Ninja and Ice Queen Arendelle.

Disclaimer : Naruto dan Frozen bukan milik saya.

Summary : Naruto sedang melakukan eksperimen dengan jurus miliknya, tapi itu malah membuat dirinya terlempar ke dimensi lain dan membuat tubuhnya menjadi kecil kembali dan dia bertemu seseorang yang mirip masa kecilnya. sebuah Cerita yang dibuat hanya untuk kepuasan Author.

Warning!! Sebuah cerita yang dibuat hanya untuk kepuasan Author.

Rate : T semi M

Shiraki


Suasana cukup tegang antara Naruto dan Mathias yang saling menatap, mereka semua yang menyaksikan itu sedikit khawatir jika akan ada pertarungan.

"Apa maksudmu? kau bilang jika kau adalah penjaga mereka?" tanya Mathias menyipitkan matanya, Naruto hanya tetap pada ekpresi datarnya seolah tidak terintimidasi sama sekali.

"Ya, aku tau kau ingin membuat sebuah perbuatan untuk melawan mereka bukan?" kata Naruto sambil menunjuk para suku Nothurlda, sedangkan Elsa hanya tersenyum kecil melihat perbuatan Naruto.

"Apa yang kau katakan? kami sudah berdamai dengan mereka, tapi masih sedikit memiliki masalah." kata Mathias yang tersenyum, Naruto, Elsa dan yang lainnya sedikit terkejut.

"Begitukah, baiklah ini senjata anda Letnan." kata Naruto menyerahkan pedang itu, Mathias mengambilnya dengan santai.

Naruto lalu mendekati Elsa, ia membisikkan sesuatu kepada Elsa yang membuat sang Ratu tersentak kecil.

"Maaf, ak-tidak kami kesini karena ada seseorang yang memanggilku, apa kalian tau? mungkin ia memiliki jawaban untuk membebaskan hutan. Percayalah kami kesini hanya ingin membantu." kata Elsa berusaha meyakinkan Yelena kepala suku Nothurlda, terlihat Yelena yang sepertinya ragu dan tidak percaya ucapan Elsa.

"Maaf nak, tapi kami hanya mendengarkan alam-"

Wosshh!!

Tiba-tiba pohon dibelakang mereka terbakar oleh api, tapi api itu berwarna ungu terang yang langsung membuat semua orang disitu ketakutan.

"Ketika alam berbicara kami mendengarkan!" lanjut Yelena yang langsung mengevakuasi semua orang, Elsa dan Naruto sedikit terkejut dengan itu.

Naruto langsung melompat dengan menarik Elsa dan Anna, lalu Kristoff menyusul mereka dengan Sven. Elsa dengan sigap membekukan tempat yang terbakar, Naruto kembali melompat ke kobaran api diikuti oleh Elsa.

Anna dan Kristoff yang melihat itu kaget atas tindakan mereka, Naruto lalu berubah ke mode Bijju miliknya, ia menerobos api dengan cepat, disana Naruto melihat seorang wanita tua dan anaknya yang terperangkap.

Elsa berusaha untuk memadamkan api yang bergerak liar itu, Anna berusaha menyusul Elsa untuk masuk ke api, untung saja Naruto yang sudah menyelamatkan wanita dan anaknya itu menahan Anna.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Naruto kesal, tangan Naruto masih menahan tangan Anna yang ingin menyusul Elsa.

"Bukankah sudah jelas!?"

Tak lama kemudian Kristoff muncul dari membawa kerumunan rusa, Naruto langsung melemparkan Anna kearah Kristoff yang dengan sigap menangkap Anna.

"Bawa dia! aku akan menjaga Elsa!" kata Naruto yang langsung mengejar Elsa, sedangkan Elsa langsung mengikuti sumber api itu diikuti Naruto yang mengekorkinya.

Mereka terus berlari hingga akhirnya sumber api itu terpojok, Naruto dan Elsa yang melihat itu sedikit waspada, tapi apa yang mereka lihat disana hanyalah hewan melata dengan api yang menghiasi tubuhnya.

"Tunggu? apa dia Roh api?" gumam Naruto yang melihat itu, Elsa memilih untuk mendekati mahluk itu dan disambut dengan lemparan api kearahnya, untung Naruto dengan sigap melindungi Elsa dengan tangannya.

Terlihat tangan Naruto yang sudah dilapisi oleh mode Bijju miliknya mengalami luka bakar, seharusnya api biasa tidak mampu melukainya, Elsa terlihat khawatir dengan Naruto tapi Naruto memberikan isyarat bahwa ia baik-baik saja.

Elsa yang awalnya ragu hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia kembali melihat kearah hewan itu yang juga melihatnya.

Lalu hewan itu mulai mendekati Elsa, awalnya tampak takut tapi akhirnya ia mendekatinya, Elsa mencoba untuk menyentuh hewan itu. Saat tangan Elsa dan mahluk itu bersentuhan tiba-tiba api yang ada dihewan itu seperti padam, mahluk itu langsung melompat ke tangan Elsa yang sepertinya bisa untuk mendinginkan badannya.

Naruto melihat kearah sekitar bahwa semua pohon yang masih terbakar tiba-tiba terhenti dan tidak meninggalkan luka bakar sama sekali, lalu ia melihat ke tangannya sendiri tapi itu masih memiliki luka bakar.

Tanpa mereka sadari para penduduk mulai berdatangan, mereka melihat kearah Naruto dengan terkejut karena Naruto seperti manusia api, lalu tak lama kemudian kembali menjadi semula. Tak lupa Naruto menutup luka bakarnya dengan kain, Kristoff dan Anna muncul dengan Anna yang langsung memeluk Elsa.

"Elsa kau baik-baik saja?" tanya Anna yang begitu khawatir.

"Aku baik-baik saja Anna, tapi kenapa kau melompat ke api!?" balas Elsa yang sedikit marah karena tindakan Anna untuk mengikutinya.

"Aku melakukannya untuk menyelamatkanmu! jika kau tak mau aku kesana maka jangan kesana!" balas Anna tidak mau kalah

"Maaf," sesal Elsa dengan nada pelan.

"Tak apa, tapi kau harus lebih berhati-hati."

Mereka semua melihat perdebatan itu, Kristoff langsung berdiri disamping Naruto yang hanya diam saja.

"Kau baik-baik saja? Naruto?" tanya Kristoff.

"Kurasa," balas Naruto dengan nada masam, Kristoff yang mendengar jawaban Naruto yang seperti menahan sakit menoleh pada Naruto.

Kristoff melihat Naruto yang memegang tangannya, tapi dapat ia lihat ada luka bakar disana.

"Kau terbakar!? hei! kau benar-benar baik-baik saja!?" teriak Kristoff yang langsung membuka kain yang menutupi tangan Naruto, terlihat disana kulit Naruto yang terbakar.

Elsa dan Anna yang tadinya masih berbicara langsung mengalihkan pandangan mereka kearah Kristoff dan Naruto, Elsa melihat bahwa tangan yang tadi melindunginya terdapat luka bakar yang cukup besar.

Sementara semua orang melihat kearah mereka dengan pandangan heran, terutama pada Naruto yang tadi nampak seperti manusia api, tapi kenapa ia bisa terbakar jika dia memang manusia api?

Elsa langsung membungkus tangan Naruto dengan esnya, Naruto meringis perih merasakan dinginnya es Elsa dan panasnya api itu.

"Kau seharusnya tidak melakukan itu!"

"Tenanglah, ini bukan apa-apa, ingat aku sudah mengalami yang lebih buruk bukan?"

Mereka terus berdebat dengan Elsa yang selalu memarahi Naruto, sedangkan pria itu malah hanya cengegesan. Kristoff dan Anna kini sedikit pusing dengan sifat saudara mereka sekarang, mereka terlalu meremehkan sesuatu hingga hal ini terjadi.


Kini semua orang sedang duduk di tempat tinggal suku Nothurlda, Naruto kini tangannya sedang dibalut oleh Elsa, Anna sedang berbicara sesuatu dengan Mathias dan Kristoff yang tampaknya sedang bersama pria yang memiliki hobi yang sama.

"Kau bodoh! seharusnya kau tidak menutupinya," kesal Elsa sambil mengeratkan ikatan perban di tangan Naruto yang membuat sang Uzumaki sedikit terperanjat.

"Bukankah aku sudah minta maaf?" dengan menghiraukan rasa sakit ditangannya, Naruto langsung balas bertanya pada Elsa.

"Tapi aku masih tidak menerima tindakan bodohmu itu!" bentak Elsa kesal dan marah, terlihat lelehan air mata turun dari mata biru indahnya itu.

Naruto yang melihat itu merasa bersalah, lalu Naruto memeluk tubuh kecil yang terlihat bergetar karena tangisnya.

"Maaf...," ucap Naruto pelan dan masih memeluk tubuh mungil itu, ia mengelus surai putih Elsa dengan lembut.

"Aku takut! takut kehilanganmu! ini lebih menakutkan dari semua yang pernah kualami!" kata Elsa yang teredam.

"Baiklah, aku akan menurutimu. Jadi sekarang bisakah kau berhenti menangis? kumohon?" balas Naruto mengalah, bahkan ia sampai memohon untuk Elsa berhenti menangis.

"Aku akan berhenti menangis, tapi untuk sekarang biarkan seperti ini dulu." balas Elsa yang sepertinya menikmati memeluk Narutonya, sedangkan para warga hanya tersenyum kecil melihat perdebatan Naruto dan Elsa yang tergolong romantis.

Beralih ke Anna yang sedang berbicara dengan Matthias, mereka terlihat berbicara tentang kerajaan.

"Jadi bagaimana dengan Halima? apa dia sudah menikah?"

"Maksudmu Halima yang itu?"

"Ya, memang ada berapa Halima yang kau tau?"

"Hanya satu, tapi dia belum menikah."

"Ohh, entah kenapa aku tidak merasa lebih baik."

"Ada lagi yang kau rindukan?" tanya Anna.

"Ya, ayahku dan Ayahmu." balas Mathias dengan nada sendu, ia meminum minumannya sejenak. "Ayahku sudah tiada sebelum hal ini terjadi, tapi aku tetap mengingat dia pria yang hebat dan selalu berdiri untuk Arandelle. Kau tau yang dikatakannya, 'Tidak ada jalan yang mudah, jika kau tidak bisa melakukannya maka lakukan langkah demi langkah agar kau berhasil.' Aku selalu mengikuti kata-katanya itu." lanjut Mathias dengan senyuman kecil.

Percakapan mereka terus berlanjut, Kristoff kini sedang dengan salah satu pemuda suku Nothurlda di tempat para Rusa berkumpul.

"Jadi kau ingin melamar seorang gadis?"

"Ya, tapi aku masih belum menemukan momen yang tepat."

"Aku tidak tau apapun tentang hal romantis, tapi aku tau cara melamar yang baik,"

"Sungguh?"

"Ya, dan bagian terbaiknya ini melibatkan banyak Rusa!"

"Ohh!"

Kembali ke Naruto dan Elsa, mereka terlihat berbicara santai dan bersenda gurau karena lelucon Naruto. Tiba-tiba Naruto berdiri yang ditatap bingung oleh Elsa.

Elsa menarik ujung baju Naruto, dia menatap pemuda itu dengan penuh harap. "Kau mau kemana Naruto?"

Naruto sendiri berbalik dan menatap Elsa, dia menyentuh kepala putih Elsa dan tersenyum. "Mau ke belakang untuk buang air kecil, mau ikut?"

Elsa tak langsung melepaskan Naruto, dia menarik ujung baju itu lalu menendangnya kuat, tatapan sinis terpancar dari wajah Elsa.

"Oi! apa-apaan itu hah?" kata Naruto yang terjatuh sambil menatap datar kearah Elsa.

"Tidak ada," balas perempuan berambut putih itu sambil mengalihkan pandangannya.

"Hehe, maaf tapi aku memang harus kesana." balas Naruto dengan senyuman kecil, lalu ia bangkit dari jatuhnya lalu Naruto berjalan kearah Elsa.

Cup!

"Tenang saja," kata Naruto sesudah mencium surai putih Elsa, sedangkan Elsa sendiri merona merah karena kelakuan Naruto.

Elsa melihat punggung Naruto yang menjauh dengan tersenyum kecil.


Naruto kini sedang berdiri sambil melihat bekas lukanya, ia menyentuh kulit Tan melepuh miliknya.

"Kenapa ini tidak segera sembuh, Kurama?" tanya Naruto sambil menatap tangannya dan sesekali menyentuh bagian yang terasa sakit.

"Entahlah Naruto, aku sudah berusaha untuk menyembuhkan luka itu dengan Chakra ku, tapi hanya berjalan lambat." jelas Kurama yang memang sedari tadi sudah berusaha menyembuhkan luka Naruto, "Seolah-olah ada yang menahan kekuatan kita disini Kid, mungkin saja alam ini memiliki energi mistis sendiri." lanjut Kurama berteori, Naruto hanya diam.

"Berarti kekuatan kita terbatas disini?" tanya Naruto dengan bingung.

"Kemungkinan memang begitu, mungkin si Trolls tua itu tau jawabannya." balas Kurama dengan nada malas.

"Mungkin saja, tapi kau lupa bahwa kita sekarang sedang terkurung disini." ucap Naruto dengan nada bosan, Kurama yang didalam tubuh Naruto terlihat tidak peduli dan malahan tertidur.

Naruto yang merasakan bahwa partnernya sudah memutuskan sambungan komunikasi mereka hanya menghela nafas, lalu ia melihat kelangit malam dengan pandangan santai.

"Mah kurasa sekarang hampir pagi, lebih baik aku melihat sekitar." ucap Naruto yang dengan santai melompat ke satu pohon, ia dapat melihat semuanya dengan jelas.

Naruto hanya bisa terkagum dengan bendungan itu, tapi ia juga merasakan hal buruk pada bendungan itu.

Brukk!

Naruto yang tidak siap langsung terjatuh, ia melihat bahwa tanah disekitarnya bergetar pelan, itu makin terasa bagi Naruto.

Naruto menadahkan kepalanya keatas.

Degg!

Naruto hanya bisa terdiam melihat mahluk didepannya, disana ada raksasa tanah dengan ukuran yang melebihi pohon.

Buk!

"Sial! itu nyaris saja!" Naruto bernafas lega karena berhasil menghindar dari injakan, Naruto melompat kearah lain, karena ia tidak mungkin mengarahkan Raksasa batu kearah kamp penduduk Nothurlda.

Raksasa batu yang tadi berniat menginjak Naruto kini melihat kearah Naruto, raksasa itu langsung mengejar Naruto dengan berbalik bersama Raksasa yang lainnya.

Naruto yang melihat bahwa para raksasa itu mengikutinya menjauh dari kamp penduduk Nothurlda hanya tersenyum kecil, lalu ia membuat segel tangan menyilang membuat sebuah Bunshin untuk mengabari Elsa dan yang lainnya.

"Aku rasa ini akan menjadi hal yang merepotkan," kata Naruto pelan sambil melirik ke belakang, "Dan mulai sekarang mereka harus sendirian." lanjut Naruto dengan raut wajah serius.

Brakk!

Wushh!Blaar!

"Sial! aku tidak waspada!" kata Naruto yang bangkit dari jatuhnya, ia memegang punggung bagian belakangnya. "Tidak kusangka, mereka akan melemparkan batu kearah ku. " lanjut Naruto sambil melihat batu disampingnya, ia melihat kearah para Raksasa yang kini juga kembali melemparkan batu padanya.

Duarr!

"Tapi itu tidak akan terjadi lagi,"


Sedangkan Elsa yang tadi berniat untuk berbicara dengan para raksasa dihentikan oleh Elsa dan menyuruhnya untuk sembunyi, lalu para raksasa batu yang sepertinya melihat sesuatu yang lebih menarik perhatian mereka yang tidak lain adalah Naruto. Pergi meninggalkan kawasan itu, semua penduduk Nothurlda merasa lega melihat para raksasa batu pergi.

"Kau melakukan hal gila Elsa! kau bisa terbunuh!" marah Anna pada Elsa, terlihat bahwa Anna tampak marah karena Elsa ingin melakukan hal gila lainnya. "Mereka bisa saja membunuhmu! kau harus pikirkan aku, Olaf, Naruto dan Kristoff yang mungkin akan kehilanganmu karena hal yang kau lakukan." lanjut Anna dengan kesal.

"Maaf, tapi sepertinya mereka merasakan keberadaanku, jadi kita harus pergi dari sini untuk keamanan semuanya." balas Elsa yang entah kenapa Anna setuju, lalu ia mencari Olaf, Kristoff, Sven dan Naruto untuk melanjutkan perjalanan.

"Tunggu dimana Kristoff dan Sven?" tanya Anna kepada Olaf.

"Terakhir kali aku lihat dia menuju hutan bersama pria rusa lainnya? aku tidak tau apa yang mereka lakukan." balas Olaf dengan nada khasnya.

"Apa kalian menemukan Naruto?" kali ini Elsa yang bertanya keberadaan Naruto.

"Kemana mereka pergi sekarang?" tanya Anna kesal karena para pria menghilang, Olaf yang melihat kekesalan sedikit takut dan langsung lebih memilih bermain dengan Bruni.

"Kenapa kalian mencariku?" kejut seseorang tiba-tiba, Anna terperanjat kaget sedangkan Olaf kini tangannya terbakar karena Bruni yang kaget dan berapi-api. Elsa sedikit kaget tapi mampu mengendalikan tubuhnya, mereka langsung menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Bunshin Naruto.

"Naruto? kau kemana saja?" tanya Anna bingung, sedangkan Elsa menatap Bunshin Naruto dengan pandangan curiga.

"Aku baru saja buang air, kenapa?" balas Bunshin Naruto dengan menggaruk belakang kepalanya.

"Ohh, lupakan itu, sekarang kita harus pergi." kata Anna menyuruh Naruto untuk bersiap-siap.

Elsa melangkah dan mendekati Bunshin Naruto, Anna melihat perilaku kakaknya yang sedikit membingungkan itu hanya bisa memiringkan kepalanya sebagai tanda bingung.

Elsa yang sudah sampai tepat didepan Bunshin Naruto, ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Bunshin Naruto dan mengelus pipi tan itu. Sedangkan Naruto Bunshin memerah menerima perlakuan itu, tapi itu tidak berlangsung lama.

"Dimana Naruto?" tanya Elsa dengan pelan.

"Apa maksudmu? aku Naruto..., hehe," balasnya dengan gugup.

Gyuuutt!!

Elsa langsung mencubit pipi Bunshin Naruto hingga sang Bunshin mengadu kesakitan, sedangkan Elsa tetap santai mencubit pipi tan itu tanpa ingin melepaskannya.

"Ahh! mawgaf, bwos sewdwang melakhakhukan swesuatw." balas Bunshin itu dengan suara yang tidak jelas, sedangkan Elsa yang mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan malah mengeraskan cubitannya.

"Katakan sebenarnya!" suruh Elsa dengan nada kesal, Anna kebingungan melihat itu dan butuh beberapa waktu hingga paham.

"Jangan-jangan kau tiruannya?" tanya Anna menunjuk kearah Naruto atau Bunshin Naruto, sedangkan Bunshin Naruto hanya bisa tertawa canggung karena itu.

"Bwaiklah, akwu akwan jewlaskwan, twapi lwepwaskwn cwubitwanmwu dwulue!" ucap Bunshin Naruto tidak jelas, Elsa yang mendengar itu langsung melepaskan cubitannya membuat sang Bunshin langsung mengelus pipinya yang terkena cubitan Elsa hingga memerah.

"Jadi?" Elsa menatap Bunshin Naruto untuk menunggu jawaban, ia melirik Anna dan Olaf disampingnya.

"Oyabun sedang berurusan dengan raksasa batu itu, ia menjadi pengalih perhatian untuk membuat para raksasa itu menjauh dari pemukiman, aku disini untuk menjaga kalian." balas sang Bunshin yang mau tidak mau memberitahu mereka, Anna dan Elsa yang mendengar itu langsung terkejut karena pantas saja para raksasa itu perhatiannya teralihkan sesuatu.

"Ahhh!! kenapa dia melakukan hal bodoh lagi!" marah Elsa yang terlihat disekitar tanah di kakinya perlahan menjadi permukaan es, Bunshin Naruto hanya menjengit ketakutan melihat itu.

'Pantas saja, dia sangat mirip denga Kaa-chan.' kata batin Bunshin Naruto dengan ketakutan, ia menatap bahwa hawa juga mulai mendingin sekarang.

"Elsa tenanglah, kau membuat suasana disini makin dingin." tenang Anna kepada Elsa, sedangkan sang ratu es itu yang melihat bahwa memang keadaan disekitar mereka menjadi dingin langsung menenangkan diri dan perlahan es disekitarnya mulai menghilang.

"Hah~ baiklah, jadi sekarang kau yang ikut bukan?" tanya Elsa melihat Bunshin Naruto, sedangkan yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya.

"Tentu, tenang saja meskipun pun aku tiruan aku masih Naruto." balas sang Bunshin dengan nada santai, Elsa yang tau kemampuan Naruto yang ini hanya menganggukkan kepalanya.

"Tapi bagaimana dengan Naruto yang asli?" tanya Anna kepada Bunshin itu.

"Tenang saja, Oyabun pasti akan menyusul." balas Bunshin itu dengan nada santai, Anna mendengar itu hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya karena Naruto pasti bisa mengatasi masalahnya sendiri.

Lalu mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan tanpa Kristoff yang tidak ditemukan, jadi mereka terpaksa meninggalkannya.


Brakk!

Naruto kini menghancurkan batu yang terus berdatangan, ia cukup kesulitan karena kekuatannya sedikit dibatasi disini.

"Sial! aku tidak bisa begini terus, aku bisa saja mengalahkan mereka, tapi Elsa akan memarahiku jika melukai para Roh!" rutuk Naruto dengan kesal, pasalnya ia hanya bisa menghancurkan batu-batu yang dilempar oleh raksasa itu atau menghancurkannya, Naruto ingin sekali menggunakan wujud Kurama tapi ia tidak bisa melukai para raksasa.

"Naruto! lebih baik kita kelabui dengan banyak Bunshin agar mereka kebingungan!" usul Kurama kepada Naruto, sedangkan Uzumaki itu hanya bisa menghindari batu-batu.

"Tapi mereka memiliki kecerdasan Kurama! kita tidak mungkin bisa mengelabui mereka dengan mudah!" balas Naruto kesal, jika para raksasa ini tidak memiliki kecerdasan maka ide Kurama akan ia gunakan, tapi dari yang ia awasi mereka memiliki kecerdasan yang tidak bisa dianggap remeh.

"Sial! sepertinya kita benar-benar ditahan." balas Kurama.

"Kau benar, kita benar-benar tertahan disini." ucap Naruto dengan nada malas, lalu ia melesat menuju para raksasa itu sambil menghindari batu-batu yang mengarah padanya.

"Ini merepotkan,"

TBC :v


Author Note : Yoo! bagaimana kabar kalian? apa masih baik-baik saja? ya kuharap kalian masih aman ya.

Oke disini Naruto harus tertahan oleh para Spirits batu agar tidak ikut campur dalam proses Elsa menjadi Roh kelima, dan juga faktanya adalah Naruto tidak bisa menggunakan kekuatannya dengan bebas karena hukum alam disana, itu terlihat dari luka bakar Naruto yang tidak bisa di sembuhkan oleh Kurama dengan cepat.

Mungkin kalian berpikir kenapa gk pake Senjutsu? itu dipake untuk Chapter depan yang mungkin Chapter terakhir atau masih butuh 2 Chapter lagi? entahlah kurasa aku hanya akan mengikuti ide yang kudapat. Dan ini mungkin akan ada Chapter bonus dimana kehidupan mereka yang sudah benar-benar bahagia.

Oke sudah sampai sini dulu kata-katanya.

Akhir Kata.

Adiuee!!