DISCLAIMER
Naruto Masashi Kishimoto
Highschool DXD Ichiei Ishibumi
Dungeon ni Deai wo Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka Fujino Oomori
.
.
.
.
.
Sore hari di akademi Kuoh, ditemani langit senja yang mengganti biru angkasa. Meski begitu, para siswa masih enggan meninggalkan sekolah. Kebanyakan sedang melakukan aktivitas klub, dan sebagian lainnya hanya berkumpul biasa. Ada pula yang tengah berbahagia dengan kekasihnya, mengerjakan tugas yang tidak sempat diselesaikan, atau bahkan tidur semenjak jam pelajaran terakhir.
Yah, untuk tidur sejak jam pembelajaran terakhir, yang sudah berlalu dua jam yang lalu. Bagaimanapun juga itu tidak masuk akal, kecuali seluruh teman kelasmu tidak ada yang berniat untuk membangunkan. Sialnya, justru Naruto yang mengalami itu.
Kebanyakan anak sekolah, terutama yang sudah dijenjang SMA pasti berpikir untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkun. Karena mau bagaimanapun juga, waktu tidak akan pernah dapat diulangi kembali. Kecuali ada sebuah lembaga yang membuat obat khusus hingga orang dapat kembali ke penampilan remaja mereka, yang kita tahu bahwa itu tidak mungkin terjadi. Bahkan jika ada, tidak semua orang dapat memperoleh kesempatan itu.
Lagi pula ini buka sebuah anime yang mengisahkan tentang seorang pria usia tiga puluhan yang menjadi subjek penelitian yang bernama Re:Life, yang diperuntukan untuk mengulangi masa remajanya guna memperbaiki diri, lalu berakhir dengan jatuh cinta dengan subjek lain.
Jadi tidur merupakan sebuah tindakan yang mereka anggap bodoh, dan Naruto termasuk dalam kategori itu. Sebenarnya, dia juga tidak dapat disalahkan. Penyebab Naruto tidur adalah karena guru yang seharusnya menajar berhalangan hadir tanpa memberikan tugas. Ditambah Naruto tidak sempat makan siang sebab menantang Lee bermain bisbol, dan konsol game miliknya tertinggal. Ok, setengah kesalahan Naruto yang melakukannya.
Berbicara soal bisbol, Naruto berhasil memenangkan tantangan yang dia ajukan kepada Lee. Hasil yang diperoleh juga cukup mengejutkan, satu strike, satu foul, dan diakhiri dengan Home run, sukses untuk membuat seluruh orang yang menyaksikannya terdiam bisu.
Mengejutkan? Tentu saja. Siapa yang tidak akan terkejut saat pitcher SMA terbaik se-Jepang dikalahkan oleh orang yang bahkan bukan atlit olahraga. Pada umumnya, butuh setidaknya beberapa kali percobaan agar bisa memukul bola dengan lemparan standar bisbol. Tetapi dalam kasus Lee, ia memiliki triknya sendiri dalam melakukan lemparan hingga dapat membawa akademi Kuoh memenangkan juara nasional dua kali berturut-turut.
Banyak yang telah mencoba atau bahkan meniru lemparan yang Lee lakukan. Namun hasilnya nihil, usaha mereka tidak membuahkan hasil yang manis. Selalu ada kesalahan, seolah-olah hanya Lee seorang saja yang dapat melakukannya. Lalu fakta bahwa lemparan Lee hanya pernah digagalkan tidak lebih dari sepuluh kali, itu juga dengan foul. Tidak ada yang benar-benar dapat memukul lemparannya. Oleh karena ini juga, Lee digadang-gadang akan menjadi pemain bisbol pro terhebat yang pernah dicetak Jepang, setelah Mashiro Tanaka yang menjadi pebisbol Jepang termuda yang diturunkan di Olimpiade.
Tapi kenyataannya saat ini, dengan apa yang dimiliki bahkan yang telah dicapai oleh Lee. Lemparan yang katanya mustahil untuk dipukul, dipatahkan begitu saja dalam tiga kali kesempatan, bahkan dihentikan dengan sebuah Home run yang begitu apik.
Naruto sendiri hanya memandang dengan senyum simpul di wajahnya. Seharusnya ada yang mengambil gambar ekspresi orang-orang, itulah yang sempat Naruto pikirkan. Awalnya para siswa bertaruh apakah ia akan memenangkan pertaruhan atau tidak, dan kebanyakan bertaruh ia tidak akan menang.
Namun, selalu ada kejutan jika itu Naruto.
.
.
.
Kembali pada Naruto yang masih setia tidur di kelasnya, terlihat Naruto sama sekali tidak ada gelagat untuk bangun. Bahkan cahaya matahari sore tidak dapat membangunkan si pirang, mungkin karena suasana sore hari yang terasa nyaman untuk tidur.
Namun itu tidak lama, sebelum akhirnya seorang gadis berambut hitam panjang membangunkan remaja tersebut. Naruto bergeliat saat dirinya dibangungkan oleh gadis tersebut, hingga akhirnya remaja itu menampakkan sepasang iris yang sewarna dengan samudra.
"Reina, kah?" Entah kenapa, tapi suara Naruto terdengar berbeda saat bangun tidur. Reina memang sudah sering mendengar suara Naruto saat bangun tidur, dan ia tak pernah bisa terbiasa olehnya.
"Um … waktunya pulang, Naruto." Remaja berambut pirang itu bangkit dari duduknya. Mata sewarna samudra miliknya bergerak ke arah jam dinding di atas papan tulis di depan kelasnya.
"Jam empat sore? Lama juga aku tidur."
Pandangan Naruto lalu beralih pada Reina, mempertemukan mata mereka
"Kau sudah selesai dengan latihanmu?" Reina mengangguk atas pertanyaan Naruto.
Wajah gadis itu terlihat muram, sekilas Naruto dapat melihat matanya sedikit merah. Jika diperhatikan lagi, samar-samar sebuah jejak air mata membekas di kedua sisi wajahnya. Naruto paham betul apa yang sebenarnya terjadi pada gadis di sampingnya ini, dan dia memilih diam.
Terkadang tidak semua hal perlu diikut campuri, seseorang menjadi kuat karena usahanya sendiri serta sedikit dukungan dari orang lain. Ada orang yang dapat menempa dirinya sendiri, ada juga orang yang ditempa olah orang lain. Bahkan ada pula orang yang perlu bantuan orang lain untuk menempa dirinya sendiri.
Reina dan Naruto adalah tipe orang yang sama, keduanya dapat menempa diri mereka masing-masing, kuat karena sebuah kegagalan. Karena itu, Naruto memilih diam bahkan saat dia tahu Reina memiliki sebuah masalah.
Di sepanjang lorong mereka hanya diam, tidak ada yang mencoba untuk memulai pembicaraan. Hanya berjalan beriringan menuju rak sepatu.
"Surat?" alis Naruto saling bertautan kala mendapati sebuah surat dalam kotak sepatunya. Dilihat dari manapun ini jelas surat cinta, hanya melihat dari luarnya saja Naruto sudah tahu.
"Ada apa, Naruto?" dengan penasaran Reina mencoba melihat benda yang sedang di genggam Naruto.
"Surat cinta, lagi?"
"Yah, begitulah."
"Kau akan menolaknya lagi?
"…." Naruto diam, dari pada menjawab pertanyaan terakhir Reina, remaja itu memilih membaca isi surat tersebut, lalu sebuah helaan napas keluar setelah dia membacanya.
"Reina, kau ingin menunggu atau pulang duluan?"
"Aku akan menunggu di sini."
"Baiklah."
Naruto memandang diam Reina, ia menghela napas kembali lalu beranjak dari tempat itu. Meninggalkan si gadis yang diam sembari memandang kepergiannya.
.
.
.
Sesampainya di atap, Naruto dapati seorang gadis tengah berdiri membelakanginya.
Gadis itu berbalik setelah mendengar suara pintu terbuka. Wajahnya memerah dan langsung menundukkan kepalanya saat melihat orang yang dia tunggu telah datang. Rasa gugup tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhnya.
Padahal sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri untuk ini, tapi kenapa dirinya merasa gugup tiba-tiba.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Surat ini darimu?"
"Tidak, Senpai. Ya … surat itu aku yang menyimpannya-!"
'Dia menggigit lidahnya sendiri!'
Ok, gadis itu merutuki kebodohannya. Kenapa bisa ia segugup ini! Suasana canggung juga kentara di antara mereka.
"Jadi, ada yang bisa aku bantu?" Naruto bertanya untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka, yang jelas-jelas dia sendiri tahu apa jawabannya
"Ah … Ano, Senpai …." Kembali perasaan gugup mendera gadis itu, bahkan hanya untuk berkata seperti tadi saja sudah jadi keberanian terakhirnya!
"Ano …"
Naruto mengerti keadaan gadis itu. Tidak mudah untuk mengungkapkan perasaan, butuh keberanian besar untuk itu. Naruto mengerti karena dirinya pernah mengalami apa yang saat ini dirasakan oleh gadis di depannya.
"Ano … Senpai …"
"…."
"Berkencanlah denganku!"
"…."
"…."
Naruto diam, menundukkan kepalanya. Menyembunyikan ekspresinya. Sedangkan si gadis yang tak kunjung mendapat jawaban memutuskan untuk menatap Naruto. Entah kenapa perasaan takut ikut membayanginya. Apa yang ia takutkan tiba-tiba terpikirkan kembali.
"Maaf …."
Seketika, hanya dengan satu kata. Seluruh energi yang dimiliki oleh gadis itu hilang begitu saja, kakinya langsung lemas, bahkan untuk berdiri saja dia tidak tahu kenapa bisa. Air mata nampak dipelupuk matanya, siap kapan saja untuk jatuh.
"Jika boleh tahu, kenapa … kenapa senpaimenolakku?"
"…."
"Apa … apa senpai sudah memiliki seorang yang disukai?"
"… ya."
.
.
.
.
.
Di tempat lain, beberapa remaja sedang berkumpul membahas sesuatu. Seorang gadis dengan model rambut pony tail terlihat sedang menjelaskan sesuatu. Tidak ada yang memotong si gadis, yang lain nampak serius mendengarkan penjelasannya.
Setelah si gadis selesai menjelaskan, semua terdiam, tergelam dalam pikiran masing-masing. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama saat seorang di antara mereka bertanya pada si gadis.
"Kau yakin itu dia, Ino?" Ekspresi kesal terlihat jelas di wajah Ino. Dia berpikir seolah-olah teman-temannya itu tidak mendengar apa yang dia katakan sebelumnya. Bahkan jika boleh dibilang, mulutnya hampir berbusa karena terlalu banyak berbicara.
"Kau ini mendengarkan atau tidak, sih? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, tepat di depan wajahku!"
"Kau tidak bercanda bukan, Ino?" Pemuda lain juga bertanya pada Ino. Namun, bukan ekspresi kelas lagi yang gadis itu munculkan, tetapi ekspresi wajah kosong sambil menatap si pemuda.
"Terserah kalian percaya atau tidak, yang pasti aku melihat Naruto, dan aku yakin itu dia!" Ino menjawab dengan tegas, seolah tidak ingin menerima pertanyaan lagi.
"Jika kau sampai seperti ini, berarti tidak perlu ada yang diragukan lagi. Tapi aku masih ingin memastikannya. Natsumi, kau tahu sesuatu tentang Naruto?"
"..." Mendapati tidak ada jawaban, mereka yang ada di sana lalu memandang satu-satunya gadis dengan rambut merah yang tengah merenung.
"Natsumi?" Karena tidak kunjung dijawab, si pemuda dengan rambut dan mata berwarna hitam memutuskan untuk memanggil Natsumi.
"Eh! Ada apa? Ino-senpai sudah selesai?" Mereka makin bingung dengan Natsumi, bukannya menjawab, dia justru balik bertanya.
"Kau baik-baik saja, Natsumi?" Pemuda lainnya ikut bertanya karena khawatir dengan keadaan si gadis yang sama bingungnya dengan mereka.
"Ah, aku baik-baik saja, Sai-senpai." Mendengar jawaban Natsumi, pemuda bernama Sai itu mengangguk. Meski dia sendiri masih merasa khawatir pada adik kelasnya itu.
"Jadi, Natsumi. Kau tahu sesuatu tentang Naruto?" Merasa kalau gadis itu sudah pulih dari kebingungannya, pemuda berusan memutuskan untuk bertanya kembali.
Namun si gadis justru memilih untuk kembali diam dari pada langsung menjawabnya. Perubahan yang terjadi pada Natsumi tentu saja bisa disadari oleh semua orang yang ada di sana. Dari sosok periang yang tidak pernah bisa diam, lau tiba-tiba berudah menjadi pendiam. Siapa juga yang tidak bisa sadar.
"Maaf, aku ingat ada keperluan di rumah, jadi aku pulang duluan." Dengan cepat Natsumi segera mengambil tasnya dan langsung pergi tanpa berpamitan pada orang-orang yang ada di sana.
Yang lainnya hanya dapat memandang penuh tanda tanya pada perilaku Natsumi hari ini. Tidak hanya sekarang, bahkan di sekolah juga Natsumi bertingkah aneh. Seperti dia yang biasanya aktif di setiap mata pelajaran, tetapi justru hari ini lebih banyak diam, bahkan tidak jarang mereka dapati Natsumi melamun. Seperti sedang memikirkan hal besar.
Sebagai teman dan kakak kelas gadis itu, tentu saja mereka khawatir. Sikap Natsumi hari ini sama seperti saat dirinya kelihangan Naruto beberapa tahun yang lalu. Selalu menyendiri dan melamun. Tidak mudah bagi mereka semua untuk membuat gadis itu kembali ceria. Maka dari itu, melihat sikap Natsumi sama seperti dulu membuat mereka sangat khawatir.
"Sakura, kau tahu sesuatu?" tanya pemuda barusan pada gadis di sampingnya.
"Aku ... tidak tahu, Sasuke-kun." Mendengar jawaban si gadis, Sasuke kembali memikirkan keadaan Natsumi.
"Sepertinya, memang ada hal yang terjadi saat dia sedang di Kuoh."
"Kiba, apa maksudmu?"
"Ayolah, kalian tidak sadar? Rambutnya, rambutnya itu." Tidak ingin menjelaskan panjang lebar, karena sejatinya Kiba tidaklah bagus jika harus menjelaskan sesuatu. Maka dia memilih untuk memberikan petunjuk.
Mereka semua kembali terdiam untuk kesekian kalinya, bahkan Chouji kini menghentikan kegiatan makannya.
Hal yang sudah jelas di depan mata, tidak dapat mereka sadari. Kiba lalu memandang terkejut teman-temannya, dia berpikir bagaimana mungkin mereka bisa tidak sadar.
Tapi, mungkin saja karena perubahan sikap Natusmi yang tiba-tiba membuat mereka semua berfokus pada itu. Yah, Kiba akui sendiri dia juga menunda-nunda untuk bertanya pada gadis itu mengapa rambutnya dipotong karena lebih khawatir atas perubahan sikapnya.
"Memangnya ada yang salah dengan seorang gadis yang memotong rambutnya?"
Kini semua memandang Sai aneh, seolah meragukan pertanyaan yang Sai lontarkan. Tapi Ino yang mengerti kenapa Sai bertanya demikian lalu menepuk pundaknya pelan.
"Initnya, ada hal khusu yang membuat Natsumi tidak ingin memotong rambutnya. Bahkan dia pernah mengatakan tidak akan pernah memotongnya, jadi tentu saja itu membuat kami bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Natsumi." Sai hanya mengangguk atas jawab yang diberikan oleh Ino, tidak ingin bertanya lebih jauh.
"Untuk sekarang, bagaimana cara kita tahu apa yang terjadi padanya di Kuoh," ucap Sasuke yang langsung menarik atensi dari teman-temannya.
Sementara yang lainnya kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing, Chouji yang sudah selesai menghabiskan cemilannya merogoh saku. Dikeluarkannya sebuah ponsel dan langsung menghubungi seseorang.
"Halo, Shikamaru. Ini aku, Chouji."
"..."
"Ya, aku ingin bertanya. Apakah sesuatu terjadi apa Natsumi saat sedang melakukan pertukaran pelajaran di sana?"
"..."
"Begitu, baiklah. Terima kasih Shikamaru, nanti akan aku hubungi lagi."
"..."
Setelah panggilan berakhir, Chouji langsung merasakan dirinya ditatap oleh semua orang, dan itu benar. Semua teman-temannya memandang terkejut dirinya, Chouji sendiri justru balik menatap heran mereka.
"Chouji, yang tadi itu ... Shikamaru?"
"Iya."
"Shikamaru yang itu?"
"Benar."
"Shikamaru si pemalas itu?"
"Memang yang mana lagi?"
Kemudian, secercah harapan seolah datang menghampiri mereka yang ada di sana. Kecuali Sai yang kebingungan siapa itu Shikamaru.
.
.
.
Kembali pada gadis yang ditolak oleh Naruto, nampak gadis tersebut masih setia berdiri di atap sekolah. Matahari yang kian turun serta gelap malam yang perlahan muncul tak membuat gadis tersebut meninggalkan tempatnya.
Ia justru hanya memandang kosong ke depan, tempat di mana Naruto berdiri sebelumnya.
Kemudian pintu atap terbuka, menampilkan gadis lain yang terlihat seumuran. Gadis yang baru saja tiba itu menghela napas saat melihat ekspresi kosong temannya. Lalu menghampirinya.
"Dari ekspresimu, aku tebak kau ditolak, bukan?" temannya hanya mengangguk, membuat dia kembali menghela napas untuk kedua kalinya.
"Yah, itu wajar dari orang seperti Naruto-senpai." Masih tidak ada suara yang keluar, hanya tatapan kosong ke depan yang dia dapati.
"Jadi, bagaimana sekarang, Sasame? Kau menyerah?" Secara tiba-tiba, Sasame kembali pulih dari situasinya. Wajahnya kembali hidup, tidak kosong seperti sebelumnya. Ekspresi tiba-tiba ini justru mengejutkan si gadis yang bertanya barusan.
"Tunggu, jangan bilang, kau masih akan mengejar Naruto-senpai?"
Senyum simpul terukir dibibir mungil gadis itu, bahkan ekspresi nakal pun ikut tercipta di wajahnya.
"Tentu saja! Lagi pula tidak ada hukum yang melarang untuk menyukai orang lain yang sudah mempunyai pacar, bukan? Dan Naruto-senpai baru menyukai orang lain. Ditambah, tidak menyerah adalah hak istimewa seorang gadis."
Setelah mengatakan itu, Sasame berjalan dengan anggun ke arah pintu masuk, dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, meninggalkan temannya yang sekarang memandang kosong dirinya.
"Ditolak membuat kepala anak itu rusak ternyata."
