Warning! NC Alert!
Mungkin story ini agak aneh, dan mungkin akan sangat bertentangan dengan keyakinan kalian. Gue hanya mengingatkan kalau story ini hanya fiksi dan tidak ada hubunganya dengan mitos atau apapun yang ada di real life, cerita ini murni dari imajinasi gue sebagai penulisnya. kalaupun ada kemiripan atau bahkan kesamaan dengan story gue ini, itu hanya kebetulan.
So, Happy Reading
.
.
.
Admon datang pada Ayahnya tanpa sepengetahuan Irena, Admon hanya tertarik dengan cahaya gemerlapan juga warna yang tertangkap di indera penglihatanya. Dan Lust menawarkan Admon untuk singgah ke tempat itu.
"Papa, apa Mama tidak akan mencariku?"
"Admon, ini adalah rahasia antara kau dan Papa" Lust mengerlingkan matanya pada Putranya.
Lust membawa Amon ke dunia fana dan membawanya ke tempat-tempat yang indah, Admon terlihat sangat senang, Admon melihat hamparan rumput hijau dan bentangan lautan luas di depan matanya juga manusia-manusia yang berwujud lebih sempurna dengan pembawaan lembut ketimbang bangsanya.
"Anakku Admon" sesaat keduanya menjejakkan kaki di atas sebuah tebing dengan hamparan padang rumput "...apa kau suka tempat ini?"
"Ya Papa, aku menyukainya" Admon dengan mata berbinar.
"Apa kau ingin tinggal dan menetap di tempat ini?"
"Apa boleh?" Admon menatap Ayahnya.
'Admon! anakku!'
"Kita harus kembali" Lust tidak menjawab pertanyaan Adon saat mendengar teriakan Irena yang panik mencari putra mereka.
Admon hanya anak yang tidak mengerti tentang kelicikan makhluk sebangsanya, sekalipun itu adalah Ayahnya sendiri. Admon hanya menuruti apa pun yang Lust lakukan padanya.
Lust membawanya kembali ke istana dalam sekejap mata. Keduanya berjalan menghampiri Irena yang hampir kalap mencari Admon.
"Kau membawanya ke mana Lust!" Irena menarik Admon dan menyembunyika nya di balik tubuhnya.
"Mama" Admon tidak mengerti situasinya.
"Apa yang kau pikirkan Irena?" Lust dengan santai menjawabnya "...aku hanya memperlihatkan bagaimana indahnya dunia fana secara langsung, bukan begitu anakku?" Lust menanyai putranya yang menyembulkan kepalanya dari balik tubuh Irena.
"Ya Mama, Papa membawaku ke tempat yang indah, dan-"
"Kita akan datang lagi lain waktu Anakku" Lust memotong kalimat Admon yang Lust yakini akan membuat kemarahan Irena semakin menjadi, dan pergi begitu saja setelah mengatakanya.
Irena bernafas lega sepeninggal Lust. Entahlah, Irena sangat panik saat tidak mendapati Admon di mana pun. Irena hanya pergi sebentar, dan saat kembali, Admon tidak ada di kamarnya, Irena merasakan kehadiran Lust di kamar Admon, dan pikirannya kembali mengingat pembicaraannya dengan Lust beberapa waktu silam, juga rencana Lust yang jelas ditentang wanita itu.
"Mama, apa yang terjadi?" Admon tidak mengerti saat Irena tiba-tiba memeluknya erat.
.
.
.
Admon beranjak dewasa begitu cepat, Admon semakin bertanya-tanya, apa yang membuat ia tidak memiliki sayap seperti bangsanya yang lain. Bahkan Lust dan Irena pun tidak bisa menjawabnya.
Tidak memiliki sayap bukan berarti Admon tidak mempunyai kekuatan seperti halnya seorang keturunan iblis bangsawan, hanya saja Admon akan kesulitan kembali ke Istananya tanpa sayap. Admon memiliki seekor Hellhound yang bisa membawanya ke dunia fana dan membawanya pulang kembali ke Istana tanpa kesulitan. Admon sang Pangeran iblis yang menyukai keindahan dunia fana.
"Apa saja yang kau lakukan di tempat itu anakku?" Lust menghampiri putranya.
"Papa"
"Aku menyukai keseluruhan tempat itu, aku tidak mengerti" Admon menceritakannya dengan senyumnya "...saat aku dan Sieq menjejakkan kaki di tempat itu, aku merasa tidak asing, dan semakin—"
"Ingat anakku, kau tidak bisa selamanya mengandalkan Hellhound mu untuk membawamu ke tempat itu" Lust melunturkan senyum putranya.
Admon menyadari kekurangannya, Admon mengetahui kekurangannya. Dan itu membuatnya selalu dipandang aneh. Admon merasa jika pergi ke dunia fana bisa membuatnya tenang, di sana tidak ada yang memandangnya aneh, dengan kekuatan yang ia miliki ia bisa menyamarkan kekurangannya dan tampil seperti bagaimana manusia pada umumnya.
"Aku mengerti, tapi aku membutuhkannya untuk kembali" mendengarnya, Lust hanya mengangguk.
Lust berlalu begitu saja setelah menepuk pundak Admon. Lust menyeringai tanpa disadari siapa pun, entah akal licik apa yang akan ia lakukan.
'Kau benar-benar tidak berguna Admon'
.
.
.
"Argghh!"
"Red!"
"Menyingkir!"
"Akh!
Baekhyun merasakan sakit di sekujur tubuhnya, Red melemparkan tubuh mungilnya dan membuatnya terkapar di lantai kamarnya. Red meraung tanpa sebab, Baekhyun tidak mengerti apa yang terjadi.
Baekhyun selalu terhanyut dengan apa yang Red lakukan padanya, Iblis yang dipenuhi hawa nafsu dengan segala tipu dayanya selalu membuat Baekhyun bertekuk lutut.
Keduanya saling bercumbu dan menjamah, sebelum ingatan itu kembal berputar di ingatan Red dan membuat matanya terasa sakit. Bukan hanya matanya, kali ini Admon merasakan panas yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, panas seperti api hitam membakar tubuhnya.
Admon terus saja menggeram dan meraung, rasa panas dan sakit membuatnya tidak berdaya. Baekhyun hanya bisa melihatnya, gadis itu terlalu takut untuk mendekat. Tapi Admon seolah menggapainya dan meminta pertolongan atas rasa sakit yang menderanya.
"Argggh!"
"Red" Baekhyun terlihat panik saat tubuh Red seperti mengeluarkan asap.
Tapi itu tidak bertahan lama setelah Baekhyun meraih jemari Red yang terus saja menggapai ke arahnya. Red kehilangan kesadarannya setelah Baaekhyun berhasil menyentuh makhluk itu.
"Red apa yang terjadi?!" Baekhyun berani menyentuh tubuh Red "...buka matamu" Baekhyun menepuk-mepuk pipi makhluk itu.
Baekhyun mengguncang-guncang tubuh besar Red yang tidak juga bergerak, Baekhyun mulai menangis, gadis itu bingung dan merasa takut.
"Apa yang kau tangisi, dasar gadis lemah" Red dengan mata terpejam.
Makhluk yang serupa pria tampan itu mulai membuka matanya, makhluk itu menarik tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya, dan membiarkan tangis gadis itu pecah.
"Aku takut kau mati Red" Baekhyun masih dengan tangisnya "...aku terkejut dan kesakitan saat kau melemparku, tapi aku lebih terkejut saat kau terlihat kesakitan dan mengeluarkan asap dari tubuhmu"
Red terdiam, makhluk itu berpikir dengan apa yang terjadi dengannya belakangan ini. Red sangat senang saat Baekhyun bisa mengeluarkannya dari kurungan dan belenggu itu. Tapi Red kerap merasakan sakit setelah berhasil melakukan penyatuan itu.
Punggungnya akan terasa sangat sakit dan panas seperti api hitam tengah hinggap di tubuhnya. Api hitam, api abadi yang ia lihat di istananya. Api itu tidak akan padam hingga akhir dunia dan alam semesta hancur.
'Apa yang terjadi padaku?' Red sesekali melihat Baekhyun yang mulai tersengal-sengal karena isakkannya '...apa ini bagian dari belenggu yang wanita itu ciptakan? Tidak, api di dunia ini tidak akan pernah bisa menyakiti tubuhku'
.
.
.
"Eomma, aku baik-baik saja"
Baekhyun menelepon sambil berkendara. Pasalnya Taeyeon meneleponya tiba-tiba.
"Baekhyun, Eomma sering mimpi buruk akhir-akhir ini" Taeyeon di seberang telepon "...Eomma khawatir padamu sayang"
"Jangan berlebihan, aku bisa menjaga diriku Eomma" Baekhyun membagi konsentrasinya.
"Sayang, apa kau tidak lagi mengalami hal aneh?"
"Tidak, jangan khawatir Eomma, aku baik" Baekhyun menjawab dengan yakin "...bahkan saaaangaat baik" bahkan sangat yakin.
"Datanglah ke rumah, kau jarang pulang sayang" Taeyeon terdengar memohon.
"Aku akan datang nanti, sekarang aku sedang di jalan, aku tutup"
"Ya, hati-hati di jalan sayang" Taeyeon hanya pasrah saat tahu putrinya sedang berkendara.
"Ya Eomma"
Baekhyun pulang lebih awal untuk menghadiri pertunangan Kungsoo dan Jongin. Kedua sahabatnya sebentar lagi akan memiliki seorang bayi kecil dan menikah setelah bayi itu lahir. Baekhyun tersenyum sepanjang jalan saat membayangkan bagaimana rupa bayi yang akan Kyungsoo lahirkan nanti.
Red mengatakan jika ia mau menemani Baekhyun datang ke acara itu. Tapi makhluk itu tidak juga menunjukkan wujudnya sejak pagi datang.
Red bukanya takut dengan matahari dan menghilang setelah fajar datang, hanya saja ia masih belum terbiasa dengan suasana terang. Red terkurung selama hampir seratus tahun di dimensi perbatasan antara dua dunia. Terkurung di dalam ruangan gelap dan temaram. 100 tahun di dunia nyata berbeda dengan waktu di dimensi tempat Red terkurung. 100 tahun di dunia nyata, dan Red menjalaninya tiga kali hitungan.
Sementara itu, Red terus saja berpikir tentang apa yang terjadi padanya. Red takut jika ia akan musnah sebelum keturunannya lahir ke dunia. Red tidak asing dengan dunia yang ia tinggali saat ini. Bahkan, pada hal yang membuatnya terbuang sekalipun, ia tidak pernah lupa sedikit pun.
"Admon putra Lust, salamku padamu Tuan" sesosok makhluk serupa pria tinggi menawan datang memenuhi panggilan Red.
"Kau datang Veromos" Red melihat pelayannya itu datang dengan membawa sesuatu yang ia perintahkan.
"Aku bahkan lupa dengan namaku Tuan" Veromos tersenyum mendengar nama aslinya terdengar kembali.
Veromos menggunakan nama manusia, dan hidup seperti mereka selama ratusan tahun. Veromos menggunakan nama Kris Wu dan hidup sebagai manusia.
"Lupakan saja, kau mengabdi padaku sejak ratusan tahun lalu, bahkan kau hampir mati saat wanita itu berhasil mengurungku" Red terlihat sangat kaku.
"Ya Tuanku" Veromos hanya menunduk.
Ia pelayan yang sangat setia, bahkan saat Red terkurung, ia selalu mengawasi siapa-siapa dari keturunan keluarga wanita itu. Wanita yang membuat Tuan nya tergila-gila.
"Haah, aku ingin kau membantuku, aku akan datang ke sebuah acara yang diadakan oleh manusia" Red duduk di sebuah kursi, keduanya berada di tempat tinggal Veromos, di sebuah Apartemen mewah "...pilihkan pakaian yang tepat, agar aku terlihat seperti mereka"
"Ah, aku lebih lama berada di sini, dan berperan layaknya manusia" Veromos mengangguk "...aku akan mengubah penampilan Tuan"
"Buat pengantinku tidak bisa berpaling padaku"
"Kau berlebihan Tuan, gadis itu sudah menjadi milikmu, apa pun yang kau kenakan, dia tidak akan melihat manusia lain"
Suasana kaku Red dan Veromos terus berlangsung sepanjang keduanya memilih penampilan yang dianggap cocok untuk Red.
Sebenarnya Red cocok menggunakan pakaian manusia yang seperti apa pun, tapi makhluk serupa pria tampan itu merasa ragu. Walaupun pada akhirnya Red hanya mengenakan setelan jas dan menata rambutnya ke atas.
"Ya, ini cocok" Red melihat penampilannya sendiri di depan cermin yang entah ia bisa melihat penampilannya sendiri atau tidak.
Red menghilang setelah menyamarkan kedua iris matanya yang berbeda warna di kedua sisinya.
.
.
.
Setelah pertunangan Kyungsoo
Baekhyun sudah terkapar, tubuh telanjangnya terlihat lemas setelah pelepasan keduanya. Pria itu menjamah setiap inci tubuh Baekhyun, membuat gadis itu melenguh dan mengerang.
Tatapan Baekhyun tampak sayu, gadis itu berada di puncak gairahnya, gadis itu belum puas, Baekhyun merasa jika hasratnya belum terpenuhi.
"Merangkaklah sayang" pria itu menjentikkan telunjuknya agar Baekhyun mendekat dan menuruti perintahnya.
"Red"
Baekhyun menurut, gadis itu merangkak seperti apa yang diperintahkan Red.
"Kemarilah"
Red meraih dagu Baekhyun dan mengecup bibir tipis gadis itu.
"Katakan padaku jika kau menginginkanku, hm?" Red berbisik di leher Baekhyun, dengan tangannya yang menjamahi dada gadis itu.
"Red, aku menginginkanmu sayang, nghh~Red"
"Berusahalah sayang" Red mengusap kedua lengan Baekhyun yang sudah duduk di atas pangkuannya.
"Akhh~" Baekhyun mendesah sembari menggoyangkan pinggulnya.
"Good Girl" Red terus saja menjamahi dada Baekhyun, dan meremasnya bergantian.
"Aku mohon" Baekhyun memelas.
"Aku tidak tahan jika melihatmu seperti ini" Red membalikkan posisi mereka "...kau sudah membawaku kembali ke dunia nyata, dan aku tidak akan mengecewakanmu, Baekhyun"
Red memasuki Baekhyun dan menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat, ini hal yang ia tunggu setelah kemarin malam ia urung menyetubuhi Baekhyun. Rasa sakit yang menderanya akan datang tiba-tiba. Dan beruntung malam ini tidak ada hal yang membuatnya terganggu.
"Aku akan memuaskanmu sampai pagi sayang" Red menyeringai "...mendesahlah sepuasmu"
.
.
.
Tbc
Review dengan kata yang baik dan sopan.
