Biar saja semalam itu Osamu gagal menembak Kaji, yang penting Miya Bungsu berhasil menyaksikan sisi lain gadis itu yang tidak bakal pernah diperlihatkan di sekolah. Setelah ditinggal Kakak Kaji, hati Osamu berbunga-bunga, padahal hanya melihat tampang managernya yang malu-malu. Jika pesan dari 'Rahasia' sendiri itu jujur, berarti memang Kaji bukannya menyukai dia sebagaimana Osamu menyukai gadis itu, kan? Melihat reaksi si gadis seperti itu … apa jangan-jangan dia hanya malu?

Tidak ingin menyiksa Kaji yang wajahnya terus merona, setelah sekitar tiga menit dalam keheningan, semalam Osamu memutuskan untuk segera pamit. Toh, esok hari dan seterusnya, ia masih punya banyak waktu di dunia ini untuk bisa dihabiskan dengan gebetannya.

.


.

Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: Osamu x OC, berpotensi spoiler manga.

.

.

not another story about love
Keempatbelas: Janji

by Fei Mei

.


.

Kaji tak pernah lagi mengatakan bahwa hadiah di tangannya merupakan titipan. Kertas memo kecil yang menuliskan kata semangat pada bingkisannya pun masih sesekali terselip seperti biasa. Jika ada bingkisan biru muda di kotak loker Osamu, walau disana juga bakal ada hadiah dari orang lain yang mana tampaknya penggemar Atsumu sekarang jadi kebiasaan untuk meninggalkan hadiah di tempat Osamu juga, Osamu masih bisa tahu mana yang dari Kaji. Tidak ada yang tahu—oke, mungkin mereka tahu, tapi tidak ada yang bilang, tentang bahwa Kaji memberi bekal dan hadiah pada Osamu bukan sebagai titipan lagi sekarang. Kaji tidak pernah bilang itu darinya, dan Osamu tidak pernah menggodanya.

Sudah hampir seminggu sejak Atsumu kembali dari training camp, dan ia tampak ingin menggoda adiknya. Tetapi melihat Kaji yang sepertinya memang tidak membalas cinta Miya Bungsu, Atsumu mengurungkan niatnya. Sebenarnya Atsumu agak sebal sendiri karena Kaji tampak seperti memberi harapan palsu. Habisnya, Osamu dan Kaji sampai acara janjian segala untuk ke kuil di tahun baru, sudah seperti hubungan tanpa status.

Tetapi Atsumu tersenyum lebar saat suatu hari Osamu menyuruh kakaknya balik ke rumah duluan setelah mereka turun dari bus. Osamu bilang, ia ingin mengantar Kaji pulang sampai rumahnya.

.

.

"Osamu-san, terimakasih sudah mengantar sampai depan rumah," ujar Kaji sambil tersenyum. "Lain kali tidak usah, tidak apa-apa, kok. Kasihan Osamu-san kalau habis dari sini lalu baru jalan balik ke rumah sendiri."

Osamu menggaruk tengkuk lehernya. "Kaji … lusa kita sudah turnamen nasional …"

Kaji mengangguk semangat. "Ah, oh iya! Orangtuaku sudah semangat banget, padahal mereka gak bakal ikut pergi ke Tokyo…"

Mendengar itu, Osamu bahkan bisa membayangkan kedua orangtua Kaji dan bahkan Kakak Kaji. Lalu ia berdeham. "Anu, Kaji. Erm, kalau nanti kita menang, katakanlah berhasil sampai final. Mmm… kamu jadi pacarku, ya?"

Sontak Kaji mengerjap padanya. Itu reaksi yang wajar dan Osamu sudah bisa menebaknya. Reaksi yang sesuai dengan tebakan Osamu selanjutnya pun ada juga, yakni meronanya wajah Kaji dan gadis itu membuang muka.

Tangan Osamu menyelinap di tangan gadis itu untuk menggenggam erat. "Aku suka kamu, Kaji. Dan aku paham kalau kamu hanya menganggapku istimewa dan memberi respek lebih. Tapi aku sangat menyukaimu. Kumohon pertimbangkan diriku, ya?"

Perlahan Osamu bisa merasakannya: Kaji membalas genggaman tangannya.

Gadis itu tersenyum lembut dengan pipi merah. "Jika kita berhasil mencapai final, kita pacaran."

Tidak bohong, Osamu sangat ingin mencium Kaji sekarang.

.

.


.

.

Sayangnya, sampai kami lulus, tim kami tidak pernah mencapai final. Pencapaian tertinggi kami hanyalah di perempatan final. Si Kembar sudah kegirangan ketika mereka berhasil 'membalas dendam' pada SMA Karasuno di tahun turnamen terakhir mereka, tetapi setelahnya Osamu murung karena hanya berhasil menyabet peringkat tiga.

Dengan kata lain, perjanjian tentang kami akan berpacaran jika Inarizaki mencapai final, hangus sudah.

Aku menyukai Osamu. Aku tidak yakin sebenarnya sejak kapan. Mungkin sejak dulu ia menolongku, mungkin sebenarnya dia langsung menjadi cinta pertamaku atau apalah saat itu, aku tidak tahu. Mungkin aku hanya tidak sadar saja selama ini. Tetapi di hari kelulusan kami, walau aku tidak pernah menyatakannya, Osamu membuatku yakin bahwa sebenarnya aku sedang merasa suka padanya.

"Kaji, kalau aku berhasil membuka tempat makan sendiri, menikahlah denganku."

Iya, karena kami tidak berhasil punya status sebagai pacar, Osamu malah nekad melamarku dengan cara seperti itu. Aku terkekeh geli mendengarnya. Tetapi di saat yang sama, hatiku luluh melihat kemantapan pada tatapan matanya. Ia sedang tidak bercanda. Ketika di tahun sebelumnya ia mengirim pesan pada Gadis Rahasia-nya mengenai hal ia akan berhenti main voli selepas sekolah untuk membuat nasi kepal, ternyata dia memang sudah merencanakannya sekalipun di awal perencanaannya tidak ada aku disana.

"Aku serius, Kaji," ucapnya lagi. "Tanpa status pacaran pun, kita memang sudah bahagia, kan? Karena itu, jika aku sudah berhasil membuka tempat makan, menikahlah denganku, ya?"

Aku mengangguk.

.

.

Ini hanya bangunan satu lantai yang sederhana. Masih baru, makanya semua perabot masih mengkilap. Sesekali Osamu membawaku ke tempat ini sebelum atau sesudah dari tempat kencan, untuk memamerkan sudah sejauh mana proses pembangunannya. Tetapi kali ini, aku tidak datang karena dia membawaku, melainkan karena dia mengundangku sebagai tamu istimewa.

Di hadapan tamu-tamu undangan yang lain, yang mana rerata adalah teman-temannya semasa SMA, ia berlutut satu kaki di depanku.

"Selamat datang di pembukaan toko Onigiri Miya," ujarnya sambil menyengir. "Aku mencintaimu, Yukime, aku ingin kita membentuk dan makan nasi kepal sama-sama tiap hari."

Aku terkekeh. "Entar kita gendut, lho."

Kekehanku menular padanya yang kini menggenggam satu tanganku, sedang satu tangannya memamerkan kotak kecil yang terbuka dan memperlihatkan cincin disana. "Mari kita gendut bersama, kalau begitu. Kaji Yukime, menikahlah denganku."

Dalam hati aku masih ingin terkikik, tapi suara yang keluar dari mulutku sudah bukan lagi tawa kecil, melainkan isak haru bahagia. Aku berusaha mengucapakan kata 'ya' dengan benar, tapi kurasa itu terdengar samar karena isakanku menjadi. Jadi berusaha mengucapkannya berkali-kali sambil mengangguk.

Tetapi tampaknya Osamu paham. Ia tersenyum lembut padaku sambil menyelipkan cincin di jari manisku. Suara riuh tepuk tangan dan siulan di sekitar kami terdengar kurang jelas di telingaku, karena Osamu memelukku erat dan berbisik,

"Kamu bukan Cinderella atau Ariel. Tapi aku mencintaimu, putriku, aku menemukanmu."

.


.

Bersambung

.


.