Queen of Succubus

Chapter 13

Lilith's Warth

Gaara memimpin seratus ribu pasukan Iblis kembali ke dunia manusia, tanpa sepengetahuan mereka sang jenderal membimbing mereka dalam sebuah jebakan.

Hinata melemparkan isyarat dari tebing tertinggi menyiagakan ribuan pendeta untuk mengaktifkan perisai suci. Energi tak terlihat mengelilingi wilayah itu dalam bentuk kubus yang memisahkannya dengan dunia luar. Petarung bangsa vampire dan warewolf bersembunyi dan mengawasi kedatangan mereka.

"Dengar prajurit, Di luar sana kalian akan dihadapkan dengan dua pilihan. Mengikutiku atau mati!" teriak Gaara pada Iblis-iblis yang dipimpin nya. "Jangan melakukan apa-apa sampai aku perintahkan."

Seperti mereka terlalu bodoh untuk mengerti kalimat Gaara, tapi Gaara lebih dari tahu setengah dari mereka bila dihadapkan dengan kehancuran akan mengubah pendiriannya.

Para Iblis berteriak dengan lantang saat mereka melintasi portal besar yang dibuka oleh Gaara. Mereka bersiap menebar kehancuran dan malapetaka di atas bumi. Akan tetapi langkah mereka terhenti tatkala melihat Iblis-iblis yang berada di depan lenyap menjadi abu. Kebingungan mereka kian bertambah saat melihat sayap Gaara menghilang begitu saja dan menjelma menjadi manusia.

Sayup-sayup para Iblis berbisik.

"Apa yang terjadi?"

"Mengapa Pazuzu jadi seperti itu?"

"Jadi benar dia dikutuk?"

"Bukankah kita harus menaklukkan dunia mortal untuk tuan Deidara."

"Diam." Teriakan bernada perintah menggema di Udara. Prajurit Iblis semakin terkejut.

Seorang wanita iblis muncul dari balik tebing dan berdiri di samping Gaara. Rambut pirang nya berkibar, baju zirahnya menyala bagaikan api di tengah pekatnya kegelapan dunia. Hanya dengan berdiri saja mereka bisa merasakan wibawa dari seorang pimpinan iblis api.

Semua Iblis tahu sosok itu. Sosok yang konon telah mati dibunuh Deidara.

"Itu putri Tsunade." Terdengar kericuhan di antara iblis-iblis itu. Banyak dari mereka yang berasal dari kaum suku api yang terpaksa bersujud di hadapan Incubus jahanam itu untuk menyelamatkan diri.

"Dengar kaumku. Aku tahu banyak di antara kalian yang tak rela diperintah oleh seorang Incubus. Karena itu Aku, Tsunade dari kaum Iblis Api dan Gaara mewakili Iblis angin menginginkan bantuan kalian untuk mengalahkan Deidara dan membalas dendam kaum kita yang mati ditangannya. Apa kalian ingin dipimpin oleh Iblis yang hanya menggunakan kalian sebagai batu pijakan meraih ambisinya? Bagi yang berniat bergabung dengan kami dan menyalakan pemberontakan pergilah ke arah bukit."

Iblis-iblis itu dihadapkan pada pilihan sulit. Mereka tak bisa kabur ke dunia Iblis portal sudah tertutup dan mereka tak bisa beranjak dari sana lantaran sudah dipasang pelindung.

"Bagaimana ini?" Keluh seorang Incubus. Dia melihat prajurit yang berasal dari suku iblis api beranjak pergi. Mereka telah membuat pilihan.

"Kita tak punya pilihan. Mengikuti Pazuzu atau lenyap."

"He..he..he, Apa kalian pernah dengar ramalan itu. Iblis yang bangkit dari kematian akan menjadi Demon Lord. Aku yakin mengikuti jenderal lebih menguntungkan. Dari dulu dia lebih kuat dari Deidara."

"Kau benar. Masih jelas diingatkanku apa yang dia lakukan untuk membela ratu Ino. " Ucap prajurit Incubus.

Gaara dan Tsunade mengamati. Prajurit-prajurit yang memisahkan diri. Jumlahnya lebih banyak dari yang dia perkirakan. Iblis berambut merah itu menoleh ke arah Tsunade.

"Terima kasih sudah membantuku. Aku tahu kau belum sepenuhnya pulih."

"Ini bukan hanya perang kalian Iblis angin maupun Ino. Ini perangku juga. Sudah saatnya kita menyatukan kekuatan untuk menjatuhkan Deidara. Tak pantas dia mengangkat dirinya sebagai demon lord dan merendahkan iblis lainnya. Aku rasa waktu untuk memilih telah habis."

Itachi menerima isyarat dari Gaara. Sepertiga prajurit itu tak mau menerima perintah nya.

"Serang!" Teriak Sang Lord Vampire. Kaum warewolf dan vampire yang dari tadi bersembunyi merangsek dan menghancurkan iblis yang tersisa.

Gaara dengan tubuh manusianya turun ke medan perang. Dengan senjata pedang dia membasmi prajurit Iblis yang kekuatannya bahkan lebih rendah dari seorang vampire biasa. Deidara memang pintar dengan memberikannya pasukan yang tak berguna, tapi Incubus itu juga tak tahu iblis petir akan mengkhianatinya. Mereka hanya mau mendukung nya setelah Gaara melancarkan negosiasi dan menjanjikan hal yang lebih menguntungkan.

Gaara mengantungkan rencananya pada Temari dan Killer Bee. Sambil berharap Sasori terlalu sibuk untuk membaca situasi dan Deidara mengalihkan perhatiannya pada Ino.

Gaara tengah menghadapi sepuluh orang iblis, dia tak melihat satu melompat mencoba menyerangnya dari atas. Ia terlambat bereaksi untuk berkelit, tiba-tiba saja Iblis itu lenyap setelah Gaara mendengar desingan peluru.

Sai merangsek dan membasmi Iblis yang berada di sekeliling Gaara.

"Aku tak percaya Lord menyuruhku membantumu." Sai bertempur bersama Iblis yang menjadi saingan cintanya.

"Kau tahu aku tak boleh mati di sini." Ucap Gaara sambil menusuk Iblis yang mendekatinya.

"Harusnya kau bersembunyi saja tak perlu bertarung." Sai Melakukan tembakan beruntun membersihkan area di depannya sembari mengejek sang Iblis.

"Siapa yang akan mendukungku kalau aku berlagak seperti pengecut." Gaara merunduk menghindari serangan dan Sai dengan sigap membasmi penyerang mereka.

Di luar dugaan mereka berdua bisa bekerja sama dengan baik. Sementara Gaara bertarung di dunia mortal, Deidara menyibukkan diri menyiapkan eksekusi Ino.

.

.

"Apa berita ini benar?" Sontak Temari menggebrak meja mendengar laporan anak buahnya.

Dia baru saja memobilisasi pasukannya ke area sekitar istana sambil menanti Gaara kembali. Kalau situasinya seperti ini dia yang harus mencari adiknya.

"Bee, Aku serahkan pucuk kepemimpinan padamu. Aku harus mencari Gaara secepatnya. Ino akan dieksekusi sebentar lagi."

"Oh yeah.. Baiklah nona angin. Aku tak akan merusak rencana kita."

Temari buru-buru terbang mencari area untuk membuka portal dimensi. Dia tahu Ino penting bagi Gaara meski adiknya sering berkata lain dan bersikap tak acuh. Sebagai Iblis dari awal dia tak setuju dengan hubungan itu. Dulu Temari mengira Gaara di bawah pengaruh sihir Ino. Bagaimanapun wanita itu adalah Succubus yang bisa membuat semua makhluk tergoda padanya, tapi ketika mereka menemukan Gaara di dunia manusia hal pertama yang dia ingat dan tanyakan adalah Succubus pirang itu. Kali ini pun Gaara memutuskan datang dan bertarung bukan karena dia peduli pada kaumnya. Jelas alasan Gaara kembali ke dunia iblis karena Ino dan bila Ino sampai lenyap Temari tak tahu kegilaan macam apa yang akan di derita adiknya dan kehancuran macam apa yang bisa disebabkannya. Gaara yang tak bisa mengontrol emosinya lebih berbahaya dari cahaya suci para malaikat.

.

.

Deidara mendesah puas melihat saudarinya terikat di atas altar. Dia tak peduli lagi dengan urusan membangkitkan Lilith. Dia akan hidup selamanya dan masih banyak waktu untuk menguak rahasia segel Iblis kuno. Yang terpenting baginya sekarang adalah mempermalukan Ino. Pekikan senang prajuritnya terdengar di bawah sana. Mereka meneriakkan kata-kata kotor pada sang ratu. Bagi sebagian besar kaum Succubus Ino adalah aib. Bagaimana mungkin seorang yang ditunjuk sebagai ratu bahkan tak bisa melindungi dirinya sendiri. Deidara tidak akan membunuh adiknya begitu saja. Dia ingin mempermalukan Ino sejadi-jadinya. Mulai dengan membiarkan iblis-iblis rendah itu menikmati tubuh adik-nya.

Ino melihat kaumnya yang tampak bergembira melihat derita, tentu mereka adalah Iblis yang mendapatkan hiburan dari penderitaan yang lainnya. Ia tak pernah ingin mati seperti ini. Sayap sang Succubus telah patah, wajahnya merunduk terikat di tiang besi. Makhluk-makhluk yang berwujud bagaikan serangga merayap ditubuhnya menggigiti tiap senti daging yang berbau kematian. Iblis pun takut dan berdaya menghadapi maut. Perlahan-lahan Ino merasa esensinya menguap.

Aku tak boleh lenyap seperti ini, Aku tak bisa mati dengan menyedihkan. Aku harus menghancurkan semua yang menyakitiku dan menertawaiku.

Suara lembut kembali terdengar ditelinganya. Mendadak Ino merasa gelombang energi yang begitu besar menyeruak dari jantungnya mengancam untuk membelah tubuhnya menjadi dua. Begitu menyakitkan. Ino menjerit dan menjerit. Pekikan kesakitannya membuat makhluk-makhluk yang menonton tertawa. Tubuh Ino ingin menolak kekuatan yang tiba-tiba saja disodorkan padanya.

"Jangan menolak kekuatanku, Biarkan aku menguasaimu anakku. Kau dan aku ingin melihat mereka semua lenyap."

Ino menyerah dan berhenti melawan. Dia sadar suara itu adalah Lilith. Ibu dari para Succubus, Iblis yang tercipta karena kecemburuan dan pengkhianatan. Wanita yang bersumpah untuk menggoda dan menghancurkan anak cucu adam.

Deidara terkejut melihat amulet ditangannya bersinar. Sesuatu yang aneh terjadi dan dia tak menyukainya.

.

.

Di dunia mortal perang hampir berakhir, Gaara sedikit terluka tapi dia tidak apa-apa. Menjelang fajar menyingsing mereka tahu satu pertempuran telah dimenangkan dan harapan untuk memenangkan pertempuran lainnya semakin besar. Dari kejauhan Gaara melihat Temari terbang ke arahnya.

"Gaara, Cepat kembali. Ino sedang dieksekusi di lapangan istana."

Wajah Iblis berambut merah itu kian pucat. Sai juga mendengar apa yang dikatakan Temari. Tanpa banyak berpikir Gaara membuat lubang portal dan berharap ia akan tiba tak jauh dari tempat Ino berada. Gaara tidak beruntung, Portal membawanya ke pinggiran desa Suna. Sang Iblis angin menarik nafas dan mengembangkan sayapnya terbang sekuat tenaga menuju istana Deidara.

Kembali ke bumi, Itachi dan Kakashi melakukan pembersihan sedangkan pasukan Iblis yang membelot menanti perintah. Mereka kebingungan lantaran pimpinan mereka pergi begitu saja.

"Temari, Mengapa Gaara pergi?" tanya Tsunade pada sang putri angin.

"Ino dalam bahaya."

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Bawa prajurit ini kembali. Mei, Killer bee dan Onoki sudah bersiaga."

"Kau berhasil merekrut banyak orang."

"Asal kau tahu banyak yang tak suka diperintah oleh Incubus, bagaimana mungkin Iblis yang tugasnya tak lebih dari menggoda manusia mengangkat dirinya menjadi demon lord."

"Gelar itu sudah lama kosong. Sebab gelar Demon lord hanya diberikan pada Iblis yang sanggup menyatukan semua suku. Temari apa kau punya cukup kekuatan untuk membawa mereka kembali? Karena untuk saat ini kekuatanku terbatas."

"Aku masih sanggup untuk membuka portal."

Itachi dan Kakashi kemudian bergabung dengan dua wanita iblis itu.

"Urusan di sini sudah beres." Itachi menepuk-nepuk Jas hitamnya dari sisa-sisa pertempuran.

"Terima kasih membantu kaum Iblis hingga sejauh ini. Aku berjanji kami tak akan mengusik dunia kalian dengan membiarkan kaum kami melakukan invasi di lain waktu."

"Apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya Kakashi.

"Sudah jelas, Menyelesaikan konflik di dunia Iblis."

Sai yang berdiri tak jauh dari sana menyela pembicaraan dua wanita itu. Dia tak mau hanya berdiam diri di sini tanpa bisa membantu Ino.

"Apa kalian tahu suatu cara agar aku bisa ikut ke dunia Iblis?" Tanya Vampir berwajah pucat itu.

"Tidak ada hal seperti itu. Hanya Iblis dan malaikat yang mampu menembus ruang dan waktu."

"Sebenarnya ada solusi. Iblis mampu mengabulkan permintaan manusia dengan sebuah harga, tapi kau bukan lagi manusia. Tanpa darah kau tak bisa melakukan ritualnya."

"Bisa saja kita menggunakan darah manusia lain nya. Penyihir bisa memanggil iblis dengan menggunakan darah orang lain selama gambar lingkarannya sempurna." Sambung Utakata yang di saat dia menjadi manusia merupakan penyihir hitam.

"Utakata benar." Sakura bersama Sasuke mengikuti pembicaraan itu."Sai, Kau benar-benar ingin melihat Ino lagi?"

Vampire itu mengangguk. "Aku tak peduli berapa harga yang aku harus bayar."

"Aku akan membantumu dengan ritual pemanggil iblis." Ujar Sakura.

"Pastikan kau memanggil iblis terkuat sebab aku masih terluka dan Temari tak mampu mengabulkan permintaan seperti itu."

"Tunggu-tunggu ada Iblis yang lebih kuat dari kalian?" Tanya Sakura pada kedua iblis wanita itu.

"Tentu ada. Selamat tinggal dan Sai semoga beruntung dengan ritualmu."

Kakashi melihat para Iblis pergi dan dia pun pamit pada Itachi.

"Senang bertempur sebagai rekan bersama kalian." Dia menjabat tangan Itachi dengan rasa persaudaraan.

"Sepertinya hubungan Vampire dan Warewolf tidak lagi buruk."

"Pertempuran ini ada hikmahnya juga, Sampai jumpa kawan. Jangan segan mencariku bila membutuhkan sesuatu." Kakashi membawa kawanan nya kembali ke gunung. Dia dan Itachi tahu kedamaian ini hanya akan permanen bila Incubus ambisius itu berhasil digulingkan. Sekarang mereka hanya bisa menunggu.

Sebelum matahari benar-benar terbit. Para vampire kembali ke peraduannya, mereka lelah dan ingin membasuh kerongkongan mereka dengan minum darah. Itachi dengan murah hati menjamu prajuritnya. Kemenangan sekecil apa pun patut dirayakan, sebab masih ada kemungkinan besar dunia ini akan kiamat. Harapan Itachi kini terletak di pundak Gaara yang ia sama sekali tak paham apa motivasinya.

Tak jauh di ruang bawah tanah mansion Uchiha. Empat orang sibuk menyiapkan ritual. Sakura memegang belati dengan tegang. Sekali lagi dia bertanya pada Sai. "Apa kau yakin dengan semua ini. Aku tak tahu apa yang akan iblis itu minta darimu."

"Aku seratus persen yakin. Aku lebih memilih sirna ketimbang tak mencoba menolong Ino."

Sakura tersenyum tipis "Kau mencintainya ya?"

"Iya, Meski Vampire dan Succubus tak mungkin bersama. Aku hanya ingin menolong nya. "

"Iblis mana yang akan kalian panggil? Aku harap kalian tak akan tanpa sengaja memanggil Deidara atau kroni-kroni nya."

"Kemungkinan itu ada sih. Perkara memanggil iblis memang untung-untungan. Biasanya Iblis yang datang adalah iblis yang benar-benar dibutuhkan oleh jiwa seseorang. Aku akan memulai menggambar lingkarannya." Karena Sakura adalah satu-satunya manusia di sana. Gadis itu harus menggunakan darahnya, tanpa berkedip ia memotong nadi pergelangan tangannya dan menampung darah itu dalam sebuah mangkok.

Dari ketiga vampire yang terbiasa mengonsumsi darah manusia hanya Sasuke yang bergeming, aroma darah Sakura membangunkan instingnya untuk melahap penyihir itu.

"Darah mu bau sekali." Sasuke memilih beranjak pergi sebelum dia melakukan hal yang aneh.

"Bilang saja kau tergoda." Balas Sakura kesal. Sakura melihat mangkok hampir penuh. Mungkin dia akan kena anemia setelah ini.

Utakata membantu Sakura membalut pergelangan tangannya. "Aku akan menggambar diagramnya sekarang."

Utakata membuat diagram berbentuk pentagram dengan simbol-simbol yang aneh bagi Sakura. "Aku tak pernah melihat yang seperti ini."

"Ini pentagram untuk memanggil keturunan Belphegor. Dengan begitu kecil kemungkinan kita men-summon Incubus yang merupakan keturunan Lilith. Lingkarannya sudah siap. Sai kau ingat mantra yang aku berikan tadi."

Sai mengangguk. Dia menarik nafas panjang dan melafalkan kalimat dalam bahasa asing yang baru dia dengar sepuluh menit yang lalu dengan fasih. Mereka bertiga menunggu, tapi tak terjadi apa-apa

"Sepertinya kita gagal." Sai dengan bahu merosot hendak melangkah pergi, memang tak ada hal yang sepertinya bisa dia lakukan lagi.

Sakura melihat pentagram yang dibuat Utakata bersinar. "Kalian tunggu sebentar."

Aura merah berpendar dalam lingkaran. "Lelucon konyol macam apa ini?" Suara berat pria membuat Sai menoleh hanya untuk melihat wajah Gaara dalam wujud iblisnya.

"Ah, Jadi ini wujud asli Sabaku No Gaara." Ucap Sai melihat kemunculannya yang mendadak.

"Apa kau kagum Vampire? Aku sedang dalam perjalanan menyelamatkan Ino dan ritual kalian malah membuatku membuang waktu yang berharga."

"Aku memanggil Iblis untuk mengabulkan permintaanku. Aku tak menyangka kau yang akan muncul."

Gaara terlihat sebal. "Katakan apa permintaanmu."

"Aku ingin ke dunia Iblis untuk menyelamatkan Ino."

"Ada harga yang harus kau bayar tentunya." Gaara mengerti mengapa ritual sihir ini memanggilnya. Keinginan Sai sama seperti keinginannya. "Apa yang kau bisa kau tawarkan padaku vampire?"

"Kehidupanku, Aku tak keberatan lenyap asal aku bertemu Ino."

"Baiklah, Aku mengabulkan permintaanmu. Berikan mangkuk kosong itu." Gaara menunjuk mangkok yang tergeletak di lantai dan mengores jarinya. Beberapa tetes cairan berwarna ungu tertuang di sana. "Minum ini dan kau akan memiliki energi Iblis. Cepatlah kita tak punya banyak waktu."

Sai pernah meminum darah Ino, rasanya memabukkan, tapi darah Gaara terasa bak racun baginya. Tubuhnya gemetar dan terbakar. Gaara tak menunggu sang vampire merasa lebih baik dia menarik Sai ke dalam pentagram dan mereka kembali ke dunia Iblis.

Sai tak punya waktu untuk mengagumi langit semerah darah dan kesuraman abadi yang ada di sekelilingnya. Gaara terbang lebih cepat dari pesawat tempur dan Sai kewalahan untuk mengikuti.

"Vampire, Kau tahu dengan meminum darahku kau secara tak langsung setuju menjadi pelayanku dan bila aku lenyap kau pun akan lenyap."

"Aku tahu dan tak peduli konsekuensinya."

"Ku harap kau tak akan menyesal nanti." Iblis tak pernah menolak mengambil nyawa orang lain dan suatu keuntungan baginya bila Sai lenyap bukan. Satu saingan berkurang.

.

.

Deidara masih menggenggam Amulet yang berpendar di tangannya dan ia bertanya mengapa. Instingnya tidak merasakan sesuatu yang aneh. Mungkin Ino sebagai pendeta punya jawaban. Meninggalkan Singgasana nya. Deidara terbang menuju altar kematian saudarinya.

"Kau tahu apa artinya ini?" Dia menyodorkan amulet yang bersinar pada Ino.

Gadis itu menegakkan kepala. Matanya bersinar. Seketika rantai yang melilit tubuhnya hancur dan Ino mendapatkan kembali kekuatannya.

"Kematianmu."

Author Notes. : Terima kasih untuk yang masih di sini. Setelah dua bulan hiatus saya akhirnya bisa menulis lagi. Tinggal satu chapter dan ini akan tamat.. setelah itu saya akan berusaha menyelesaikan ff saya yang terhutang.