Minseok kecil baru saja membalikan lembaran pada buku komik ketika telinganya mendengar bunyi gedebuk di atas ranjangnya.
Asrama di sekolahnya memang menggunakan ranjang susun dan dalam satu ruangan terdapat dua ranjang susun berisi empat anak, namun dua diantaranya sedang entah dimana dan Minseok hanya bersama temannya yang lain yang ada di ranjang tepat diatasnya.
Ia sedang membaca buku, namun harus terhenti karena anak lain diatasnya membuat bunyi gaduh. "...Han kau baik-baik saja?" Minseok bertanya seraya sedikit melongokan kepalanya untuk melihat.
Tapi tidak berapa lama ia malah dikejutkan dengan seonggok bocah lain yang melayang di udara sebelum jatuh kelantai. Yang membuat Minseok heran setengah mati. Bagaimana bisa ia jatuh padahal ada pembatas disekitar ranjangnya.
"Woah. ... Han kau terbang" ia terpesona dengan lucu padahal kawannya terlihat kesakitan.
"Babo-ya. Apo." Keluh kawan Minseok sambil memegangi bokongnya dan Minseok tertawa lucu meski setelahnya ia mengulurkan tangan yang segera disambut tangan kurus lainnya.
"Jangan tertawa" Kawan Minseok memperingati mencoba memasang wajah kesal namun gagal karena kemudian ia juga ikut tertawa.
Bahak keduanya begitu menyenangkan bahkan ketika Minseok bukannya khawatir malah memuji seakan jatuh dari ranjang adalah hal luar biasa di muka bumi ini.
"...Han-ah..
"Hm"
"Tidurlah disampingku. Kalau nanti malam badanmu sakit katakan padaku. Aku akan merawatmu" Kata Minseok dengan perhatian seraya mengusap pelan lengan sahabatnya.
"Oppa"
Luna Park segera berlari untuk menyangga tubuh Minseok yang limbung hingga menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.
"Oh, Luna" ujar lelaki itu linglung seperti tidak mengenali adiknya padahal sejak tiga hari yang lalu sudah tinggal bersama.
Ingat rencana liburan Luna ke Shanghai? Nah, dia memang akan pergi kesana tapi mampir pada Minseok lebih dahulu dan nanti Minseok yang akan mengantar Luna.
"Tentu saja. Memangnya siapa. Oppa kenapa?" Tanya Luna pada Minseok.
Dan lelaki itu mengernyitkan keningnya. Dia kenapa? Minseok sedang memasak, menyiapkan sarapan untuk ia dan Luna ketika tiba-tiba ia merasa seperti melihat potongan kaset rusak dan kemudian kepalanya sakit.
Tapi apa itu tadi apa yang barusan ia lihat. Han? Siapa itu Han? Apa sebelumnya ia pernah mengnal seseorang bernama Han?
"Oppa?" Luna kembali memanggil Minseok dan seketika lamunan pria itu terpecah. Segera ia menghilangkan pikiran itu, mencoba mengabaikannya untuk memfokuskan perhatian kepada adiknya yang terlihat khawatir.
Luna walaupun dia suka menggebu-gebu dan manja, sering berkata kasar namun Luna juga perhatian, Minseok tersenyum sembari mengusap kepala sang adik.
"Tidak apa. Oppa baik-baik saja" katanya lalu melanjutkan acara memasaknya sementara Luna menyiapkan alat makan keduanya sambil berceloteh.
Tadinya gadis itu memberikan ceramah kecil pada Minseok yang membuatnya tersenyum kecil karena Luna terdengar begitu perhatian sampai kemudian ia mengubah topiknya menjadi sesuatu yang mengundang kembali kernyitan di kening sang kakak.
"Dia sangat tampan" katanya malu-malu.
Gadis itu membicarakan lelaki kepada Minseok. Ia yakin Luna tidak akan pernah bercerita hal demikian terhadap Taemin mengingat hubungan keduanya tidak terlalu dekat.
Minseok walaupun dia bagai bayangan dalam keluarga Lee namun bisa dikatakan semua anak dalam keluarga dekat dengan Minseok termasuk Taeyong dan Joy. Mereka tidak segan bercerita apapun bahkan tak jarang mereka mengeluhkan sesuatu terhadapnya yang membuatnya senang dengan alasan tersebut.
"Aku berharap bertemu lagi dengannya setelah kembali ke Korea" katanya.
"Namanya siapa ya? Hmm Roo... Ryu, Liu atau Yoo Han?" Luna mencoba mengingat.
.
.
Minseok kembali memijit keningnya. Rasa sakit itu datang lagi padahal ia sudah minum obat sakit kepala, ia juga sudah sarapan dan minum kopi tapi kepalanya terus berdenyut sampai mengharuskan dirinya naik taksi tadi pagi.
Kenapa ya? Akhir-akhir ini ia sering mengalami sakit kepala. Apa ini berkaitan dengan ingatan yang sekilas muncul itu? Terhitung ini adalah kali keempat baginya.
Pada mulanya ia tidak terlalu peduli tapi yang tadi pagi sepertinya cukup memberikan efek baginya. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya namun entah apa.
" Kau mungkin mengalami amnesia" seketika perkataan dokter Lau terngiang lagi di telinganya yang kembali.
Amnesia? Apa itu mungkin? Apa yang membuatnya mengalami amnesia? Bagaimana bisa?
...Han?
Pagi ini Luhan diselimuti kebahagiaan. Senyum sama sekali tidak bisa lepas bahkan ketika ia sudah sampai di kantor. Membuatnya menjadi pusat perhatian tapi tentu saja ia tidak peduli.
Meski mendapat pandangan aneh ia tetap tersenyum bahkan sesekali terkekah lalu menyapa orang-orang dengan ramah. Dia benar-benar terlihat seperti orang yang sedang dimabuk asmara.
Astaga. Luhan tertawa kecil.
Luhan tidak menyangka sebelumnya kalau ia akan mengizinkan orang lain memasuki kamarnya. Luhan sangat tidak suka orang lain memasuki area pribadinya tapi ia begitu saja mengizinkan Minseok singgah disana.
Dan yang mencengangkan lagi adalah Luhan yang dengan senang hati mengundang Minseok memasukinya. Bahkan bukan hanya ruang pribadi di apartemennya tapi juga rumah orang tuanya.
Minseok telah mengunjungi keduanya, mereka juga berbagi ranjang bersama. Oh my god .
"Kau sakit?" tiba-tiba suara Minseok menyapa pendengarnya membuat lelaki itu menolehkan kepala kesamping dimana Minseok juga melakukan hal yang sama.
"Hmm? Tidak, memangnya kenapa?" pria itu bertanya balik dengan bola mata yang gelisah. Wajahnya memanas, apa sekarang ia bersemu karena fakta yang baru saja menggelitik perutnya? Fakta yang ia sukai karena ia dan Minseok berbagi ranjang semalam. Aduh .
"Wajahmu merah sekali"
Oh tuhan. Luhan nyaris melonjak karena serangan tidak terduga dari Minseok yang menyentuh wajahnya, tidak berhenti disana tangan Minseok berpindah pada keningnya.
"Tidak panas. Lalu kenapa wajahmu merah sekali?"
"Aku memang tidak sakit. Dan bukankah wajahku memang seperti ini" elaknya segera sembari sebisa mungkin terlihat biasa. "Tidak, itu merah sekali. Seperti tomat"
"Aku tidak apa" Luhan mengelak tapi kali ini dengan bergerak gelisah karena Minseok hendak melayangkan sentuhan lain yang membuatnya gugup. Minseok tidak boleh mendekat atau dia akan mendengar detak jantungnya yang menggila. Namun sayangnya lagi-lagi sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi lagi.
Saat Minseok menggerakkan tubuhnya untuk mengecek kembali suhu tubuhnya, Luhan malah terlalu keras menarik Minseok hingga pria itu kembali jatuh diatas tubuhnya dan wajah mereka benar-benar dekat hingga Luhan bisa merasakan nafas keduanya bersautan.
"Ah kami hampir berciuman lagi" Luhan mengerang dengan malu-malu ketika ingat lagi kejadian kemarin pagi.
Semburat merah kembali muncul diwajahnya. Ia merasa seperti lelaki bermuka dua sungguh. Walaupun mulutnya mengerang tapi hatinya berkata lain. Eh.
"Minseok?"
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Mungkin itu pepatah yang cocok dengan keadaan Luhan saat ini karena ketika otaknya memikirkan sesuatu sosok yang dipikirkan muncul di depan mata. Sosok Minseok sedang melenggang di ujung sana.
"Min...
"Lu Han"
Baru ia akan memanggil sosok yang kini menguasai pikirannya orang lain malah menyebutkan namanya dengan keras mengundang perhatian. Membuat ia mau tidak mau menoleh dan mendapati sosok jangkung Kris Wu yang sedang melenggang mendekat.
.
.
Minseok mendapati sosok Luhan diujung sana sedang berbicara dengan seseorang yang tidak ia kenali tapi terlihat seperti memiliki kedudukan tinggi di perusahaan.
Sudahlah lagipula juga tidak ada kaitannya dengan dirinya.
"...Han"
Namun langkah Minseok kembali terhenti ketika sekelebat itu kembali terdengar ditelinganya.
"Han? Apa itu Lu ...Han?"
Tidak mungkin. Jelas saja ia baru mengenal Luhan bagaimana mungkin Han dalam ingatannya adalah Luhan, kan yang ada dalam ingatannya adalah anak kecil.
Tapi tidak ada salah satu temannya yang bernama Han. Atau ia yang melupakannya karena tidak terlalu dekat. Namun Han dalam ingatannya seperti bersahabat dekat. Namun ia tidak ingat kalau kejadian seperti itu pernah terjadi ketika ia kecil.
Itu terlihat seperti ingatan manis dan menyenangkan yang sangat berbanding terbalik dengan ingatan masa kecil yang ia miliki, yang harus rela sampai kabur pada sekolah asrama untuk menghindari kesialan bagi keluarganya.
"Minseok- ssi"
Panggilan itu seketika memotong pikiran Minseok dan lelaki itu segera mendongak. Rupanya yang memanggilnya adalah Zhang Yixing – atasannya.
"Oh, leader Zhang. Selamat pagi." Sapanya sopan.
"Tidak. Jangan panggil aku seperti itu. Panggil aku Lay saja" katanya.
"Bagaimana bisa aku melakukan itu" tolak Minseok.
"Aku berteman dengan Chen dan aku tahu kalau kalian berteman jadi marilah menjadi teman. Jangan terlalu kaku."
"Begitukah?"
"Hmm, kalau boleh aku juga ingin memanggilmu hyung, seperti Chen"
Entah bagaimana Minseok harus menanggapi tapi ia juga tidak bisa menolak sehingga ia hanya bisa mengangguk canggung bahkan ketika lelaki itu kemudian merangkul bahunya.
.
.
Pada sore hari ketika akhirnya Luhan melihat Minseok, lelaki itu diambang pada dilema. Ia melihat Minseok tengah menunggu bus untuk mengantarnya pulang dan Luhan menghentikan mobilnya agak jauh dari sana.
Seharian ini keduanya tidak dipertemukan karena Luhan sibuk dengan berbagai urusan bersama Kris. Sehingga waktunya tidak banyak yang tersisa untuk hal lain walau tadi ia punya sedikit.
Sedikit saja, yang sangat ingin Luhan manfaatkan untuk menemui Minseok tapi tidak jadi karena lelaki itu malah menghabiskan waktu dengan orang lain.
Aih, siapa lelaki itu?
Siang tadi ketika Luhan pamit dari Kris sebentar dengan alasan ingin minum kopi sebentar Luhan pergi ke kafetaria. Membeli dua gelas kopi untuk ia dan Minseok namun ia malah melihat pemandangan yang begitu menjengkelkan dimana Minseok malah sedang makan siang bersama entah siapa dan mereka begitu akrab.
"Biarkan saja dia naik bus siapa yang peduli" grutu Luhan yang kembali diselimuti rasa kesal, tangannya menarik tuas gas agak keras dan dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh.
"Oh. Dasar pengemudi ugal-ugalan" orang-orang yang berada disekitar Minseok yang sedang menunggu bus menggerutu ketika tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dengan kecepatan penuh.
Namun belum selesai grutuan orang-orang reda kendaraan roda empat yang tadi membuat mereka kesal berhenti tepat dihadapan mereka. Kim Minseok lebih tepatnya.
"Ayo masuk!" lelaki itu agak terkejut karena ternyata orang itu adalah Luhan.
Dan hey, ada apa dengan suara itu? Apa baru saja Luhan menyuruhnya masuk dengan suara kesal?
"Kubilang cepat masuk" belum selesai Minseok dengan keterkejutannya ia kembali dikejutkan dengan Luhan yang mendorong ia segera masuk membuatnya memekik karena terkejut.
"Ya! Apa yang kau lakukan!" Minseok memekik tajam kepada Luhan.
"Aku akan mengantar mu pulang. Kau seharusnya berterima kasih" Luhan membalas tak kalah sewot.
"Apanya yang berterima kasih. Kau sudah mendorong ku dan menyebabkan kegaduhan. Apa yang mereka pikirkan nanti"
"Siapa yang peduli tentang orang lain. Salah sendiri kau lama sekali"
Okay. Sepertinya Luhan sedang tidak dalam mood yang baik, Minseok mengerti. Tapi apa yang membuat lelaki itu marah? Apa dia telah berbuat kesalahan? Tapikan tidak mungkin, seharian ini mereka bahkan tidak bertemu karena ia sibuk dengan Zhang Yixing membahas tentang banyak hal termasuk strategi pemasaran.
Jadi apa yang membuat lelaki itu marah? Lagipula ia juga tidak minta di antar kan? Kalau dia marah seharusnya tidak usah peduli dengan orang lain jadi tidak perlu melampiaskan amarahnya pada orang lain juga.
Hish. Minseok mencabik kesal dalam diam. Ia tidak mau membalas Luhan. Omong-omong dia juga sudah marah jadinya. Ia tidak akan menghiraukan Luhan atau mereka akan bertengkar didalam mobil dan membahayakan keduanya.
Oh tidak.
Luhan ngerem mendadak dan secara otomatis dia mengulurkan satu tangannya yang bebeas untuk melindungi kepala Minseok dari benturan.
"Kau tidak apa? Maafkan aku." Dia juga segera mengecek keadaan Minseok tidak peduli kalau kepalanya terserang nyeri. Ia tidak peduli padahal kepalanya sendiri terbentur.
"Sesuatu melintas barusan" katanya lagi dan segera ia memeluk Minseok yang tubuhnya bergetar. Oh tidak, apa terjadi sesuatu terhadap Minseok? Kalau ia, ini adalah salahnya dan ia merasa bodoh karena telah menyebabkan orang lain terluka.
"Apa itu tadi?" tanya Minseok.
"Sesutu melintas dan aku terkejut"
"Kenapa aku bisa melihatmu di kepalaku?"
"Eoh...?"
.
.
TBC/END.
