.
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Gender Bender
.
.
My head gets messy when I tried to hide
The things I love about you in my mind
.
.
Sasuke membelai punggung Naruto dengan lembut, membiarkannya terlelap setelah pembicaraan mendalam yang telah mereka lakukan. Naruto melesak semakin dalam mencari kehangatan, dalam pelukan Sasuke. Sasuke tersenyum akan sikap Naruto dan mengambil selimut untuk menyelimuti keduanya.
"Ich hasse meinen Körper! Ich hasse mich Sasuke! Sollte ... Ich hätte es verhindern können. Ich sollte- " Naruto tidak bisa meneruskan ucapannya karena isak tangis yang semakin keras menghentikannya. Sementara Sasuke memeluknya semakin erat dan menghentikan upaya Naruto untuk melanjutkan ceritanya.
"...sst...its okay Naru. You are okay now. Please stop."
"Du solltest jemanden finden, der besser ist als ich. Ich bin kaputt, Sasuke. Ich bin nur ein Stück Müll."
"Du bist nicht!" ucapan Sasuke menghentak Naruto dan membuatnya menelan ucapan yang akan dia lontarkan. Suara Sasuke begitu tegas dan membuat Naruto dilema - antara bahagia dan juga sedih. Bahagia karena Uchiha Sasuke dengan segala kesempurnaannya berada di sisinya. Sedih karena Sasuke Uchiha berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya.
"You're an extraordinary woman! You are amazing with all your flaws, Naruto. Und ich will dich nur."
Pembicaraan mendalam mereka semalam membuat perasaan Sasuke campur aduk dengan dominasi amarah. Amarah atas ketidaktahuannya akan apa yang telah dialami oleh Naruto. Kejadian buruk itu menyebabkan luka yang dalam tidak hanya secara fisik namun secara psikis bagi Naruto. Keluarga...yang seharusnya merangkulnya malah menyalahkannya hanya karena kesaksian palsu.
Klan terkutuk sialan!
Bolehkah Sasuke menyebutnya dengan kesaksian palsu? Sasuke percaya semua yang dikatakan oleh Naruto adalah kejujuran terlebih lagi dua saksi sialan itu. Tidak ada yang namanya orang dekat, sahabat atau keluarga jika sudah menyangkut kekuasaan dan status sosial. Naruto terlalu naif saat itu untuk tahu akan hal ini. Terlebih lagi, pria sialan yang berani sekali membuat Narutonya seperti ini. Sasuke bersumpah jika dia akan membalas berkali-kali lipat apa yang sudah mereka lakukan pada Naruto.
Saat ini, ijinkan dia menikmati kebersamaannya dengan Naruto.
Aku berjanji akan membuatmu sembuh dan bersinar seperti dulu, dobe.
Satu janji yang Sasuke ucapkan sebelum mata kelamnya ikut menutup, menyambut mimpi bersama dengan permata saphire yang telah menutup lebih dulu.
.
.
Sasuke tersenyum - senyuman yang jarang terpatri pada wajah rupawannya kala melihat Naruto yang tertidur lelap. Semburat mahkota pirangnya sebagian tersebar di bantal dan sebagian menutupi wajah rupawannya. Matahari belum muncul namun Sasuke selalu terbangun pukul lima pagi. Kebiasaan yang terbiasa dilakukannya sejak kecil. Seberapa malampun dia tidur, Sasuke tetap akan berusaha untuk bangun tepat waktu pukul lima pagi.
Sasuke segera beranjak menuju salah satu pintu yang terletak di ujung kiri di dalam kamarnya, pintu menuju kamar mandinya. Suara rintikan air shower terdengar lirih namun tidak membangunkan putri tidur yang tengah berbaring dengan sangat nyaman di tempat tidur. Lima belas menit kemudian, Sasuke keluar dengan handuk putih yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Sasuke mendekat ke tempat tidur dan menatap Naruto yang masih terlelap dalam tidurnya.
Ponsel Sasuke bergetar di nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Nama Hugo - asistennya terpampang. Sasuke segera membawa ponselnya menuju pintu di sebelah kanan dari arah tempat tidurnya. Walk in closet dengan beragam jenis pakaian milik Sasuke tertata dengan rapi.
"Pesanan bunganya sudah siap, Sasuke-sama." suara berat dan kaku milik Hugo terdegar.
"Hn," seru Sasuke sambil mengambil sebuah kemeja putih. "Minta florist untuk menyiapkan satu rangkaian lagi yang serupa dan kirim ke penthouseku."
"Baik, Sasuke-sama."
Naruto menggeliat karena sinar matahari yang terasa hangat pada sisi wajahnya. Sebelum permata saphirenya terbuka, Naruto menggeliat dan mencium harum bunga yang selama ini selalu menjadi aroma segar tiap dia membuka mata. Namun, ada aroma lain yang juga tercampur dengan aroma segar bunga-bunga. Aroma yang lebih masculine. Perlahan Naruto membuka permata saphirenya dan terkesiap karena merasa asing dengan ruangan yang tengah ditempatinya.
Jendela besar memanjang dari sisi kiri tempat tidur menunjukkan pemandangan pagi gedung-gedung dengan mentari yang bersinar hangat, walaupun musim mulai berganti menjadi musim dingin. Naruto memandang sekelilingnya. Tempat tidur ukuran master bedroom yang didominasi warna abu-abu tua dan cokelat pada selimut dan bantal yang terlihat begitu misterius, dihiasi dengan rangkaian bunga-bunga yang terlalu Naruto kenal. Naruto tersenyum senang dan mencium salah satu rangkaian bunga mawar putih yang memberikan aroma segar baginya.
Menyingkap selimut, Naruto bangun dan memandang kamar yang ditempatinya. Warna hitam, abu-abu dan cokelat begitu mendominasi kamar ini.
Mencerminkan si ayam sekali, dasar Uchiha sok misterius. Naruto menggerutu sambil bangun dari tempat tidur dan mengamati kamar Uchiha Sasuke.
Ketika malam hari, pemandangannya pasti lebih indah. Walaupun pemandangan pagi ini juga tidak kalah indahnya. Musim gugur telah bersiap menyambut dengan daun-daun yang mulai menguning, bahkan beberapa mulai terlihat berguguran. Kamar ini sangat mencerminkan Sasuke walaupun terkesan misterius tapi Naruto bisa merasakan kehangatan dan kehadiran Sasuke. Berjarak sekitar lima meter di depan ranjang terdapat sebuah sofa mini berbentuk L menghadap ke sebuah TV plasma LED berwarna hitam yang sangat besar. Di sebelah kanan dan kiri TV tersebut terdapat rak buku bertingkat hingga ke ujung dinding mendekati atap berwarna hitam, yang terisi penuh dengan buku-buku.
Politik, ekonomi, hukum, sejarah, astronomi, teknologi, science - Naruto memutar mata karena tidak ada buku hiburan di tumpukan buku Sasuke yang terdiri dari berbagai bahasa tersebut. Pantas saja dia menyebalkan karena buku yang dibaca kaku semua. Kembali lagi Naruto menggerutu. Naruto berbalik dan duduk di kursi malas berwarna abu tua dengan sebuah gelas berisi cokelat hangat yang masih mengepul dan sebuah note berwarna biru yang tertempel pada dinding luar gelas.
Cokelat hangat untuk putri tidur yang tidak kunjung bangun
SU
Naruto tersenyum dan baru teringat dengan notes yang biasanya ada dalam setiap rangkaian bunga. Menyesap sedikit cokelat hangat tersebut, Naruto segera beralih kembali ke tempat tidur dimana rangkaian bunga diletakkan disana. Naruto baru menyadari jika rangkaian bunga tersebut ditata sedemikian rupa di sekelilingnya, seperti dia tidur di hamparan bunga. Naruto mengambil note berwarna biru yang terselip pada rangkaian mawar putih yang terlihat begitu cantik dan suci.
Melihatmu yang tertidur di sampingku adalah salah satu keberuntunganku
SU
Lagi dan lagi, Naruto tersenyum. Uchiha tengah itu memang bisa membuat Naruto tersenyum. Naruto berbalik pada rangkaian bunga lili di samping bunga mawar putih yang juga terlihat begitu cantik - sebuah note berwarna biru juga terselip disana. Naruto membukanya dan bersiap dengan pujian, rayuan ataupun gombalan apa lagi yang akan Uchiha Sasuke berikan padanya.
Aku berharap setiap pagi wajah bodohmu yang pertama kali aku lihat, dan setiap malam sebelum kita terlelap wajah rupawanmu yang terakhir kali aku lihat. Bersiaplah dan segeralah ke bawah, putri tidur. Aku menunggumu.
SU
"Wajah bodoh dia bilang?! Dasar anak ayam! Uchiha menyebalkan!" berbanding terbalik dengan gerutuannya yang terlihat kesal, Naruto malah tertawa kecil dengan rangkaian kata yang tadi dibacanya.
Naruto masih bertanya-tanya kenapa Uchiha Sasuke memintanya untuk segera bersiap. Tidak biasanya di Uchiha tengah seperti ini, biasanya dia akan menunggu berapa lamapun Naruto bersiap - kecuali jika memang dia memiliki agenda tersendiri. Senyuman kecil kembali muncul di wajah rupawannya. Naruto berjalan menuju pintu yang terletak di ujung kiri dan terkesiap memandang kamar mandi pribadi Uchiha Sasuke.
Warna hitam menjadi warna dasar pada granit lantai dan dining kamar mandi Sasuke. Warna hitam - seakan-akan menunjukkan karakter Uchiha Sasuke yang memang masculine, sexy dan misterius, yang akan membuat kaum hawa manapun bertekuk lutut pada pesonanya.
Naruto memandang ruang shower yang menurutnya akan membuatnya malu karena terlihat begitu terbuka. Pipinya tiba-tiba merona karena malu yang semakin menderanya jika dia membasuh tubuhnya disana dan Uchiha Sasuke melihatnya. Dadanya yang tiba-tiba berdebar-debar dengan cepat membuat perutnya melilit geli. Debaran karena malu bukan karena ketakutan yang biasanya dia rasakan.
"Baka! Hentikan pikiran malumu Naruto. Ayo segera bersiap!"
Naruto berjalan ke tengah ruangan kamar mandinya karena sepertinya ada ruangan lain yang lebih tertutup dibandingkan dengan dua ruangan - shower dan wastafel yang terlihat terbuka. Dugaannya benar. Sebuah bath up terletak di tengah ruangan yang masih didominasi oleh warna hitam. Bath up tersebut telah terisi air hangat dengan wangi jeruk yang sangat segar. Sasuke Uchiha menyiapkan semua ini? Naruto kembali tersenyum.
Di sebelah kanan bath up terdapat kabinet-kabinet dengan kaca yang menghiasi dinding, vas bunga dengan bunga sakura berwarna putih membuatnya tersenyum karena bunga tersebut membuat ruangan ini tetap terasa hangat disamping masculinenya ruangan ini. Di atas kabinet, sebuah kotak persegi berwarna hitam dengan pita berwarna biru muda tergeletak dengan sebuah note sewarna pitanya menarik perhatian Naruto.
Segeralah bersiap
dan please jangan terlalu lama
SU
.
.
Naruto memandang jalanan yang dilaluinya dengan dahi yang mengernyit. Mereka tidak menuju ke Tokyo tapi kemana?
Naruto mengira setelah dia bersiap, Sasuke pasti menyambutnya tapi malah Hugo yang berdiri dengan wajah kakunya yang menyambutnya. Kesal - tentu saja tapi Hugo menjelaskan bahwa Uchiha Sasuke menunggu Naruto di tempat lain dan Hugo yang akan membawa Naruto kesana. Tapi kemana?
"Apakah sebentar lagi kita akan sampai, Hugo-san?" tanya Naruto untuk yang kesekian kalinya.
"Belum, Naruto-sama."
"Memangnya kita mau kemana? Kenapa kau tidak mau memberitahuku?" gerutu Naruto. "Aku tahu kau pasti akan menjawab bahwa ini perintah Sasuke, lagi." Belum sempat Hugo menjawab Naruto kembali berkata.
"Ponsel dan tasku juga raib. Ada apa sih ini? Apa dia berniat untuk merampokku?" lagi dan lagi Naruto menggerutu.
Sedan hitam yang Naruto tumpangi telah keluar dari jalan besar perkotaan menuju sebuah jalan yang lebih sepi dengan pohon-pohon yang mengelilingi membuat Naruto asing. Bertanya pada Hugopun percuma karena pria yang menjadi asisten Sasuke itu hanya diam seperti robot. Lima belas menit lamanya mereka melalui jalan yang hanya dilalui pohon hingga dari kejauhan Naruto bisa melihat sebuah jalan dan diujungnya berdiri gagah sebuah rumah besar berdesain kontemporer yang terlihat asri.
Mereka berjalan semakin dekat dan senyuman Naruto semakin lebar karena dia begitu menyukai desain rumah ini. Salah satu bucket list Naruto adalah mempunyai rumah dengan desain kontemporer modern seperti ini.
Mobil yang dikemudikan oleh Hugo berhenti di dekat undakan tangga dan di ujungnya Naruto bisa melihat Uchiha Sasuke yang menunggunya dengan senyuman penuh kemenangan yang terlihat menyebalkan. Naruto keluar dari dalam mobil dan berjalan dengan penuh kekaguman dengan desain dan penataan taman rumah tersebut. Berjalan menaiki undakan Naruto berbelok ke kanan dan menghiraukan Uchiha Sasuke yang menatapnya dengan dahi mengernyit.
"Naruto," panggilnya yang tidak mendapatkan jawaban dari Naruto.
Naruto berjalan memasuki ke dalam rumah dan masih terkesima dengan rumah yang tengah diinjaknya. Begitu masuk ke dalam, Naruto langsung disambut ruang tamu dengan sofa yang mengelilingi sebuah meja persegi di depan perapian. Ruangan yang begitu terbuka yang langsung tersambung dengan area kolam renang yang dilengkapi dengan area untuk BBQ.
Sementara itu, Sasuke Uchiha berpikir bahwa Naruto akan langsung menghambur ke dalam pelukannya bukannya mengacuhkannya seperti sekarang ini. Melihat senyum bahagia dan wajah terkesima Naruto membuat kekesalannya menguap karena ini tandanya Naruto menyukai rumah ini. Naruto mulai menaiki undakan tangga menuju lantai dua dengan Sasuke yang masih mengikutinya.
"Do you like it?" tanya Sasuke yang lagi-lagi masih diacuhkan oleh Naruto.
Keduanya menuju ke sebuah ruangan yang semakin membuat Naruto terkagum-kagum. Sebuah perpustakaan dengan buku yang tertata mulai dari ujung lantai ke ujung dinding. Dua buah meja yang saling berhadapan di depan pintu kaca membuat Naruto mendekatinya.
"Ini akan menjadi perpustakaan dan ruang kerja kita. Kau bisa memilih di sebelah kiri ataupun kanan." seru Sasuke di belakang Naruto.
Naruto menaiki undakan tangga di dalam perpustakaan menuju kumpulan buku yang tertata dengan rapi di lantai dua perpustakaan ini. Tiga deret rak di lantai dua ini merupakan buku-buku dunia kedokteran dan psikologi yang semakin membuat wajah bahagia Naruto terlihat.
"Dobe," panggil Sasuke dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggangnya. "Say something, please."
Naruto akhirnya tertawa kecil dan segera berbalik menatap wajah Uchiha Sasuke yang menunggunya. "Do you like it?" tanya Sasuke kembali.
"Was hat das damit zu tun, ob es mir gefällt oder nicht?"
"Because ... it will be our house." Sasuke menjawab dengan penuh kesungguhan yang membuat Naruto terkejut.
Serius dan bukan bercanda. Wajah penuh kesungguhan dan keseriusan yang lain dari biasanya, tatapan mata intens dan kedua tangan Uchiha Sasuke yang melingkar erat di pinggang Naruto menunjukkan betapa seriusnya Uchiha tengah tersebut.
"This place will be one of our places, for our family. Dieses Haus wird ein Ort sein, an dem wir mit unseren Kindern und Enkeln altern können."
Naruto masih terdiam, bibirnya serasa kelu, dia merasa kosong dan dadanya berdebar-debar dengan kencang.
"I love you, Naruto. Everything that happened in your past, I don't care about it all. All I care about is our future. If you want to say that I deserve another woman. The answer is no because only you deserve me. Only you, Naruto."
Naruto masih terdiam namun sudut bibirnya berkedut menahan untuk tidak tersenyum.
"This house is proof of my seriousness."
"So ... do you like this house or not?" kembali Sasuke bertanya.
"Meskipun aku kotor, kau tidak keberatan? Kau masih mau menerimaku?" alih-alih menjawab pertanyaan Sasuke, Naruto malah balik bertanya kerisauan hatinya.
"Du bist heiliger Naruto." Naruto memukul dada Sasuke yang membuat keduanya tersenyum.
"I like this house. Dieses Haus ist wie das Traumhaus, das ich bauen möchte."
Sasuke tersenyum lebar dan segera mengecup bibir Naruto sepintas. Naruto mengerucut dan menggerutu tentang kemesuman Uchiha Sasuke. "Dasar, anak ayam mesum!"
Sasuke terkekeh geli dengan gerutuan Naruto sebelum melepaskan pelukannya dan bersimpuh di depan Naruto. Sasuke menarik jari jemari Naruto dalam genggamannya dan mendongak menatap wajah rupawan berhiasakan permata saphire yang selalu membuatnya hanyut dan tenang. "Will you marry me?"
I hate my body! I hate myself Sasuke! Should ... I could have prevented it. I should-
You should find someone better than me. I'm broken, Sasuke. I'm just a piece of trash
You are not!
You're an extraordinary woman! You are amazing with all your flaws, Naruto. And I just want you
What does that have to do with whether I like it or not?
This place will be one of our places, for our family. This house will be a place where we can grow old with our children and grandchildren.
You are holy Naruto
I like this house. This house is like the dream house I want to build.
