cocok disebut sebagai pelecehan.

"Yang lain!"

"Pulang kemari lalu cium dia!" oke, ini baru solusi.

Eit, tidak juga. Armin 'kan pemimpin tim survey. Dia tak mungkin meninggalkan seluruh timnya begitu saja, bukan? Apalagi jika alasannya adalah untuk menyelesaikan kesalahpahaman dengan sang 'tunangan'. Begitu-begitu, Armin sangat menjunjung tinggi profesionalitas, "Kalian sudah gila, ya? Aku tak mungkin seenaknya pulang!" kalau begini sih hanya tinggal satu pilihan lagi, "Tak bisakah kalian bicara pada Annie? Aku mohon!"

Ymir dan Hitch langsung cemberut.

Ternyata memang harus duo iblis yang turun tangan, ya? Mereka yang jelas-jelas jomblo dari lahir mau merepotkan diri lebih jauh untuk pasangan polos nan bego ini? Siapa yang tak kesal? Terutama sumber masalah ini adalah kebodohan Armin dalam mengirim pesan. Mungkin jika misi menjodohkan itu bukan masalah, tapi mereka diminta menenangkan singa betina yang bisa mengamuk setiap saat.

Armin sedikit merasa bersalah melihat Ymir mengacak-acak rambutnya sampai awut-awutan, "Ck, aaaargghhh! Ya ya ya! Kami akan bicara padanya! Sekarang kau puas?" teriaknya emosi.

Armin tersenyum lebar seolah sinar mentari masih berpihak padanya.

"Terima kasih, Ymir, Hitch! Aku berutang budi pada kalian!" ucapnya terlalu senang, "Kalau begitu, setelah kalian bicara padanya, tolong hubungi aku. Aku ingin tahu tanggapannya."

"Ya ya, dasar cerewet," balas Hitch yang mulai muak.

"Sampai jumpa!"

Panggilan video terputus. Meninggalkan rasa was-was dalam hati Armin. Haruskah dia mempercayai Ymir juga Hitch? Mereka takkan mengacaukannya, 'kan? Well, semoga saja mereka tak kena semburan lahar panas Annie. Karena mood Annie yang baik saja menyeramkan, apalagi saat buruk? Membayangkan itu saja membuat seluruh bulu kuduk Armin merinding.

Namun disisi lain, entah kenapa Armin juga merasa senang. Mendengar kecemburuan Annie dari teman-temannya ternyata bisa menimbulkan degupan tak karuan pada jantungnya. Armin merebahkan tangan kanannya pada dadanya sementara tangan kirinya menggengam erat ponselnya. Bibirnya menarik senyum kecil, mencoba membayangkan seperti apa Annie cemburu.

Karena cemburu itu tanda cinta, bukan? Itu artinya apakah Annie juga mencintainya? Aaahh... rasanya ingin cepat pulang saja.

"Saat aku pulang nanti... aku akan mengatakan perasaanku padamu... Annie..."

.

.

.

Padahal suhu AC yang diaturnya adalah 18 derajat celcius, namun Annie tak merasa dingin juga. Tepatnya, hatinya masih panas. Meringkuk dalam selimut dengan raut wajah masam, membayangkan teknik-teknik bela diri apa saja yang akan dia praktikkan pada Armin begitu pria bodoh itu pulang. Ternyata pada dasarnya tetap akan ada pembantaian, huh? Sungguh beruntungnya engkau, wahai Armin. Dewi fortuna masih menyayangimu. Ya, setidaknya untuk sementara.

Apa ini? Annie sungguh tak menyukai ini. Lagipula kenapa Armin harus mengajak Historia? Bukankah masih ada ilmuwan lainnya? Kalau seandainya yang dikatakan Ymir benar bagaimana? Mereka berdua terus bersama. Bisa saja terjadi istilah konyol yang sering Annie dengar dari drama konyol kesukaan Hitch.

Cinta lama bersemi kembali.

Argh. Annie mengubah posisi baringnya menjadi menelungkup, membenamkan wajahnya pada bantal. Dia muak terus memikirkan kemungkinan terburuk. Kesal karena Armin lebih memilih pergi bersama Historia dibandingkan menghubunginya lagi.

Disaat kebimbangan melanda hatinya, Annie dapat mendengar ketukan pada pintu kamarnya.

"Annie? Kau dengar aku?"

Suara Hitch, ya? Mood Annie sedang buruk saat ini. Dihiraukannya saja panggilan temannya itu.

Sekali lagi Hitch memanggil sobatnya tersebut, "Hei, Annie! Telingamu tersumbat kerikil atau apa? Buka pintunya!"

Masih tak dijawab juga, saudara-saudara. Annie benar-benar masa bodoh.

Kemudian kali ini terdengar sahutan Ymir, "Oi, Annie! Armin tadi meneleponmu. Panggilan video segala pula. Ketika ku angkat, dia sempat mengira aku ini dirimu. Jadi tadi kami saling memanggil sayang satu sama lain, hahahaha!" walah, bocah brengsek ini malah memperkeruh suasana saja.

"Kapan pula dia menganggapmu Annie, bodoh!? Justru dia langsung bisa membedakan mana wajah bidadarinya dan mana wajah hewan peliharaannya!" ini sahutan Hitch yang malah menimbulkan kasus diskriminasi wajah.

"Hewan peliharaan? Hamster yang imut itu maksudmu?"

"Huh! Hamster? Wajah yang mirip babi ini kau samakan dengan hamster?"

"HAH!? ORANG BODOH MANA YANG MEMELIHARA BABI DI RUMAH!? BABI ITU HEWAN TERNAK, BUKAN PELIHARAAN! DAN BERANINYA KAU MENGATAI WAJAHKU MIRIP BABI, DASAR CEWEK LOVE-LOVE MACHINE!"

"HAAAH!? KAU MENGAJAKKU BERKELAHI!? AYO, SINI!"

Jiah. Kenapa jadi berantem?

Lupakan mereka. Pendirian Annie tetap kukuh. Dia tak peduli lagi jika Armin meneleponnya. Sudah terlambat. Sudah sangat sakit hati, "Lalu kenapa kalau dia menghubungiku? Aku tak peduli. Berduaan saja sana dengan Historia..." walah. Suara batinnya ini benar-benar khas ala cewek yang sedang cemburu buta. Kemana harga dirinya yang dia junjung tinggi selama ini? Kemana, Annie!?

Menyadari Annie tak kunjung membuka pintu, Hitch mencoba membujuk chapter satu, "Kau tak mau mengambil ponselmu, kawan?" percuma. Annie tak mau keluar juga.

Babak pembujukan gagal. Masuk ke babak ancaman.

"Oooh, kalau begitu tak masalah kami black mail seluruh kontak di ponselmu ini, 'kan?" ujar Ymir kalem melancarkan serangan smackdown tepat di kokoro Annie yang paling dalam.

Tapi itu berhasil. Annie mendelik tak percaya jika Ymir sungguh akan melakukan hal tak terpuji itu. Segera dia bangkit dari tempat tidurnya, buru-buru berjalan ke arah pintu.

KLAP!

Pintu Annie pun terbuka. Dan tanpa berkomentar apapun, dia langsung merebut ponselnya dari tangan Hitch sambil berkata, "Berikan padaku," setelah itu, Annie kembali masuk ke kamarnya, siap menutup pintu. Ya, jika tidak ditahan Hitch yang langsung memegang lengannya.

"Eit eit eit! Tunggu dulu! Kau mau apa?"

"Aku ingin tidur."

"Kau tak menelepon Armin lagi? Dia sangat cemas tadi, kau tahu? Dia pikir kau diculik, makanya ponselmu ada pada kami," celetuk Ymir berwajah serius, seserius ketika memasukkan racun tikus pada petugas pembuat kartu SIM yang minta sogokan. Ini mendapat sambutan pelototan dari mereka, khususnya Annie.

Sang Kolonel tak ingin langsung percaya. Yang benar saja Armin berpikir begitu hanya karena dia tak sekali mengangkat telepon! Ini pasti bualan Ymir lagi, "Di-diculik?"

"Hn. Iya 'kan, Hitch?"

Klik.

Oh, begitu rupanya? Hitch tahu apa maksud Ymir yang mengirim kedipan mata padanya. Baiklah, dia akan berusaha seperti ikan yang mengkuti arus. Saatnya mengeluarkan bakat terpendam dalam dirinya. Sandiwara, "Ya. Seharusnya kau lihat ekspresinya tadi. Dia berkata seperti ini. Ehem!" oke, ambil napas dalam-dalam daaann... action! "Oooh, Annieku! Apa yang terjadi padanya!? Apa dia baik-baik saja!? Tolong biarkan aku mendengar suaranya sekali lagi! Apalah arti hidupku tanpanya!?"

Benar-benar tidak realistis, para pembaca. Tingkahnya yang lebih mirip orang primitif tak mengenal pendidikan itu membuat Annie meringis. Gadis pirang berkulit pucat ini hanya menatap Hitch dengan tatapan aneh. Hitch sih belum sadar. Masih terbawa suasana dalam sandiwara bodohnya.

"Aku berani bertaruh Armin tak mungkin berkata seperti itu," sergah Annie ragu, membuat Hitch berhenti dari aksi gilanya dulu sambil memberikan tatapan bete.

Ymir merasa akting Hitch harus dihentikan sampai disini. Segera dia berceletuk mengutarakan pendapat, "Ya, katakan saja yang tadi itu versi dramanya. Tapi kalau kau tak percaya, kenapa tak kau pastikan sendiri saja?"

Annie membisu.

Memastikan sendiri berarti menghubungi Armin kembali. Apa jangan-jangan Ymir dan Hitch sengaja melakukannya? Namun bukan Annie namanya jika tak memiliki sifat keras kepala. Dia hanya kembali masuk ke kamarnya, meninggalkan teman-temannya yang sekarang sedang tersenyum setan.

...

~invisible string chapter eleven~

...

.

.

Terlepas akan kericuhan di rumah ilmuwan muda Arlert, ternyata efek kericuhan itu sampai di rumah Eren. Di malam hari yang seharusnya menikmati sebuah kencan sederhana bersama Mikasa jadi sedikit terganggu berkat suara dering ponsel sang kekasih. Televisi yang sedang menyiarkan drama polisi itu dihiraukan oleh Mikasa karena gadis ini segera meraih ponselnya. Melihat siapa yang baru saja mengirim pesan—tepatnya chat.

"Hm?"

Armin Arlert mengirim pesan kepada anda.

Ya, nama Armin, sahabatnya tertera di layar. Tapi mengapa? Tanpa berkata apapun, Mikasa membuka aplikasi LINE untuk membaca pesan dari Armin.

Eren menyadari perubahan muka Mikasa yang dari lovey-dovey jadi serius. Sembari mengunyah kacang yang dia ambil dari toples di depannya, dia bertanya, "Ada apa?"

"Ada pesan dari Armin."

Eren mengerutkan dahi, "Armin?" tanyanya kebingungan. Sebagai sahabat, dia tahu betul jika Armin sudah di negara antah berantah sana, dia sangat jarang mengirim pesan kecuali hal penting atau jadwal kepulangannya saja.

Mikasa kemudian mengklik kontak Armin dan langsung membaca pesan tersebut.


Armin Arlert: Mikasa, aku ingin minta pendapatmu. Bagaimana cara menghadapi wanita yang sedang salah paham padaku?


Alis Mikasa bertaut.

"Salah paham?" Mikasa merasa dia harus bertanya lebih jauh. Maka dia pun membalas pesan Armin.


Mikasa Ackerman: Apa maksudmu salah paham? Dan siapa?

Armin Arlert: Annie. Tadi aku sudah berjanji untuk segera meneleponnya begitu aku siap rapat, tapi aku mengundurnya karena aku mau pergi keluar hotel bersama Historia. Setelah kembali, justru Ymir yang mengangkat telepon. Katanya, Annie tak mau mendengar suaraku.


Si gadis polisi spontan tepuk jidat. Merutuki kebodohan sang sahabat dalam menanggapi perasaan wanita. Kalau begini Armin tak ada bedanya dari Eren! Mikasa menggeleng-geleng tak habis pikir. Kenapa pria-pria disekitarnya begitu bodoh dan tak peka? Merepotkan saja.


Mikasa Ackerman: Kalau begitu wajar saja dia salah paham. Lagipula keluar hotel ini kemana maksudmu?

Armin Arlert: Ke bar. Aku diinterogasi soal Annie olehnya. Tapi jangan salah paham dulu. Historia sudah punya kekasih. Sungguh! Kami tak berbuat macam-macam di bar. Hanya bicara! Jadi bagaimana ini, Mikasa? Aku tak ingin Annie terus marah padaku.


Baiklah, intinya si ilmuwan jenius tersebut sedang meminta solusi lain darinya. Dengan senang hati, sebagai seseorang yang sudah memiliki pacar, Mikasa pun memberikan pendapatnya. Ya, ini semua supaya Armin tak terbunuh begitu dia pulang. Apalagi jika Mikasa pula yang mengusut kasusnya. Never.


Mikasa Ackerman: Biarkan dia tenang dulu. Besok hubungi dia lagi. Jelaskan saja apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, kalau kau punya pengalaman menghadapi Annie yang cemburu, gunakan saja caramu yang biasanya.

Armin Arlert: Terima kasih, Mikasa! Kau memang bisa diandalkan!

Mikasa Ackerman: Senang membantu sahabat.


Selesai satu masalah, walau belum 100 persen.

Mikasa menghembuskan napas panjang, merasa lega jika pendapatnya bisa membantu Armin. Tanpa menyadari bahwa Eren ternyata melirik percakapan mereka dari awal hingga akhir. Entah apa yang terjadi dalam drama polisi itu, tapi Eren sekarang jauh lebih tertarik pada alasan sahabatnya mengirim pesan pada Mikasa. Bukan cemburu, kok. Lagipula rival abadinya dalam mendapatkan hati Mikasa itu bukan Armin, melainkan pria bertampang kuda yang sekarang bekerja di distrik Sina.

Dan setelah tahu apa alasannya, Eren melotot horor. Tubuhnya nyaris kejang-kejang bak Kakek-Kakek epilepsi. Dia menatap Mikasa terkejut, "Annie cemburu?!" Mikasa pun menoleh pada sang kekasih, memberi tatapan seolah berkata 'sejak kapan kau mengintip percakapan kami?'. Namun Eren sudah bertingkah autis, "SERIUS!? SINGA BETINA BERMATA SETAN ITU!?"

Mikasa menjawab kalem, "Serius."

"Kenapa!?"

"Karena dia sudah jatuh cinta."

"Setan pun bisa jatuh cinta?! Pasti kepalanya terbentur ratusan kali!"

"Eren, berhentilah mengejeknya. Seandainya mereka memang akan menikah, Annie resmi menjadi saudari iparmu. Jadi, hormati dia."

Annie Leonhart menjadi saudari iparnya?

Si ajudan Letjen Erwin? Pemimpin batalion? Kolonel termuda sepanjang sejarah angkatan darat Eldia?

"Annie menjadi... saudari iparku?" Eren membayangkan seperti apa efek baginya jika Annie benar-benar menikah dengan Armin.

Mari skip adegan dimana Armin dan Annie memakai pakaian pengantin. Mari skip juga soal malam you-know-what. Saat ini Eren membayangkan Annie sedang memalaknya, meminta uang dan perabotan atas dasar 'saudara ipar'. Tampang preman, tatapan membunuh, serta bantingan bolak-balik yang sudah pasti akan mematahkan punggung itu.

Tiba-tiba Eren bisa merasakan hembusan angin dingin menerpa tubuhnya. Sangat dingin hingga membuat tubuhnya merinding. Sembari memeluk tubuhnya sendiri, Eren mengucapkan jampi-jampi dalam hati supaya—demi apapun!—jangan sampai Annie jadi saudari iparnya! Dia bisa terbunuh!

Ya, ini adalah analogi yang kemungkinan besar takkan terjadi.

.

.

.

Sudah berapa lama dia membiarkan bantal-bantal nista pemberian Ibunya ini? Sebulan kah? Entahlah. Namun malam ini, Annie sendiri tak mengerti kenapa dirinya sekarang membuka lemarinya, menatap bantal-bantal itu. Selanjutnya sang Kolonel muda mengeluarkan bantal-bantal itu satu per satu. Membawa keempat bantal itu ke ranjangnya. Dalam keheningan malam, Annie menatap setiap gambar Armin pada benda itu.

Annie terdiam.

Sejujurnya Armin terlihat menjijikkan dijadikan sampul bantal laknat hasil pemikiran liar Ymir juga Hitch ini. Jauh lebih tampan dan manis yang aslinya, beginilah menurut Kolonel termuda sepanjang sejarah Eldia. Niat awalnya yang ingin membakar benda-benda sial ini jadi gagal berkat perasaan aneh seperti kupu-kupu akan menyeruak dari perutnya.

.


"Kau tak menelepon Armin lagi? Dia sangat cemas tadi, kau tahu? Dia pikir kau diculik, makanya ponselmu ada pada kami."


.

Jika Annie percaya pada bualan bodoh Ymir itu, maka dia adalah wanita paling bodoh sedunia. Tapi anehnya, ingin sekali dia mempercayai bualan tersebut meski sulit.

"Secemas itukah Armin padaku?" hati Annie benar-benar terguncang. Pertahanan hatinya mulai goyah. Bodoh! Yang benar saja hatinya melembut semudah ini! Annie menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, "Tak mungkin! Untuk apa dia cemas padaku sementara dirinya sedang bersama Historia?"

Cemburu.

Ya, Annie cemburu. Dia mengakui itu. Pertama kalinya dalam sejarah dia hanya ingin Armin untuknya seorang. Tak boleh untuk siapapun! Historia atau gadis lainnya! Ada rasa takut dalam hatinya terhadap gadis peneliti itu. Mari Penulis jabarkan alasannya.

Historia = feminim, Annie = tomboy. Satu ceklis.

Historia = ramah, Annie = cuek. Dua ceklis.

Historia = pergaulannya luas, Annie = pergaulannya sempit. Tiga ceklis.

Historia = imut, Annie = sangar. Empat ceklis.

Kesimpulannya? Aneh jika Armin lebih memilih dirinya daripada Historia, 'kan? Dari sisi manapun Annie kalah telak dari teman dekat Ymir itu kalau soal—ehem—dunia cewek.

"Armin bodoh. Bodoh..."

Baiklah, sekarang apa? Dia ingin memeluk Armin, namun pria itu tak disini sekarang. Haruskah dia memeluk bantal ini? Dia, yang bersumpah takkan membiarkan dirinya menyentuh benda-benda laknat ini? Tapi Hitch dan Ymir tak melihat, 'kan? Jadi Annie tak perlu takut diledek, 'kan? Lagipula bantal-bantal ini dimaksudkan untuknya. Fungsi sebuah bantal guling itu adalah dipeluk dalam tidur, bukan disimpan dalam lemari.

Akhirnya malam itu, Annie berakhir berbaring di atas ranjang sembari memeluk bantal guling yang bergambar Armin yang topless dalam pose berbaring menyamping. Tentunya setelah meletakkan tiga bantal lainnya ke dalam lemari.

Aahh... cinta.

Orang jenius mana yang tetap menjaga kewarasannya di depan hal seindah itu? Tak ada, kawan. Sungguh tak ada.

...

~invisible string chapter eleven~

...

.

.

Mendengar suara kicauan burung pagi sontak membuat Annie membuka mata dan terduduk. Matanya mengerjap beberapa kali, melihat ke kanan, ke arah jendela dimana terlihat sinar mentari datang menyongsong. Gadis ini kemudian menundukkan wajah. Alisnya bertaut kebingungan.

Dia ketiduran? Cih, ternyata memikirkan Armin semalaman memang berdampak buruk pada tubuh serta hatinya. Fisiknya yang luar biasa itu tetap kelelahan ketika membayangkan hal macam-macam tentang Armin dengan sang gadis di masa lalunya. Annie memijat kepalanya, pusing sekali. Sesaat kemudian, dia melirik ke ponselnya yang dia letakkan di samping bantal semalam. Dan alisnya terangkat sempurna begitu menyadari notifikasi di ponselnya.

Armin mengirimnya pesan? Layar ponselnya masih menyala. Berarti pesan itu dikirim belum lama. Tanpa pikir panjang, Annie pun membuka pesan tersebut sembari menerka tujuan Armin mengirimnya.

.

From: Banci Pirang

Time: 07.09 A.M

Subject: Tolong dengarkan aku, Annie

Annie, hari ini aku akan pergi ke desa tempat dimana aku akan melakukan survey. Maafkan aku telah membuatmu marah semalam. Sungguh, aku dan Historia tidak memiliki hubungan seperti yang kau pikirkan. Selain itu aku tak menyangka kalau Annie ternyata seposesif itu. Ternyata Annie akan cemburu juga, ya?

Mungkin aku akan sulit menghubungimu lagi. Kau tahu, masalah sinyal di tempat terpencil. Jadi selama aku bisa menghubungimu, akan kulakukan. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku benar-benar merindukanmu. Karena itu, percayalah padaku, Annie.

P.S : Ada yang ingin kubicarakan denganmu begitu aku kembali ke Eldia. Tunggulah.

.

Siapa yang takkan mengulum senyum setelah membaca pesan yang cukup romantis itu?

Meski sempat tak percaya diri di awal, Annie bisa merasakan perasaan hangat di hatinya sekaligus wajahnya. Hanya senyum tipis, nyaris tak terlihat. Rambut pirang miliknya yang dia gerai itu dia tautkan di belakang telinga. Tingkahnya yang tersipu malu ini pasti jadi bahan ledekan seandainya dua setan itu melihatnya.

"Kalau kau sudah tahu aku akan cemburu, kenapa kau pergi berdua bersamanya?" gerutu Annie. Dia berpikir awal hari-harinya tanpa Armin akan suram di hari selanjutnya, namun tidak. Kalau begini sih dengan senang hati dia akan terus menunggu kepulangan sang calon suami dari benua Afrika sana.

Tentu saja, tak lupa Annie mengirim pesan balasan untuk Armin. Menyingkirkan segala ego untuk berpura-pura sok tak peduli. Dia juga harus membuat Armin percaya bahwa dia masih menunggunya, 'kan?

.

To: Banci Pirang

Subject: None

Maafkan aku tak mengangkat telepon darimu semalam. Jangan khawatir. Aku percaya padamu. Karena itu, cepatlah pulang. Ada hal penting yang juga ingin kubicarakan denganmu.

P.S: Kalau kau sudah tahu aku tipe pencemburu, jangan melakukan kesalahan yang sama dua kali, Arlert. Atau kau akan berurusan dengan tinjuku.

.

.

"Lihat dia. Semalam dia membanting pintu sampai engselnya nyaris lepas. Sekarang senyum-senyum sendiri persis orang gila..." bukan berarti Ymir membenci pemandangan aneh nan menjijikkan seperti melihat Annie bersenandung ria di dapur sembari memasak sarapan. Tapi mengingat apa yang terjadi semalam alias aksi banting pintu beserta ancaman black mail, rasanya wajar baginya untuk menyindir si Kolonel.

Suasana hati wanita itu mendadak berubah begitu keluar kamar, begitulah yang dilihat oleh wanita jerawat ini. Tak ada mengucapkan selamat pagi atau apapun, dia melenggang ke dapur, memasak entah-apa-itu-namanya. Menghiraukan Ymir sekaligus Hitch yang meliriknya sweatdrop dari sofa ruang tengah. Mungkin karena perubahan hati dalam semalam inilah yang membuat mereka memberanikan diri menyusulnya ke dapur.

Hitch melongok ke arah kuali dari balik punggung Annie, "Hei, atasan. Kita akan makan apa pagi ini?"

"Risotto."

"Risotto? Tumben."

"Ya. Ini makanan kesukaan Armin."

"O-oh..." Hitch dan Ymir langsung sweatdrop kedua kalinya.

Makanan kesukaan Armin, katanya? Apa dia lupa si maniak buku-buku usia ratusan abad itu sekarang di Ghana? Leonhart muda ini sama sekali tak menyadari tatapan aneh dari teman-temannya.

"Yang akan makan 'kan aku. Kenapa kau malah membuat makanan kesukaan si kutu buku itu? Makanan kesukaanku bagaimana?" dua setan berpikiran kompak dan membatin kompak pula.

Eit, tunggu dulu. Kalau Annie tiba-tiba jadi aneh begini, mungkin...

Tak ada yang memberi komando pun, serempak mereka berdua mundur perlahan, meninggalkan Annie yang asyik dengan masakannya. Ingat betul bahwa gadis itu tadi lupa mengunci pintu kamarnya. Ini berarti misi penyusupan dimulai. Hitch dan Ymir berlari-lari kecil menuju kamar Annie sembari terus memikirkan kemungkinan di kepala mereka.

Hitch memegang kenop pintu kamar Annie. Memutarnya dan pintu itu pun terbuka.

"Sudah kuduga. Memang tak dikunci..." gumamnya pelan.

"Oke, ayo masuk, Letnan!" ujar Ymir bersemangat siap gempur.

Dan begitu mereka masuk...

"Ah..."

Layaknya serangan jantung akibat melihat sang suami selingkuh dengan sahabat seperti dalam drama cinta, dua makhluk gaib ini membeku begitu melihat bantal spektakuler mereka berada di ranjang Annie! Ranjangnya masih belum dirapikan sehingga terlihat jelas bahwa bantal guling yang sebagian ditutupi selimut itu dalam posisi baru dipeluk semalaman.

Biarkan jangkrik paduan suara dulu. Karena apa yang terjadi selanjutnya adalah munculnya senyum iblis di wajah mereka dan berlari bak kabur dari pengejar utang menuju dapur.

"Hey, Anniiiiiiiiiiieee~~!"

Jujur saja, Annie spontan merinding mendengar suara-suara godaan setan tersebut. Perlahan dia menoleh ke belakang, mendapati senyum menyebalkan itu di wajah kedua tamu paksaan. Gawat, firasatnya tidak enak, "Ada apa dengan kalian?"

"Ada sesuatu yang harus kau katakan pada kami, 'kaaaannn~~?" Hitch memberikan kedipan mata nakal yang sukses membuat Annie menahan panggilan alam.

"Apa maksudmu? Dan kenapa kalian terlihat menjijikkan? Ya, walau biasanya kalian memang menjijikkan,"

Ymir memainkan alisnya, menaik-turunkan dengan raut wajah seperti ingin ditimpuk kerikil, "Kami menemukan bantal spektakulermu yang bergambar Armin di atas ranjangmu. Bisakah jelaskan pada kami kenapaa~?"

Annie mematung.

JACKPOT! Dia tak bisa menghindar lagi! Dalam hati Annie merutuki kebodohannya yang lupa mengunci pintu kamarnya. Tidak, seharusnya dia memasukkan kembali bantal itu ke lemari! Sekarang dia harus menghadapi risiko berat seperti menghadapi godaan maut dua dedemit lautan Pasifik ini.

Seluruh wajahnya memerah. Jauh lebih memerah daripada biasanya. Keluar asap juga dari kepalanya seolah siap meledak kapan saja. Dia yakin teman-temannya sekarang bisa melihat gelagat salah tingkahnya. Ah, sial! Bagaimana ini!?

"I-itu—"

"Ituuuuu~?"

"I-itu—" percuma! Mereka berdua benar-benar setan sampai tak memberinya kesempatan menemukan alasan! Terpaksa, mau tak mau, suka tak suka, Annie pun mengakui perbuatan 'dosanya' alias menjilat ludah sendiri, "—Argh, sudahlah! Memangnya kenapa!? Kalian membuat bantal sial itu untukku, 'kan? Salah jika kupakai!?" bentaknya murka dengan raut wajah terbakar. Merona maksudnya.

Hitch tak mau langsung mundur. Dia terus saja meledek atasannya ini, "Katamu takkan kau pakaaaaiii~,"

"Kau manis juga saat jatuh cinta, ya. Pfft!" celetuk Ymir mati-matian menahan tawa. Astaga, ini benar-benar lucu! Sayang sekali Armin tak disini.

Oke, Annie tak bisa menahan dirinya lagi. Sangat luar biasa geram pada tingkah si duo usil. Menggenggam kepalan tangannya erat-erat, gadis ini menundukkan wajah. Mencoba menahan urat-urat kemarahan. Sayangnya, ini tak berhasil karena dia tambah malu. Akhirnya dia memakai cara yang biasa dia lakukan untuk menjauhkan ular-ular tersebut.

Sebuah ancaman.

"MENJAUH DARIKU SEKARANG JUGA ATAU KUBUNUH KALIAN!"

"Gyaaaaaaa! Kabuuuuurrr!" teriak Hitch dan Ymir langsung melarikan diri sebelum Annie sungguhan membunuh mereka. Kabur meninggalkan gadis itu yang sekarang kehilangan konsentrasi memasak.

...

~invisible string chapter eleven~

...

.

.

Desa Ragako, Distrik Rose.

Pukul 10.38 A.M

Kediaman Springer

.

"Hm?" seorang laki-laki berambut plontos melirik ponselnya yang berdering nyaring. Entah siapa yang menghubunginya tersebut sampai mengganggu waktu kunjungannya ke rumah keluarganya. Ya, meski dia masih ada tugas, pria ini mau menyempatkan diri untuk—setidaknya—melihat wajah kedua orang tuanya. Menikmati secangkir kopi hangat sembari membaca koran bukanlah aktivitas buruk demi menyingkirkan rasa lelah dari dunia militer.

Pria ini mengerutkan dahi tatkala melihat nama kontak salah satu temannya, "Ymir?" gumamnya bingung. Namun dia memilih untuk mengangkat telepon tersebut daripada asyik menerka, "Halo, Ymir,"

"Yo, Connie! Aku muak berbasa-basi dan membuang-buang waktu, maka aku akan langsung ke inti. Aku ingin minta bantuanmu."

Wah wah. Benar-benar tak mau basa-basi dan buang waktu. Sangat ke intinya sekali. Kalau sudah begini, pria bernama Connie ini juga penasaran akan kepentingan Ymir padanya.

"Errr... bantuan apa?"

"Kudengar dari Hitch, sekarang kau menjadi tentara pengawas di rumah sakit markas militer angkatan darat Eldia, 'kan?"

"Ya, benar. Lalu?"

"Apa kau mengawasi jalannya medical check up?"

"Hm, aku memang ditunjuk untuk mengawasi pemeriksaan rutin disana. Yah, meski sebenarnya aku cuma berdiri diam memperhatikan mereka sementara para dokter mengambil alih," ya, inilah tugas yang dimaksud. Dirinya yang masih Letnan Satu ini diminta menjadi ketua pengawas pemeriksaan rutin para prajurit baru setiap kali selesai sesi latihan.

Tapi tetap saja ada yang aneh. Kenapa dirinya yang jelas-jelas tentara angkatan darat ingin dimintai tolong oleh wanita youtuber ini? "Jadi, apa tujuanmu? Kau ingin apa?"

"Bisakah kau membuat Annie kembali diperiksa di rumah sakit militer?" Connie mendelik saat nama sang atasan sekaligus teman seangkatannya disebut.

"Annie?" ujarnya tak percaya. Ymir memintanya untuk membawa Annie kembali ke rumah sakit militer angkatan darat? Gadis ini sedang mengigau atau apa? "Ta-tapi dia sedang cuti setelah perang, 'kan? Dan setahuku dia baik-baik saja. Apa dia sakit?" khawatir melanda hati Springer muda ini. Karena kalau bicara soal Annie, pasti luka yang diderita gadis jutek itu bukanlah luka yang bisa diabaikan. Connie masih mengingat luka tembak yang dialami Annie 7 tahun lalu. Luka tembak itu benar-benar nyaris merenggut nyawanya. Kalau bukan karena dokter Arlert, pasti dia sudah mati.

Namun Connie bisa menghembuskan napas lega mendengar balasan Ymir, "Tidak, dia tidak sakit."

"Lalu untuk apa dia diperiksa, bodoh?"

"Ck, ya ampun! Baiklah, akan kuceritakan padamu dari awal kenapa aku minta ini."

.

Setelah penjelasan panjang lebar ala guru tipikal membaca buku doang tanpa memperhatikan siswa-siswinya yang sudah pergi ke dunia mimpi...

.

"ANNIE DIJODOHKAN DENGAN ARMIIIINN!?"

"Sssshh! Pelankan suaramu, bodoh! Bagaimana kalau orang lain mendengar!? Ini masih rahasia! Annie mati-matian menutupi ini dari kalangan militer! Kau ingin kami semua dibunuh olehnya, hah!?"

"O-oh, ma-maaf..." Connie celingak-celinguk, memastikan hanya dirinya seorang lah yang berada di teras rumahnya, "Tenanglah, aku sedang sendirian saat ini. Aman," terdengar helaan napas lega dari seberang ponsel. Maka Connie pun bertanya memastikan sekali lagi. Karena—astaga! Berita macam apa ini!? Ini breaking news! Breaking news! "Ja-jadi itu memang benar? Annie akan menikah dengan Armin? Kenapa aku yang teman dekatnya Armin tak diberitahu?"

"Armin juga berusaha menutupi ini. Selain itu, mereka belum tentu menikah, hanya dijodohkan. Mau atau tidak, itu terserah mereka. Tapi sekarang aku ingin mempermulus hubungan mereka yang seperti benang kusut itu. Kau 'kan tahu sendiri seperti apa hubungan mereka dulu,"

"Apa rencanamu?"

"Aku tak ingin Armin terlalu lama di hutan bersama para monyet disana, jadi kami ingin agar dia lebih cepat pulang dari jadwal. Makanya aku meminta bantuanmu. Kurasa dia akan pulang kalau Annie sakit parah,"

"Tapi Annie 'kan tidak sakit!"

"MAKANYA, BEGO! Aku minta tolong padamu bekerja sama dengan dokter disana untuk membuat hasil pemeriksaan palsu! Panggil saja dia ke rumah sakit untuk pemeriksaan biasa, tapi pastikan dia tak tahu tujuan asli kita. Setelah itu, aku, Mikasa dan Eren, serta dirimu akan mengirim pesan gambar dokumen pemeriksaan itu pada Armin. Dia pasti akan langsung percaya karena dikirim banyak orang!"

Rencana sederhana, namun cerdas. Berikan tepuk tangan meriah untuk Ymir!

Namun masih belum cukup. Connie masih menyadari lubang di rencana Ymir ini, "Bagaimana kalau Armin menghubungi Annie untuk memastikan? Apa kau bisa menangani ponselnya?"

"Serahkan itu padaku. Pokoknya, apa kau bisa melakukan ini, Connie? Aku tahu ini berisiko. Tapi kau bisa ceritakan alasannya pada atasanmu begitu semuanya selesai,"

Ymir benar. Jika atasannya, Mayor Jenderal Levi Ackerman memergokinya sedang memalsukan dokumen pemeriksaan rutin, pemecatan secara tidak hormat berada tepat di depan mata. Lebih buruknya lagi, wajahnya pasti akan dijadikan samsak oleh pria bertubuh kecil tapi bertenaga badak itu selama seminggu. Singkatnya, maut sudah menanti. Meski begitu, Connie merasa bahwa inilah saatnya membalas budi Annie yang pernah menyelamatkan nyawanya saat berperang terakhir kali. Perang dimana Annie mendapat penghargaan sekaligus kenaikan pangkat.

Dengan kepercayaan diri tinggi, Connie pun menjawab mantap, "Baiklah, aku bisa melakukannya."

"Sungguh!?" Ymir terkesiap di ujung sana. Menahan rasa senangnya karena berhasil merekrut satu orang lagi dalam rencananya.

"Ya, tapi tak bisa dalam waktu dekat. Kalaupun kami bisa membuat Annie datang kemari di minggu ini, hasil pemeriksaan akan keluar paling cepat satu minggu. Paling lama dua," balas Connie lagi jujur apa adanya.

"Tak masalah. Asal jangan sampai sebulan."

"Oke, tampaknya kita sudah menemui kesepakatan,"

"Terima kasih, Connie!"

"Sama-sama."

Panggilan terputus, meninggalkan Connie yang asyik berpikir, membayangkan hubungan percintaan Armin dan Annie sembari menatap layar ponselnya. Ini benar-benar di luar perkiraannya. Dia tahu pasti bahwa dua orang itu benar-benar tak cocok jika disandingkan. Pembully dan korbannya. Memang ada kisah cinta konyol seperti itu?

"Armin dan Annie? Menikah?" sungguh, dia ingin sekali tertawa keras-keras di depan wajah Annie. Ingat sekali bahwa wanita itu dulu berterus terang Armin bukan tipenya ketika masih SMP. Sayang sekali takdir berkata lain. Dewi fortuna ternyata tak memihaknya. Si bodoh itu termakan omongannya sendiri.

"Ternyata Megalodon dan tikus sawah bisa bersatu, huh?"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Astaga, ini terlalu panjang. Penulis pusing mengetiknya, sungguh. Tapi mau bagaimana lagi? Penulis tak mau bertele-tele lebih lama. Jadi langsung umbar rencana Ymir, deh.

Oke, jadi bagaimana? Jelek? Bagus? Ah, katakan lewat komentar. Tapi, ingat! Cantumkan nama kalian, ya!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!