I LOVE YOUR DAD

WU YIFAN X KIM JONGIN

.

.

Ini bukan tentang sugar daddy apalagi pedofil

.

.

CHAPTER 25: Lip

Yifan menatap punggung Jongin yang berjalan dengan ringannya ke arah apartemennya. Sejak mereka keluar dari komunitas, Jongin terus berbicara sepanjang jalan. Padahal mereka baru saja bertengkar. Mungkin karena pengaruh dari alkohol bikinan ayahnya.

"Kau meragukanku tapi tetap mengajakku menikah, dasar aneh." Jongin dengan begitu entengnya memecet tombol password agar keduanya bisa masuk ke dalam apartement.

"Itu satu-satunya cara yang terpikirkan olehku agar kau tidak pergi dariku." Yifan tersenyum saat melihat Jongin membuka kedua sepatu beserta kaos kakinya.

"Licik."

Ini yang selalu membuat hati Yifan membucah. Setiap mereka berdua masuk ke dalam apartemen. Entah Jongin sadar atau tidak. Mahasiswa yang baru saja menyelesaikan tugas akhirnya itu akan menuju tempat lukisannya terlebih dahulu. Dia bilang pemandangan kota terlihat lebih bagus jika dilihat dari ruangan ini. Tapi lihat apa yang dilakukan oleh kekasihnya ini. Ia justru berjalan melihat semua lukisan buruk bikinan Yifan.

"Jumlahnya masih sama," Jongin sebenarnya ingin bertanya, kenapa Yifan tidak melukis lagi. Jongin bahkan menatap cat minyak yang mengering dan beberapa peralatan yang sudah berdebu. "Aku berusaha untuk mengerti," Jongin berjongkok di sebuah lukisan seorang anjing yang berjalan di taman sendirian sambil menatap matahari terbit dengan tali kekang masih terpasang. "Aku sebenarnya penasaran, anjing ini sedang mencari majikannya atau justru sedang kabur dari majikannya?" Jongin tertawa dengan pelan dengar pertanyaannya sendiri.

Sebenarnya keinginan Yifan cukup sederhana. Ia ingin sebuah tempat untuk kembali. Tempat dimana ia bisa bernafas tanpa tertekan. Ia tidak tahan, saat kehadirannya di rumah hanya membuat orang tuanya terbebani. Atau saat ia pulang, ia masih harus berperan menjadi panutan yang sempurna. Ia hanya ingin sebuah tempat pulang. Tempat dimana ia bisa beristirahat. Dan Jongin memiliki keahlian dalam membuat seseorang bisa nyaman dengannya. Keegoisan Yifan adalah ingin menyimpan rasa nyaman itu lebih lama.

"Kenapa kau melakukan sejauh ini?" Yifan selalu merasa takut kehilangan Jongin. Ia tidak menemukan alasan yang tepat kenapa Jongin menerimanya. Bahkan dengan pasrah menyetujui rencana pernikahan konyol ini.

Jangan salah paham. Yifan serius mengajak Jongin menikah, tapi alasannya terlalu konyol. Demi melindungi Jongin dari kelompok triad. Yifan punya apa, hingga membuat kelompok triad takut? Ia hanya salah satu anggota keluarga Wu. Oke, dia punya itu sebagai tameng. Tapi ayolah~ ayah tiri Jongin memiliki perusahaan keamanan yang jauh lebih efektif.

"Kau tampan, kaya raya ..."

"Aku serius."

"Kau membutuhkanku," Jongin beranjak berdiri dan duduk di satu-satunya sofa panjang yang sengaja tidak Yifan pindahkan untuk Jongin. "Aku menyukaimu yang mati-matian untuk membuatku tetap bersamamu," Jongin melirik Yifan yang hanya diam bergeming. "Aku suka melihat wajah putus asa mu saat aku mengatakan tidak."

"Jahat."

Jongin toh hanya menunjukkan senyum tipis. Ini cara Jongin membalas perbuatan Yifan di Inggris. Bukan mengekang Yifan tapi membuat Yifan seolah bisa mengekang Jongin. Tapi tidak, Jongin justru memiliki kebebasan tidak terbatas untuk pergi dan menghilang dengan secepat kilat. Bahkan kalau mau, Jongin bisa tidak terlacak sama sekali oleh Yifan.

"Tidak bertemu denganmu selama seminggu, membuatku sadar," Jongin memandang kota malam Beijing yang berarti memunggungi Yifan. "Setiap kita bertengkar, kau akan bertanya apa aku menyerah, bukan karena kau berharap aku menyerah atau kau melarikan diri dari masalah," Jongin kini menolehkan kepalanya pada Yifan yang tidak juga bergerak. "Kau hanya takut."

Yifan akhirnya mendekati Jongin. Dan duduk di samping pria muda yang masih memandang keluar jendela besar dengan senyuman lebar. Senyuman puas yang membuat Yifan tahu. Kali ini Yifan yang justru jatuh dan tenggelam demi mendapatkan Jongin. Buat Yifan, ini cara balas dendam paling kejam namun memabukkan.

"Aku tidak suka saat kau bersama dengan Luis," Jongin tiba-tiba mengatakan hal yang mengejutkan. Bukan karena fakta yang Jongin katakan tapi keberanian Jongin untuk mengatakannya langsung kepada Yifan. "Aku tidak suka saat Luis bebas menggandengmu dengan seenaknya," Jongin mencoba menatap Yifan dengan berani. Tapi tidak bisa. Seharusnya Yifan tidak terkejut, ia sudah terbiasa dengan situasi ini. "Tapi aku jauh lebih tidak suka dengan sikapmu yang berpikir aku baik-baik saja dengan perilaku Luis."

"Maafkan aku." Mau bagaimana lagi? Hubungannya dengan Luis sudah terlanjur rumit. Hanya ini yang bisa Yifan katakan.

"Aku tahu kau tidak bisa begitu saja menjauhi Luis demi aku," Jongin menyenderkan bahunya dengan helaan nafas panjang. "Ternyata alasan sebenarnya bukan karena keberadaan Luis mempengaruhi bisnis perusahaanmu," Jongin tersenyum saat kedua mata Yifan melebar. "Kau tahu apa yang Luis alami dan rasakan, orientasi seksual membuatnya menjadi beban keluarga," Jongin tiba-tiba saja ingin mengelus punggung tangan Yifan. "Kau mungkin merasa beruntung karena memiliki adik yang menggantikan posisimu, tapi Luis itu anak tunggal."

Yifan menarik tangan Jongin yang tengah mengusap tangannya. Ia mengecup telapak tangan Jongin dengan dalam. Ini caranya menunjukkan pada Jongin bahwa ia begitu merasa beruntung mendapatkan Jongin.

"Aku tahu perasaan itu," Jongin melanjutkan kata-katanya. "Cara kau memperlakukan Luis, sama seperti sikapku pada Sehun," Jongin tiba-tiba menarik tangannya yang tengah digenggam oleh Yifan. "Aku tahu rasanya," ulang Jongin sambil menautkan kedua tangannya dengan erat. "Tapi aku tidak suka berbagi."

Yifan terdiam.

Jongin sempat berpikir. Jika Yifan harus memilih antara Jongin dan Luis. Mungkin Yifan akan memilih untuk diam di samping Luis. Sama seperti Jongin yang lebih memilih kehilangan Yifan dibanding Sehun. Sial, manusia itu memang rumit.

Keduanya bergelut dengan pikirannya masing-masing. Setelah keduanya mendapatkan restu dari dua keluarga. Masalah datang dari diri mereka sendiri. Nyonya Wu benar, tidak peduli bukan pilihan yang tepat. Hadapi dan selesaikan itulah siklus yang benar.

"Aku menginginkanmu ..."

Nada menggantung itu membuat Jongin sedikit terkejut. Lagi, Yifan menatapnya dengan putus asa. Jongin hanya menanggapi Yifan dengan senyuman tipis. Kekhawatiran Yifan itu memang sebuah candu untuk Jongin.

"Tolong, jangan tiba-tiba menghilang lagi."

Kali ini Jongin yang melebarkan matanya. Oh, sepertinya ia juga punya peran penting yang membuat Yifan ragu. Miris, Luis benar, ia hanyalah abg labil. Bukannya menyelesaikan kesalahpahaman, ia malah pura-pura tidak peduli atau melarikan diri.

"Kemarin aku hanya malu," Jongin menundukkan kepalanya. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku selalu berusaha bersikap tenang, tapi kemarin aku tidak bisa pura-pura tidak melihat apalagi mewajarkan sifat Luis."

Sejak tadi Jongin berusaha untuk menghindari tatapan Yifan. Kali ini Jongin mencoba untuk membalas tatapan Yifan yang rumit. Jongin tidak mengerti arti tatapan Yifan kali ini.

"Aku bukan orang yang tega dan memintamu memilih," Jongin tahu reaksi Yifan akan seperti ini. Resah dan penuh penolakan. "Dan aku juga terlalu takut mendengar siapa yang akan kau pilih," Jongin tertawa dengan ganjil. "Tapi aku benar-benar frustrasi dengan semua ini."

Keduanya kembali terdiam. Cukup! Jongin tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Selesaikan apa yang bisa diselesaikan lebih dahulu.

"Aku lapar."

Demi kerang ajaib milik makhluk laut di kota bikini bottom. Yifan terkejut dengan kerandoman Jongin.

"Buatkan aku mie rebus."

Yifan menatap Jongin dengan heran. "Serius Jongin? Kita sedang dalam pembahasan serius. Bisa-bisanya kau tersenyum lebar macam ini." Yifan mengalihkan tatapannya. Bete luar biasa. Tapi Jongin malah memeluknya dengan erat dari samping.

"Baru kali ini dunia percintaanku begitu rumit." Gumam Jongin yang membuat Yifan menoleh dengan terkejut.

"Maksudmu?"

"Aku lapar."

"Ish!" Yifan langsung beranjak berdiri dan berjalan menuju dapur.

.ILYD.

"Perhatikan baik-baik," ujar Tuan Wu pada lukisan di hadapannya. "Kau bisa melihat pantulan sebuah ruangan di pantulan lengkungan vas bunga," Tuan Wu menatap lukisan yang bernama Boy Bitten by Lizar dengan tatapan panjang. "Mungkin lukisan ini memiliki makna alegoris." Ucapnya sambil menatap Jongin yang tengah tersenyum simpul.

"Rasa sakit dari cinta?" tanya Jongin yang kenal betul dengan lukisan satu ini. Berkat seorang kurator yang tidak sengaja ia temui. "Kalian berdua memiliki selera yang sama." Jongin ingat dimana ia menemukan lukisan asli dari karya Caravaggio.

"Ini hanya replika yang disebut memiliki kulitas tinggi dan hampir menyerupai aslinya," Tuan Wu tersenyum kala Jongin menaikan alisnya. Sebenarnya Jongin tidak terlalu terkejut dengan fakta satu ini. "Apa dia masih suka melukis?"

"Ya, tapi akhir-akhir ini dia belum memegang kuasnya," Jongin sedikit merasa hubungan Yifan dengan ayahnya sedikit mirip dengan hubungan Sehun dengan Yifan. "Bukankah akan lebih menyenangkan jika berdiskusi dengan orang yang sama-sama mencintai seni melukis?" Jongin bertanya dengan nada ringan yang disambut dengan senyuman sendu.

Jongin mengambil segelas wine berwarna keemasan yang disodorkan oleh Tuan Wu. Jongin tidak pernah membayangkan ini sebelumnya. Mendengar penjelasan seorang kolektor lukisan sambil meminum wine. Jelas-jelas hobi yang terlalu mahal untuk selera Jongin.

.ILYD.

Jongin tiba-tiba saja mengingat kejadian kemarin dengan ayah yang membesarkan kekasihnya. Saat melihat Luis duduk di hadapannya, meminum wine dengan begitu nikmatnya. Bahkan Luis memesan steak yang terlihat enak tapi tidak membuat Jongin ingin memakannya.

"Aku pikir aku yang pertama," Luis melirik Jongin yang mengerutkan dahi. "Dan hal itu selalu membuatku berpikir bahwa aku lebih mengetahui Yifan dibanding mantan pacarnya dulu," Jongin malah menggigit sedotannya dengan wajah penuh tanda tanya. "Saat tahu kau bahkan mengenal Yifan setahun lebih lama dariku, itu membuatku benar-benar gila."

Jongin hanya diam. Oke, setahu Jongin komunitas ini sudah berdiri sejak lama. Ia tidak tahu persis kapan berdirinya. Tapi fakta itu cukup membuat Jongin terkejut.

"Ya aku yang merusak hubungan Yifan dengan istri sekaligus kekasihnya saat itu," Luis menemukan Jongin justru kembali mengerutkan dahi. Oke, Jongin tahu fakta ini, kalau tidak salah berarti saat ia berada di tahun kedua SMA. Tapi buat apa Luis membuka aibnya. "Jangan pura-pura tidak tahu, aku bahkan membuat mantannya itu pergi ke Paris, dia hanya berbeda tiga tahun darimu."

Fakta baru muncul. Jongin refleks membulatkan mulutnya. Matanya betulan membelalak. Kini gantian Luis yang heran. Tapi anehnya, fakta itu tidak terlalu mengusik Jongin. Meski Jongin sekarang sadar kenapa Yifan menghindari hubungan dengan pria seumuran dengannya. Ia tahu, Yifan dulu tertarik dengan Kyungsoo. Tapi ia lebih memilih menghindar. Bisa jadi karena trauma kan?

"Sebenarnya aku tidak tahu siapa saja mantan kekasih Yifan." Jongin bergumam pelan. Hanya Xiumin yang Jongin tahu. "Jadi apa yang sebenarnya ingin Gege bicarakan?" Jongin terkejut setengah mati saat Luis menghubunginya dan memintanya datang ke cafe terpencil macam ini.

"Kenapa Yifan.." Luis menarik nafasnya dan tampak ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. Entah ragu karena tidak enak pada Jongin atau khawatir Jongin tidak paham dengan ucapannya. Karena sejak tadi, Jongin bereaksi seperti tengah mencerna semua ucapan Luis.

Jongin menghela nafas, menunggu Luis itu butuh kesabaran ekstra. "Dia peduli padamu Ge," Jongin menatap Luis yang malah terkesiap. "Kalau dari semua cerita singkatmu tadi, Yifan benar-benar menyayangimu."

"Lalu kau apa?" Luis tanpa sadar mengeluarkan nada sinis.

"Oh, kita berada di posisi yang berbeda," Jongin kembali mengambil minumannya.

Tidak seperti biasanya, ia memilih mujito lemon, karena ia perlu sesuatu yang segara. Selain itu minuman ini berwarna bening. Jadi, jika sewaktu-waktu Luis emosi dan tiba-tiba menyiram wajahnya. Ia sudah persiapan, meski air mineral mungkin pilihan yang paling bijak. Tapi, Jongin ingin soda. Oke, tolong maafkan perdebatan bodoh di pikirannya ini.

"Dia sepertinya tidak mau kehilanganmu Ge."

Jongin menaikan alisnya saat Luis berdecih. Jongin bahkan sampai menopang dagunya karena reaksi Luis yang super duper tsundere. Jongin tahu Luis diam-diam senang. Luis itu kalau dilihat-lihat cukup manis dengan semua sikap tsunderenya. Yifan itu kadang suka dengan tipe-tipe orang macam Luis. Lihat Kyungsoo yang bermulut tajam dan Xiumin yang bermulut kurang sekolah padahal seorang dokter. Dan ketiganya kurang imut apa lagi? Meski Luis memiliki tinggi badan yang hampir sama dengannya. Dan Jongin jauh dari tipe macam ini. Jadi kenapa Yifan malah terjebak pada dirinya.

"Kau sudah menghancurkan keluarga boneka buatannya," oke ini sedikit kejam jika Sehun mendengarnya. "Dan dia bahkan sampai pura-pura tidak tahu kalau kau penyebabnya." Jongin pasrah kalau Luis akan menghajarnya. Tapi biarkan Jongin menyelesaikan ucapannya. "Bukankah itu artinya kau benar-benar berarti untuk Yifan?"

"Lalu kau?"

"Aku?" Jongin tertawa pelan. "Kalau itu aku, mungkin tubuhku sudah dimakan paus di lautan lepas," Jongin jadi ingat satu hal. "Aku pernah sekali ikut campur dalam hubungan Yifan dengan Xiumin, hasilnya? Aku dihajar habis-habisan." entah kenapa saat mengingatnya Jongin malah tertawa miris. Saat itu, Jongin sadar, maupun ia atau Yifan tidak saling peduli satu sama lain, mereka hanya peduli pada Sehun.

Luis menghela nafas dengan keras. Mungkin rasanya sia-sia berbicara pada Jongin yang keras kepala. Jongin itu masih terlalu muda untuk mengerti kebutuhan Luis. Ia butuh sosok Yifan yang selalu ada untuknya dengan tulus. Ya, ketulusan Yifan belum ia temukan dimana pun.

"Apa kau tidak lelah Ge?" Jongin selalu menanyakan ini. Luis langsung melotot. Ia tidak suka dengan pertanyaan andalan Jongin satu ini. Kenapa juga ia harus lelah demi mendapatkan Yifan?

"Kenapa harus kau orangnya?" Luis kembali dengan sifat alamiahnya, menyerang dengan cara brutal.

"Kalau pun bukan aku, pada akhirnya juga bukan kau Ge," Jongin menaikan alisnya, menantang. Jongin katakan sekali lagi, ia sudah siap dihajar sekarang. "Sudah berulang kali aku bertanya, apa kau tidak lelah?" Jongin memainkan kentang goreng yang ia pesan. Nafsu makannya hilang seketika.

"Tidak." Luis menjawab dengan tegas. Kenapa justru ia yang terlihat lebih seperti anak kecil dibanding Jongin.

Luis tidak suka saat Jongin malah tersenyum dengan jawabannya.

"Aku beri waktu dua tahun kalau begitu," Jongin menatap Luis yang mengerutkan dahinya. "Yifan itu orangnya mudah luluh, kau jelas tahu itu," Jongin tertawa saat Luis memiringkan kepalanya. Wah, pasti kena hajar nih. "Buat Yifan jatuh cinta padamu."

"Kau gila?"

"Tidak, aku juga tidak akan diam saja," Jongin mengangkat kedua bahunya dengan ringan. "Selama dua tahun aku akan fokus dengan gelar masterku, entah itu di Jepang, China, Inggris, Paris bahkan Autralia sekali pun," Jongin kembali menyanggah dagunya. "Bagaimana?"

"..." Luis masih mengerutkan dahinya. Ia tidak membutuhkan waktu dua tahun untuk menyingkirkan Jongin.

"Poin pentingnya, buat Yifan mencintaimu bukan menyingkirkanku," cara tersenyum Luis membuat Jongin paham dengan jalan pikiran Luis. "Karena pasti akan ada Jongin lainnya, Xiumin lainnya atau bahkan mantan Yifan yang pergi ke Paris lainnya," Jongin seperti tengah memberi kisi-kisi pada seorang murid. "Siklusnya akan sama jika kau terlalu fokus untuk menyingkirkan kekasih Yifan."

Luis menghela nafas dan untuk kali ini Jongin betulan penasaran. Kok beda, cara hela nafasnya. "Dulu Yifan sama sepertiku," Luis menatap muram. "Dulu sebelum kau mendekati kedua orang tua Yifan."

Owalah, jadi ini alasannya.

"Kalau pun aku tidak jadi menikah dengan Yifan dan kemudian Yifan membawa pria lain," Jongin sengaja memberi jeda agar Luis berhenti menatapnya seperti ingin menusuk jantungnya dengan pisau yang tangan Luis pegang. "Orang tua Yifan akan tetap setuju," Luis melebarkan matanya. "Sudah sejak lama, mereka menerima pilihan hidup Yifan."

Untuk pertama kalinya Jongin melihat Luis mengusap wajahnya sendiri dengan frustrasi. Pembicaraan mereka tidak menghasilkan apa pun. Luis tiba-tiba saja memutus obrolan dengan alasan ada keperluan mendadak.

Tapi lucunya, mereka malah kembali bertemu di sebuah lift. Tempat dimana perusahaan Yifan berdiri.

"Ini urusan penting mu?" Jongin tersenyum sambil menenteng helm yang malah terbawa olehnya.

"Kau?" Luis malah balik bertanya.

"Dia memintaku untuk datang." Jongin mengatakannya sambil sibuk melepaskan seleting jaket kulitnya. Oh, Jongin belum bilang jaket kulit ini pemberian dari ibu Yifan. Katanya jaket kulit selalu cocok untuk pengendara motor.

Luis dan Jongin jalan beriringan. Padahal Jongin sudah memelankan langkahnya. Tapi anehnya Luis masih saja berjalan di sampingnya. Padahal di komunitas biasanya Luis akan berlari untuk mendahului Jongin.

"Kau pura-pura mengalah lagi padaku." Luis tiba-tiba saja seperti bisa membaca pikirannya.

"Kalau aku berjalan cepat, takutnya kau malah akan berlari di lorong ini." Jongin menjawab dengan senyuman tipis.

Beberapa karyawan membungkukkan tubuhnya setiap mereka berpapasan. Sapaan itu untuk Luis bukan Jongin. Karena Jongin lebih dikenal sebagai teman Sehun bukan kekasih Yifan. Meski semua karyawan Yifan tahu dengan orientasi bos besar mereka. Tapi yang tahu hubungan keduanya hanya supir dan nona sekretaris cantik dan cekatan pribadi Yifan.

"Luis?" itu ucapan pertama yang Yifan katakan. "Kau tidak mengabariku kalau kau akan datang."

Jongin hanya menggelengkan kepala. Kekasihnya ini benar-benar keterlaluan. Fokusnya ke Luis duluan. Tapi Jongin lebih memilih untuk duduk di sofa hitam yang di mejanya terdapat beberapa hidangan. Oh, sepertinya sudah waktunya makan siang.

"Kok sepertinya pernah lihat?" Jongin menatap seorang wanita berpakaian jas putih seperti dokter. "Nona perawat ya?"

"Aku sudah menikah."

"Oh ya, Nyonya kalau begitu," Jongin tersenyum saat wanita itu hanya tersenyum seadanya. Tetap dingin seperti es, ya ampun. "Sejak kapan?"

"Sudah dua bulang aku merekrutnya menjadi ahli gizi pribadiku," Yifan yang malah menjawab. "Aku tahu kau belum makan, jadi aku memintanya untuk membuat porsi untuk satu orang lagi."

"Eh ayam," Jongin bertepuk tangan dengan takjub. Yifan pengertian sekali. "Kau luar biasa," Jongin tiba-tiba berceletuk saat Luis memilih duduk di sampingnya. "Memiliki sekretaris dan ahli gizi pribadi yang cantik." Jongin berdecak pelan.

"Mereka berdua sudah menikah." perkataan Yifan lebih pada memperingati Jongin dibanding memberikan informasi.

"Loh, aku juga sebentar lagi akan menikah denganmu," perkataan Jongin cukup membuat nyonya perawat menatap Jongin dengan terkejut. Tapi Jongin malah mengerakkan jarinya untuk memamerkan cincin yang ia pakai. "Aku bukan pria simpanan om-om loh, jangan berburuk sangka padaku," Tuduh Jongin yang membuat perawat itu terlihat gelalapan. "Bercanda."

"Sudah, jangan menggodanya terus," Yifan menghela nafas panjang. "Sekertarisku sampai mengeluh setiap melihatmu, jangan sampai nanti ahli gizi dan supirku ikut mengeluh."

"Memangnya supirmu boleh aku goda?" Jongin tertawa saat Yifan melebarkan matanya.

"Aku akan memanggilmu jika sudah selesai." Yifan tidak menanggapi perkataan Jongin dan memilih untuk melindungi karyawannya dari mulut jahil kekasihnya ini.

"Sepertinya kau baik-baik saja, kenapa kau menelfonku dengan panik?" Jongin langsung bertanya tepat saat perawat itu menutup pintu.

"Ini kamar Sehun," Yifan menunjukkan video pendek dimana kamar Sehun penuh dengan puntung rokok dan kaleng beer. "Kyungsoo mengirimkan video ini," Entah ilham dari mana, Sehun meminta izin pada Yifan untuk tinggal sementara di rumah Kyungsoo. Alasannya agar lebih fokus dan dekat dengan kampus.

Setiap jam 10 pagi dan jam 7 sore, Yifan secara berkala menghubungi Kyungsoo untuk menanyakan kabar Sehun. Kebetulan Sehun juga menempati mantan kamar Jongin yang sudah lama kosong.

"Jangan dulu cemburu!" Yifan tiba-tiba mengangkat kedua tangannya.

Perkataan Yifan malah membuat Jongin baru sadar. Oh, apa ia harus cemburu karena secara konstan Yifan menghubungi Kyungsoo karena Sehun.

"Kyungsoo bukan pengasuh Sehun dan Sehun buka anak kecil lagi," Jongin menatap heran Yifan yang malah menatapnya dengan kesal. Maaf, Jongin belum pernah mempunyai seorang anak. "Oke, kau sudah menghubungi Sehun?"

"Aku tidak mau mengganggunya."

"Dan malah mengganggu Kyungsoo," Jongin menghela nafas dengan panjang.

Ia mengambil handphonenya sendiri dan mengembalikan handphone Yifan. Untuk menghubungi Sehun.

"Apa?" suara lemas Sehun malah membuat Jongin mengerti kekhawatiran Yifan.

"Masih hidup?" tanya Jongin yang membuat Yifan gemas. Tapi dengan polosnya Sehun hanya menjawab 'masih'. "Kapan kau bimbingan?"

"Besok jam 11 siang."

"Oke, aku jemput besok jam 10, aku juga harus ke kampus besok."

"Tanya apa dia sudah makan?" Yifan berbisik dengan muka yang membuat jongin gemas.

"Kau tidak pakai narkoba kan?" Jongin malah menanyakan hal lain. Yifan gemas dan Sehun hanya menjawab dengan decihan malas. "Teler ya? Masih siang loh, Bro."

"Apa sih?" Sehun bertanya dengan kesal.

"Kau belum makan seharian ya?" Tebak Jongin. "Jangan sampai ada berita, seorang mahasiswa akhir mengalami pecah lambung padahal ia memiliki uang jajan sekelas sultan."

"Haha lucu," Sehun betulan bete. "Aku punya jam alarm makan berjalan, Jongdae ribut bukan main kalau aku tidak keluar dari kamar untuk menemaninya makan, stress membuat nafsu makannya meningkat." Keluh Sehun dengan gusar.

"Trus kenapa suaramu seperti orang mabuk?"

"Aku stress!" teriak Sehun dengan kencang. "Pembimbingku terus-terusan memberikan revisi," Sehun akhirnya mengeluarkan kekesalannya. "Ingin rasanya aku sogok dengan tas Hermes."

Jongin tertawa keras. "Jangan, beliau lebih suka Gucci," celetukan Jongin hanya membuat Sehun mendengus. "Tabah ya, Saya sudah melewatinya, sekarang giliran Anda."

"Sialan!" umpat Sehun sebelum mematikan telfonnya dengan sepihak.

"Puas?" tanya Jongin pada Yifan yang sejak tadi menempelkan telinganya di sisi luar handphone Jongin. Yifan mengangguk dengan pasti.

"Mau kemana?" Yifan terkejut karena Jongin tiba-tiba berdiri.

"Toilet."

Jongin hanya duduk di atas penutup closet. Ia baru sadar apa yang baru saja ia lakukan. Yifan memintanya datang karena Sehun. Ia bertahan dengan Yifan, bisa jadi juga karena Sehun. Dan dengan sombongnya menantang Luis. Kemudian, jawaban siapa yang akan menang langsung muncul. Ketika ia dan Luis datang berbarengan, mata Yifan langsung mengarah pada Luis. Saking frustrasinya ia malah menggoda ahli gizi Yifan. Dan sekarang ia ingin pulang. Lalu tidur.

Entah sudah berapa lama ia duduk di toilet. Termenung sambil mengumpat pada dirinya sendiri. Saat keluar dari toilet ia malah tidak menemukan siapa pun. Makannya juga tinggal satu, miliknya sendiri. Loh, ini justru kesempatannya untuk pergi. Sialnya, saat tangannya mencapai helm, permintaan Yifan agar Jongin tidak melarikan diri justru berputar. Oh, apa ini juga termasuk melarikan diri?

Jongin memundurkan langkahnya dan duduk. Ini konyol. Perkara ia bertemu dan mengeluarkan tantangan saja, sudah terlihat jelas. Betapa Jongin sangat putus asa. Ia juga ingin jadi kekasih yang bisa bersikap posesif. Tapi tidak bisa, ini hanya perkara gengsi dan tahu diri.

Jongin tidak lapar. Membuang makanan juga bukan hal yang bijak. Suapan pertama ia tahu makan ini enak luar biasa. Tapi suapan selanjutnya lebih terasa seperti beban yang dipaksa untuk masuk ke dalam mulutnya. Hingga entah suapan ke berapa justru membuat perutnya mual bukan main. Oh, sesuatu yang dipaksakan juga bukan hal yang baik.

"Kau baik-baik saja?" suara lembut itu membuat Jongin tersentak. "Aku pikira kau sudah pulang karena Tuan Wu bilang ia ada urusan sebentar dengan Tuan Clemens," sebagai respons Jongin hanya mengangguk. "Tapi sepertinya pertemuannya sedikit lebih lama."

"Maaf, apa ada obat migrain?" Jongin berkata dengan lirih.

"Tunggu sebentar."

Antara ingin menangis, tertawa dan berteriak. Jongin baru saja tengah menyiksa dirinya sendiri. Apa sih yang sedang ia lakukan sejak tadi?

"Kapan mereka kembali?" Jongin menemukan kunci mobil Luis di samping kunci motornya.

"Biasanya bisa sampai satu jam atau dua jam lagi," sekretaris Yifan yang cekatan memberikan obat kecil berwarna putih pada kekasih bossnya. "Aku dengar kau akan melanjutkan S2 ke Jepang."

"Bisa jadi," kalau ia lulus tes. Serius, ia tidak punya tenaga untuk menceritakan rencana hidupnya. "Boleh aku pinjam sebentar," Jongin menunjuk ruang istirahat Yifan. "Kalau migrainku mereda, aku akan segera pergi."

Sekretaris itu hanya mengangguk pelan. Ia bahkan mencoba membantu Jongin yang berusaha berdiri dan berjalan. Tapi ditolak dengan halus oleh Jongin.

"Terimakasih." Ucap Jongin sambil menutup pintu.

Hanya butuh dua jam, ia terbangun dengan kepala yang jauh lebih ringan. Dan perut yang kelaparan. Saat ia keluar dari ruangan. Yifan dan Luis masih belum datang. Makan siang yang baru ia makan setengah masih di atas meja, dengan dilapisi plastik bening. Kali ini ia coba memakannya lagi. Rasanya jauh lebih enak, mungkin karena ia kelaparan.

"Terimakasih." Jongin mengetuk meja sekretaris Yifan.

"Oh, Tuan Wu bilang ia baru selesai dengan pertemuannya."

"Oke." Jongin hanya mengangguk masih sambil memasang sarung tangannya.

"Kau tidak menunggu?" Sekretaris itu bertanya dengan heran. Ia pikir Jongin sengaja menunggu bossnya.

"Aku tidak mau mengganggu orang bekerja," Ucap Jongin yang kini menutup seleting jaket kulitnya. "Sekali lagi, terimakasih untuk obatnya," Jongin menatap cincin yang dipakai sekretaris Yifan. "Oh, selamat untuk pernikahan mu juga."

"Eh?"

"Bosmu yang bilang." Jongin menjawab tanpa ditanya. Ia tersenyum saat si sekretaris tersipu malu sambil membisikkan kata terimakasih.

.ILYD.

Jongin memarkirkan motornya tepat di samping mobil Yixing yang jarang ia pakai. Untuk pertama kalinya ia merasa cukup lega karena tidak ada siapa pun di dalam rumah. Kecuali mungkin tukang kebun yang kadang merangkap menjadi asisten rumah tangga. Seorang pria berumur 40-an yang bersikeras untuk dipanggil Gege. Tolong pahami, ada juga seseorang yang menolak tua.

Jongin bukannya masuk ke dalam rumah malah duduk di lantai, menatap kebun kecil di depan rumahnya. Kebun yang penuh tanaman herbal milik ibunya yang bertangan ajaib. Apa pun yang ditanam akan tumbuh dengan subur. Karena sayang kalau mati, kakaknya sampai menyewa seorang tukang kebun untuk taman yang tidak terlalu luas.

"Kau kenapa?"

Pertanyaan itu membuat Jongin sedikit tersentak. Ternyata Xiao Ge, si tukang kebun sekaligus asisten rumah tangga andalan ibunya ini ada di rumah.

"Dunning-Kruger Effect." Gumam Jongin sambil menatap tanaman herbal yang entah apa namanya.

"Maksudnya?"

"Merasa diri pintar tapi nyatanya tolol luar biasa," Jongin tertawa saat pengurus tamannya itu malah semakin heran menatapnya. Antara bingung dan prihatin. "Ge, kau pernah selingkuh?"

"Pernah."

"Hmm.."

"Pacarmu selingkuh?"

"Enggak."

Xiao Ge jadi penasaran karena tingkah sok misterius Jongin. Padahal terlihat sekali kepengen cerita. "Kalau dia selingkuh, putuskan saja, buat apa memperpanjang hubungan yang membuatmu menderita."

"Dia tidak selingkuh, Ge," Jongin mengatakannya dengan nada terkejut. "Anakmu sudah sekolah Ge?" Jongin mencoba mencari topik pembicaraan. Tidak mulus sih..

"Aku belum menikah."

"Hmm?" padahal bapakable loh pria di hadapannya ini. "Susah sih emang mencari istri yang mau dengan anggota triad."

Seperti adegan drama pada umumnya. Selang yang sedang dipakai Xiao Ge mendadak jatuh. Lah kan, makin keciri saja tingkahnya.

"Lain kali pakai celana panjang Ge," ucap Jongin sambil menunjuk betis Xiao Ge. "Lambangnya itu loh, kelihatan dengan jelas," Jongin menatap punggung pria yang kini mematung. Jongin sedang tidak takut mati atau entahlah. Mungkin efek samping dari obat migraine. "Perasaan aku tidak punya masalah apa pun dengan Xia Wei." Jongin tanpa sadar memainkan gelang merah yang ia kenakan.

Jongin biasanya hanya mengenakan jam tangan. Tapi pada akhirnya, ia menambah gelang merah ini sebagai teman jam tangannya.

"Awalnya aku tidak ingin peduli," Xiao Ge akhirnya bersuara. "Saat aku terluka parah, dia malah memintaku untuk membunuhmu jika menikah dengan Chanyeol-Ge," dari cara Xiao memanggil nama Chanyeol, Jongin rasa hubungan kedua kelompok triad ini mulai membaik. "Tapi ketika aku melihat gelang ruby di samping abu miliknya dan Chanyeol-Ge bilang kalau gelang itu pemberian dari orang yang dikasihi Wei-Jie," Xiao Ge akhirnya membalikkan badannya dan menatap Jongin dengan tajam. Oh, apa sekarang ia akan betulan dibunuh? "Ternyata ia memintaku untuk melindungimu."

Hanya ada satu kata yang ada di kepala Jongin. "Posesif ya?" gumam Jongin yang jelas saja membuat Xiao Ge tersentak kaget. Lagi pula juga tahu kalau hubungan anggota triad itu begitu loyal pada pemimpinnya. Jongin malah membuka kotak rokoknya dan menawarkannya pada Xiao. "Tapi, terimakasih."

Xiao Ge betulan mendekati Jongin dan mengambil satu batang rokok. Xiao Ge selalu terkesan dengan cara Jongin yang justru menyalakan pematik api padanya. Padahal posisinya sekarang, Jongin itu majikannya. "Kau percaya padaku?"

"Entah," jawab Jongin sambil menghembuskan asap rokoknya. "Lagi pula, Ayahku tidak akan mungkin sembarangan mengizinkan orang mencurigakan masuk kan?" Jongin mengangkat kedua bahunya dengan pelan.

Suara gerbang yang tengah dibuka membuat keduanya mengalihkan tatapannya. Jongin familiar betul dengan mobil hitam itu. Jongin kadang heran, apa mobil kantor itu harus warna hitam? Apa standarnya itu memang seperti itu?

"Siapa?" tanya Xiao Ge dengan heran.

"Kekasihku dan temannya." Jawab Jongin yang menemukan Luis keluar dari mobil juga.

"Bukan selingkuhannya?" bisik Xiao untuk konfirmasi.

"Kekasihku tidak selingkuh! Ish!" Jongin untuk pertama kalinya menatap Xiao dengan tajam. Nyebelin.

"Kau baik-baik saja?" Yifan menatap Jongin dengan khawatir. Tapi Jongin malah menganggukkan kepalanya dengan bingung. "Supirku bilang dia melihat motormu keluar dari gedung saat kami baru akan masuk," Yifan masih penasaran. "Sekretarisku juga bilang, kau memang baru keluar karena migrain dan sempat beristirahat di ruanganku."

Jongin mengerjapkan matanya. Saking seringnya migrain, ia tidak terlalu memikirkannya lagi. Tapi Yifan sepertinya tidak demikian. Migrainnya datang karena stress dan salahnya ia tadi tidak bisa mengendalikan stress dengan baik.

Jongin kikuk karena Yifan menatapnya dengan marah. Luis justru dengan terang-terangan menganalisis rumahnya. Dan Jongin rasanya ingin melempar sarung tangannya. Karena suara Xiao Ge menahan tawa di sampingnya. Asisten ibunya itu dengan cepat memilih untuk pergi dan masuk ke dalam rumah.

"Dia siapa?" Yifan akhirnya bertanya.

"Asisten rumah tangga ibuku," jawab Jongin dengan kalem. Tapi Yifan sepertinya tidak terlalu percaya. Dan Jongin rasa tidak bijak mengungkapkan identitas Xiao Ge di hadapan Luis. "Dan sekaligus body guard rumah ayahku."

"Aku pikir dia temanmu," Luis yang angkat bicara. "Karena tadi kalian berdua sedang mengobrol dan merokok bersama."

Jongin hanya tersenyum. Ya, gimana?

"Tidak heran kau lebih suka menginap di rumah Yifan atau apartemen Yifan." Gumam Luis yang tidak hanya membuat Jongin heran. Yifan juga heran.

"Dia hanya menginap di rumahku seminggu sekali," ucap Yifan yang membuat Luis tersentak. Dulu ucapan Luis ada benarnya, namun akhir-akhir ini Jongin lebih suka sendirian di rumahnya yang luar biasa sepi. "Dia lebih suka menghabiskan waktu di sini," Yifan meraih cangkir tehnya dan menyesapnya dengan pelan. Jongin sedikit kaget melihat kesigapan Xiao Ge. "Dia menginap di sini?" Yifan kembali bertanya kepada Jongin.

"Tidak, tapi dia datang setiap hari."

"Mirip preman ya?" gumam Luis.

"Kok tahu?" Jongin tertawa saat Luis menatapnya dengan horror. Yifam juga terang-terangan menatapnya dengan khawatir. Mari kita cari topik pembicaraan yang lain. "Aku kaget melihat kalian berdua ke sini."

Xiao Ge muncul dan membuat Luis yang awalnya ingin menjawab jadi diam. Xiao membisikkan sesuatu yang membuat Jongin pergi ke dapur.

"Kenapa?"

"Pamit pulang."

"Terus ngapain ke dapur?" Yifan betulan khawatir loh.

"Ibuku bilang, kalau Xiao Ge memasak apapun, dia harus kebagian jatah," ucapannya ini malah membuat Yifan dan Luis saling berpandangan. "Karena Xiao Ge sungkan, jadi aku yang menyiapkannya," Jongin tertawa melihat raut wajah Luis dan Yifan. "Kalian berdua tidak harus paham."

"Dia dikasih upah kan?" Yifan yang bertanya.

"Ya dikasih lah.." Jongin gemas dengan dua manusia di hadapannya. "Konsep di rumahku memang seperti ini," Jongin meminum tehnya dengan perlahan. "Lagi pula, itu cara yang paling ampuh, agar masakannya selalu enak." Jongin menaikan kedua alisnya saat Yifan membulatkan mulutnya.

Tolong diingat Xiao Ge itu bukan Maid apalagi Butler.

.ILYD.

Jongin baru sadar ia tertidur di sofa, tempat dimana Yifan dan Luis duduk berdampingan. Ia bahkan masih mengenakan jaket kulitnya. Ia terbangun karena seseorang mengetuk pintu rumahnya. Kalau tidak, mungkin ia akan tertidur sampai pagi.

"Ge?" Jongin menatap Yifan dengan heran.

"Kau tidak membalas pesanku dan mengangkat telfonku," Yifan menatap Jongin dengan kerutan di dahi. Rambut Jongin kok bisa sekusut ini. "Aku khawatir." Yifan menemukan Jongin justru menatapnya dengan heran.

"Aku ketiduran di sofa." Jawab Jongin pelan sambil mengusap surainya dengan pelan. Ia masuk ke dalam rumah dan mengecek handphonenya yang masih tergeletak di atas meja ruang tamu. Oh, ada belasan panggilan dan pesan. "Maaf sudah membuatmu khawatir."

Entah kenapa, Yifan sedikit sakit hati saat Jongin mengatakan maaf. Yifan merasa mungkin obrolan Jongin dan Luis membuat Jongin seperti ini. Yifan harusnya sudah tahu, kejadian macam ini bisa berulang dan bahkan Jongin bisa mendapatkan perlakuan yang lebih buruk dibandingkan dengan mantannya dulu.

"Kau tidak penasaran, kenapa aku dan Luis tiba-tiba pergi?" Yifan menatap Jongin yang baru melepas jaket kulitnya. Tampak kelelahan.

"Sekretarismu bilang, ada urusan mendadak," Jongin melipat jaket kulit dan menaruhnya di atas pangkuan. "Apa ada hal lain?" Jongin bertanya dengan penasaran.

"Makan siang dengan kolega Luis," Jawab Yifan yang hanya membuat Jongin mengangguk pelan. "Kau bisa bilang kalau kau keberatan dan tidak suka." Yifan mengatakannya karena Jongin tidak juga memberikan alasan kenapa Jongin bisa mendadak migren.

Jongin menggaruk alisnya yang tiba-tiba terasa gatal. "Bukannya aku sudah bilang ya kemarin?" Maksud Jongin saat di apartemen Yifan. "Dan sekarang aku hanya sedang mencoba untuk memahaminya."

Perkataan Jongin entah kenapa membuat Yifan sedikit tersentak. Yifan teringat perkataan Sehun. Kalau Sehun ada di posisi Jongin, mungkin Sehun tidak akan tahan. Dan pasti meminta Jongin untuk menjauh dari Luis. Tapi yang terjadi, Jongin hanya bilang kalau dia tidak nyaman tanpa memaksa Yifan untuk berubah.

Yifan menatap Jongin yang sibuk membuka laci dan menemukan kumpulan ikat rambut milik ibunya. Oh, dia menemukan ikat rambut tipis tanpa hiasan meski berwarna merah menyala. Ia mengusap poninya menyatukan rambutnya yang lain. Dan wow, rambutnya betulan panjang.

"Mau sampai kapan kau membuatku merasa bersalah?"

"Bersalah apanya?" Jongin bertanya tanpa menoleh dan justru berjalan ke arah dapur. Yifan mengikuti langkah Jongin dari belakang.

"Kau melakukannya juga dengan mantanmu, memberikan perhatian pada semua orang yang dekat denganku tapi mengacuhkanku," Yifan menatap Jongin yang awalnya sudah mengambil air minum dari lemari es. Tidak jadi minum dan malah menatap Yifan dengan heran. "Kau sengaja melakukannya kan?"

"Sehun yang bilang ya?" Tebak Jongin, tapi Yifan hanya diam. "Aku tidak sejahat itu," Jongin mengerjapkan matanya. Iya, dulu ia pernah melakukan taktik ini saat ia kesal bukan main dengan kekasihnya dulu saat SMA. Tapi kali ini ia hanya memilih untuk tidak terlalu memusingkan tingkah Yifan dan Luis. "Kau tidak perlu menyesuaikan diri dengan tingkah kekanakanku."

Yifan mengerutkan dahi. Apa sekarang ia terlihat seperti abg baru pacaran? Jongin juga kenapa jadi terlihat lebih tua dari umurnya. Bukan, bukan wajahnya tapi sikapnya.

"Kau juga," Yifan tersenyum kecil. "Jangan menyesuaikan diri dengan umurku," Yifan malah menemukan Jongin tertegun. "Aku sudah lama tidak berdebat denganmu."

Jongin akhirnya meminum air dinginnya dengan rakus. Dan berjalan mendekati Yifan. Entah, tiba-tiba saja Jongin ingin mencium Yifan. Gemas rasanya.

"Dingin." Bisik Yifan saat Jongin mengecup bibirnya. "Bibirmu, tanganmu," Yifan mengelus lengan Jongin yang menangkup wajahnya. "Ekspresimu, tolong jangan sampai hatimu juga berubah dingin," Yifan tidak tahan untuk tidak merengkuh tubuh Jongin. "Maafkan aku." Bahkan Yifan mengecup leher Jongin dengan dalam.

.ILYD.

Jongin baru keluar dari toilet, alasan yang selalu Jongin lakukan saat melarikan diri dari teman-teman Luis. Sebenarnya Yifan tahu ini bukan cara yang dapat ia menangkan di dua belah pihak. Memang kadang harus ada yang dikorbankan. Yifan tersenyum kecil dengan setelan andalan Jongin. Celana jeans biru dan kaos hitam polos. Benar-benar setelan anak kuliahan pada umumnya. Yifan tidak akan heran jika ada mahasiswi yang berusaha mendekati Jongin.

"Tsk, dia.. tidak imut sama sekali." Keluh Yifan yang tidak sengaja menyuarakan isi hatinya. Ia rasa suaranya tidak terlalu terdengar tapi semua orang malah menatapnya dengan terkejut.

"Kalau begitu kenapa?" seperti biasa, Tommy teman dekat Luis selalu berhasil mencari celah. "Baru kali ini kau memilih kekasih yang bahkan tidak imut seperti mantanmu yang lain." Komentarnya selalu saja membuat Yifan menghela nafas. Yifan sadar kok, sangat sadar Tommy itu punya mulut macam ular, dia juga yang memberi tahu Yifan, kalau Jongin bertemu Chanyeol di bengkel Kyungsoo.

"Bibirnya." Yifan mengusap bibirnya dengan perlahan. Ia jadi ingat bibir dingin Jongin beberapa hari yang lalu. Tanpa dasar Yifan bahkan menjilat bibirnya sendiri. "Semua yang keluar dari mulutnya, ucapannya, umpatannya, pujiannya. Aku suka ketika dia mulai mendebatkan segala hal," mantan Yifan dulu kebanyakan penurut. Tapi Jongin itu punya sistem aturannya sendiri. "Dia tidak mau mengalah."

"Hanya itu?" Tommy bertanya dengan dengusan andalannya.

"Tidak, bibirnya punya banyak keahlian," Yifan beranjak berdiri dengan seringai yang biasanya ia tunjukkan di atas ranjang. "Aku tidak pernah bosan melumatnya," baru kali ini Yifan mengatakan hal yang terkesan vulgar. "Karena dia tidak pernah mau mengalah." Yifan masih menyeringai bahkan saat matanya menangkap tatapan Jongin yang tengah terang-terangan menatapnya dengan heran. Bahkan Jongin menyilangkan tangannya dengan sifat bossy andalannya.

"Mau kemana?" Luis meraih lengan Yifan. Jelas untuk mencegat Yifan mendatangi Jongin.

"Seharian ini aku belum menciumnya," Yifan tersenyum kecil sambil menarik lengannya dengan lembut. Tapi Luis malah mengeratkan cengkramannya. "Kenapa?" Yifan pura-pura bertanya agar Luis melepaskan tangannya. Dan ya, caranya berhasil.

Yifan kembali menatap Jongin dengam seringai yang membuat bulu kuduk Jongin meremang. Jongin sampai memundurkan tubuhnya saat Yifan meraih pinggang dengan kedua tangannya yang mulai tampak berotot. Oke, Yifan harus berterimakasih pada instruktur gymnya.

"Apa?" tanya Jongin dengan nada bergetar.

Yifan memiringkan kepalanya, memangnya Yifan semenakutkan itu ya?

Yifan meniup dahi Jongin yang membuat Jongin refleks memejamkan matanya. Dan saat Jongin membuka kelopak matanya, ia bisa merasakan bibirnya sudah dijamah sedemikian rupa hingga membuat Jongin tercekat. Jongin mencoba mendorong, tapi Yifan justru merengkuh tubuhnya. Jongin tidak bisa menolak dan memilih meladeni lidah Yifan hingga kekasihnya ini puas. Duh! Yifan kenapa sih?!

Jongin akhirnya mengalihkan wajahnya, ia kehabisan nafas. Yifan masih mencoba untuk mengecup bibir Jongin yang malah menghindar. Jadilah Yifan mengecup Jongin dengan acak-acakan. Kalau Jongin memakai lipstick mungkin mulutnya sudah belepotan.

Bukannya menjawab. Yifan malah menyurukkan kepalanya ke leher Jongin. Macam kucing saja kelakuan Yifan kali ini. Jongin berniat menepuk bahu Yifan saat ia sadar tengah menjadi tontonan. Tepatnya tontonan kelompok Luis. Biasanya mereka akan menatapnya dengan sinis. Sekarang mereka dengan kompak mengalihkan tatapannya. Luis juga melakukannya. Bahkan wajah Mingdao memerah. Wah! Apa-apaan ini?!

"Ucapan mesum apa yang kau katakan pada mereka?" Jongin menemukan tubuh Yifan tersentak.

"Kok tahu?" Yifan melonggarkan renkuhannya karena ingin melihat Jongin.

"Seringaianmu itu buktinya," Jongin malah kembali membuat Yifan menyeringai dan menyerang lehernya. "Heh!" Jongin kembali mencoba melepaskan diri. Tapi Yifan dengan brengseknya malah semakin semangat menghisap lehernya layaknya drakula. Oke, Jongin memang tidak pernah disedot darahnya oleh drakula. Tubuhnya seperti sengatan listrik yang membuat sekujur tubuhnya meremang. "Su.. dah!" Kali ini Jongin berhasil melepaskan diri.

Wajah Jongin sudah benar-benar merah. Yifan sengaja mengaktifkan hasrat Jongin. Dan Yifan malah menunjukkan wajah bangga yang sedikit menyebalkan. Jongin cepat-cepat mengambil handphonenya. Mencoba melihat keadaan lehernya melalui bantuan kamera handphone tapi tidak terlihat. Jadi ia terpaksa memotret lehernya.

"Merah!" geram Jongin dengan kesal. Besar dan pekat. Betulan hasil kiss mark Yifan seperti biasanya. Jongin tahu ini bukan pelecehan di depan publik. Tapi kan tetap saja.

Jongin mencoba menutup tanda merah dengan telapak tangannya. Tapi Yifan mencegahnya.

"Jangan menutup hasil karyaku!" nada sombong Yifan membuat Jongin memukul lengan kekasihnya dengan keras. "Aduh!" keluh Yifan.

"Luis mencarimu!" Jongin tidak seperti biasanya menganggap Luis sebagai penyelamat.

"Tidak," Yifan yang biasanya penurut kini bahkan kembali merengkuh tubuh Jongin. "Jangan buang aku!"

"Kau mabuk?!" seriusan deh, bibir Yifan memang terasa seperti beer. Tapi masa segalas beer sudah membuat Yifan menggila karena mabuk.

"Tidak mau!" Yifan bahkan mengeluarkan nada kekanakan yang membuat Jongin merasa Yifan sepertinya sudah hilang akal sehatnya.

Jongin yakin pasti Luis mendengar ucapan Yifan. Karena pria tampan itu malah melewati Yifan begitu saja untuk mendatangi Baba yang baru pulang dari pertandingan rugby.

"Kau sengaja membuat rambutmu panjang?" tanya Yifan yang tiba-tiba mengangkat topik pembicaraan yang lumayan absurd. Yifan meraih tangan kiri Jongin. Entah kenapa Yifan selalu terharu ketika melihat Jongin tidak pernah melepas cincin pemberiannya.

"Besok aku akan potong rambut," Jongin terkejut karena Yifan mendongakkan kepalanya tiba-tiba. "Kenapa?"

"Aku ikut."

"Hah?" Jongin heran bukan main. Yifan bukan tipe pria yang akan menemani kekasihnya belanja dan pergi ke salon. Lagi pula, Jongin cuman ingin potong rambut dan selesai.

"Setelah itu kita nonton atau makan atau melakukan keduanya," Yifan tidak sedang menawarkan pilihan, seperti biasa itu merupakan keputusan sepihak. "Mau berangkat jam berapa?"

"Kau kenapa?" Jongin tidak tahan untuk tidak bertanya.

Jongin selalu saja seperti ini. "Tsk, sepertinya akan lebih mudah kalau aku menjadi sugar daddymu saja ketimbang kekasih." Entahlah, Yifan hanya tiba-tiba merindukan sikap manis Jongin di Thailand.

Jongin tentu saja heran mendengarnya. Yifan kenapa? Tolonglah ini kekasihnya mabuk atau apa...

"Kau tidak akan sanggup," Jongin menyerah, mari kita ikuti alur permainan Yifan. "Aku terlalu mahal dan tidak tahu diri."

"Aku bisa menyanggupi semua hal yang kau inginkan, aku bahkan rela menghabiskan sisi hidupku denganmu," Yifan kini bukan hanya mengusap tangan Jongin. Yifan bahkan mengecup jari yang tengah mengenakan cicin darinya sebelum berkata. "Apa itu masih belum cukup?"

Jongin kali ini betulan shock. Oh, pantas teman perempuannya akan menjerit setiap ada adegan macam ini di film. Jongin juga jadi ingin menjerit layaknya gadis perawan. Tapi yang terjadi Jongin hanya bisa mematung dengan wajah memerah padam. Yifan sedang melamarnya atau bagaimana sih? Ini serius atau hanya gurauan Yifan seperti biasanya.

"Aku serius."

"Sejak kapan kau jadi semanis ini?" Jongin berusaha mengendalikan rasa malunya.

"Apa aku harus berlutut?"

"Mau ku tendang tulang keringmu?"

Nah ini, Jongin yang selama ini ia rindukan.

.ILYD.

Udah 2021 haha

Ini cerita udah terlalu panjang dan yang bikin gak tau diri

Jujur, bingung aku tuh namatinnya gimana