"Bosan!" Heel hitam melayang ke arah meja dan lantai sebelum tubuhnya ia buang ke atas sofa panjang di sebelah meja kaca. "Sangat bosan dan mengantuk." Ujarnya kelelahan.

Siapa yang berada di balik meja hitam melirik tajam sembari menjatuhkan heel tadi yang hampir saja menghantam laptop miliknya. "Begitukah caramu bekerja?" Baru dua hari bekerja tapi lihatlah tingkah asisten pribadinya, sangat tak segan-segan memperlakukan kantornya seperti rumah.

"Aku bosan." Pipi gadis itu membulat, alisnya tertaut ketika dia kembali mendudukkan diri, menatap manja Naruto, berharap lelaki itu tidak mengoceh.

Entah mengapa waktu berputar lama sekali hari ini. Hinata ingin segera pulang dan bermalas-malasan tapi jam masih menunjuk pukul 16.21

"Hinata," Naruto beranjak, memutari meja besar sebelum berakhir bersimpuh di depan Hinata. Satu tangan, ia pakai untuk membelai pipi putih itu. "selesaikan kerjaanmu atau lembur?"

"Wuaaaaaa tak mau!" Pekik Hinata frustasi. Dari awal pekerjaan ini memang tak sesuai untuknya tapi ia sudah terlanjur menyetujui, tak ada yang bisa ia lakukan karena Naruto sama sekali tak luluh pada pujukannya.

"Bekerjalah dengan keras," Naruto memindahkan tubuhnya ke atas sofa di sebelah Hinata. "atau aku akan memecatmu." Sentilan kecil ia berikan untuk kening Hinata membuat bibirnya manyun.

"Baiklah, baiklah." Pasrah Hinata kembali meraih satu berkas dari tumpukan berkas yang ada di atas meja kaca.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

WILD KIDDO

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

WILD KIDDO by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 12

.

.

.

"Aku tak bisa melakukannya lagi." Kali ini Hinata sungguh menyerah. Mengapa kerjaannya tidak pernah kelar? Masih ada beberapa berkas di meja bagian kiri tapi sekarang atasannya memberi satu berkas lagi yang harus ia selesaikan secepatnya.

"Kau menyerah di hari ke enam kau bekerja?" bibir Naruto menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Sekali lagi, ia harus menghibur Hinata.

Dengan memutari meja kaca dan mengambil duduk di sebelahnya. Kedua tangannya menempel di kedua pipi Hinata.

Satu kecupan ia berikan untuk bibir bebek itu.

"Mau pulang awal?" Yang ditanya tak menjawab, hanya menatap putus asa. Jam masih menunjuk pukul 15.21 yang mengartikan tersisa satu jam empat puluh menit waktu kerjanya hari ini, apakah ia boleh pulang sekarang?

"Kita bisa mengerjakan kerjaanmu di rumah, nanti malam." Tambah Naruto, tak tega melihat wajah tanpa semangat Hinata.

Perlahan Hinata mengangguk dan Naruto memberinya senyuman.

"Ayo."

.

.

.

.

.

22.21

"Aaa aku paham." Hinata mengangguk dengan penuh semangat. "Jadi, kalau begini yang ini juga tak boleh dong?" Jari telunjuknya menunjuk salah satu kalimat yang tercetak rapi di atas kertas.

"Iya," Pensil di tangan Naruto melingkari kalimat tadi dan kemudian berkas itu dia tutup. "semua itu adalah yang tidak bisa kita setujui, jadi mereka harus menggantinya." Hinata mengangguk paham setelah memperbaiki posisi duduknya di atas sofa.

"Yey! Jadi semuanya sudah selesai." Pekiknya bahagia ketika tak ada lagi berkas di atas meja kaca untuk diberikan ke Naruto.

"Naruto baik sekali membantuku mengerjakan semuanya." Puji Hinata dengan mata berbinar. "Naruto yang terbaik!" Padahal Naruto bukan lagi membantu. Namun, mengerjakan semuanya dan apa yang Hinata lakukan hanyalah berpura-pura bodoh.

"Kemarilah" Hinata masuk ke dalam pelukan Naruto dan bersandar nyaman di dadanya, dia tersenyum senang. "Aku akan memotong gajimu." Hinata tersentak pada kalimat itu. Bagaimana bisa kalimat itu keluar di saat Naruto tengah membelai rambutnya?

"Tak boleh. Gajiku sangat sikit, tak cukup untuk jajan." Naruto terkekeh kecil, kemudian matanya ia pejamkan untuk menikmati hangatnya Hinata di pelukannya. Waktu berlalu sangat cepat sekali. Hal yang paling tak ia sangka adalah ia masih bertahan dengan Hinata. Tapi meski begitu, sikap Hinata cukup berubah dibanding dulu, sewaktu mereka di kelas dua belas. Kini, tunangannya ini tidak pernah lagi berteriak-teriak tak jelas di depan publik apalagi merenggek kepada ayahnya.

Semakin hari, semakin Naruto dibuat jatuh cinta olehnya. "Hinataku masih saja kecil. Yang dia tahu hanyalah jajan." Sindiran itu bukannya membuat Hinata tersindir, malahan dia tersenyum bangga, sangat bangga pada bakatnya yang bisa menghabiskan uang dengan mudah.

"Iya dong. Aku masih kecil, jadi kalau besok-besok kita punya anak, dia akan menjadi anak kedua." Jelasnya lucu dan senyuman di bibirnya mekar ketika mata bulannya menangkap senyuman kecil di bibir Naruto.

"Kau mau punya anak, hm?"

"Tidak!" Hinata menjauh dengan cepat karena terkejut. "Aku bilang nanti! Itu nanti." jelasnya yang malah membuat Naruto terkekeh. Naruto memperbaiki posisi duduknya menjadi tegap dan menyodorkan kedua tangannya ke arah Hinata.

"Kau tak mau memelukku?" tanyanya. Padahal ia sudah sangat nyaman dengan posisi tadi tapi Hinata malah menjauh.

"Ini sudah malam. Aku harus tidur untuk bekerja besok." Tolak Hinata yang mulai merasa mengantuk.

"Kau benar."

"Apa yang kau lakukan?!" Naruto berdiri dan mengangkat tubuhnya ala bridal style, membawanya ke lantai atas.

"Hari ini aku akan biarkan kau tidur di kamarku." Langsung saja wajah Hinata memerah layaknya kepiting rebus. Ia tak pernah tidur di kamar yang sama dengan Naruto selama mereka tinggal bersama, tentu saja wajahnya memerah karena ia merasa malu!

"Aku tak mau!" Hinata memberontak ingin turun tapi Naruto tak mau melepaskannya. "Huaaa aku tak mau. Aku tak mau." Pekiknya semakin panik ketika tubuhnya tiba di lantai atas.

"Mengapa?" Naruto seolah mengejek. "Aku tak akan melakukan apapun padamu." katanya jujur. Yang ia mau hanyalah tidur nyenyak dengan memeluk Hinata.

Blussshh!

Semakin memerah wajah Hinata karena pikirannya semakin melayang kemana-mana ketika matanya mendapati pintu kamar Naruto.

"Wuaaaaa aku masih kecil." Senyum di bibir Naruto mengambang.

"Kemana pikiranmu, hoi?" Hatinya tergelitik melihat tingkah Hinata, membuatnya semakin ketagihan untuk mengerjai. "Tapi kalau kau mau, aku tak keberatan."

"Huaaaaa! Tak mau!"

.

.

.

.

Tamat

Dan akhirnya tamat. Sisa satu fic lagi.

Sayang kalian banyak banyak

Semoga kalian menikmati.

Bye bye

Ah! Apa yang mau Author katakan ternyata apa yang mau Author buat selesai lebih cepat dari tebakan, ya seperti biasa. Dan karena itu fic ini terlanjutkan dengan akhiran tamat.