Tokuda Shuusei tidak mengerti bagaimana dua orang asing itu bisa masuk ke perpustakaan yang seharusnya tidak bisa dimasuki oleh orang biasa ini.

Yang ia temukan di antara salah dua dari sekian banyaknya rak adalah sepasang remaja yang wajahnya kelihatan polos. Tidak ada tanda-tanda keduanya terasuki noda atau justru merupakan noda itu sendiri.

Dan semua berlalu dengan cepat. Setelah yakin bahwa dua orang ini merupakan orang baik-baik—terlepas dari kebingungannya soal bagaimana-mereka-bisa-masuk—ketiganya berakhir di salah satu meja perpustakaan. Gadis yang merupakan orang termuda di antara mereka tenggelam di antara buku-buku dongeng yang ia temukan, sementara pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai Nakajima Atsushi mengobrol dengan Shuusei. Di luar, hujan masih turun.

"Aku masih nggak mengerti," ucap Atsushi, mengingat beberapa buku yang ia dan Kyouka temukan.

"Aku juga," Shuusei turut mengiyakan. Rekannya di perpustakaan ini pun ada yang bernama Nakajima Atsushi, dan sifatnya lumayan mirip dengan Nakajima Atsushi lain yang ada di depannya saat ini.

"Hujannya belum berhenti?"

Suara Kyouka menginterupsi. Atsushi melirik.

"Belum ..." ia tersenyum kecut. "Kau butuh sesuatu, Kyouka-chan?"

Kyouka.

Mendengar namanya membuat Shuusei terkejut sendiri. Dia belum mengetahui nama gadis yang bersama Atsushi sejak pertama melihatnya. Mengetahuinya membuat pemuda itu tiba-tiba teringat orang lain.

"Tokuda-san?"

"Namamu ... Izumi Kyouka?" pertanyaan itu ditujukan pada Kyouka yang memiringkan kepala. Gadis berhelai langit malam itu mengerjap bingung, begitu pula Atsushi yang merasa aneh.

"Ya?" Kyouka mengangguk.

Mendadak semuanya terasa aneh. Izumi Kyouka yang Shuusei kenal berbeda dengan orang yang ada di dekatnya sekarang. Orang yang memberinya berbagai kenangan buruk, baik kala mereka masih betul-betul hidup, bahkan sampai sekarang.

Apa Izumi Kyouka yang di depannya ini juga sama?

"Tokuda-san?" panggilan dari Atsushi kali ini digubris. Shuusei menoleh. Atsushi menatap pemuda itu dengan raut khawatir. Kyouka di dekatnya menatapnya dengan tatapan yang sama—meski tak terlalu kentara, ekspresinya datar.

"Ah, ya?"

"Kau ... baik-baik saja?"

Anggukan diberikan sebagai jawaban. "... Uhn, aku baik."

"Begitukah?" pandangan khawatir Atsushi belum menghilang. Shuusei berinisiatif mengajak anak itu mengobrol guna mengalihkan rasa khawatirnya.

Hujan masih turun.

.

.

.

31 Hari di Bulan Oktober

[day 12: Memory]

Bungou Stray Dogs belong to Asagiri Kafka and Harukawa Sango

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

For #Writober2020

Thank you for reading!

~o~

Semoga gaada yg nanya korelasi bagian ini sama promptnya ada di mana (ada kok, tapi jangan ditanya aja-).

Nyambung lagi ke prompt hari ke-22 (moga ga lupa, jangan sampe lupa ah)