"Aku datang untukmu, Hinata."

"Untukku?" Hinata menatap penuh tanda tanya. Apa maksud dari perkataan lelaki bersurai perak itu? Mengapa dia datang untuk dirinya?

Hinata mundur satu langkah di saat lelaki itu maju satu langkah.

"Menikahlah denganku."

"Apa...?" Hinata tersentak hebat pada satu kalimat itu. Otaknya mencoba mencerna apa maksud dari kalimat tadi. Lelaki ini muncul dan melamarnya. Sungguhkah? Tapi mengapa?

Toneri pov

.

.

.

"Dia sangat manis sekali." Mata bulatku terpikat oleh imutnya wajah seorang anak perempuan tak jauh di depan. Anak kecil itu lari kesana dan ke sini menyisir rambut kawannya dan memijit punggung kawan yang lain. "Perempuan berambut pendek indigo itu. Dia sangat imut." Jika dihitung dari tahun manusia, saat ini mungkin umurku hanyalah 10 tahun sedangkan gadis kecil yang aku lihat itu berusia 8 tahun.

"Gadis bermata bulan itu?" ayah menoleh padaku sebelum kembali menatap gadis kecil itu lagi. Aku mengangguk dan ayah yang berdiri di sampingku tertawa kecil. Saat ini kami berada di balik pohon, di bukit tepat di depan sekolah dimana gadis itu berada.

"Apa kau tertarik padanya?" aku bisa merasakan ayah sangat senang melontarkan pertanyaannya. Iya, dia pasti senang karena dia selalu senang ketika melihat anak-anaknya senang.

"Tidak, aku hanya merasa dia lucu." Rasanya seperti tak jujur. Aku tersenyum melihat pipi chubby gadis itu. "Bisakah aku sekolah di sana?" tak sadar pertanyaan ini keluar tanpa aba-aba dan lagi-lagi ayahku terkekeh.

"Tidak, Toneri tapi kelak mungkin kau bisa mempersuntingnya menjadi pendamping hidupmu."

.

.

"Waktu itu aku masih tak mengerti." Mata Toneri terpejam karena ia tak bisa menahan senyuman lucu. Gadis ini masih terlihat sama meski kini rambutnya panjang. Pipinya masih chubby meski tak lagi merah seperti dulu. Matanya masih saja indah seperti pertama kali ia melihatnya.

"Tapi aku menunggu cukup lama untuk hari ini." Di dunianya waktu berjalan lebih lambat ditambah Naruto mengacaukan rencana lamarannya, ia tetap berharap semuanya berjalan sesuai rencana.

"..." Hinata tak tahu harus merespon seperti apa, ia binggung karena tak berhasil mencerna apa yang tengah terjadi tapi ia telah memilih jalan keluar.

Itu adalah

Kabur!

Hinata berbalik dan hendak berlari tapi lelaki itu muncul dengan menghalang jalan. Hinata terkejut dibuatnya. Dia sangat cepat sekali sampai Hinata melewatkan pergerakannya.

"Kau tak harus menjawab sekarang, Hnata. Aku akan menemuimu dua hari lagi dan aku mengharapkan jawaban yang baik darimu." Anggap saja ia mencoba tak memaksa tapi ia tak merasa Hinata boleh menolaknya.

"..." dia menghilang. Hinata menatap ke sekitarnya dari atas ke bawah dan kanan ke kiri, depan ke belakang tapi lelaki itu benar-benar hilang tanpa jejak.

Telapak tangan ia gunakan untuk menutup bibir. Apa yang lebih mengejutkan dari sebuah lamaran adalah lelaki itu sepertinya jauh lebih hebat dari Naruto.

Mengapa ia malah mengkhawatirkan hal itu? Entahlah!

"Naruto?" Naruto dibawa oleh dua Lekaki berbadan besar tadi.

Apakah dia baik-baik saja?

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

CREATURE

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Creature by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 12

.

.

.

Tok

Tok

Tok

Pintu terbuka dan sang tamu masuk tanpa izin sang pemilik kamar.

Naruto, sang pemilik kamar, dia memutar badan memunggungi pintu tepatnya siapa yang masuk ke dalam kamarnya.

"Bolehkah aku tidur di sini malam ini, Naruto?"

"Tidak." Jawab sang empu tanpa menghiraukan sang kakak dengan bantal putih di tangan.

.

.

.

Kamarnya mewah seluas satu rumah Hinata. Hanya ada satu alasan mengapa dia muncul di kamar ini tapi omong-omong soal rumah Hinata.

Naruto mendudukkan dirinya dari posisi baring. Hinata tak bisa tinggal di dalam rumah yang belakang dan depannya runtuh.

"Kau mau kemana?" tanya sang kakak ketika sang adik beranjak pergi.

"Jalan-jalan." Jawabnya acuh keluar melewati sang kakak. Naruto terlalu kesal sedari tadi sampai-sampai ia melupakan Hinata. Apalagi ini sudah cukup larut, ia merasa khawatir.

Tapi mengapa badannya tiba-tiba tak bisa digerakkan?

"Aku tak mengizinkan kau pergi." Seiring ucapan itu kakinya berjalan mundur hingga berakhir di samping asal suara.

.

.

Adiknya pasti sangat kesal sekarang, Toneri tahu itu. Tapi membiarkan dia pergi sekarang bisa memungkinkan bahwa dia tak akan kembali lagi atau mungkin perlu waktu yang lama untuk pulang.

"Aku ingin bicara denganmu." Toneri mengambil tempat di sisi kanan kasur. Dengan satu gerakan tangan lampu yang semula terang menjadi gelap hanya diterangi oleh lampu tidur berwarna merah.

.

.

"..."

"Maafkan aku telah bersikap kasar padamu." Butuh waktu berjam-jam hingga akhirnya Naruto mau duduk di atas kasur di sisi yang lain.

"Tapi tetap saja tingkahmu itu sangat membahayakan." Tambahnya.

"Kau seperti dua bersaudara yang aku temui kemarin. Mereka bersikap baik sekali pada Hinata tapi tidak padaku padahal seharusnya mereka tak begitu ketika tahu aku adalah adikmu. Lalu kemudian kau juga bersikap begitu, aneh sekali." Raut wajah Naruto masam. Mengapa mereka lebih memperhatikan Hinata daripada dirinya?

"Untuk apa kau ke tempat dua bersaudara?" tanya Toneri terkejut. Ia tak menyangka adiknya mau berkunjung ke tempat kaumnya. Dia tak pernah melakukannya.

"Kami mengalami kecelakaan dan kebetulan mereka lewat."

"Kami?" nada Toneri terkejut. "Hinata? Apakah dia baik-baik saja?" Mata Naruto memicing. Dia melakukannya lagi. Jelas-jelas Naruto mengatakan kami tapi mengapa yang dia tanyakan hanya Hinata?

"Iya, KAMI baik-baik saja tapi Hinata diperlakukan seperti ratu sedangkan aku seperti anak punggut." Jawab Naruto penuh penekanan.

"Haha maafkan aku, aku bukan tak mengkhawatirkan dirimu tapi kau adalah adikku, aku yakin kau akan baik-baik saja." Akan Toneri simpulkan Naruto pergi tak lama setelah dirinya pulang dari tempat dua bersaudara itu.

"Siapa Hinata?" pertanyaan itu membuat Toneri tersenyum.

"Apa kau ingat gadis yang pernah kita temui dulu bersama ayah?" Naruto menatap ke atas mencoba mengingat masa lalu.

Naruto pov

"Cih! Apanya yang imut? Lihat wajah merahnya seperti tomat, bahkan terlihat seperti anak babi." Wajahku masam, seperti biasanya. Aku benci semua hal yang bernafas dan juga bernyawa kecuali keluargaku. Aku benci melihat seperti apa kakakku seolah terpikat pada wajah merah bulat itu.

"Adik tak boleh bersikap seperti itu." Pipi kakak membulat, dia tampak tak terima pada komentarku.

"Akan kulempari dia dengan tomat." Tanganku terangkat dan sebuah tomat muncul di telapak tanganku.

Ayah menahan gerak tanganku sebelum aku sempat melayangkan tomat tadi. "Jangan bersikap seperti itu, Naruto. Itu tidak baik."

"Siapa yang perduli baik atau tidak." Begitulah aku menjawab sang ayah, mengabaikan kakak menatapku kesal.

"Kau akan kena karma jika kau melakukan hal buruk pada seseorang."

Naruto pov end

.

.

.

"Oh" Naruto berOria. Ia sepertinya mulai ingat. Ternyata dia, Hinata. Yang masih saja terlihat memikat dan membuat kakaknya menunggu. Tapi sungguhkah sang kakak akan mempersuntingnya?

"..." mengapa tiba-tiba ada yang menganjal di dada Naruto? Rasanya tidak menyenangkan.

"Jadi, Nii-san sungguh akan" tidak tidak. Tolong jangan katakan iya. Jauh dalam hatinya, Naruto berdoa tapi semuanya pupus ketika sang kakak mengangguk.

"Aku akan menikahinya." Naruto tak berniat menjelaskan seperti apa perasaannya sekarang, ia memasang wajah datar.

"Oh" tak berniat bertanya terlalu banyak tapi entah mengapa ia tak bisa menahannya. "Apakah dia menjawab iya?" apa yang ia harapkan? Mengapa ia merasa ingin tahu sekali pada jawaban Hinata.

"Dia belum menjawab tapi mengingat soal Hinata aku lupa memperkenalkan namaku hahaha." Jawab Toneri yang kemudian terkekeh kecil karena malu. Ia merasa gugup waktu bertemu Hinata. Fokusnya Ia gunakan untuk menahan rasa gugup sampai-sampai ia lupa mengenalkan namanya sendiri.

"..."

"Jadi bagaimana? Apakah kau menjaga kakak iparmu dengan baik?" Toneri menatap Naruto penuh dengan semangat menunggu cerita yang akan adiknya beri tapi sang adik malah membuang mukanya.

"Tak ada"

"Hei, ayolah aku sangat khawatir kau akan membenci makhluk yang bernafas itu mengapa aku membuatmu bergantung padanya supaya kau setidaknya tak membencinya. Jadi, apa kau menyukai kakak iparmu?"

"..."

.

.

.

Bawah mata hitam, tatapan lesu dan tanpa tenaga. Matanya menatap lemah bagian depan rumahnya yang masih runtuh. Posisinya duduk di lantai menyandari batu besar milik seseorang yang pernah tinggal di sini.

Ia tak punya uang untuk memperbaiki rumahnya dan dua hari ini ia tak berani tidur nyenyak karena takut pada ancaman yang bisa masuk dengan mudah ke dalam rumahnya.

"Tidurlah aku akan menjagamu." Ingin rasanya menoleh pada apa yang tiba-tiba hadir di sisinya dan membuat kepalanya menyandar tapi kehangatan membuat matanya tak berdaya. Meski ia mencoba tetap terbangun, tapi akhirnya ia tertidur lelap dengan cepat.

.

.

"..." gadis di sampingnya mendengkur kecil, sepertinya tidurnya sangat pulas. Harusnya ia datang lebih awal dan menjaganya kalau saja tahu dia kesusahan tapi ia tak diizinkan keluar sampai hari ini karena sang pemilik istana tak berada di dalam istana.

11.21

Mata biru itu menoleh ke bahunya tempat wajah gadis tadi bersandar. Wajahnya sangat lembut dan cantik. Tangan Naruto menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutup wajah Hinata.

Ia tak tahu apa yang tengah ia pikirkan tapi rasanya tak rela.

"Aku tak pernah mengira kakak masih menunggumu dan aku malah terjebak olehmu..." setiap kali mengingat sang kakak ingin menikahi gadis ini membuat perasaannya terasa aneh.

"Aku penasaran apa kau akan menikahinya atau tidak." Ada sesuatu yang sangat menjanggal di dada dan tak bisa ia abaikan.

Tapi meskipun Hinata tak setuju, apakah dia bisa menolaknya? Toneri tak terlihat seperti bisa di tolak apalagi ditambah semua kaumnya sudah tahu bahwa dalam dua minggu ini akan ada pernikahan.

"Malam nanti kakak pasti akan datang untukmu."

"Aku tak tahu apa yang aku rasakan padamu tapi aku merasa nyaman di dekatmu bahkan jika hanya sebagai teman."

"Aku tak ingin melihatmu sebagai kakak iparku."

.

.

.

"Hah?!" Hinata tersentak di kala tubuhnya terjatuh ke lantai. Dengan cepat ia mendudukkan diri dan melihat sekitar.

"..." sebelumnya ia yakin duduk menyandar di sebuah batu besar tapi sekarang mengapa hilang...

"Apa ada seseorang yang datang?" ia tertidur sangat nyenyak sekali sampai-sampai baru saja menyadari langit sudah gelap.

Langit sudah gelap?!

Rasanya seperti melihat hantu membuat Hinata berdiri dengan mengambil dua langkah mundur.

Ia berkedip bahkan tak sedetik tapi ada seorang lelaki bersurai perak muncul di depannya.

"Apakah kau sudah punya jawaban untukku?" lelaki itu berjalan mendekat membuat Hinata berjalan mundur tapi entah sejak kapan bahkan bagaimana lelaki itu kini tepat di depan Hinata menyatukan kening mereka dan meletakkan kedua tangannya di bahu Hinata. Dia seolah ingin memeluk Hinata tapi entah mengapa pula dia menahannya.

"Aku tak pernah tahu rasanya sangat senang melihatmu." Dulu ia kira perasaan terpikatnya akan berlalu tapi ia salah bahkan sampai saat ini gadis ini ada di depan matanya, ia tetap merasakan rindu.

"Kau!" tangan Hinata spontan melayang karena terkejut hendak menampar lelaki yang tiba-tiba terlalu dekat dengannya tapi lelaki itu menahannya dengan mudah bahkan tanpa memalingkan matanya.

"Kau tak boleh"

Hinata menjauhkan keningnya dan tangannya yang lain ia layangkan ke pipi kiri Toneri tapi lagi-lagi ditahan dengan mudah.

"Aku bilang kau tak"

Kali ini kaki kanan Hinata melayang dan lelaki itu menahannya lagi menggunakan kakinya.

Dia menyembunyikan tatapan lucunya pada tingkah kecil Hinata. Terlihat sangat manis perlakukan Hinata sekarang. Dia terus berusaha tanpa tahu bahwa dia tak akan bisa berhasik.

"Kau tak mendengarkan."

"Kyaaahh!" badan Hinata terjatuh ketika ia mencoba menendang dengan sisa kakinya tapi Toneri malah melepas kedua tangannya membuat punggungnya jatuh ke belakang.

Tapi dengan sigap Toneri menahan punggungnya sebelum mengenai lantai.

Beberapa detik ia mengamati mata bulan Hinata. "Apa mungkin adikku sering kau pukul?" ia bertanya-tanya karena Hinata harusnya tahu Naruto tak mungkin membiarkan gadis ini memukulnya begitupun juga dirinya. "Tapi tak mungkin." Naruto tak akan tinggal diam membiarkan siapapun baik-baik saja setelah berani memukulnya.

"Begitu juga denganku, kau tak boleh dengan lancang melayangkan tanganmu padaku." Hinata tak merespon. Dia terlihat cukup linglung menatap Toneri. sepertinya masih tak percaya bahwa di dunia ini ada makhluk seperti Toneri.

"Ayo kita pergi." Meski Toneri sudah menjauh, badan Hinata masih tak bisa digerakkan, bahkan tanpa kakinya menyentuh tanah badannya mengekori Toneri.

"Lepaskan aku! Aku bahkan belum mengatakan iya." Rontak Hinata mencoba lepas dari entah apa yang mengekang badannya tapi gagal.

"Lepaskan aku!"

.

.

.

To be continue

Halo

Bye bye