The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini

The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)

[Bab 10]

.

.

Sekali lagi, Norman mengerjap, tetapi pemandangan di sekelilingnya tidak kunjung berubah.

Awan putih mengapung di mana-mana. Di depan, pohon besar tampak tumbuh terbalik, dengan akar di udara dan dahannya yang menjuntai seperti tanaman merambat. Daunnya hijau segar dan berukuran lebar. Dari ranting-rantingnya yang mudah dijangkau tangan, terdapat buah-buahan yang ranum dan nikmat, siap untuk dipetik.

Sementara di belakang, bunga berwarna-warni meneduhkan mata, sebagian ditanam pada pot-pot kecil yang diletakkan dalam rak tinggi berhias lonceng perak, sebagian lagi dibiarkan tumbuh liar. Bunyi gemericik terdengar seumpama alunan musik yang menenangkan. Air jernih mengalir melewati bebatuan kecil, menuju kolam mungil dengan ikan yang menari lincah di dalamnya.

Norman mendongak. Jauh tinggi di atas sana, bintang-bintang bersinar cemerlang dengan patuh

Segalanya terlihat indah sekali.

Apakah ini yang dinamakan surga?

Norman tidak tahu. Ia hanya merasa ... bahagia. Tidak ada lagi rasa sakit yang membakar punggungnya. Tidak ada lagi ketakutan yang menenggelamkannya ke dalam jurang keputusasaan. Kakinya juga sehat. Menundukkan kepala, ia lalu melihat pakaiannya sendiri yang sudah bersih dari lumpur. Tubuhnya juga sangat wangi.

Rasanya damai.

Rasanya hangat.

Dan Norman ingin selamanya berada di sini.

Saat sedang memikirkan kekaguman tersebut, dari balik awan-awan tadi, sekonyong-konyong terdengar derit pintu yang terbuka. Norman menoleh, menyaksikan punggung seorang gadis kecil yang sangat dikenalinya. Bando, gaun putih, dan sandal matahari—semua informasi ini segera membentuk satu sosok di kepalanya.

Norman membelalak tak percaya. "Ayshe?"

Setelah menutup pintu, gadis kecil itu memegangi tepian gaunnya dan mulai menuruni tangga dengan langkah tak sabar. Senyumnya merekah sempurna. Bahkan saat dibawa berlari, senyum itu tidaklah hilang.

"Halo, Norman. Lama tidak berjumpa."

Jantung Norman berdebar. "Ayshe ... kau ini Ayshe, kan?"

Si gadis kecil mengangguk bersemangat. "Akhirnya, kita bisa bertemu lagi, ya."

Ketika awan-awan mulai bergeser, pintu di mana Ayshe keluar terlihat semakin jelas. Maka tampaklah sebuah bangunan menjulang yang sangat megah. Kubahnya berwarna emas, dengan untaian mutiara menghiasi di setiap lengkungannya. Dindingnya seperti terbuat dari ribuan pecahan permata yang disatukan.

"Itu—" terkesiap, Norman menunjuk bangunan tersebut, "—itu apa?"

"Itu mahligai. Menakjubkan, bukan?"

"Kau tinggal di sana?"

Ayshe mengangguk lagi.

Tatapan Norman masih terpaku pada mahligai. "Itu tempat yang luar biasa," gumamnya lirih.

"Itu tempat untuk beristirahat."

"Jadi ... apakah aku sudah mati?"

"Aku tidak tahu. Tapi kemungkinan besar kau masih hidup. Hanya saja kau sedang tertidur saat ini."

"Berarti ini mimpi," Norman menyimpulkan.

"Bisa jadi."

Norman memperhatikan Ayshe lebih teliti. Gadis itu terlihat baik-baik saja. Tubuhnya tidak terluka sedikit pun. Begitu pula dengan wajahnya, putih dan bersih. Di mata Norman, Ayshe yang sedang tersenyum adalah pemandangan yang lebih mengesankan daripada bintang-bintang tadi.

"Bagaimana kabarmu, Norman? Apa sekarang kau baik-baik saja?"

Diam sebentar. "Aku ... baik-baik saja," balas Norman, agak terlambat.

"Kau berbohong, Norman," Ayshe menuduh. "Kita sudah lama berteman, tapi kenapa kau malah membohongi temanmu sendiri?"

Seketika, Norman terbungkam.

"Katakan dengan jujur, apakah kau baik-baik saja?"

Norman menggigit bibir, kemudian menjawab dengan suara berat, "Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Sejak kau meninggalkanku, aku tidak baik-baik saja. Hatiku sangat sakit."

"Seharusnya kau melupakanku," Ayshe mendesah. "Aku hanyalah masa lalumu."

"Mana mungkin aku bisa melupakanmu? Kau adalah temanku. Dan sampai kapanpun, kita tetap berteman, kan?"

"Kau benar, tapi seharusnya kau tidak perlu bersedih terlalu lama."

"Ayshe ...," Norman menunduk, dadanya penuh oleh rasa sesak. "Maafkan aku."

"Untuk apa?"

"Karena aku tidak bisa menolongmu pada waktu itu. Seharusnya ... seharusnya aku bisa menyelamatkanmu. Tapi aku hanya berdiri ketakutan. Aku seperti pengecut."

"Itu bukan salahmu, Norman. Wajar saja kalau kau takut. Pada waktu itu, aku sendiri juga ketakutan setengah mati."

Norman menatap Ayshe sungguh-sungguh, seakan hal itu dapat mengusir keraguannya. "Bolehkah aku ikut denganmu?"

"Apa kau ini bodoh? Kau tidak boleh bersikap egois dengan memutuskan seperti itu."

"Aku—"

"Perjalananmu masih panjang. Banyak orang yang menyayangimu dan sedang menunggumu di dunia."

"Itu tidak benar. Aku tidak memiliki siapapun lagi sekarang. Aku—" suara Norman tercekat,"—aku sudah mengecewakan ayahku, Ray, dan Emma."

"Norman."

Norman tidak menggubris.

"Dan aku juga sudah mengecewakanmu." Air mata mulai merebak. "Aku sudah mengecewakan semuanya."

"Itu tidak benar." Ayshe maju satu langkah. "Satu kali pun kau tidak pernah mengecewakanku, atau ayahmu, atau pun teman-teman barumu. Kau anak yang sangat baik, Norman."

"Itu lebih tidak benar. Mereka pasti membenciku sekarang." Kedua tangan Norman terkepal kuat seiring aliran emosi menguasai tubuhnya. "Aku ingin tinggal di sini. Bersamamu."

Ayshe maju dua langkah lagi. Kini jaraknya sangat dekat dengan posisi Norman berdiri.

"Jangan pernah berhenti di sini, Norman. Teruslah hidup. Hanya itulah hal terakhir yang kuinginkan darimu."

"Tapi jika aku terus hidup, aku hanya akan terus kehilangan dirimu. Hidup di dunia yang penuh dengan kesepian, rasa sakit, ketidakpastian, terkurung seperti penjara karena ada bahaya di luar sana ... siapa juga yang mau? Kumohon, aku ingin bermain lagi bersamamu, Ayshe."

Ayshe belum membalas, hanya memandang Norman dengan senyum sederhana. Perlahan, ia meraih telapak tangan kanan Norman dan menggenggamnya di dadanya. Tindakan Ayshe ini membuat Norman membeku.

"Kau tahu kunang-kunang, Norman? Kunang-kunang yang sering kita pandangi dulu? Begitulah dengan kehidupan. Hidup itu seperti kunang-kunang. Saat jalan yang ada di depan kita benderang, kita bisa melihat dengan benar. Tetapi bagaimana jika jalan itu penuh dengan kegelapan? Maka kita harus memiliki solusi lain. Kita harus menyalakan cahaya dari dalam diri kita sendiri. Kita harus memiliki mimpi dan percaya bahwa harapan akan selalu ada.

"Jangan melarikan diri. Sesulit apapun masalah yang kita dapatkan, kita harus menghadapinya. Kehidupan memang keras, tapi tidak lantas membuat kita pantas menyerah. Seandainya kunang-kunang mati, lalu apa yang akan terjadi? Seandainya kita putus asa, seandainya mimpi dan harapan kita padam, bagaimana kita akan berani menghadapi kehidupan?"

Genggaman Ayshe pada tangan Norman semakin erat. Sedangkan Norman sendiri hanya dapat mematung. Benar-benar mematung.

"Kehidupan mungkin penuh dengan misteri, tapi juga sangat berharga. Mendapatkan kesempatan untuk bernapas, mempunyai orangtua, teman-teman, berpetualang—semuanya adalah anugerah terbesar, Norman. Bahkan jika kita tidak mendapat perhatian dari siapapun, hanya hidup sebatang kara dan menjalajahi dunia yang penuh dengan tantangan dan pesona, kita harus tetap bersyukur. Kelahiran dan kematian selalu terjadi. Kesedihan dan kebahagiaan datang silih berganti. Demikianlah kehidupan akan binasa dan kemudian bersemi.

"Tidakkah kau melihat pelangi yang berwarna-warni setelah hujan turun? Tidakkah kau melihat hujan yang tercurah dari awan yang mendung? Tidakkah kau melihat bintang-bintang yang gemerlapan saat malam hari? Seringkali kita hanya melihat ke bawah dan sibuk dengan masalah kita sendiri, sampai-sampai kita lupa untuk melihat ke atas, tempat di mana jawaban atas semua masalah itu berada.

"Bukankah kau ingin menjadi seperti ayahmu, Norman? Kau ingin tumbuh dewasa dan pintar, karena itulah kau terus belajar setiap hari. Kau ingin masa depanmu menjadi cerah. Kau ingin keluar dari kesepian, karena itulah kau berteman. Kalau kau berhenti sampai di sini, akan jadi bagaimana dirimu nanti? Bagaimana mimpi-mimpimu bisa tercapai? Ada satu alasan bagimu untuk menyerah, tetapi masih ada seribu alasan bagimu untuk terus melangkah."

Ayshe melepaskan genggamannya tepat saat embusan angin mengombakkan anak-anak rambut.

"Setelah ini, kita akan segera berpisah."

Norman menggeleng kuat. "Tidak. Aku ingin ikut denganmu."

"Berjanjilah kau akan terus hidup."

"Ayshe!"

Norman mencoba meraih jemari gadis kecil itu, tetapi yang ia dapatkan adalah udara kosong. Citra Ayshe berangsur-angsur memudar dari pandangannya.

"Selama kau terus bersinar, selama kau masih memiliki mimpi dan harapan, maka selama itulah kau harus terus berjuang untuk tetap hidup." Sembari tersenyum, Ayshe melambaikan tangan. "Selamat tinggal, Norman."

Kemudian, hampa.

Barangkali mereka telah keluar dari dunia peri dan kini terjebak di lubang kelinci. Ayshe benar-benar telah pergi, tetapi Norman masih ada di sini.

Entah mengapa, Norman tidak menangis. Dadanya tidak lagi sesak atau merasa kehilangan. Barangkali pula ia baru saja belajar mengenai arti 'merelakan'. Meskipun Norman tidak akan bertemu dengan Ayshe lagi, tetapi dalam hati ia berjanji akan selalu mengingat Ayshe sebagai salah satu teman terbaiknya.

Tidak ada jejak air mata.

Tidak ada kesedihan yang berlama-lama memenjara.

Ketika bayangan Ayshe sempurna lenyap, meskipun agak terlambat, Norman menemukan dirinya balas melambaikan tangan dan tersenyum.

"Selamat tinggal, Ayshe."

.

.

.

Malam yang panjang belum juga berakhir. Sebagaimana malam pada seminggu yang lalu, di mana James menemukan Norman terluka, hingga sekarang pun ia masih menyimpan beberapa ketakutan. Dikatakan 'beberapa', karena memang ada lebih dari satu ketakutan yang saat ini ia rasakan.

Beberapa ketakutan yang kecil adalah rasa takut akan umur yang saban hari kian berkurang. Beberapa ketakutan yang besar adalah rasa takut akan bahaya yang mengancam nyawa. Beberapa ketakutan yang lebih besar lagi adalah rasa takut akan kehilangan.

Sepanjang hidupnya, James sudah mengalami banyak kehilangan; orangtua, adik kandung, istri, juga rekan-rekannya—daftar sosok yang berharga akan terus bertambah.

Setiap kehilangan selalu memiliki aroma yang sama. Mula-mula itu berupa kesedihan, tetapi semakin lama berubah menjadi kekosongan, seolah suatu sudut di hatinya yang terdalam telah diambil alih iblis berwujud lubang permanen. Lubang itu selamanya akan menganga dan tidak dapat terisi oleh apapun. James bisa saja mengabaikan perasaan hampa semacam itu dan menjalani hari seperti sedia kala, tetapi ia tidak akan mungkin pernah dapat terbiasa.

Dan kini, duduk menunggu di samping putra tercintanya, sekali lagi James merasa ketakutan membayangi setiap napas yang dihirupnya. Rasa takut akan kehilangan.

James sangat mencemaskan Norman.

Setibanya di mansion, luka-luka Norman segera diobati. Di dalam kamar yang penuh dengan peralatan pengobatan canggih, ia dirawat dengan lebih intens. Semula James optimis bahwa Norman akan sembuh. Ia tahu putranya adalah anak yang kuat. Namun, lima hari berselang dan Norman belum juga sadar, James meragukan keoptimisannya.

Kondisi Norman sangat kritis. Menurut Vincent, selain terkena serangan demon, sepertinya Norman sangat terguncang hingga syok. Sudah lima hari Norman tidak sadarkan diri dan James tidak tahu kapan putranya akan terbangun. Ia terus berdoa dan memohon, tetapi sepertinya itu tidak ada gunanya.

Secara bertahap, James perlahan mengerti mengapa permohonannya tidak segera terkabul. Itu karena ia terlalu egois. Sungguh bodoh dirinya, berani-beraninya meramalkan takdir. Sombong sekali jika dengan peralatan canggih atau modern segalanya menjadi beres. James lupa jika kesembuhan tidak mungkin berada di tangan makhluk yang fana. Penantian panjang yang penuh dengan memori buruk mengenai masa lalunya ia yakini sebagai salah satu hukuman.

James meraih tangan putranya dan menggenggamnya. Tubuh Norman penuh dengan perban untuk menutupi luka dan memar. Yang paling parah adalah luka di bagian punggung. Luka itu menyebabkan Norman harus terbaring agak miring. Melihat berbagai selang yang terpasang di hidung dan dada putranya, James merasa seolah-olah jantungnya dapat berhenti kapan saja.

Beberapa kali, saat sedang menunggu Norman dan tak sengaja tertidur, James akan terbangun mendadak, sembari berpikiran buruk tentang mesin-mesin yang menyokong kehidupan putranya berhenti bekerja. Ia baru akan lega setelah mendengar mesin-mesin tersebut masih berbunyi dengan ritme konstan.

Dan selama lima hari itulah, James mendapat laporan jika Ray dan Emma berusaha mengunjungi mansion.

Dasar anak-anak keras kepala, pikir James. Padahal, ia sudah berkata kepada anak buahnya bahwa mereka tidak diperbolehkan masuk, tetapi mereka bersikeras datang setiap hari, memaksa untuk menjenguk Norman. James yang tidak menginginkan adanya masalah tambahan, menyuruh anak buahnya memperketat penjagaan di gerbang mansion.

Meskipun keadaan sudah sangat larut atau meskipun ia telah menyadari kesalahannya, James masih berharap keajaiban dapat tercipta. Ia berharap Norman akan segera sadar.

Terkadang, saat James tengah melalui hari yang penuh dengan kesedihan, ia dapat mengingat masa kanak-kanaknya dulu dengan benderang.

James masih ingat, menjelang tidur, ia dan Peter sering berfantasi tentang sesosok malaikat berjubah putih, bercahaya, yang tidak pernah tidur. Mereka berpendapat bahwa malaikat itu akan mengintip jiwa-jiwa yang terlelap dari balik jendela kamar, kemudian mencatat kebahagiaan yang akan diberikan kepada jiwa-jiwa tersebut keesokan harinya.

Demikianlah James menghabiskan kesunyiannya saat menunggu Norman dengan berimajinasi. Ia mengakui jika itu membuatnya seperti anak kecil. Oh, betapa ia begitu merindukan masa-masa itu, di mana pikirannya mengawang bebas, tak terikat dengan hukum atau aturan.

Besoknya, James tetap mengunjungi Norman. Ia mengupas apel dan meletakkannya di meja.

Besoknya lagi, James mengganti vas bunga. Kemarin, ia menyuruh Barbara pergi ke kota dan membeli bunga dengan aroma terbaik.

Besok-besoknya lagi, James jatuh tertidur dan bermimpi melihat malaikat berjubah putih yang memberinya sekeranjang biskuit dengan selai madu. Ia yakin sempat bersalaman dengan malaikat tersebut.

Sepertinya, malaikat bercahaya itu benar-benar ada. Sebab, pada hari kesembilan, pada suatu sore yang lembut, keajaiban yang sangat diharapkan James menjadi kenyataan.

.

.

.

Ketika Norman membuka mata, dunia terlihat pecah-pecah. Kepalanya terasa berat dan ia tidak dapat menggerakkan tangannya, seakan dirinya telah sekian lama terbelenggu. Posisi tubuhnya sedikit miring dan ada sesuatu—semacam benda empuk—yang mengganjal punggungnya.

Mungkin aku sudah mati.

Itulah yang awalnya Norman pikirkan, tetapi ketika ia hendak menggeser tubuhnya untuk memperoleh posisi yang nyaman, rasa sakit segera menjalari kaki dan punggung, membuat matanya memejam sesaat demi menahan rasa sakit itu. Ia pun merintih tanpa sadar.

Ah, ternyata aku belum mati.

Seorang pria paruh baya yang duduk di samping ranjang mendadak terbangun dari tidurnya. Norman segera mengenalinya sebagai James, ayahnya.

"Norman, kau sudah sadar? Kau bisa melihatku? Kau bisa mendengar suaraku?"

Melihat ayahnya yang diliputi kecemasan, detik ini juga Norman merasa ingin menangis. Ia hanya mampu membalas pertanyaan itu dengan anggukan lemah.

"Syukurlah," James mendesah. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang kelelahan. "Tidak apa-apa, Nak."

Begitu menyadari jika ia masih hidup, Norman ingin bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa kepala, tangan, dan kaki, yang ada ditubuhnya benar-benar miliknya, benar-benar nyata dan bukan khayalan seperti dalam mimpinya. Berniat duduk, Norman hendak menjadikan siku tangannya sebagai tumpuan, tetapi ia gagal melakukannya. Bahunya sangat lemas.

"Jangan memaksakan diri kalau belum bisa. Hati-hati."

Norman menurut, kembali ke posisi semua, dibantu oleh James. Namun, beberapa detik setelahnya, karena gerakan kecil itu, ia kembali merintih. Punggungnya terasa perih.

"Sakit, Ayah. Sakit sekali."

James tampak tidak tega melihat Norman yang kesakitan. Dielusnya rambut putranya dengan sayang. "Semuanya akan baik-baik saja, Norman."

Kali ini Norman tidak sanggup membalas apapun. Ia hanya meneteskan air matanya karena merasa lemah dan tidak berdaya.

"Istirahatlah lagi. Kau anak yang kuat. Kau pasti akan segera sembuh," ucap James.

Ruangan sunyi sesaat. Norman teringat dengan mimpinya.

"Ayah, aku tadi bertemu dengan Ayshe. Aku melihatnya memakai gaun putih dan ia tinggal di dalam istana."

James mendengarkan sembari tetap mengelus rambut Norman. "Lalu?"

"Aku bilang kalau aku ingin tinggal di istana itu bersamanya, aku ingin bermain bersamanya lagi, tapi Ayshe menolakku."

Norman kemudian teringat dengan petualangannya ke dalam hutan bersama Ray dan Emma. Ia merasa sangat bersalah karena telah melanggar larangan ayahnya.

"Ini semua salahku. Maafkan aku, Ayah. Aku ... aku sudah—"

"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja sekarang. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."

"Tapi Ayah—"

James menggenggam tangan Norman, kemudian mengecup kening putranya dengan lembut. "Tidurlah, Nak."

Lagi-lagi Norman hanya dapat meneteskan air matanya.

.

.

.

Dan tidak ada yang lebih menyakitkan dalam kisah ini selain menyaksikan sebuah petualangan yang harus terhenti. Bukan sebab lembar adegannya telah habis diperagakan, melainkan karena salah satu tokoh yang meminta mundur dari peran utama.

Seandainya kisah itu adalah dongeng, maka tidak akan menjadi masalah. Siapa pun dengan senang hati akan menulis dongeng lain sendiri, melanjutkanya dengan imajinasi menggelora yang ada di kepala. Tetapi ketika kisah tersebut dihadapkan dengan kenyataan, yang dapat dilakukan hanyalah menunduk, tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Pergumulan itulah yang tengah dirasakan Ray dan Emma. Seperti biasa, pada sore hari di musim panas yang masih cerah, mereka berkumpul di bawah pohon berdahan rendah, di pinggiran lapangan, tempat biasanya mereka berdua bermain bersama. Pagi hingga siang mereka gunakan untuk membantu membersihkan rumah atau pergi ke kebun, sehingga waktu yang ideal untuk bermain tanpa gangguan adalah saat sore.

"Aku tidak bermaksud mendesak atau bagaimana, tapi apa kau sudah punya rencana lain, Ray?" Emma, yang sedang berbaring santai di antara rerumputan, memutuskan melempar tanya setelah sedari tadi hanya diam. "Rencana yang lebih masuk akal maksudku," tambahnya.

Ray menggosok dahinya dengan telapak tangan, tidak begitu bersemangat. "Kau selalu menyuruh-nyuruhku membuat rencana, memangnya kau tidak punya rencana sendiri, Em?"

"Kau tidak lihat ya, kalau rencanaku selalu gagal," Emma tersenyum kecut. "Kupikir kau mungkin punya rencana yang lebih bagus."

"Kalau aku sudah punya, pasti kau juga kuberitahu."

"Kalau begitu, sekarang pikirkanlah dengan serius."

"Maka dari itu, aku sedang memikirkannya, bodoh."

"Kau memikirkannya setiap hari, kan?"

"Setiap saat."

Emma memainkan ujung pita pada pakaiannya. "Aku hanya takut."

Tentu saja Ray tahu apa yang Emma takutkan. Mengingat bagaimana mereka berulangkali mengunjungi Norman dan ternyata yang mereka dapatkan adalah pengusiran, tentu saja mereka harus berpikir seribu kali sebelum bertindak.

"Kau tahu, sepertinya Paman James sangat marah kepada kita, Ray."

"Aku tahu. Kita hanya harus lebih berhati-hati. Kejadian kemarin adalah salahku. Aku lupa memperhitungkan keberadaan anjing-anjing itu." Ray tampak kesal sendiri.

"Bukan salahmu saja, kok. Kalau aku lebih tanggap, kita pasti bisa kabur lebih cepat sebelum anjing-anjing itu mengejar kita."

"Paman James sangat sulit untuk ditembus."

"Tapi bukan berarti tidak mungkin, kan?"

Ray mengangguk, kemudian ia ikut berbaring di sebelah Emma. "Aku penasaran. Bagaimana kabar Norman sekarang."

Mendengar nama anak itu disebut, rasa bersalah segera menggelayuti dada Emma. Apakah ia harus melemparkan semua tanggung jawab kepada Norman seorang? Anak sekecil itu? Bukankah itu sungguh tidak adil?

Emma memejamkan mata. Seharusnya ia lebih memercayai Norman dan melindunginya.

Ah, seandainya saja waktu bisa diputar ulang ...

Dan bukan hanya Emma. Sejak mereka keluar dari hutan, Ray juga tidak pernah bebas dari rasa bersalah. Ialah yang telah memulai semua masalah ini. Seandainya ia tidak menanam kecurigaan dari awal—betapapun sulitnya untuk menahan dorongan itu—maka niscaya semua ini tidak akan terjadi.

Norman adalah anak yang baik. Itu adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Tetapi, sungguh bodoh, Ray malah membangun teori tidak jelas dan membiarkan imajinasinya berkelian. Seharusnya ia tidak perlu meragukan ketulusan Norman yang pada akhirnya menyulut pertengkaran.

Pada malam itu, di dalam hutan yang dicekam kengerian, ketika Ray melihat Norman pingsan bersimbah darah, di mana ia menyadari bagaimana Norman yang berjuang mati-matian melindunginya dan Emma dari serangan demon, Ray merasa tenggorokannya seakan tercekik. Ia sungguh ketakutan kalau Norman—kalau Norman ...

Ray bahkan tidak sanggup mengatakannya.

Itu adalah malam yang penuh tragedi sampai-sampai rasanya seperti mimpi. Mimpi buruk yang menghantui setiap menjelang tidur.

Mereka berdua terus berdiskusi, membuat rencana yang sekiranya cukup bagus, bagaimana cara agar dapat bertemu dengan Norman. Tetapi, mengingat kondisi Norman yang parah dan ayahnya yang selalu mengusir mereka, Ray dan Emma tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berharap, berharap, dan terus berharap, bahwa keajaiban akan datang.

Keduanya senantiasa berdoa setiap hari, memohon kesembuhan untuk Norman.

Emma membuka mata. Ia teringat dengan sesuatu.

Ada yang pernah berkata jika di mana ada doa, di situlah harapan berada. Harapan mungkin dapat membuat kedua kaki memijak dengan gagah berani, lalu meraih mimpi-mimpi. Tetapi apa gunanya memijak jika pada akhirnya pijakan tersebut tidak dapat digunakan untuk melangkah? Apa gunanya mimpi jika itu hanyalah mimpi yang tidak pasti?

Seandainya Norman sembuh, mungkinkah mereka dapat bertemu lagi?

.

.

.

Tiga hari sesudah siuman, Norman sudah bisa duduk dan menggerakkan bahunya. Selama tiga hari itu pulalah, ia berturut-turut menanyakan kabar Ray dan Emma. Namun, tidak ada balasan. Ayahnya hanya menyuruhnya istirahat dan makan dengan baik.

Pada hari keempat, Norman kembali bertanya. Ia memandang penuh harap kepada ayahnya yang sedang mengganti air pada vas bunga. Seperti hari-hari sebelumnya, awalnya James bungkam, tetapi mungkin karena beliau sudah bosan dengan desakan pertanyaan Norman, beliau hanya menjawab singkat, "Mereka baik-baik saja."

Norman tidak merasa puas tetapi ia tahu jika ayahnya masih marah—entah mengapa. Ia pun hanya dapat menunduk. "Mereka pasti ketakutan setelah melihat demon."

Noman menyibak selimut. "Ayah, bolehkah aku bertemu dengan Ray dan Emma?"

James mendesah. "Kau belum sembuh benar, Norman. Lagi pula, bukankah sekarang Ray dan Emma membencimu? Kau membohongi mereka tentang pekerjaan ayah yang sebenarnya, sehingga mereka marah."

"Aku tidak percaya."

"Setelah mengetahui kebenarannya, bukankah wajar jika Ray dan Emma merasa ketakutan? Mereka tidak berani datang ke sini. Mereka tidak akan menemui lagi."

"Pasti Ayah hanya berbohong."

"Ayah tidak berbohong. Itulah kenyataannya. Buktinya, sampai sekarang mereka tidak mencoba untuk menjengukmu?

"Itu karena Ayah melarang mereka, kan?"

"Norman, kapan aku pernah membohongimu, Nak?"

Mulut Norman cepat terkatup. Rasanya sungguh kering. Tetapi ia tahu, ucapan ayahnya benar. Apakah ia berharap semua kesalahannya dapat termaafkan begitu saja? Apakah ia mengira Ray dan Emma akan berpura-pura baik kepadanya? Apakah mereka masih mau menganggapnya 'teman', setelah semua yang terjadi?

Pengharapan semu. Tentu saja Ray dan Emma bukanlah anak yang bodoh.

Lagi-lagi begini. Lagi-lagi Norman harus kehilangan teman-temannya. Itu bukan salah siapa-siapa. Itu adalah kesalahannya sendiri. Membayangkan dua anak itu yang tidak akan pernah lagi tersenyum kepadanya membuat Norman merana.

"Ayah, aku ingin bertemu dengan Ray dan Emma."

Seperti bayi saja, merengek dan meminta-minta. Tetapi Norman tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan.

"Aku ingin meminta maaf kepada mereka. Aku ingin menjelaskan segalanya."

"Bagaimana jika mereka tidak mau memaafkanmu? Dan apa lagi yang ingin kau jelaskan?"

Norman terdiam selama beberapa saat. Ia tidak memikirkannya sampai ke sana.

"Ayah ... Ayah boleh marah kepadaku atau menyalahkanku, tapi untuk Ray dan Emma ... tolong jangan salahkan mereka berdua. Mereka tidak tahu apa-apa." Tangisan Norman pecah. "Aku—akulah yang memulai semua ini. Akulah yang sudah menghasut Ray dan Emma pergi ke hutan, mencari kunang-kunang."

Namun, James tidak memberi tanggapan. Setelah menyuruh Norman berbaring dan beristirahat, ia kemudian pergi.

Norman berbaring miring, menatap dinding kamar berwarna putih pucat. Satu tangannya meremas dada dan ia kembali menangis.

Di sini.

Rasanya dingin.

Dingin sekali.

Rasanya sungguh dingin.

Dan sepi.

Norman merasa kesepian. Ia takut membayangkan dirinya di masa depan, di mana ia tidak memiliki seseorang yang turut berjuang di sisinya. Bagaimana ia bisa bertahan dari kekejaman dunia ini jika tidak ada satu pun orang yang akan memercayainya nanti?

Di tengah malam, Norman sering terbangun dengan berkeringat dingin karena mimpi buruk. Ia melihat Ray dan Emma yang mati diterkam demon. Rasa frustrasi mulai menggerogoti tubuhnya. Ia merasa tidak berdaya.

Semua ini menyakitkan, batin Norman. Bukankah akan lebih baik seandainya pada waktu itu ia mati bersama Ayshe? Ia tidak perlu bertemu dengan Ray dan Emma, tidak perlu pula berteman dengan mereka dan menyimpan begitu banyak rahasia.

Tetapi Norman juga ingat jika Ayshe menyuruhnya untuk bertahan hidup.

Norman semakin putus asa.

Secara bertahap, kondisi fisik Norman semakin membaik. Luka-lukanya hampir sembuh, kecuali luka di punggungnya yang masih harus berganti perban setiap dua hari sekali. Dalam waktu enam belas hari, ia sudah mulai bisa berjalan, meski harus memakai alat bantu.

Namun, ketika permohonan Norman untuk bertemu dengan Ray dan Emma tidak juga kunjung dikabulkan, pada suatu hari, ketika James sedang menyuapinya bubur, ia memuntahkan makanan tersebut.

Norman kemudian pingsan.

.

.

.

Ini seperti mengulang kisah lama.

James sangat khawatir dengan keadaan Norman yang menurun. Ia ingat, dulu sekali, ketika Norman masih berumur tujuh tahun, putranya itu pernah berada dalam kondisi yang hampir sama dengan ini. Norman menolak makan selama berhari-hari dan akhirnya jatuh sakit.

Menurut dokter, Norman mengalami anoreksia. James sangat terguncang.

Akar penyebabnya hanya satu; Norman merasa penasaran dengan ibunya.

James jarang cerita soal ibu Norman kecuali penjelasan singkat bahwa ibunya meninggal saat melahirkan Norman. Ternyata cerita sederhana itu membuat Norman memikirkannya sedemikian dalam. Putranya merasa bersalah karena menjadi penyebab kematian ibunya (walaupun James tidak menganggapnya demikian).

Untunglah kejadian tersebut tidak berlangsung lama. James berhasil menenangkan Norman dengan berkisah mengenai perjuangan ibunya saat melahirkannya. Betapa ibunya sangat menyayanginya. Betapa perempuan itu ingin putranya lahir dengan selamat dan hidup sehat. Meskipun James tidak bercerita dengan sangat detail, Norman sudah cukup memahami situasinya.

Faktanya, James tidak sanggup bercerita tanpa menangis. Istrinya memang diketahui mengidap penyakit asma, dan dalam proses melahirkan Norman, perempuan itu benar-benar harus berjuang antara hidup dan mati. Sesungguhnya ada kesempatan baginya untuk hidup, tetapi taruhannya adalah bayi yang dikandungnya harus mati. Tentu saja ia tidak mau. Jadilah sang ibu mengorbankan diri.

Dan sekarang, Norman sama sekali tidak berselera makan. Lebih tepatnya ia tidak mau. Setiap kali James atau Barbara menyuapinya, pasti Norman akan memuntahkannya. Sehingga dalam seminggu setelahnya, ia memperoleh nutrisi melalui bantuan infus dan suntik.

James merasa sangat bersalah.

Ditambah lagi, Norman juga menolak berbicara dengannya. Ia tidak pernah tertawa atau tersenyum. Tidak ingin tahu dengan apapun, sekalipun James sudah membujuknya. Putranya terlihat sangat putus asa.

Mau tidak mau, James merasa tidak tega. Ia sangat menyayangi Norman. Di dunia yang serba fana ini, Norman adalah satu-satunya keluarga yang ia punya, harta yang paling berharga. Setiap kali Norman melengos, hati James bagai tersayat. Tidak ada lagi binar kehidupan pada bola mata putranya.

Akhirnya, setelah merenungkan dan mempertimbangkan berkali-kali, James tahu ia harus bertindak, membuka hatinya. Sudah waktunya memang, memaafkan luka lama, membiarkannya menutup perlahan-lahan, lantas melupakannya menjadi serpihan masa lalu.

"Norman, bisakah kau mendengarkan, Ayah?" James menggenggam tangan Norman. Rasanya sungguh dingin, seakan-akan ia menggenggam tangan mayat. Dan James benar-benar tidak menyukainya.

Norman hanya menatap dinding dengan hampa.

"Kalau kau sangat ingin bertemu dengan Ray dan Emma, baiklah, kali ini ayah akan mengizinkanmu."

Putranya belum menjawab, tetapi kepalanya bergerak sedikit.

"Aku akhirnya sadar kalau aku ini bukanlah orang yang baik. Aku merasa gagal menjadi ayah, atau seseorang. Jika saja aku lebih kuat, jika saja aku merencanakan dengan lebih baik, aku tentu bisa menjaga semua yang kumiliki. Tetapi pada kenyataannya, aku justru banyak mengalami kehilangan. Karena dunia masih seperti ini, satu per satu, orang-orang yang kusayangi meninggalkanku."

"Ayah ..."

"Norman, maafkan ayahmu ini karena selalu mengekang keinginanmu. Mungkin bagimu semua ini sangatlah berat. Menjalani hari-hari dengan batas-batas yang tidak boleh kau lewati. Ada aturan yang harus kau patuhi dan ada banyak larangan yang harus kau jauhi. Tetapi ketahuilah, aku melakukannya semata-mata hanya untuk membuatmu merasa aman. Aku ingin menjagamu agar tetap hidup. Aku ingin selalu melindungimu.

"Dengan caraku ini, mungkin kau tidak bisa menjalani kehidupan senormal anak-anak pada umumnya. Aku menuntutmu untuk terus bersikap dewasa. Aku lupa ... aku lupa kalau kau juga membutuhkan kebebasan. Aku lupa kalau kau seharusnya memiliki pilihan. Aku terlalu memikirkan keselamatanmu daripada kebahagiaanmu sampai-sampai aku melupakan hal yang sangat penting."

James tertawa pahit. "Bodoh sekali, kan? Tetapi begitulah. Meskipun aku sudah menyadari kesalahanku atau keegoisanku, aku terus saja melakukan kesalahan. Dan meskipun sudah ribuan kali aku menyesalinya, atau memperbaikinya, tentu saja kesalahan yang lain tidak akan pernah habis."

"Ayah ... aku ... aku—"

"Tidak apa-apa, Nak. Tidak apa-apa. Kau bebas membenciku. Kau tidak perlu memaafkanku. Tapi satu hal yang harus kau tahu; apapun yang kau lakukan dulu, kemarin, besok, atau seterusnya—aku akan selalu menyayangimu, Nak."

Mendengar penuturan James, tanpa sadar Norman meneteskan air matanya. Dalam kebahagiaan dan penyesalan yang membuncah bersamaan, kedua tangannya sudah bergerak memeluk ayahnya. James membalas dengan dekapan erat.

"Tapi berjanjilah, Norman, mulai sekarang, kau harus menjaga dirimu sendiri. Jangan mengulangi lagi kesalahanmu. Selalu ingat peraturan dari ayah dan jadilah anak yang baik."

Norman sesenggukan. Ia memeluk James lebih kencang. Suaranya parau saat membalas, "Aku berjanji, Ayah."

.

.

.

Sore itu, Emma sedang mencabuti rumput di halaman belakang rumahnya. Sebenarnya ini bukanlah kegiatan favoritnya (siapa pula yang akan suka jika harus berjongkok selama berjam-jam dengan keadaan tangan yang kotor), tetapi karena ini perintah dari abangnya, maka ia tidak memiliki pilihan lain. Ketika ia berpikir untuk berhenti lebih awal dan melanjutkan besok saja, saat itulah ia mendengar abangnya berteriak.

"Emma!"

Tepat sekali, pikirnya sambil tersenyum. Pasti abangnya menyuruhnya mandi.

Emma menyeka keringat. Lagi pula, matahari sebentar lagi akan tenggelam.

Namun dugaannya tidak sepenuhnya benar. Yuugo memang menyuruhnya segera mandi, tetapi bukan hanya itu.

"Kau mendapat undangan, Em."

"Eh?"

"Aku sendiri juga bingung." Yuugo duduk di teras, lalu meletakkan cangkulnya yang kotor di tembok. "Apakah hari ini putra Tuan James sedang merayakan ulang tahun?"

"Kurasa tidak."

Ulang tahun Norman masih tanggal 21 Maret, kan?

"Aneh. Tadi Zazie datang dan memberi undangan."

"Undangan apa?"

"Sepertinya Tuan James secara khusus mengundangmu ke mansionnya." Yuugo menyerahkan selembar kartu kepada Emma."Ini. Kau baca sendiri."

Emma menerima kartu tersebut. Begitu ia selesai membaca, jantungnya serasa meletus saking girangnya.

Kalau benar begini, aku harus cepat bersiap-siap!

Setelah mandi dan mengenakan pakaian terbaik, Emma pergi ke rumah Ray, sesuai arahan dari abangnya. Rencananya, ia dan Ray akan dijemput Zazie, jadi mereka tidak perlu bersepeda.

Emma bersyukur bahwa Ray juga memakai pakaian terbaiknya. Barangkali, sebelum mengetahui apa yang akan terjadi, setidaknya berpenampilan rapi akan mengurangi kegugupan. Sedemikian lamanya mereka bersahabat sehingga pemikiran mereka pun banyak yang serupa.

Sepanjang perjalanan menuju mansion, Emma tidak berhenti melirik keluar jendela mobil. Ia benar-benar tidak memiliki ide akan mendapat kejutan seperti ini. Seakan-akan perjuangannya menunggu telah terbayarkan.

Emma melihat Ray yang juga tampak tidak tenang dibalik wajah santainya. Ia ingin sekali berdiskusi tentang bagaimana sikap yang seharusnya mereka lakukan nanti. Ia memang senang karena sebentar lagi akan bertemu Norman, tetapi ia juga takut. Semacam, apakah dengan adanya undangan ini, itu artinya mereka sedang merayakan sesuatu ataukah malah akan dihukum.

Sayangnya, Ray terus membaku meskipun Emma sudah menarik bajunya berkali-kali, meminta perhatian. Bahkan jika Zazie-lah yang menyupir, ia ragu-ragu untuk mengeluarkan sepatah kata.

"Jangan takut."

Emma nyaris terlonjak. Mendengar suara Zazie yang agak serak-serak selalu membuatnya merinding (walaupun ia tahu jika Zazie tidak sedang menakutinya).

Mereka kembali dicekam keheningan. Selama sepuluh menit berikutnya, Emma mengumpulkan keberanian untuk bertanya.

"Um, Zazie, bagaimana keadaan Norman sekarang?"

"Dia baik-baik saja."

Hanya itu percakapan mereka. Zazie memang tidak pernah banyak bicara, tetapi jawaban tersebut sudah cukup menenangkan Emma. Untuk sementara.

Tiba di halaman mansion, Ray dan Emma digiring masuk. Ayah Norman menyambut kedatangan mereka dengan ramah, seolah-olah mereka tidak pernah melakukan kesalahan apapun sebelumnya.

Apakah aku sedang berkhayal?

Berjalan di belakang Ray, Emma melangkah hati-hati. Ia mungkin telah berulang kali mengunjungi rumah Norman, tetapi ia masih saja terkagum dengan betapa besarnya ukurannya atau betapa berkelasnya desain interiornya.

"Norman pasti akan sangat senang bertemu dengan kalian." James membukakan pintu kamar Norman. "Masuklah. Putraku ada di dalam."

Ray masuk lebih dulu, sementara Emma mengekorinya. Di belakang, James kemudian menutup pintu.

"Ray, Emma."

Suara itu sangatlah akrab di telinga Emma. Ia dan Ray bergegas mendekat.

"Norman?"

Anak laki-laki yang tengah duduk di atas ranjang tersenyum. "Aku sudah kalian menunggu sejak tadi."

Emma terkejut. Walaupun Zazie berkata Norman sudah baik-baik saja, tetapi ia tampak sangat kurus. Dan bukan hanya itu, Emma melihat lengan kanan Norman yang masih diinfus.

"Bagaimana kabar kalian?" tanya Norman riang.

"Seharusnya kami yang menanyakannya," Ray menyela dengan nada sedih. "Sepertinya Zazie sudah berbohong."

"Memangnya apa yang Zazie katakan?"

"Dia bilang kalau kau sudah sembuh, tapi kenyataannya—"

"Ah, Zazie tidak salah, kok. Aku memang sudah sembuh, tapi ayahku memaksaku untuk tetap menggunakan ini." Norman mengangkat tangan kanannya dengan agak jengkel.

"Jadi begitu?" Emma memastikan.

Norman tersenyum. "Aku sungguh tidak apa-apa."

Ada sesuatu yang membuat Emma tidak nyaman. Ia ingin mengungkapkan kejujurannya yang terdalam, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara memulainya. Tanpa sadar, telapak tangannya mengepal selama sesaat.

"Norman, um, tentang kejadian di hutan pada waktu itu ... aku meminta maaf."

Ray-lah yang mengucapkannya terlebih dahulu.

"Aku juga," Emma menunduk. "Aku benar-benar meminta maaf karena pada waktu itu aku sempat tidak memercayaimu."

"Itu bukan salahmu, Emma," Norman mejawab santai.

"Aku memang bodoh sekali karena sudah meragukanmu."

"Itu juga bukan salahmu, Ray. Dilihat dari sudut pandang manapun, akulah yang bersalah. Akulah yang seharusnya meminta maaf."

Baik Ray maupun Emma tidak membalas. Belum, mereka tahu jika pada titik ini, ada sesuatu yang ingin Norman sampaikan.

"Sebelumnya, terima kasih karena sudah memenuhi undanganku. Sebenarnya aku ingin bertemu dengan kalian sejak kemarin-kemarin, tapi ayahku ingin memastikan kondisiku baik-baik saja, jadi aku harus menundanya." Norman mengambil jeda dengan menarik napas panjang. "Aku meminta maaf karena sudah melibatkan kalian dalam rencanaku. Petualangan kita pada waktu itu adalah kesalahanku. Aku tidak berani berterus terang sejak awal dan akhirnya malah membahayakan nyawa kalian.

"Aku tidak meminta kalian memaafkanku karena aku sendiri tidak akan mungkin bisa memaafkan diriku. Aku terlalu ceroboh. Aku tergoda dengan keinginan yang menyesatkan. Aku sangat tahu, tapi aku tidak mau tahu. Aku sadar sikapku sangat pengecut."

"Itu tidak sepenuhnya benar," sangkal Ray. "Justru kaulah yang paling berani di antara kita bertiga. Bisa mengelabuhi dan menjebak demon, itu adalah perbuatan yang berani dan keren."

Norman tersenyum malu-malu.

"Dan bagaimana kau berkata tidak akan bisa memaafkan dirimu sendiri, Norman?" Emma duduk di tepi ranjang. "Tanpa kau meminta maaf, aku dan Ray sudah memaafkanmu."

"Emma benar. Jangan menghukum dirimu sendiri, Norman. Yang sudah terjadi, maka terjadilah. Yeah, mungkin ada yang berkata jika penyesalan memang perlu dan apa yang sudah terjadi sebaiknya tetap dihargai, tapi "

"Ray, bisa-bisanya saat ini kau berceramah," Emma mendengkus. "Lama-lama kau semakin mirip dengan Mama-mu, tahu."

"Eh, memangnya begitu?" Ray melipat tangan, enggan menggubris godaan Emma. Pandangannya beralih kepada Norman lagi. "Tapi berjanjilah. Mulai sekarang, jangan melakukan tindakan nekat lagi."

"Aku berjanji tidak akan melakukannya, Ray."

Emma memegang pundak Norman. "Kami berdua sangat menyayangimu. Apa yang bisa kami lakukan jika kami kehilangan teman sebaik dirimu?"

Pada detik-detik yang tak kasat mata, sebuah lubang yang selama ini terkunci di dalam hati Norman pelan-pelan terbuka. Kehadiran Ray dan Emma bagaikan benang-benang ajaib yang secara lembut telah mengisi lubang tersebut, menjahitnya, kemudian membuat hati Norman kembali utuh dan hidup.

"Norman, kami sangat senang kau baik-baik saja," kata Emma sungguh-sungguh. Perlahan, ia memeluk Norman lebih erat, air matanya mulai mengalir.

"Aku juga senang kalian berbaik hati mengunjungiku." Norman tersenyum lebar. Tangannya yang merangkul leher Ray dan Emma menebarkan kehangatan. "Lain kali, ayo kita berpetualang bersama lagi."

Ray menjitak kepala Norman dengan pelan. "Dasar, kau ini memang tidak pernah kapok, ya."

Norman nyengir. "Jika itu bersama kalian, mana mungkin aku akan kapok."

"Tapi ingat, jangan berlebihan." Emma tiba-tiba berubah menjadi galak.

"Aku tahu, aku tahu."

Pelukan mungkin telah usai, tetapi tawa mereka terus berderai.[]