I Do Not Own The Characters.
All Characters belong to Hajime Isayama,
I Just Own my Story.
If you DO NOT like the pairing, It means you're in the wrong place.
Leave it as soon as possible without spreading HATE Comments
[!] Mature Content and Bunch of Typos [!]
Mikasa memposisikan diri sebagai seorang istri pada umumnya. Membantu sebisa mungkin pekerjaan suaminya. Meski hasilnya tidak terlalu memuaskan setidaknya beban Levi sedikit berkurang.
Malam ini Mikasa membantu Levi dengan dokumen-dokumen yang ia sendiri tidak tahu apa isinya. Levi meminta Mikasa mengurutkan dokumen sesuai tanggal dikeluarkannya. Levi sebelumnya tidak pernah kacau seperti ini. Salah Mikasa juga, perhatian Levi terbagi menjadi dua.
Setelah selesai Mikasa pergi ke dapur, bermaksud untuk membuatkan Levi makanan. Seingatnya waktu makan malam Levi hanya memakai sedikit kentang dan memilih kembali ke kamarnya. Pekerjaannya menunggun. Mikasa berinisiatif membuatkan sup hangat untuk Levi.
Didapur ada Sasha dan Connie yang sedang melakukan secret dating. Para maniak makanan itu sudah seperti tikus dapur. Mencari makanan sisa malam-malam. Mikasa memperingatkan Sasha dan Connie untuk tidak berisik. Biasanya Erwin menyuruh salah seorang prajuritnya untuk menyusuri setiap tempat dibarak dan menghukum kadet yang nakal. Ini sudah masuk waktu tidur, Erwin ingin setiap kadetnya mematuhi aturan yang dibuatnya.
Mikasa membawa masuk nampan kayu berisi sup dan teh untuk Levi—terakhir kali Petra mengantarkan teh sekitar pukul 9 malam. Levi menyimpan kertasnya, melihat sup yang masih mengepul ada di hadapannya. Menoleh pada Mikasa, meminta penjelasan dengan sorot matanya.
"Makanlah, percuma bekerja sampai besok jika perutmu kosong."
"Aku tidak pernah tahu kau bisa memasak selain membuat roti selai itu." Levi menyingkirkan semua kertasnya ke samping, menarik nampannya dan melihat dulu visual sup itu. Tidak buruk.
"Kau tidak akan pernah tahu." Mikasa duduk di pinggiran kasur, menghadap Levi, berekspektasi bagaimana testimoni darinya.
Levi mengambil satu sendok sup, mendinginkannya perlahan dan menyesapnya. Mikasa tidak sabar menunggu jawaban Levi, jantungnya berdebar, sialnya Levi adalah pria tidak berekspresi. Ia hanya mengangguk-angguk dan memakannya dengan santai.
"Bagaimana rasanya?" Levi menjawabnya dengan gumaman. Mikasa sebal. Enak atau tidak, itu yang ia butuhkan.
"Enak atau tidak?" Mikasa memberikan sekali lagi kesempatan untuk Levi. Levi tak menjawab, malah ingin menghabiskan sup itu cepat-cepat.
Mikasa jengkel, ia bangun dan menahan tangan Levi. Levi melirik ke arahnya, hanya tinggal beberapa sendok lagi sup itu akan habis. Entah Levi kelaparan atau bagaimana, Levi bahkan melupakan jika sup itu sangat panas.
"Aku akan mencobanya." Mikasa meraih sendok dan mangkuknya.
"Oh, jadi kau belum mencicipinya?"
Mikasa menggeleng, "Aku hanya membuatnya sedikit."
"Apa ukuran mencicipimu itu semangkuk penuh?"
Giliran Mikasa yang tidak menjawab. Mikasa mengambil satu sendok sup dan—
Asin! Supnya sangat asin!
Bahkan ini seperti meminum air garam saja, tidak ada penyedap lain yang terasa didalamnya. Mikasa berjengit, menelan sup buatannya dengan susah payah. Ini sangat buruk. Mikasa sangat tidak cocok untuk berada di dapur.
Lebih anehnya, bagaimana bisa Levi memakannya dengan lahap seperti tadi? Bekasnya saja membuat lidah menjadi kaku. Mikasa menyimpan mangkuknya perlahan dan canggung, Levi diam dikursinya, sibuk memperhatikan Mikasa yang masih dalam dunia asinnya.
"Kenapa kau memakannya?!" Mikasa berteriak sambil memukul meja Levi.
Levi terkejut, "Kenapa kau marah? Kau sendiri yang menyuruhku untuk makan."
"Lidahmu masih berfungsi, kan? Kau tidak sebodoh itu, kau pasti mengetahui rasa dari sup ini! Sup ini benar-benar payah! Ini bukan makanan! Bahkan hewan ternak saja tidak mau memakannya!"
Mikasa cerewet setelah mencicipi hasil masakannya. Semakin marah saat Levi berpura-pura menikmati masakannya. Yang Mikasa inginkan Levi berkata jujur. Jika seperti ini, Mikasa tidak mau lagi memberikan Levi makanan dan bahkan tidak mau memasak. Belajar menjadi seorang istri apanya, yang seperti ini saja Mikasa tidak becus.
"Sudah selesai marah-marahnya?" Levi melepaskan cravatnya, melipatnya dengan rapi diatas meja dan melonggarkan kancing atasnya. Mikasa membuang muka sambil melipat tangan, hampir saja menghancurkan mangkuk tadi.
Levi meminum tehnya, menyapu semua rasa asin di lidahnya, "Dengar, brat."
"Aku memakannya bukan karena rasanya baik atau buruk, tapi karena aku menghargaimu yang sudah bersusah payah membuatkan ini untukku. Dan juga, jika aku memprotes dari awal, kau tidak akan pernah memasak lagi untukku, menganggap ini gagal, itu lebih buruk bagiku."
Mikasa tercengang mendengar jawaban dari Levi. Memang benar Mikasa berniat tidak akan pernah lagi memasak untuk Levi setelah kejadian ini. Tapi jawaban Levi justru membalikkan semuanya. Lagi-lagi Mikasa sangat lemah dihadapan Levi. Pria itu selalu berhasil membuatnya bertekuk lutut. Mikasa tidak suka itu.
"Te-tetap saja. Aku tidak mau melakukannya lagi. Kau tidak bisa membujukku." Dengan segenap hati Mikasa mencoba memperlihatkan keyakinannya yang tidak goyah.
"Kau memang anak nakal. Kemarilah dan obati lidahku yang terbakar ini." Levi menepuk-nepuk pahanya, menyuruh Mikasa untuk duduk dipangkuannya.
Mikasa membereskan peralatan makan Levi, "Aku akan mencuci ini."
"Kau tidak akan selamat malam ini."
"Berhenti mengoceh dan selesaikan saja pekerjaanmu itu sampai kau mati besok." Tanpa menoleh Mikasa menutup pintu dan bergegas menuju dapur. Takut jika dirinya terkena hukuman.
"Ah, jadi kalian sudah saling mengenal?" Pria itu merangkul orang tadi, memberikan tekanan pada bahunya dan membuat suasana semakin canggung. Tidak ada jawaban, mereka sama-sama membuang muka.
"Baiklah, aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua. Selamat pagi." Pria itu mengangkat topinya sebentar dan menyimpannya kembali, menunjukkan pamit dengan rasa hormat. Cekikikannya terdengar sangat mengganggu bagi mikasa.
Mikasa menatap lemah seseorang dihadapannya. Seseorang yang hanya bisa menunduk tanpa bisa membalas tatapan Mikasa. Tangannya bergetar dan terkepal, Mikasa menyadarinya.
"Ada yang ingin kau sampaikan, Nanaba?" Mikasa memelankan suaranya, bahkan untuk berdebat saja enggan. Dirinya terlalu shock menghadapi hari ini.
Nanaba diam, rambutnya menutupi matanya. Rahangnya mengeras dan giginya menggertak. Tenggorokannya terasa sakit saat sesuatu mengganjalnya. Itu adalah ucapan yang tidak bisa ia keluarkan lewat mulutnya. Nanaba terlalu takut untuk sekadar membalas tatapan Mikasa. Tak perlu dipungkiri, Mikasa pasti membencinya, dan tidak alasan untuk meminta maaf atau mengulang semuanya dari awal.
Nanaba menghentakkan kepalan tangannya dengan kasar, berbalik, bermaksud untuk pergi. Hari ini dirinya merasa cukup untuk menghadapi berbagai masalah, yang ia lakukan hanyalah kembali ke kehidupannya dan melupakan semua yang telah dilakukannya. Dirinya sudah terlalu jahat, sampai saat ini.
"Ini sebabnya kau menebas taliku?" langkah Nanaba berhenti, ucapan Mikasa tepat pada sasaran.
"Ini sebabnya kau hanya diam memperhatikanku dari ketinggian saat aku jatuh?" Nanaba berkeringat dingin, tidak ingin mendengarkan lanjutannya.
"Ini sebabnya kau tidak menerima uluran tanganku yang penuh pengharapan padamu?" nafas Nanaba tercekat, jika ia sedang bermain catur, ini adalah sebuah skakmat.
"Apa aku atau Levi memiliki kesalahan? Aku rasa kami sudah menepati janji, memberimu uang dan mengembalikan kudamu. Bahkan Levi memberikan pelatihan untukmu." Mikasa membuang muka untuk menahan air matanya. Meski ia terkenal sebagai kadet yang kuat, ia tetaplah seorang wanita yang memiliki hati rapuh, terutama saat dikecewakan seseorang.
Nanaba menyejajarkan kepalanya dengan bahu kanannya. Ragu, apa ia harus menoleh pada Mikasa atau tidak. Ragu apa ia harus menjawab semua pertanyaan dan pernyataan Mikasa atau tidak. Suasananya sangat tidak baik. Nanaba memilih pergi.
"Aku tidak menyalahkanmu, karena aku tahu, semua yang terjadi di hidup ini memiliki alasan di belakangnya. Entah itu baik atau buruk. Berbahagialah, terimakasih telah membantuku dan Levi saat itu, aku sangat menghargai kebaikanmu." Mikasa mengakhiri kalimatnya, bisa merasakan apa yang sedang Nanaba pikirkan saat ini.
Nanaba semakin terpojok. Sisi wanitanya mendesak untuk keluar, namun egonya lebih tinggi. Nanaba menutup pintu kamar Mikasa, meninggalkan Mikasa di dalam kegelapan.
"Aku hanya mencoba untuk bertahan hidup." gumam Nanaba.
Mikasa menjatuhkan dirinya ke lantai kamar yang dingin dan gelap. Pandangannya menjadi blur seiring air mata yang semakin memenuhi kelopak matanya. Mikasa menutup matanya, menjatuhkan air mata yang mengucur cepat ke pipinya. Semua keputusan yang ia ambil selalu saja mendatangkan kesialan dan kesulitan bagi yang lain. Di saat seperti ini, Mikasa mendadak ingin meminta maaf kepada Levi karena selalu membantah perintahnya. Perintah sebagai seorang suami atau pun seorang kopral.
"Heichou…"
continuing in seconds, sips your tea first
"Dimana terakhir kali mereka terlihat?" Levi mendarat di salah satu atap, diikuti Sasha, Connie, Erwin, Mike, Eren dan Armin. Sebetulnya Levi menyuruh Eren dan Armin untuk berjaga di barak saja, namun karena ini menyangkut Mikasa mereka bersikeras untuk ikut dalam pencarian. Levi akhirnya memperbolehkan mereka dengan syarat tidak menjadi beban untuk pencarian.
"Disana. Tepat di atap sebelah kedai daging itu." Sasha menunjuk atap yang berjarak tak jauh dari mereka. Di seberang bangunan terdapai kedai kecil yang menjual daging asap, tempat yang Sasha dan Connie kunjungi sebelumnya.
Levi memperhatikan kedai itu dan keadaan sekelilingnya. Hanya satu kedai di ujung gang. Agak aneh, biasanya orang-orang akan berjualan di tempat ramai, bukan tempat sepi yang bahkan jarang dilewati orang-orang.
"Sepi sekali." Gumam Erwin seakan membaca isi pikiran Levi.
Levi menyipitkan matanya, tidak ada seorang pun yang menjaga kedainya disana, "Kalian masih ingat wajah penjualnya?"
"Ya, heichou, mana mungkin kami melupakan penjual baik hati yang memberikan kami daging gratis!" seru Connie dengan semangat.
"Haa…?" Levi memiringkan kepalanya. Begitu juga dengan Erwin dan Mike yang terkejut. Di dalam tembok, daging adalah makanan paling mahal. Tidak mudah untuk menjumpainya. Warga dalam tembok saja jarang memakannya. Hanya petinggi-petinggi negara dan bangsawan yang bisa memakannya.
"Memberikan daging gratis?" Eren angkat bicara setelah mendengar kejanggalan itu.
"Baik sekali dia. Daripada diberikan secara cuma-cuma lebih baik diberikan kepada keluarganya." Tambah Armin.
Sasha dan Connie mengangkat bahunya secara bersamaan, "Yang penting kami kenyang." Benar, urusan perut adalah nomor satu bagi dua sejoli itu.
"Umpan." Gumam Levi, "Erwin…" Levi menoleh pada Erwin, meminta Erwin untuk memberikan perintah.
"Kita cari penjualnya, bagi menjadi dua tim, masing-masing di pimpin oleh Connie dan Sasha, hanya mere—"
"Itu dia!"
Belum sempat Erwin menyelesaikan kalimatnya, Sasha sudah lebih dulu berteriak dan menunjuk ke bawah. Seorang pria dewasa bermantel koyak terkejut mendengar teriakan Sasha dari atas. Seperti sudah mengerti dengan apa yang terjadi, wajahnya pria itu memucat dan ia segera melarikan diri.
Tanpa aba-aba, Levi menembakkan talinya, menerbangkan dirinya secepat angin diantara bangunan-bangunan rapuh untuk mengejar pria yang mulai masuk ke dalam gang sempit. Semua teman-temannya di buat terpana, mereka saja belum melakukan apa-apa dan masih berdiri di atas atap.
"Oi, Erwin, sepertinya seseorang telah kehilangan kadet terkuat, maka dari itu dia sangat berapi-api." Mike berkomentar.
"Tidak, dia kehilangan sesuatu yang di cintainya." Erwin tersenyum miring. Eren, Armin, Connie dan Sasha hanya melongo.
"Sasha, Connie, hadang pria itu dari arah barat. Eren, Armin, hadang dia dari arah timur. Dia masuk ke dalam gang yang saling terhubung dengan 4 cabang, lakukan dengan cepat agar dia bisa di tangkap tepat di tengah-tengah!"
Erwin memberikan komando. Erwin sudah mengetahui semua tempat di kota ini. Ia sudah seperti peta hidup. Jalur gang tersempit pun ia tahu.
"Baik!" keempat kadet itu berteriak sebelum terbang ke tujuannya masing-masing. Erwin menoleh pada Mike, memberi perintah untuk menuju utara.
Levi tampak lincah di udara. Tak jarang tubuhnya menyentuh beberapa gerobak dan tong yang ada. Levi tidak meminta maaf saat beberapa warga meneriakinya karena rumahnya menjadi korban hunusan tali Levi. Tujuannya kali ini hanya pria yang sedang berlari di sebuah gang sempit. Cukup sulit untuk menggunakan 3D Manuvernya di tempat seperti itu.
Levi memilih untuk mengejarnya di atas atap, asal pandangannya masih bisa mengawasi pria itu. Levi melihat dari kejauhan teman-temannya datang membantu. Erwin menganggukkan kepalanya, memberi aba-aba untuk menyerang di bagian tengah.
Pria itu semakin panik, ia hendak berbelok ke arah kanan, namun Eren dan Armin sudah mendarat di tanah, begitu juga dengan Sasha dan Connie yang menyiapkan pedang di kedua tangannya. Dilihatnya Levi semakin dekat, dengan sorot mata yang penuh kebencian. Di depan pria itu sudah ada Erwin dan Mike yang berjalan mendekat.
SRAKKK
Levi menimpa tubuh pria itu dengan pedang yang siap mengiris leher. Levi menekan dadanya menggunakan sepatu boots, memberikan tekanan yang dapat mematahkan tulang rusuk.
"Tertangkap." Suara bariton Levi bagaikan bisikan malaikat kematian, belum lagi tatapannya setajam pedang di tangannya.
"Ke—kenapa kalian mengejarku?" membuka suara, untuk mencari sebuah pembelaan terhadap dirinya sendiri.
"Karena kau lari." Levi tidak mau kalah.
"Dia paman yang memberi kami daging gratis." Sasha maju selangkah, agar pria itu dapat melihat kehadiran dirinya. Pria itu tambah pucat.
"Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan ini?" Levi menekan pedangnya, memberikan warna merah di leher pria itu.
Pria itu meringis, "Mohon ampun." Matanya menutup, meminta pengharapan pada Levi agar tidak mengiris lehernya lebih dalam.
"Jawab aku." Levi sangat membenci hal bertele-tele. Sebelumnya ia tidak pernah sesabar ini.
"Aku takut dia akan membunuhku jika aku memberitahu kalian." Tentu saja, dibalik semua ini pasti ada perjanjian di antara dua pihak dan biasanya salah satunya memiliki situasi yang tidak menguntungkan.
"Kami akan menjamin keamananmu jika kau berkata jujur." Erwin menjadi penengah, menggunakan pangkatnya sebagai jaminan.
Pria itu mengalihkan tatapannya pada tanah di sebelahnya, mencari jawaban diantara pilihan yang sulit. Ini sama saja berjalan diatas bara api, mau diam atau pun melangkah, tidak ada bedanya. Ia akan merasakan kesengsaraan.
Pria itu menelan ludah, Levi mengiris lehernya lebih dalam, "Ke—Kenny Ackerman."
continuing in seconds, sips your tea first
"Minumlah."
Mikasa membuka matanya, sebuah cawan kotor berisi air terdorong tepat di depan wajahnya, bak seekor anjing peliharaan yang di hukum. Mikasa baru sadar ia masih berada di lantai kamar dingin dan pengap itu. Mikasa menengok ke atas, setelah menemukan wajah yang tak asing diingatannya, Mikasa menempelkan lagi pipinya ke atas lantai.
"Oi…" lengannya di guncang sebuah kaki dengan sepatu boots kotor. Mikasa tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"Jawab aku sialan!" Kenny menarik kerah seragam Mikasa, membawa Mikasa tepat di depan wajahnya dan memukul pipi Mikasa dengan keras.
Mikasa mengaduh pelan, tubuhnya jatuh dengan keras dan bibirnya robek hingga mengeluarkan darah. Sedetik kemudian ia terbatuk, tak sengaja menghirup debu-debu di sekitarnya. Kenny melangkah, menginjak kepala Mikasa dan tertawa, "Kau wanita yang kuat ternyata."
Kenny menggengggam rambut Mikasa dan menariknya agar mau menatapnya. Kenny tersenyum menyeringai, melepaskan cerutu dari bibirnya dan berkata dengan nada ancaman, "Kudengar kau sudah tidak memiliki orangtua atau sanak saudara."
Kenny membuang abu cerutunya, menatap lengan Mikasa yang terbuka, "Kau hidup di dunia ini sendirian sebagai gadis yang menyedihkan."
"Arghhh…" Mikasa merasakan sesuatu membakar lengannya. Kenny terkikik sambil terus berceramah, "Bagaimana rasanya hidup tanpa seseorang yang dicintai? Berat bukan? Tapi kau tidak bisa merubah apapun, takdir tetaplah takdir. Daripada seperti ini terus lebih baik mati dan kau bisa berkumpul dengan keluargamu di kehidupan selanjutnya."
Kenny membanting kepala Mikasa, mendorongnya dan menendang perutnya. Mikasa terbatuk lalu mengeluarkan darah. Kucuran darah dari kepala Mikasa memenuhi sebagian besar wajahnya saat Kenny melempar cawan keramik yang dibawanya tadi.
"Sayang sekali anak itu tidak ada disini, padahal aku akan memberikan nasihat yang sama untuknya." Kenny membetulkan jubahnya, "Dan sepertinya otak anak itu semakin pintar. Aku sudah memerintahkan bawahanku untuk mengintai barak setiap hari, memberi tanda di jendela kamar kalian dan tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menculiknya." Kenny menggigit cerutunya yang sudah menjadi pendek, duduk di kursi dengan angkuh dan memainkan kepulan asap yang dikeluarkan mulutnya.
"Tapi dia bergerak lebih cepat, dia memasang jerusi besi di setiap jendela kamar. Benar-benar hebat."
Sesuatu pada jendela…
"Buka jendela, disini sangat panas!"
"Tidak, aku mau jendela ini selalu tertutup."
Selama ini firasat Mikasa tentang orang yang selalu memperhatikannya lewat jendela kamar memang benar. Belum lagi malam itu Levi mendesak Mikasa agar mau berbagi kamar dengannya dan melarangnya untuk membuka jendela di musim panas. Itu karena Levi sudah mengetahui ada yang salah dengan atmosfir di sekitarnya? Mikasa tidak menyangka.
Pandangan Mikasa terhalang oleh darah di atas bulu matanya, memperhatikan Kenny yang menikmati segala perlakuan kasar kepada dirinya.
"Kau bagian dari pemerintahan, kan? Kau ingin melenyapkan pasukan pengintai." Mikasa bersusah payah untuk berbicara, membuang ludah yang bercampur darah, membersihkan mulutnya dari rasa aneh.
"Aku tidak berpihak pada siapapun, Nona."
"Lalu mengapa kau mau menculik Levi?"
Kenny membuang cerutunya, menarik pipi Mikasa dan menekannya. Rasa sakit Mikasa timbul karena gigi-giginya, "Dengar, kekuatan anak itu sangat dibutuhkan polisi militer dan aku hanya melakukan tugas ini untuk imbalan." Kenny memperdalam genggamannya, "Makanya aku menangkapmu sebagai alat tukar. Jika komandanmu ingin kau kembali, maka Levi harus ikut bersamaku."
"Apa k-au ke-luarga Levi?"
Perkataan Kenny yang ambigu membawa Mikasa ke dalam suatu keputusan. Jelas sekali sebelumnya Kenny dan Levi pernah bertemu. Kesampingkan bertemu dalam suatu pekerjaan. Bisa jadi Kenny ini keluarga atau kerabat Levi. Terlebih Kenny mempunyai marga Ackerman. Mikasa semakin penasaran dengan sosok Kenny.
Kenny melepaskan Mikasa, tenang kembali seperti biasa dan mematikan cerutu dengan ujung sepatunya, "Dia keponakanku."
"Jangan sampai bertemu dengannya lagi."
Paman. Jika Kenny adalah paman dari Levi, mengapa Levi melarang Mikasa untuk bertemu dengannya. Anggap seperti ini, Mikasa adalah istri Levi, sudah seharusnya Levi membiarkan Mikasa berkenalan dengan keluarganya, bukan malah melarang mereka bertemu. Apa ada hal lain yang menyebabkan keretakan hubungan mereka? Benar, sekarang saja mereka berdua sudah ada pada sisi yang berlawanan. Mereka berdua adalah musuh, antara keponakan dan paman.
"La-lu, kenapa dia sangat membencimu?" mengingat Mikasa adalah istri Levi. Sepertinya tidak apa-apa jika menanyakan hal sensitif seperti ini. Syukur-syukur Mikasa bisa memperbaiki hubungan mereka.
"Karena aku tidak pernah menyayangi anak itu, begitu juga dia. Seorang Ackerman tidak pantas untuk menyayangi atau di sayangi. Seorang Ackerman harus berhati dingin dan acuh pada sebuah hubungan." Kenny membetulkan jubahnya, merapikan kerahnya yang terlipat sembarang.
"Kenapa harus seperti itu?"
"Berhenti mengoceh dan hadapi kenyataan. Apa kau pernah menanyakan bagaimana perasaan anak itu kepadamu? Aku yakin tidak. Karena jika kau pernah menanyakan hal itu, maka kau akan merasakan sakit hati dan berpisah dengannya. Anak itu tidak pernah mencintai seorang wanita selain ibunya, dan mungkin hingga saat ini, ia tidak pernah mencintai siapapun."
Sebuah gejolak dalam diri Mikasa menimbulkan bulir-bulir bening di kedua matanya. Hidungnya memerah, pernafasannya terganggu. Jantungnya seakan berhenti memompa darahnya, pandangannya berkunang-kunang. Tidak ada yang salah dari ucapan Kenny, Mikasa memang tidak pernah menanyakan hal itu. Mikasa hanya menunggu. Lalu yang dilakukan mereka selama ini? Tak jauh seperti pelampiasan birahi tanpa adanya ketertarikan.
Jika itu semua benar, mengapa ia kecewa mendengar semua itu? Mikasa menggantikan tubuhnya dengan beberapa koin emas dari Levi, tidak berbeda seperti wanita jalang yang menjual tubuhnya. Meski orang-orang menilai mereka sah-sah saja melakukannya.
"Khawatir jika kau kehilangan lubang untuk memuaskan nafsumu?"
"Itu alasan kedua."
Mikasa berdecih, merasa bodoh karena tidak menyadari perkataan Levi kala itu. Levi tidak benar-benar mengkhawatirkannya. Lagipula untuk apa mengkhawatirkan seseorang yang tidak di sayangi. Mikasa telah salah menilai Levi. Mikasa terlalu percaya diri. Levi tidak pernah menyukainya. Tidak pernah. Sekali lagi, Mikasa salah dalam membuat keputusan.
"Dan itu membuatku sakit…"
Mikasa bergumam sambil menggenggam kerahnya, meredam rasa sakit dalam tubuhnya, air matanya menetes dan kepalanya menjadi sakit. Hidungnya sulit untuk menghirup oksigen, mulutnya mengeluarkan rintihan kecil. Kenny menoleh saat Mikasa semakin terisak, mendapatkan sisi wanita darinya. Setelah pukulan-pukulan menyakitkan itu dilayangkan, justru sebuah perkataan yang membuat Mikasa menangis. Pepatah mulutmu harimaumu memang benar.
Sebelum benar-benar pergi Kenny melayangkan ucapan kasarnya pada Mikasa untuk lebih membebani pikirannya, "Jangan berharap banyak pada anak itu, kau tidak lebih seperti alat bagi komandanmu. Aku tahu pernikahanmu itu didasari perjodohan bukan perasaan. Cih, dari dulu anak itu tidak mempunyai minat pada wanita mana pun."
End of the Chapter
Don't forget to sips your own tea before it's getting cold.
