Celebrity Scandal
keanijun
2018
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seseorang pernah mengatakan pada Baekhyun bahwa menjadi kuat adalah pelajaran yang hanya bisa didapat dari segala masalah dalam hidup.
Baekhyun pikir dengan semua yang sudah ia lalui, ia seutuhnya menjadi seseorang yang kuat dan tangguh akan banyak hal. Nyatanya itu tidak benar. Tidak semua masalah yang pernah dilalui bisa memberi pelajaran berharga, bisa saja itu akan menjebak kita dalam masalah baru lainnya.
Dan Baekhyun menerima itu.
Selembar surat kabar yang tidak sengaja ia baca di rak pajang mengatakan bahwa Park Chanyeol menipu publik dengan skandal kencan nya yang misterius. Bekerja sama dengan seseorang demi menyusun skandal dan menarik perhatian publik sedang ia menyembunyikan seorang wanita yang telah ia perkosa.
Baekhyun tidak bisa mengeluarkan reaksi apapun selain badannya yang tiba-tiba gemetaran. Kepala nya pusing memikirkan kilas balik dari sumber masalah ini keluar. Baekhyun bergegas mengeluarkan uang untuk mendapatkan surat kabar tersebut. Ia buru-buru berlari menuju tempat tinggalnya dan mengunci pintu karena dalam pikirannya terekam bagaimana ia pernah terjebak dalam kafe yang penuh dengan penggemar ribut dan kilatan kamera. Ia harus bersembunyi dari perasaan tidak aman.
Mata nya menelisik cepat kalimat demi kalimat, mencari suatu kata seperti 'Byun' atau 'Baekhyun' atau 'Nayeon' atau sesuatu yang bisa membuat ia terancam. Berulang kali ia membaca dan semakin cemas perasaannya.
Chanyeol telah melakukan pemerkosaan
Seorang pria yang disewa untuk menjadi pacar bohongan
Meninggalkan korbannya dalam keadaan hamil
Dilaporkan bahwa sang korban telah meminta bantuan kepada lembaga perlindungan perempuan
Kasus akan dibawa ke polisi
Tidak ada Byun, Baekhyun, atau Nayeon. Hanya ada Chanyeol. Baekhyun mendesah lega namun dalam hatinya ia gundah karena ia tahu seberapa besar masalah yang Chanyeol hadapi. Separuh dalam artikel tersebut memaparkan berita yang salah dengan bumbu yang membuatnya semakin panas. Baekhyun menutup koran tersebut dan mendesah berat. Rahasia sebesar ini bisa bocor ke tangan media adalah hal buruk. Kepala Baekhyun tidak henti menduga siapa yang bisa menyebabkan kekacauan ini.
Dia, Jongdae, agensi Chanyeol, Chanyeol sendiri.
Besar kemungkinan mereka tidak akan membuka skandal ini. Baekhyun menggigit bibirnya cemas. Bagaimana jika Nayeon yang melakukannya?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan brengsek!"
Chanyeol tidak bersusah payah untuk menahan amarahnya pada wanita ini. Dia pikir wanita ular ini sudah keterlaluan. Emosinya sudah di ubun-ubun, tidak tahu lagi bagaimana cara mengendalikannya.
"Apa yang aku lakukan? aku hanya melakukan apa yang aku katakan."
Nayeon punya nyali besar dengan berterus terang pada Chanyeol yang dia tahu sudah marah besar. Tidak ubahnya serigala, Chanyeol terlihat menyeramkan dengan tatapan tajamnya. Suasana di apartemen mendadak panas bak area pertandingan.
"Dimana akal sehatmu! Kau sungguh sudah gila!"
Nayeon melangkah santai mendekati Chanyeol. Ia tidak gentar sebab ia tahu harus melakukan apa.
"Chanyeol, aku sudah mengatakan padamu untuk tidak bermain-main denganku. Aku tidak suka ketika kau masih memikirkan Baekhyun dan pergi mencarinya."
Chanyeol menahan nafasnya. Nayeon yang ada di depannya bukan adik Baekhyun yang dia bilang imut dan polos. Nayeon bukan wanita sembarangan.
"Kau melakukan hal ini hanya karena Baekhyun?" Chanyeol bertanya, seolah dia tak percaya bahwa cemburu membuatnya bertindak gegabah.
"Ya." Nayeon berkata seolah itu bukan apa-apa baginya, walau nyatanya Chanyeol seolah bertambah murka.
Chanyeol tertawa remeh, dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nayeon. Hanya karena cemburu ia membongkar semua ke publik?
Chanyeol berjalan mendekat ke arah jendela, matanya menerawang keluar, disana matahari akan segera hilang. Selintas tentang Baekhyun muncul di kepalanya, Baekhyun menyukai pemandangan seperti ini. Chanyeol tersenyum kecil membayangkan pria kecil itu yang tersenyum bahagia. Bahkan disaat terberat sekalipun, pikiran tentang Baekhyun mampu membuatnya bahagia. Baekhyun penguat nya, Baekhyun seperti tiang penegak dalam hidupnya. Jika seribu badai akan datang, Chanyeol siap menerjangnya asalkan Baekhyun ada dan tetap disisi nya.
Nayeon duduk dengan tenang di sofa. Ia duduk membelakangi jendela, namun punggungnya dapat merasakan panas. Panas dari kegelisahan nya sendiri. Dia hanya menatap bayangan Chanyeol yang terpantul pada dinding di depannya. Pria itu tidak bergeser barang sedikit. Figur bayangan hitam itu terlihat gagah, bahkan ketika dia tidak bisa melihat secara langsung. Nayeon selalu ingin memeluk pria itu, pria yang tiba-tiba merubah ketetapan hatinya dengan cepat.
"Kau tau kenapa aku mencari Baekhyun?" Chanyeol bertanya tanpa beranjak dari sana. Begitupun dengan Nayeon yang tidak bergerak seujung kuku pun. "Kau mencintainya kan?" Nayeon mengatakan itu dengan penuh rasa resah. Hanya memikirkan hal itu sudah membuat Nayeon kelimpungan.
"Lebih dari itu."
Nayeon berdiri dan berbalik menghadap Chanyeol. Punggung tegap itu seolah mengatakan bahwa ia akan menjadi tembok untuk mereka. Punggung yang selalu Nayeon inginkan sebagai tempat bersandar. Tempat ia bisa pulang. Semakin dipikirkan, semakin Nayeon tidak bisa mengingkari betapa ia tergila-gila pada Chanyeol.
"Baekhyun," Chanyeol berbalik dan mereka saling bertatap. Matanya yang teduh itu memancarkan kesedihan, keresahan, Nayeon tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan.
"Dia hamil anak ku."
Dan Nayeon tidak bisa bereaksi lagi selain bersimpuh dan menangis sepanjang sore itu.
.
.
.
.
Chanyeol tidak ubahnya ada di ujung jurang.
Ruangan berdinding abu ini menjadi saksi bagaimana karir Chanyeol akan berjalan setelahnya. Petinggi dan staf agensi di depannya tidak mengatakan apapun sejak tadi. Mereka sibuk berkelana pada pikiran mereka sendiri tentang bagaimana menyelesaikan masalah ini secara halus.
Berkata jujur atau berkelit lagi tidak akan membantu sebab ia terlanjur terjebak dengan skenarionya sendiri. Jalan yang ia ambil dari awal sudah merupakan sebuah kesalahan. Menutupi Nayeon dengan membuat skandal bersama Baekhyun malah membuat masalah ini semakin rumit.
Tidak sulit untuk mengetahui siapa yang sebenarnya membongkar rahasia ini.
Namun yang tetap disalahkan adalah Chanyeol. Bagaimanapun harusnya Chanyeol tidak membuat Nayeon marah.
Tapi perbuatan Nayeon juga keterlaluan, pikir Chanyeol. Sekarang musuhnya bukan hanya Nayeon, namun juga media, masyarakat, bahkan fans nya sendiri mungkin akan membencinya. Para penggemar itu sudah melakukan banyak hal untuk Chanyeol, hal yang sangat wajar jika mereka akan kecewa berat. Apalagi skandal ini bisa masuk ke ranah kriminal.
"Kita tidak mungkin terus berkelit dan menunda klarifikasi. Itu akan semakin memancing kemarahan publik."
Chanyeol menatap gusar petinggi perusahaan itu. Pria berjas yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri itu tak kalah tegang.
"Tidak bisakah kita mencari cara lain? Aku tidak bisa membiarkan karir yang aku rintis hancur begitu saja." Chanyeol mencintai karirnya, penggemarnya. Semua tekanan dalam dunia industri hiburan itu sudah seperti dinamika dalam hidupnya. Chanyeol menikmati semua yang telah ia lakukan selama ini. Kerja keras yang telah ia rintis seolah ada di akhirnya.
"Chanyeol, tapi aku harus meminta maaf, kita-" Chanyeol tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya, pria itu seperti akan mengatakan sesuatu yang Chanyeol benci.
"kita harus membuka semua ke media."
Chanyeol merasa dunianya runtuh. Karirnya berhenti sampai disini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ruang ganti yang pengap dan sedikit gelap seolah menjadi surga untuk Baekhyun. Dia duduk bersandar ke lemari sambil menggenggam sepotong sandwich. Baekhyun bisa bernapas lega ketika sore datang. Perlahan tempatnya bekerja mulai sepi, sehingga ia bisa beristirahat sebentar. Sembari menikmati makanannya, ia mengelus perutnya yang membuncit. Hatinya bahagia bukan main ketika memikirkan bahwa ada malaikat yang sebentar lagi hadir di hidupnya. Dalam kepalanya berputar bayangan wajah anaknya kelak. Beberapa kandidat nama juga terbesit di pikirannya.
"Baekhyun, apa kau sudah selesai?" Itu Changmin yang melongok dari pintu. Baekhyun bisa melihat wajahnya yang sedikit panik.
"Ya, aku baru selesai."
"Bisakah kau ambil alih pekerjaan ku? Aku harus mengambil barang dari rumah temanku."
Baekhyun mengangguk dan bangkit keluar dari ruangan sempit itu. Ia segera menuju meja kasir untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan Changmin. Sembari menata uang, matanya menangkap dua orang yang sedang duduk di meja ujung cafe. Seorang pria dan wanita yang ia kenal.
Nayeon. Adiknya itu duduk dengan seorang pria tinggi yang berpakaian rapi. Dia cukup terkejut bisa bertemu Nayeon di tempat ini mengingat lokasinya di pinggir kota. Apalagi ini bukanlah cafe besar dan tersohor. Baekhyun dengan penuh selidik memandang mereka, berharap ia bisa menangkap apa yang mereka bicarakan.
Matanya menelisik pada Nayeon yang menurutnya semakin hari semakin cantik. Badannya lebih berisi, kulitnya semakin cerah, dan jangan lupakan perutnya yang membesar. Sepertinya adik kecilnya hidup dengan baik. Dalam hatinya ada setitik perih, sembari ia mengusap perutnya sendiri. Dia menggeleng pelan, menghilangkan rasa iri yang sempat timbul dalam hatinya. Ia harus bahagia sekarang, sebab Nayeon juga bahagia dengan Chanyeol dan calon bayinya. Lagipula Baekhyun sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan muncul lagi dalam kehidupan mereka.
"Semua akan baik-baik saja, hanya kita berdua." Baekhyun bergumam lirih, perutnya terus ia usap dan berharap calon bayi kecilnya akan mengerti bahwa dunianya akan tetap indah dengan atau tanpa Chanyeol sekalipun.
Rasanya ia ingin tertawa karena ia hanya membohongi dirinya sendiri.
Hidup seorang diri, terlunta-lunta di jalanan tanpa uang bukanlah hal asing baginya. Namun dengan keadaan hamil, itu bukan sesuatu yang pernah Baekhyun bayangkan. Keadaan ini begitu berat, namun bagaimanapun bayi ini membuatnya menemukan semangat hidup baru. Seorang malaikat kecil akan menemaninya dalam susah dan senang.
Pria yang bersama Nayeon berjalan mendekati kasir. Baekhyun dengan sigap memperbaiki penampilan dan bersiap di meja kasir.
"Boleh aku tahu apa yang anda inginkan?" Tanya Baekhyun ramah.
Pria berparas tampan itu tersenyum sembari mengatakan pesanannya, itu waffle, air mineral, dan kopi hitam. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang, ia berlalu begitu saja menuju meja nya.
Sembari membuatkan pesanan, Baekhyun bertanya pada dirinya, haruskah ia mengantar pesanan mereka ke meja atau memanggil pria itu untuk membawa makanan mereka sendiri. Dalam kepalanya ia juga bertanya-tanya, apakah Chanyeol tidak cemburu jika Nayeon pergi dengan seorang pria, berdua saja dan jauh dari pusat kota. Lalu bagaimana kondisi Chanyeol saat ini, apa pria itu baik-baik saja?
Baekhyun terlalu larut dalam pikirannya hingga Changmin tiba dan menegurnya karena melamun. Baekhyun segera menyelesaikan semuanya dan menyerahkan pada Changmin untuk diantar pada meja Nayeon.
Nayeon. Sungguh gadis itu terlihat jauh lebih cantik dimata Baekhyun. Adiknya sayang, bagaimana kehidupan nya sekarang? Apakah dia baik-baik saja dengan Chanyeol? Apakah gadis itu benar-benar akan membuka semua rahasia besar Chanyeol? Semua itu selalu berputar dalam kepala Baekhyun.
Baekhyun mengintip dari balik dapur, menyaksikan interaksi mereka berdua yang terlihat dekat dan intim. Baekhyun tidak bodoh untuk mengartikan hal itu, namun pikiran buruk itu segera ditepis dari kepalanya.
Namun apa yang ada di depan matanya kini tak bisa dia cerna lagi. Nayeon dan pria itu, mereka berciuman. Berciuman di depan umum, di depan matanya.
Tangan kecilnya reflek merogoh ponsel dari kantongnya dan mengaktifkan kamera, merekam semua itu. Baekhyun tidak bisa tinggal diam. Nayeon sudah keterlaluan.
Seolah ada puzzle dalam kepalanya yang membuat semua semakin jelas. Ia meremas tangannya sendiri, gemetar dengan kemungkinan yang ia pikirkan.
Tidak mungkin kan Nayeon menipu Chanyeol? Tidak mungkin adiknya yang manis itu melakukan hal kejam kan?
