Previous

Luhan melirik kearah sang suami yang sedang menatapnya dengan tajam, dirinya tahu dengan benar jika hawa yang tidak enak dan panas disebarkan oleh suami tampannya dan terasa seperti ingin mati saja.

"Sehun, besok aku ingin bertemu dengan Hoya sahabat lamaku" Luhan berusaha bersikap biasa saja walaupun dirinya sudah grogi dan ketakutan karena suaminya menatapnya seolah ingin membunuhnya saat ini juga lewat tatapan tajam tersebut

"Tidak" singkat padat dan jelas adalah jawaban yang diberikan Sehun pada istrinya yang tercinta

"Ayolah sayang" Luhan berusaha membujuk suaminya, jujur saja dirinya juga ingin bertemu dengan Hoya yang merupakan sahabat terbaiknya karena mau mendengarkan keluh kesahnya selama senior high school

"Tetap tidak" Sehun bersikeras tidak memberikan izin pada istrinya untuk menemui sahabat sang istri yang diketahuinya dengan baik bernama Lee Hoya

"Ish... Dasar suami nyebelin..." Luhan langsung membalikkan badannya dan tidur memunggungi sang suami karena terlalu kesal, jika sang suami cemburu maka tidak ada yang perlu dicemburukan jika itu menyangkut Hoya yang merupakan sahabatnya dan juga Sehun mengenai pria tersebut yang cukup lebay

Sehun terdiam dan memikirkan untuk memberikan izin pada sang istri pergi menemui sahabat lama mereka, tetapi disatu sisi dirinya tidak ingin Luhan berteman terlalu jauh dengan Hoya yang sedari dulu sudah diperhatikannya.

"Hah... Baiklah... Kau boleh pergi Lu..."

"Yey, Gomawo sayangku" Luhan bersorak senang dan langsung menghamburkan dirinya untuk memeluk sang suami yang memberikan izin padanya, mungkin lain kali suaminya bisa dibujuk dengan cara tersebut

"Tapi..." Sehun menggantung kalimatnya berharap Luhan tidak menolak penawaran yang diberikannya, karena dirinya ingin yang terbaik untuk sang istri

"Tapi?" Luhan bingung pada suaminya, sudah diberi izin tapi harus ada tapinya. Sangat menyebalkan bukan punya suami sejenis Sehun walaupun harus diakui ketampannya dan keseksiannya yang wow

"Tapi aku harus ikut karena aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian" keputusan yang terbaik menurutnya seperti itu karena tidak baik untuk membiarkan Luhan pergi berduaan dengan orang seperti Hoya

"YAK! Dasar suami posesif" Luhan mencibir karena setahunya Sehun tidak akrab dengan Hoya dengan begitu pula sebaliknya, justru jika Sehun ikut akan membuat Hoya semakin bingung dan tidak bisa banyak bicara seperti biasa

"Pilihan yang kuberikan hanya itu" Sehun membalikkan badannya untuk memilih tidur daripada ribut dengan istrinya hanya untuk membahas masalah yang tidak jelas

"Hahh.. Dasar suami nyebelin..." Luhan mengumpat karena memiliki suami yang sangat overprotective dan membuatnya sangat kesal saat ini juga

"Ingat, aku suami kamu dan sebaiknya jangan mengumpat pada suami sendiri dosa tahu" Sehun mengatakannya tanpa menatap wajah sang istri yang pastinya sudah sebelas dua belas kayak singa betina yang siap menyerang mangsanya

"Baiklah, aku memilih opsi yang kau berikan saja. Besok malam luangkan waktumu sajangnim: Luhan mengalah dan langsung tidur dengan memeluk suaminya dari belakang, mau bagaimanapun rasanya tidur sangat tidak nyaman bahkan tidak bisa tidur jika tidak memeluk suami tampannya tersebut

Sehun tersenyum senang dan membalikkan badannya hingga mereka berdua tidur sambil berpelukan, mungkin menurut Luhan cara yang dia berikan cukup aneh dan menjijikkan namun baginya itu yang terbaik untuk kebersamaan mereka semua.

..

..

..

#Sukinanda - #I-Love-You

..

..

..

Main Cast : HunHan

Other Cast : Bermunculan sesuai dengan cerita

..

..

..

Malam harinya Sehun dan Luhan menuju lokasi yang sudah ditentukan untuk bertemu dengan Hoya sahabat lama Luhan tepatnya, namun Sehun mengikutinya dengan malas karena bertemu dengan orang yang tidak penting menurutnya bahkan menggangu waktunya untuk bermesraan dengan sang istri.

"Ayo" Luhan mengajak suaminya untuk masuk kedalam restorant setelah mereka sampai, namun berbeda dengan Sehun yang malas – malasan maka Luhan tampak sangat semangat untuk bertemu dengan sahabat lamanya yang selalu mendengar keluh kesahnya sehingga itu yang membuat Hoya menjadi sahabat terbaik untuk Luhan semasa senior high school

Luhan membawa suaminya kemeja dimana Hoya sudah menunggunya dan mereka datang dari arah belakang sehingga sang sahabat tidak menyadari kedatangan mereka.

"DORR..." Luhan mengejutkan sahabatnya yang sangat mudah terkejut dan dibully seperti zaman dulu dan dugaannya sangat tepat bahwa Hoya masih sama seperti yang dulu

"ANJIRR..." Hoya terkejut bukan main ketika dikerjai oleh sahabat lamanya yang cantik tapi resenya minta ampun

"Hahaha..." Luhan dan Sehun langsung duduk dihadapan Hoya, Sehun merasa biasa saja dengan sikap tersebut seolah tidak acuh namun Hoya terkejut karena Sehun ikut kedalam pertemuannya dengan Luhan padahal Luhan tidak memberitahunya akan kehadiran orang lain dalam pertemuan mereka malam ini

"Hai Sehun" sapa Hoya dengan ragu dan gorgi, jujur saja selama ini dirinya tidak pernah bertatap langsung dengan orang tersebut seperti saat ini namun Sehun hanya didam dan memperhatikannya dengan datar

"Oh iya, Hoya kenalkan dia Se-.."

"Sudah tahu Lu, namanya Sehun. Satu sekolah juga sudah tahu akan hal itu" Hoya memotong pembicaraan Luhan yang menurutnya tidak penting, karena siapa yang tidak mengenal Sehun dijaman mereka sekolah dulu bahkan Sehun dijuluki Handsome Price disekolah mereka karena ketampanan yang dimiliki oleh sahabat mereka tersebut serta kecerdasaan yang tergolong genius

"Ish... Si jelek ini. Makanya orang bicara dengerin dulu" Luhan kesal karena apa yang mau disampaikannya jadi gagal karena sahabatnya suka memotong pembicaraannya tetapi jika dihitung ini baru kedua kalinya sang sahabat memotong ucapannya

"Ya lanjutin saja" Hoya cukup takut karena tatapan yang diberikan Sehun sangat tidak bersahabat padanya terutama ketika dirinya memotong ucapan Luhan, dan dirinya cukup bingung apakah Sehun dan Luhan sedang menjalin suatu hubungan

"Aku hanya ingin mengatakan bahwa Sehun ini adalah suamiku"

"..."

Hening adalah kejadian selanjutnya setelah Luhan memberitahu hal tersebut, bagi Luhan mungkin itu adalah hal bahagia yang harus dia bagi ke sahabatnya namun bagi Hoya itu adalah hal kramat bagaikan petir disiang bolong.

"Oi, kenapa jadi terdiam" Luhan bingung kenapa Hoya terdiam, apa mungkin kaget ketika dirinya mengatakan bahwa Sehun adalah suaminya tapi semua orang pasti terkejut karena selama masa senior high school dirinya selalu berusaha menjauh dan menolak mentah – mentah jika Sehun mendekat padanya

"Tidak apa – apa, hanya terkejut saja Lu" Hoya tersenyum terpaksa agar tidak ketahuan akan isi hatinya ketika mengetahui hal tersebut dimana sahabatnya sudah sah menjadi istri dari musuh sahabatnya

"Hoya, dapat darimana nomor handponeku?" Luhan bertanya karena masih bingung akan hal tersebut, padahal selama ini tidak banyak yang tahu nomor ponselnya selain sahabat dekatnya saja sementara Hoya sudah memilih universitas yang berada dinegara paman sam sehingga mereka lost contact sama sekali

"Dapat dari teman Lu"

Luhan hanya mengangguk saja, lagian dirinya tidak ingin terlihat cerewet seperti biasa jika bertemu dengan Hoya karena sang suami tidak menyukai dirinya yang terlihat banyak bicara pada orang lain selain pada suaminya padahal suaminya saja yang malas atau irit bicara padanya.

"Oh iya, kalian sudah pesan makan?" Hoya lupa menyanyakan hal tersebut dan lagian untuk sekedar basa basi saja dengan sahabat lamanya beserta suaminya

"Sudah, sebentar lagi mungkin datang" Luhan yang menjawab karena suaminya tidak akan menjawab pertanyaan dari sahabatnya

Luhan dan Hoya menghabiskan waktu untuk bercerita mengenai masa lalu mereka yang menjadi sahabat sedangkan Sehun pura – pura tidak mendengar namun telinga dengan jelas – jelas mendengar setiap pembicaraan antara istrinya dengan sahabat sang istri.

Setelah selesai makan malam bersama, Hoya pamit duluan hingga meninggalkan Luhan dan Sehun yang baru saja memasuki mobil setelah membayar makan malam tersebut serta melajukan mobil menuju rumah mereka.

"Kenapa eksrpesimu seperti itu... Ah lagian setiap hari memang ekspresimu datar dan tidak bersahabat" Luhan ingin bertanya namun teringat jika suaminya memang tidak memiliki ekspresi lain selain datar dan tidak bersahabat

"Lu, kau mau berjanji padaku?" Sehun bukan menjawab atau mencibir sikap istrinya atas tuduhan tersebut namun meminta sang istri untuk berjanji padanya

Luhan menautkan kedua alisnya dengan cepat, dirinya bingung karena sang suami tidak pernah seperti ini sebelumnya dan rasanya dirinya tidak bisa menolak apa yang diinginkan sang suami lantaran suaminya tidak pernah melakukan hal buruk padanya.

"Apa?"

"Tolong jauhi Hoya dan jangan pernah bertemunya setelah hari ini, bisakah kau berjanji akan hal itu padaku?"

Sehun menatap Luhan dengan sungguh dan perkataannya tersebut bukan sebuah kecemburuan namun terkesan tegas, Luhan yang melihat kesungguhan Sehun jadi bingung snediri seolah dirinya tidak tahu permainan yang sedang dimainkan oleh suaminya dengan Hoya

"Alasannya?" Luhan meminta penjelasan sehingga dirinya bisa mengambil keputusan atas permintaan sang suami, dirinya bukan anak kecil yang harus diatur – atur dan dipaksa untuk ini itu

"Untuk saat ini aku tidak bisa memberitahumu tetapi kumohon ini untuk kebaikan bersama Lu" Sehun meminta maaf dalam hati karena tidak bisa terlalu jujur pada Luhannya tetapi apa yang dilakukannya ini adalah yang terbaik untuk mereka semua

"Baiklah, akan kuusahakan" Luhan tidak berjanji karena dirinya sama sekali tidak tahu permasalahannya, dan dirinya bisa menganggap jika suaminya cemburu jika dirinya lebih akrab dan banyak menghabiskan waktu dengan Hoya dibandingkan dengan suaminya

"Harus" Sehun menekankan kata tersebut karena dirinya tidak ingin terjadi apa – apa pada Luhan

..

..

..

Setelah pertemuan tersebut, Hoya sama sekali menghilang dari hadapan Luhan begitu juga dengan Sehun yang menjadi semakin was – was karena bisa saja Hoya menyusun rencana terlebih dahulu sebelum bertindak.

CLECK

"Ayo makan siang" Luhan masuk kedalam ruangan suaminya dengan rantang yang berada digenggamannya untuk makan siang mereka seperti biasa, Luhan yang sudah berhenti menjadi seketaris suaminya langsung kembali ke aktifitas normal seperti memasak makan siang dan malam beserta mengantarkan makan siang kekantor suaminya untuk makan bersama

"Baiklah" Sehun menghentikan pekerjaannya dan langsung duduk ditempat biasa dimana dirinya bersama sang istri menghabiskan waktu untuk makan siang bersama

Makan siang berjalan dengan tenang karena mau bagaimanapun Sehun masih sibuk memikirkan kerjaannya yang belum siap, dan rasanya dirinya bisa gila jika seperti ini terus menerus dimana berkas harus diperiksa terlebih dahulu.

"Kau kenapa Sehun?" Luhan merasa aneh karena suaminya tidak seperti biasa ketika dirinya datang yang langsung dipeluk, dicium dan bahkan digoda

"Tidak ada" Sehun menjawab sekilas dan melanjutkan makan siangnya dengan cepat karena ingin kembali bekerja

"Jangan bohong, aku tahu kalau kau menyembunyikan sesuatu. Apa sesulit itu untuk berbicara secara langsung pada istrimu dan bukankah kau sendiri yang mengatakan jika ingin hubungan kita bertahan hingga maut memisahkan adalah saling jujur dan terbuka?" Luhan terisak karena suaminya menutupi sesuatu dari dirinya, dan dirinya sangat tidak suka akan hal tersebut karena selama ini dirinya sudah terbuka dan jujur pada Sehun walaupun hanya masalah kecil namun sekarang suaminya seolah menyembunyikan sesuatu darinya

"Shh... Jangan menangis Lu, aku minta maaf" Sehun menghentikan makan siangnya yang hampir habis dan membawa Luhan kedalam pelukannya, mungkin dirinya juga bersalah dalam hal ini karena tidak jujur pada Luhannya walaupun pasti sang istri akan kesal habis padanya

"Hiks.." Luhan mencoba untuk mendorong dada suaminya namun hasilnya sama saja karena kekuatan sang suami lebih besar dibandingkan dengan dirinya

"Baik aku akan jujur, tetapi kumohon jangan marah setelah aku mengatakan hal ini" Sehun meminta hal tersebut karena takut Luhan akan membencinya atau bahkan hendak memukulnya dengan tanpa ampun

"Katakan saja" Luhan berteriak kesal karena suaminya selalu ingin janji darinya terlebih dahulu

"Baik, aku hanya sedang memikirkan pekerjaanku Lu yang menumpuk. Maka dari itu ketika kau datang aku hanya akan langsung makan siang dan langsung lanjut kerja, aku tidak mau dirumah waktuku habis untuk bekerja saja tanpa memikirkanmu"

Sehun tidak bisa menahan masalahnya sendiri karena dengan caranya justru membuat Luhan menangis dan dirinya sangat tidak suka akan hal tersebut.

Luhan memukul dada suaminya dengan kesal "Dasar bodoh, waktu aku datang kita bisa seperti biasa, dan jika dirumah kau sibuk maka aku hanya bisa menemanimu untuk bekerja. Itu sudah resiko memiliki suami seperti itu, jadi aku akan berusaha memahaminya walaupun kesal. Tetapi jika ingin lembur maka kau bisa melanjutkannya dirumah jangan dikantor, itu saja yang kuinginkan darimu"

"Gomawo Lu, sudah pengertian denganku" Sehun tidak menyangka jika istrinya dengan lapang dada menerima dirinya yang sibuk yang mungkin tidak akan sempat memperhatikan istrinya seperti biasa

"Hm, aku juga tahu itu bukan keinginanmu sayang" Luhan mencium bibir suaminya dengan lembut seolah menunjukkan dirinya serius bukan asal bicara mengenai tanggapannya atas masalah sang suami

CLECK

"Seh-... Oh maaf" seseorang yang masuk dengan menerobos pintu ruangan Sehun langsung undur diri ketika melihat adiknya sedang berciuman dengan istrinya ketika sedang sibuk begini, dan niatnya ingin memberikan berkas pada sang adik harus tertunda karena tidak ingin menjadi obat nyamuk atau penggangu

BLAM

"HYUNG!" Sehun kesal karena moment indahnya dengan Luhan hancur gara – gara Hyungnya yang sangat menyebalkan karena datang diwaktu yang tidak tepat

"Hei sudah lahh, ayo lanjutkan makan siangmu agar bisa kembali kerja. Sepertinya Jin Oppa datang tadi karena sesuatu yang penting"

Luhan menjauh dari suaminya dan melanjutkan makannya jujur saja dirinya malu untuk dilihat jika sedang berciuman dengan suami sendiri dan berbeda dengan Sehun yang makan sambil menggerutu, jika ciuman tadi berlanjut sedikit lagi maka dirinya akan bisa bekerja dengan baik dan tenang namun semuanya sudah sirna begitu saja Hyungnya masuk kedalam ruangannya.

Selesai makan siang Luhan pamit pada suaminya untuk pulang dan Sehun memberikan izin lagian dirinya masih sibuk dan targetnya nanti malam tidak boleh membawa kerjaan kerumah karena ingin menghabiskan waktu bersama Luhan yang tersisa hanya beberapa jam setiap harinya dan lagian kerjaan yang dikerjakannya memiliki batas waktu selama seminggu sehingga bisa melanjutkannya besok.

Sehun meninggalkan ruangannya untuk menemui Hyungnya mana tahu tadi Hyungnya ada ingin sampaikan hal penting seperti yang dikatakan Luhan.

Malam harinya Sehun pulang lebih lama satu jam dari biasanya dan sudah mengabari Luhan akan hal tersebut, dirinya cukup bersyukur memiliki Luhan sebagai istrinya karena sabar dengan dirinya yang sangat sibuk dan sibuk.

CLECK

"Sudah pulang?" Luhan bertanya sambil membantu suaminya untuk melepaskan dasi serta tas kerja Sehun untuk dibawa kedalam rumah

"Hm, aku sudah mengerjakan bagianku untuk hari ini" Sehun senang karena setidaknya sudah selesai 30% dari semuanya

"Jangan bilang karena tidak ingin waktu untukku berkurang makanya kau cepat pulang Sehun" Luhan memincingkan matanya menatap sang suami, bukan dirinya tidak senang jika suaminya cepat pulang namun dirinya sangat tahu dengan jelas jika suaminya sibuk akhir – akhir ini

"Bukan sayangku" Sehun mencium bibir Luhan dengan gemas karena tuduhan yang diberikan oleh istrinya "Aku mengerjakan semua pekerjaanku dengan semangat setelah mendapat ciuman cinta darimu, besok – besok cium lagi biar semangat kerjanya"

PLAK

"YAK! LU, KENAPA KAU SADIS PADA SUAMIMU" Sehun menggerutu dan mengusap lengannya yang dipukul sang istri dengan santainya

"Aku sudah memberikan morning kiss dipagi hari dan ciuman padamu ketika berangkat bekerja, kurang apalagi coba bahkan kau diam begitu ketika makan siang seperti orang sakit. Apa jangan – jangan kau memiliki simpanan dikantor makanya semangat bekerja setelah mendapat ciuman darinya?"

Sehun menggelengkan kepalanya dengan cepat atas tuduhan sang istri padanya, entah dosa apa dirinya sehingga mendapat tuduhan seperti itu yang sangat tidak layak untuk dituduhkan padanya "Tidak, kau bicara apa"

"Kau sendiri yang mengatakan jika setelah mendapat ciuman semakin semangat bekerja" Luhan semakin gencar menggoda suaminya yang sudah menggodanya terlebih dahulu, mungkin cara seperti ini lahh yang membuat suaminya untuk lepas dari rasa stres

"Sudah lahh, aku hanya bercanda. Tidak ada yang kucintai selain dirimu"

"Oh benarkah? Tapi ngomong – ngomong aku juga bercanda"

"YAK! Awas kau"

Sehun berlari mengejar Luhan yang sudah lari duluan untuk menghindarinya, bahkan mereka saling kejar mengejar dan bercanda hingga makan malam mereka undur menjadi satu jam setelah Sehun menangkap Luhan dan memberikan hukuman ringan pada sang istri.

~TBC~