You and Me in One Story
Chapter: 12
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Story by: PhiruFi
WARNING: OOC, Mainstream, Membosankan, Bahasa diksi EYD, TYPO, DLDR.
Author Note: Tidak memaksa kalian untuk menyukai cerita ini.
Selamat membaca~
"Shit! Berhenti membual! Katakan sejujurnya! Kau juga mengenal Karin, 'kan?" tanya Naruto lagi. Sama seperti sebelumnya ia masih meninggikan suaranya.
"Baiklah! Akan ku katakan yang sebenarnya!" Shion menyerah. Ia menepis tangan Naruto yang ada di bahunya.
'Sial! Kenapa harus ketahuan dulu, sih?!' batin Shion kesal.
"Aku..." Shion sedikit menundukkan kepalanya.
ooooo
"Kami pernah satu sekolah. Aku dan Karin," jawab Shion. Ia memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya.
Cukup masuk akal, sebelum Karin pindah ke sekolah di Kyoto, sepupunya itu adalah salah satu siswi sekolah elit di Tokyo. Naruto menghela napasnya. Shion sama sekali belum menjawab semua pertanyaan. Ia butuh lebih dari ini. Terlebih soal Ino.
"Jelaskan semua dengan detail!" bentak Naruto. Ia bukan tipe pria pemarah namun kali ini kesabarannya sudah mencapai batas.
"Ya! Aku akan katakan semua!" Seolah Shion tak mau kalah, ia membalas bentakan Naruto dengan nada tingginya.
"Kami berteman baik saat itu bahkan saat kami tidak lagi satu sekolah. Kami tetap berkirim e-mail dan sering bertemu. Kami bahkan tidak segan untuk berbagi banyak rahasia, termasuk orang yang kami suka," jelas Shion.
Naruto menggelengkan kepalanya sejenak. Dari sudut pandangnya, Shion terlihat bertele-tele dan berusaha mengulur banyak waktu. Ia ingin cerita yang lebih singkat dan langsung pada intinya.
"Karin menceritakan orang itu dan meminta saranku tentang bagaimana merebut pemuda itu dari kekasihnya," lanjut Shion.
"Maksudmu, Suigetsu?" tanya Naruto.
Shion menganggukkan kepalanya sejenak, "Ya. Saat itu Sui-kun sedang menjalin hubungan dengan Ino, 'kan?"
"Ya," balas Naruto.
Pandangan mata Shion menerawang, "Jadi, aku memberikan beberapa saran kepada sepupumu itu. Dan pada akhirnya, kami bertiga berhasil berteman. Kami sering menghabiskan waktu bersama."
"Sialnya, aku mulai menyukai pemuda itu tanpa sepengetahuan Karin. Beberapa minggu sebelum kelulusan, aku ingin mengutarakan isi hatiku kepada Sui-kun, tapi Karin lebih dulu mendapatkannya. Kau tau, 'kan maksudku?" Kedua mata Shion mulai berkaca-kaca.
"Aku bahkan terkejut, mengapa Karin bisa melakukan hal itu dengan Sui-kun. Aku tidak pernah memberikan saran kepada Karin untuk menyerahkan hal berharga miliknya kepada Sui-kun. Murahan sekali, ya?" Shion tersenyum miris.
Naruto mengacak rambutnya dengan kasar. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan sepupunya itu. Di saat keluarga besarnya menjaga kehormatan namun Karin malah merusaknya secara sengaja hanya demi seorang laki-laki.
"Aku ingin merebut Sui-kun. Dengan banyak cara dan akhirnya aku berhasil."
"Kalian berselingkuh?"
"Ya!"
"Lalu dengan Ino? Mengapa kau berbohong tidak mengenalnya? Kau menyembunyikan sesuatu dariku, 'kan?" tanya Naruto.
"Menurutku tidak penting. Percayalah, aku tidak ada niatan buruk dengannya," jawab Shion.
"Aku tidak menuduhmu soal niatan buruk. Mengapa kau berpikir seperti itu?" tanya Naruto lagi. Ia semakin mendekat ke arah Shion dan menatapnya dengan tajam. Ia akan terus mendesak Shion sampai wanita itu mengatakan yang sebenarnya.
"A— ya, karena kau mendesakku! Aku jadi salah mengartikan!" Shion terlihat gugup. Ia sedikit memundurkan tubuhnya.
"Katakan semuanya!" Naruto mencengkram tangan kanan Shion. Ia bersumpah untuk tidak melepaskan pegangannya ini.
Shion mengaduh dan berusaha menarik tangannya, "kasar! Pantas saja Ino tidak pernah membalas perasaanmu!"
Naruto tersentak dan membulatkan matanya, "apa maksudmu?"
ooooo
Ino terpaksa bangun karena dering ponselnya. Ia duduk di tepi ranjang dengan selimut yang melilit tubuhnya. Sebenarnya Ino tidak ada niatan untuk bangun kalau saja ibu mertuanya tidak menelepon.
"Ohayou, Kaa-san. Kabarku baik, bagaimana dengan Kaa-san di sana?"
"Tentu saja baik, Ino-chan. Bagaimana liburannya? Apa kalian menikmatinya?"
Ino terdiam sejenak. Ia tersenyum miris saat kejadian semalam terlintas di ingatannya. Menikmati, ya? Menikmati yang seperti apa? Ino tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Memalukan sekaligus menyedihkan.
"Ino-chan? Kau masih di sana, nak? Kau baik-baik saja?"
"Iya, Kaa-san. Tentu saja kami menikmatinya. Uchiha-san, menyiapkan makan siang yang sangat indah."
"Anak itu menyiapkan makan siang romantis? Benarkah? Kaa-san bahkan tidak bisa mempercayainya!"
Ino tertawa renyah, "iya. Aku tidak berbohong, Kaa-san. Uchiha-san tidak bisa ditebak, ya."
Terdengar suara tawa Mikoto. Ino senang bisa membuat Mikoto tertawa dan tidak mengkhawatirkan dirinya. Lagipula, Ino tidak sepenuhnya berbohong. Ino hanya memberikan beberapa improvisasi saja. Soal makan siang romantis itu dan berujung hal menyakitkan bagi Ino.
"Lalu di mana, Itachi-kun?"
"Sedang mandi."
"Ya sudah, nanti Kaa-san telepon lagi, ya. Sekarang Ino-chan juga harus mandi, 'kan? Jangan lupa mencuci rambut, ya. Jaa, Ino-chan. Salam untuk Itachi-kun."
"Ya, Kaa-san." Ino meletakkan kembali ponselnya ke meja nakas setelah panggilan terhenti.
Ino menggulung tinggi rambutnya. Ia melilitkan selimut tebal di badannya dan berdiri. Ia berbalik untuk memastikan Itachi masih ada di dalam kamar mandi.
"Oh!" pekik Ino.
Itachi sudah berdiri di depan kamar mandi dengan kemeja polos dan celana panjangnya. Rambut basahnya terurai hingga beberapa sisa tetesan air membasahi kemeja milik pria itu.
Ino terlalu asik menelepon hingga tidak menyadari suara pintu kamar mandi yang terbuka. Lalu, sejak kapan pria itu berdiri di sana?
Tanpa menyapa, Ino melewati Itachi dan masuk ke kamar mandi. Ia malas berbicara dengannya atau lebih tepat Ino sedang berusaha menghindari sebuah perdebatan.
Ino melepas lilitan selimut di tubuhnya. Ia memandangi tubuh polosnya di cermin wastafel. Beberapa bekas merah karena ulah Itachi tercetak jelas di kulit putihnya. Salahkah jika ia merasa tubuhnya kotor sekarang? Meski mereka sudah legal melakukannya namun Itachi sama sekali tidak mempunyai perasaan dengan Ino.
"Bodoh!" Ino mengusap kasar air matanya.
Buru-buru ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia tidak memperdulikan suhu air yang menerpa kulitnya. Bahkan sekarang ia sudah menggigil.
ooooo
"Aku tau semuanya, Naruto. Kau menyukai perempuan itu, 'kan? Karin mengatakannya padaku. Sudah ku bilang, kami tak segan berbagi cerita. Apapun itu termasuk bergosip tentang orang lain." Shion menyeringai.
"Kau adalah pengagum rahasia yang paling menyedihkan. Berhenti mengagumi perempuan itu, karena sebanyak apapun perhatian yang kau berikan kepadanya, tak ada satu pun yang dianggap sebagai bentuk kasih sayang seorang laki-laki kepada lawan jenisnya," lanjut Shion.
Pegangan Naruto sedikit longgar dan Shion buru-buru menarik tangannya.
"Apa sih yang laki-laki lihat dari perempuan itu. Dia tidak cantik, sama sekali!" Shion menggigit bibirnya.
"Kau iri dengan Ino?" tanya Naruto setelah menyimpulkan dari semua ucapan Karin.
"Ya, kami memang membencinya," jawab Shion.
Naruto memijat pelipisnya, "Apa bedanya dirimu dengan Karin? Kau juga melakukan hal yang rendah. Kalian berselingkuh!"
"Karena kami saling mencintai!" bantah Shion.
Naruto menyeringai, "saling mencintai, ya? Jadi, jika aku tidak percaya dengan kehamilanmu, itu boleh, 'kan?"
Shion terkejut, "M—Maksudmu?"
"Bagaimana aku bisa tahu, kau hamil anakku atau Suigetsu. Aku tidak ingat saat malam itu dan Suigetsu adalah pria brengsek. Mana yang harus aku percayai? Ucapanmu atau kepercayaanku sendiri?" tanya Naruto.
"T—Tentu saja ini anakmu! Sudah lama aku tidak bertemu dengan Sui-kun!" jawab Shion.
Naruto tersenyum. Setelah mendengar cerita Shion, kepercayaannya perlahan terkumpul kembali.
"Aku ingin tes DNA," ujar Naruto.
-to be continued-
Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena sempat berhenti update fanfiksi ini. Aku juga minta maaf apabila tulisan tanganku ini buruk. Aku akan terus berusaha untuk lebih baik lagi.
Dan terima kasih untuk teman-teman yang setia menunggu kelanjutan fanfiksi ini. Aku sangat senang!
Terima kasih juga untuk review-nya!
Aku harap tidak mengecewakan kalian semua.
See you next chapter~
