ROYALTY
by Gyoulight
.
.
.
.
A CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance, Drama (?)
RATING: T (?)
.
.
.
.
Sore menapaki siang yang tenggelam. Barisan burung camar masih setia berkumpul di tepian Port Vell. Menyaksikan barisan tiap kapal berayun ditiup ombak, para pejalan kaki menjejak pada jalanan di atas air. Sementara dari kejauhan matahari sudah membungkuk. Mungkin tiga jam lagi akan menyerah untuk berpulang.
Chanyeol yang gundah mencoba melangkah di depan. Menyusuri pelabuhan dengan keramaian yang sibuk. Kapal-kapal besar mulai berangkat dengan jadwal musim panas. Seperti kapalnya yang sudah berlayar, mereka mengarungi Mediterania yang biru. Tapi kali ini bukan kapalnya. Ia tahu benar kapalnya telah berangkat sejak dua hari yang lalu.
Maka yang dihadapannya kini adalah kapal yang tidak kalah megah. Berdiri kokoh di atas lautan lepas, dimana benderanya berkibar kuat di puncak. Kokohnya kapal itu menjelaskan perjalanan singkat yang akan segera dilewati. Chanyeol dengan pakaian semalamnya pun masih bergeming, bertanya sekali lagi tentang keyakinan Baekhyun yang kian terhempas angin.
Pemuda itu berdiri tepat di belakangnya. Langkahnya meragu meski tetap ikut mendekati pintu masuk. Helai rambut coklatnya kembali diterpa angin, tak cukup untuk membuatnya segera memutuskan. Chanyeol kemudian mengulurkan jemari. Masih berharap sosok itu telah memutuskan sesuatu atau mengambil jemarinya dengan yakin.
Seminggu perjalanan laut mungkin perjalanan panjang beresiko. Siapapun akan berpikir demikian jika pertama kali melakukannya. Tapi disini Chanyeol punya banyak pengalaman mengarungi lautan luas. Mata pernah lepas membayangi horizon yang melengkung, hanya ada langit yang menyentuh laut. Semua terlihat menyatu, hanya ada dirinya dan lautan bercermin. Tentu Chanyeol tidak pernah lupa pada ketenangan yang ia raih dalam belasan pelayaran kapal dunia yang pernah ia lalui.
Meski Baekhyun masih terbenam sembilu, nyatanya pemuda itu pintar membaca kalimat yang Chanyeol jelaskan lewat binar matanya. Tubuh kecil itu tanpa ragu mendekat. Meraih uluran tangannya dalam tempo singkat, yang kemudian segera ia genggam dalam langkah perginya.
Perjalanan panjang mereka kemudian dimulai pada langkah berikutnya. Sore pun sudah jatuh tenggelam bersama mentari merah merekah. Sayap-sayap peraduan dengan cepat menjauh terbang, meninggalkan dermaga yang lepas. Kapal mereka berlayar perlahan. Melawan ombak yang datang, lantas mengambil kemudi. Dimana kota Italia menjadi sebuah destinasi.
Letak kamar yang ditempati berada di deck tiga. Dengan pemandangan jendela yang menakjubkan, dilengkapi tangga lantai yang tersambung dengan grand balkon. Hanya ada satu ranjang besar, set sofa putih, dan walk in closet. Ruang gerak cukup luas, dengan televisi yang menempel di dinding.
Tersisa Chanyeol dan Baekhyun yang memutuskan untuk berbaring di masing-masing sisi ranjang. Hanya Baekhyun yang berselimut sepi. Sedangkan mata keduanya masih menancap satu sama lain, seolah tengah berbicara lewat telepati. Belum ingin bersuara.
"Tidurlah. Kau pasti belum mendapatkan tidur," pinta Baekhyun masih bergeming. Menatap Chanyeol dari sisi kiri, tanpa ingin tahu jika kantuk pria itu sudah lama hilang. Terganti dengan pemikiran-pemikiran abstrak yang Chanyeol sendiri tidak mengerti bagaimana mengurainya menjadi satu untaian pertanyaan.
Lantas Chanyeol menatap sosok pemuda yang memunggungi jendela besar itu. Pun pamandangan sore kemerahan terlukis di belakangnya. Penuh cahaya menyilaukan, namun selalu sejuk. Lengkap dengan senja yang tenggelam, Baekhyun ibarat tambahannya. Mereka tidak akan pas disebut indah jika Baekhyun tidak berada disana.
"Kau tahu apa yang aku pikirkan sekarang?"
"Jangan bertanya," Baekhyun mencegah, dan ia tahu benar jika Chanyeol ingin ia bicara. Tapi sekali lagi pemuda itu tidak tertarik memberinya jawaban. Lebih tertarik menyelami manik pria di sampingnya semakin dalam. Entah apa yang tengah dicarinya. "aku tidak akan menceritakan apapun."
Chanyeol tahu benar jika pertanyaannya ditolak. Baekhyun berubah banyak diam terhadapnya. Sosok itu pun tidak lagi menjawab berbagai pertanyaan rahasia. Seperti bukan Baekhyun yang sebelumnya penuh dengan lembaran terbuka. Bukan Baekhyun yang akan mengajaknya bicara karena bosan.
"Lebih dari itu, aku hanya ingin tahu mengapa kau kembali," sambung Baekhyun kemudian. "Saat itu kau bilang ingin kembali karena aku─"
"Aku tidak berbohong soal itu," Chanyeol menjawab. Ia tentu jujur dengan semua pertanyaan yang dibuat Baekhyun. Ia tidak pernah berbohong padanya─kecuali hari itu.
Baekhyun semakin mengeratkan genggamannya pada ujung selimut. Meringkuk sendiri dalam lautan pikiran rahasia yang tidak siapapun akan mengetahui. Pemuda itu lalu ditemukan Chanyeol seakan menahan semua luka, susah payah menyembunyikan linangan matanya sendiri.
Dada Chanyeol tentu berdenyut sakit. Menatap kembali manik itu membuatnya tersadar dengan semua hal yang pernah dilakukannya. Kedipan itu, getaran mata itu, segala hal dalam waktu yang sama menaparnya nyaris begitu kuat. Benar kata Junmyeon, mengapa ia begitu susah untuk menyatakan hal-hal yang terpikirkan? Padahal ia berlari kemari untuk menemukan. Menemukan jawaban yang lelah dicarinya.
Dan kali ini Baekhyun memberinya jawaban. Sebongkah rindu. Siksaan hati yang tidak akan terobati meski ia kubur dalam-dalam. Sekian kali Chanyeol pernah terluka di hati, tapi baru kali ini ia ingin menyatakan isinya. Ia ingin mengungkap, bahwa ia merindukan Baekhyun yang hari itu sangat percaya padanya. Ia merindukan hari-harinya bersama si pemuda. Begitu gila ingin ia temukan ceritanya memecah hari.
Linangan di mata Baekhyun lalu hanya membuat Chanyeol semakin luluh lantah. Tidak ada yang bisa Chanyeol lakukan selain mendekat pada sosok mungil yang terakhir kali jauh menghindarinya. Lengannya pergi merengkuh tubuh itu ke dalam pelukan. Melegakan perasaannya yang sejak tadi tertahan. Begitu ingin ia peluk bayangnya sejak lama. Chanyeol sepenuhnya menggapai debaran yang ia rasakan di dada. Begitu menenangkan. Begitu membuatnya mabuk ke dalam mimpi yang indah.
Baekhyun benar adalah jawabannya. Ia membutuhkan pemuda itu untuk melegakan segala sesak yang tertahan.
e)(o
Tidak pernah ada yang lebih melegakan ketika Chanyeol mendapati Baekhyun terlelap di sisinya. Tidak ada satupun yang tergerak di hatinya untuk pergi. Masih memuja bagaimana wajah itu melukiskan kedamaian. Ia pun tidak akan tega walau mentari sudah meninggi. Jauh pergi, terbang di atas lautan untuk mengetuk kantuk para pemimpi. Chanyeol tidak pernah berniat ingin membuat sosok itu bangun.
Surai coklat itu ia sentuh dengan jemarinya. Terasa begitu lembut, hingga habis ia susur ke belakang telinga. Tubuh itu masih meringkuk dingin. Bersembunyi dalam pelukannya yang renggang. Ini pertama kalinya pria itu menghabiskan waktu panjang dengan si pemuda. Tenggelam dalam kantuk yang sama, kemudian terbangun bersisian dalam pelukan yang damai.
Segalanya terasa jauh lebih mendebarkan, sekaligus menenangkan. Begitu ajaib hingga Chanyeol mengaku belum pernah merasa sehidup ini.
Jemari kecil itu kemudian ia raih. Merasakan tiap dinginnya lalu ia genggam dalam lembaran cerita. Bayang-bayang mereka sebelumnya tanpa dicegah berkelana menyambut. Namun Chanyeol tidak bisa tersenyum soal ia yang gelap mata ingin melenyapkan Baekhyun dari peredaran ayahnya.
Karena pada nyatanya, dengkuran halus itu selalu membuatnya tak tega. Lantas apa yang harus ia lakukan, sedangkan menerima kehadiran Baekhyun adalah masalah utama dalam hidupnya? Dan Chanyeol yakin jika kedua adiknya pun memiliki pemikiran yang sama buruk.
Menelusuri wajah Baekhyun yang damai membuatnya memikirkan segala pertanyaan tentang 'mengapa'. Seperti kemarin sore, begitu lengkap, begitu banyak, hingga ia bingung sendiri mengapa terbesit ingin ia dapatkan sosok itu dalam genggaman.
"Kau tidak boleh melakukannya," gumam sosok itu menginterupsi setelah Chanyeol mendekat pada wajahnya. Hendak menggapai bibir itu sebagai pengganti alarm pagi.
Namun Chanyeol bukanlah tikus yang tertangkap karena mencuri. Ia terlalu bajingan untuk takut dengan semua perlakuan salahnya. Ia tidak pernah memikirkan banyak hal, selalu semaunya. Selalu menganggap dunia telah berpindah dalam genggaman. Jadi ia pikir tidak perlu rasa malu untuk mempertimbangkan harga diri.
"Jadi kau menginginkannya?"
Pertanyaan itu membuat Chanyeol menjadi pria luar biasa bajingan. Tidak terbantahkan sama sekali, meski kedua mata bulan sabit itu menghakiminya sampai puluhan kali. Dan Baekhyun mendapatkan seluruh jawabannya. Pemuda itu kini pintar menebak semua yang terpikirkan. Jadi apa Chanyeol harus menyerah saja?
"Bagaimana denganmu?" balas Chanyeol masih menyelami lautan kantuk Baekhyun yang lenyap.
Baekhyun balas menangkap jernih di kedua matanya. Tanpa takut, jemari itu berkelana. Menyentuh bahu Chanyeol dengan bebas, lalu mendorongnya hingga pria itu mundur, tergeletak di posisi. Si pemuda lalu diam-diam bangkit mengukungnya. Menatapnya tepat di atas wajahnya dan berkata penuh halus. "Kutanya kau sekali lagi, kau menginginkannya?"
Pesona Baekhyun benar-benar membuat Chanyeol gila. Bibir mungil itu membuat derajat kesabarannya mendidih. Ingin segera dilampiaskan, kalau saja Chanyeol tidak ingat siapa orang di hadapannya kini. "Kau mengujiku?"
Tatapan Baekhyun melunak. Pemuda itu segera menjauh, membuang selimutnya pergi untuk membebaskan diri. Tidak ada emosi di raut itu, hanya kehampaan. Hanya sebatas lirikan kosong ketika Chanyeol mencari tahu.
"Beri aku alasan jika kau berpikir pantas untuk mendapatkannya."
Maka Chanyeol menarik lengan itu mendekat. Segera membalik tubuh ringan Baekhyun jatuh ke dalam kungkungan. Lengan-lengan Chanyeol lalu memenjarakan sosok yang ditahannya. Tidak akan dilepas sampai Baekhyun mau menatap kedua bongkah maniknya. "Saatnya kau mengembalikan sesuatu yang kau curi."
Wajah itu dengan cepat menghindar saat Chanyeol dekati. "Apa yang aku curi?" tanyanya penasaran. Dan Chanyeol berubah tak percaya jika lirikan itu mampu mengobarkan semua api padam yang ia punya.
"Alasan yang membuatku pantas mendapatkannya," bisik Chanyeol tepat di telinga. Menyesap harum Baekhyun yang berdebar. Sekaligus menyambut tatapan tak tenang yang pemuda itu punya. Dan Chanyeol sepenuhnya mengakui, bahwa tidak ada pemandangan pagi yang lebih sempurna selain pemandangan manik hitam berkabut milik sosok itu.
"Jangan mengujiku," peringat Chanyeol kemudian beranjak dari sana. Meninggalkan kebekuan Baekhyun yang merona parah, nyaris dipintasi waktu.
e)(o
Dek enam semakin ramai ketika sore. Di bagian belakang sudah dipadu dengan lantai terbuka dengan barisan kursi kayu. Tiap dindingnya dilapisi kaca tebal. Menggambarkan ombak yang tak berdaya dihantam badan kapal. Dari jauh lautan terlihat melengkung, alirannya tenang namun terlihat deras dari dekat. Mentari yang merunduk seakan hendak ditelan. Dimakan waktu, bersama angin laut yang terasa kuat.
Namun suasana musim panas membuat suhu Eropa menjadi meningkat pesat. Terlebih saat mengarungi lautan lepas. Meski tidak terasa begitu terbakar, tetap saja rasanya sulit mengenakan pakaian tebal. Beberapa alasan itu membuat banyak pasang mata lebih memilih menggunakan pakaian berbahan tipis, belum lagi dengan para gadis yang menikmati pakaian renangnya di kolam.
Pasta yang Baekhyun minta tidak kunjung habis. Roda jas de cerdo maccarones di hadapannya saja nyaris tidak tersentuh. Saatnya Chanyeol bertanya, meski membiarkan. Pria itu memiliki look cukup santai dengan hanya menikmati kopi dan dessert Argentina yang mulai mendingin. Memandang indahnya saja sudah membuat Baekhyun tenggelam, merasa mejanya bebatas bumi dan langit. Sebab Chanyeol selalu jauh berada di atas langit. Tidak akan pernah turun ke bumi dimana ia puas berdiri.
"Sudah nyaris dua hari kau menghabiskan waktu demi melamun," komentar pria itu membuyarkan lamunannya pada laut lepas. Chanyeol nyatanya lebih suka menggeleng dari pada bertanya betapa malang dirinya kini. "Apapun Baekhyun, bicaralah lagi seperti kau yang biasanya."
Baekhyun cukup sadar dengan itu. Ia mungkin sudah lama lupa cara berbicara. Lebih memilih memperdulikan lautan dan langit biru dari pada menghiraukan Chanyeol yang berputar di sekitarnya. Terasa aneh saja karena ia hanya berdiam lalu mendapati pria itu begitu betah meladeni. "Kupikir kau belum mengenalku."
Pria itu diam-diam menyunggingkan senyum. Senyum miring yang tetap saja mempesona. Berbeda halnya dengan pria lain, Chanyeol punya caranya sendiri untuk meluluhkan tembok hati. Terkutuklah orang yang mengajarkan Chanyeol soal senyum angkuh semacam itu.
"Apa yang tidak kuketahui? Kau hanya korban si bajingan Chanyeol," jawabnya.
Bayangan Baekhyun mendadak berkelana. Ia tentu ingat dengan jelas bagaimana pria itu berlaku semaunya. Membuatnya menjadi seseorang yang mengawang sendiri, hampa terasa sampai ingin gila menampar.
"Kau tidak marah?" tanyanya kembali.
Tentu saja Baekhyun marah pada si bajingan. Siapa pula yang tidak marah jika diperlakukan seperti murahan? Tapi untuk sebuah pengakuan rasanya selalu sulit. Ia cukup munafik jika sebelumnya menghardik Chanyeol tidak mampu menyatakan perasaan, padahal jauh lebih buruk dirinya. Karena ia pun sama buruk soal jujur. "Mengapa aku harus marah? Mungkin aku lebih bajingan darimu."
Pria bersurai hitam itu terkekeh. Begitu lucu baginya kalimat bohong yang ia luapkan cuma-cuma. "Sekarang kau terlihat jauh lebih menarik," ujarnya mengambil cangkir kopi dingin. Hendak meminumnya kembali, namun urung saat Baekhyun lebih dahulu merebut atensi.
"Mau tidur denganku?"
Chanyeol cukup tekejut dengan pertanyaan itu. Alisnya meninggi, dua jemarinya batal menarik pegangan cangkir. "Sekarang?"
Dan Baekhyun harus tercengang. Bagaimana mungkin leluconnya dianggap serius? Ia mungkin benar menjadi orang murahan jika menawarkan hal tidak bermoral semacam itu. "Lihat, betapa bajingannya pria di hadapanku ini."
Untuk beberapa alasan, Chanyeol cukup tenang menghadapinya. Posisinya sudah terlalu sering dipermasalahkan atau digunjing orang lain. Pria itu terlanjur bebal, jauh tidak perduli dengan bicara-bicara yang ia dengar. Bahkan ketika jemari panjangnya bertaut, wajah itu sangat serius saat mengatakan, "Dengar, aku tidak perduli dengan permasalahanmu. Tapi mari tidak memikirkan apapun selama di kapal."
Memang terdengar menyebalkan. Chanyeol selalu saja berhasil memerintah.
"Bicara denganku setelah membayar." Baekhyun yang bosan lalu beranjak dari sana. Meninggalkan Chanyeol yang masih menyepi sendirian. Menunggu respon balik darinya seperti orang bodoh di separuh jalan.
Dan sudah Baekhyun katakan, jika Chanyeol itu pria bebal. Tahu-tahu tubuh tingginya sudah menjulang, meninggalkan banyak lembaran uang yang ia sangkutkan di bawah cangkir kopi. Pria itu lagi-lagi tidak menghitung jumlah. Asal menaruhnya, tidak perduli jika punya kembalian.
Keluar dari café dan mengejarnya jauh, pria itu kembali meribut di sampingnya. Masih dengan cerita-cerita kosong yang Baekhyun anggap tidak penting. Sampai mereka tiba di tangga besar atrium, dimana musik-musik menggema dan keramaian menggulung-gulung. Lelah sendiri Baekhyun menepis keramaian yang mengombak.
"Kau tahu hal terburuk apa yang dimiliki Jack di dalam film Titanic?" tanya Chanyeol semakin berbasa-basi. Menyamakan langkahnya yang sedikit pincang. Alih-alih pria itu ingin membuatnya terus bicara.
"Kapal tenggelam hingga membunuhnya?" Walaupun begitu Baekhyun tetap meladeni. Ia tentu harus berterima kasih karena pria itu berbaik hati sudah membayar semua makanan.
"Bukan," gelengnya. Ia kemudian melanjutkan dengan tangan menyilang di dada. "Dia tidak bisa mendapatkan Rose. Karena bagi seorang pria, mendapatkan apa yang diinginkan adalah sebuah pencapaian."
"Aku tidak tertarik dengan cerita semacam itu," balas Baekhyun tidak perduli. Masih menganggap remeh cerita-cerita kosong milik Chanyeol.
"Tapi kau menikmati Antony and Cleopatra saat di Vienna," selanya tepat.
Baekhyun kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah Bar. Menelik ke dalam dinding kaca yang belum diisi oleh keramaian malam. Sesekali pikirannya berlarian pada rasa penasaran yang lain. Sebab tidak perduli musim panas atau yang lain, orang-orang dewasa masih memilih minum untuk mendapatkan ketenangan. Mereka berusaha melupakan apapun yang memenuhi kepala dengan botol-botol alkohol. Menegaknya seperti orang kesetanan, bahkan sampai pagi menjelang.
Tapi Baekhyun tidak pernah memilih sesuatu seperti itu sebagai tambahan hidupnya. Ia berjanji untuk tidak menyentuh minum dahulu. Bukan karena ia sok benar, tapi karena takut merusak dirinya sendiri. Baginya amat menyedihkan melihat banyak orang memaksa diri menegak hal yang pahit.
"Mau minum?"
Berlawanan dengan prinsip, Baekhyun kini memutuskan untuk tidak lagi memikirkan kalimat yang lewat. Ia memutuskan untuk tertarik. Anggap saja ia ingin melegakan rasa penasaran─apakah benar dengan minum bisa melupakan sesuatu?
"Maksudmu minum bir?" Chanyeol lebih tahu. Pria itu tentu paham dirinya tengah memaksakan diri. Terlebih pria itu berpengalaman dalam dunia gemerlap. Minum bukan hal yang tabu bagi Park Chanyeol. Sehingga pria itu tahu benar bagaimana terjatuhnya orang-orang menyedihkan yang menggenggam botol minuman.
"Aku bisa selain bir." Tapi Baekhyun tidak mau dengar.
Sampai pada pria itu kembali tersenyum remeh. Menggenggam jemarinya untuk ia tarik ke suatu tempat. "Jangan memaksakan diri."
Baekhyun berdebar. Tidak bohong dadanya meribut saat jemari itu menggenggamnya kuat. Menuntunnya berjalan melewati lorong panjang sambil menunjukkan banyak tempat luar biasa di deck dua. Pria itu sudah mahir soal badan kapal. Ia tahu benar dimana letak berbagai hal meski tidak membaca peta.
Chanyeol terus memunggunginya. Membiarkannya diam menurut, ditarik keluar menuju salah satu pintu. Tersisalah jejak mereka yang dihempas angin musim panas. Di luar dinding kapal, Baekhyun dapat menghirup aroma asin lautan. Horizon yang melengkung, bersama sinar sunset memalu. Perpaduan sempurna langit kemerahan saat sunset berada di tengah mereka. Hamparan langit, lautan dan juga ombak ibarat perhiasan. Mereka nyatanya telah berada jauh dari himpitan pulau.
Chanyeol berakhir mengajaknya menikmati pemandangan di ujung badan kapal. Dimana bibir kapal menyentuh ombak, kemudian bertemu dengan lompatan lumba-lumba. Ombak dan beberapa seretan laut terasa kuat, jauh berbeda dengan keadaan di dalam. Kapal itu terasa melaju dengan kecepatan penuh. Mengarungi lautan, bertarung dengan ombak yang ribut.
Baekhyun tidak berhenti terkesima. Matanya takjub dengan keindahan baru yang ia lihat. Tanpa terasa jemari mereka masih saling menggenggam. Hempasan angin terasa tengah melempar keduanya di udara. Begitu pula dengan Chanyeol yang menatapnya penuh pesona.
"Baek, kau adalah alasanku kembali," ujar Chanyeol sedikit mendekat. Raungan angin dengan jahat melawan, mencegah suara berat itu didengar oleh telinga Baekhyun. "Aku menemukan jawabanku."
Baekhyun mendongak, mencari arti dari kalimat itu. Menatap kilauan jernih milik Chanyeol, hingga berakhir mengabsen satu persatu bagian yang ia kagumi. Hidung mancung, bibir kissable, rasio rahang yang sempurna, lalu raut yang hanya Chanyeol miliki. Pria itu mungkin lebih dahulu bosan menyimpan banyak pujian. Siapa pula yang tidak ingin jujur memuji paras tampan seorang Park Chanyeol?
Lengan yang terlihat kokoh itu lalu bergerak. Selangkah kaki jenjangnya mendekat, sebelum Baekhyun lepas menatap. Ia berdebar kembali saat jemari itu menyentuh pipinya. Rona hangat kini menjalari pipi, desiran aneh sudah mengalir ke seluruh bagian tubuhnya. Baekhyun lantas merasa tidak berdaya untuk pergi selain diam dan menunduk. Ia tidak tahu mengapa ia tidak bisa berpikir, bahkan ketika Chanyeol membawa wajahnya mendekat. Meraihnya pelan dengan sebuah kepastian, hingga sebuah kecupan manis mendarat di bibirnya.
Dan Baekhyun sama sekali tidak menolak.
e)(o
Chanyeol mungkin seorang pria yang tidak banyak bicara. Dia pribadi yang akan melakukan apapun sampai seseorang jera. Jadi pria itu tetap menuruti permintaan Baekhyun di hari berikutnya. Ia memesan dua botol wine dengan kadar cukup tinggi. Menata gelas tinggi di meja, sampai Baekhyun hanya jatuh menikmati pelayanan dari sofa. Pria itu rupanya jauh berharap jika ia akan menyerah. Muntah dengan cepat lalu ditertawakan sampai pagi.
"Apa yang membuatmu jadi segila ini?" tanya pria itu akhirnya. Sebelum menjauh dari sana untuk memasuki kamar kecil.
Baekhyun pun menuang botol minuman pekat itu sebelum Chanyeol datang. Hanya ingin menunjukkan kalau ia bisa melakukannya, lalu berharap ditinggal sendirian untuk menikmati malam. "Aku hanya muak berada dalam posisi yang salah."
"Manusia selalu ditempatkan pada posisi yang salah. Berakhir berputar pada penyesalan, lalu bertanya sendiri mengapa diberi hidup," jelasnya keluar dari pintu. "begitu maksudmu?"
Baekhyun tak lupa mengisi satu gelas tinggi lagi di hadapannya. Menyodorkan isian gelas itu pada sisi meja yang lain. Barangkali Chanyeol berubah pikiran untuk menemaninya minum. "Tidak minum?"
Pria itu mengambil nafas berat. Kepalanya menimbang apakah akan menerima pemberian si pemuda, atau tetap berada di jalannya sendiri? "Satu jam lagi kita sampai di Monako Harbor."
"Jadi kau tidak ingin tidur denganku?"
Pertanyaan semacam itu lagi-lagi membuat keduanya direndam bisu. Tidak ada kalimat untuk menutupinya selain beradu tatap tanpa bosan. Entah apa yang terpikirkan di benak Chanyeol yang terus dirundung diam. Pria itu hanya mendekat setelah membuka jendela.
"Kau benar-benar di luar dugaan."
Baekhyun sampai pada mencicipi dengan tegukan kecil. Merasakan cairan itu membakar kerongkongannya hingga terasa dikuras habis. Ia merasa seperti ingin meneguknya sekali lagi. "Kenapa kau bercerai dengan istrimu?"
"Aku tidak lagi membutuhkannya," jawabnya mendekat. Memilih salah satu kursi untuk ia duduki.
"Berengsek─" celetuk Baekhyun tak berperasaan. Karena menurutnya Chanyeol memang pantas dilabeli kata tak pantas. Jawaban macam apa pula yang memaknai pernikahan dengan kesepakatan? Hanya manusia bodohlah yang melakukannya. "mantan istrimu pasti memakimu begitu."
Chanyeol tersenyum kecil, merasa tidak keberatan. "Persis."
Baekhyun kembali meneguk minumannya. Mengeksekusi isi gelasnya sampai tandas tak tersisa. Lalu menuang botolnya kembali. Memenuhi gelasnya yang kehilangan pasangan.
"Kemarin─kenapa kau menciumku?"
Pria itu terdiam sebentar. Menatap maniknya dengan luar biasa heran. "Jadi kau tidak memahaminya juga?"
Senyum indah itu kemudian terlukis. Begitu manis pancaran Baekhyun di mata Chanyeol yang berkabut. "Aku harus meyakinkan diriku untuk tidur dengan seseorang."
Atas jawaban itu, si pria tersenyum miring. Begitu angkuh menilai sampai kepala. Lantas gelas tinggi yang menjadi miliknya mulai diangkat. Diminum habis isi gelas itu tanpa tersedak atau semacamnya yang akan membuat Baekhyun tertawa.
Tapi sayangnya pria itu melakukannya dengan amat mempesona. Sebuah serangan mematikan untuk Baekhyun. "Biar kutunjukkan sebanyak apa alasannya─"
Baekhyun mematung ketika Chanyeol mendekati kursinya. Berdiri cukup kokoh di hadapannya sebentar, lalu merunduk membiarkan jemari miliknya menggapai dagunya. "Pertama, kau menarik," mulainya benar-benar serius.
Meski terlihat bermain-main soal itu, namun segalanya terasa cukup berlalu dengan pelan. Begitu mendebarkan sampai keduanya berbohong jika tidak betah untuk saling menyelami. Baekhyun sendiri merasakan hatinya tertembus panasnya kobaran api. Wine yang diminumnya pun kini membakar tiap jengkal kulitnya. Membuatnya merindukan tegakan cairan pekat itu kembali. Ingin segera ia habiskan sampai pagi.
"Kedua, kau tahu bahwa aku menyukaimu. Ketiga─" Chanyeol mengitari wajah Baekhyun dengan jemarinya. Berhenti di rahang itu kemudian memuja bagaimana kedua pipi itu merona kemerahan.
"aku tidak akan berhenti jika kau terus mengujiku."
Baekhyun merasakan dadanya terus berdebar. Jemari dingin Chanyeol di pipinya kini sukses membuat tengkuknya meremang. Rasanya kian asing, semakin asing ketika kepalanya berputar semakin cepat. "Kita setuju untuk tidak memikirkan apapun, apa yang kau takutkan?"
Manik hitam Chanyeol semakin berkilat. Kalimat Baekhyun memprovokasinya semakin jauh pergi. Mengabaikan akalnya yang sehat, Chanyeol mendorong bahu Baekhyun jatuh berbaring di sofa. Getaran di mata bulan sabit itu memberi Chanyeol arti kemudian. Bahwa sosok itu begitu terkejut. Belum siap dengan apapun, kecuali dengan gejala pusing yang menyerang akibat mengosongkan tiga gelas minuman.
"Kau akan menyesalinya," jawab Chanyeol ditelan hening.
Waktu seakan mati. Hembusan angin dari jendela membuat keduanya terperangkap dalam ilusi. Baik Chanyeol dan juga Baekhyun masih sibuk menyelami. Bertanya pada diri berkali-kali tentang apa yang tengah mereka perdebatkan. Hendak melakukan apa sebaiknya, karena segala hal terasa percuma untuk dijelaskan. Hanya membuang-buang waktu.
Chanyeol sendiri mati-matian menahan diri. Ia sudah bosan menghadapi kehancuran Baekhyun yang tidak diberi judul. Ia tidak diizinkan tahu, tanpa kenal mengapa. Ia harusnya mendapatkan penjelasan logis. Tidak ada seorang pun yang bisa mengendalikan rasa penasaran berhari-hari lamanya. "Kau terlalu banyak mengujiku, Baekhyun."
Maka semua hal terjadi begitu jarum merah berganti angka detik. Chanyeol menggapai apapun yang ia inginkan. Menekan lengan-lengan Baekhyun di tiap sisi, membiarkan sosok itu meracau di dekat telinganya, sampai menunggu Baekhyun menamparnya ketika ia mencium bibir itu begitu dalam. Semaunya.
Namun tidak ada penolakan seperti yang Chanyeol tunggu. Segalanya seakan tejadi begitu cepat, tebakar pada waktu yang tepat. Baekhyun semakin begerak gelisah. Menjangkau apapun yang ia bisa saat Chanyeol turun menjelajahi pepotongan lehernya. Chanyeol sendiri merasakan dirinya tebakar api. Semakin menyiksa ketika ia berhenti begerak.
Jemari-jemari Baekhyun membuat Chanyeol lupa. Pria itu membiarkan jemari indah itu mengitari tengkuknya. Menarik helaian rambutnya beberapa kali hingga berantakan. Satu persatu kancing kemeja mereka terlepas, entah bagaimana terlupakan begitu saja.
Dengan nafas yang saling mengejar, keduanya terpaku pada paras masing-masing. Wajah Baekhyun berubah sayu, hangat ketika Chanyeol menyentuhnya. Untuk beberapa alasan Chanyeol merasa tergila-gila. Belum pernah ia merasa dadanya semendebarkan ini saat bersama seseorang.
Kerlingan Baekhyun yang berkabut, membutakan diri Chanyeol telak. Maka ia kembali meraih belah bibir kering itu dengan miliknya. Melumatnya lembut, beradu dengan gejolak yang menyuruhnya berhenti.
Chanyeol benar ingin lupa, menyelam semakin dalam dengan perasaannya sendiri. Meredakan keinginannya yang membumbung setinggi angkasa, namun semakin sesak dadanya berdenyut. Bukan karena ia tahu jika Baekhyun adalah adiknya, bukan karena ia pernah ingin sosok itu lenyap, bukan pula karena ia tahu ia tengah berbuat salah, tapi sebuah perasaan sakit yang tidak tersampaikan jauh di dalam lubuk hati. Hal itu amat mengganggu, sampai menyayat kulitnya hingga tidak berbentuk.
Chanyeol kini tersesat begitu jauh. Perasaannya tidak menentu bentuknya. Justru saat Baekhyun membalas ciumannya, yang tersisa hanya sesak. Membuat telinganya mendengung hebat. Begitu kabur bayangan Baekhyun di hadapannya. Untuk beberapa saat, Chanyeol merasa kepalanya berputar cepat. Telinganya mendengung parah. Pusing mendera terlebih dahulu, sebelum dirinya ambruk dalam pelukan Baekhyun yang dingin.
Baekhyun jelas mendengar nafas Chanyeol yang penuh sesak. Lebih memilih mengelus surai hitam itu tanpa emosi berarti. Chanyeol pun berubah tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi. Kesadarannya nyaris hilang, namun keterdiaman Baekhyun membuatnya semakin bertanya. Tentang mengapa sosok itu seolah menunggunya jatuh tertidur disiksa rasa sakit. Menikmati tiap detik yang ia lalui dengan pedih.
"B-baek─" Chanyeol sudah payah bicara. Semua bagian dari dirinya lumpuh tak berdaya. Jemarinya kini mencengkram bahu Baekhyun yang bebas. Hendak mencari pegangan, namun segalanya terasa kejam. Ia tidak dibiarkan bicara.
"Lihat, kau membuatku menjadi seorang bajingan," bisik Baekhyun dingin. Masih mengelus surai Chanyeol lembut di lehernya. Dan sayang, Chanyeol tidak pernah tahu jika Baekhyun tersenyum mengetahuinya jatuh tak berdaya.
Tubuh Chanyeol benar-benar kehilangan tenaga. Rasa sakit di kepalanya begitu menyiksa, membuatnya bergerak tak tenang. Jantungnya yang berdegup pun kini mulai disiksa, terasa diremas begitu kuat. Tidak ada lagi kalimat yang bisa pria itu ucapkan selain penyesalan bisu di hati.
Pandangannya yang menggelap, rupanya ditelan dendam Baekhyun yang sudah lama menangkapnya. Chanyeol benar-benar lengah. Bahkan jika pria itu bisa bicara, ia hanya ingin Baekhyun tahu bahwa ia menyesal.
"Selamat tidur, Chanyeol─"
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Nah apa gerangan yg terjadi?
Give me a review~
