Light On My Darkness

Chapter 12

Author : Clou3elf

Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others

Pairing : KookV slight!YoonV, NamV

Genre : Drama, Hurt Comfort

Rate : T-M (sesuai kebutuhan)

Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll

.

Hope U Like

.

Happy Reading

.

~Previous Chapter~~

"Aku bertemu Kim Taehyung tadi. Sepertinya dia sedang kalut," buka orang di depannya.

"Aku tau. Aku mengikutinya dari tadi." ucap Yoongi kalem.

Sosok di depannya menyeringai, "Kalau begitu kau tau apa yang membuat Taehyung kalut, kan?"

"Tidak. Aku mengikutinya tapi tidak tahu apa yang membuatnya kalut begitu." gumam Yoongi.

"Eiy, kita sudah kenal selama beberapa tahun, Min. Kau tidak bisa membohongiku. Aku yakin kau pasti mengetahuinya, bukan. Mustahil Min Yoongi tidak mengetahui sedangkan kau yang melakukannya."

"Apa maksudmu sebenarnya?"

"Kau yang membuat Jungkook menghilang, kan?" tembaknya langsung.

"Eiy, kau harus makan. Tidak akan seru lagi jika kau mati duluan. Permainan sebenarnya sebentar lagi akan dimulai. Jadi aku harus menyiapkanmu dengan baik. Kau akan bertemu Taehyung dan dia nanti. Tenang saja."

Jungkook mengabaikan omongan penuh omong kosong dari Yoongi. Tidak ingin menanggapi apapun walau dirinya panas saat mendengar nama Taehyung diucapkan oleh mulut Yoongi.

"Sebentar lagi. Tenang saja." itu ucapan Yoongi sebelum pergi meninggalkan Jungkook. Tidak peduli bagaimana Jungkook memproses ucapannya nanti.

"Kau akan membayarnya, Min Yoongi." gumam Jungkook bahaya.

.

Chapter 12

.

Terhitung sudah tiga hari semenjak Jungkook menghilang. Sudah tiga hari pula Taehyung tidak bisa tidur dengan nyenyak. Semakin tidak nyenyak saat mengetahui jika Jungkook benar-benar ada bersama Yoongi. Taehyung sakit kepala memikirkan semuanya.

Jangan khawatir, Taehyung sudah lapor polisi dengan diam-diam tentu saja. Dia sudah meminta polisi untuk menyelidiki dengan perlahan dan tersembunyi. Mengikuti saran sang dokter, Taehyung lapor polisi dan meminta mereka menyelidiki diam-diam. Mengingat yang mereka hadapi adalah salah satu dari buronan yang berbahaya.

Dengan berbagai pertimbangan dan resiko kedepan, Dokter Jung menyarankan untuk tidak memberitahu ibu Jungkook. Setidaknya sampai mereka menemui titik terang dimana keberadaan pemuda Busan berusia dua puluh tahun itu. Taehyung sempat protes, namun dia kembali mempertimbangkan kesehatan ibu Jungkook. Taehyung kembali diingatkan jika ibu Jungkook juga mengidap penyakit yang sama.

"Setidaknya sampai kondisi Nyonya Jeon lebih stabil, Tae." ucap Dokter Jung yang tak bisa dibantah lagi oleh Taehyung.

Taehyung diminta untuk fokus pada pencarian Jungkook. Sembari memperhatikan gerak gerik Min Yoongi tentu saja. Saksi kunci sekaligus tersangka. Lebih bagus lagi jika Taehyung bisa membuat Yoongi mengatakan dimana lokasi keberadaan Jungkook sekarang. Walau terdengar mustahil.

Memang apa yang mau diharapkan dari perawat orang dengan gangguan jiwa sepertinya jika dihadapkan dengan sang penderita yang bisa saja mengancam nyawanya. Bukan tidak mungkin Taehyung akan habis di tangan Yoongi walau dia adalah orang yang disukai Yoongi sekalipun. Taehyung bergidik saat membayangkan Yoongi bisa saja menyiksanya karena terlalu ikut campur.

Demi apapun Taehyung tidak bisa tenang. Sembari menunggu kabar dari kepolisian, Taehyung diam-diam mencari sendiri informasi keberadaan Jungkook dan Yoongi. Segala cara dia lakukan kecuali menemui Yoongi secara langsung.

Taehyung belum memiliki keberanian sebesar itu untuk menemui Yoongi.

Katakan Yoongi gila. Ah, dia memang sudah jauh dari kata waras. Tapi kali ini tingkat kewarasannya sudah menguap.

Melihat Taehyung sedang gelisah dari kejauhan membuatnya sedikit bergairah. Ya, Yoongi kembali mengintai Taehyung yang sedang menikmati kopi sambil sesekali mengusak rambutnya kasar. Wajah merana penuh keputusasaan dari Taehyung menambah fantasi kotor Yoongi tentang perawat Jeon Jungkook itu.

Mungkin saking kalutnya Taehyung dia sama sekali tidak menyadari Yoongi tengah memandangi dengan sorot mata tajam dan wajah yang datar. Namun bisa dipastikan otaknya tengah memikirkan hal kotor tentang Taehyung.

Yoongi menjilat bibirnya yang mendadak kering. Terlebih saat Taehyung menghela nafas kemudian menggigit bibir bawahnya yang memerah. Terlihat sekali Taehyung sedang gugup dan kalut. Tapi bagi Yoongi, Taehyung sedang menggodanya.

Pemuda kelahiran Daegu itu sama sekali tidak pernah menyangka jika kehadiran Taehyung sebegitu berpengaruhnya terhadap kesehariannya. Rasanya ada sesuatu yang membuatnya kesal jika tidak melihat Taehyung. Rasanya Yoongi bisa dengan mudah tersulut amarah jika seharian tidak mendengar tentang Taehyung.

Bisa dibilang kebaikan hatinya yang tidak segera mengeksekusi Jungkook juga karena Taehyung. Kim Taehyung memiliki andil yang besar dalam menahan keinginannya untuk segera menyingkirkan Jungkook. Bahkan Yoongi heran dengan kebaikan hatinya yang berniat mempertemukan Taehyung dan Jungkook terlebih dahulu.

Tentu saja pertemuan itu akan menjadi pertemuan paling membekas bagi Taehyung. Disana Taehyung akan melihat bagaimana Jungkook mati. Perawat itu akan menyaksikan detik-detik kematian Jungkook. Ah, mungkin Yoongi akan menyediakan alat perekam yang merekam semua prosesi menyenangkan itu. Barangkali Taehyung ingin melihatnya lagi setiap memperingati kematian Jungkook.

Ah, Yoongi tidak mengerti dengan kebaikan hatinya yang satu ini.

Tidak apa. Semua demi Taehyung. Biarlah Taehyung menikmati kebersamaannya dengan Jungkook untuk yang terakhir kali. Ah, mungkin akan lebih mengharukan jika Yoongi membiarkan Taehyung melakukan pekerjaannya sebagai perawat Jungkook untuk yang terakhir. Yoongi akan membiarkan Taehyung menyuapkan obat milik pemuda Jeon itu nanti.

Rencana yang bagus.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Jungkook membuka matanya saat dirasa perutnya mulai melilit. Tubuhnya luar biasa pegal karena terlalu banyak menunduk dan duduk. Dengan perlahan Jungkook mendongakkan kepalanya. Menatap langit-langit ruangan yang berhiaskan bercak merah.

Kepalanya mulai sakit. Pusing. Dan terasa berat seolah ditimpa berkilo-kilo berat. Jungkook benci perasaan seperti ini.

Tak hanya kepalanya. Nyatanya kedua telinga pemuda ini juga berdenging dengan denging konstan yang menyakitkan. Jungkook refleks memejamkan matanya saat dengingan itu semakin nyaring.

Jungkook frustrasi. Dia tidak bisa menutup telinga seperti biasa jika telinganya berdenging seperti ini. Semua ajaran Taehyung untuk mengusir 'mereka' tidak bisa dia terapkan karena kedua tangannya terikat.

Hal yang bisa dilakukan Jungkook hanyalah memejamkan mata dan berusaha memfokuskan diri pada sesuatu. Kali ini Jungkook kebingungan apa yang harus dia fokuskan. Apa yang bisa membuatnya fokus agar tidak terpengaruh?

"Cobalah bernyanyi atau menghitung keras-keras. Kurasa itu akan membantumu mengalihkan perhatian dari 'mereka'." mendadak ucapan Taehyung terdengar di telinganya walau sangat samar dengan volume kecil. Terkalahkan oleh dengingan menyakitkan yang ingin sekali Jungkook hajar.

Perlahan Jungkook mulai mengeluarkan suaranya. Lehernya sakit karena terlalu kering. Meski begitu Jungkook memaksa mengeluarkan suara. Setidaknya suaranya yang serak mampu membuat telinganya menangkap suara dan mengurangi dengingan menyakitkan.

Nyanyiannya semakin keras seiring dengan air mata Jungkook yang meluruh. Ini pertama kalinya dia menangis karena merasakan sakit yang begitu menyiksa. Seluruh tubuhnya sakit bahkan tenggorokannya seperti terluka.

Semakin Jungkook memaksa mengeluarkan suara maka semakin perih tenggorokannya. Juga semakin deras air matanya turun. Walau harus sesakit itu namun dengingannya berkurang.

"AARRRGHHHH!!" Jungkook berteriak dengan suaranya yang tersisa. Kemudian berdeguk dalam tangisan.

Suaranya putus-putus tak terkendali. Nafasnya sesak karena luapan emosi yang terpendam selama ini. Ini baru tiga hari dan rasanya Jungkook sudah tidak mampu menahan kewarasannya. Dia butuh obatnya. Dia butuh Taehyung-nya.

"Taehyung-ah. Taehyung-ah. Kim Taehyung," lirihnya terdengar menyakitkan.

Taehyung merasa dia bisa saja mendadak gila. Bisa saja dia yang biasanya merawat pasien dengan gangguan jiwa berubah haluan menjadi pasien yang dirawat. Kepalanya luar biasa pening memikirkan Jungkook. Hatinya berkata dia harus menemui Min Yoongi namun otaknya menolak bekerja sama.

Menemui Min Yoongi sama saja bunuh diri. Dan Taehyung belum berani untuk bertemu akar dari semua masalahnya saat ini. Tapi semakin Taehyung takut maka Jungkook semakin terancam. Sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana keberadaan Jungkook

Alhasil selama beberapa hari ini Taehyung sulit tidur. Setiap dia mencoba tidur, dia selalu bermimpi tentang Jungkook. Bukan mimpi yang bagus. Taehyung jadi sedikit takut memejamkan matanya barang sebentar.

Kantung matanya semakin tebal. Taehyung sudah tak bisa menghitung berapa jam dia terjaga. Yang dia tau dia tak bisa memejamkan mata dengan tenang.

"Taehyung-ah? Kau oke?" tanya salah seorang perawat saat melihat Taehyung baru saja selesai mengantarkan makanan para pasien.

Taehyung hanya mengangguk. "Aku tidak apa-apa, hyung. Hanya kurang tidur,"

"Tidurlah barang sebentar. Biar tugasmu kugantikan,"

"Tidak apa. Hari ini aku mengambil shift sampai siang setelah itu aku akan tidur." bohong Taehyung. Ah, dia tidak berbohong soal mengambil shift sampai siang omong-omong.

Taehyung tidak yakin dia bisa melakukan pekerjaannya dengan kondisi tubuh yang jauh dari kata sehat ini. Tapi jika dia hanya berdiam diri, bisa dipastikan pikirannya akan tertuju pada Jungkook. Jika begitu maka rasa khawatir tidak bisa dia bendung.

Kalau dipikir-pikir kondisi Taehyung sekarang ini sangat ironis. Dia yang biasanya merawat pasien dengan gangguan jiwa dan memastikan mereka mendapat perawatan serta penanganan tepat kini berbalik seolah membutuhkan perawatan psikologis. Taehyung rasa dia bisa saja beralih menjadi pasien di rumah sakit tempatnya bekerja jika kondisinya seperti ini terus.

Taehyung benci rasa khawatir yang membuatnya gila ini. Dia benci bagaimana dua orang itu membuatnya nyaris gila dengan cara mereka masing-masing. Dia benci saat mengingat fakta Min Yoongi yang tertarik padanya. Dia benci semua fakta yang membuatnya harus merasakan hal-hal seperti ini.

"Yosh, Kim Taehyung kau harus semangat." ucapnya pada diri sendiri.

Sampai makan siang tiba Taehyung masih bisa melakukannya dengan baik. Dia masih bisa membantu merekap laporan setengah hari pasien yang lain. Taehyung juga masih bisa membantu perawat lain yang butuh bantuannya. Semuanya lancar tanpa Taehyung duga.

Sayangnya semuanya luntur saat melihat sesosok perempuan paruh baya yang menunggunya di depan rumah sakit. Rasanya Taehyung ingin menghilang saat itu juga. Belum sempat Taehyung putar arah, wanita itu sudah melihatnya kemudian tergopoh menghampirinya.

"Taehyung-sshi," panggilnya lemah. Taehyung diam-diam menggigit bibir bawahnya gugup.

Ibu Jungkook telihat lebih segar dari terakhir mereka bertemu tapi sorot mata dan wajahnya terlihat sekali sedang kalut. Tak beda jauh dengan Taehyung sebenarnya.

"Y-ya, bi?" tanya Taehyung.

Ibu Jungkook mendadak memegang kedua tangan Taehyung erat-erat seakan tak mengijinkan perawat anaknya itu pergi. "Jungkookie, dia tidak sedang baik-baik saja, kan?"

Pertanyaan inilah yang dihindari Taehyung jika bertemu ibu Jungkook. Dia tidak tahu harus berkata apa pada wanita ini. Berbohong pun rasanya percuma. Insting seorang ibu tidak pernah salah tentang anaknya.

"Itu ..."

"Semalam aku menelepon Jungkookie. Seseorang mengangkatnya. Berkata Jungkook bersamanya," ucapan Ibu Jungkook membuat Taehyung melotot. "Suaranya seram, berbahaya."

Walau ibu Jungkook mengucapkan kalimatnya dengan berantakan tapi Taehyung bisa menangkap maksud ucapan wanita itu. Dan yang bisa dia lakukan adalah berusaha menenangkan ibu Jungkook. Karena itulah Taehyung langsung membawa ibu Jungkook menuju taman rumah sakit.

Terlihat sekali ibu Jungkook sangat khawatir dengan keadaan putranya. Taehyung juga. Masalahnya adalah mereka tidak tahu dimana keberadaan pemuda kelahiran satu September itu.

"Bibi tenang saja. Aku sudah membuat laporan ke polisi dan mereka sedang berusaha mencari keberadaan Jungkook. Aku juga sudah berusaha mencarinya. Bibi tenang saja. Jungkook pasti baik-baik saja," Taehyung tidak yakin dengan kalimat terakhirnya namun dia merasa harus membuat ibu Jungkook tenang.

"Jungkookie. Jungkookie," setetes air mata mulai menuruni wajah wanita yang melahirkan Jungkook itu. Membuat Taehyung kembali dirundung rasa bersalah yang teramat sangat.

Tanpa terasa air matanya juga mengalir. Ini pertama kalinya Taehyung menangis sejak hilangnya Jungkook. Melihat ibu Jungkook yang menangis adalah hal yang tidak ingin Taehyung lihat. Terlebih Jungkook hilang karena kelalaiannya.

"Tolong selamatkan dia, Taehyung-sshi," ucapan sarat harapan itu kembali menghempas Taehyung. Membuatnya harus benar-benar menghilangkan ketakutannya demi bisa menemukan Jungkook.

Min Yoongi adalah satu-satunya jalan bagi Taehyung menemui Jungkook.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Yoongi berdecih saat melihat Taehyung tengah bersama seorang wanita paruh baya. Kehadiran wanita itu membuat Yoongi mengurungkan niat menemui Taehyung. Padahal Yoongi ingin melihat reaksi Taehyung saat bertemu dengannya.

Pasti raut ketakutannya terlihat menggemaskan.

"Cih, siapa wanita itu." gumamnya kesal.

Seharian ini Yoongi sibuk mengintai rumah sakit tempat Taehyung bekerja. Rasanya melegakan karena Taehyung masih bekerja walau Jungkook tidak ada disitu. Tandanya Taehyung tidak butuh Jungkook untuk melanjutkan pekerjaannya. Tapi disisi lain Yoongi ingin melihat betapa frustrasinya Taehyung.

"Tidak apa. Kita mainkan dengan perlahan, baby." ucapnya kembali memaku pandang pada Taehyung.

Darahnya berdesir melihat Taehyung yang mengusap air mata di pipinya. Angannya langsung membayangkan betapa indahnya Kim Taehyung jika sedang bersimbah air mata karenanya. Ditambah bercucuran darah Jungkook rasanya tidak masalah. Itu jauh lebih baik.

"Sial. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," gerit Yoongi.

Dia sudah menyiapkan rencana matang yang membuatnya senang bukan main. Tentu saja melibatkan Taehyung, Jungkook dan orang itu. Ah, benar. Orang itu harus dilibatkan. Pasti menyenangkan.

Mata sipit Yoongi kembali menyorot tajam ke arah Taehyung. Tatapannya cenderung datar dan dingin. Tapi jika ditelisik lagi maka akan terlihat kobaran ambisi dan nafsu yang tertuju pada sang perawat.

Dan dari jarak sekitar sepuluh meter dari posisi Yoongi, seseorang juga memandangi psikopat mungil yang merepotkan jajaran kepolisian Daegu beberapa tahun lalu. Mereka sepadan.

"Well, aku tau ini ulahmu, hyung." gumamnya berbahaya.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Niat Taehyung untuk beristirahat di asramanya pupus sudah. Sekarang dia sibuk mendatangi percetakan. Taehyung merasa dia tidak bisa lagi hanya menunggu kabar dari kepolisian. Alhasil Taehyung berencana membuat selebaran untuk menemukan Jungkook.

Melihat tangis ibu Jungkook membuat Taehyung kembali mengesampingkan rasa lelah yang menderanya. Yang ada dalam pikiran dan menjadi prioritasnya adalah menemukan Jungkook. Bagaimanapun caranya.

Sembari menunggu selebaran yang dipesannya selesai, Taehyung melakukan usahanya dengan bertanya pada orang di sekitar rumah sakit dan asrama. Taehyung melakukannya hingga pukul Sembilan malam. Mengabaikan rasa perih di perutnya dan rasa sakit di kakinya.

Lain Taehyung maka lain pula Jungkook.

Pemuda yang jadi sumber kekalutan Taehyung dan keluarganya itu tampak luar biasa mengenaskan. Wajahnya pucat dengan kantung mata menghitam. Tubuhnya tampak berantakan dengan sisa makanan yang berserakan.

Baru saja Yoongi selesai memaksa Jungkook makan. Jungkook pun kali ini menerima suapan makanan yang dilakukan Yoongi secara paksa. Perutnya sudah luar biasa perih. Kepalanya pun pening. Sebuah keajaiban Jungkook masih bisa bertahan.

"Nah, bukankah lebih baik jika kau menurut. Kau pemeran utamanya jadi kau tidak boleh mati lebih dulu," Yoongi berucap datar disertai seringai tipis yang memuakkan bagi Jungkook.

"Aku akan membunuhmu," bisik Jungkook. Dia terlalu lelah hanya untuk mengeluarkan sebuah ancaman sarat dendam pada Yoongi.

Yoongi tertawa. Tawanya luar biasa puas. Sedetik kemudian wajahnya kembali datar seolah dia tak pernah tertawa sebelumnya. Matanya menyorot dingin ke arah Jungkook yang juga memandang tajam kepadanya.

"Terlalu cepat untukmu melakukannya." desisnya.

Yoongi berjalan meninggalkan Jungkook yang mendengus. Dia punya tugas mulia membuntuti Kim Taehyung. Rasanya menyenangkan sekali melakukan hal itu. Kalau saja Yoongi tahu lebih awal maka bisa dipastikan Taehyung akan jadi miliknya sejak dulu.

Jika begitu bisa jadi juga Yoongi tidak harus merepotkan dirinya mengurus tikus kecil seperti Jungkook dan berhubungan dengan orang itu. Aigu, jika diingat rasanya memuakkan.

Yoongi berjalan dengan tenang menuju asrama Taehyung. Dia tidak perlu bingung mencari keberadaan Taehyung karena pemudanya itu tidak pernah pergi jauh dari rumah sakit dan asrama. Sedikit menguntungkan Yoongi karena dia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mencari Taehyung.

Benar saja. sekitar lima belas menit kemudian Yoongi menemukan Taehyung yang duduk di ayunan taman tak jauh dari rumah sakit. Ah tempat dia bertemu Jungkook waktu itu.

Taehyung terlihat lelah dan frustrasi. Sekali lagi Yoongi suka melihatnya. Ah entah sudah berapa kali Yoongi mengatakan hal semacam itu. Seperti bukan dirinya saja. Tapi untuk Taehyung rasanya tidak masalah. Benar, kan?

"Aku semakin tidak sabar, Kim."

Baiklah Yoongi mengaku jika dia gila. Benar-benar menggilai Kim Taehyung. Taehyung seperti candu baginya. Membuatnya selalu ingin melihat Taehyung tersiksa. Melihat Taehyung dalam kondisi tak berdaya karena perbuatannya.

Sial tubuhnya panas. Yoongi benar-benar menginginkan Taehyung.

"Kau akan menjadi milikku, Kim Taehyung. Aku bisa memastikan hal itu." gumamnya.

Pagi hari Taehyung diawali dengan mendatangi percetakan. Beruntung hari ini Taehyung shift siang jadi pagi harinya bisa dia manfaatkan untuk mencari Jungkook. Semangatnya sedang naik setelah mendapat kabar dari kepolisian jika sinyal GPS dari ponsel Jungkook menunjukkan lokasi terakhir.

Sembari kepolisian menyelidiki, Taehyung juga berjuang dengan menyebar selebaran ke setiap orang yang ditemuinya. Berharap salah satu dari mereka pernah bertemu Jungkook dalam beberapa hari terakhir.

Sayangnya tindakan Taehyung itu masih terlalu pagi untuk membuat Min Yoongi marah. Yoongi tidak suka saat Taehyung mulai berjuang karena orang lain. Terlebih orang itu tak sebanding dengan dirinya.

Yoongi tak habis pikir kenapa Taehyung mau menyusahkan dirinya sendiri untuk mencari keberadaan Jungkook. Padahal jika saja Taehyung bertanya padanya, mungkin Yoongi bisa menunjukkan lokasinya. Mungkin.

Yoongi menggertakkan giginya saat melihat Taehyung yang tersenyum penuh rasa terima kasih saat ada orang yang bersimpati dan memberi semangat padanya. Dia tidak suka saat Taehyung tersenyum pada orang lain dan karena orang lain.

Tak jauh dari lokasi Yoongi berdiri, seorang pemuda dengan setelan rapi dan kacamata hitam memandang Yoongi dengan sorot mata tajam lagi dingin. Jika tatapan seseorang bisa membunuh maka dia dengan senang hati pula menatap Yoongi pelan-pelan hingga pemuda berkulit pucat lebih memilih mati daripada disiksa olehnya.

"Kau memilih lawan yang salah, hyung." gumamnya.

Setelah mengamati beberapa menit, orang itu memutuskan pergi. Ada hal yang juga perlu dia lakukan selain mengikuti Yoongi. Dia akan membuat perhitungan pada pemuda pucat itu karena membuat targetnya menghilang entah kemana.

Tangannya memencet beberapa tombol di ponsel. Menelepon anak buah kepercayaannya. "Cepat cari Jungkook. Lakukan apapun untuk mencarinya. Dan awasi Min Yoongi." titahnya dingin.

Tidak ada manusia yang bisa dipercaya. Tidak ada teman di dunia ini. Teman hari ini akan menjadi musuh esok hari. Semua orang mengejar keuntungan pribadi. Itu yang dia pelajari selama ini.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Jungkook hampir saja terlelap saat mendadak Yoongi membuka pintu dengan kasar. Tangannya membawa sebuah ikat pinggang. Wajahnya sangat begitu menyeramkan. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Jungkook gentar. Justru perasaan amarah yang meluap secara tiba-tiba membuat Jungkook ingin sekali melampiaskannya pada Yoongi.

Tak ada percakapan diantara mereka namun aura yang dihasilkan sedikit mencekam. Keduanya hanya saling berpandangan tajam. Kemudian pandangan itu diputus oleh Yoongi yang terkekeh sambil mengalihkan pandangan ke arah lain. Beberapa detik kemudian Yoongi berbalik sembari menyabetkan ikat pinggang yang dibawanya ke tubuh Jungkook.

Tentu saja Jungkook sontak berteriak nyaring. Cambukan yang diberikan Yoongi sangat keras hingga membuat kulit Jungkook memerah dan berdarah di beberapa bagian. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghindar dan melindungi diri karena kondisinya yang terikat.

Lengan, kaki, leher, tubuh bagian depannya terluka hingga membekas garis merah. Cambukan yang sungguh tidak main-main. Hanya lima kali cambukan namun perih yang dirasakan membuat Jungkook hanya bisa mengerang.

Yoongi menarik nafas panjang kemudian membuang ikat pinggang yang dibawanya sembarangan. Ditariknya rambut kusam Jungkook dengan kasar. Yoongi memperhatikan bentuk wajah orang yang dianggap sebagai pengganggu diantara dirinya dan Taehyung. Menilik dimana letak sisi menarik Jungkook hingga membuat Taehyung terlihat sukarela memperdulikan orang ini.

"Kau sama sekali tidak menarik tapi kenapa dia begitu tertarik padamu. Kenapa Taehyung sampai repot-repot mengurusmu. Cih, mereka bodoh sekali," gumam Yoongi.

"Taehyung..."

Slap!

Mendengar nama Taehyung terucap dari bibir Jungkook membuat Yoongi dengan reflek menampar pipi Jungkook. Rasa cemburu langsung membakar Yoongi begitu mendengar nama Taehyung disebut orang lain. "Jangan menyebut nama Taehyung dengan mulutmu!" desisnya berbahaya.

Kepala Jungkook rasanya pusing sekali. Tamparan Yoongi cukup keras hingga Jungkook merasa sakit sekaligus panas di pipinya. Mendadak tubuhnya gemetar ketika kilasan-kilasan kenangan masa kecil berputar di otaknya. Masa dimana ayahnya sering sekali menamparnya.

Kilasan itu membuat Jungkook dirundung ketakutan sekaligus kemarahan. Kedua emosi yang dirasakan membuat Jungkook pusing sekaligus sulit mengendalikan diri. Tubuhnya mulai sibuk memberontak dan tangannya mulai sibuk berusaha melepaskan diri.

Yoongi yang melihat tingkah Jungkook pun langsung tersenyum sambil menyilangkan tangan di depan dada. Menikmati saat-saat Jungkook bergelut dengan dirinya. Menyenangkan.

Baiklah, Yoongi mulai suka melihat Jungkook tersiksa begini.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Hari keempat dan Taehyung belum menemukan titik terang tentang keberadaan Jungkook. Polisi pun demikian. Setelah melakukan pemeriksaan di tempat dimana sinyal Jungkook muncul, polisi mulai menduga Jungkook berada di sebuah bangunan kumuh. Pencarian pun dipersempit di sekitar area dimana sinyal Jungkook muncul.

Taehyung pun mulai mendapat satu petunjuk. Seseorang pernah melihat Jungkook yang dibius kemudian dibawa ke entah kemana menggunakan mobil. Sayangnya mobil itu memiliki nomor polisi illegal. Semua identitasnya palsu.

Taehyung tak pernah tahu jika dirinya diikuti. Tak pernah merasa jika ada dua pasang mata yang mengawasinya dengan tujuan berbeda. Satu mengawasinya untuk tujuan kepemilikan sedangkan sepasang mata lain mengawasinya dengan pandangan bak predator yang ingin mencari mangsa.

Lelah sekali rasanya. Tapi Taehyung sadar jika dia tidak boleh menyerah begitu saja. Nyawa Jungkook bisa saja terancam. Sayangnya Taehyung tidak pernah mempertimbangkan jika nyawanya juga bisa terancam.

Secara mendadak seseorang memukul tengkuknya dengan kencang saat keadaan sedang sepi. Dalam keadaan setengah sadar karena pusing yang menderanya, Taehyung sempat melihat seseorang memandangnya dan sebuah mobil yang berada tak jauh dari orang itu.

'Siapa?' sayangnya pertanyaan itu tak sempat terjawab karena kegelapan mulai merengkuh Taehyung terlebih dahulu.

"Ah~ ternyata seperti itu,"

Di sisi lain yang tersembunyi seseorang menyaksikan semua kejadian di depannya dengan jelas. Mulai dari orang itu yang membuntuti Taehyung hingga orang itu membawa Taehyung ke dalam mobil. Ah tentu saja dia mengikuti kemana mobil itu membawa Taehyung pergi. Tidak akan dia biarkan lolos.

Siapa tau dia menemukan orang yang dia cari kan?

.

.

END

.

.

YUHUUUU

SIAPA YG KANGEN SAMA INI?????

MAU SUNGKEM AKHIRNYA BISA LANJUTIN FF INI HUHU

Setahun ya aku anggurin? Maafkan

Makasih banyak buat yg udah nunggu ff ini, ku terharuuu

Doain ideku lancar yaa biar bisa cepet lanjut

Byebyeee

love, clou3elf