Song: So Done - Alicia Keys (ft. Khalid)
.
.
Uchiha Sakura memandang cincin berlapis emas putih yang melingkari jari manis kirinya. Ia mengulum senyum merekah.
Sementara dari kursi pengemudi, Uchiha Sasuke meliriknya sekilas dengan ekspresi datar. "Cincin itu bisa hilang karena terlalu lama dipandang." Ia segera kembali fokus pada jalan raya.
Sakura memicingkan kedua mata, melonggarkan sedikit seatbelt-nya. Ia nampak kontra tapi tidak mengindahkan ucapan suaminya. Perempuan itu melanjutkan acara pacarannya dengan cincin menikah mereka. Setelah berbagai macam kejadian yang terus datang beruntun kemarin, akhirnya cincin ini terasa lebih memiliki arti.
Entah bagaimana cara laki-laki itu memilih cincin ini sebagai tanda pengikat mereka atau mantra apa yang dirapal Sasuke hari ini tapi bahagia itu menerjangnya lebih banyak saat melihat si cincin.
Sebetulnya, jawabannya sangat mudah.
Karena sekarang mereka membagi dua bobot yang sama.
Karena sekarang mereka melangkah menuju tempat tujuan yang sama.
Dan karena kenyataan bahwa perasaan mereka sama.
Perempuan itu masih belum berhenti tersenyum. Ia menatapi mobil-mobil yang berlalu lalang serta pepohonan dari kaca jendela mobil Sasuke. Dalam hati ia hanya mampu berharap pada Tuhan.
Tolong biarkan rasa gembira itu bertahan lama, lebih lama dan tinggal selamanya sampai mereka lupa apa itu kesedihan dan rasa sakit.
.
Disclaimer: All of the characters and Naruto itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun selain kepuasan pribadi x')
Warning: Slight SasuKarin, AU, OOC, typo(s), dan jauh dari kata sempurna ;)
Rate M untuk bahasa dan beberapa pembahasan—such as mental illness (which leads to suicide attempt and such) yang mungkin bisa membuat kurang nyaman atau terpicu.
Yep. I decided to change the rate from T+ to M :")
.
.
.
Responsible
10. A Storm After The Breeze
.
.
Mereka sampai di kediaman Uchiha di waktu yang cukup larut, Mikoto dan Fugaku sudah terlelap lebih dahulu. Anak sulung keluarga Uchiha lah yang menyambut kedatangan kedua adik mereka dengan sangat hangat.
Laki-laki itu terlihat sangat tampan dan cantik secara bersamaan. Bulu matanya lentik, wajahnya mirip dengan Sasuke—meski lebih dominan mengambil wajah Uchiha Mikoto, sih. Sakura tanpa sadar mengerutkan keningnya saat melihat wajah Uchiha Itachi yang sedang tersenyum tipis. Wajah kakak iparnya ini nampak sangat familiar.
"Maaf, apakah Anda adalah Dokter Uchiha Itachi yang pernah bekerja di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Konoha?" Sakura melemparkan pertanyaannya secara refleks.
Uchiha Itachi menarik sudut bibir kirinya. Ia mengangguk pelan. "Benar."
Sakura menepuk kedua tangannya. "Pantas saja, ternyata aku benar. Kita pernah berada dalam satu shift yang sama waktu itu—tapi hanya satu kali. Karena setelah itu Anda pindah."
Sulung Uchiha itu menggulirkan iris jelaga miliknya. Ia menarik napas, berusaha nampak tenang agar gelagatnya tidak mencurigakan. Ia mendorong bahu Sakura dan adiknya pelan, sembari tersenyum tipis. "Kita lanjutkan acara kenalannya besok, ya. Pasti adik-adikku lelah, silakan istirahat."
Baik Sakura maupun Sasuke pun tak punya pilihan lain selain pasrah saat didorong paksa sampai ke depan pintu kamar mereka. Pasangan suami istri itu hanya saling melempar tatapan heran, sampai akhirnya Sasuke mengendikkan bahunya dan membuka pintu kamarnya.
Sakura segera membuka tas mereka, memisahkan antara baju kotor dan yang masih bersih. "Kau bisa bersih-bersih lebih dulu, Sasuke-kun." Ia memasukkan satu set piyama dari tas mereka ke dalam keranjang pakaian kotor.
Tapi Uchiha Sasuke lebih memilih untuk menunda acara mandinya dan duduk di sebelah Sakura. "Rupanya kau adalah seorang dokter."
Sakura yang sekarang sedang melipat pakaiannya memindahkan atensinya. Ia memandang wajah Sasuke dengan bingung yang cukup jelas.
"Ada lagi?" tanya laki-laki itu singkat.
Sakura semakin bingung. Ia memiringkan kepalanya. "Apanya?"
Kini Sasuke menopang dagunya dengan tangan kiri. "Yang harus kuketahui."
Kekeh tawa perempuan itu mengalun indah, memeriahkan suasana kamar tidur pasangan suami istri itu. Kalau dipikir-pikir semua ini memang terlalu lucu. Sudah mau memasuki minggu ketiga menikah tapi masih tidak mengetahui dengan jelas latar belakang pasangannya. Apa-apaan ini?!
Sakura berdeham, ia menghentikan acara tertawanya. "Pertama-tama, aku sudah menghubungi seseorang untuk mencari Karin-nee kemarin malam." Ia mengeluarkan ponselnya sebelum melanjutkan, "Jika sudah ada kabar, aku pasti akan memberitahumu."
Jawaban Sakura tadi sukses membuat Sasuke terdiam sejenak. Sepertinya, Sakura selalu sukses membuatnya tertinggal satu langkah, ya? Lagi, hatinya terasa lebih ringan. Seperti semua bobrok dan lecet karena beban menahun baru saja diobati perlahan dengan hati-hati.
"Terima kasih," ucap laki-laki itu kemudian.
Sakura mengangguk sambil tersenyum manis.
Tentu saja, Uchiha Sasuke belum memiliki niatan untuk mengakhiri konversasinya dengan Sakura. Ingat, pertanyaannya belum dijawab. "Lalu?"
Lagi-lagi Sakura yang masih fokus dengan pakaian mereka memberikan kata tanya yang sama seperti sebelumnya. "Apa?"
Sasuke mendengus, wajahnya datar. "Ceritakan semua tentangmu." Ia menuntut.
Akhirnya Sakura menghentikan kegiatannya. Mulutnya gatal sekali ingin memformasikan senyuman lebar tapi sebisa mungkin ia tahan. Perempuan itu mencoba untuk serius. "Hmm, apa, ya? Soal Tousan kau sudah mengetahuinya. Soal kebiasaan dan kesukaanku kau juga sudah hafal, Sasuke-kun. Apa lagi yang harus kuceritakan?"
Memang benar adanya apa yang dijabarkan oleh Sakura. Namun tetap saja, entah kenapa Sasuke merasa sebal—ayolah, bahkan pekerjaan istrinya saja ia sama sekali tidak tahu, sebelum istrinya dan kakaknya berbincang.
"Kenapa kau tidak bekerja?" Laki-laki itu mulai membuka dengan pertanyaan sederhana.
"Aku baru saja disumpah profesi, Sasuke-kun. Saat ini adalah masa liburku sebelum internship." Sakura meregangkan kedua tangannya ke udara, sedikit stretching karena merasa sedikit pegal.
"Kapan masa internship-mu dimulai?"
Pertanyaan yang bagus baru saja terlontar. Sakura membuka ponselnya dan melihat aplikasi kalender. Emerald-nya bergulir, dipertemukan dengan onyx milik suaminya. "Sekitar satu minggu lagi ... mungkin?"
Begitu mendengar hal tersebut, Sasuke langsung mengalihkan pandangannya ke lantai beralaskan karpet kamar mereka. "Selama internship, kau akan tetap di sini 'kan?" Wajahnya datar, nada bicaranya tetap tenang. Meskipun dalam hati, panik itu mulai menggodanya.
Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia menyunggingkan senyum canggung. "Maaf. Aku internship di Rumah Sakit Kirigakure, Sasuke-kun," tuturnya lirih. Tunggu. Kenapa tiba-tiba ia merasa bersalah? Penempatan dirinya di Kiri 'kan sudah diputuskan beberapa minggu sebelum bertemu dengan Uchiha Sasuke!
Padahal banyak sekali pertanyaan yang mendadak muncul dalam kepala Sasuke. Seperti, apakah Sakura sudah mendapatkan tempat tinggal di sana? Apakah jarak antara tempat tinggal Sakura dan rumah sakit dekat? Bagaimana dengan transportasi yang akan istrinya gunakan? Lalu makanan–apa di dekat sana banyak tempat yang menjual makanan? Lalu susu cokelat?
Berusaha terlihat sebagai orang dewasa yang tenang, akhirnya suaminya hanya mengumandangkan jawaban pamungkas miliknya. "Hn."
"Aku tinggal bersama bibiku di Kiri karena rumah Bibi terletak di seberang rumah sakit tempatku bekerja nanti." Sakura kembali menjawab, seolah memiliki abilitas untuk membaca isi kepala Uchiha Sasuke.
Laki-laki itu hanya mengangguk. Perasaannya semakin campur aduk, meski bimbang itu lebih mendominasi. Ayolah. Baru menikah lalu sudah ditinggal?
"Berapa lama masa internship-mu? Kapan kau akan kembali?" Sasuke kembali mencicitkan pertanyaannya secara beruntun.
Sakura meraih tangan Sasuke yang bebas. Perempuan itu menggenggam tangan suaminya, memainkan jari-jemari panjang milik Sasuke. "Hanya satu ... tahun, kok."
Kemudian lak-laki itu menarik cepat tangannya yang tadi sempat diculik Sakura. Jelaga miliknya melirik tajam, kedua alisnya nampak ingin menyatu di permukaan frontal. Seperti baru saja mengalami ... penurunan mood?
Menolak untuk menyerah, Sakura kembali melancarkan aksinya. Ia menarik kecil ujung pakaian milik Sasuke. Tangannya yang lain menepuk-nepuk pelan bahu sang suami. "Kalau luang, aku pasti akan pulang kok. Kau juga bisa menghampiriku, satu tahun tidak akan terasa kalau tidak dihitung."
Sasuke membangkitkan badannya. Ia menatap datar Sakura yang sedang berusaha melancarkan jurus puppy eyes andalan dengan bibir yang dibuat sedikit mencucu. Setelahnya, ia mengambil handuk dan langsung masuk kamar mandi.
Sementara Sakura tercengang sembari mengekor pergerakan suaminya dengan indera penglihatannya sampai laki-laki itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Sebentar, sebentar. Ini jelas terdapat sesuatu yang salah. Sakura seberusaha mungkin menyangkal deduksi ciptaan otak.
Masa iya, suaminya merajuk?
.
;;;;;
.
Benar saja, deduksi yang berusaha Sakura tangkis mati-matian terjadi. Pasalnya, sejak membuka mata di pagi hari bahkan sampai sekarang mereka sarapan bersama di meja makan suaminya jelas-jelas mengabaikannya. Sakura sendiri benar-benar tidak mengerti, di mana letak kesalahannya?
Ayolah. Sekali lagi biar Sakura jabarkan. Keputusan ia ditempatkan di Kiri dan tinggal di rumah bibinya 'kan sudah dibuat sebelum bertemu dengan suaminya. Jadi, apa yang membuat Uchiha Sasuke melakukan aksi ini?
Sakura melirik ke arah suaminya yang duduk di sebelah kanan. Nampak sedang menyeruput asik kopi hangat miliknya. Kalau ia mencoba untuk menegur suaminya di depan keluarganya yang sedang sarapan ... pasti tidak akan diabaikan 'kan?
Perempuan itu berdeham. "Sas—"
Kriit.
Suara kursi yang dipindahkan ke belakang, disusul dengan bangkitnya Uchiha Sasuke yang melirik sekilas ke arah Sakura menginterupsi niatan Sakura. Laki-laki itu mengambil tas kerja warna hitamnya.
"Aku berangkat," tukasnya cepat.
Menyaingi angin, Sasuke langsung menghilang dari ruang makan kediaman Uchiha. Meninggalkan Uchiha Mikoto yang saling bertukar tatapan herannya tanpa suara dengan suaminya, Fugaku dan anak sulungnya, Itachi.
Merasakan tuntutan penjelasan tak kasat mata, akhirnya Sakura terpaksa angkat bicara. "Maafkan aku. Sepertinya aku membuatnya marah tapi tidak mengerti kenapa," tuturnya lirih.
Tinggal tunggu waktu, pasti sebentar lagi Sakura akan ditendang dari sini. Tapi Sakura tentu tidak terima begitu saja. Pokoknya ia tidak salah!
Lucunya, hal tak terduga terjadi. Uchiha Mikoto malah terbahak di tengah ruang makan, bahunya bergetar naik turun. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca. Ibu mertuanya itu menepuk-nepuk bahu suaminya yang hanya datar menatapi Mikoto.
"Tousan! Hal yang sangat langka baru saja terjadi. Sudah lama sekali sejak dia merajuk, 'kan?"
Sakura jelas bingung tapi aura bahagia itu memenuhi ruang makan. Fugaku tersenyum tipis dan Itachi juga hanya menggelengkan kepalanya tapi raut wajahnya turut gembira. Mulut yang sedikit terbuka dan mata yang mengerjap secara repetitif mewakilkan perasaannya.
Melihat keluarganya ikut bahagia, mau tak mau akhirnya Sakura ikut tersenyum juga meskipun tidak benar-benar mengerti dengan situasi ini. Akhirnya, untuk pertama kalinya Sakura melihat ekspresi Uchiha Mikoto yang begitu ringan.
Mikoto mengusap ujung matanya yang tadi berair, ia menatap menantunya. "Maaf, Sakura. Tak seharusnya aku tertawa, apalagi kau sedang hamil tapi anakku malah merajuk padamu."
Sakura melambaikan tangannya cepat, "Tidak, Kaasan. Mungkin aku memang salah..." Bohong, deh. Dalam hatinya Sakura masih menentang status bersalahnya secara gamblang. Lalu kemudian Sakura juga secara refleks memegangi perutnya. Hai, anaknya di dalam perut, yang terbuat dari timbunan lemak dan makanan. Mau sampai kapan Sakura berpura-pura terus?
"Apapun itu, semoga kalian segera berbaikan, ya." Ibu mertuanya berucap, tanpa ada penekanan sedikit pun. Tidak menyudutkan Sakura sama sekali.
"Hn. Kasihan calon cucuku kalau orangtuanya bertengkar." Kali ini Uchiha Fugaku turut angkat bicara.
Pada momen ini Sakura menahan napasnya seketika. Jantungnya bergemuruh tak nyaman karena rasa bersalah yang semakin tebal dan kuat menancap. Sakura memaksakan seulas senyum, menganggukkan kepalanya. "Maafkan aku, Tousan dan Kaasan. Akan kupastikan untuk membicarakannya dengan Sasuke-kun."
Kemudian, Uchiha Mikoto memberikan sinyal pada suaminya untuk bangkit dari meja makan. "Sakura, kami juga pamit dulu, ya. Kami harus menemui teman dari sekolah menengah kami yang baru saja mendapatkan seorang cucu." Wanita itu kemudian memberikan seulas senyum kepada Sakura sebelum melirik anak sulungnya. "Baik-baik dengan Sakura, ya."
Itachi hanya membalas ibunya dengan senyum tipis. Banyak sekali hal yang mengganggu pikiran anak sulung Uchiha itu sejak bertemu langsung dengan Sakura. Jujur saja memang sejak tadi malam, dilemma itu datang membuat gamang.
Ia terjebak dalam dua pilihan di mana apakah yang hendak ia lakukan adalah suatu keputusan yang benar?
Onyx-nya melirik Sakura yang sedang menumpuk piring bekas makan. Lalu ia menahan pergerakan Sakura, "Biar aku saja. Kau sedang hamil, 'kan?"
Segera saja Sakura membeku. Bagaimana mau diskusi dengan suaminya kalau Sasuke saja pakai acara memberikan silent treatment padanya? Lagipula, untuk ke sekian kalinya, ini bukan salahnya. Mutlak.
Perempuan itu akhirnya hanya memformasikan senyum yang dipaksa tercipta. "Maaf, Niisan. Terima kasih."
Itachi membawa tumpukan piring itu ke wastafel, mulai mencuci bekas sarapan tadi satu persatu.
Sedangkan Sakura mengekor kakak iparnya sampai ke dapur. Ia duduk di atas kursi di mini bar dapur yang dekat dengan wastafel cuci piring. Sembari Itachi mencuci piring makan mereka, Sakura hanya terdiam memerhatikan segala pergerakan kakak iparnya sembari turut tenggelam dalam pikirannya.
Apa yang harus ia lakukan nanti jika Sasuke pulang? Menyambutnya seolah tidak terjadi apa-apa? Yang ada hanya akan diabaikan seperti tadi pagi. Atau tetap bicara saja meski diabaikan? Tapi itu hanya akan nampak menyedihkan. Atau ... ikut-ikutan merajuk?
Perempuan itu menggeleng cepat. Memangnya dia anak kecil apa? Lalu ia menjadikan surai merah mudanya sebagai bulan-bulanan jemarinya. Ia mengacak rambutnya frustrasi sambil menghela napas kencang.
Cukup kencang sampai Itachi menyahut dari tempat mencuci piring. "Sasuke, ya? Kuharap kau bisa memaklumi tindakan adikku, Sakura."
Begitu piring terakhir selesai ia letakkan di rak, segera saja laki-laki itu menarik bangku di sebelah sang adik ipar. Setelah duduk, ia melanjutkan bicaranya, "Dia selalu memendam emosinya sendirian, mengatasi tiap urusan dengan caranya sendiri—tanpa membiarkan orang lain untuk ikut campur karena ia merasa bahwa tiap urusan adalah kewajiban yang harus ia selesaikan seorang diri."
Sakura hanya mengangguk setuju atas pemaparan kakak iparnya. Karena sesungguhnya, memang Uchiha Sasuke, suaminya adalah seseorang yang seperti itu. Seseorang yang membiarkan dirinya luruh menjadi abu demi kepentingan orang lain. Orang yang selalu menomorduakan dirinya sendiri, seseorang yang terlalu ... baik.
"Maka dari itu, begitu tadi pagi ia sedikit menunjukkan salah satu emosinya membuat kami sangat bahagia." Itachi yang tadinya menatap ruangan di sekitar mereka, memindahkan iris kelamnya, menatap Sakura. "Sudah pernah mendengar tanggung jawab Sasuke?"
Sakura mengangguk tegas.
Itachi kembali melanjutkan, "Sejak kecelakan itu, banyak sekali yang berubah. Salah satunya adalah kondisi adikku. Dulu, ia sempat tak sadarkan diri selama dua hari dan saat tersadar pun kondisinya seperti mayat hidup."
Anak sulung keluarga Uchiha itu menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan. "Hampir satu minggu ia hanya mengurung diri, menolak melakukan apapun seolah menunggu malaikat maut menjemput. Kondisi keluarga kami pun tidak begitu baik. Ayah dan Ibu sangat sibuk mengurus hal lain dan adikku secara bersamaan."
Sesekali Itachi memindahkan matanya dari objek apa saja lalu kembali ke Sakura secara bergantian. "Hari bergulir dengan monoton begitu saja. Sampai akhirnya, adikku bangkit dari terpuruknya. Seolah tiba-tiba memiliki alasan kuat untuk tetap bertahan hidup, ia berkata bahwa ia harus memenuhi janji dan tanggung jawabnya pada seorang paman yang sudah menolongnya."
Lalu onyx Itachi kembali dipertemukan dengan emerald adik iparnya. "Maka dari itu, kuharap kau bisa mengerti segalanya, Sakura."
Jujur, mendengar narasi yang dipaparkan oleh Itachi tadi turut membuat dada Sakura terasa ngilu. Bukan dirinya atau Karin. Uchiha Sasuke adalah satu-satunya orang yang paling tersiksa. Laki-laki itu membawa penderitaan panjangnya sampai detik ini dengan kedok tanggung jawab. Menghubungkan kepingan puzzle dan aksi nyata suaminya membuat Sakura sangat sedih.
Ia ingin menangis. Ia ingin menghambur ke pelukan suaminya. Ia ingin menepuk punggungnya, memberitahukannya bahwa kerjanya sangat bagus—seperti yang dilakukan Sasuke di mobil setelah dari makam ayahnya waktu itu. Sakura ingin menjadi kekuatan suaminya, memberikan support yang tidak pernah habis. Membiarkan Sasuke membagi deritanya bersama.
Lagi-lagi, Sakura menganggukkan kepalanya. Ia mencicit dengan suara tertahan, "Aku mengerti, Itachi-nii."
Sekarang Itachi memakukan kedua matanya ke bawah. "Kau tidak mengerti apapun, Sakura."
Sakura yang masih menahan rasa sedihnya, membagikan pandangan heran dan menuntut penjelasan.
"Bagaimana jika kubilang bahwa tanggung jawab yang Sasuke pikul adalah suatu kesalahan?"
Sakura semakin tidak mengerti akan kemana dibawa sampai ke ujung konversasi ini. Kedua alisnya nyaris menyatu, keningnya membentuk lipatan. "M-maksud Niisan?"
"Karena hari itu paman yang menolong Sasuke bukanlah ayah Karin melainkan ...
ayahmu, Sakura."
.
.
.
.
.
tbc
.
11/09/2020
.
a/n: Ah kalian mah pasti nggak kaget xixixi. Haii! udah cukup lama semenjak aku update ini hehe. Btw, ini salah satu chapter yang lagi-lagi cukup sulit untuk ditulis. Semoga nggak aneh x"))) Dan, ya. Akhirnya aku memutuskan buat naikin rating. Untuk amannya sih-dan well who knows apa yang bisa kutulis mumpung rate-nya naik untuk ke depannya hahaha x"D /rim.
Kalian apa kabar? Semoga sehat-sehat selalu, yaa. Aku tumbang dikit lol jadi malu, padahal aku paling bacot ke kalian soal jaga kesehatan-eh malah aku yang hzhzhz.
Okayy. Terima kasih banyak buat yang udah mampir! Semoga kalian sehat-sehat terus di manapun berada :)
.
Balesan review chapter 9:
Nemurehana: Correct! Aku cuman mau ngasih 'tanda' kalo Itachi emang mau ngebala wkwkw /heh. Amin, amiiin! Terima kasih banyak, yaa! ;-; kamu jugaa jangan lupa istirahat dan semoga lancar semua urusannya x) Semangat jugaa!
cherryandara: Ya ampun! ;-; tapi emang sedih sih, dia kuat banget dan pas ketemu lagi sama suaminya kayak pengen runtuh aja gitu T_T makasih udah mampir, yaa! x")
Nurvieee96: Awkwkwk! Senengnyaa x"D ya ampuun makasih banyaak! Kayaknya cuman kamu yang sangat rajin nanggepin author's note-ku sampe lengkap begini wkwkwk x"DD dan-well aku tumbang wkwkwk sball. Kamu juga jangan lupa jaga kesehatan, yaaa! x)
sitilafifah98: Hehehehhe, dia sempat disinggung pas nikahan SasuSaku chapter 6 kook meskipun dikit xD masih kok... x"D
reevrsh: SWaduuuu terim kasih banyakk! Amin, amiiin-meskipun kayaknya makin asdf hahahaha! Kamu juga, yaa reader-nya kudu sehat selalu jugaa! x)
1011: Salam kenal! x) Waaah terima kasih banyakk x") Hmmm aku serahkan padamu dan tebakanmu deh xixixixi-WAWAWAAA MAKASIH BANYAK (2) seneng banget feel-nya nyampeee :") Hahahaha lemon, ya? Hmmmmm hmmmm hmmmm :x Waduu fic yang lain yang mana nih? xD btw, makasih udah mampir! x)
Sir locked: WKWKKWWK aku juga bisa relate habis melakukan sesuatu yang sangat memalukan auto mau kabur aja gitu bawaannya x"D Oooh! Saudara infj-ku, hai! Selamat malam minggu, semoga tidak overthinking akan suatu hal, ya! x"))
.
Untuk yang kemarin mampir dan meninggalkan jejak, terima kasih banyakkk! Untuk yang mampir di chapter ini juga-kuucapkan terima kasih. Semoga hari kalian menyenangkan dan semoga sehat-sehat selalu! x)
