Kim Doyoung (NCT)
X
Jung Jaehyun (NCT)
•
Disclaimer : They belong to themselves.
Let me say thank you for reading my story first
•
Jaehyun sudah sangat jenuh mendengar ocehan sang Ibu, Nyonya Jung satu ini terus saja mengomeli dirinya dikarnakan istrinya yang sakit justru ia tinggalkan di rumah orang tuanya.
Lagipula dimana letak kesalahan Jaehyun? Bukankah wajar jika Doyoung ingin bersama ibunya? Jaehyun tidak salahkan ?
"Harusnya kau bilang pada eomma, bukannya tidak boleh hanya saja Doyoung kan menantu eomma, sudah seperti anak eomma sendiri, eomma juga ikut khawatir jika ia sakit begini, eomma kan juga mau merawatnya," Penuturan sang ibu, membuat Jaehyun jengah dengan tingkah kekanak-kanakan ibunya.
Ia hanya diam sembari memasukkan beberapa helai pakaian dalam untuk ia bawa menginap. Jaehyun bisa saja membelinya tanpa perlu pulang ke rumah, tapi ia perlu meminta izin terlebih dahulu pada orang tuanya jika Doyoung ingin menginap di rumah orang tuanya terlebih lagi istrinya itu sedang sakit.
Dan seperti yang Jaehyun duga, ibunya pasti akan mengomel seperti ini.
"Ini celana dalam mu bawa dan tinggalkan saja jadi jika nanti kau menginap lagi, tidak perlu membawa barang dari sini," Sembari menyodorkan beberapa helai dalaman dan kaus kesukaan Jaehyun. Baiklah ibunya memang menyebalkan ketika mengomel tapi ia tetaplah orang yang baik.
"Jadi bagaimana keadaan Doyoung sekarang ? Kau bilang ia muntah-muntah kan? Apa ia juga diare ? Atau yang lainnya ?" lagi, Ibu Jaehyun tidak bosan-bosannya menanyai dan mengintrogasi Jaehyun.
"Eomma, berhentilah bertanya, aku juga tidak tahu, tapi yang pasti ia hanya muntah dan seingatku ia tidak diare– uhmm mungkin," Ragu-ragu Jaehyun menjawab, seingatnya Doyoung memang hanya muntah tapi ia tidak tahu bagaimana kondisi Doyoung selebihnya apalagi ia tadi hanya sebentar menemaninya.
Jika Doyoung memang diare dan muntah bukankah itu bisa jadi bahaya? Jika iya keadaannya seperti itu, maka Jaehyun akan memaksa Doyoung untuk di periksa oleh dokter bagaimanapun caranya, mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan? Tapi Doyoung kan sudah sakit. /lol/
"Jika ia hanya mual dan muntah mungkin Doyoung hamil," ceplos sang Ibu, Sementara Jaehyun hanya menatapnya datar.
"Jangan mengada-ada eomma, hamil tidak semudah itu, bercandanya tidak lucu," Jawab Jaehyun yang langsung di hadiahi sebuah tepukan di kepalanya.
Menurut Jaehyun, Ibunya ini benar-benar definisi manusia bar-bar sesungguhnya.
"Yak! Kau pikir eommamu ini bercanda hah!,"
"Bagaimana tidak mungkin Doyoung hamil dari bentuknya saja sudah jelas istrimu itu sangat subur, belum lagi kau menidurinya seperti orang kesetanan, jadi kenapa tidak mungkin," kali ini tidak hanya menyindir, ibunya juga menjewer telinga Jaehyun hingga merah.
"Tentu saja, istirku secantik itu masa iya aku harus menahan diri dan menyia-nyiakannya," bela Jaehyun, matanya berbinar sembari membayangkan istrinya yang menggemaskan itu tanpa menghiraukan sang ibu yang masih menjewer telinganya hingga merah.
"Oh astaga Jung Jaehyun, kau mesum sekali seperi ayahmu,"
"Ya ya ya aku memang mesum, terserah eomma mau bicara apa," Jaehyun sudah malas menghadapi Ibunya, berdebat dengan wanita satu ini tidak akan ada habisnya hingga ia puas.
Jaehyun hanya membawa barang seperlunya, ia tidak tahu berapa lama Doyoung ingin menginap, tapi yang jelas mereka tidak akan bisa berlama-lama hingga hitungan bulan di sana.
Karna selagi dirinya masih menjadi anak dari tuan dan nyonya Jung, ayah ibunya pasti akan menggeret Jaehyun beserta Doyoung pulang ke sini.
"Ketika sampai langsung telfon eomma, mengerti? Video call bila perlu, eomma butuh mengecek keadaan menantu kesayangan eomma,"
"Iya aku mengerti," layaknya anak kecil, Ibu Jaehyun tidak berhenti-hentinya mewejangi Jaehyun dengan berbagai macam ultimatum.
"Biar paman Ahn mengantarkanmu, eomma yakin kau lelah, tidak baik jika kau menyetir sendiri,"
"Lalu aku kekantor besok bagaimana?,"
"Kau pikir kediaman Keluarga Kim tidak punya supir apa,"
"Aku tidak ingin merepoti mereka," Jaehyun menggelengkan kepalanya, menolak usulan yang di berikan sang ibu.
"Benar juga, tapi eomma juga tidak ingin kau menyetir, sekalipun kau bisa, tapi kau kan baru pulang kerja, pasti kau lelah, bagaimana jika sesuatu terjadi?,"
"Eomma aku bukan anak- anak atau remaja lagi jadi tenang saja. Lagipula aku tidak ingin membuat Doyoung menganggur jika sesuatu terjadi padaku,"
"Oh astaga anak ini," Jung Jaejoong tidak habis pikir dengan otak putrnya, tidak menyangka Jaehyun akan menjadi seperti ini, seharusnya dari dulu ia nikahkan putranya agar tidak separah ini tingkat kemesumannya.
Jaehyun tidak memperdulikan ibunya yang menatap nanar kearahnya, ia justru mengecup pipi sang ibu lalu kening dan kemudian berpamitan sebelum pergi.
Begitu tiba, ia langsung di sambut oleh Doyoung sudah menyiapkan segala kebutuhan Jaehyun, mengajaknya makan, membuatkan minuman lalu menawarkannya untuk mandi dan bahkan mengeringkan rambut basahnya yang dari tadi ia biarkan meneteskan air ke karpet bulu di kamar Doyoung.
Walaupun setelah melalui perdebatan panjang antara Jaehyun yang menyuruh Doyoung untuk beristirahat sementara Doyoung ingin bermanja-manjaan.
Yah, Doyoung juga tidak tahu tapi mendadak saja ia ingin memanjakan Jaehyun dan setelah adu mulut yang panjang. Inilah hasilnya, dengan posisi Doyoung yang duduk di pinggiran kasur sementara Jaehyun duduk di atas karpet dengan kepalanya berada di atas paha Doyoung yang kini tengah mengeringkan rambutnya.
"Apa kau sudah lebih baik?" Jaehyun membuka suara, menanyakan hal yang sama untuk ke lima kalinya semenjak ia datang tadi.
"Iya Jaehyun," Jawab Doyoung singkat, jari-jarinya mengusap pelan tiap helaian rambut Jaehyun yang basah dengan sebuah handuk kecil.
"Kau yakin ? Apa kita tidak perlu ke dokter?,"
"Tidak Jaehyun, aku sangat baik,"
"Benarkah?"
Doyoung hanya berdehem menjawabi sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau begi–,"
Doyoung langsung mendekap kepala Jaehyun, ia sudah bosan di tanyai mengenai kondisinya, Doyoung tidak sakit, kondisinya justru sangat sehat dan luar biasa saat ini.
"Jaehyun berhentilah, aku sudah lebih baik dari sebelumnya, jangan bicara lagi, mengerti," omel Doyoung, dan entah bagaimana, Jaehyun hanya menangguk menurutinya.
Doyoung lalu melanjutkan aktifitasnya dalam keheningan.
Begitu selesai Doyoung menahan Jaehyun yang hendak berdiri di posisi yang sama, ia mendekap kepala Jaehyun ke arah perutnya.
Dengan tangan kekar Jaehyun yang memeluk pinggangnya.
Bingung, Doyoung ingin memberi tahukan Jaehyun mengenai kehamilannya, tapi ia tidak tahu harus memulainya dari mana dan bagaimana.
Doyoung lalu berinisiatif memanggil suaminya, "Jaehyun–,"
"Ya sayang?," tanya Jaehyun sembari menikmati elusan lembut jemari tangan Doyoung.
"Aku ingin berbicara, dan ini sangat-sangat penting, jadi dengarkan aku dengan baik-baik,"
"Baiklah," Jaehyun menyanggupi permintaan sang istri.
Memangnya hal penting apa yang membuat Doyoung jadi begitu berbeda,
'ia bukannya ingin meminta cerai kan?' Batin Jaehyun panik.
Ia menggelengkan kepalanya, menghapus pikiran negatif dan memilih untuk mendengarkan Doyoung berbicara terlebih dahulu.
Hening, Doyoung masih belum memulai pembicaraannya.
"Kau tahu Jaehyun–," tanpa aba-aba Doyoung mengatakan sesuatu lalu mengantungkannya begitu saja.
Yang langsung ia lanjutkan tanpa memberi celah bagi Jaehyun untuk menginterupsi, "Sekarang, jika aku memelukmu seperti ini memang tidak ada apa-apanya, tapi–,"
"Beberapa bulan lagi, ketika aku memelukmu seperti ini kau sudah bisa merasakan gerakannya, walaupun pelan kau pasti bisa merasakannya–," dengan seksama Jaehyun mendengerkan perkataan Doyoung, mencerna kata demi kata yang di ucapkan istrinya.
"Lalu beberapa bulan selanjutnya kau juga bisa mengajaknya bicara, ibuku bilang, mereka sangat suka ketika ayahnya mengajaknya bicara," Doyoung berbicara dengan penuh antusias.
"Tapi nanti aku akan menjadi sangat-sangat jelek, tubuhku akan bertambah gemuk, perutku buncit, paha dan lenganku mungkin ikut membesar–,"kini nada bicara Doyoung berubah, menjadi bergetar dan pelan, seakan menahan tangis.
"Juga akan ada banyak tanda retak jelek di tubuhku, aku yakin kau pasti tidak menyukainya,"
"Apa maksud– mphhh," hendak memprotes, Doyoung langsung menutup mulut Jaehyun, melarang sang suami untuk mencela perkataannya, "sshh, aku sedang bicara Jae, sudah kukatakan jangan mengangguku, kan?,"
Jaehyun mengalah, ia menganggukkan kepalanya dan meberikan kecupan -kecupan kecil pada telapak tangan Doyoung yang membekap mulutnya.
Jika dulu Doyoung akan merasa risih, sekarang ia justru tertawa geli, ia menyukai hal-hal kecil yang di lakukan Jaehyun untuknya.
"Baiklah, aku lanjutkan, jangan menyelaku lagi! Jika kau menggangguku, aku akan menghukummu," ancam Doyoung, sedangkan Jaehyun justru terkekeh geli dengan ancaman yang di lontarkan istrinya itu.
"Jadi– hufft," Doyoung menarik nafas dalam-dalam, seakan ia tengah kesulitan untuk mengatakan sesuatu, ia tidak tahu bahwa akan sesulit ini jadinya.
"beberapa bulan kedepan, aku mungkin akan berubah. Aku mungkin akan meminta hal-hal aneh padamu, aku juga mungkin akan sering membuatmu merasa jengkel, marah, kesal,"
"Juga, aku mungkin akan sering kelelahan, bertingkah menyebalkan, sentimen ataupun menjadi melankolis tanpa alasan yang jelas,"
"Itu mungkin akan menyiksaku, dan juga kau."
Lalu Doyoung kembali hening, ia tengah mempersiapkan dirinya sebelum memberitahukan hal pentingnya kepada Jaehyun.
"Tapi Jaehyun, semua itu tidak ada apa-apanya ketika ia nanti sudah ada di sini, kau tahu, aku mungkin akan menjadi manusia paling bahagia saat kedatangannya tiba, itu adalah kenginginan yang paling ku impikan sepanjang hidupku,"
Doyoung lalu menarik wajah Jaehyun untuk melihatnya.
Dari posisinya sekarang, Jaehyun bisa melihat dengan jelas bagaimana Doyoung tersenyum dengan cantiknya, dan Jaehyun bersumpah, itu adalah senyuman paling indah yang pernah ia lihat, dan hanya Doyoung yang memilikinya.
"Tapi ia juga membutuhkanmu Jaehyun,"
" begitu juga dengan aku, aku juga membutuhkan dukungan darimu, kau tahu sembilan bulan itu akan terasa sangat sulit tapi aku yakin kita pasti bisa melewatinya,"
Mata kelam Doyoung tampak berbinar terang, ia lalu mensejajarkan kepalanya tepat di samping telinga Jaehyun.
Hembusan nafas Doyoung yang menerpa telinga Jaehyun, cukup untuk merubahnya menjadi merah, entah karna malu, geli ataupun risih, Telinga Jaehyun yang memerah tampak menggemaskan di mata Doyoung.
"Karena itu, Jung Jaehyun–,
selamat! kau akan menjadi seorang ayah," bisik Doyoung pelan, sangat pelan malah tapi Jaehyun tidak perlu alat bantu untuk mendengarkannya.
Ia lalu memberi jarak di antara mereka, ingin melihat reaksi dari sang suami, sementara Jaehyun hanya diam mematung.
Senyum yang tadinya menghiasi bibir Doyoung luntur begitu saja tatkala Jaehyun tidak memberikan respon untuknya.
"Jaehyun? Ada apa? Apa kau tidak senang?" cemas Doyoung.
Inilah yang dari tadi ia khawatirkan, kemungkinan bahwa Jaehyun tidak senang atas kehamilannya.
pikiran negatif Doyoung mulai merambat kembali. Doyoung rasa dirinya terlalu naif? Bagaimana jika Jaehyun belum ingin memiliki anak? Lagipula mereka kan hanya di jodohkan, dan hanya karna Jaehyun memilihnya bukan berarti pria itu mencintainya kan?
Ah, lagipula selama mereka menikah Jaehyun belum pernah mengatakan bahwa ia mencintainya. Sekarang Doyoung menertawakan dan menangisi dirinya sendiri. Sepertinya ia terlalu berharap.
Sedangkan Jaehyun, sejujurnya ia diam karna syok, ia tidak sedang bermimpikan ? Ia tidak salah dengarkan? Doyoungnya hamil itu bukan bohongan ataupun prank ibunya saja kan?
"Jae? kau marah?," Doyoung memberanikan diri untuk bertanya dengan sangat berhati-hati.
"Maaf ji–," "kau bercanda? Kenapa aku harus marah, ya tuhan Doyoung,"
Seketika Jaehyun melompat dari posisinya, memeluk Doyoung hingga mereka terjatuh di atas ranjang berukuran queen size tersebut.
Jaehyun mencium Doyoung dengan mulutnya yang terus mengucapkan terima kasih tanpa henti.
"Kau serius kan? Kau tidak sedang berencana mengerjaiku bersama ibu, kan?," tanya Jaehyun,
Doyoung cepat-cepat menggelengkan kepalanya, menyangkal kecurigaan sang suami, "tidak Jaehyun, aku tidak bercanda," kedua tangan Doyoung menahan pipi Jaehyun agar berhenti menciuminya.
"Aku sungguh hamil Jaehyun, ia mungkin baru berusia beberapa minggu, saat ini ia pasti masih berbentuk gumpalan darah, tapi aku benar-benar hamil,"
Doyoung bahkan menyodorkan testpack yang dari tadi ia simpan sementara Jaehyun tidak dapat berhenti tersenyum walaupun sebenarnya ia tidak yakin apakah dirinya siap. Tapi, asalkan Doyoung bahagia karenanya maka Jaehyun akan berusaha semampunya.
"Ja–jadi kau tidak marah?" Doyoung bertanya sekali lagi meyakinkan, diiringi dengan tangisan yang sudah di tahannya dari tadi.
"Tidak sayang, kenapa aku harus marah dengan kabar gembira seperti ini?" Jaehyun balik bertanya.
Doyoung diam, ia juga bingung. "Justru aku sangat-sangat bahagia sekarang," timpal Jaehyun sebelum mencium bibir Doyoung.
Tidak ada lumatan ataupun hisapan yang seperti biasanya Jaehyun lakukan, hanya kecupan manis di antara bibir Jaehyun dan Doyoung.
Seumur hidup Jaehyun, ia tidak menyangka bahwa mendengar kabar kehamilan dari istri yang ia cintai akan membahagiakan seperti ini, ia pikir orang-orang terlalu melebih-lebihkannya. Tapi Jaehyun salah, ini memang semenyenangkan kau memenangkan hadiah lotre ratusan juta won.
"Jae~ ayolah, kau harus pergi ke kantor sekarang," pinta Doyoung yang di balas dengan gelengan dari Jaehyun.
Ini ketiga kalinya Jaehyun menolak pergi kekantor pada Doyoung, Jaehyun beralasan ingin menemaninya ke dokter yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Doyoung.
"Aku kan juga ingin ikut menemanimu," rengek Jaehyun, sementar Doyoung memutar matanya malas.
"Tapi aku kedokternya masih sore nanti Jae!" ucap Doyoung sedikit membentak hingga Jaehyun mengerucutkan bibirnya merajuk.
"Kenapa kau suka sekali menolakku," cicit Jaehyun sedih,
"Bukan begitu Jae, hanya saja kau tidak perlu berlebihan hingga membolos kerja seperti ini," jelas Doyoung, bergerak mendekat pada suaminya yang masih berada di atas ranjangnya.
Tangan Doyoung meraih pipi Jaehyun, lalu mengusapnya pelan, "aku janji tidak akan pergi tanpamu, aku pasti menunggu hingga kau pulang kerja–," ucap Doyoung berjeda,
"Jadi ayo bangun lalu mandi kemudian sarapan dan segeralah pergi ke kantor," bujuk Doyoung, sementara Jaehyun menggelengkan kepalanya lagi masih dengan wajah cemberut.
"Astaga Jae! lalu apa maumu?" bentak Doyoung marah, ini pertama kalinya Doyoung memarahi Jaehyun dengan meninggikan suaranya, biasanya menatap Jaehyun saja Doyoung sudah malu.
"Aku ingin cium!" Balas Jaehyun lantang.
Doyoung terdiam sejenak lalu menjawab, "Baiklah! Sini," Secepat kilat Jaehyun berdiri dan memeluk istrinya, mencium bibir sang istri dengan lembut tapi penuh akan tuntutan.
Jaehyun meraup bibir Doyoung penuh nafsu, katakan Jaehyun gila, tapi Doyoung yang mengomelinya tampak sangat cantik, yah walaupun Doyoung selalu tampak cantik di mata Jaehyun setiap waktu sebenarnya.
"Nghhh," Lenguh Doyoung ketika tangan nakal Jaehyun dengan tidak sopannya mulai meraba tubuhnya.
Ketika Jaehyun hendak melakukan yang lebih jauh, Doyoung menarik tubuhnya menjauh, membuat Jaehyun mendecih kesal.
"Aku yakin jika kubiarkan maka aktivitas ini tidak akan berhenti hingga kau puas," cecar Doyoung sementara Jaehyun hanya mampu mengerucutkan bibirnya kesal.
Doyoung yang gemas mengecup bibir Jaehyun singkat lalu beranjak dari tempatnya, "Jja! mandilah Jaehyun, aku akan menunggumu di bawah," ucapnya sembari melambaikan tangannya pada Jaehyun sebelum menghilang di balik pintu.
Jaehyun muncul dengan setelan rapinya yaitu kemeja bewarna biru yang di padu dengan celana dasar dan jas bewarna abu gelap yang tadinya ia tenteng di tangannya, tapi kini jas itu tergeletak mengenaskan di lantai.
Ia tidak buta, di depannya, Jaehyun bisa melihat Doyoung tengah bergelayut manja pada pria yang entah siapa Jaehyun tidak tahu.
Bahkan sang ibu mertua tidak ada sedikitpun niatan untuk menarik pria brengsek itu menjauh dari Doyoungnya.
Jaehyun hanya berdiri diam, menatap istrinya yang tengah di manja pria lain, dalam keterdiamannya, Jaehyun tengah menyumpah serapahi pria yg kini justru mengelus istrinya.
baiklah ini sudah sangat keterlaluan pikir Jaehyun yang terlalu fokus dengan dunianya, mengacuhkan Haechan yang daritadi memanggilnya.
"-Hyun oppa, jasmu terjatuh," Haechan menyentuh lengan Jaehyun sembari menyerahkan jasnya yang terjatuh.
"Oh, ah terima kasih chan," singkat Jaehyun sedikit terkaget karena panggilan Haechan.
Sementara Doyoung yang tersadar dengan keberadaan suaminya langsung menarik Jaehyun mendekat pada pria yang dari tadi di umpati olehnya.
"Jae, ini kakakku Yuta," perkenal Doyoung padanya, dan sekarang Jaehyun merutuki ketololannya karena cemburu buta pada iparnya sendiri.
Bagaimana Jaehyun bisa lupa Doyoung punya saudara laki-laki tertua rutuknya dalam hati. tapi tetap saja Jaehyun tidak suka, bagaiman jika Yuta ternyata siscon? Bukankah itu berarti Yuta adalah rivalnya.
Jaehyun terlalu sibuk dengan duniannya sendiri hingga akhirnya Yuta memeluk Jaehyun dengan ramahnya, "senang bertemu denganmu Jaehyun," ucap Yuta dengan senyuman manisnya.
"Eoh hyung tentu saja," jawab Jaehyun, sejujurnya ia malu ketika melihat Yuta yang terlihat sangat-sangat tampan.
"Tolong jaga adikku yah, kau tahu dia ini adalah ter-aneh daripada yang paling aneh," gurau Yuta dan Jaehyun hanya mengangguk mengiyakan dengan cengiran bingungnya.
"Yyak! Apa maksudmu oppa," ketus Doyoung,
"Diamlah kelinci, Oh iya Jaehyun, ngomong-ngomong kau hebat juga yah, bagaimana kau bisa menghamili Doyoung? Kau tahu kan anak ini anti dengan laki-laki, Wah aku benar-benar takjub denganmu," goda Yuta menaik-turunkan alisnya.
"Hentikaaan! eomma lihat Yuta oppa menyebalkan!" rengek Doyoung pada sang ibu, wanita itu bahkan menginjak kaki Yuta hingga pria itu kesakitan.
"Yya! Sakit sekali bodoh," marah Yuta, mereka berkelahi layaknya anak kecil, Doyoung sampai lupa bahwa ada Jaehyun yang kini tertawa melihat tingkahnya.
"Oh astaga kalian ini!"
"Doyoung malulah pada suamimu,"
"Yuta! Jaga bicaramu,"
"Dan kau Haechan, berhentilah makan serealmu seperti itu dan bantu eomma!"
Teriak nyonya Kim kepada tiga anaknya yang sudah dewasa tapi masih berkelakuan layaknya anak kecil.
"Ada apa ribut-ribut," tanya Tuan Kim dengan pakaian norak tapi keren lainnya, pria itu memadukan kemeja kuning dengan celana hijau miliknya hingga ia tampak seperti matahari berjalan, dan jangan lupakan kacamata hitamnya.
Semua orang yang berada di dapur hanya menatap Tuan Kim dengan tatapan kesilauan.
"Oh tuhan, sepertinya aku pisah saja dari pria ini," keluh ibu Doyoung lelah melihat tingkah suaminya.
"Iya eomma, pisah saja," setuju Yuta sementara Haechan hanya mengangguk dan mengucapkan "ne,ne!" Menyetujui.
"Sayang apa kau tega meninggalkanku?" Tanya ayah Doyoung nanar pada istrinya.
"Tentu saja, kenapa tidak," ucap sang istri, wanita Kim itu mendengus pada suaminya sendiri.
"Kalian setuju jika eomma pisah dari appa?" Tanya Junmyeon pada anak-anaknya yang langsung di jawab cepat oleh Haechan dan Yuta.
"Tentu saja, kami ingin mencari appa baru yang lebih normal," goda Haechan pada sang ayah yang kini berkaca-kaca ingin menangis.
"Doyoung~," panggil Kepala keluarga Kim itu mengadu pada putri sulungnya, ia tahu di saat semua membully dirinya maka Doyoung pasti membelanya.
"Apakah appa terlihat aneh?" Tanyanya dengan wajah sedih pada Doyoung yang menggeleng pelan dan memegang wajah tampannya.
"Tidak kok, appa terlihat tampan seperti biasanya-" ucap Doyoung sementara ibunya kini mendecih pada sang putri.
"Bela saja terus, kau memang anak ayahmu," kini ibunya merajuk karena Doyoung membela sang ayah.
"Eonni kau ini! Berhentilah memanjakan appa," marah Haechan.
"Aku tidak memanjakan appa kok," bela Doyoung,
"Eomma jangan seperti itu, jika eomma meninggalkan appa, nanti appa bisa jadi tambah parah," pinta Doyoung pada sang ibu yang tidak lagi merajuk padanya karena candaan Doyoung.
"Appa, kau memang tampan seperti biasanya, tapi sekarang appa terlihat seperti bunga matahari berjalan dan itu sangat menyilaukan mataku, jika appa tidak mengganti baju appa sekarang juga maka posisi pria tertampan milik appa akan di gantikan oleh Jaehyun," ancam Doyoung secara halus pada ayahnya yang kini memeluk Jaehyun.
Demi apa saja, posisi pria tertampan milik Doyoung adalah kebanggaannya, dan dia tidak ingin di singkirkan oleh anak sore hari yang baru saja menjadi suami dan menghamili putrinya itu.
Tidak terima kasih, dengan secepat kilat tuan Kim berlari kembali kekamarnya.
Jaehyun hanya terkekeh melihat tingkah keluarga istrinya ini, sekarang Jaehyun tahu bagaimana Doyoung bisa tumbuh menjadi wanita yang lembut dan pemalu.
"Sekarang kau membuatku menjadi rival ayahmu," keluh Jaehyun pada Doyoung, dan wanita itu hanya tertawa manja.
Dalam hitungan menit selanjutnya, Jaehyun bisa melihat sang mertua kembali dengan setelan normal yang hampir sama dengan miliknya.
"Lihat nak Jaehyun, sekarang kau punya saingan tidak tahu diri untuk memperebutkan Doyoung," sindir sang ibu mertua kepada suaminya melalui perantara Jaehyun.
Dan Jaehyun hanya tersenyum menanggapi, "ah jika Abeonim sainganku maka aku yakin aku akan kalah terlebih dahulu," gurau Jaehyun, ia bisa merasakan tatapan intimidasi dan mengerikan milik sang ayah mertua.
"Oh tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi," ucap ibu Doyoung menyemangati Jaehyun.
"Haechan, tarik ayahmu kesini, jangan biarkan ia mengganggu Doyoung dan suaminya," perintah nyonya Kim pada putri bungsunya ketika mendapati suaminya kini menjadi tembok pemisah antara Jaehyun dan Doyoung dengan cara duduk di antara anak dan menantunya.
"Haechan apa yang kau lakukan, kau mau jadi anak yang tidak sopan pada ayahmu sendiri?" sang ayah mencoba menghentikan Haechan yang menarik paksa tangan dan bajunya.
"Maaf bos, tapi ini adalah perintah ratu," tutur Haechan tanpa menghentikan perbuatannya sedikitpun.
Sarapan di kediaman keluarga Kim memang berawal ricuh dan lucu tapi berakhir khidmat setelah ibu mertuanya memarahi sang suami, Jaehyun belum pernah seperti ini, walaupun biasanya ayah dan ibunya bertengkar seperti itu, tapi karena ada Doyoung dan saudara-saudaranya, semuanya terasa lebih menyenangkan, dan Jaehyun menyukainya.
-TBC-
Hii '-')/ wasap nih guys hehe.
Aku cuma mau bilang terima kasih banyak buat yang masih nungguin cerita ini dan terima kasih juga buat supportnya yeay️
Jangan lupa cek cerita aku yang lain yaaa.
See ya and Ily 3
