Naruto The Psycho in Magic World

Episode 10: Dikeluarkan.

By: Madara45678uchiha

"Menarik-menarik sekali! Naruto ... aku akan lebih serius lagi."

"Sudah kuduga kau masih hidup, Mitsuhide."

Gumam Naruto sembari menatap ke arah suara orang yang memanggilnya dari balik debu. secara tiba-tiba debu-debu yang berterbangan terlempar menjauh dari tempat itu dan menampaka wujud seorang pria berambut silver panjang dengan senjata berupa sabit dan tubuh yang sudah tidak dibalut kain karena bajunya sudah rusak akibat serangan Naruto.

Tubuh Mitsuhide akhirnya hanya ditutupi oleh elemen yang ia gunakan, kekuatan Kegelapannya semakin meningkat, Naruto sedikit menyunggingkan senyum ketika melihat hal demikian terjadi.

"Bellbo, bersiaplah, dia akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya."

"Mitsuhide apa yang kau lakukan disini?"

Tanya Nagamasa secara tiba-tiba.

"Hm, ah ... Nagamasa rupanya, pentingkah menurutku tujuanku ini hem?"

Mitsuhide kemudian menatap Nagamasa, Naruto dan Lee, ia tau tiga orang yang ada di hadapannya bukan orang sembarangan.

'Hem, meskipun aku sedang dalam mode terkuatku, aku merasa mungkin bisa menang menghadapi mereka bertiga, apalagi salah satu dari mereka adalah tunangan dari Oichi-sama, kalau Nobunaga-sama sapai tahu tunangan adiknya terluka olehku, aku bisa dihukum gantung.'

"Nagamasa, sebaiknya kau jangan ikut campur, ini masalah aku dan dia!" seru Mitsuhide sembari menunjuk Naruto.

Naruto yang ditunjuk oleh Mitsuhide, hanya diam saja dan mulai mengatakan.

"Aku tidak ada niat menyerangmu, jika kau tidak menangkap Hilda dan mengikatnya dengan tali mantra, sekarang lepaskan Hilda atau ini akan terus berlanjut!"

"Mitsuhide, cepat turuti apa yang temanku katakan atau ... kau ingin kelakuanmu ku laporkan pada Kakak ipar?"

Nagamasa tiba-tiba mengancam Mitsuhide pada saat itu, Mitsuhide yang di ancam akan dilaporkan kelakuan buruknya langsung sedikit menghela nafasnya.

"Hem baiklah, tapi kelihatannya pacarmu itu sudah bebas Uzumaki, hem ... karena aku tidak mau mendapat hukuman dari Nobunaga-sama, sebaiknya aku pergi."

Mitsuhide pun tersenyum ke arah Naruto dan bersiap pergi dengan sayap bayangannya yang terentang besar.

"Semoga kita masih bisa bertemu. Uzumaki Natuto."

Sementara itu Naruto hanya diam saja dan tidak merespone perkataan Mitsuhide.

Nagamasa kemudian menghampiri Naruto dan bertanya.

"Hei, kau baik-baik saja kawan?"

"Ya begitulah, aku baik-baik saja."

Naruto pun menghilang dalam sekejap dan muncul di hadapan Hilda yang sudah dibebaskan oleh Tsunade, lalu Naruto pun berjalan sembari tersenyum, "Syukurlah aku senang kau baik-baik saja Hilda."

Hilda hanya mengangguk dan bertanya, "Bagaimana keadaan Bochama?"

"Seperti yang kau lihat," tanggap Naruto sembari menunjuk ke arah Bellzebub kecil.

"Dabuh!"

"Syukurlah," gumam Hilda sembari tersenyum kecil. Ia kemudian menggendong Bellzebub sembari tersenyum.

"Hah, aku heran kenapa kau bisa tertangkap dengan mudah, padahal kekuatanmu jauh diatasku," tanggap Naruto sembari menyentuh Hilda dan menghilang seketika dari hadapan Tsunade dan yang lain.

'Kecepatan yang mengerikan, bagaimana bisa?' batin Tsunade dan yang lain.

"Naruto!" seru Tsunade memanggil Naruto yang katanya adalah murid paling lemah di akademi, sekaligus kalangan ksatria rendahan.

"Ada apa kepala sekolah?" tanya Naruto sedikit penasaran soal ia dipanggil setelah melepaskan Hilda.

"Kau dapat surat dari orang tuamu," ujar Tsunade sembari memberikan selembar kertas ke arah Naruto.

"Dan karena kekacauan yang kau lakukan, kau dikeluarkan!"

"Saya mengerti," ujar Naruto sembari mengambil surat itu dan pergi membawa Bellzebub kecil, lalu Hilda pun mengikuti Naruto dari belakang, "Karena Naruto dikeluarkan, aku rasa tidak ada alasan bagiku tetap di sini, jadi aku juga keluar," ujar Hilda dan pergi bersama Naruto meninggalkan akademi.

Bersambung.

Naruto The Psycho in Magic World
Episode 11: Pulang kampung.
By: Madara45678uchiha.

Naruto yang dikeluarkan dan Hilda yang keluar karena keinginannya pun pergi dari sekolah itu. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan sekolah, "Naruto-san! Hilda-san! Kalian berdua ingin kemana?" tanya Lee yang melihat mereka keluar gerbang sekolah.

"Aku dikeluarkan dari sekolah ini, dan aku tidak punya pilihan lain selain pulang sekarang," jawab Naruto sembari membuka surat yang ada di tangannya.

"Naruto," gumam Lee.

"Maaf karena tidak bisa menjadi rivalmu lagi, sekarang aku akan kembali ke rumah," ujar Naruto.

"Lalu bagaimana dengan bayi itu?" tanya Lee khawatir, yah lee tahu kalau Naruto itu bukan berasal dari keluarga kaya, jika ia harus mengurus bayi, maka hal itu akan membebani kehidupan Naruto.

"Aku akan membawanya bersamaku Lee, lagi pula aku tidak mungkin bisa meninggalkannya," tanggap Naruto dengan santai.

"Lalu Hilda-san?" tanya Lee lagi, ia tahu Hilda tidak mungkin diusir, karena kekuatan Hilda yang besar, maka akan jadi kerugian besar bagi sekolah, jika harus mengeluarkannya juga.

"Aku akan pergi kemana pun bouchama pergi," jawab Hilda sembari menatap bayi Bellzebub yang berada di pelukan Naruto.

"Jadi begitu ... aku harap kau baik-baik saja Naruto," ungkap pelan Lee sembari memasuki akademi lagi, sementara Naruto dan Hilda berjalan keluar sembari membawa bayi itu.

"Temanmu itu rupanya orang yang pengertian," ucap Hilda sembari tersenyum ke arah Lee.

"Yah begitulah, senang rasanya punya teman yang selalu mendukungmu bukan," ungkap Naruto sembari mengelus kepala Bellzebub kecil di pelukannya.

"Oh iya ngomong-ngomong, apa isi suratnya Naruto?" tanya Hilda pada Naruto.

'Huh? Tumben dia memanggilku dengan nama,' batin Naruto. Namun, nampaknya Naruto tidak akan mempertanyakan hal itu pada Hilda, "Hildagarde. Isi suratnya hanya memintaku untuk pulang, tapi aku tidak tahu apa kelanjutannya atau alasan kenapa mereka menyuruhku pulang, karena tulisannya menjadi kabur, mungkin mereka kehabisan tintah atau apa aku juga tidak tahu," ungkap Naruto sembari memandangi jalan.

"Ayahku memintaku untuk cepat pulang, karena mereka sudah tak punya uang untuk membayar biaya sekolahku," jawab Naruto sedikit sedih.

"Oh begitu, Oh iya durian busuk apa aku boleh ikut?" tanya Hilda lagi pada Naruto.

"Em, karena percuma saja menolak keinginanmu, karena sejak awal kau tidak pernah mau berpisah dengan Bouchamamu dan Bouchamamu ini tak mau berpisah dariku, jadi singkatnya kita bertiga sudah terikat layaknya keluarga," ungkap Naruto sembari tersenyum datar menatap ke arah depan.

"Daaa!" seru setuju Bellzebub kecil. Hilda yang mendengar jawaban Naruto hanya tersenyum tipis, saking tipisnya tak akan ada satu orangpun yang sadar kalau dia sedang tersenyum.

Sesampainya di rumah tempat mereka sebelumnya tinggal, terlihat baik Naruto dan juga Hilda menyiapkan banyak barang bawaan mereka sebelum berangkat pergi menuju rumah Naruto di sebuah desa yang sangat terpencil.

Setelah selesai Naruto dan Hilda pun berangkat bersama, "Hei Duren busuk, kita mau kemana?" tanya Hilda lagi.

"Ke pasar, aku ingin berangkat dengan menggunakan kereta kuda, jadi aku akan membayar kusir yang ada di sini untuk mengantar kita ke rumahku," tanggap Naruto.

"Kenapa tidak menggunakan burung peliharaanku saja?" tanya Hilda, yah jujur saja Hilda punya peliharaan berupa seekor burung raksasa yang bisa membawa mereka terbang ke tujuan.

Naruto yang menggendong Bellbo pun terdiam dan menatap Hilda, "Maaf bukannya aku tidak mau, hanya saja aku tidak tahu arah jalan pulang, jadi aku takut kita hanya akan tersesat karena aku sendiri tidak tahu di mana rumahku," balas Naruto dengan wajah datar dan hal itu membuat Hilda tercengang. Namun, sebenarnya itu cukup wajar, karena secara teknik dunia ini bukanlah dunianya, jadi Naruto mana tahu arah jalan pulang.

Bersambung