Does not simple

Jungkook tahu ini tidak akan berjalan sesederhana itu. Mungkin akan ia temui banyak sandungan dalam tiap langkahnya. Tapi setidaknya ia mencoba.

Kim Taehyung

Jeon Jungkook.

...

Barangkali sudah hampir dua hari Jeongguk mengabaikan Taehyung. Ada banyak hal yang membuat hati Jeongguk dongkol tiap kali menatap wajah Taehyung. Ingatan tentang bahwa pria itu adalah mantan kekasih kakaknya sendiri. Apalagi kenyataan bahwa keduanya masih menyimpan rasa satu sama lain.

"Mau makan apa kamu?" Jeongguk yang masih sibuk menatap ke arah luar jendela mobil enggan menjawab, meski ia mendengar dengan jelas pertanyaan Taehyung. Beberapa waktu lalu Taehyung menjemput Jeongguk di rumah untuk makan malam berdua di luar. Bercengkrama sebentar dengan Mama ketika Jeongguk tengah bersiap-siap. Lalu entah bagaimana, mood Jeongguk jadi kacau sekali setelah ingatan tentang pembicaraan dengan Seon gi mengenai Taehyung kembali melintas dalam pikirannya.

"Jungkook?" Taehyung menoleh fokus mengemudinya sedikit terpecah, pemuda itu menaikan sedikit intonasi bicaranya berharap berhasil menarik paksa atensi lawan bicaranya. "Masih marah kamu? Tidak mau jalan denganku?"

Taehyung sendiri merasa pening, harus mengurusi Jeongguk yang tengah merajuk. Lebih merepotkan daripada merajuknya perempuan. Karenanya Taehyung memilih kembali diam dan fokus mengemudi. Memutuskan untuk menentukan tempat makan malam mereka secara sepihak. Enggan ambil pusing.

Keduanya terjebak dalam hening. Jungkook yang sibuk dengan egonya sendiri, dibutakan rasa cemburu luar biasa dalam dadanya. Sedang Taehyung hanya menjadi tipikal Taehyung yang tidak mau pusing-pusing merayu ngambeknya Jungkook.

...

Begitu mobil terparkir sempurna di sebuah cafe bernuansa vintage, Jungkook buru-buru melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil tanpa mengucap kata apapun pada Taehyung. Meninggalkan pemuda Kim menghela nafas berat di dalam mobil dengan netra tak henti memperhatikan gerak Jungkook. Dengan lemas Taehyung ikut melepas sabuk pengamannya dan mengikuti langkah Jeongguk yang sudah lebih dulu masuk ke dalam cafe.

Taehyung memijat pangkal hidungnya kala Jeongguk langsung duduk di sudut ruangan, dengan raut wajah masam kini memilih memainkan ponsel secara random.

Taehyung mendekat, menarik sebentar ponsel Jungkook agar yang lebih muda menatapnya. "Mau pesan apa?"

"Hot chocolate." Jeongguk sudah hendak kembali menarik ponselnya, tapi genggaman tangan Taehyung pada ponselnya menjadi makin erat.

"Makanan?" Taehyung bertanya lagi.

"Tidak makan."

"Jungkook..." Taehyung benar-benar melembutkan ucapannya. Tidak ingin membuat mood Jungkook semakin berantakan. Niatnya mengajak Jeongguk keluar tentu saja karena ingin lebih dekat dengan calonnya ini, bukan malah diabaikan seperti sekarang. "Mau bilang apa aku ke Mama kalau aku mengajak kamu keluar tapi tidak diberi makan."

Jeongguk melirik papan menu di depan sebelum kembali menatap Taehyung yang masih setia memegangi ujung ponselnya. "Yasudah katsu." Taehyung mengangguk. Memilih langsung pergi memesan makanan tanpa menjawab Jungkook lebih lanjut.

...

Yakin betul, bahwa tidak akan ada perubahan pada mood Jungkook jika Taehyung terus diam dan tak melakukan apapun. Maka Taehyung menimang, harus membawa kemana percakapan yang akan membuat Jungkook nyaman. Takut-takut dirinya salah bicara yang justru akan membuat mood Jungkook makin bubrah tidak karuhan.

Taehyung masih menatap Jeongguk lekat, melihat bagaimana sosok itu sibuk dengan layar po selnya yang entah menampilkan apa. Ibu jarinya yang tidak berhenti menari-nari ke atas dan ke bawah membuat Taehyung nyaris gila. Bagaimana bisa ia di abaikan sampai begini?

Terasa sedikit menyebalkan untuk Taehyung terbiasa mengabaikan.

"Tadi Eomma titip pesan." Jungkook menurunkan sedikit ponselnya ketika Taehyung tiba-tiba berucap. "Besok weekend di suruh datang kamu. Mau di ajak bikin kue sama Jimin juga." Taehyung melanjutkan. Kemudian Jungkook mengangguk dua kali sebelum kembali memainkan ponselnya.

Taehyung berdecak. Padahal barusan ia sampai rela bohong, untuk membuka percakapan dan bisa-bisanya hanya ditanggapi sekenanya?

"Aku salah apa sih ke kamu?" Taehyung tidak tahan. Raut mukanya serius sekali membuat Jungkook menaruh perhatian pada Taehyung.

"Masih perkara Seon gi? Kamu masih mau bawa-bawa dia terus sampai mampus?" Ekspresi wajah Jungkook berubah makin tak suka. Bagaimana Taehyung mengucap enteng nama Seon gi dengan belah bibirnya Jungkook benar-benar membuat Jeongguk tidak suka. "Aku harus bagaimana? bilang Gguk! Aku tidak bisa baca pikiran kamu."

Sekon setelahnya Jeongguk berdiri, tergesa mengantongi ponselnya. "Aku mau pulang."

Taehyung total terkejut, menahan tangan Jungkook yang sudah hendak melangkah pergi. Pemuda Kim itu menutup mata sebentar, mengontrol diri. Setelah lebih tenang kembali membuka mata dan menatap Jungkook intens. "Duduk, makan dulu." Taehyung menarik tangan Jungkook agak keras hingga sukses memaksa Jeongguk kembali ke tempat duduknya. "I'll not saying anything. Tapi kamu makan."

Jujur Jeongguk terpana dengan kesabaran Taehyung, barangkali jika bukan pemuda ini yang bersama dengan dirinya yang tengah dalam mode menyebalkan seperti sekarang mungkin Jeongguk sudah habis dimaki-maki dan ditinggal sendirian di cafe. Bagaimana Taehyung tetap menata tutur katanya pada Jeongguk, juga bagaimana pemuda itu mengontrol diri dan menjaga intonasi bicaranya. Jeongguk terpana. Seon gi benar tentang perkara Taehyung itu bijaksana.

Lalu bagaimana bisa Jeongguk tidak jatuh padanya?

Mulai dari pesanan datang hingga keduanya selesai menyantap makanan masing-masing, tidak ada yang bicara. Hanya Taehyung yang sesekali melirik Jeongguk yang terlalu fokus menghabiskan makan malamnya.

...

Jungkook mengekor Taehyung setelah selesai makan malam. Di perjalanan pulang tadi pun tidak ada yang bersuara. Mobil begitu senyap sebab dua empunya kewalahan menyelami pikiran masing-masing. Taehyung mengantarkan Jeongguk tepat sampai di depan pintu, harus memastikan pemuda itu benar-benar aman masuk ke dalam rumah.

Taehyung berbalik, berhadapan dengan Jeongguk yang dari tadi mengekor. "Sana masuk." Taehyung mendekat ke arah Jeongguk sebentar, mengecup puncak kepala Jeongguk kilat lalu kembali menarik diri. "Terimakasih untuk hari ini. Titip salam buat Mama." Tidak peduli Jeongguk yang masih melongo, Taehyung mengusap surai lembut Jeongguk memaksa sosok yang lebih muda kembali pada kewarasannya yang beberapa detik lalu sempat melayang.

Taehyung sudah hendak melangkah pulang jika saja tangan Jeongguk tidak menarik lengan Taehyung. Mendapati tatapan penuh tanya dari Taehyung.

"Maaf ya sudah berlebihan. Sebelum pergi tadi aku ngobrol dengan Seon gi..." Taehyung mengangkat sebelah alisnya ketika Jeongguk menjeda ucapannya. Penasaran dengan apa yang ingin Jeongguk sampaikan, sesuatu yang sepertinya menganggu pikiran Jeongguk selama bersamanya tadi. "Dia masih suka kamu. Yah jadi entah bagaimana aku jadi agak terbawa suasana." Jeongguk berucap lirih sekali, tapi ia pastikan Taehyung bisa mendengar ucapannya. Sedikit heran ketika Taehyung tidak tampak terkejut sama sekali.

"Lucu sekali sih kamu." Taehyung terkekeh, kembali mengusak rambut Jungkook gemas. "Sudah ya aku pulang, langsung tidur jangan terlalu banyak overthinking. Nanti aku chat kalau aku susah sampai rumah." Taehyung melambaikan tangannya sebentar sebelum benar-benar melangkahkan kakinya menjauh. Meninggalkan Jeongguk menatap punggung Taehyung penuh tanya.

To be continue...

With love,

Radya.