"SIAP GERAK!"
Naruto, Kiba dan sekitar 50 orang perwira lapangan di ruangan itu sontak memberikan sikap hormat. sedang kedua Perwira Tinggi yang melangkah masuk ke ruangan mereka langsung menuju bangku pemimpin pertemuan di depan. kedua Perwira Tinggi itu berdiri menghadap mereka dan balas memberikan hormat. suatu protokol penghormatan Militer umum antara anak buah dengan atasan.
"ISTIRAHAT!"
Sikap Hormat disudahi.
Kedua Perwira Tinggi itu menatap para hadirin yang ada di ruangan termasuk Naruto dan Kiba. salah satu diantara mereka memeriksa sebuah draft.
"Selamat sore semuanya, apa kabar!?"
"SIAP, BAIK PAK!" balas mereka serentak pada kedua orang Perwira Tinggi itu.
"Yah, silahkan duduk"
Suara bangku berdecit segera memenuhi seisi ruangan. Naruto mendekatkan kursinya ke arah meja. beberapa dokumen ia tata rapi di sampingnya, tak lupa sebuah note dan pulpen ia siapkan untuk mencatat segala isi dari pertemuan ini. Kiba melakukan hal yang sama, namun ia lebih fokus ke catatan para anggota Kompi Delta yang belum ia periksa. sebagai asisten dan wakil komandan kompi ia lebih fokus untuk memperhatikan kebutuhan anak buahnhya lalu baru ia serahkan ke Komandan Kompi untuk direalisasikan.
"Masih sehat semuanya? masih betah berada disini?" sebuah pertanyaan dari seorang Perwira tinggi asal Amerika Serikat dilontarkan kepada mereka.
"Siap, Masih!" balas para perwira lapangan serentak.
"Bagus, yang namanya prajurit memang harus siap menerima penempatan tugas yang Negara berikan kepada mereka. tidak peduli mereka ditempatkan dimana, bahkan kalau mereka ditempatkan di Mars sekalipun kalau itu perintah negara harus mereka jalankan. dan juga penempatan tugas itu harus mereka terima secara baik dan lapang dada. setiap penempatan tugas harus dijalankan Prajurit dengan baik, Mengerti itu!?"
"Siap mengerti!"
Pria mengangguk perlahan, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh perwira lapangan yang hadir di depannya sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Bagus, disini sudah ada yang bertemu atau berkenalan dengan gadis gadis Ukraina?" tanya sang Perwira tinggi yang bernama Harold itu kepada mereka dalam nada menggoda.
Sontak para hadirin tertawa. beberapa diantara mereka nampak menggelengkan kepala. pertanyaan Letkol Harold tepat menyindir mereka. sudah hampir sebulan mereka disini, dan sebagai perwira muda yang sebagian besar masih menyukai perempuan tentu mereka punya hasrat seks tinggi yang harus disalurkan. dan cara menyalurkannya tentu dengan gadis gadis lokal di dekat kamp.
Sangat amoral, tapi disisi lain merupakan kebenaran di kalangan prajurit.
"Hahahahahahaha, nampaknya aku mengenal siapa orang yang dimaksut Letkol Harold" sindir Kiba sambil melirik ke arah Naruto.
Naruto hanya tersenyum.
"Bukankah kau juga? bahkan lebih parah, kau berhubungan badan dengan mereka bukan?" balas Naruto.
Kiba cemberut
"Jangan buka rahasia dooonnggg" tukas Kiba dengan ketus disambut tawa Naruto.
Suasana sempat ramai sebelum sebuah deheman dari Mayor Kakashi menghentikan tawa mereka. Letkol Harold tersenyum tipis sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Kulihat kalian sudah betah berada disini walau baru beberapa minggu. untuk urusan seksual, aku tidak melarang kalian berhubungan dengan gadis Ukraina atau sesama teman kompi kalian sekalipun, tapi tolong tetap fokus pada tugas dan jaga keselamatan dan kesehatan diri sendiri, paham?"
Para perwira lapangan hanya diam sambil mengangguk pelan tanda mengerti.
"Baik, cukup basa basinya. kita akan langsung dalam pemaparan tugas. pemaparan tugas ini akan menjadi refrensi dan pedoman dalam operasi tempur maupun non tempur bagi Unit Militer PBB, khususnya bagi unit Italia dan Amerika Serikat" ucap Letkol Harold. ia menekan pointer ke layar LCD untuk menampilakan layar presentasi yang ada di ruangan itu.
"Untuk selanjutnya pemaparan akan disampaikan oleh Letkol Arroso dari Kontingen Italia, silahkan tuan Arroso"
Letkol Harold mematikan Microphonenya, mengalihkan tugaskan proses pemaparan pada Letkol Arroso, komandan unit Pasukan Perdamaian Italia sekaligus Komandan Divisi Gunung ke 4 Italia. Letkol Arroso menampakkan ekspresi datar, berdehem sebentar sebelum menyalakan Microphone di mejanya.
"Terimakasih Letkol Harold, saya akan ambil alih" Pria berambut pirang itu menoleh ke arah kawannya. "Pemaparan Tugas yang akan disampaikan pada sore hari ini akan meliputi beberapa aspek seperti Standar Operasional Tugas, peraturan penggunaan alat pertahanan tempur dan juga penjelasan mengenai situasi di lapangan akhir akhir ini"
"Mohon Presentasi dan pemaparan tugas ini bisa anda catat agar tidak terjadi misskomunikasi dan kesalahan ketika penempatan tugas lapangan" lanjutnya lagi.
Para Perwira mendengarkan dengan seksama. di tangan mereka sudah tersedia Bolpen dan Kertas untuk mencatat. ada yang memakai Smartphone untuk merekam Video atau Audio. ada juga yang hanya mendengarkan. sedang Kiba dan Naruto berbagi tugas, Naruto mendengarkan dan Kiba yang mencatat.
"Baik, yang pertama adalah tentang Standar Operasional Pengamanan Tugas"
"Standar Operasional Pengamanan Tugas yang kita terapkan disini sebenarnya sama seperti sebelumnya. hanya saja ada revisi sedikit dari sisi Metode dan Pengamanan.
Letkol Arroso menekan pointernya untuk mengganti slide presentasi.
"Untuk Standar Operasional Pengamanan Tugas akan menggunakan metode Humanisme. kita akan berusaha sedekat mungkin dengan masyarakat untuk mengambil hati mereka dan membantu Pemerintah lokal untuk mencegah masuknya milisi bersenjata ke wilayah sipil, pendekatan kita akan lebih pada kegiatan sosial seperti pembagian bantuan makanan, sekolah umum, dapur umum, dan bagi yang punya keahlian di bidang hiburan mungkin bisa mengadakan pertunjukan untuk anak anak disana"
Para Perwira mulai mencatat apa yang disampaikan oleh Letkol Arroso. sedang Naruto hanya mengetuk ngetuk Pulpen nya ke meja. hal itu sudah ia lakukan bersama Kompi Delta di misi sebelumnya jadi ia tidak asing dengan SOT yang berlaku. sedang Kiba tetap mencatat karena itu tugasnya.
'CTING!'
Suara Notifikasi Smartphone itu mengalihkan perhatian Naruto. ia segera mengambil Smartphone miliknya dari saku dan mulai memeriksa pesan yang masuk.
'CTING'
Pop Up pesan terbaru muncul diatas layar Smartphone Naruto. namun ia tidak tahu siapa pengirim pesan itu. hanya ada nomor, berarti dia belum menyimpan kontak tersebut di Smarphonenya.
"Siapa?" tanya Kiba yang perhatiannya ikut teralihkan karena suara Notifikasi Smartphone Naruto yang cukup keras terdengar olehnya.
"Entah, aku tidak kenal nomernya"
Naruto menyalakan mode senyap di Smartphonenya agar suara notifikasi seperti tadi tidak menganggu rapat. ia lalu memasukkan benda itu ke dalam sakunya dan kembali memperhatikan penjelasan Letkol Arroso dengan khidmat.
"Selanjutnya adalah peraturan penggunaan alat pertahanan tempur, baik senjata ringan maupun senjata berat" Letkol Arroso menekan kembali pointer yang ia pegang untuk mengganti slide presentasi
"Sesuai dengan resolusi PBB 377 ayat ke 5 mengenai usaha menjaga perdamaian dalam bentuk pengerahan pasukan pengamanan bersenjata, maka segala bentuk tindak provokasi dalam bentuk verbal maupun non verbal yang tidak mengancam keselamatan nyawa pasukan di lapangan tidak boleh ditanggapi dengan kekerasan" terang Letkol Arroso.
"Penggunaaan Alutsista maupun alat pertahanan diri anggota PBB di lapangan hanya boleh dilakukan bila ada penyerangan secara fisik yang dapat membahayakan nyawa mereka di lapangan. termasuk diantaranya pemukulan, pengeroyokan, penembakan, pembacokan dan ancaman Ranjau Improvisasi seperti IED" lanjutnya lagi
"Berbicara soal penyerangan, Minggu lalu aku mendengar ada gugus Tugas Ranger berjumlah 1 kompi yang diserang oleh Mortir ketika mereka bertugas di salah satu desa, apakah ada pemimpin atau anggota kompi itu disini?" Potong Letkol Harold.
Naruto mengangkat tangannya. seluruh orang yang berada di ruangan sontak melihat ke arahnya.
"Kau, perkenalkan nama dan asal unitmu" perintah Letkol Harold pada Naruto
"Siap" Naruto beranjak dari tempat duduknya untuk berdiri. "Kapten Michael Naruto Uzumaki, Kompi Delta, Batalyon ke 4 Ranger dari Divisi ke 75"
"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi di desa tempat kau bertugas ketika diserang waktu itu?" tanya Letkol Harold.
"Siap, izin menjelaskan!" Naruto menerapkan sikap tegap. "Ketika Kompi Kami selesai mengisi acara hiburan untuk menghibur para warga desa dan anak anak dan beberapa saat setelah unit Marinir yang bertugas sebelum kami pergi dari desa, serangan mortir mulai menghujani posisi pertahanan terdepan kami dan juga beberapa bangunan di desa termasuk sekolah, dapur umum dan Kapel kecil pak!"
"Lalu saya dan sisa unit saya segera mulai mengatur posisi pertahanan. kami menempatkan Unit Senapan mesin di garis depan, unit infantri ringan di jalan masuk dan keluar desa, Marksman di ketinggian, dan unit mortir ringan di belakang, serangan mortir musuh saya rasa cukup akurat dan membahayakan nyawa personil di lapangan juga warga sipil desa sehingga memaksa kami melakukan counter attack menggunakan mortir kami juga"
"Hasilnya?" Kali ini Letkol Arroso yang bertanya
"Siap, unit Mortir musuh berhasil dibungkam, tidak ada kerugian satupun di pihak kami. semua anggota kompi dalam keadaan sehat dan berhasil pulang ke kamp dengan selamat, sekian penjelasan singkat tugas kami di desa Pischev!"
Tepuk tangan terdengar bergemuruh dari para hadirin dan perwira tinggi yang ada di ruangan tersebut setelah Naruto menyelesaikan ceritanya. beberapa perwira unit Italia tampak menyorakinya, sedang beberapa Perwira kompi yang ia kenal seperti Kapten Jackson mengacungkan jempol ke arahnya.
"Your First kill on the Battlefield huh?" ucap Letkol Harold. "Not bad at all for kids, isn't it?" ia kemudian menoleh ke arah Kakashi.
Kakashi hanya tersenyum tipis sambil melipat tangannya di dada.
Naruto melebarkan senyuman, Kiba hanya cengar cengir disampingnya. mereka juga ikut bertepuk tangan. rasa bangga menyelimuti hati mereka karena pujian dari rekan rekan mereka dari unit AS dan Italia plus Letkol Harold dan Letkol Arroso sebagai perwira tinggi 2 unit Pasukan itu.
"Well, kau beruntung karena hanya menghadapi Mortir Kapten"
Sorak sorai berangsur berhenti ketika Letkol Arroso melanjutkan pembicaraan.
"Tepat 4 hari sebelum kalian sampai kesini, sebuah kompi infantri Korea Selatan diserang menggunakan MLRS ( Multiple Launch Rocket System ) di daerah Yasynuvata, sekitar 21 kilometer dari sini, tepat disaat mereka sedang melakukan acara bakti sosial sama seperti yang kau dan kompimu lakukan bersama warga desa. ketika mereka berkumpul di aula salah satu balai desa, sebuah roket menghantam bagian atap aula lalu tembus ke bawah lalu meledak di dalam, membunuh seluruh warga dan 23 tentara Korea Selatan yang ada di ruangan itu"
"Benar, selain mereka ada 18 Tentara Korea lain di perimeter desa itu yang tewas karena terkena roket"
"Dan 31 lainnya terluka... insiden itu sekarang dikenal sebagai insiden Yasynuvata, insiden yang membunuh seluruh warga desa dan setengah anggota kompi Korea itu menjadi insiden terburuk sepanjang misi kami di Ukraina, Wing Angkatan Udara Korea Selatan lalu melancarkan serangan balasan ke wilayah Donestk dengan serangan udara yang membunuh 279 warga sipil dan Milisi lokal" lanjut Letkol Arroso lagi.
Tidak ada lagi sorak sorai yang terdengar dari mulut para Perwira yang hadir.
"Serangan itu diklaim dilakukan oleh Kelompok milisi yang bernama Front Pembebasan Nasional Ukraina Utara"
Naruto mengernyitkan dahi, ia seperti tidak asing dengan nama Milisi itu.
Seperti pernah mendengar bahkan bertatap muka langsung dengan para Milisi itu
Lekol Arroso menyeka wajahnya, sudah ia duga cerita tadi tidak seharusnya ia katakan pada para perwira muda itu.
"Cukup pembahasan dan cerita heroiknya sekarang kita lanjut ke pembahasan berikutnya..."
.
.
.
.
"Front Pembebasan Nasional Ukraina Utara"
Hari sudah berganti malam, suasana Markas berangsur tenang. barak barak prajurit masih nampak terang benderang oleh lampu di dalamnya, beberapa perwira hilir mudik dari satu gedung ke gedung lain. sedang prajurit jaga menjalankan tugasnya berpatroli di sekitar Kamp. mencegah penyusup yang berniat masuk.
Naruto sedang duduk di meja kerjanya, kumpulan dokumen dan paper tercecer di depannya, segelas kopi dan Sandwich berada di samping kanan meja. dengan ditemani sinar dari lampu belajar ia membaca kumpulan dokumen dan paper yang ada di depannya itu.
.
.
.
.
CASUALTIES ON UNITED PEACEKEEPER FORCE IN UKRAINE ( 2013 – 2019 ) : CLASIFFIED. adalah judul dokumen yang sedang ia baca sekarang. dokumen setebal 300 halaman itu berisi seluruh serangan yang melibatkan unit PBB dan Milisi maupun Tentara Pemerintah di Ukraina. dokumen rahasia itu berhasil ia dapatkan dari atasannya, Mayor Kakashi. tentu saja ia harus melobi atasan dan juga paman tirinya itu dengan berbagai cara agar ia bisa mendapat dokumennya.
"Mari kita lihat, Insiden Yasynuvata..." Ia mencari kata kunci Yasynuvata di indesk dokumen. dokumen itu tersusun sangat rapi dan sangat terjadwal sehingga sudah terurut dari mulai tanggal hingga tempat kejadiannya dalam sebuah tabel. terdapat ratusan kejadian yang tercatat di sana, membuat ia harus teliti agar tidak salah membaca dokumen yang ia sedang cari.
"Ah, ketemu!" pekiknya dalam hati ketika menemukan dokumen yang ia cari.
"Insiden Yasynuvata... Insiden yang menewaskan 41 Prajurit Korsel dan 178 Warga sipil Desa Prypta"
"Penyebab serangan, Artileri berjenis roket yang ditembakkan dari wilayah sekitar Donestk"
Naruto memperhatikan lembaran dokumen dengan seksama, dokumen itu berisi kronologi lengkap tentang insiden itu, jumlah korban, tanggapan pihak PBB, dan tanggapan Angkatan Bersenjata Republik Korea Selatan termasuk foto foto tragedi itu.
"Parah sekali" gumam Naruto pelan ketika melihat salah satu foto yang menampilkan seorang Tentara Korea Selatan yang kehilangan setengah anggota badannya. tak hanya itu, wajahnya pun sudah tak dapat dikenali karena hancur terkena ledakan.
Secangkir kopi yang terletak disamping meja perlahan dia angkat dan hisap sedikit demi sedikit isinya. tangannya kembali bergerak untuk membuka dokumen selanjutnya. kali ini dokumen itu berisi sebuah penyergapan terhadap unit PBB asal Pakistan.
"Penyergapan di jalan raya M9 Spartak, korban ; 1 Tank Patton terbakar, 4 orang kru tewas, 5 pasukan darat Terluka"
Naruto kemudian menutup dokumen itu dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi yang ia duduki. membaca dokumen dokumen tadi membuat ia kepikiran. seluruh unit yang diserang merupakan unit sekelas Kompi hingga Battalyon Kavaleri dengan kelengkapan peralatan yang sangat bagus mulai dari Panser hingga Tank tempur utama, tapi sebagian besar tetap diserang oleh para Milisi pro Kemerdekaan, seolah mereka tak punya takut pada Pasukan Perdamaian yang berasal dari negara negara besar dan kuat.
"Tapi kenapa mereka masih berani untuk menyerang? apakah itu juga berarti situasi disini tidak seaman yang dikatakan Panglima Operasi Komando Tempur PBB sewaktu menyambut mereka pertama kali disini?"
'CTING' Saat sedang sibuk memikirkan hal itu, bunyi Notifikasi aplikasi Chat Smartphone yang ia taruh di meja mengalihkan perhatiannya
"Pesan baru?"
Ia membuka Aplikasi Chat itu dan menemukan 5 kontak yang mengiriminya pesan baru. 4 diantaranya sudah ia kenal sedangkan 1 merupakan kontak baru yang tak tertera nama. hanya nomor.
Ia mulai membuka pesan paling baru yang berasal dari sang Ibu, rupanya sang Ibu yang barusan mengiriminya pesan.
"SUDAH LUPA SAMA IBU DAN AYAH RUPANYA!" merupakan isi balon text pada pesan yang sang Ibu kirimkan padanya.
Naruto terkekeh, ia membalas pesan itu.
"Naruto tidak lupa, tapi Naruto masih sibuk, mungkin besok atau lusa saja ya Naruto telepon" balasnya, tak lupa ia menambahkan emotikon love sebagai pencair suasana
Send
Ia membuka pesan selanjutnya, dari Sakura rupanya. mantan pacarnya itu hanya mengirim foto disertai sebuah caption pendek lebih dari 2 jam yang lalu. foto yang ia kirim adalah foto selfie dirinya di sebuah ruangan seperti kantor dengan memakai seragam kerja yang tampak tak asing baginya.
"Bukannya ini seragam kerja yayasan yang dikelola ibu?" Naruto lalu melihat caption yang ada di bawah foto.
"First day at work! how do i look?"
Naruto kembali fokus pada foto yang Sakura kirim, gadis itu berselfie dengan gaya menopang dagu, rambut soft pink sebahunya ia pasang sebuah bando. kulit putih dengan makeup sederhana dan iris Emerald yang meneduhkan. Cantik, kalimat itulah yang hanya bisa Ia katakan pada Sakura di foto itu.
"Dia bekerja di yayasan milik ibu rupanya"
Naruto mengetik sesuatu di layar Smartphonenya
"Gorgeous" balasnya pendek pada Sakura
Send
Pesan selanjutnya berasal dari Kiba. Kiba? untuk apa ia mengirim pesan padanya, dan pesan itu baru ia kirim sejam yang lalu. dengan rasa penasaran ia membuka pesan yang ternyata merupakan video pendek.
Video itu berputar, menampilkan animasi 2 ekor monyet yang berada di pantai dan tengah bermain pasir.
"Kartun? Kiba masih suka nonton kartun rupanya"
Scene berlanjut, salah seekor monyet yang sedang bermain pasir itu rupanya membangun manusia pasir berbentuk monyet juga, namun dengan... dada yang besar...
"Wih, gede juga tu!" entah setan mana yang merasuki alam barzah pikiran Naruto sehingga ia bisa berkomentar seperti itu.
Video berlanjut, salah seorang, seekor monyet berwarna hitam mendorong monyet berwarna coklat yang membangun monyet pasir tadi. monyet berwarna hitam lalu memposisikan dirinya di belakang monyet pasir yang dibangun monyet coklat itu.
"Wih, mau diapain tuh monyet pasir!?"
Dengan santainya si monyet berwarna hitam menyodok nyodokkan selangkangannya ke bokong monyet pasir sambil mendesah. monyet pasir yang ia sodok pun lama lama hancur, namun setiap monyet pasir nya hancur, monyet itu menatanya ulang dan menyodok nyodokan selangkangannya lagi. sedang monyet coklat hanya speechless melihat kelakuan temannya itu.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"
Naruto tertawa terpingkal pingkal sembari jari jarinya mengetik sebuah balasan untuk sang pengirim video tersebut.
"Goblok"
Send
Pesan selanjutnya adalah pesan SPAM dari Aplikasi chat yang ia pasang, jadi tidak penting.
Pesan yang tersisa kini tinggal satu. namun pesan itu berasal dari nomor tak dikenal. Naruto membuka pesannya mungkin saja itu kolega atau teman yang baru menambahkan nomornya atau pesan spam seperti tadi. yang penting ia sudah mengecek semua pesan yang masuk ke Smartphone miliknya itu.
Hanya ada 2 balon percakapan yang dikirim kontak tersebut
"Naruto, ini aku Hinata"
"Save kontakku ya" balon percakapan yang terakhir disertai emot wajah tersenyum merona.
Hinata rupanya, ia baru ingat tadi siang memberikan secarik kertas berisi nomor kontaknya ke gadis itu. tapi pesan dari Hinata sudah terlewat 4 jam yang lalu. mungkin saat ia masih mengikuti Briefing bersama Kiba dan para Perwira lain. namun ia tetap akan membalas pesan itu, toh Hinata bisa melihat balasan pesan darinya di pagi hari
"Sudah nona manis" balasnya
Send
Naruto meletakkan Smartphonenya di meja dan melanjutkan acara ngopinya yang tertunda.
'CTING'
Sebuah pesan baru masuk
"Jam segini belum tidur?"
Hinata membalas pesannya, di jam 11 malam. ia pikir gadis itu sudah tertidur lelap dan baru membalas atau membaca pesannya di pagi hari
Naruto mengetikkan pesan balasan untuk Hinata dan mengirimnya.
"Belum, masih kerja nih"
Naruto menyeruput kembali kopinya sebelum sebuah pesan baru masuk.
"Oh, kupikir kau sedang Insomnia" balas Hinata melalui pesan
Insomnia? Naruto sudah lama tidak mengalami Insomnia. terakhir dia Insomnia adalah waktu masih SMU dulu, efek keseringan main game dan nongkrong tak kenal waktu.
"Kau sendiri sedang apa?" balas Naruto
Send
"Sedang membereskan ruangan bermain anak anak"
"..."
"Malam malam begini?"
"..."
"Yah, setelah makan malam, anak anak diperbolehkan bermain sebentar sebelum tidur. namanya anak anak suka sekali bermain. jadilah mereka mengacak acak ruang bermain sampai jadi kapal pecah"
Anak anak? kapal pecah? berantakan? sudah jadi rahasia umum seorang pengasuh atau orang tua yang memiliki anak.
"Kau sendirian membereskannya? dimana suster Anna?"
"..."
Sudah 5 menit berlalu, belum ada balasan pesan dari sang gadis bersurai Indigo itu. Naruto mendesah pelan. mungkin gadis itu kelelahan dan sudah tidur.
'CTING'
Pesan baru muncul. buru buru ia membuka layar kunci Smartphone miliknya dan membaca pesannya.
"Sibuk? kau sendiri malam malam masih Online, kau pikir ibu tidak tahu waktu disana? kau berniat membodohi ibumu ini hah?"
Dari sang ibu rupanya, belum sempat Naruto membalas pesan sang ibu Smartphone miliknya berdering. sebuah panggilan Video dari sang ibu terpampang di layar depan. mau tak mau Naruto harus mengangkatnya. ia tak mau pulang ke Seattle dalam kondisi tak lagi memiliki marga keluarga dan juga tempat tinggal karena menentang sang ibu tercinta.
Ikon telepon berwarna hijau ia angkat keatas untuk menerima panggilan Video dari Kushina.
"Halo ibu, selamat pagi!" sapa Naruto ramah sebagai pembuka pembicaraan yang baik.
Di seberang sana Kushina hanya menampilkan ekspresi cemberut. ia nampak sibuk memasak di dapur. di belakangnya terdapat Minato yang sedang membaca koran sambil merokok. rutinitas pagi khas keluarganya sehari hari.
"Masih memanggilku ibu? kupikir kau sudah bertemu dengan ibu baru yang lebih menyayangimu disana Naruto!" balas Kushina ketus
"W-well, aku sedang sibuk akhir akhir ini bu" balas Naruto gugup. "Maafkan aku"
"Kushina... tidak baik berbicara seperti itu pada putramu" suara Minato yang kalem memotong pembicaraan Kushina dengan Naruto. Panggilan Video yang di Loud Speaker ditambah suara Kushina yang cukup besar membuat Minato dapat mendengar pembicaraan mereka walau duduk agak jauh dari counter tempat Kushina memasak.
"Ah, kau ini ikut campur saja. kau mana paham rasanya menjadi seorang ibu yang tiap malam memikirkan dan mendoakan anaknya yang bertaruh nyawa di seberang benua sana, sedang yang kudoakan malah hilang tanpa kabar berminggu minggu, kirim pesan saja tidak!"
Naruto menggaruk tengkuknya, ibu nya sedang marah. tak ada cara lain selain hanya diam dan mengalah. membiarkan sang ibu melampiaskan kekesalan pada dirinya.
"Kushina... bukankah dia sudah bilang kalau dia sedang sibuk bekerja? kudengar Kakashi memberikannya misi ke luar kota. seharusnya kau bangga putra mu berhasil menuntaskan misinya dengan baik dan tanpa kesala-"
"BERISIK! SIAPA YANG MENGAJAKMU BICARA!? bentak Kushina sambil menggebrak counter dengan keras. "DIAM KAU KEPALA DUREN!" sambung ibunya lagi sambil mengacungkan spatulanya pada Minato.
Minato terdiam, ia hanya melongok sebentar sebelum kembali membaca koran. Naruto sempat melihat sang ayah diam-diam menampilkan ekspresi muka mengejek dengan menyipitkan mata sambil menjulurkan lidah pada sang ibu dari ia tertawa geli.
"Kenapa kau tertawa!? kau pikir aku badut?"
Naruto tersentak. "Tidak, lucu saja melihat ibu memarahi ayah pagi pagi begini" balasnya
Kushina mendengus. ia fokus mengaduk sup yang sedang ia masak. sedang Minato di belakang memberi signal pada Naruto yang bisa ia tangkap jelas dari sang ayah. "Ibumu sedang badmood, jangan melawan, jangan membantah kalau masih mau pulang kesini!"yang dibalas Naruto dengan signal "Baik, jaga diri ayah juga!" walaupun ia tahu sang ayah mungkin tak akan mengetahui signal yang ia balas karena posisi mereka terlalu jauh.
Pengalaman hidup bersama sang ibu lebih dari 24 tahun membuat ia menguasai beberapa kemampuan unik bersama sang ayah, seperti Telepati dan Kode Morse darurat improvisasi yang biasa dipakai disaat saat genting seperti saat ini
"Bagaimana kabarmu? baik baik saja kan?"
Kushina sudah mulai tenang. intonasinya suaranya mulai berubah lembut khas seorang ibu pada anaknya.
"Puji Tuhan baik bu"
"..."
"Ibu khawatir sekali"
Naruto melihat raut muka sedih, bingung dan khawatir bercampur menjadi satu di wajah cantik sang ibu. wajah perempuan berdarah asia yang senantiasa tersenyumhangat sejakmengandungnya itu kini hanya bisa menatap Naruto dengan sendu.
"Ibu tidak perlu khawatir. aku baik baik saja disini, heheheheh" Naruto menampakkan senyum lima jari andalannya untuk menenangkan sang ibu.
Ah senyum itu... senyum yang sama seperti yang selalu Minato tunjukkan pada Kushina selama ia bertugas di Panama hingga Irak. senyum yang Kushina suka sekaligus benci. senyum bahagia yang menyembunyikan kebenaran yang pahit.
"Kau sudah tahu kabar Gilbert Naruto?"
Gilbert?
"Gilbert... Gilbert Akumoto? apa dia sudah pulang?"
Kushina mengangguk.
Gilbert Akumoto, atau Naruto sering memanggil dia Gill, adalah teman masa kecil, tetangga sekaligus partner dekat Naruto di Akademi Militer West Point. mereka menjadi teman kecil karena rasa senasib sesama anak blasteran Asia-Amerika. ayah mereka sama sama berdinas di AD, ibu mereka sama sama asli keturunan Jepang, selain itu mereka juga punya kesamaan dalam hal cita cita menjadi Militer untuk menunjukkan bahwa mereka itu sama dengan anak anak kulit putih lain yang sering membully mereka waktu SD.
"Aku sudah lama tidak bertemu anak itu" balas Naruto. "Kata Neji, 4 bulan yang lalu ia naik pangkat menjadi Kapten dan memimpin sebuah Kompi. mungkin tahun depan ia sudah jadi Mayor. ahahahahaha"
"Dia sudah tidak ada"
Kushina menatap Naruto dengan mata berkaca kaca.
"Dia terbunuh di Afghanistan"
"..."
Hening
"Begitu ya..."
Kushina mengusap matanya cepat, tak ingin menampilkan kesedihan di depan anak semata wayangnya itu.
"Kapan dia datang?" tanya Naruto datar
"Minggu kemarin" balas Kushina "Mangkanya ibu panik dan meneleponmu setiap hari. namun nomormu selalu tidak aktif... ibu khawatir kau kenapa kenapa"
Liquid yang membasahi mata Kushina perlahan jatuh. secepat apapun dia mengusap atau menahannya semakin banyak air mata yang keluar. perasaan emosional kehilangan seorang anak yang menjadi sahabat seperjuangan putranya dan sudah ia anggap seorang anak sendiri membuatnya menangis.
"Jaga dirimu disana ya nak..."
"Jangan berbuat macam macam, dan ingat selalu perkataan ibu"
Kushina menampilkan senyum hangat padanya, walaupun dengan mata sembab sehabis meangis.
Naruto mengangguk mantap, iya membalas senyum Kushina dengan senyum andalannya juga. namun sesaat kemudian Minato tiba tiba ikut bergabung dan memeluk Kushina dari belakang.
"Hei lihat siapa yang menangis disini uhuhuhuh" goda Minato. tangannya memeluk Kushina erat sedang kepalanya ia sandarkan di lehernya.
"Berisik"
"Hei Naruto... ibumu ini kesepian tanpamu tahu?" ucap Minato
Naruto tertawa. "Ibu selalu menganggapku seperti anak kecil"
"Nah karena itu, ayah akan menciptakan Naruto baru agar ibumu yang galak ini tidak kesepian lagi"
Kushina yang kesal dengan omongan Minato hendak mencubit perutnya, namun tangan Minato yang lebih kekar dan terampil langsung menguncinya di tempat.
"Apaan sih, lepas ah... tidak malu apa dilihat anak kita!?" hardik Kushina
Minato tampak tidak peduli.
"Naruto, kau ingin adik laki laki atau perempuan?"
Naruto menepuk jidatnya.
"Kembar saja, biar ada perempuan dan laki lakinya" balas Naruto singkat.
"Tuh kan, Naruto saja setuju kalau kita bikin anak kembar"
"SEMBARANGAN SAJA KALAU BICARA, LEPAS! AKU INGIN BICARA DENGAN PUTRAKU!" Kushina berusaha melepaskan diri dari Minato. namun kuncian Minato begitu kuat. Minato bahkan sudah mengambil Smartphone milik Kushina dengan satu tangannya.
"Sudah ya Naruto, ayah dan ibu akan ada keperluan. Telepon saja kembali minggu depan. mumpung ayah sedang ambil cuti"
"Baik yah, semangat ya!" ledek Naruto
"HEI JANGAN DITUTUP, AKU MASIH MAU BICARA DENGAN PUTRAKU, APA APAAN SIH KAU ITU, BERIKAN HAND-"
Panggilan Video terputus dari Handphone Kushina. kemungkinan Minato yang mematikannya.
"Gilbert ya?"
Smarphone ia letakkan di atas meja. tak lupa ia men charge nya. Naruto kemudian berjalan menuju pintu. sebuah Hoodie berwarna hitam ia sambar dari gatungan baju dan ia kenakan. tak lupa dokumen dokumen yang dipinjam dari Mayor Kakashi ia susun kembali dan letakkan di rak.
Naruto keluar dari ruangan kantor sekaligus tempat tinggalnya itu. berjalan tak tentu arah. angin malam Eropa yang dingin menerpa wajah tan warisan ayahnya. sesekali ia menyapa beberapa perwira yang ia kenal dan membalas salam beberapa prajurit yang lewat di depannya. tujuan ia jalan jalan mengelilingi Kamp setiap malam adalah agar ia bisa menenangkan pikiran dan menghirup udara segar untuk selanjutnya bisa ia jadikan modal untuk tidur yang lelap.
Di tengah jalan ia melihat seorang pria tengah duduk di atas kap sebuah truk Marinir. pria itu duduk dengan santainya sambil menghisap rokok yang ia jepit menggunakan jari telunjuk. pandangannya mengarah ke langit tanpa mempedulikan keadaan sekitar termasuk keberadaan Naruto yang hanya berjarak 10 meter dari tempat ia duduk.
"Hei Shika!"
Pria yang dipanggil Shika itu menoleh. rokok yang tadi ia hisap mulai mengeluarkan asap dari mulutnya.
"Oh, kau Naruto"
Naruto menghampirinya dan duduk di samping Shikamaru. sedang yang dimaksut masih sibuk menghisap rokoknya dan memandangi langit malam yang cerah.
"Sedang apa kau disini?"
"Mengamati bintang" balas Shikamaru pendek.
Asap mengebul kembali dari mulutnya.
Naruto melihat ke arah langit dan bintang yang Shikamaru maksut. memang langit dalam kondisi cerah sehingga Bintang, Bulan dan mungkin meteor bisa terlihat jelas. namun ia sendiri tidak menemukan sesuatu yang menarik mengenai rasi bintang.
"Sudah berapa lama kau disini?"
"Ada mungkin 3 jam"
Benar benar hebat.
"Kalau kau tanya kenapa aku duduk disini selama 3 jam mengamati bintang bintang, itu karena aku ingin menikmati sesuatu yang tidak bisa kurasakan di Seattle atau Winconsin pada malam hari"
Naruto hanya ber "oh" ria. ia meraih sebuah botol besi kecil berisi Vodka pemberian Kiba yang ia bawa dari mess tempat ia tinggal dan meminumnya sedikit untuk menghangatkan badan.
"Kau mau?" tawar Naruto yang dibalas gelengan S hikamaru.
"..."
"..."
"Gilbert sudah mati"
Shikamaru menoleh pada Naruto. ekspresi wajahnya sedikit terkejut.
"Dimana?"
"Afghanistan"
Naruto meminum kembali vodka di botol besi kecil miliknya dan memasukkannya kembali ke dalam kantung Hoodie.
"Taliban brengsek!" sambung Naruto lagi.
Ia merebahkan diri di kap truk yang mereka berdua duduki.
"Biar kutebak, hal itu menganggu pikiranmu?"
Shikamaru mematikan rokok yang sudah tinggal puntung nya itu dan membuangnya. ia merogoh satu pak rokok dari sakunya, megambil sebatang dan menyalakannya dengan korek gas. ia tidak menawari Naruto karena ia tahu Naruto bukan seorang perokok.
"Lumayan"
Asap rokok Shkamaru membumbung tinggi sebelum menghilang di terpa angin malam yang dingin.
"Aku merasa takut, bukan takut pada musuh. tapi takut tidak bisa membawa anak buahku kembali hidup hidup"
"Aku yakin kau bisa melakukannya Naruto"
"..."
"Semua orang juga mengatakan hal seperti itu" balasnya
"Tapi rasanya tidak benar, mereka bilang begitu karena untuk menghibur diriku saja"
Suasana kembali hening. sebuah Panser milik Unit Pakistan memecah keheningan sesaat dengan melintas tepat di depan mereka. mereka memberi hormat pada komandan Panser itu, begitupun sebaliknya.
"Object of war is not to die for your country but to make the other bastard die for his" Ucap Shikamaru.
"Quote George Patton ketika dia mendarat di Front Italia" balas Naruto
Quote yang sangat populer di Irak dan Afghanistan. teman temannya yang ditempatkan disana selalu pulang membawa helm yang ditulisi kalimat itu. bagi mereka, Irak dan Afghanistan tak lebih dari lapangan tembak Militer dengan sasaran para Mujahidin dan Kelompok ekstrimis seprti Al-Qaeda, Al-Nusra, atau Taliban.
"Kematian itu wajar dalam perang" Shikamaru menyesap rokoknya dalam dalam. "Yang terpenting adalah bagaimana kau bisa membunuh sebanyak mungkin musuhmu sebelum kau dibunuh oleh mereka"
"Pulang dalam keadaan hidup adalah bonus"
Naruto tertawa,diikuti oleh Shikamaru. Naruto dan Shikamaru sadar bahwa mereka adalah pemimpin yang membawa beban nyawa puluhan orang. dan 1 nyawa yang mereka pikul itu setara dengan dengan beban 4 nyawa di rumah. jadilah mereka membawa beban dan bertanggung jawab atas hidup tidak hanya anak buah mereka, tapi juga keluarga menjaga 1 nyawa pasukan tetap hidup selama perang, sama sulitnya dengan menjaga seorang domba di tengah tengah sekumpulan singa.
Pembicaraan itu berlanjut hingga subuh ditemani oleh gelak tawa mereka berdua. mereka bersiap menyongsong misi baru di hari esok.
.
.
.
.
*Operation Returning Diamond
Friday, 20.00 hours
Delta Company
Capt. Uzumaki Michael Naruto
United Nations Forward Operation Base, Donestk Sergey Prokofiev Airport
"Okay Listen up!"
Naruto berdiri tegap di hadapan sekitar 60 anak buahnya. dengan memakai seragam tempur lengkap dan senapan di tangan kanan ia hendak memberikan Briefing pada anak buahnya. disampingnya terdapat Kiba, Chouji, Heffron dan Harm sebagai komandan dan wakil komandan peleton 1 dan 2.
"Kalian sudah mengetahui akan diterjunkan ke garis depan!?"
"SIAP SUDAH PAK" balas anak buahnya lantang
Naruto menyeringai. moral anak buahnya sedang bagus. setelah seminggu menganggur di kamp akhirnya sebuah misi tempur diberikan kepada mereka.
"Hari ini adalah hari penting prajurit!"
Naruto memperhatikan seluruh prajuritnya dengan seksama.
"Hari ini adalah hari misi tempur sesungguhnya kita dimulai!"
"Tugas kita adalah untuk menjemput warga asing asal Inggris dan Skotlandia yang terjebak di wilayah Makiivka. 45 kilometer dari sini!"
Para anak buahnya mendengarkan dengan serius penjelasan Naruto.
"Kita diterjunkan kesana menggunakan Helikopter berat CH 47 yang mendarat di batas luar kota Makiivka" jelas Naruto
"Setelah didaratkan disana, Kompi akan kupecah menjadi 3 kelompok, Peleton 1, kupimpin sendiri, Peleton 2 dipimpin Letnan Kiba dan Chouji. sedangkan Letnan Heffron akan tetap berada di Landing Zone bersama 12 prajurit, membentuk perimeter dan mengamankan Landing Zone agar Helikopter bisa menjemput kita dengan aman"
Naruto mengarahkan jarinya ke salah satu bagian peta yang merupakan market dari daerah Operasi yang mereka akan tuju.
"Target kita sebuah bangunan Hotel berlantai 4 berwarna merah tua dengan kubah diatasnya yang berada di tengah kota Makiivka" jarinya menunjuk sebuah wilayah yang merupakan Hotel tempat para warga asing berlindung. "Menurut sumber inteligen, para warga asing bersembunyi di kamar no 206 yang terdapat di lorong sebelah kiri hotel. jumlah mereka sekitar 14 orang, 4 diantaranya anak anak dan 2 diantaranya adalah lansia"
Kiba, Chouji, Heffron sebagai komandan regu dan peleton mencatat instruksi Naruto.
"INGAT, para warga asing itu adalah prioritas kita, begitu kita mendapatkan mereka maka para warga asing harus segera dibawa ke Landing Zone, Peleton 1 akan melindungi pergerakan warga asing yang dikawal Peleton 2 . Peleton 1 akan tetap berada di gedung Hotel sampai seluruh warga asing berada di luar zona tempur " jelasnya
"Peraturan menembak, jangan menembak sebelum kalian diserang. Makiivkan adalah daerah merah. apapun bisa terjadi disana jadi tetap fokus, perhatikan instruksi komandan regu dan jangan bertindak sok aksi dan gegabah. kita datang hidup hidup, maka pulang juga harus hidup hidup. paham instruksi saya!?"
"PAHAM!"
"Bagus, apa ada pertanyaan?"
"..."
Naruto mengecek arlojinya. sudah jam 8 malam. saatnya berangkat.
Ia menatap Kiba yang juga sedang memeriksa Arloji miliknya. ia mengangguk pada Naruto.
"Semoga Tuhan memberkati kita dalam misi ini, HOORAHHH!"
"HOORAAHHH!" para prajurit Kompi Delta bangkit dari duduk mereka dan segera keluar dari barak tempat mereka di briefing menuju lapangan udara. deru Helikopter yang siap lepas landas sudah mulai terdengar saat mereka mulai mendekati lapangan terbang.
'SYUUUUSSSHHHHHHHH' Pesawat tempur F 4E milik unit Udara Korea Selatan yang bertugas mengawal Helikopter angkut dalam misi lewat tepat diatas mereka. menimbulkan angin debu tebal yang mengenai wajah mereka.
Naruto memakai helm tempurnya. di sampingnya terdapat Heffron yang menjadi wakil peleton 1. dibelakang Naruto puluhan Ranger berjalan dengan gagah bersama perlengkapan dan senapan mereka. dihadapan mereka kini terparkir 2 buah Helikopter angkut personel berukuran besar berjenis CH 47 Chinook yang akan membawa mereka. kedua heli itu sudah memanaskan mesin dan menyalakan rotor baling baling mereka.
Naruto berbalik menghadap anak buahnya. dilihatnya satu persatu wajah mereka. ada yang tersenyum, ada yang gugup ada juga yang datar. di tengah tengah mereka ada Kiba, Chouji, Heffron dan Harm juga berekspresi sama. Naruto harus menenangkan.
"Disini ada yang menyukai Mia Khalifa?" tanya Naruto tiba tiba pada mereka
Sebagian besar dari mereka menunjuk tangan. sambil tertawa tentunya.
"Bila kita berhasil menuntaskan misi ini dengan baik" jelas Naruto "Kita akan undang dia untuk menghibur kita di barak"
Gelak tawa menyelimuti anggota kompi Delta. mereka tau mengundang Mia Khalifa itu hanyalah guyonan. namun guyonan itu setidaknya membuat mereka rileks sebelum memulai misi.
"Baik, SEMUANYA MASUK ke Helikopter masing masing, lets go, lets go!"
Pasukan Peleton 1 memasuki Helikopter dengan tail number 56 termasuk Naruto. sedangkan Pasukan Peleton 2 memasuki Helikopter dengan tail number 78 yang berada di samping kiri Helikopter Naruto. pasukan masuk secara teratur tanpa mendorong atau berdesak desakan. setiap prajurit duduk di seat masing masing. Naruto duduk di seat paling pojok dekat dengan Ramp Door. disampingnya ada seorang Gunner senapan mesin M2HB yang memeriksa senapannya.
"Eco Zulu, Papa Foxtrot 6 tail number 56 ready for take off, request permission to take off, Over"
"Papa Foxtrot 6, you have permission to take off. good luck, god bless you!"
"Eco Zulu, permission accepted. take off in 1 minute over"
Helikopter angkut berbobot 10 ton itu mulai melakukan take off. ia terbang mengapung secara perlahan sebelum akhirnya semakin naik keatas. Helikopter buatan Amerika Serikat itu terbang beriringan dengan Chinook lain yang mengangkut pasukan Peleton 2 dan sebuah Helikopter serang AH 64 Apache.
"Baby Eagle on your side Papa Foxtrot 6. pull it down gently"
Heli tersebut kini sudah sepenuhnya terbang di ketinggian 1000 kaki. mereka terbang dalam formasi anak panah. dimana posisi paling depan merupakan Helikopter serang Apache yang bertindak sebagai pembuka jalan. sedang disamping kiri dan kanan diapit oleh Chinook sebagai elemen pengangkut. ketiga Helikopter itu terbang solid walau angin dan kegelapan di luar menganggu visibiltas mereka
Naruto memperhatikan keadaan dibawah melalui jendela di belakangnya. terlihat pemandangan perbukitan dan hutan di sekitar markas mereka. angin malam mulai menembus melalui Ramp Door Helikopter yang semi terbuka. namun tak ada sedikitpun rasa kedinginan yang para Ranger itu rasakan pada kulit mereka yang tertutup PDL dan Rompi anti peluru
"Hei!" panggil Naruto pada seorang Gunner Helikopter yang duduk di sampingnya.
"Ya pak?"
"Bagaimana biasanya situasi penerbangan ke wilayah merah?" tanya Naruto pada Gunner Helikopter itu
"Kami terkadang ditembaki dari bawah pak! tembakan biasanya berasal dari senapan serbu atau senapan mesin kaliber 7,62mm, minggu kemarin seorang Gunner bagian depan tewas terkena peluru nyasar yang menembus kompartemen Heli"
Naruto menghembuskan nafas perlahan. ia menepuk punggung Gunner itu simpatik sebelum kembali duduk.
Ia kemudian mengeluarkan salib rosario yang selalui ia bawa di kantung celananya. di usapnya kalung itu perlahan kemudian ia masukkan lagi, sekedar penenang baginya.
Pandangan kemudian ia alihkan pada Para prajuritnya. beberapa masih terjaga dan mengecek senapannya, beberapa ada yang tidur. Naruto ikut memejamkan mata. ia mencoba ntuk tidursejenak demi menghemat energi ketika mereka sudah sampai.
'DUKDUKDUKDUKDUKDUKDUKDUKDUKDUKDUKDUK' Deru rotor dan baling baling yang beradu dengan angin kencang menimbulkan suara yang berisik hingga terdengar dari dalam kabin Helikopter. mustahil untuk orang normal bisa tidur ditemani suara seperti itu.
Namun Naruto tak bisa menahan kantuknya. kelopak mata pemuda itu terasa berat setiap ia berusaha terjaga. beberapa kali kelopak mata itu sempat tertutup namun kemudian terbuka lagi karena suara berisik dari luar yang menganggu telinganya.
Namun pada akhirnya kelopak itu tak mampu lagi untuk terjaga. Pemuda itu sedikit menyerongkan lehernya ke kanan yang masih lowong sebelum akhirnya benar benar tertidur lelap. tak lagi peduli dengan suara rotor atau kesibukan di dalam kabin yang masuk ke telinganya. hingga akhirnya ia akan bangun dan memimpin anak buahnya dalam suatu operasi Militer pertama dalam sejarah hidupnya.
.
.
.
.
TBC
