"Aaaaaa kau tega sekali pergi begitu saja! Kau menyebalkan!" Tangan Hinata memukul-mukul kecil lengan Hime sambil sesekali mencubitnya.
"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa Hime katakan.
"Kau menyambutnya hangat tapi mengapa melototiku?" tatapan ngeri Toneri berikan pada Hinata yang tiba-tiba menyadari kehadirannya dari balik pintu tak lama setelah Hime masuk.
"Lalu apa? Kau mau aku menghajarmu lagi hah?!" Hinata menarik Hime menjauh dari Toneri dan membawanya mendekat ke arah kasur dan berbisik ke telinganya.
"Apa yang Toneri katakan padamu?" tanya Hinata penasaran permintaan maaf seperti apa yang Toneri lakukan.
"Yang Mulia bilang jika aku tidak ikut dia kembali, kamu akan menghajarnya lagi." Dan saat itu juga tatapan mematikan Hinata berikan untuk Toneri.
"Apa?" Rasa panik menyerang ketika Toneri menyadari tatapan maut Hinata. "Apa lagi salahku?" apa yang mereka bicarakan hingga Hinata menatapnya seolah ingin mengirimnya ke nereka?
"Aku suruh kalian menyelesaikan masalah kalian!" Toneri lari ketika Hinata berlari menghampirinya seolah sudah siap untuk memakannya hidup-hidup. "Bukan hanya membawanya pulang!"
"Menjauh dariku, Hinata!" Hime terkekeh melihat Toneri berlari melewati ranjang king size dengan Hinata mengekorinya.
"Kemari kau, Toneri!"
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Diffrent
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Diffrent by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 13
.
.
.
.
"Ini tak menyenangkan." Hinata mengeluh. Toneri pergi dengan Hime meninggalkan dirinya bersama Naruto di rumah besar ini. "Padahal aku penasaran kemana mereka akan pergi." Ia juga penasaran pada apa yang akan terjadi. Beberapa hari ini mereka tak menyinggung masalah kemarin sama sekali. Tak ada satupun yang mau melakukannya. "Aku juga penasaran apakah mereka akan segera baikan?" tangan kecil Hinata menyentuh salah satu pedang yang di pajang di dinding.
"Berikan mereka waktu, mungkin mereka sama-sama merasa tak enak."
.
.
.
.
.
.
Hime melirik lelaki di sebelahnya dan kemudian menatap lagi ke depan.
Toneri melakukan hal yang sama hingga ketika kontak mata mereka bertemu, kedua wajah itu langsung berpaling ke arah lain.
Hime menggaruk pangkal hidung sedangkan Toneri menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Uhm kita mau kemana?" sang Hime membuka topik pembicaraan membuat Toneri menatapnya. Sejujurnya, ia ingat tempat ini. Hanya saja basa-basinya terlontar dengan sangat cepat sebelum ia sempat menahannya. Terdapat halaman kosong tak jauh di depan, kau akan bisa melihat bunga-bunga mawar merah yang disusun membentuk sebuah hati ukuran besar. Tempat itu adalah tempat pertama kali Toneri melamarnya.
"Apa kamu ingat aku pertama kali melamarmu di sini?" Hime hanya terdiam sambil menatap ke arah yang sama dengan Toneri. Kumpulan bunga mawar itu masih sama seperti pertama kali ia melihatnya. Masih rapi dan indah, sangat terawat sekali.
"Menikahlah denganku, aku sangat ingin memilikimu."
"Saya benar-benar minta maaf tapi saya menolak."
Hime perlahan mengangguk mengingat masa lalu. Toneri menatapnya singkat. Bunga-bunga ini, Toneri sendiri yang merawat. Dulu di saat bunga-bunga ini hanyalah benih, Toneri katakan pada dirinya sendiri bahwa ketika mawar-mawar ini telah tumbuh, ia akan melamar sang Hime tapi siapa sangka, lamarannya di tolak tapi ia tak menyerah. "Tapi meski kamu menolakku, aku masih menjaga bunga hati ini." Buktinya adalah bunga ini masih sangat indah dan terawat, kau bisa melihatnya dengan jelas.
"Aku minta maaf, jika ternyata selama ini keegoisanku telah menyakitimu." Toneri melanjutkan. Ia benar-benar menyesal telah membuat gadis yang ia cintai tak nyaman, tapi ia tak mau kehilangannya.
"Tapi entah mengapa aku berpikir, jika saja aku tahu hari ini akan terjadi. Mungkin sebaiknya aku tak pernah katakan aku menyukaimu." Dengan begitu jarak di antaranya dan Hime tak akan semakin melebar. Mungkin juga dengan begitu, Hime bisa tetap tinggal dengan nyaman di dekatnya.
"..." tak ada jawaban dari gadis bermata bulan itu. Dia hanya menatap lurus ke arah bunga hati di depannya seolah mengingat masa-masa di mana ia mendapatkan lamaran.
"Sekarang, menurutmu apa yang harus kita lakukan?" Toneri bertanya ketika ia tak mendengar suara sedikitpun dari Hime. Meski ia tak rela membiarkan gadis ini pergi tapi jika Hime menginginkannya, ia akan berusaha untuk melepaskannya.
"Sebagai permintaan maaf dariku, katakan apa yang kamu mau. Aku akan menurutinya."
.
.
.
.
.
.
.
.
Sreenggg
"Wah, kau serius Hinata?" Naruto tertegun melihat kealihan Hinata dalam mengayunkan pedang. Ia sama sekali tak menyangka Hinata punya bakat.
"Hehe" Hinata terkekeh. Dengan sekali ayunan pedang dari tangannya, pedang di tangan Naruto terlepas dan melayang jauh ke belakang.
"Aku sering melakukannya dengan Toneri." Jelasnya singkat. Begitulah hidupnya di kerajaan. Tidur, bangun, makan, belajar, jalan-jalan dan belajar lagi dan belajar lagi bersama Toneri. Ia masih tak begitu alih mengayunkan sebuah pedang tapi jika lawannya adalah Naruto yang amatiran, ia tak akan kalah.
"Mengapa wajahmu menjadi seperti itu?" Hinata mengamankan pedang di tangannya dengan kembali mengantungkannya di tempat semula di dinding dan menatap Naruto yang tampaknya tengah berpikir.
"Sampai kapan kita akan di sini terus?" tersirat makna khawatir dari pertanyaan Naruto. Orang tua Hinata juga pasti sudah khawatir setengah mati karena Hinata tiba-tiba menghilang dan juga dirinya.
"Kau benar tapi jangan khawatir, Naru. Hime bisa mengembalikan kita ke dunia kita." Jawab dan jelas Hinata. Ia juga baru sadar bahwa di dunianya pasti ada yang sedang mengkhawatirkan mereka berdua. Dirinya sudah terlalu lama di sini, di tambah Hime yang mengganti posisinya juga berada di sini, ibunya pasti sangat khawatir.
"Kau serius?" Naruto tersentak. Ia kira tak ada cara untuk kembali ke dunianya.
"Toneri mengatakannya padaku."
"Jadi, setelah mereka berdua kembali. Bagaimana kalau kita kembali ke dunia kita?"
.
.
.
.
.
.
.
"Apapun mauku?" Toneri mengangguk sebagai jawaban membuat Hime memutar badan menghadapnya. Dia sedikit berpikir tapi kemudian dia mengatakan. "Izinkan aku pergi ke Kerajaan Sabaku." Toneri tersentak pada permintaannya.
"Itu permintaanmu? Kenapa?" dari banyaknya hal yang dia bisa minta, kenapa dia meminta hal seperti itu dan kenapa dia ingin pergi ke istana Gaara? Toneri yakin sekali Hime dan Gaara tak punya urusan apa-apa.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Gaara." Jawab Hime jujur dan kejujuran itu semakin membuat Toneri ingin tahu alasannya.
"Kenapa?" apakah ada sesuatu yang Hime rahasiakan darinya? Atau apakah ada sesuatu yang dia rencanakan atau ada sesuatu yang ia tak tahu?
"Dirimu bilang aku boleh meminta apa saja dan aku tak ingin memberitahukan apa alasanku ingin bertemu dengan Tuan Gaara." Toneri terdiam untuk beberapa saat.
"Apa kau berencana untuk pergi sekarang?" Hime mengangguk dan Toneri dibuat semakin penasaran. Apa penyebab dia tiba-tiba ingin pergi? Ditambah hari sudah gelap tapi dia tampak tak ragu sedikitpun atas permintaannya.
"Baiklah, karena sudah kukatakan. Aku harus menepati janjiku." Jujur saja, rasanya berat hati tapi Toneri tak bisa mengatakan apapun karena sudah terlanjur berjanji.
Hime langsung beranjak pergi setelah mengatakan "Terima kasih."
.
.
.
.
.
.
"Mana Hime?" pintu terbuka dari luar menampakkan lelaki yang telah mereka tunggu dari tadi hingga pertanyaan langsung meloncat keluar karena gadis yang pergi bersamanya tak nampak.
"Dia pergi ke kerajaan Sabaku. Kenapa kalian mencarinya?" Toneri tampak tak bersemangat. Kepalanya dipenuhi oleh seribu pertanyaan soal Hime, mengapa dia ingin menemui Gaara.
"Toneri, kami rasa kami harus segera pulang ke dunia kami." Ucap Naruto dan Hinata mengangguk menyetujui ucapannya.
"Mengapa tiba-tiba?" Toneri tahu akan tiba waktunya mereka harus kembali ke dunia mereka tapi mengapa tiba-tiba?
"Kami hanya merasa khawatir pada keluarga di sana. Mereka pasti sangat sibuk mencari kami kemana-mana."
"Aku mengerti." Mungkin Toneri tak pernah mengatakannya tapi ia menyukai keberadaan mereka berdua, apalagi Hinata. Tempat kaku ini terasa ramai karena kebisingannya. "Tapi..." ucapan Toneri terjeda membuat Hinata dan juga Naruto menatapnya penasaran. Wajahnya tampak khawatir.
"Naruto, apakah Hime pernah membahas sesuatu soal kerjaan Sabaku?" Naruto berpikir sejenak pada pertanyaan Toneri. Alisnya sedikit mengerut, dia berpikir keras.
"Kurasa tidak, apakah ada yang terjadi?" entah mengapa raut wajah Toneri membuatnya merasa khawatir.
"Aku hanya merasa curiga. Mengapa Hime tiba-tiba ingin pergi ke sana?" ia benar-benar tak bisa tenang memikirkan apa yang akan Hime lakukan di sana dan juga ia mencemaskan keadaan Hime.
"Dia berbicara padaku seolah berpamitan." Hatinya tak tenang. Tapi tak mungkin Hime melakukan hal yang akan merugikan dirinya. Hanya saja, ini terlalu tiba-tiba. Ia tak bisa tak merasa khawatir.
"Aku tak yakin dia menyembunyikan sesuatu." Hinata turut berpikir keras. Ia yakin gadis itu tak akan bersikap macam-macam.
.
.
.
.
.
.
"Hime..." yang disebut sedikit membungkuk hormat padanya yang terduduk di atas singgahsana. Satu gerakan tangan dan semua yang ada di ruangan besar itu berjalan keluar meninggalkan ruangan.
"Setiap kali menyebut nama itu, rasanya seperti sedang memanggil kekasih." Ia sedikit terkekeh. Ia ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu sampai dia datang ke sini bahkan matahari belum terbit.
"Tuan Gaara, ada hal yang ingin aku bicarakan."
"Pasti sangat penting sekali sampai kamu terburu-buru." Gadis itu tak mengangkat kepalanya dan juga tak merespon, jadi akan ia simpulkan jawabannya adalah iya.
"Dimana Toneri? Tak mungkin dia tak mengekorimu." Tanyanya menaruh curiga. "Mungkinkah apa yang ingin kamu bicarakan adalah soal Toneri?" Hime mengangguk sebagai jawaban, membuat Gaara menaikan satu alisnya. Ia yakin Toneri tak dalam keadaan darurat hingga mau membiarkan gadis ini datang sampai ke sini, sendiri. Jadi, bisa ia tebak Hime datang atas kemauannya sendiri.
Tapi apa yang terjadi hingga gadis pujaan Toneri datang padanya? Ia menjadi penasaran.
"Katakan padaku."
.
.
.
To be continue
Sori guys semalam sibuk kemarin juga sibuk. Waktu cpt kali ga sadar dah ga up
